Kisah Karidi dan Relawan di Jalur Gaza (1)

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA — Tidak terpikir sebelumnya, menjadi relawan di medan perang, Jalur Gaza, yang selama bertahun-tahun dalam blokade Zionis Israel. Blokade darat, laut dan udara. Jangankan untuk membangun klinik atau posko kesehatan, untuk mendatangkan keperluan pokok harian saja, mesti harus melalui terowongan — yang semakin banyak ditutup oleh Mesir. Jalur lain melalui perbatasan Rafah, yang juga buka-tutup tidak menentu oleh pihak keamanan Mesir. Karidi memasang instalasi listrik di Gaza Begitulah, tanpa terasa, saya pun diberangkatkan pada 21 Oktober 2012, sebagai relawan (unpaid volunteers), oleh MER-C (Medical Emergency Rescue Committee), sebuah organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak di bidang kegawatdaruratan medis . Kemampuan saya dipilih di bidang Mecanical Electric (ME), dengan izin Allah mengantarkan saya berziarah ke bumi para Nabi, Jalur Gaza. Walaupun, terus terang nol besar dalam komunikasi bahasa Arab. Ya, memang dari lingkungan pesantren. Tetapi ya, sebagai tukang, yang hanya mampu beberapa ucapan bahasa Arab yang umum-umum saja, seperti bismillah, assalamu’alaikum, kayfa haal, innaa lillaah… Menginjakkan kaki di kampung Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina, saya bersama relawan Indonesia lainnya, pun mulai bekerja (amal sholih) melanjutkan pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia. Terutama sesuai bidang saya, masang-masang alat-alat listrik, urusan kabel-kabel, lampu, ac, dan sejenisnya. RS Indonesia berdiri di atas lahan 16.261m2 waqaf pemerintah Palestina, dinamakan RS Indonesia, menurut yang saya dengar dari Pengurus MER-C, karena memang seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. “Di samping itu juga diharapkan menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dengan rakyat Palestina”, itu kalimat yang saya camkan. Saya, dibantu relawan yang dapat berkomunikasi dalam bahasa Arab, sempatkan jalan-jalan dan bergaul dengan masyarakat sekitar. Sungguh luar biasa sambutan dan penghormatan warga di sana. Keramahannya membuat saya yang harus rela meninggalkan Tina isteri saya, dan keluarga besar saya di Jawa Tengah, serasa mendapat ganti keluarga besar, di bumi yang pernah disinggahi oleh para Nabi dan sahabat-sahabatnya itu. “Menakjubkan, kalian dari negeri yang sangat jauh dari Gaza, datang untuk membangun rumah sakit buat kami,” ujar Abu Muslim, Imam Masjid di daerah Ghalebo, Gaza Utara, tidak jauh dari lokasi RS Indonesia. Tak hanya itu, Perdana Menteri Palestina di Jalur Gaza, Ismail Haniyya pun, demi rasa hormatnya terhadap umat Islam Indonesia yang sedang membangun RS Indonesia, menyempatkan hadir berkunjung ke lokasi bangunan pada Juli 2013 lalu. “Ini bukti kepedulian dan cinta rakyat Indonesia terhadap rakyat Palestina, terutama di Jalur Gaza,” ujar Haniyya di hadapan relawan waktu itu. Apalagi, menurutnya, artistek Indonesia membuat bentuk bangunan RS Indonesia itu, segi delapan, yang menyerupai segi delapan bentuk Kubah Sakhrah di kompleks Al-Aqsha Palestina. Saya dan teman-teman relawan, dalam tim pambangunan, yang ketika di Indonesia bekerja sebagai teknisi AC dan listrik, cukup mengalami kesulitan untuk mendapatkan beberapa bahan elektrik yang tidak biasa dipakai seperti di Indonesia. Walaupun kemudian bisa juga. Kesulitan lainnya, kita sangat tergantung dari donasi masyarakat. Di samping itu, beberapa bahan listrik ternyata juga sulit didapat. Kita mesti order dulu, dan itu perlu waktu cukup lama. Jadi, pekerjaan jadi tertunda waktunya. Hal yang lebih mengkhawatirkan lagi, adalah tatkala Zionis Israel menggempur sepanjang Jalur Gaza pada November 2013. Pesawat menderu-deru di angkasa, bom berjatuhan di mana-mana.Kami sempat panik, karena belum terbiasa mendengar dentuman bom di atas kepala kita. Apalagi beberapa kaca RS Indonesia sempat pecah berantakan oleh getaran bom yang jatuh tidak jauh dari lokasi RS. Tetapi setelah ditenangkan warga setempat, bahwa hal itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Akhirnya terbiasa juga. Anggaplah itu petasan mainan.“Kami pun tetap bekerja, terutama di ruang dalam, seperti pemasangan lantai, kabel-kabel dalam ruangan, dan sebagainya”. Namun, apapun risiko yang terjadi, saya merasa bahwa apa yang saya lakukan dan teman-teman relawan lainnya, dalam ikut serta membangun RS Indonesia di Gaza, adalah bagian dari amal shaleh kami. Kami ingin ini menjadi bukti sejarah ikatan perjuangan Palestina-Indonesia secara keseluruhan. “Ini Insya Allah akan saya jadikan sebagai amal shaleh bagi saya sendiri dan keluarga saya. Saya sangat bersyukur dengan menjadi relawan ini”. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/komunitas/alamsemesta/14/05/16/n5nsex-kisah-karidi-dan-relawan-di-jalur-gaza-1
Artis Pun Dukung Pengadaan Alkes RS Indonesia di Gaza

JAKARTA. Artis papan atas Indonesia ternyata tidak hanya menghabiskan waktunya di dapur rekaman dan panggung hiburan Indonesia. Tetapi mereka pun peduli dan mendukung kampanye pengadaan alat kesehatan (alkes) Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza. SLANK grup musik Indonesia bergenre ‘rock and blues’, salah satu kelompok artis pendukungan gerakan kampanye ’50 ribu rupiah’ untuk pengadaan alkes tersebut. “Kita yang memiliki kesempatan memberikan sumbangan donasi untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina sana, mari kita ikut berbagi,” ujar Kaka, vokalis Slank pada acara Konferensi Pers dan Peluncuran Video Campaign RS Indonesia di Gaza, Jakarta, Rabu (30/4/2014) beberapa waktu lalu. Grup musik yang dibentuk Bimbim akhir 1983, dengan lirik-lirik lagu anak muda dan beberapa di antaranya berupa kritik sosial, mengajak Slankers (sebutan untuk para penggemar Slank) dan generasi muda untuk ikut berpartisipasi menyumbangkan dana membantu pengadaan alkes RS Indonesia di Gaza. “Dengan membahagiakan orang lain, pasti kita akan berkah, ini keajaiban sedekah, ini gerakan kemanusiaan, walau dianggap sedikit tapi berarti” ujarnya. Wali Menggugah Grup musik terkenal lainnya, Wali Band, yang memiliki jutaan penggemar di kalangan anak muda, turut mendukung pengadaan alkes guna mengisi RS Indonesia, yang sudah berdiri megah dan berwibawa di lahan wakaf seluas 16.261 m2 di daerah Bayt Lahiya, Gaza Utara. Apoy, salah satu personil Wali mengatakan, pengadaan alkes wajib didukung seluruh masyarakat, karena jelas-jelas untuk kepentingan warga yang sangat memerlukan di Palestina. Ia bersama personil Wali lainnya, Faank (vokal), Tomi (drum) dan Ovie (keyboard), juga mengajak Para Wali (sebutan untuk penggemarnya) ikut berbagi menggalang dana kemanusiaa tersebut. Selama ini lirik-lirik lagu pop Wali dikenal luas, dengan sentuhan sederhana, mengena, dan banyak mengandung nilai-nilai relegius. Maklum saja, personalnya adalah jebolan pondok pesantren dan perguruan tinggi Islam terkenal di Jakarta. Personal Wali, Faank (vokalis) dan Apoy (gitaris), jebolan Ponpes La Tansa, Pandegelang Banten, Tomi (drum), lulusan Ponpes Al Fatah Lampung dan Ovie (keybord) lulusan Ponpes Al-Hikmah Annajiyah Bogor. Seolah ingin menggugah masyarakat untuk membantu alat kesehatan RS Indonesia di Gaza, untuk mencari berkah, Wali menyentil pendengarnya untuk gemar bersedekah. Seperti dalam lirik lagu ‘Cari Berkah’ (biasa disingkat Cabe), Wali bersenandung pantun, “Bang, beli bawang, beli bawang gak pake kulit. Bang, jadi orang, jadi orang jangan pelit-pelit. Neng, beli batik, beli batik warnanya terang. Neng, tambah cantik, kalo sering bantu orang”. Kepada masyarakat yang memiliki kelebihan harta, Wali pun meminta untuk jangan sungkan-sungkan menolong, sebab harta tidak akan dibawa mati. Tetapi yang diberikan itulah yang membawa berkah. Lanjutan lagu ‘Cabe’ tadi, “Banyak harta ngapain (ngapain). Kalo gak berkah pikirin (pikirin). Oh punya harta gak mungkin (gak mungkin), dibawa mati. Hidup indah bila mencari berkah. Punya rezeki bagiin (bagiin). Bantu yang susah tolongin (tolongin). Oh, jadi miskin gak mungkin (gak mungkin), Allah yang jamin. Hidup indah bila mencari berkah”. Selain Slank dan Wali, artis lain yang juga turut memberikan dukungan RS Indonesia di Gaza, Palestina, di antaranya Jihan Fahira, Naif, Sore, Vadi Akbar dan Ombat Tengkorak Band. Video lengkap kampanye penggalangan dana untuk Alat Kesehatan RS Indonesia dapat dilihat di http://www.youtube.com/watch?v=VOsH7xGf4IE . Ikatan Indonesia-Palestina Sementara itu, Kepala Divisi Penggalangan Dana MER-C, Luly Larissa Agiel, mengatakan, pengadaan alkes memerlukan anggaran sekitar Rp 65 milyar. Menurutnya, Pembangunan RS Indonesia di Gaza, yang mulai dikerjakan sejak 14 Mei 2011, dibangun oleh MER-C dengan para relawan dari Indonesia, dan dukungan donatur rakyat Indonesia. Ia menambahkan, RS ini memiliki tipe Trauma Center & Rehabilitation, dengan kapasitas 100 tempat tidur, serta bangunan 2 lantai dan 1 lantai basement. Bangunan atap RS ini didesain berbentuk segi delapan, seperti kubah Masjid Al-Aqsha. “Ini diharapkan menjadi karya anak bangsa dan menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina,” ujarnya. Apalagi, katanya, seluruh donasi berasal dari masyarakat Indonesia. Bahkan, sebagian besar berasal dari kantong-kantong kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Untuk itu, bagi masyarakat yang berniat memberikan bantuan donasi untuk Alat Kesehatan RS INDONESIA di Gaza Palestina dapat disalurkan melalui: BNI Syariah, No. Rek. 08.111.929.73 BCA, No. Rek. 686.0153.678 BRI, No. Rek. 033.501.0007.60308 BSM, No. Rek. 700.1352.061 BMI, No. Rek. 301.00521.15 atas nama Medical Emergency Rescue Committee ————————————– (MINA/MER-C.Red:AFTA)