
Jakarta – Beberapa hari menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, tepatnya tanggal 2 Juli 2013, masyarakat Nanggroe Aceh Darussalam kembali diuji dengan musibah bencana gempa bumi. Gempa melanda 2 kabupaten di provinsi ini, yaitu Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Aceh Tengah. Kamis (4/7), MER-C Cabang Medan sebagai cabang yang terdekat dengan lokasi gempa segera menurunkan Tim medisnya yang terdiri dari 3 perawat, 1 psikolog dan 1 supir. Tim menempuh jalur darat dengan menggunakan kendaraan operasional MER-C Medan berupa ambulans menuju Aceh. Sementara Tim dari MER-C Pusat Jakarta yang terdiri dari 3 dokter, 1 perawat bedah, 1 tenaga logistik dan 1 supir menyusul ke Aceh pada hari Sabtu (6/7).


Perjalanan jalur darat ke lokasi gempa baik dari Medan maupun Banda Aceh harus ditempuh selama belasan jam. Hal ini diakibatkan oleh kondisi jalan yang rusak dan terjadi longsor di sejumlah titik akibat getaran gempa. Terletak di wilayah dataran tinggi membuat kondisi jalan menuju lokasi cukup berbahaya, jurang di satu sisi dan tebing yang rawan longsor di sisi yang lain. Untuk itu, supir kendaraan tim MER-C harus ekstra hati-hati.
Lokasi gempa yang pertama dilalui adalah Bener Meriah. Tim MER-C Medan langsung menyusuri dan memberikan pelayanan medis kepada para korban gempa yang ditemui di wilayah ini. Pada hari Minggu siang (7/7), Tim MER-C Medan dan Jakarta telah bertemu dan berkumpul di lokasi gempa dan berkoordinasi dengan pihak terkait.

Berdasarkan hasil koordinasi tersebut, Tim MER-C dari Medan dan Jakarta sepakat untuk berfokus memberikan bantuan medis bagi korban gempa di Kabupaten Aceh Tengah. Hal ini dikarenakan Kabupaten ini mengalami dampak yang luas akibat gempa.
Dari informasi resmi yang dikeluarkan oleh Bupati Aceh Tengah, gempa melanda 12 kecamatan dari 14 kecamatan di wilayah ini atau sekitar 85,71%. Jumlah kampung yang mengalami dampak kerusakan akibat gempa mencapai 232 kampung dari 352 kampung yang ada atau sekitar 65,50%. Jumlah warga yang mengungsi diperkirakan 5.000 jiwa, belum termasuk warga yang mengungsi di depan atau halaman rumah mereka dengan membuat tenda sederhana.

Tim MER-C diberi kewenangan dan tanggung jawab oleh Pemda dan IDI (Ikatan Dokter Indonesia) wilayah Aceh Tengah untuk memberikan bantuan medis bagi korban gempa di wilayah kecamatan Kute Panang. Di kecamatan ini, sebanyak 25 desa terkena dampak gempa. Dengan kekuatan 11 personil, MER-C menyanggupi tanggung jawab ini dan segera membuka posko utama tepatnya di Desa Ratawali, Kecamatan Kute Panang, Kabupaten Aceh Tengah.

Ketua tim langsung dibagi menjadi dua. Tim Pertama memberikan bantuan pengobatan di posko, sementara Tim kedua melakukan mobile clinic dengan menggunakan kendaraan operasional untuk mencari wilayah yang belum terjangkau bantuan. Luasnya wilayah cakupan membuat Ketua Tim Misi Gempa Aceh pada keesokan harinya memutuskan agar pada siang seluruh tim difokuskan pada kegiatan mobile clinic. Sedangkan untuk pengobatan di posko jadwalnya diubah menjadi pagi hari sebelum tim melakukan mobile dan malam hari sepulang Tim dari kegiatan mobile. Dengan sistem ini, diharapkan lebih banyak desa-desa yang terkena dampak gempa bisa terjangkau bantuan medis dengan lebih cepat.

Bagi relawan MER-C yang sudah beberapa kali mengikuti misi kemanusiaan ke wilayah bencana lain baik di dalam maupun di luar negeri, misi kali ini termasuk cukup berat. Hal ini dikarenakan cuaca yang dingin dan lokasi gempa yang merupakan dataran tinggi. Gempa membuat jalan banyak yang rusak dan terbelah, sehingga para relawan harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki meskipun tengah berpuasa agar dapat mencapai korban gempa yang berada di desa-desa.

Alhamdulillah, pada hari ke-5 Tim berada di lokasi gempa Aceh Tengah, sebanyak 25 desa wilayah cakupan Tim MER-C yang diamanahkan oleh Pemda dan IDI setempat sudah berhasil dikunjungi oleh Tim. Selain memberikan pengobatan, Tim Medis MER-C juga memberikan edukasi kepada para korban untuk merawat dan membersihkan luka. Dari hasil assessment dan pelayanan kesehatan di kedua puluh lima desa tersebut, Tim MER-C memutuskan tidak diperlukan Tim lanjutan berupa Tim Bedah karena pasien korban gempa yang memerlukan operasi lebih lanjut sudah dapat ditangani oleh Pemda setempat.











