MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Abu Kuta Krueng Dukung Pembangunan Rumah Sakit MER-C di Rakhine

MEUREUDU – Presidium MER-C Indonesia dr. Sarbini Murat bersama tim, mengunjungi Abu Kuta Krueng di kediamannya di Ulee Glee, pada Selasa, 3 Oktober 2017.   Dalam kunjungan tersebut dr. Sarbini memperkenalkan MER-C Indonesia sebagai salah satu LSM lokal yang bergerak di bidang kegawatdaruratan medis.   Ia juga menceritakan peran MER-C Indonesia dalam menangani bencana tsunami di Aceh pada 2004 silam, termasuk beberapa daerah bencana dan daerah konflik lainnya baik di dalam dan luar negeri.   “Saat ini MER-C juga sedang membangun sebuah rumah sakit di Rakhine, Myanmar,” kata dr. Sarbini yang didampingi Koordinator Relawan Aceh Ira Hadiati.   Sementara Abu Kuta Krueng mengatakan, ia mendukung penuh program pembangunan rumah sakit di Rakhine.   “Iya saya sangat mendukung apa yang dilakukan MER-C Indonesia, kalian para dokter yang membantu mengobati orang-orang sakit, apa lagi kalian membantu orang-orang muslim di Palestina dan Myanmar. Semoga Allah selalu melindungi MER-C Indonesia, semoga Allah meridai niat baik MER-C, dan dijauhkan dari marabahaya, serta untuk para tim jangan pernah berhenti menolong sesama muslim, saya sangat mendukung apa yg MER-C Indonesia lakukan,” kata Abu.   Mendengar petuah dari Abu Kuta Krueng, dr. Ben –sapaan akrab dr. Sarbini– sempat meneteskan air mata. Ia terharu dan bersyukur atas dukungan yang diberikan oleh ulama kharismatik Aceh tersebut.[]   Sumber :http://portalsatu.com/read/news/tim-mer-c-kunjungi-abu-kuta-krueng-35658

Mengenal Popo, Pelukis Mural Peduli Rohingya

MINA – Di antara kita mungkin sudah ada yang mendengar nama Ryan ‘Popo’ Riyadi, salah seorang seniman jalanan atau street artist yang karya-karya muralnya banyak menghiasi tembok-tembok ibukota Jakarta. Lelaki yang akrab disapa Popo itu sering menggambar karakter ‘Popo’ dalam setiap karyanya dibumbui dengan tulisan-tulisan kritis. Selama belasan tahun, lelaki peraih penghargaan ‘The Best Mural Artist’ pada Tembok Bomber Award 2010 ini selalu menghadirkan kritikan dalam setiap karyanya, walau tidak semua orang setuju dengan cara dia. Bahkan, Popo pernah juga diprotes dosen di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta, lantaran hobinya corat-coret ini. Tapi siapa sangka, beberapa tahun kemudian Popo malah ikut mengajar sebagai dosen mata kuliah komunikasi visual di almamaternya itu. Dalam sebuah wawancara khusus dengan Popo di tempat biasanya nongkrong, penulis sempat berbincang soal beberapa hal menarik dengan Duta Campaign RS Indonesia ini, salah satunya soal krisis kemanusiaan di Rakhine State, Myanmar. Popo yang cukup peka terhadap situasi di sekitarnya langsung merespon dengan pernyataan kritisnya. “Banyak manusia hidup berdampingan, tapi sedikit yang berkemanusiaan. Ini sebenarnya kita tunjukan bagi tempat-tempat yang di mana ada banyak orang tetapi di sana tidak ada nilai kemanusiaan,” kata Popo kepada wartawan Mi’raj News Agency(MINA) Rendy Setiawan di Gudang Sarinah Pancoran, Jakarta, Jum’at (7/10). Meskipun lahir dan besar di Indonesia, Popo cukup konsisten mengikuti perkembangan terkini yang terjadi di Myanmar maupun di Palestina. Menurut Popo, krisis-krisis yang terjadi di dua wilayah itu tak perlu terjadi apabila keberagaman dijaga sebagaimana mestinya. “Kita sering mendengar ajakan untuk saling menghargai dalam keberagaman. Tapi di sisi lain kita melihat ada banyak krisis kemanusiaan yang terjadi, contoh di Myanmar dan Palestina. Sebenarnya bukan hanya di dua wilayah itu saja, apabila nilai-nilai kemanusiaan itu dijaga, krisis seperti itu seharunya nggak perlu terjadi,” katanya. “Ini pelajaran dari apa yang pernah disampaikan oleh ayah saya. Jadi kalau mau menolong, harus menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan,” katanya menambahkan. Apabila diperhatikan lebih teliti, semua karya yang pernah diciptakan Popo, sebagian besar memuat pesan kritik sosial. Hal itu tak terlepas dari peran ayahnya yang selalu memotivasi untuk selalu memperhatikan kondisi sekitar. “Banyak cara untuk mengekspresikan apa yang ingin kita sampaikan, salah satunya dengan komunikasi non verbal, dan melalui lukisan-lukisan mural ini salah satunya,” katanya. Popo melanjutkan, untuk membantu orang-orang, tidak harus menunggu isu global seperti kelaparan, perang dan krisis lainnya. Cukup dengan memberikan makan kepada tetangga kita yang lapar, itu sama saja sudah menolong banyak orang. “Kemanusiaan tidak bisa dilepaskan dari keadaan sosial di sekitar kita. Contoh gampangnya begini, kadang kita kenyang tapi ada di sekitar kita yang kelaparan. Kalau ini terjadi, berarti nilai kemanusiaan kita harus dikritik. Kritikan yang saya lontarkan secara khusus sebenarnya ditunjukkan untuk diri saya sendiri,” paparnya. Popo berpesan, sebelum memenuhi hasrat keinginan kita, ada baiknya untuk melihat kondisi sosial di sekitar terlebih dahulu. Hal itu dilakukan sebagai cara untuk menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan agar selalu merasa dekat dengan lingkungan di sekitar. “Sebelum memenuhi keinginan kita, ada baiknya kita lihat dulu sekeliling kita,” pesannya. Menurut Popo, kritik sosial atau kondisi kemanusiaan yang selalu menjadi temanya adalah sebagai cara untuk menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan masyarakat Indonesia khususnya. “Saya pikir ini nggak  bisa lepas dari kehidupan sosial,” ujarnya. “Harus selalu sabar ketika hidup berdampingan dalam usaha menumbuhkan nilai-nilai sosial kepada orang yang kita kenal maupun yang nggak kita kenal. Tetapi yang terpenting untuk diri sendiri,” katanya lagi. Ketika disinggung soal ‘Popo’ yang menjadi karakter dalam setiap karyanya, Popo mengatakan, itu sudah menjadi identitas dirinya. “Popo menjadi signature, menjadi identitas saya. Jadi di setiap karya saya itu ada saya yaitu Popo,” katanya. (W/R06/B05)   Sumber : www.mirajnews.com  

Silahkan bertanya?