MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

MER-C Meminta Pameran dan Museum Holocaust di Minahasa Ditutup

Ketua Presidium MER-C Indonesia, dr. Sarbini Abdul Murad menyayangkan diselenggarakannya pameran foto sejarah Holocaust dan pembukaan Museum Holocaust di Indonesia pada Kamis/27 Januari 2022. Sarbini juga meminta kegiatan tersebut dihentikan dan museum yang berlokasi di Tondano, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara yang dibangun oleh pengusaha Indonesia berdarah Yahudi, Yaakov Baruch segera ditutup serta aktifitas-aktifitas serupa lainnya dilarang di Indonesia. “Ini adalah langkah-langkah yang secara tidak langsung merupakan upaya membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Ini prolog yang ingin disampaikan oleh orang-orang Yahudi minoritas bahwa ada peristiwa Holocaust menyedihkan yang pernah dialami bangsa Israel. Mereka ingin menyampaikan pesan kepada masyarakat Indonesia bahwa Israel adalah bangsa yang tertindas dan menderita,” ujar Sarbini. Walaupun Holocaust memang ada, namun menurutnya masih menjadi perdebatan sejarah mengenai jumlah orang Yahudi yang menjadi korban “Mereka ingin mengetuk dan membuka hati rakyat Indonesia dengan informasi-informasi semacam ini. Targetnya diharapkan ke depan rakyat Indonesia tidak akan menolak pembukaan hubungan diplomatik dengan Israel,” katanya. Sarbini juga meluruskan bahwa kita bukan memusuhi warga Yahudi. Namun yang kita tentang adalah paham Zionisme yang identik dengan kolonialisme dan rasialisme. Menurut Sarbini, justru yang terjadi sekarang adalah sebaliknya, “Israellah yang tengah melakukan Holocaust terhadap rakyat Palestina!”. Untuk itu, ia berharap Pemerintah Indonesia konsisten dengan dukungan dan pembelaan terhadap Palestina, yang berarti hal-hal seperti ini harus dianggap sebagai suatu aktifitas ilegal. “Pendirian museum dan pameran foto Holocaust yang berlangsung di Minahasa melukai sejarah dan perjuangan rakyat Indonesia yang selama ini selalu bersama Palestina dan mendukung perjuangan bangsa Palestina,” ungkapnya. “Pemerintah Indonesia jangan di satu sisi membela Palestina, namun di sisi lain membiarkan ada orang-orang yang melakukan upaya-upaya yang bertentangan dengan aspirasi pemerintah dan rakyat Indonesia untuk Palestina. Pemerintah harus melarang aktifitas-aktiftas serupa di Indonesia,” harapnya. Sarbini juga menyayangkan kehadiran Duta Besar Jerman untuk Indonesia pada acara tersebut. “Tidak tepat kehadiran Dubes Jerman karena Indonesia tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel dan rakyat Indonesia mendukung perjuangan Palestina. Jangan sampai hal-hal seperti ini mengganggu hubungan dengan rakyat Indonesia,” ujarnya. Sekali lagi Sarbini juga mengingatkan agar pemerintah dan rakyat Indonesia jangan sampai kecolongan, “Museum Holocaust dan Pameran Holocaust harus ditutup,” tegasnya.

Triase COVID-19 dan Akses terhadap Layanan Kesehatan yang Sesuai

Gelombang demi gelombang COVID-19 sudah pernah dialami. Sebagai petugas kesehatan, triase adalah langkah penting untuk memilah kondisi pasien dan memberikan tatalaksana yang sesuai, sehingga kita bisa melakukan penanganan yang terbaik bagi orang-orang yang paling membutuhkan. Triase dimulai sejak di komunitas, mulai dengan memberikan informasi yang akurat (tidak hanya jumlah kasus positif namun juga derajat keparahan), kebijakan kesehatan yang berbasis data sendiri, dan usaha preventif individu seperti memakai masker dan cuci tangan. Kasus ISPA tentu membutuhkan terapi suportif, istirahat, isolasi mandiri dan menghindari stress, namun perlu dipantau oleh tenaga kesehatan terlatih, namanya Isomantau atau Isolasi Mandiri Terpantau. Isomantau diperlukan untuk menghindari penanganan yang berlebihan. Pemantauan ini untuk menjaga agar terhindar dari terlambatnya mengambil keputusan ke rumah sakit, jika memang dianggap perlu, tentunya sesuai indikasi medis. Mengisolasi pasien dengan klinis ringan di rumah sakit akan menghabiskan sumber daya yang dibutuhkan. Kasus-kasus pneumonia COVID-19 yang membutuhkan perawatan malah bisa tertahan di IGD, atau malah tidak bisa masuk IGD sama sekali. Dan ingat, masih ada pasien non-covid yang membutuhkan perawatan. Mereka mau dirawat dimana, kalau rumah sakit diisi dengan kasus ISPA COVID-19? Dr. Hadiki Habib, SpPDRelawan Medis MER-C Salam Kemanusiaan,MER-C IndonesiaCall Center : 0811990176FB dan Youtube : MER-C IndonesiaIG dan Twitter : @mercindonesia #disastermedicine #Isoman #isomantau #isomantaumerc #covid_19 #mercindonesia

Saran MER-C untuk Proses Relokasi Pengungsi Semeru, Belajar dari “Permasalahan Relokasi Sinabung dan Merapi”

Siaran Pers Kembali MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) Indonesia mengirimkan tim untuk membantu pada fase rehabilitasi erupsi Semeru, 14 Januari 2022. Tim terdiri dari tujuh orang relawan, yaitu dr. Yogi Prabowo, SpOT(K), Ir. Faried Thalib, dr. M. Hardian Basuki, SpOT(K), dr. Muhammad Zuhdi, Iis Islamiah, Marissa Noriti, dan Izzati Rozi Zulmi. Turun dengan tim rekonstruksi berkoordinasi dengan Pemda Lumajang untuk memberikan asupan dalam proses relokasi pengungsi dan meninjau tempat rencana relokasi di desa sumber mujur untuk ikut serta dalam pembangunan faskes di lokasi tersebut. Keinginan kuat Pemda Lumajang untuk tidak mengulangi kegagalan relokasi pengungsi terlihat dari upaya yang serius dalam perencanaan pembangunan huntara (hunian sementara)/huntap (hunian tetap) lengkap dengan fasilitas umum seperti sarana ibadah, sekolah dan fasilitas kesehatan. Belajar dari permasalahan relokasi Sinabung, dimana erupsi yang berkelanjutan dan berulang, membuat upaya penanggulangan bencana khususnya medis menjadi kronis. Setidaknya butuh waktu lebih dari 6 hingga 8 tahun sejak dari tahun 2010 upaya relokasi menemukan banyak hambatan, bahkan menimbulkan secondary disaster berupa konflik sosial antara pengungsi dan masyarakat lokal di daerah relokasi. Sedangkan di Merapi, terkendala mempertahankan mata pencaharian dan budaya lokal yang begitu kuat, menyebabkan para pengungsi kembali ke daerah terdampak. Huntara-huntara yang sudah dibangun ditinggalkan menjadi kurang berguna . Beberapa hal yang mesti diantisipasi dalam relokasi pengungsi: 1. Aspek hukum, legal formal status tanah dan pemanfaatan lahan tempat relokasi. Perlu upaya hukum yang serius dalam memperjelas status tanah relokasi 2. Aspek budaya lokal, psikososial, tanah adat leluhur. Perlu pendekatan sosiokultural yang agresif dalam proses relokasi. Pendekatan tidak hanya kepada pengungsi, namun juga kepada penduduk di sekitar tempat relokasi agar bisa menerima kehadiran pengungsi 3. Aspek ekonomi, mata pencaharian para pengungsi. Dicarikan lokasi dimana mereka bisa mendapatkan mata pencaharian yang sesuai sebelumnya 4. Aspek tehnik, geografis, ekologis dan lingkungan. Kestabilan lahan, zona yang aman dari aliran lahar dan awan panas, keterjangkauan lokasi dengan transportasi, proses evakuasi penyelamatan juga menjadi pertimbangan. Tersedianya fasilitas-fasilitas umum seperti rumah ibadah, pasar, sekolah, fasilitas kesehatan. 5. Aspek kesehatan. Pengungsi adalah kelompok masyarakat mempunyai resiko terabaikannya kesehatan. Selain masalah sanitasi (mandi, air minum, tempat pembuangan dll), kelompok rentan seperti Balita, Bumil dan menyusui, geriatri atau orang tua, serta para penderita penyakit kronis (kanker, gagal ginjal, dll) juga akan terancam timbul morbiditas atau mortalitas. Oleh karena perlu dilakukan identifikasi resiko dan upaya mitigasi kesehatan yang komprehensif. Oleh karena itu, salah satu konsep relokasi dengan menggunakan konsep seperti transmigrasi yang pernah dilakukan zaman orde baru, dengan memperhatikan hal-hal tersebut di atas. Salam, Dr. Yogi Prabowo, SpOT(K)Presidium MER-C    

MER-C Mengutuk Penghancuran Rumah Warga Palestina di Sheikh Jarrah

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengutuk keras aksi brutal tentara Israel terhadap warga sipil Palestina di Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur yang masih terus berlanjut. Hal ini disampaikan oleh Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad sebagai respon atas aksi keji berupa pengusiran secara paksa, penghancuran rumah dan penyerangan serta penangkapan pada Rabu (19/1/2022) yang menimpa keluarga Salhiya di wilayah tersebut. “Untuk kesekian kalinya, kekuatan pendudukan Israel dan pasukannya melakukan aksi rasis dan brutal terhadap rumah warga sipil Palestina yang sudah ditempati sejak lama serta menahan pemiliknya,” ujar Sarbini. “Ini adalah kejahatan perang yang tidak bisa dibiarkan terus berlanjut,” tegas Sarbini. Menurutnya, aksi-aksi keji dan illegal yang dilakukan Israel dengan dalih yang mengada-ada akan merusak iklim perdamaian. Untuk itu, Sarbini mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa dan masyarakat Internasioanal melakukan langkah proaktif agar aksi brutal Israel bisa segera berhenti. “Apabila masyarakat Internasional diam dan hanya menjadi penonton, maka kebrutalan ini akan terus berlanjut. Untuk itu, kami MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) Indonesia meminta segera dikirim tim internasional untuk memantau dan mengawasi aktivitas ilegal Israel di Sheikh Jarrah agar pelanggaran hak sipil dan hak asasi warga Palestina bisa di minimalkan,” pungkas Sarbini.

Tokoh Hindu: Solusi Dua Negara untuk Konflik Palestina – Israel, Itu Win-Win Solution

MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) Indonesia terus bergerak melakukan safari kemanusiaan ke berbagai elemen anak bangsa dan tokoh lintas agama di Indonesia. Hal ini dilakukan dalam upaya untuk mendukung kemerdekaan Palestina. Kamis/16 Desember 2021, Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad melakukan kunjungan ke kantor Parisada Hindu Dharma Indonesia atau PHDI sebagai Majelis Tertinggi Agama Hindu di Indonesia. Safari ini dalam rangka mengajak seluruh rakyat Indonesia, khususnya umat Hindu di Indonesia untuk turut mendukung kemerdekaan Palestina, karena kemerdekaan adalah hak asasi setiap negara. Indonesia mempunyai tanggung jawab konstitusi serta tanggung jawab sejarah untuk mendukung upaya ini. Kunjungan Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad diterima oleh drg. Nyoman Suartanu, MPM selaku Ketua Bidang Kesehatan dan Sosial Kemanusiaan PHDI. Sebagai salah satu tokoh Hindu di Indonesia, drg. Nyoman merespon positif safari yang tengah dilakukan oleh MER-C karena beririsan di nilai kemanusiaan.                               “Melihat dari safari yang dilakukan oleh MER-C maka irisannya adalah di nilai-nilai kemanusiaan. Orang menderita, orang kena musibah tidak bisa kita pilah-pilah, semuanya adalah masalah kemanusiaan. Secara nilai baik itu dalam kitab-kitab manapun juga, kalau kita bicara masalah kemanusiaan, pasti itu yang tertinggi,” ujar Nyoman. Lebih lanjut Nyoman menjelaskan bahwa PHDI bernaung di bawah nilai-nilai Hindu dan ajaran kitab Weda. “Nilai-nilai dalam Weda, dalam ajaran agama Hindu adalah menyayangi kehidupan. PHDI menjunjung nilai-nilai itu, menjaga kehidupan dan menyayangi kehidupan, maka masuk ke human value atau nilai kemanusiaan.” Ia juga menyatakan keprihatinannya dengan konflik berkepanjangan Palestina – Israel yang menyebabkan banyak korban berjatuhan. “Kita sedih sepertinya tidak ada selesai-selesainya. Ini adalah masalah kemanusiaan tentu kita sebagai umat manusia di dunia memiliki tanggung jawab dan kewajiban untuk menghentikan seluruh konflik yang akhirnya menimbulkan korban kemanusiaan,” katanya. Menanggapi diskusi untuk upaya menghentikan konflik berkepanjangan ini dan adanya opsi soluasi dua negara yang juga didukung oleh pemerintah Indonesia, Drg. Nyoman Suartanu berpendapat hal ini sebagai win-win solution bagi kedua pihak yang bertikai.                             “Solusi dua negara itu adalah salah satu bentuk win-win solution. Kalau tadinya satu pihak ingin menguasasi, pihak lain ingin mempertahankan, win win solutionnya adalah ayo kita bagi, pilah jangan sampai terjadi seperti itu lagi,” ujar Nyoman. Namun bagaimana secara detailnya karena menyinggung kebijakan pemerintah, maka PHDI menurutnya sangat menjunjung bagaimana pemerintah Indonesia membuat sebuah keputusan yang bijak terhadap kondisi ini karena kita memiliki kewajiban dan tanggung jawab tentang hal tersebut. “Walau kami memiliki aturan, kami pasti akan tunduk dengan kebijakan positif hukum negara. Negara pun membuat keputusan tidak akan gegabah,” katanya. Di akhir pertemuan, sebagai kenang-kenangan dan untuk mempererat hubungan antara MER-C dan PHDI, dr. Sarbini Abdul Murad menyerahkan syal Indonesia – Palestina kepada drg. Nyoman Sanuarta dan plakat berlogo MER-C. Syal Indonesia – Palestina didisain khusus oleh MER-C dengan menyandingkan disain batik dari Indonesia dan disain kotak-kotak hitam putih dari Palestina sebagai simbol persahabatan Indonesia – Palestina.

Khidmat MER-C bersama anak bangsa di Gunung Semeru

siapapun yang membutuhkan akan kami layani Jakarta (ANTARA) – Letusan Gunung Semeru, yang secara administratif berada di dua daerah, yakni Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur, dan terjadi sejak Sabtu(4/12) 2021 hingga kini masih menyisakan duka mendalam. Warga di sekitar gunung tertinggi di Pulau Jawa itu, dengan puncaknya Mahameru setinggi 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl), yang menjadi korban, baik luka maupun belum ditemukan, masih membutuhkan bantuan, baik kesehatan maupun logistiknya. Baik pemerintah, organisasi kemanusiaan, perusahaan negara dan swasta, anak sekolah dan mahasiswa, bahkan partai politik, lembaga swadaya masyarakat (LSM) hingga kini terus melakukan kegiatan dan sumbangsihnya dalam ragam bentuknya. Dari beragamnya para pihak yang bersama-sama membantu masyarakat korban letusan Semeru itu, salah satunya yang ikut bergabung adalah organisasi sosial kemanusiaan untuk korban perang, konflik dan bencana alam yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan kesehatan “Medical Emergency Rescue Committee” (MER-C) Indonesia. “Bersama anak bangsa lainnya, kami masih terus bergerak untuk membantu korban erupsi Semeru,” kata Ketua Presidium MER-C dr Sarbini Abdul Murad. Selain mengirim tim kesehatan, yang terdiri atas sukarelawan dari unsur dokter spesialis, dokter umum, perawat, bidan, dan bagian logistik, pihaknya juga mengirimkan tim pemulihan trauma (trauma healing). Pada Jumat (10/12) 2021, MER-C kembali memberangkatkan tim sukarelawannya, yakni tim ketiga ke wilayah yang terdampak bencana erupsi Gunung Semeru di Lumajang, yakni 13 orang, yakni dokter umum, perawat, bidan, bagian logistik serta trauma healing. Sebelumnya, sejak satu hari usai bencana, MER-C telah menurunkan dua tim sukarelawan. Tim ke-1 adalah tim advance sebanyak 5 sukarelawan yang dipimpin oleh Ketua MER-C Cabang Jawa Timur dr M Hardian Basuki, SpOT (K), untuk melakukan assessment ke beberapa titik pengungsian dan fasilitas kesehatan.                               Anggota tim sukarelawan kesehatan MER-C sedang mendata dan memeriksa warga terdampak bencana erupsi Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. ANTARA/HO-Humas MER-C   Tim bedah Tim ke-2 yang diterjunkan adalah tim medis yang terdiri atas dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi, dokter umum, perawat dan bagian logistik berjumlah tujuh orang yang merupakan gabungan dari sukarelawan MER-C Cabang Yogyakarta, Solo dan Jawa Timur. Tim bedah plastik melayani pasien luka bakar di Rumah Sakit Dr Haryoto Lumajang. Sementara tim medis lainnya melakukan pelayanan mobile clinic ke titik-titik pengungsian yang masih minim bantuan medis. Korban luka bakar menjadi fokus tim bedah plastik karena jumlahnya cukup banyak. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)Abdul Muhari, Ph.D melalui keterangan yang disampaikan pada Sabtu (12/12) menyatakan sepekan upaya pencarian dan pertolongan korban dampak awan panas guguran (APG) Gunung Semeru, tim gabungan telah menemukan total 45 korban jiwa dalam kondisi meninggal dunia. Jumlah tersebut bertambah dari yang sebelumnya yakni 43, setelah pada Jumat (10/12), tim kembali menemukan dua korban di wilayah Dusun Kamar Kajang, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. Merujuk Dansatgas Penanggulangan Dampak APG Gunung Semeru dari Posko Tanggap Darurat Kecamatan Pasirian, Kolonel (Inf) Irwan Subekti, Jumat (10/12), BNPB merinci jumlah orang hilang yang sampai saat ini dilaporkan ada 9 orang, 19 orang luka berat dan 19 lainnya luka ringan. Adapun sebanyak 19 orang yang luka ringan ini juga memiliki luka atau penyakit lain di luar luka bakar akibat APG Gunung Semeru. Sementara, jumlah orang yang mengungsi ada sebanyak 6.573 pengungsi yang tersebar di 124 titik pengungsian. Sebanyak 124 titik pengungsian itu terbagi sebanyak 24 titik di lokasi pengungsian terpusat dan sisanya yakni 102 titik merupakan pengungsian mandiri maupun di lokasi kerabat para warga terdampak.                                Tim dokter kesehatan MER-C sedang memberikan layanan kesehatan warga terdampak bencana erupsi Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. ANTARA/HO-Humas MER-C Prioritas keselamatan Saat meninjau RSUD Pasirian Lumajang, Ahad (5/12), Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menegaskan bahwa pemerintah berfokus menyelamatkan korban. Sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo, kata dia, setiap ada bencana seperti ini yang diprioritaskan adalah keselamatan korban, terutama mereka yang cedera. Korban cedera akibat erupsi Gunung Semeru di RSUD Pasirian banyak yang mengalami luka bakar parah. Bahkan ada korban yang mengalami luka bakar sampai 80 persen sehingga perlu penanganan khusus dengan bantuan dokter spesialis,  dokter sub spesialis dan dokter bedah plastik. Selain itu, ada pula korban cedera yang tertimpa reruntuhan bangunan. Ketua Tim ke-3 MER-C untuk erupsi Semeru dr Mustofa Siddik menyatakan bahwa kegiatan tim tidak langsung berkaitan dengan evakuasi, melainkan pendampingan kesehatan. “Targetnya siapapun yang membutuhkan akan kami layani sesuai dengan kapasitas kami sebagai tim kesehatan,” katanya. Namun apabila dirasa tim menemukan satu kasus yang tidak dapat ditangani oleh tim, maka akan merujuk ke fasilitas kesehatan terdekat yang memadai. Tim MER-C dengan menggunakan dua armada “double cabin” akan bertugas selama sepekan ke depan dan rolling dengan tim ke-2 yang sudah bertugas, dan selanjutnya tim sukarelawan akan terus dikirimkan secara rotasi sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Pada Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana (Rakornas PB) Tahun 2021 di Jakarta pada Rabu (10/3) 2021, MER-C mendapat penghargaan dari negara, melalui BNPB. Anugerah penghargaan kepada MER-C diberikan atas intensitas, konsistensi, dan inovasi MER-C dalam penanggulangan bencana di Indonesia, khususnya di masa pandemi COVID-19 saat ini. Khidmat membantu korban di Gunung Semeru adalah kesinambungan kerja-kerja senyap kemanusiaan dari Sabang hingga Merauke, yang tidak segegap-gempita jika misi kemanusiaan berlangsung di mancanegara. Oleh Andi JauharyEditor: Budhi Santoso Sumber : https://www.antaranews.com/berita/2581121/khidmat-mer-c-bersama-anak-bangsa-di-gunung-semeru

Dorong Kemerdekaan Palestina, MER-C Lakukan Safari Kemanusiaan

Dalam upaya mendorong dan mendukung kemerdekaan Palestina, lembaga sosial medis untuk kemanusiaan dan perdamaian, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia melakukan program yang diberi nama ‘Safari Kemanusiaan untuk Kemerdekaan Palestina’. Sarbini Abdul Murad, Ketua Presidium MER-C, memandang Safari Kemanusiaan perlu dilakukan untuk mengkomunikasikan permasalahan Palestina kepada semua pihak dan semua elemen anak bangsa untuk bersama-sama membantu dan mencari jalan keluar dalam mendukung terwujudnya kemerdekaan Palestina.   “MER-C mempunyai satu program yaitu ‘Safari Kemanusiaan Mendukung Kemerdekaan Palestina’. Ini untuk mengkomunikasikan dengan segenap pihak, dengan tokoh-tokoh lintas agama, tokoh-tokoh pers, pemuda dan aktifis-aktifis kemanusiaan agar masalah Palestina bisa bersama-sama kita bantu, bersama-sama kita tanggulangi,” ucap Sarbini dalam pernyataannya di Kantor Pusat MER-C di Jakarta, Jum’at/12 November 2021. Sarbini menyampaikan bahwa Palestina adalah salah satu negara peserta Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955 yang sampai hari ini belum merdeka. Menurutnya, Indonesia sebagai negara muslim terbesar yang sama-sama lahir dari penderitaan penjajahan dimana pada pembukaan UUD 1945 juga jelas menyatakan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, maka menjadi tanggung jawab konstitusi dan kewajiban semua untuk melakukan suatu kerja keras agar Palestina bisa merasakan kemerdekaan seperti negara-negara lain.  “Oleh sebab itu, ini menjadi tanggung jawab sejarah, tanggung jawab konstitusi, tanggung jawab kita bersama untuk mendorong semua pihak agar bisa memerdekakan Palestina,” tegasnya. Dalam pernyataannya, Sarbini mengajak semua pihak agar masalah Palestina menjadi fokus dan pemikiran bersama. “Banyak tokoh-tokoh yang selama ini mungkin sepi untuk berbicara tentang Palestina, senyap untuk berfikir untuk Palestina, kami mengajak semua kita agar masalah Palestina menjadi titik fokus kita, menjadi pokok pemikiran kita bersama, agar saudara-saudara kita di Palestina bisa mendapatkan kemerdekaan sebagaimana yang kita rasakan pada hari ini,” tambah Sarbini. Upaya Safari Kemanusiaan yang dilakukan MER-C saat ini menurutnya sejalan dengan apa yang pernah dikatakan Bung Karno, Presiden Republik Indonesia pertama. “Harus kita ingat, Bung Karno pernah mengatakan bahwa ‘Kami Bersama Palestina sampai Palestina Mendapatkan Kemerdekaan’. Ini adalah suatu hal yang MER-C lakukan. Mudah-mudahan ini didukung oleh semua pihak sehingga MER-C menjadi bahagian dari duta Palestina untuk mengkomunikasikan proses ini kepada semua lapisan masyarakat, semua elemen anak bangsa. Mudah-mudahan kita bisa bersama Palestina dalam mendorong dan mendukung kemerdekaan Palestina,” harap Sarbini. MER-C telah memulai program ini dengan bertemu dan mengkomunikasikannya ke Tokoh agama Katolik. Pertemuan dan komunikasi serupa akan terus dilakukan ke tokoh-tokoh lintas agama yang lain dan ke semua elemen anak bangsa.   Selengkapnya : https://youtu.be/BIr84-IubDI Jakarta, 12 November 2021Medical Emergency Rescue Committee

Safari Kemanusiaan, MER-C Bertemu Pengamat Timur Tengah dari UI

Depok, MINA – Lembaga medis dan perdamaian, Medical Emergency Rescue – Committee (MER-C) dipimpin dr. Sarbini Abdul Murad bertemu Ketua Program Studi Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam SKSG Universitas Indonesia (UI), Yon Machmudi di Depok, Ahad (7/11). Dalam pertemuan yang merupakan rangkaian Safari Kemanusiaan MER-C itu, Sarbini menyampaikan pentingnya semua pihak berdiskusi tentang kondisi Palestina. Ia menegaskan, penderitaan Palestina tidak boleh dimanfaatkan dalam bentuk apa pun. “Orang-orang hanya respek ketika ada peristiwa besar, tapi begitu peristiwa besar itu hilang, maka lupa itu tentang Palestina. Jadi saya ingin mencoba mengkomunikasi bahwa kita punya dua tanggung jawab terhadap Palestina, yaitu tanggung jawab konstitusi dan tanggung jawab sejarah. Ini yang ingin kita sampaikan melalui Safari Kemanusiaan,” ujar Sarbini. Menurut Sarbini, aksi-aksi kemanusiaan yang selama ini dilakukan belum mampu membuka mata Israel terkait penderitaan bangsa Palestina. Maka, kata dia, Indonesia sebagai rumah umat Islam yang besar perlu bersikap lebih nyata dalam mendukung Palestina. Sementara itu, Ketua Program Studi Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam SKSG Universitas Indonesia (UI), Yon Machmudi membenarkan apa yang disampaikan Sarbini. Menurutnya, memang Palestina membutuhkan dukungan lebih dari banyak pihak. “Negara yang mengakui Israel sudah banyak, dari Amerika hingga Uni Eropa. Yang mengakui Palestina belum terlalu banyak. Sementara yang mengakui keduanya sejauh ini hanya Rusia atau Cina saja. Jadi dukungan terhadap Palestina masih jauh,” katanya. Menurut Yon, Palestina bisa memunculkan kekuatan yang besar apabila dua fraksi besar di negara itu bisa bekerja sama, yakni Hamas di Jalur Gaza dan Fatah di Ramallah. Hanya saja, kata dia, rekonsiliasi kedua fraksi tersebut tidak mungkin dibiarkan begitu saja oleh Israel. “Memang untuk berhadapan dengan Israel itu ada dua sisi, berinteraksi dengan perlawanan atau diplomasi. Dan dua-duanya sudah dilakukan oleh Palestina, tetapi memang terpisah, yakni Hamas dengan perlawanannya, kemudian PLO dengan diplomasinya,” tuturnya. Yon menjelaskan, selama Hamas dan Fatah belum bersatu, maka akan sulit untuk berhadapan dengan Israel. Ia pun menyarankan pihak eksternal, khususnya dari Indonesia untuk memediasi rekonsiliasi antara Hamas dan Fatah. “Minimal masyarakat akar rumput di Palestina bersatu. Mungkin kalau langsung tokoh sentralnya ini akan sulit, tetapi kalau dimulai dari masyarakat, minimal sampai ke tokoh-tokoh menengah, ini bisa dilakukan,” katanya. Terkait kepedulian terhadap Palestina, Yon mengapresiasi langkah MER-C yang melakukan Safari Kemanusiaan ke semua kalangan. Hal itu, menurutnya, bisa menjadi langkah awal memberikan dukungan yang besar kepada Palestina. Sumber : https://minanews.net/safari-kemanusiaan-mer-c-bertemu-pengamat-timur-tengah-dari-ui/

MER-C Apresiasi Langkah Denmark Membantu Palestina

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia menyampaikan apresiasinya yang tinggi atas langkah Denmark memberikan bantuan kepada Palestina. Bantuan Denmark berupa dana hibah dan kemitraan dilakukan dalam rangka mendukung upaya Palestina memperjuangkan kemerdekaannya. Apresiasi ini disampaikan oleh Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad secara tertulis kepada Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen melalui surat yang dikirimkan ke Kedutaan Besar Denmark di Jakarta, Selasa/12 Oktober 2021. “Kami memberikan apresiasinya setinggi-tingginya kepada Pemerintah dan rakyat Denmark atas langkah yang telah diambil untuk membantu Palestina. Kesepakatan bantuan yang diberikan berupa dana hibah dan kemitraan antara Denmark dan Palestina adalah sebuah langkah berani dan nyata dalam upaya mendukung upaya Palestina memperjuangkan kemerdekaannya. Hal ini menunjukkah sikap tegas Denmark yang berpihak kepada kemanusiaan dan keadilan serta menolak bentuk penjajahan yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina,” tulisnya.    Bantuan dan kemitraan seperti ini, tulisnya, tentu akan membantu rakyat Palestina meningkatkan kapasitas rakyatnya, meningkatkan perekonomian, memperluas pembangunan di berbagai bidang, sehingga Palestina dapat menjadi bangsa yang mandiri, merdeka dan berdaulat, sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.   Sarbini berharap langkah yang telah dilakukan Denmark bisa diikuti oleh banyak negara lainnya di dunia. “Kami berharap langkah yang telah dilakukan Denmark bisa diikuti oleh banyak negara lainnya di dunia sebagai bentuk dukungan terhadap kemanusiaan dan perdamaian serta perlawanan terhadap penjajahan,” tambahnya.   “Negara-negara peduli Palestina seperti Denmark, kami harapkan dapat memberikan tekanan kepada Israel untuk menghentikan tindakan ilegalnya di Tepi Barat, yaitu perampasan dan penghancuran properti warga Palestina, dsb,” tegas dokter yang sudah berpengalaman di berbagai wilayah perang dan bencana.   Lebih lanjut, mengenai perdamaian antara Palestina dan Israel melalui solusi dua negara, dalam suratnya, Sarbini juga sangat mengapresiasi hal ini dimana Denmark menjadi salah satu negara yang mendukung solusi ini. “Semoga Denmark dapat terus menyuarakan hal ini di forum-forum internasional, sehingga solusi dua negara bisa segera terwujud.”   MER-C sendiri adalah NGO Indonesia yang memiliki concern terhadap masalah Palestina terutama dalam aspek kemanusiaan dan kesehatan. Salah satu bentuk komitmen MER-C untuk Palestina adalah dengan membangun Rumah Sakit di Bayt Lahiya, Jalur Gaza yang diberi nama Rumah Sakit Indonesia. Pembangunan Rumah Sakit Indonesia yang sudah berlangsung sejak tahun 2009, sampai saat ini masih terus dilakukan pengembangan-pengembangan yang diperlukan untuk meningkatkan dan memperluas kapasitas pelayanannya.   Jakarta, 12 Oktober 2021 MER-C Indonesia

Siaran Pers : Kemenangan taliban dan Rencana MER-C untuk Afghanistan

Peristiwa penguasaan wilayah dan pengambil alihan kepemimpinan oleh Taliban di Afghanistan turut menjadi perhatian MER-C. Dr. Sarbini Abdul Murad, selaku Ketua Presidium MER-C memberikan pernyataan pers terkait hal ini dan rencana MER-C ke depan sebagai sebuah organisasi yang mempunyai pengalaman melakukan misi kemanusiaan di Afghanistan pada tahun 2001 dan 2002. “Kita ketahui bersama bahwa baru-baru ini Taliban telah menguasai Kabul dan tanggal 31 Agustus Amerika meninggalkan bandara dan praktis pada kesempatan ini semua dikuasai oleh Taliban. Kami perlu memberikan keterangan pers karena MER-C mempunyai pengalaman bekerja di Afghanistan dalam aktivitas kemanusiaan pada tahun 2001 dan 2002,” ungkap Sarbini. “Oleh sebab itu, kami akan memberikan beberapa hal penting. Ini adalah masukan untuk kita semua dan kita harapkan Afghanistan lebih bagus, lebih stabil dan lebih berwajah kemanusiaan,” tambahnya. Sarbini yang pernah bertugas sebagai relawan medis MER-C untuk Afghanistan membahas mengenai stigma yang dilabelkan pada Taliban yang terkesan kurang baik dan menjelaskan pendapatnya mengenai Taliban. “Perlu diketahui bahwa dunia internasional atau sebagian dari Indonesia melabelkan Taliban dengan stigma yang kurang baik, kurang bagus, dan ada beberapa hal yang menurut pandangan kami Taliban sendiri harus memperhatikan masukan atau kritikan dari dunia internasional atau beberapa pihak. Yang pertama adalah dunia internasional mengkhawatirkan terjadinya diskriminasi terutama pada etnis minoritas, kemudian terjadi penekanan terhadap kebebasan sipil, kebebasan wanita dan demokratisasi. Ini yang dikhawatirkan oleh pihak-pihak internasional,” ujarnya. Menurutnya, kekhawatiran ini karena ada trauma sejarah yang dialami sekitar tahun 2000-an dimana ketika Afghanistan dikuasai oleh Taliban terjadi kekerasan. Ini yang menjadi trauma sampai dengan hari ini. Lebih lanjut Sarbini menyampaikan bahwa kita harus memberikan kesempatan kepada Taliban dan menjauhkan framing. “Kita harus memberikan kesempatan kepada Taliban untuk membentuk pemerintahannya dan kita menjauhkan framing yang seakan-akan Taliban sama seperti yang pernah mereka lakukan pada tahun 2000,” ungkapnya. Sarbini mengharapkan adanya pemerintahan yang inklusif dan juga menyebutkan bahwa Taliban mesti belajar dari Indonesia karena Indonesia mempunyai pengalaman yang cukup dalam melakukan manajemen konflik sehingga menurutnya Indonesia bisa bekerja sama dengan Taliban. “Oleh sebab itu, kita mengharapkan adanya pemerintah yang inklusif dimana Taliban harus melibatkan semua pihak, semua tokoh, dan semua etnis. Sehingga kita harapkan ada stabilitas politik di Afghanistan, ada stabilitas ekonomi di Afghanistan sehingga berjalan pemerintah yang efektif. Selanjutnya, Taliban mesti belajar dari Indonesia. Kita ketahui bahwa Indonesia punya pengalaman yang cukup dalam melakukan manajemen konflik. Oleh sebab itu, saya pikir pemerintah Indonesia bisa bekerja sama dengan Taliban untuk mengirimkan tim asistensi diplomat-diplomat kita yang hebat untuk memberikan masukkan kepada Taliban sehingga nanti mereka dalam mengelola negara atau mendirikan pemerintahan akan melibatkan semua pihak dan pemerintahan akan dijalankan lebih efektif,” ujarnya. Dalam pernyataan persnya, Sarbini juga menjelaskan mengenai keikutsertaan dan rencana MER-C ke depan sebagai organisasi kemanusiaan yang pernah bekerja di Afghanistan dalam membantu Afghanistan apabila pemerintahan telah terbentuk dan berjalan secara efektif. “Selanjutkan MER-C sebagai organisasi kemanusiaan yang pernah bekerja di Afghanistan dan pernah diminta oleh pihak Afghanistan terutama pihak departemen kesehatan untuk mendirikan rumah sakit di Afghanistan, maka apabila pemerintahan telah terbentuk dan efektif, insya Allah MER-C akan membantu Afghanistan di bidang kesehatan, apakah itu ambulans, klinik atau rumah sakit. Insya Allah ini menjadi perhatian MER-C ke depan,” tambahnya.   Berikut link Vidio Siaran pres : https://youtu.be/0QSpAJN877g   Jakarta, 3 September 2021 MER-C Indonesia

Silahkan bertanya?