MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Rindu Suara Adzan

Cebu, Filipina – Ada satu hal yang sangat dirindukan sembilan relawan MER-C yang telah bertugas di Filipina selama satu minggu ini. Ya, rindu akan suara adzan yang biasanya akrab terdengar di Indonesia kala memasuki waktu-waktu shalat. Rasa rindu itu akhirnya terobati. Bukan karena pulang ke Indonesia, namun karena ketika melakukan pengobatan keliling (mobile clinic) hari itu, Sabtu (30/11), tim bertemu dengan komunitas muslim di wilayah Bogo, tepatnya di San Remigio yang ternyata letaknya tidak jauh dari posko tempat Tim MER-C tinggal selama ini. San Remigio adalah salah satu wilayah yang turut dilanda topan dahsyat Haiyan.

Karena bertepatan dengan hari libur nasional di Filipina, yaitu Bonifacio Day atau hari kemenangan pahlawan lokal terhadap penjajahan di Filipina, maka pada hari ini hampir tidak ada aktifitas di semua sektor kehidupan. Meskipun demikian, Tim Bedah MER-C tetap melakukan jadwal operasi seperti biasa dan perawatan luka pada beberapa pasien post operasi.

Sebelumnya Tim mobile clinic MER-C agak kesulitan untuk mencari transportasi. Menjelang sore hari tim baru bisa mendapatkan mobil untuk menuju San Remegio, Cebu. Seorang kontak person warga lokal yang memandu dan mengantarkan Tim ke sana. San Remegio merupakan perkampungan muslim yang baru berkembang pada tahun 2007 dan mungkin satu-satunya kampung muslim di pulau Cebu ini.

Diawali oleh seorang muallaf yang berdakwah sendirian secara perlahan. Di desa ini, dan berkat upaya dakwahnya, meskipun belum selesai pembangunannya, tampak sudah berdiri tegak sebuah masjid dengan luas bangunan kira-kira 40×20 m persegi. Ini adalah satu-satunya masjid yang tim temui selama menunaikan misi kemanusiaan di Filipina, mesjid ini diberi nama masjid Madinah.

Tim MER-C memulai pengobatan massal pada pukul 16.00 di area depan masjid dan diakhiri saat azan maghrib berkumandang, dengan jumlah pasien sebanyak 112 orang.

 ” Subhanallah … Kami sangat terharu bertemu dengan komunitas muslim yang hanya 10 kepala keluarga. Kami juga terharu akhirnya bisa mendengar suara adzan dan bisa sholat berjamaah dengan saudara-saudara seiman kami di sini,” ungkap Islamiyah salah satu anggota tim MER-C. Bertindak sebagai Imam sholat maghrib adalah anggota Tim MER-C, dr. M. Nurul Qomaruzzaman, SpOT.

“Kami juga menyampaikan salam dari muslim Indonesia,” tambah Islamiyah, yang juga akrab disapa dengan Iis. “Rasa haru tidak bisa kami sembunyikan. Sampai yang mengantar kami kesini warga local yang nonmuslim pun juga ikut terharu,” lanjutnya.

———-

Selama menunaikan misi medis di Filipina, Tim MER-C tinggal di Bogo-Medellin Medical Center, sebuah RS Advent. Tim mengoperasikan dan mengobati siapa saja korban topan Haiyan di RS ini tanpa memandang ras dan agama.

Meskipun berada di lingkungan nonmuslim, namun Tim MER-C merasakan perlakuan yang luar biasa dari sejawat medis di RS dan warga lokal. “Subhanallah perlakuan saudara kita di sini luar biasa, selalu menyiapkan makanan halal bagi kami,” tutur Islamiyah

Bagikan:

Silahkan bertanya?