MER-C Hadiri Global Meeting EMT WHO 2024 di Abu Dhabi

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menghadiri Global Meeting Emergency Medical Team (EMT) WHO 2024 yang digelar di Abu Dhabi pada 5-7 November. Tim MER-C diwakili oleh tiga orang yaitu Ketua EMT MER-C dr. Arief Rachman, SpRad, Liason Officer MER-C Marissa Noriti dan relawan medis MER-C drg. Elisabeth L. Sarri. “Dalam kegiatan ini dari WHO dan pihak-pihak yang sudah menjadi EMT Internasional berkumpul membicarakan mengenai global health emergency dan juga hal-hal lain yang terkait respon terhadap penanggulangan kegawatdaruratan medis di seluruh belahan dunia, dan topik tahun ini membicarakan dampak perubahan iklim terhadap kegawatdaruratan, yang akan bedampak pada kehidupan manusia,” ujar dr. Arief. Ia mengatakan, MER-C sebagai lembaga kesehatan yang juga akan menjadi bagian EMT menghadiri pertemuan ini untuk mempelajari sistem yang nanti diberlakukan dan lebih mengenal lingkungan EMT. “Sertifikasi mungkin akan kita lakukan di tahun depan, kita berdoa agar proses ini berjalan lancar dan mendapat kemudahan. Setelah tim medis EMT tersertifikasi menjdi EMT Internasional maka akan semakin memudahkan kita memberikan bantuan pelayanan utamanya di level internasional,” tuturnya. Pertemuan Global EMT WHO ke-6, diselenggarakan oleh Departemen Kesehatan Abu Dhabi (DoH), yang digelar untuk meningkatkan kapasitas global dalam memberikan layanan kesehatan berkualitas tinggi selama krisis. Pertemuan ini menarik lebih dari 1.300 peserta dari 140 negara yang terdiri dari para ahli dalam manajemen darurat, pengobatan bencana, dan bantuan kemanusiaan untuk memajukan kemampuan tanggap dan kesiapsiagaan darurat kesehatan global. Secara keseluruhan, pertemuan ini menghadirkan lebih dari 130 pembicara regional dan internasional, menyelenggarakan 30 sesi teknis, dan memamerkan inovasi dari 26 peserta pameran. Pertemuan tersebut telah menyediakan platform yang ideal untuk membangun kemitraan strategis di antara para ahli kedokteran darurat dan lembaga-lembaga khusus di seluruh dunia. Selama tiga hari, para peserta terlibat dalam sesi teknis yang membahas standar operasional, praktik inovatif, dan kemajuan terbaru dalam layanan medis darurat di bawah empat tujuan strategis yaitu Tata Kelola, Kepemimpinan dan Kemitraan, Tanggap Darurat dan Pengembangan Kapasitas, Penetapan Standar dan Jaminan Kualitas, serta Penelitian dan Inovasi.
MER-C Sambut Kepulangan Dua Relawan, Fikri dan Reza dari Jalur Gaza
Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menyambut kepulangan dua relawan, Fikri Rofiul Haq dan Reza Aldilla Kurniawan, yang baru saja tiba dari Jalur Gaza. Fikri dan Reza keluar dari Gaza sejak 29 Oktober 2024 dan tiba di Indonesia pada 12 November 2024. Kedatangan keduanya disambut oleh Ketua Presidium MER-C Dr. dr. Hadiki Habib, Sp.PD., Sp.Em., Presidium DR. Ir. Ahyahudin Sodri, M.Sc., Ketua EMT MER-C dr. Arief Rachman, SpRad., beserta relawan dan staf MER-C, juga keluarga dan kerabat di Bandara Sorkarno-Hatta, Jakarta, Selasa (12/11). Reza dan Fikri mengaku senang bisa kembali ke tanah air dan bertemu keluarga, tapi di sisi lain sedih karena harus meninggalkan warga Gaza di tengah agresi penjajah Israel yang masih berlangsung. “Nanti jika ada kesempatan lagi, tentu kami ingin bisa kembali ke Gaza. Kepulangan kami ke Indonesia ini akan kami gunakan untuk belajar lebih banyak, sehingga jika nanti kembali ke Gaza bisa lebih bermanfaat lagi,” ujar Fikri. Keduanya juga mengajak masyarakat untuk terus menyuarakan kondisi terkini di Palestina, melakukan aksi boikot untuk mencegah Israel lebih banyak melakukan pembunuhan dan penyerangan, juga untuk terus menyalurkan donasi khususnya untuk pembangunan kembali Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza. Reza telah berada di Jalur Gaza sejak 15 Februari 2013 dan Fikri sejak 16 Februari 2020. Keduanya aktif sebagai relawan MER-C yang bertugas menyalurkan amanah donasi dari masyarakat Indonesia, serta memberikan informasi terkini terkait situasi di Jalur Gaza. Fikri dan Reza telah beberapa kali melakukan evakuasi selama agresi Israel yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023. Keduanya pertama kali terpaksa mengungsi dari RS Indonesia di Gaza Utara ke Gaza Selatan pada 22 November 2023.