Bertugas di RS Abu Yusuf An Najjar Gaza, Tim Bedah MER-C Telah Tangani 25 Operasi

Ketua Tim EMT 1 MER-C, dr. Muhammad Reza Saputra, SpOT mengatakan, selama bertugas 10 hari di Rumah Sakit Abu Yusuf An Najjar, di Gaza Selatan, ia dan tim telah menangani 25 operasi bahkan per hari mencapai 5-6 operasi per harinya. “Sampai hari ke 10 ini kita sudah banyak membantu masyarakat Gaza. Tapi yang perlu menjadi catatatan membantu Gaza yang saat ini sedang perang bukan berarti membantu perang. Pasien yang ditangani bukan hanya korban perang tapi juga korban secondary impact,” ujar dr. Reza. “Di RS An Najjar kita melakukan operasi lebih kurang 25 orang. Sebagian besar korban perang dan sebagian lagi korban yang memang tidak langsung kena perang seperti kena tembak atau terkena ledakan tetapi karena mengungsi kemudian terjatuh, posisinya tidak bagus. itu juga banyak harus kita lakukan tindakan,” katanya. Ia juga mengatakan, pengungisan yang terlalu padat di mana Gaza Selatan atau Rafah dengan luas sekitar 50 km2 diisi oleh sekitar 1,5 juta warga Gaza mengakibatkan kebersihan, sanitasi dan kesehatan sangat terganggu sehingga penyakit menular juga banyak saat ini. Dr. Reza mengungkap, dari 14 rumah sakit di Jalur Gaza hanya ada tiga yang beroperasi yaitu RS Eropa, RS Al Aqsa, RS An Najar kemudian ada rumah sakit khusus ibu dan anak yaitu RS Al Emirati. Dari ketiga rumah sakit itu, Relawan Medis MER-C yang berjumlah 11 orang dibagi menjadi tiga tim. Di RS An Najjar tempatnya bertugas bersama satu orang dokter ortopedi lainya, satu perawat anestasi dan satu perawat operasi dari Tim MER-C, fasilitas yang ada sangat kurang karena banyak yang rusak. IGD yang sebelumnya menerima 100 pasien, saat ini harus menerima 700 pasien. Pasien yang tidak bisa ditangani dirujuk ke RS Eropa. “Sebenarnya memang yang paling banyak melakukan operasi itu di RS Eropa, tapi saat ini kita masih di tempatkan di An Najjar oleh Kementrian Kesehatan Palestina. Tapi kita sudah berencana melakukan kerja sama dengan tim dokter di RS Eropa untuk melakukan operasi,” tuturnya. Sebelumnya, ketika masuk ke Jalur Gaza Tim MER-C telah membawa bantuan obat-obatan, instrumen orthoopedi, peralatan orthopedi dan implant orthopedi yang sangat bermanfaat bagi tim medis di Gaza. Mereka memang mengharapkan alat-alat ortopedi dan alat-alat medis lainnya yang sangat mereka butuhkan untuk membantu melayani masyarakat. Proses Sulit Masuk ke Gaza Lebih lanjut, dr. Reza mengungkap terkait proses masuknya Tim yang cukup sulit hingga berhasil tiba di Jalur Gaza.“Kita dari tim MER-C sudah berkordinasi dengan WHO sebelum-sebelumnya dan ketika kita mencoba untuk masuk, kita masih harus menunggu hampir sebulan di Kairo. Hingga pada tanggal 18 Maret pukul 17.15 kita berhasil masuk,” katanya. Tiba di Gaza, Tim MER-C langsung berkordinasi dengan Kementerian Kesehatan Palestina dan pihak-pihak terkait untuk penugasan dan penempatan tim. Terharu dengan Ketabahan Warga Gaza dr. M. Reza Saputra, SpOT mengatakan, selama bertugas di Jalur Gaza, ia menyaksikan ketabahan warga Gaza dan tersentuh bagaimana mereka masih berbagi meski dalam kondisi kekurangan. “Yang paling menyentuh hati saya adalah masyarakat Gaza ini mereka tidak merendahkan diri. Walaupun ada yang minta-minta anak-anak begitu, tetapi yang paling saya rasakan adalah mereka selalu senyum dan tidak merendahkan diri,” kata dr. Reza. Ia mengatakan, saat ini masih ada akifitas ekonomi dan perdagangan yang menjadi bukti warga Gaza tidak mau menerima dengan tangan di bawah. Mereka masih mau berusaha. Cerita lain yang mengesankan baginya adalah ketika ia bersama Tim MER-C lainnya tiba dan saat itu sudah masuk bulan puasa, mereka melihat ternyata walau kekurangan masih ada warga Gaza yang membagikan air. “Itu menyebabkan kami sangat tersentuh,” ujar Dokter Spesialis Ortopedi itu. “Dan bagi saudara saudara kami di Indonesia warga Gaza sangat membutuhkan bantuan kita semua,” ujarnya.