MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Wagubsu Bantu Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza

Medan, (Analisa).  Wagubsu Ir Tengku Erry Nuradi berjanji akan mem­bantu pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara, Palestina. Hal ini dikatakannya saat menerima Ketua Umum Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Cabang Medan dr Ahmad Han­da­ya­ni bersama pengurus lainnya di kan­tor Gubsu, Selasa (26/8). Wagubsu mengatakan seca­ra lem­baga melalui SKPD terkait maupun se­cara pribadi akan membantu pem­ba­ngunan rumah sakit Indonesia di Gaza. Di antaranya dengan cara mem­beli marchendise buatan Merc sebagai tanda partisipasi. Wagub juga berjanji akan mensosialisasikan program ini kepada tokoh-tokoh masyara­kat.  “Saya akan membeli lagi seribu buah t-shirt untuk dibagikan ke berbagai SKPD (satuan kerja pe­rang­kat dae­rah) dan akan membantu seca­ra pribadi dengan menso­siali­sasikan program ini ke tokoh-tokoh masya­rakat”­ ujarnya. Wagubsu juga berharap MER-C tidak hanya memper­hatikan palestina namun juga tetap memperhatikan kondisi di Indonesia khususnya sumut yang juga masih memerlukan per­hati­an semua pihak khu­susnya MER-C. Sementara itu ketua MER-C cabang Medan dr Ah­mad Handayani berharap dukungan Pemprov Sumut dapat mem­bantu MER-C Medan me­nyuk­seskan gerakan wakaf Sumut untuk mem­bangun satu ruangan operasi di RS In­d­onesia di Gaza. Untuk pembangunan satu ruangan operasi yang akan dinamakan Ruangan Sumatera Utara itu, MER-C Medan menggalang dana yang ditar­getkan pada Desember nanti akan mencapai Rp 3 miliar. “Saat ini sudah terkumpul Rp 765 juta. Ini berasal dari sumbangan perorangan, ko­mu­nitas, dan penjualan t-shirt,” katanya. RS Indonesia di Gaza Utara, kata dr Ahmad, telah berdiri tegak di Bayt Lahiya, Gaza Utara. Pembangunan gedungnya telah dimulai sejak 2011, dan rampung akhir ta­hun lalu. Saat ini MER-C sedang me­ngu­sa­hakan pengadaan a­lat-alat kesehatan untuk RS Indonesia yang diperkirakan memakan biaya Rp 65,131 miliar. “Secara bertahap RS Indonesia akan diserahkan kepada Pemerintah Pales­tina,” kata­nya.(ir) Sumber : http://analisadaily.com/news/read/wagubsu-bantu-pembangunan-rumah-sakit-indonesia-di-gaza/58325/2014/08/27              

WNI RINA DAN KELUARGA SUDAH KELUAR DARI GAZA

Rina Wati bersama suami Ahmad Skaik dan relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) di perbatasan Mesir. Foto: MINA Gaza, 1 Dzulqo’dah 1435/27 Agustus 2014 (MINA) – Warga Negara Indonesia (WNI) asal Cianjur Jawa Barat bersama keluarganya yang terjebak dalam perang terbaru Israel-Palestina akhirnya bisa keluar Gaza setelah sebelumnya tertahan di perbatasan Mesir. “Alhamdulillah, Rina, suami, dan anaknya sudah menuju Kairo bersama tim dari KBRI,” lapor koresponden Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Jalur Gaza, Rabu (27/8). Sebelumnya, Rina diantar tim relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C ) menuju perbatasan Rafah dan kemudian dijemput staf KBRI Kairo Joko Sumarsono bersama tim yang tiba-tiba di perbatasan Jalur Gaza Rabu siang pukul 11.00 waktu setempat   Sebelumnya, Rina Wati dan keluarga yang sudah menunggu kedatangan tim di imigrasi Gaza segera menuju ke imigrasi Mesir yang hanya berjarak 100 meter, namun pihak Mesir menahan semua warga Gaza termasuk Rina Wati tepat di depan imigrasi Mesir, lapor koresponden. “Kami hanya ingin keluar, kasian anak-anak saya,” ujar Rina kepada tim MINA. Rina Wati menikah dengan warga Gaza Ahmad Skaik pada 2008. Mereka sebelumnya tinggal di Arab Saudi. Namun, karena ada beberapa kesulitan yang dihadapi, keduanya pindah ke rumah Ahmad di Gaza pada 28 Maret 2012 dan tinggal di sana. Keluarga itu dikaruniai dua orang anak yakni Yahya Skaik dan Yasin Skaik. Yasin dilahirkan dalam kondisi prematur dalam situasi perang yang dilancarkan Israel ke Jalur Gaza sejak 7 Juli lalu. Koresponden MINA menuturkan, Selasa pagi Waktu Gaza, Rina beserta keluarga diantar oleh relawan MER-C bertolak menuju Rafah. Perjalanan berjarak 40 kilometer dari Gaza menuju perbatasan Rafah tersebut cukup menegangkan, karena serangan-serangan Zionis Israel kala itu masih  berlanjut, yakni  sebelum kesepakatan genjatan senjata permanen disepakati bersama gerakan-gerakan Palestina Selasa malamnya. “Sepanjang perjalanan tidak banyak kendaraan yang melintas bahkan bisa dibilang hanya kendaraan kami yang melintas,” lapor Koresponden MINA di Gaza. Rina Wati dan keluarga tiba di Rafah sekitar pukul 08.30 pagi, segera diarahkan ke ruang keberangkatan imigrasi Rafah. Relawan MER-C mencoba mengontak tim penjemput dari KBRI, namun hingga sekitar tiga jam, tim KBRI belum bisa dihubungi.(L/K01/R04) Sumber http://mirajnews.com/id/palestina/wni-rina-dan-keluarga-sudah-keluar-dari-gaza                

Silahkan bertanya?