MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Kehadiran Relawan RS Indonesia jadi Penyejuk bagi Perpecahan Gaza

Jakarta, 14 Jumadil Akhir 1435/14 April 2014 (MINA) – Ir. Abu Fikri adalah Pimpinan Proyek Pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza, Palestina. Selama pembangunan rumah sakit dari tahun 2011 sampai awal 2014, dia dua kali berangkat ke Gaza memimpin pembangunan atas nama Relawan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee). Pria yang berasal dari Pondok Pesantren Al-Fatah, Cileungsi, Bogor itu, mengungkapkan sekilas pengalamannya di bumi yang diblokade, saat ditemui oleh wartawan MINA Sabtu (12/4) di kantor MER-C, Jakarta. Berikut hasil wawancara Rudi Hendrik, wartawan MINA, dengan Ir. Abu Fikri: MINA: Bagaimana awalnya Anda bisa memasuki Gaza? Ir. Abu Fikri: Bermula pada akhir 2010 mengikuti aksi kemanusiaan “Asia Caravan To Gaza” bersama dengan negara-negara Asia lainnya. Ada sekitar 150 orang. Sementara tim kami sendiri yang bergabung dengan MER-C ada lima orang. Ketika kami, para relawan pertama datang, kami juga disambut oleh welcome bomb (bom selamat datang). Begitu sampai di perbatasan, ada istilah welcome bomb dari tentara Israel. Itu menunjukkan bahwa kedatangan setiap relawan ke Gaza sudah diketahui oleh Israel. MINA: Situasi Gaza awalnya bagi relawan seperti apa? Ir. Abu Fikri: Gaza identik dengan penjara terbesar di dunia. Untuk masuk sulit dan untuk keluar pun sulit. Yang kita lihat memang, bukan hanya daerah perang, tapi juga daerah yang terblokade selama bertahun-tahun. MINA: Apa kesulitan awal bagi para relawan di sana? Ir. Abu Fikri: Kesulitan awal bagi relawan adalah bahasa, karena ada Bahasa Arab formal dan ada Bahasa Arab yang umum digunakan oleh warga Gaza. Sedangkan yang kita pelajari adalah Bahasa Arab formal dalam pendidikan. Sementara dalam pembangunan, kita banyak bergaul dan berkomunikasi dengan masyarakat lapangan, sehingga bahasa yang harus digunakan adalah bahasa sehari-hari. Dan keduanya sangat jauh berbeda. Ada pun untuk peralatan dalam membangun, tidak seperti yang kami khawatirkan sebelumnya bahwa di sana tidak cukup lengkap, ternyata di sana cukup lengkap peralatan. Untuk bahan bangunan di tahap pertama tidak begitu menemui kesulitan. Justru di tahap kedua kami menemui kesulitan, karena di tahap ini kami kesulitan untuk mendapatkan beberapa bahan bangunan, salah satunya semen dan kelangkaan solar. Solar kita perlukan untuk mengoperasikan peralatan-peralatan berat. Dampak ketiadaan solar di Gaza, berdampak pada ketiadaan listrik, karena satu-satunya generator yang ada di Gaza menggunakan solar, sehingga harus dikurangi, setiap hari hanya empat jam dengan waktu yang tidak menentu. Juga berdampak pada gas dan terus berdampak kepada masalah air. Karena air pun harus dipompa dengan tenaga listrik dan solar.  Bahkan sempat selama empat hari tidak bisa menggunakan air. Luar biasa kondisi yang kita hadapi di sana.   MINA: Bagaimana dengan perang? Ir. Abu Fikri: Di sana, sewaktu-waktu perang bisa muncul. Tidak bisa dikategorikan kondusif. Selain perang besar, secara menyeluruh sering terjadi konflik-konflik. Baik dari Gaza sendiri maupun dari Israel. MINA: Adakah budaya negatif Indonesia di Gaza? Ir. Abu Fikri: Salah satunya, untuk relawan Indonesia, mereka terbiasa shalat menggunakan sarung, sedangkan di sana dipandang kurang baik. Bagi mereka, sarung digunakan untuk kegiatan-kegiatan saat tidur. Mereka kurang pas jika melihat kita shalat menggunakan sarung. Meski kita sudah berusaha untuk meyakinkan, tapi kita tidak bisa untuk mencoba meyakinkan masyarakat banyak yang memandang. Ada pun sisi positif yang kami temukan di sana yaitu sesuatu yang sudah sangat langka kita jumpai di Indonesia, yaitu memberi salam kepada orang yang tidak kita kenal, meski di jalan umum, kecuali memberi salam kepada beda jenis, itu tidak boleh. Itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami. MINA: Apakah pembangunan RS Indonesia sudah selesai? Ir. Abu Fikri: Pembangunan fisik RSI ada dua, yaitu pembangunan arsitektur dan mekanikal elektrikal. Untuk pembangunan di bidang fisiknya, alhamdulillah, tinggal masuk tahap perawatan dan service. Memang dalam setiap pembangunan, ada waktu sekitar enam bulan untuk perawatan. Karena memang pembangunan fisik sifatnya saling terpadu. Untuk perawatan, karena tidak sulit, pengawasan tetap dari pihak MER-C, namun pekerjanya dari tenaga lokal. Saat ini memasuki tahap ketiga, yaitu pengadaan alkes (alat kesehatan) yang membutuhkan dana lebih besar dari pembangunan fisik RS Indonesia. MINA: Kesulitan yang paling terasa bagi para relawan? Ir. Abu Fikri: Secara fisik memang banyak sekali kesulitan, tapi alhamdulillah, secara akidah, setiap kami menemui kesulitan maka disitu kami menemui kemudahan. Dan  disitulah kami meyakini bahwa kemudahan yang kami rasakan adalah pertolongan Allah SWT. MINA: Apakah pada masa menunggu kepulangan yang tidak jelas setelah pembangunan selesai, ada relawan yang putus asa? Ir. Abu Fikri: Dalam pembangunan ini, kami berusaha sekuat mungkin menggunakan skejul dan bekerja sesuai itu. Tanggung jawab para relawan pada prinsipnya, akhir bulan Desember 2014 itu sudah selesai. Jadi sesuai dengan schedule. Ada waktu sekitar sebulan masa menunggu, dan itu pun hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan ringan saja. Dalam masa menunggu itu, memang mereka merasa tanggungjawab utama itu sudah selesai, sehingga secara psikologis fisik mereka sudah terfokus pada keluarga. Mereka yang awalnya sibuk dengan pekerjaan dan kegiatan-kegiatan yang ada, tapi karena dia sudah merasa akan segera kembali, maka secara otomatis kesabarannya teruji. Ujian itu mungkin juga dari pihak keluarga yang sudah lama menahan rindu ingin bertemu dengan ayahnya atau suaminya, tentunya ada tekanan-tekanan dari keluarga agar bisa segera kembali.   MINA: Solusinya? Ir. Abu Fikri: Yang pertama kita terus melakukan siraman rohani kepada mereka, karena kita ada taklim setiap Jumat pagi dan itu memang efektif sekali untuk memompa semangat mereka, bagaimana mereka bisa tetap sabar. Karena permasalahannya adalah satu-satunya prinsip bagi para relawan, yaitu “kepastian relawan adalah ketidakpastian”. Jadi tidak ada kepastian bagi relawan. Apa pun yang direncanakan, kita kembalikan kepada apa yang diijinkan oleh Allah. Kita tahu bahwa Gaza sendiri adalah satu daerah konflik yang hingga kini tidak ada jalan keluarnya secara penuh dan kita tahu, Gaza semakin hari semakin sulit. Apa lagi kondisi negara-negara sekitarnya mulai tercarut-marut oleh perang seperti Suriah dan Mesir sendiri, sehingga membuat kondisi semakin tidak pasti. MINA: Bagaimana respon para pejabat Palestina di Gaza dengan adanya pembangunan RS Indonesia ini? Ir. Abu Fikri: Al hamdulillah sangat positif, bukan hanya pejabat, tapi juga warga gaza, tapi kami mengambil beberapa sample saja. Salah satunya adalah kunjungan Perdana Menteri Ismail Haniyah ke RS Indonesia di Gaza. Intinya dia menyampaikan: “Setiap kami melihat kalian, timbul semangat kami untuk terus bisa bertahan dalam kondisi yang serba sulit. Timbul juga semangat bagi kami bahwa Al-Aqsha akan

Silahkan bertanya?