RS Indonesia di Gaza jadi Rujukan Pasien COVID-19

Gaza, MINA – Melonjaknya jumlah kasus Covid-19 di jalur Gaza menyebabkan Rumah Sakit Indonesia yang belum rampung pembangunannya menjadi rumah sakit rujukan bagi pasien positif COVID-19. Ir. Edy Wahyudi Site Manager Pembangunan RS Indonesia tahap dua yang saat ini berada di Gaza mengatakan, sejak meletusnya serangan berupa virus secara tiba-tiba dan jatuhnya 100 korban positif hanya dalam waktu satu malam di luar karantina di jalur gaza yaitu pada hari Selasa 25 Agustus lalu, maka pihak Manajemen Rumah Sakit meminta lantai tiga RS Indonesia yang belum diserahterimakan oleh Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) kepada Kementrian Kesehatan Gaza. “Awalnya hanya dua ruangan yang diminta tetapi begitu ada ledakan jumlah korban serangan virus COVID-19 yang begitu besar akhirnya hampir seluruh lantai tiga RS Indonesia diminta untuk digunakan,” ujar Edy kepada MINA pada Jumat (4/9). “Petugas RS Indonesia baik dokter dan paramedis terus bekerja siang dan malam menerima masyarakat yang sempat berinteraksi dengan korban meninggal akibat COVID-19,” tambahnya. Edy juga mengatakan, saat ini petugas kesehatan RS Indonesia sedang mengalami kelelahan karena harus menangani pasien selama 24 jam. Setidaknya dua dokter, satu paramedis dan satu petugas kebersihan dari RS Indonesia juga terinfeksi COVID-19. Data dari Kementerian Kesehatan Sektor Gaza per Kamis (3/9), Jumlah sampel baru yang diperiksa ada 1421 sampel, sekitar 98 orang terinfeksi dalam 24 jam terakhir, total kumulatif terinfeksi 581 kasus orang, pasien sembuh 76 orang dan Kematian 5 orang (4 dari dalam masyarakat dan 1 dari yang kembali). RS Indonesia di Gaza merupakan inisiasi Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang dalam pembangunannya bekerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Fatah Indonesia. Pada Pembangunan tahap kedua, sebanyak 31 relawan dikirimkan ke Jalur Gaza. (L/R7/P2) Sumber : https://minanews.net/rs-indonesia-di-gaza-jadi-rujukan-pasien-covid-19/
Laporan Ir. Edy Wahyudi: Suasana Idul Adha di Jalur Gaza

Gaza, MINA – Gema takbir terdengar dari pengeras suara di masjid-masjid yang bersahutan sejak Kamis Subuh, atau sehari sebelum Idul Adha. Tepatnya sejak 9 Dzulhijjah atau pagi hari Arafah. Demikian Ir. Edy Wahyudi, seorang relawan Indonesia yang merupakan Site Manager Pembangunan RS Indonesia di Gaza, memberikan informasi terkait suasana Idul Adha di Jalur Gaza, Palestina, Jumat (31/7). Edy menyampaikan hal ini dalam laporan pada program info terkini Gaza, Palestina, yang disiarkan Radio Silaturahim AM 720, edisi 10 Dzulhijjah 1441 H atau bertepatan pada Jumat pagi (31/7). Dia mengatakan selanjutnya, pelaksanaan sholat Idul Adha di Gaza dilakukan di masjid-masjid, namun ada juga yang melaksanakan di tanah lapang atau jalan raya yang ditutup sementara waktu saat sholat Id berlangsung. “Bagaimana dengan suasana ibadah kurban di Gaza Palestina? Gaza, negeri ini miskin dan diblokade darat, laut dan udara yang sudah 13 tahun lamanya,” ujar Edy. Pengangguran mencapai 60 persen, Jalur Gaza sudah mengalami tragedi ekonomi. Kehidupan dan kemanusiaan yang dahsyat akibat blokade sampai datang krisis pandemi Corona yang sampai memperburuk keadaan. “Akan tetapi Allah memenuhi Gaza dengan penuh keberkahan. Terbukti, puluhan sapi sudah masuk dalam daftar pemotongan kurban apalagi domba lebih banyak lagi ditambah lagi binatang kurban lainnya yaitu unta yang biasa dipotong untuk kurban di Gaza,” kata Edy. Para relawan di Gaza aktif untuk penyembelihan hewan kurban pada tahun 1441 H ini, walau pun tidak sebanyak tahun lalu. Tahun ini tercatat ada tujuh ekor domba/kambing yang disalurkan melalui Jama’ah Muslimin (Hizbullah), kemudian yang disalurkan oleh MER-C di Gaza Palestina terdiri dari 31 domba/kambing ditambah satu ekor sapi dan satu ekor unta. “Idul Adha atau hari raya kurban adalah hari libur keagamaan di Gaza, di mana umat Islam memperingati hari ujian iman Nabi Ibrahim dengan menyembelih hewan dan ternak, serta membagikan daging kepada orang-orang yang miskin,” katanya. Edy menambahkan, warga Gaza mempunyai kebiasaan melakukan silaturahim usai sholat Idul Adha, biasanya pada hari pertama sikaturahim dilakukan kepada keluarga terdekat seperti orangtua dan mertua, hari berikutnya baru mengunjungi kerabat lainnya. “Saat bertemu silaturahim mereka saling mengucapkan ‘kullu am wa antum bi khoir’ yang berarti semoga sepanjang tahun ini Anda mendapatkan kebaikan. Ucapan itu dijawab dengan ‘Kullu am wa antumun toyyibin’ itulah Idul Adha dengan cita rasa Gaza,” ucap Edy. (L/R6/P1) Sumber : https://minanews.net/laporan-ir-edy-wahyudi-suasana-idul-adha-di-jalur-gaza/
MER-C Appreciates the Step Taken by Fatah and Hamas to Unite Against Israel’s Annexation

Behind Israel’s annexation plan of the West Bank and the Jordan Valley, there is relieving and pleasing news in which Fatah and Hamas pledge to unit in fighting against the annexation. The statement was conveyed by senior officials of both parties, Jibril Rajub from Fatah in Ramallah and Saleh Al-Arouri representing Hamas in Beirut, Lebanon in a joint-teleconference, Thursday (2/7). During the teleconference, both parties have agreed to unite in establishing a mutual agreement in facing Israel’s brutal annexation steps of the West Bank and the Jordan Valley. In response to the historical event, MER-C Head Presidium, dr. Sarbini Abdul Murad expressed his appreciation and support to the steps taken by Fatah and Hamas. “We welcome and support the joint agreement of Fatah and Hamas, which hopefully can become an energy and national strength for Palestine to face Israel, that is fully backed by the United States,” said Sarbini. He believes that the national unity of every element would turn into a power that would force Israel to reconsider its plan from annexing the West Bank. “We highly welcome this step. May this mutual understanding and unity would not stop in facing the West Bank annexation but also in other matters,“ he continued. Sarbini said that despite the differences in views held by Fatah and Hamas in gaining Palestine’s independence, he truly wished that this would not hamper the unity of both parties, particularly in the midst of regional conflicts faced by Arab countries that caused the abandonment of Palestinian issues. Jakarta, July 15th 2020MER-C Indonesiawww.mer-c.org0811990176
MER-C Apresiasi Langkah Fatah dan Hamas Bersatu Lawan Aneksasi Israel

Dibalik rencana aneksasi atau pencaplokan Tepi Barat dan Lembah Jordan oleh Israel, ada kabar yang melegakan dan menggembirakan dimana Fatah dan Hamas berjanji bersatu untuk melawan aneksasi tersebut. Hal ini disampaikan oleh para pejabat senior kedua pihak, Jibril Rajub mewakili Fatah dari Ramallah dan Saleh al-Arouri mewakili Hamas dari Beirut Lebanon dalam tele konferensi pers bersama, Kamis (2/7). Dalam tele konferensi pers tersebut, kedua pihak telah sepakat untuk bersatu membangun kesepakatan bersama dalam menghadapi langkah brutal Israel menganeksasi Tepi Barat dan Lembah Jordan. Menanggapi peristiwa bersejarah ini, Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad menyampaikan apresiasi dan dukungan terhadap langkah yang diambil oleh Fatah dan Hamas. “Kami mengapresiasi dan mendukung kesepakatan bersama Fatah dan Hamas, yang diharapkan dapat menjadi energi dan kekuatan nasional Palestina untuk menghadapi Israel yang didukung secara penuh oleh Amerika Serikat,” kata Sarbini. Menurutnya persatuan nasional semua elemen akan menjadi kekuatan yang membuat Israel berfikir ulang untuk meneruskan rencananya menganeksasi Tepi Barat. “Kami menyambut gembira langkah ini. Semoga saling pengertian dan persatuan ini tidak hanya dalam menghadapi aneksasi Tepi Barat saja tapi juga persoalan lainnya,” lanjutnya. Sarbini mengatakan meski ada cara pandang yang berbeda antara Fatah dan Hamas dalam mencapai kemerdekaan, tetapi ia berharap hal ini tidak menjadi batu sandungan untuk bersatu, apalagi di tengah situasi dan kondisi negara-negara Arab yang dibalut dengan persoalan-persoalan regional yang menyebabkan nasib Palestina terabaikan. Jakarta, 15 Juli 2020MER-C Indonesiawww.mer-c.org0811990176
Direktur RSI di Gaza Melepas Relawan Pulang ke Indonesia
Gaza, MINA – Dalam acara pelepasan dan penghormatan kepada sembilan relawan pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza yang akan kembali ke Tanah Air, Direktur RSI Dr. Sauqi Ibrahim Salim menyampaikan sejumlah pesan. “Kita telah dapat bahu-membahu bekerja sama hingga dapat mewujudkan RSI ini hingga membawa manfaat luas. Nama RSI ini dan segenap orang yang terlibat dalam pembangunannya akan selalu dikenang oleh warga Gaza, dulu, sekarang dan yang akan datang, bahkan akan disebut hingga di akhirat,” kata Salim kepada para relawan, Ahad (5/7). Pada kesempatan itu, ia juga menyatakan bahwa sukarelawan harus saling memaafkan atas segala kesalahan yang mungkin terjadi selama mereka bersama-sama di Gaza, Palestina, yakni selama 1,5 tahun. “Tidak lupa kami atas nama RSI dan segenap karyawan menyampaikan terimakasih atas kehadirannya di sini. Jazakumullahu khaira dan teriring doa, semoga perjalanannya Allah mudahkan bertemu dengan keluarga dalam keadaan selamat sentosa, khusus untuk Paidi bin Kromojoyo, semoga diberi kesabaran dan istri yang telah berpulang dirahmati oleh Allah dan husnul khatimah,” katanya, merujuk kepada relawan yang istrinya baru saja meninggal di kampung halaman. “Semoga kita bersama dapat segera shalat di Masjidil Aqsha dalam keadaan merdeka. Aamiin. Orang menganggap kemerdekaan ini masih jauh tapi mungkin Allah melihatnya telah dekat,” tambahnya. Direktur RSI itu juga mendoakan empat relawan yang ditinggal meninggal orang yang dicintainya saat dalam tugas di Gaza, Palestina. Mereka yang meninggal adalah ibunda relawan Ir. Edy Wahyudi dan Lutfi, ayah Sodikin dan istri Paidi. (L/RI-1/P2) Sumber : https://minanews.net/pesan-ditektur-rsi-di-gaza-saat-melepas-relawan-indonesia/
Menkes Gaza Lepas Kepulangan Sembilan Relawan RS Indonesia

Gaza, MINA – Menteri Kesehatan Gaza Dr. Abdullatif Al Haj pada Kamis (2/7) melepas kepulangan sembilan relawan pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza. “Kepada segenap relawan RSI yg akan pulang, kalian telah mengukir sejarah melukis RSI dengan tangan-tangan kalian, suatu amal yang luar biasa, panjang dan sulit. Jauh dari istri dan keluarga bahkan sampai ada yang ditinggal wafat istrinya, mudah-mudahan husnul khatimah dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran,” ujar Abdullatif di Kantor Kementerian Kesehatan Gaza. “Tidak lupa kami sampaikan penghormatan yang setinggi-tingginya atas amal besar ini. Semoga Allah mudahkan perjalanan kalian sampai di Indonesia berjumpa keluarga dengan selamat. Aamien,” kata Abdullatif. “Saya mewakili Kementerian Kesehatan Gaza menyampaikan penghormatan yang setinggi-tingginya untuk MER-C (Medical Emergency Rescue – Committee) dengan segenap relawannya yang telah bersungguh-sungguh mempersembahkan Rumah Sakit Indonesia untuk rakyat Palestina, khususnya yang berada di Gaza utara,” tambahnya. Ia juga mengatakan, MER-C telah berhasil menjadi ujung tombak perantara tersampaikannya bantuan rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina. RSI telah memberikan layanan kesehatan untuk Gaza utara yang berpenduduk padat. “Saya lihat kerja sama antara Kemenkes Gaza dan MER-C berjalan dengan baik, terbukti telah dapat mewujudkan RSI di Gaza utara menjadi rumah sakit markazi (pusat),” katanya. “Kami berharap tahap kedua ini segera selesai dan dapat dilanjutkan tahap ketiga berupa klinik dan training center dan di lanjutkan terus programnya bahkan sampai setelah Palestina merdeka,” pungkasnya. Site Manager Pembangunan RS Indonesia di Gaza, Ir. Edy Wahyudi, mengatakan kepada MINA sebelumnya, ada 33 relawan Indonesia dari berbagai daerah di Indonesia yang dikirimkan ke Gaza untuk melakukan pembangunan RS Indonesia tahap dua yang diinisiasi oleh lembaga kemanusiaan MER-C, bekerja sama dengan Pondok Pesantren Al-Fatah. “Dengan kembalinya sembilan relawan ini maka kini tersisa 22 relawan untuk melanjutkan RS Indonesia tahap kedua,” tambahnya. (R/R7/RI-1) Sumber : https://minanews.net/menkes-gaza-lepas-kepulangan-sembilan-relawan-rs-indonesia/
MER-C: Aneksasi Tepi Barat Bisa Perparah Kondisi Kemanusiaan

Jakarta, MINA – Ketua Presidium Medical Emergency Rescue – Committee (MER-C) dr. Sarbini Abdul Murad mengatakan, rencana Israel yang akan mencaplok wilayah Tepi Barat, Palestina, bisa memperburuk kondisi kemanusiaan di wilayah itu. Menurut dr. Sarbini, dunia Barat, Timur, hingga dunia Islam menolak dan mengecam langkah Israel. Dia menegaskan, hanya Amerika Serikat yang sangat mendukung rencana aneksasi Israel yang sesuai jadwal akan dilakukan pada 1 Juli mendatang. “Kami secara tegas mengecam langkah aneksasi karena sangat berbahaya bagi kemanusiaan. Kami sebagai lembaga kemanusiaan mengapresiasi AWG yang merespons tindakan sepihak Israel,” kata dr. Sarbini dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (25/6). Konferensi pers itu dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya, Duta Besar Palestina untuk Indonesia Zuhair Al Shun, mantan Direktur LKBN Antara Dr. Aat Surya Syafaat, dan Ketua AWG Agus Sudarmadji. Dalam konferensi pers yang digelar Aqsa Working Group (AWG) bertema “Menolak Aneksasi Israel atas Tanah Palestina di Tepi Barat”, dr. Sarbini mengungkapkan, di Amerika Serikat sendiri tidak satu suara. Partai Demokrat yang menjadi oposisi Trump sangat menentang aneksasi. “Di Amerika, Partai Demokrat dan Partai Republik saling bertentangan. Jika Republik mendukung aneksasi, Demokrat justru menentang keras langkah tersebut,” katanya. Dr. Sarbini juga mengapresiasi respon Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi yang langsung mengirim surat kepada 30 kepala negara untuk menolak aneksasi. Baru-baru ini, Indonesia juga baru saja memprakarsai pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) yang dilakukan secara virtual pada Rabu, 24 Juni 2020. “Sudah terlalu lama, rakyat Palestina mengalami ketidakadilan, pelanggaran HAM dan situasi kemanusiaan yang buruk. Aneksasi Israel merupakan ancaman bagi masa depan bangsa Palestina,” ucap Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Retno LP Marsudi mengawali pernyataan tegasnya pada pertemuan terbuka tersebut. Dalam pertemuan yang dipimpin Prancis selaku Presiden DK PBB Juni 2020 ini, Retno menyampaikan sebuah pertanyaan, ”Pilihan ada di tangan kita, apakah akan berpihak kepada hukum internasional, atau menutup mata dan berpihak di sisi lain yang memperbolehkan tindakan yang bertentangan dengan hukum internasional?” Sebagaimana keterang pers yang diterima MINA, Kamis (25/6), setidaknya ada tiga alasan yang disampaikan Retno pada pertemuan itu mengapa masyarakat internasional harus menolak rencana Israel terkait aneksasi Tepi Barat itu. Pertama, rencana aneksasi formal Israel terhadap wilayah Palestina merupakan pelanggaran hukum internasional. Memperbolehkan aneksasi artinya membuat preseden dimana penguasaan wilayah dengan cara aneksasi adalah perbuatan legal dalam hukum internasional. Kedua, rencana aneksasi formal Israel ini merupakan ujian bagi kredibilitas dan legitimasi Dewan Keamanan PBB di mata dunia internasional. DK PBB harus cepat mengambil langkah cepat yang sejalan dengan Piagam PBB. Ketiga, aneksasi akan merusak seluruh prospek perdamaian. Aneksasi juga akan menciptakan instabilitas di Kawasan dan dunia. Untuk itu, terdapat urgensi adanya proses perdamaian yang kredibel dimana seluruh pihak berdiri sejajar. (L/R2/RI-1) Sumber : https://minanews.net/mer-c-aneksasi-tepi-barat-bisa-perparah-kondisi-kemanusiaan/
Israel Serang Gaza Targetkan Kelompok Perlawanan

Gaza, MINA – Pasukan artileri pendudukan Israel pada Senin (15/6) malam melancarkan serangan yang menargetkan pos-pos perlawanan Palestina, di sebelah timur Rafah, di selatan Jalur Gaza. Pesawat pengintai pendudukan menembakkan dua rudal yang menarget di sekitar lapangan di daerah yang sama. Kedua serangan tersebut menurut laporan Ramallah News yang dikutip MINA tanpa menimbulkan jatuhnya korban jiwa. Sementara menurut media daring Hadshoot Betakhon Sdei melaporkan, sebuah tank Israel mengebom sebuah pos milik Hamas, di Jalur Gaza selatan.Israel berdalih serangan itu untuk menanggapi peluncuran roket dari Jalur Gaza yang diluncurkan dan mengarah ke permukiman Israel pada malam itu.Media itu juga menyebutkan serangan artileri menargetkan titik-titik perlawanan Palestina di timur kamp pengungsi Al-Bureij di dekat daerah “Abu Qatrun”, yang menyebabkan kerusakan parah. (T/B04/RS2) Sumber : https://minanews.net/israel-serang-gaza-targetkan-kelompok-perlawanan/
MER-C ajak masyarakat Indonesia bekerja sama menangani COVID-19

Jakarta (ANTARA) – Lembaga medis dan kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committe (MER-C) mengajak seluruh elemen masyarakat dan para tenaga kesehatan untuk saling bahu membahu bekerja sama dalam menangani pandemi COVID-19 yang terjadi di Indonesia agar bisa segera terbebas dari penyakit virus corona baru tersebut. Pendiri sekaligus prresidium dan relawan medis MER-C Dr Yogi Prabowo, SpOT dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa, mengatakan penanganan COVID-19 di Indonesia harus dilakukan dengan manajemen krisis yang baik agar tidak menimbulkan masalah baru di tengah perjuangan semua pihak dalam menghadapi pandemi.Terlebih lagi, kata Yogi, bangsa yang terpecah belah di dalam menghadapi suatu masalah dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk kepentingan golongan tertentu.“Sejatinya negara yang terdampak bencana sedang menjadi lokus minoris bagi kekuatan asing lain menginvasi negeri untuk dikuasainya. Mari kita sesama anak bangsa segera menyadarinya. Lebih baik bersatu menyelamatkan negeri ini dari keterpurukan dan ancaman pihak-pihak lain yang berusaha menguasai negeri,” kata Yogi. Dia mendorong agar proses pemeriksaan laboratorium untuk COVID-19 dipercepat agar tidak terjadi friksi antara masyarakat dengan tenaga kesehatan di lapangan.Yogi menerangkan kegelisahan masyarakat butuh kepastian akan anggota keluarganya yang sakit apakah terinfeksi COVID-19 atau bukan akan berdampak pada aspek sosial dan spiritual. Dari sisi tenaga medis yang sudah bekerja keras menangani pasien harus menjelaskan kepada keluarga pasien dalam situasi yang rumit dan menunggu hasil tes yang cukup lama bisa menjadi benturan.Selayaknya harus ada penjelasan aspek hukum kebencanaan oleh pemerintah kepada masyarakat, sehingga bukan hanya dibebankan kepada tenaga kesehatan yang dihadapkan pada keluarga pasien yang gelisah. “Di tengah situasi tersebut sangat rentan emosi para tenaga kesehatan menghadapi situasi,” kata dia.Namun Yogi mengajak agar seluruh pihak harus bekerja sama dan tidak menambah masalah baru di tengah kondisi yang masih terjadi pandemi.“Selayaknya kedua belah pihak bisa menahan diri, sebab dalam konsep manajemen bencana salah satu kunci keberhasilan adalah ‘jangan membuat masalah di tempat yang sedang bermasalah’ atau jangan memantik api di dekat bensin. Crisis management akan menentukan keberhasilan penanganan bencana. Hendaklah pemerintah, organisasi profesi, tokoh masyarakat bisa memberikan imbauan tentang pentingnya kerja sama dalam menangani bencana,” kata Yogi. Sumber : https://www.antaranews.com/berita/1542344/mer-c-ajak-masyarakat-indonesia-bekerja-sama-menangani-covid-19
Nakes Dari Rakyat Dan Untuk Rakyat

Kebijakan pembiayaan “Reimburse” dalam penanganan Pandemi Covid-19 yang diterapkan oleh Pemerintah menimbulkan Polemik. Pertama, Dalam konsep Disaster Management adanya Komando sangat penting dan menentukan keberhasilan. Harusnya pemerintahlah yang menentukan RS mana yang bisa menangani Covid-19, jangan diserahkan kepada pasar bebas. Selain pentingnya Zonasi dalam penanganan wabah penyakit menular, juga penting memastikan kesiapan Alat Pelindung Diri (APD), fasilitas isolasi dan protokol, sehingga bisa memberikan perlindungan kepada Tenaga Kesehatan (Nakes). Kedua, Dalam konsep Disaster Management, penting dalam mencapai response time yang cepat, sehingga harus memotong birokrasi keuangan dan kebijakan LIKUIDITAS pendanaan agar RS yang ditunjuk bisa segera di-support keuangan. Namun kenyataannya kebijakan pembiayaan yang ditempuh adalah “Reimburse” atau bahasa betawinya “Lo Obatin Dulu Ntar Gue Bayar”. Dengan janji pembiayaan yang cukup “menggiurkan” tersebut kembali membuat “celah” fitnah bagi Nakes dan RS. Sementara potret situasi lain pandemi adalah banyak fasilitas kesehatan yang terancam bangkrut akibat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Jadi mekanisme pembiayaan “Reimburse” ini dapat menimbulkan poin positif dan poin negatif. Poin positifnya adalah memudahkan bagi pemerintah dalam pembiayaan dan akuntabilitas. Selain menggunakan mekanisme verifikasi berlapis seperti BPJS, juga mewajibkan Nakes atau RS melakukan pengisian Penyelidikan Epidemiologi (PE) yang sejatinya dilakukan oleh Epidemiolog Kesehatan Masyarakat. Sementara poin negatifnya adalah ancaman terjadinya fraud medis ditengah situasi ekonomi Fasilitas Kesehatan (Faskes) yang menurun. Apalagi kunci paling penting dalam verifikasi, yaitu kecepatan hasil SWAB PCR sangat rendah. Juga sistem screening ala Kesehatan Masyarakat ODP (Orang Dalam Pemantauan) dan PDP (Pasien Dalam Pengawasan) yang kriterianya sangat longgar memperbesar peluang terjadinya fraud tersebut. Potret sisi kegelisahan masyarakat butuh kepastian akan anggota keluarganya yang sakit apakah Covid atau bukan? Yang akan berdampak sosial dan spiritual terutama dalam prosesi pemakaman. Potret sisi tenaga medis yang sudah bekerja keras menangani pasien Covid-19 dengan resiko tertular, tanpa kepastian pembayaran yang jelas. Belum lagi harus menjelaskan kepada keluarga pasien dalam situasi yang tidak jelas. Selayaknya harus ada penjelasan Aspek Hukum Kebencanaan oleh Pemerintah kepada masyarakat, sehingga itu bukan hanya dibebankan kepada Nakes yang dihadapkan pada keluarga pasien yang gelisah. Ditengah situasi tersebut sangat rentan emosi para Nakes menghadapi situasi. Situasi membuat benturan antar Nakes dengan masyarakat. Masyarakat mem-bully nakes bahkan sampai mau menuntut. Sementara Nakes tak tinggal diam akan menuntut juga.Selayaknya kedua belah pihak bisa menahan diri, sebab dalam konsep manajemen bencana salah satu kunci keberhasilan adalah “Jangan Membuat Masalah di Tempat yang Sedang Bermasalah” atau jangan memantik api di dekat bensin. “Crisis Management” akan menentukan keberhasilan penanganan bencana. Hendaklah pemerintah, organisasi profesi, tokoh masyarakat bisa memberikan himbauan tentang pentingnya kerjasama dalam menangani bencana. Sejatinya negara yang terdampak bencana sedang menjadi Lokus Minoris bagi kekuatan asing lain menginvasi negeri untuk dikuasainya. Mari kita sesama anak bangsa segera menyadarinya. Lebih baik bersatu menyelamatkan negeri ini dari keterpurukan dan ancaman pihak-pihak lain yang berusaha menguasai negeri. Salam, Dr. Yogi Prabowo, SpOTPendiri, Presidium & Relawan Medis MER-C /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;}