Reaktivasi RS Indonesia di Gaza: Langkah Awal Pemulihan

Gaza, Palestina – Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza Utara yang sempat berhenti beroperasi akibat serangan selama genosida di Gaza kini dalam tahap penilaian kerusakan atau damage assessment. Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-7 yang diketuai DR. dr. Hadiki Habib, Sp.PD, Sp.Em., bersama pihak manajemen RS Indonesia melakukan peninjauan menyeluruh di kompleks rumah sakit pada 1-10 Februari 2025. Dr. Hadiki mengatakan, penilaian ini bertujuan untuk mereaktivasi seluruh fungsi rumah sakit yang memiliki empat lantai. “Tim meninjau kondisi infrastruktur, sistem mekanikal dan elektrikal, interior, serta alat medis. Hasil sementara menunjukkan bahwa kebutuhan untuk renovasi dan pengadaan peralatan medis mencapai Rp100 miliar,” ujarnya. RS Indonesia sebelumnya menjadi salah satu fasilitas kesehatan utama bagi warga Gaza. Namun, akibat agresi militer, rumah sakit ini mengalami kerusakan signifikan. Dengan upaya pemulihan yang sedang berlangsung, diharapkan RS Indonesia dapat segera kembali beroperasi dan memberikan layanan medis bagi masyarakat yang terdampak perang. Sebelumnya, EMT MER-C ke-7 juga telah mengaktifkan kembali layanan darurat 24 jam RS Indonesia setelah berhasil masuk ke Gaza Utara untuk pertama kalinya pada 30 Januari 2025.
Relawan MER-C Bagikan Pengalaman saat Bertugas di Jalur Gaza dalam Konser Amal Palestina

Bogor – Relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr. Regintha Yasmeen, Sp.OG, seorang dokter spesialis obstetri dan ginekologi, berbagi pengalaman inspiratifnya saat menjadi relawan medis di Gaza, Palestina. Hal ini ia sampaikan dalam acara Konser Amal Palestina “Genjatan Senjata: Gerbang Bantuan Dari Kita untuk Palestina Merdeka”, yang diselenggarakan di Nurul Fikri Boarding School Bogor pada Ahad (23/2/2025). Dr. Regintha menceritakan tantangan dan pengalaman selama bertugas di wilayah konflik tersebut. Dalam sesi yang berlangsung dari pukul 10.30 hingga 10.50, dr. Regintha mengisahkan bagaimana ia dan tim medis harus bekerja di tengah keterbatasan fasilitas serta ancaman serangan. Ia juga menyoroti kondisi kesehatan ibu dan anak di Gaza yang sangat membutuhkan bantuan medis. Acara ini dihadiri oleh siswa-siswi Nurul Fikri Boarding School Bogor beserta orang tua mereka. Selain berbagi pengalaman, dr. Regintha juga mengajak peserta untuk semakin peduli terhadap kondisi masyarakat Palestina serta mendukung berbagai upaya kemanusiaan.