MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

MER-C Jalankan Misi Kemanusiaan Dengan Prinsip ‘Rahmatan Lil Alamin’

Jakarta, 25 Rabi’ul Awwal 1435/27Januari 2014 (MINA) – Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Comitte (MER-C), Dr. Henry Hidayatullah, menyatakan Ahad malam di kantor pusatnya, Jakarta, bahwa MER-C memegang prinsip Islam yang rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam) dengan cara bersikap dan berposisi netral di setiap daerah bencana. Dan itu disebut sebagai cara MER-C berdakwah.  Berikut ini adalah petikan wawancara ekslusif reporter MINA Rudi Hendrik dengan Dr. Henry: MINA: Sebagai lembaga kemanusiaan dalam bidang medis, apakah MER-C bisa masuk ke semua wilayah bencana dan semua kalangan? Dr. Henry: Kita usahakan untuk bisa masuk ke semua daerah bencana. Dalam konteks pertolongan, kita sebisa mungkin menempatkan diri dalam posisi yang netral. Bencana itu ada dua: bencana alam dan bencana konflik atau perang. Kita harus netral, karena kita menolong. Jika kita sudah memihak, berarti tidak netral lagi, tentunya akan terbedakan. Sementara, kita tahu bahwa nilai-nilai ke-Islaman adalah nilai-nilai yang universal, bisa semuanya. Inilah yang kita angkat dari apa yang Rasul ajarkan, sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam), kita adopsi nilai-nilai itu dalam konteks menolong korban bencana. MINA: MER-C cenderung religius, apa pertimbangan MER-C hingga mengirim tim ke Filipina untuk korban Topan Haiyan (Yolanda), padahal mereka negeri yang mayoritas penduduknya beragama Katolik? Dr. Henry: Orang mendapat hidayah tidak selalu dalam konteks yang sakral atau nilai-nilai religi yang pakem seperti dari shalat atau puasa saja. Tapi bisa juga dari nilai-nilai kemanusiaan yang lain, nilai-nilai keadilan, nilai-nilai kejujuran, dari nilai-nilai yang memang ada di Islam. Sebenarnya kita juga dai. Dai itu bisa juga mengajak, tapi juga bisa berupa prilaku. Dan kami dalam konteks membantu, seperti itulah yang diajarkan Islam. Pintu hidayah itu banyak, mudah-mudahan dengan membantu, hidayah masuk dari pintu itu. Dalam konteks Filipina yang negerinya notabene mayoritas non-Muslim, mereka welcome dengan kita. Mereka ada menujukkan rasa terima kasih yang sangat besar kepada kita. Tapi kita tidak mengharapkan terima kasihnya, melainkan agar  jalinan kemanusiaan dan nilai-nilai Islam bisa tersampaikan. Kita Islam, tapi dengan cara seperti itu kita bisa menghilangkan stigma bahwa Islam itu teroris. Dengan itu sangat bisa. Ketika stigma itu gembar-gembor di media, mereka pastinya juga menerima stigma bahwa Islam teroris. Mudah-mudahan dengan hadirnya kita kemarin, bisa mengubah gambaran itu. MINA: Pernah memberi sumbangsih saat konflik Ambon. Bagaimana tim menempatkan diri dalam wilayah konflik dua keyakinan yang siap saling bunuh atas dasar  agama? Dr. Henry: Atas dasar-dasar itulah, kita harus menunjukkan. Identitas kemusliman harus muncul dengan nilai-nilainya universal, itu yang harus tampil. Pada konteks di Ambon, kebetulan kita Muslim, sedangkan konfliknya Muslim dan non-Muslim, maka yang paling aman pada saat itu, kita ditempatkan di masjid. Kebetulan, korban yang banyak terlantar, adalah Muslim. Nasrani di Ambom punya rumah sakit sendiri. Di Tual, Maluku Tenggara, mereka punya rumah sakit sendiri. Dan Muslim tidak punya. Sisi-sisi ini seharusnya menjadi tanggungjawab Muslim bersama, kenapa bisa terjadi ketimpangan seperti ini. Ketika kita ke tempat pengungsi, ada yang terkena panah dan lainnya,  sehingga harus dioperasi. Karena dia mengungsinya di masjid, itu tidak tertangani. Di lain pihak, kita mengunjungi rumah sakit Langgur milik Nasrani. Korban-korban mereka secara medis sudah tertangani. Sekali lagi, kita memposisikan diri kita netral, sebagai seorang dokter dan sebagai seorang Muslim. Lalu kami tanya kepada pihak rumah sakit Nasrani: Adakah korban yang perlu dioperasi dan bisa kami operasi? Akhirnya ada satu. Walaupun di awal, mereka sempat menyatakan: Mohon maaf, kami tidak menerima pasien Muslim. Mereka menyangka kami ingin menolong orang Muslim yang kemudian dilakukan penanganan di rumah sakit itu. Saya tahu alasannya kenapa, karena alasan keamanan. Yang pasien Muslim ke mana? Awalnya di pengungsian, kemudian kami mengoperasinya di rumah sakit umum yang notabene kosong, karena tenaga-tenaga medisnya  juga mengungsi. Bisa saja pasien Muslim ditangani di sana (rumah sakit Nasrani), tapi bisa saja karena mereka emosi atau lainnya, sehingga tidak bisa membuat mereka tetap netral. MINA: Apakah tim medis Nasrani bersikap netral? Dr. Henry: Nah, itu dia masalahnya. Netral atau tidak netral, ditampakkan dengan statement atau dengan sikap. Kalau dari segi statement, jelas mereka tidak netral, karena mereka katakan “kami tidak terima pasien Muslim”. Itu pun saya coba memahaminya sebagai suatu kewajaran. Pengurus Rumah sakit itu dominan Nasrani. Akan menjadi kerepotan sendiri jika ada pasien Muslim  datang ke sana, bisa jadi bentrok. Sebab kesalahpahaman sangat tinggi. Karena kita pun, ketika menjalankan operasi bagi pasien Nasrani, dijaga oleh aparat. MINA: Kesulitan apa yang dijumpai jika memasuki wilayah konflik dua agama, apa lagi MER-C lebih Islami? Dr. Henry: Pertama, Kesulitan yang jelas adalah kurangnya SDM. Untuk mendapatkan SDM yang mau masuk ke daerah konflik, relatif lebih susah dibandingkan dengan daerah bencana alam. Kedua, memilih relawan pun harus yang trusted (yang terpecaya), artinya tidak akan membuat yang macam-macam di daerah yang penuh kecurigaan  tinggi. Kita memang harus membawa relawan yang paham dengan situasi itu dan benar-benar kita percaya. Ketiga, transportasi. Tidak semua transportasi bisa menjangkau daerah tersebut. MINA: Sejauh mana kepercayaan kalangan Nasrani terhadap tim? Dr. Henry: Kita bicara apa adanya, bahwa kita punya niatan untuk menolong. Bentuk kepercayaannya adalah ketika ada pasien yang di rumah sakit Langgur, memberikan kepercayaannya dengan pasien yang bisa kita operasi di rumah sakit umum, itu pun dengan resiko yang tinggi. Mungkin saja seandainya ada yang menyebarkan isu, itu sangat bahaya. Makanya, ketika kita melakukan operasi, dijaga oleh aparat TNI AD. Jadi ada beberapa yang bisa kita bantu dalam hal humanity (kemanusiaan), dalam konteks rahmatan lil ‘alamin, tapi juga harus dengan strategi. MINA: Untuk Banjir Manado, apakah ada cerita bernuansa SARA ditemukan? Dr. Henry: Sejauh ini tidak, saya belum menerima laporan lengkapnya. Kita di sana juga membuat pos di gereja, di masjid, karena kita mobile (bergerak terus dari satu tempat ke tempat lainnya). MINA: Apakah ada pemisahan penanganan pasien Muslim dengan non-Muslim di daerah dua agama? Dr. Henry: Itu situasional. Yang pernah saya lakukan di Tual Ambon, operasi di rumah sakit umum, setelah pasien Nasrani dioperasi, dikembalikan lagi ke rumah sakit Langgur milik Nasrani. Ini dilakukan dalam rangka keamanan. Jika tidak, justeru akan merepotkan dan membahayakan semuanya. Hal seperti itu juga pernah dilakukan oleh teman-teman di Ternate, menangani pasien Nasrani. Hanya mekanisme detailnya saya tidak tahu. MINA: MER-C sudah pernah memasuki perang Irak, bencana di

MER-C Joins Indonesian National Radio Station (RRI) for Jakarta Cares for Disaster Social Event

Jakarta – On Sunday, January 26, 2014, MER-C together with Indonesian National Radio Station (RRI), invited many parties who are also concerned including BRI, PT Dexa Medika, PT Kalbe Farma to hold a social event for flood victims in Jakarta. The event started from 10 am until its completion.   MER-C sent 1 pediatrics, 3 General Practitioners, 5 Nurses and 2 Non-Medical Staffs by using 2 vehicles, that were one operational vehicle and one ambulance. From MER-C headquarter, the team gathered at RRI Medan Merdeka Barat to stay in touch at first with RRI Top Management and other cooperation partners. Of the meeting point, all team departed with a convoy of vehicles, heading to RRI Cares for Flood point, at Gg. Mesjid I, Kp Melayu Besar, Kebon Baru, Tebet, South Jakarta. It was recorded that there were 118 patients at the flood point.                

Peduli Kesehatan dan Peduli Sinabung

Medan – Satgas MER-C yang merupakan relawan dari beberapa mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Keperawatan yang ada di Sumatera Utara mengadakan kegiatan “Peduli Kesehatan dan Peduli Sinabung”. Kegiatan ini rencananya akan diadakan setiap hari Sabtu dan Minggu di Lapangan Merdeka yang telah dimulai sejak hari Minggu, 19 Januari 2014. Adapun rangkaian kegiatan terdiri dari pengukuran tekanan darah, kadar gula darah, asam urat, dan kolesterol. Donasi yang telah dikumpulkan pada kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian masyarakat terhadap kesehatan khususnya dan juga kepedulian kepada para korban letusan Gunung Sinabung. Dana yang terkumpul sepenuhnya disalurkan langsung kepada masyarakat korban bencana yang berada di beberapa titik pengungsian.   Info lebih lanjut mengenai kegiatan ini dan bencana alam Sinabung dapat menghubungi: Berikut daftar contact person relawan MER-C Medan di beberapa kampus kesehatan di Sumatera Utara terkait bencana Sinabung:                

Silahkan bertanya?