Kecerdasan Sosial Diperlukan untuk Pengelolaan Bencana Pandemi Covid-19

Banyak permasalahan sosial timbul akibat kegagalan dalam melakukan pendekatan kepada masyarakat, sehingga antara masyarakat, pemerintah dan nakes tidak bisa berjalan sinergis bahkan sering bertolak belakang. Sikap dan pandangan mereka tidak sama, ada yang sangat ketakutan, ada yang biasa-biasa saja dan malah ada yang “menantang” Covid-19 itu sendiri. Polarisasi sikap-sikap ini adalah hasil pengelolaan yang sudah keliru sejak awal, sehingga antara nakes, masyarakat dan pemerintah memiliki keyakinan masing-masing. Nakes keseharian bertemu dengan pasien Covid-19 mulai dari yang ringan hingga yang berat. Banyaknya nakes yang wafat cukup menimbulkan psikotrauma bagi nakes. Untuk ini sikap nakes pun terbelah tergantung pada level dampak psikotrauma yang ditimbulkan. Nakes yang sudah lelah menghadapi pasien Covid-19 yang tidak berhenti-berhenti mengalir ke prakteknya akan bertambah psikotraumanya ketika melihat masyarakat abai dalam menjalankan prokes dan akan cenderung merekomendasikan LOCKDOWN ketimbang solusi yang lain. Namun ada juga nakes yang berupaya meraba rasakan kesulitan yang terjadi di masyarakat itu sendiri dan memahami untuk mencari solusi. Di sisi lain masyarakat juga terbelah sikapnya. Ada yang ketakutan berlebihan akibat melihat kerabat, teman yang terkena Covid-19 yang berat lalu meninggal. Sementara ada yang menganggap Covid-19 itu biasa saja karena mereka melihat kerabat, kawan kena Covid-19 yang ringan akan sembuh sendiri, hngga malah ada yang menantang karrna menganggap Covid-19 itu bohong, sebab mereka melihat yang kena Covid-19 baik-baik saja. Apalagi mereka disuruh lokdon yang akan mengganggu ekonomi mereka, maka timbullah “perlawanan”, berkembanglah pemikiran-pemikiran “liar” ke berbagai arah mengkait-kaitkan dengan berbagai aspek seperti politik, dll. Situasi pelayanan medis diperburuk dengan sikap-sikap ketakutan dan panik yang membuat mereka dikit-dikit datang berbondong-bondong memenuhi IGD dan RS, menyebabkan overload RS dan gagal pelayanan. Sebenarnya bagi penderita Covid-19 yang ringan akan banyak bahaya dan kerugiannya bila datang ke IGD atau RS, yaitu: 1. Apabila pasien Covid-19 banyak berkumpul, akan menyebabkan “viral load” di ruangan tersebut tinggi, malah akan bisa memperburuk resiko infeksinya; 2. Nakes akan kehilangan fokus dalam mengelola pasien karena banyaknya pasien sehingga bisa timbul kelalaian; 3. Pasien-pasien yang non Covid-19 bisa tertular Covid-19; 4. Resiko nakes terinfeksi akan lebih tinggi sehingga akan membahayakan pelayanan menyebabkan gagal atau kolapsnya pelayanan. Egoisme yang timbul hanya akan berdampak buruk dan menyebabkan KARAMnya kapal pelayanan. Membiarkan situasi “head to head” antara nakes dan masyarakat ini dimana keduanya adalah termasuk “korban bencana” yang sama-sama mengalami psikotrauma, hanya akan menimbulkan konflik berkepanjangan, perang medsos berkepanjangan. Contoh teranyar adalah kisruh Covid-19 di Madura. Sejatinya secara etika para “korban bencana” ini jangan dibiarkan “head to head” yang akan menyebabkan SECONDARY DISASTER. Namun perlu dikelola dengan kecerdasan sosial yang mumpuni. Kisruh seperti di atas harusnya bisa dijembatani dengan melibatkan ulama, karena karakter orang madura yang taat kepada ulama. Harusnya ulama jangan hanya didekati dan dilibatkan ketika menjelang pilpres, tetapi juga libatkan, masukkan ke dalam satgas Covid-19. Pertanyaannya siapa yang mengelola tersebut? Harusnya pemerintah bisa memposisikan diri, organisasi profesi, organisasi masyarakat, dll. Mereka harusnya menahan ego, bersatu, bahu membahu menyusun langkah strategis dan nyata dalam menghadapi situasi. “Dilalah“nya malah diantara mereka juga sering tidak sejalan. Pemerintah dengan “tugas politik” nya kerap mengabaikan masukan-masukan dari para pakar. Di sisi lain organisasi profesi kerap mengambil sikap “All or None” tak mau kompromi terhadap situasi, memberikan anjuran ekstrim tanpa mencermati aspek lain dalam masyarakat. Misalnya; polemik sekolah tatap muka, tanpa solusi cerdas. Para organisasi profesi ini harusnya jangan berperan hanya sebagai WAKIL yang mewakili suara para nakes yang terdampak bencana, tapi harus bisa lebih menjadi JEMBATAN komunikasi baik itu ke masyarakat ataupun pemerintah. Sehingga bisa duduk bareng, mengukur resiko dan menghasilkan solusi jalan tengah yang nyata. Oleh karena itu, mari kita kedepankan “kecerdasan sosial” kita dalam mengelola pandemi ini. Salam Cerdas Kemanusiaan, Dr. Yogi Prabowo, SpOTPendiri, Relawan dan Presidium MER-C
MER-C Lantik Pengurus Cabang Surakarta periode 2021-2023

MER-C Indonesia menggelar acara Pelantikan Pengurus MER-C Cabang Surakarta periode 2021-2023, Sabtu/19 Juni 2021. Di tengah situasi pandemi, pelantikan pengurus dilakukan secara virtual melalui aplikasi zoom meeting. Acara dihadiri oleh perwakilan MER-C Pusat dan pengurus baru serta relawan MER-C Cabang Surakarta . Mewakili Presidium MER-C Indonesia, dr. Arief Rachman, SpRad memberikan ucapan selamat mengemban amanah tugas kepada para pengurus MER-C Cabang Surakarta yang baru dilantik. Dalam sambutannya, salah satu anggota Presidium MER-C ini mengingatkan bahwa setiap pengurus akan memiliki periode up and down dan tugas besar bersama adalah masalah kaderisasi. “Setiap pengurus ada periode up and down. Ada pengurus yang bagus dalam capaian kerja dan pengkaderan, ada yang flat saja dengan kegiatan rutin dan kaderisasi yang terhambat. Ini menjadi PR dan perhatian kita bersama baik di pusat maupun cabang,” tandasnya. Ia juga menyampaikan bahwa di MER-C sendiri ada kategori relawan yang turun lapangan dan tidak turun lapangan. “Di kala lama kita tidak bisa ikut turun lapangan karena kesibukan kuliah, kerja, dan sebagainya, tetaplah menjadi relawan dan membantu serta mendukung kegiatan kemanusiaan dalam bentuk lainnya, jangan malah merasa tidak enak untuk aktif kembali,” tambahnya. Sementara itu, dr. Panji Arga Bintara selaku Ketua Umum MER-C Cabang Surakarta yang baru dilantik, dalam kesempatan tersebut mengajak pengurus dan relawan MER-C Cabang Surakarta untuk bersama-sama membangun MER-C Cabang Surakarta sehingga bisa memberikan manfaat untuk umat pada umumnya. “Seiring berjalannya waktu, ada periode up and down tadi, tinggal bagaimana kita kembalikan pada niat awal kita sebagai relawan. Karena niat adalah pegangan utama bagi kita untuk melakukan suatu perbuatan. Ketika kita merasa lemah, jenuh, bosan, dan sebagainya, kembalikan lagi kepada niat awal kita masuk MER-C. Mari kita bersama-sama membangun MER-C Cabang Surakarta dan memberikan manfaat bagi umat pada umumnya,” ungkapnya. Acara pelantikan ditutup dengan doa bersama.