MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Sumbangan untuk RS Indonesia Masih Terus Mengalir

Jakarta – Kamis (2/10), Ikatan Bujang Gadis Kampus Sumatera Selatan (IBG KSS) menyerahkan donasi untuk Gaza sebesar Rp 45.435.000,- di kantor pusat MER-C Jakarta. Sebelumnya, IBG KSS mengadakan acara konser amal untuk Gaza bertema “Youth Symphony For Humanity”, Minggu/3 Agustus 2014.   Pada saat acara tersebut, dilakukan juga video conference melalui skype antara Panitia di Palembang dengan Relawan MER-C di Gaza dan Presidium MER-C di Jakarta.     Di hari yang sama MER-C juga menerima donasi dari Pembaca Republika senilai Rp 400 juta. Sebelumnya Pembaca Republika juga sudah menyumbang untuk alat kesehatan ruangan  Poliklinik RS Indonesia senilai Rp 1 Milyar.        

MER-C Berangkatkan Tim ke Gaza untuk Mengawal Pengadaan Alkes RS Indonesia

Menyongsong awal bulan suci Ramadhan, sebanyak 15 orang relawan Indonesia tengah bersiap dan berpamitan dengan keluarga tercinta untuk melaksanakan jihad profesional menyelesaikan pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RS Indonesia) di Gaza, Palestina. Ramadhan tahun ini akan mereka lalui di Gaza dengan masa tugas direncanakan hingga Desember 2014. Pembangunan RS Indonesia memang sudah selesai. Bangunan segi 8 yang dilapisi marmer bernuansa merah putih tampak megah dan indah berdiri di atas bumi Gaza. Namun RS ini belum dapat berfungsi karena belum memiliki alat kesehatannya. Untuk pengadaan alkes ini, masih dibutuhkan dana sebesar Rp 65 Milyar.  Untuk itu, dalam rangka mengawal pengadaan alat kesehatan RS Indonesia, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) kembali mengirimkan Tim Relawannya ke Gaza. Tim yang dipimpin oleh Ir. Edy Wahyudi juga bertugas untuk menuntaskan pembangunan Wisma Rakyat Indonesia (Indonesia Guest House) dan renovasi masjid yang keduanya terletak di kawasan kompleks RS Indonesia.  Tim relawan yang berjumlah 15 orang dari Divisi Konstruksi MER-C ini berangkat hari Sabtu pagi (28/6) pukul 09.00 wib dengan menggunakan maskapai Malaysia Airlines. Tim dijadwalkan tiba di Kairo, Minggu (29/6) pukul 04.55 pagi waktu setempat. Setibanya di Kairo, tim rencananya akan langsung menuju perbatasan Rafah untuk masuk ke Gaza. Sementara itu dalam sebulan terakhir ini, telah terjadi beberapa kali serangan Israel ke wilayah Gaza. Serangan-serangan ini tidak hanya menimbulkan kerusakan bangunan tapi juga korban jiwa warga Gaza.  Donasi untuk Alat Kesehatan & Interior RS Indonesia dapat disalurkan melalui: •BNI SYARIAH, 08.111.929.73 •BCA, 686.0153678 •BSM, 700.1352.061 •BRI, 033.501.0007.60308 •BMI, 301.00521.15 •Mandiri, 124.0008111925  An. Medical Emergency Rescue Committee      Jakarta, 28 Juni 2014 Divisi Humas MER-C www.mer-c.org

Kampanye Pengadaan Alat Kesehatan Rumah Sakit Indonesia Digelar di Bandung

Bandung – Alhamdullilah, berkat rahmat Allah SWT dan atas dukungan dari rakyat Indonesia, pembangunan gedung Rumah Sakit Indonesia di Gaza – Palestina dinyatakan telah selesai. Rumah Sakit Indonesia memiliki sejarah yang cukup panjang dan berliku-liku sejak kemunculan gagasannya pada masa agresi militer Israel di Gaza di tahun 2008/2009 lalu. Rumah sakit ini juga tidak akan menjadi bangunan yang megah seperti sekarang ini tanpa dukungan dari begitu banyak pihak yang telah merapatkan barisan selama beberapa tahun lamanya baik lewat pemikiran, tetes keringat, dana, pemberitaan, doa, waktu, dan dukungan semangat, yang insya Allah itu semua akan menjadi bukti bagi rakyat Palestina dan dunia, bahwa uluran tangan tanda persaudaraan dari rakyat Indonesia telah sampai dan diterima oleh rakyat Palestina, dan semoga tali persaudaraan ini akan terjalin untuk selamanya. Kembali dukungan kita dinanti oleh rakyat Palestina. MER-C mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bahu-membahu melengkapi pengadaan alat kesehatan bagi Rumah Sakit Indonesia yang memerlukan dana sekitar 65 miliar rupiah. Alhamdullilah, Pembaca Republika telah mengawali donasi bagi alat kesehatan di Ruang Poliklinik sebesar satu milyar rupiah, serta Majelis Ta’lim Telkomsel (MTT) telah menyumbangkan dana sebesar 650 juta rupiah untuk melengkapi Ruang Farmasi.   Untuk memulai sosialisasi dan kampanye pengadaan Alat Kesehatan Rumah Sakit Indonesia, MER-C meluncurkan gerakan 50 ribu rupiah per orang dan gerakan wakaf ruangan bagi lembaga/perusahaan/instansi. Dukungan pun datang dari berbagai pihak yang kemudian sejumlah pernyataan dari para artis dan tokoh diabadikan dalam video campaign Rumah Sakit Indonesia.   Peluncuran video campaign pengadaan Alat Kesehatan Rumah Sakit Indonesia telah diadakan di Jakarta pada 30 April 2014 dan menyusul di Medan pada tanggal 25 Mei 2014. Kini MER-C kembali menggelar acara serupa di Bandung, Jawa Barat, Minggu, 8 Juni 2014. Di Kota Kembang ini, acara kampanye pengadaan alat kesehatan Rumah Sakit Indonesia diadakan atas dukungan dan kerjasama dengan Saung Angklung Udjo selaku penyedia tempat acara dan tuan rumah, Budayawan Bandung Aat Soeratin dan BNI Syariah yang kembali menjadi sponsor.   Acara dihadiri antara lain oleh Ibu Atalia Kamil mewakili Walikota Bandung Bapak Ridwan Kamil, dr. Ahyani Raksanagara (Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung), Prof. Dr. KH. Maman Abdurrahman, MA (Ketua Umum PERSIS), Ustadz muda Erick Yusuf, Andi Yudha Asfandiyar, serta berbagai elemen dan komunitas masyarakat Bandung.   Dipilihnya Kota Bandung, karena dari kota inilah salah satu Duta Kampanye Kemanusiaan Rumah Sakit Indonesia, seorang gadis kecil berpretasi bernama Salma Khairannisa berasal. Dengan kepeduliannya melihat penderitaan teman-teman seusianya di Gaza, tangan kecil Salma dengan cekatan membuat sketsa Rumah Sakit Indonesia yang tengah dibangun di Gaza. Sketsa tersebut kemudian diserahkan kepada MER-C dan menjadi gambar disain kaos kampanye Alat Kesehatan Rumah Sakit Indonesia yang dipakai para artis dan pendukung kampanye ini seperti Slank, Wali, Jihan Fahira, Naif, Vadi Akbar, Sore, White Shoes & the Couples Company, Wanadri, Farida Thalib, Indra Hidayat dan Hengky Saing.   Tidak hanya dari kalangan artis, dukungan untuk pengadaan alat kesehatan Rumah Sakit Indonesia juga berdatangan dari tokoh dan ulama seperti Prof. DR. M. Din Syamsuddin, MA (Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia), Bapak Adi Sasono (Mantan Menteri Koperasi dan Tokoh Nasional), Didi Petet (seorang aktor kawakan, dosen dan budayawan), Ustadz Yuke Sumeru (mantan personil grup band rock Gong 2000) dan Ustadz muda Erick Yusuf.   Rumah Sakit Indonesia ditargetkan untuk diserahkan kepada Pemerintah dan rakyat Palestina di Gaza pada akhir tahun ini. Meskipun dana yang dibutuhkan untuk pengadaan alat kesehatan Rumah Sakit Indonesia cukup besar, namun MER-C menutup bantuan asing untuk program ini agar Rumah Sakit Indonesia murni adalah hasil karya dan upaya bersama rakyat Indonesia. Kami yakin rakyat Indonesia mampu mewujudkan amanah ini.   Dukungan dan bantuan untuk pengadaan Alat Kesehatan Rumah Sakit Indonesia di Gaza Palestina dapat disalurkan melalui: BNI Syariah, No. rek. 08.111.929.73 Atas nama Medical Emergency Rescue Committee   Semoga usaha kita semua akan diterima sebagai amal baik, dan semoga rakyat Palestina dapat segera menikmati pelayanan kesehatan dari Rumah Sakit Indonesia.                  

Masyarakat Sumatera Utara Mulai Gerakan Wakaf untuk 1 Unit Ruang Operasi RS Indonesia

Medan – Alhamdulillah, acara seminar sosialisasi Rumah Sakit Indonesia Gaza Palestina yang diadakan pada hari Minggu (25/5) pagi kemarin di Aula Klinik Spesialis Gina Rasyida, Jl. DI Panjaitan Sumatera Utara, berjalan dengan lancar dan menghasilkan butir kesepakatan memulai Gerakan Waqaf 1 Unit Ruangan Operasi Rumah Sakit Indonesia senilai 3 milyar rupiah dari masyarakat Sumatera Utara. Penggagas : – Prof. Dr. Habibah Hanum Nst. SpPD-KPsi – Prof. Dr. Aslim Sihotang, SpM(K) – Prof. Dr. Hafas Hanafiah SpB, SpOT(K) – Prof. Dr. Sutomo Kasiman, SpPD, SpJP(K) – Prof. Dr. Guslihan Dasa Tjipta, SpA(K) – dr. Suhelmi, SpB – dr. Delyuzar, SpPA(K) – dr. Khairani Sukatendel, SpOG(K) – dr. M. Aron Pase, SpPD Pelaksana Teknis : Dr. Ahmad Handayani / dr. Rahmad Gunawan (ketum/sekum) MER-C Cabang Medan beserta seluruh pengurus Turut mendukung : – FUI Sumatera Utara – MUI Kota Medan – PDUI Cabang Sumatera Utara – PPNI wilayah Sumatera Utara – BSKI FK UISU – seluruh relawan MER-C Cabang Medan Disaksikan langsung oleh dr. Jose Rizal SpOT (Presidium MER-C Indonesia) dan dr. Henry Hidayatullah (Ketua Presidium MER-C Indonesia). Info lebih lanjut dapat menghubungi MER-C Cabang Medan: – dr. Ahmad Handayani (085275989147) – dr. Rahmad Gunawan (+6285275798444) – Arianta Sitepu (+6289669037283)

MER-C Adakan Pengobatan Masal Di Pondok Pesantren Al Fattah Cileungsi

Jakarta – Pada tanggal 18 Mei 2014 MER-C mengadakan pengobatan masal di pondok pesantren Al Fattah,  Cileungsi. Tim medis MER-C yang terdiri dari 7 dokter, 2 dokter gigi, 4 perawat dan 3 bidan ini melayani tidak kurang dari 200 pasien, dengan mayoritas keluhan berupa gangguan lambung, gangguan pencernaan, gangguan kulit, dan karang gigi. Menurut ketua divisi relawan Dr Tonggo Meaty Fransisca, follow-up inshallah akan dilakukan dalam kurun waktu dua bulan mendatang, dengan harapan pasien yang ditangani hari ini telah meningkat kesehatannya. Abah Tatang, pimpinan pondok pesantren AL Fattah Cileungsi menyambut baik acara ini, dan berharap bahwa acara ini dapat dilakukan secara rutin, dan mengundang warga lebih banyak lagi                

Penyuluhan Kesehatan Reproduksi dan Pergaulan Remaja SMA NEGERI 2 HALUT

Galela – Berawal dari keperihatinan melihat tingginya kasus kehamilan diluar pernikahan  akibat dari hubungan seks bebas diusia dini di wilayah Halmahera Utara, BNI dan MER-C berinisiatif untuk melakukan penyuluhan mengenai Kesehatan Reproduksi dan Pergaulan Remaja sebagai upaya promotif dan preventif kasus ini.  Kegiatan  yang dilakukan tanggal 16 Mei 2014 ini digelar di sekolah yang letaknya sangat dekat dari lingkungan klinik BNI MER-C yaitu SMA Negeri 2 Halmahera utara.   Dibantu para guru SMA NEGERI 2 HALUT, BNI MER-C mendapat kesempatan untuk dapat melakukan penyuluhan di SMA tersebut.  Kegiatan ini juga dilakukan dengan bekerja sama dengan Puskesmas Soasia.  Tim MER-C sendiri terdiri dari drg.Herlina (Dokter Gigi PTT Puskesmas Soasio dan dari BNI MER-C) dan dr. Siti Lirih Chumairoh. Peserta yang hadir merupakan siswa-siswi kelas X dan XI SMA Negeri 2 HALUT.  Presentasi yang diberikan berisi materi seputar pengetahuan yang dibutuhkan bagi remaja, seperti penjelasan mengenai pubertas dan reproduksi, serta dampak dari seks pra-nikah.         

Artis Pun Dukung Pengadaan Alkes RS Indonesia di Gaza

JAKARTA. Artis papan atas Indonesia ternyata tidak hanya menghabiskan waktunya di dapur rekaman dan panggung hiburan Indonesia. Tetapi mereka pun peduli dan mendukung kampanye pengadaan alat  kesehatan (alkes) Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza.    SLANK grup musik Indonesia bergenre ‘rock and blues’, salah satu kelompok artis pendukungan gerakan kampanye ’50 ribu rupiah’ untuk pengadaan alkes tersebut. “Kita yang memiliki kesempatan memberikan sumbangan donasi untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina sana, mari kita ikut berbagi,” ujar Kaka, vokalis Slank pada acara Konferensi Pers dan Peluncuran Video Campaign RS Indonesia di Gaza, Jakarta, Rabu (30/4/2014) beberapa waktu lalu. Grup musik yang dibentuk Bimbim akhir 1983, dengan lirik-lirik lagu anak muda dan beberapa di antaranya berupa kritik sosial, mengajak Slankers (sebutan untuk para penggemar Slank) dan generasi muda untuk ikut berpartisipasi menyumbangkan dana membantu pengadaan alkes RS Indonesia di Gaza. “Dengan membahagiakan orang lain, pasti kita akan berkah, ini keajaiban sedekah, ini gerakan kemanusiaan, walau dianggap sedikit tapi berarti” ujarnya.   Wali Menggugah Grup musik terkenal lainnya, Wali Band, yang memiliki jutaan penggemar di kalangan anak muda, turut mendukung pengadaan alkes guna mengisi RS Indonesia, yang sudah berdiri megah dan berwibawa di lahan wakaf seluas 16.261 m2 di daerah Bayt Lahiya, Gaza Utara. Apoy, salah satu personil Wali mengatakan, pengadaan alkes wajib didukung seluruh masyarakat, karena jelas-jelas untuk kepentingan warga yang sangat memerlukan di Palestina. Ia bersama personil Wali lainnya, Faank (vokal), Tomi (drum) dan Ovie (keyboard), juga mengajak Para Wali (sebutan untuk penggemarnya) ikut berbagi menggalang dana kemanusiaa tersebut. Selama ini lirik-lirik lagu pop Wali dikenal luas, dengan sentuhan sederhana, mengena, dan banyak mengandung nilai-nilai relegius. Maklum saja, personalnya adalah jebolan pondok pesantren dan perguruan tinggi Islam terkenal di Jakarta. Personal Wali, Faank (vokalis) dan Apoy (gitaris), jebolan Ponpes La Tansa, Pandegelang Banten, Tomi (drum), lulusan Ponpes Al Fatah Lampung dan Ovie (keybord) lulusan Ponpes Al-Hikmah Annajiyah Bogor. Seolah ingin menggugah masyarakat untuk membantu alat kesehatan RS Indonesia di Gaza, untuk mencari berkah, Wali menyentil pendengarnya untuk gemar bersedekah. Seperti dalam lirik lagu ‘Cari Berkah’ (biasa disingkat Cabe), Wali bersenandung pantun, “Bang, beli bawang, beli bawang gak pake kulit. Bang, jadi orang, jadi orang jangan pelit-pelit. Neng, beli batik, beli batik  warnanya terang. Neng, tambah cantik, kalo sering bantu orang”. Kepada masyarakat yang memiliki kelebihan harta, Wali pun meminta untuk jangan sungkan-sungkan menolong, sebab harta tidak akan dibawa mati. Tetapi yang diberikan itulah yang membawa berkah.  Lanjutan lagu ‘Cabe’ tadi, “Banyak harta ngapain (ngapain). Kalo gak berkah pikirin (pikirin).  Oh punya harta gak mungkin (gak mungkin), dibawa mati. Hidup indah bila mencari berkah. Punya rezeki bagiin (bagiin). Bantu yang susah tolongin (tolongin). Oh, jadi miskin gak mungkin (gak mungkin), Allah yang jamin. Hidup indah bila mencari berkah”. Selain Slank dan Wali, artis lain yang juga turut memberikan dukungan RS Indonesia di Gaza, Palestina, di antaranya Jihan Fahira, Naif, Sore, Vadi Akbar dan Ombat Tengkorak Band. Video lengkap kampanye penggalangan dana untuk Alat Kesehatan RS Indonesia dapat dilihat di http://www.youtube.com/watch?v=VOsH7xGf4IE .     Ikatan Indonesia-Palestina Sementara itu, Kepala Divisi Penggalangan Dana MER-C, Luly Larissa Agiel, mengatakan, pengadaan alkes memerlukan anggaran sekitar Rp 65 milyar. Menurutnya, Pembangunan RS Indonesia di Gaza, yang mulai dikerjakan sejak 14 Mei 2011, dibangun oleh MER-C dengan para relawan dari Indonesia, dan dukungan donatur rakyat Indonesia. Ia menambahkan, RS ini memiliki tipe Trauma Center & Rehabilitation, dengan kapasitas 100 tempat tidur, serta bangunan 2 lantai dan 1 lantai basement. Bangunan atap RS ini didesain berbentuk segi delapan, seperti kubah Masjid Al-Aqsha.  “Ini diharapkan menjadi karya anak bangsa dan menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina,” ujarnya.  Apalagi, katanya, seluruh donasi berasal dari masyarakat Indonesia. Bahkan, sebagian besar berasal dari kantong-kantong kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Untuk itu, bagi masyarakat yang berniat memberikan bantuan donasi untuk Alat Kesehatan RS INDONESIA di Gaza Palestina dapat disalurkan melalui: BNI Syariah, No. Rek. 08.111.929.73 BCA, No. Rek. 686.0153.678 BRI, No. Rek. 033.501.0007.60308 BSM, No. Rek. 700.1352.061 BMI, No. Rek. 301.00521.15 atas nama Medical Emergency Rescue Committee ————————————– (MINA/MER-C.Red:AFTA)                

Campaign Alat Kesehatan RS Indonesia Diresmikan

Jakarta – Pada tanggal 30 April 2014 telah diadakan peluncuran video Campaign Rumah Sakit Indonesia di cafe The Cone Indonesia, FX Lifestyle X’nter lantai 7. Acara dibuka oleh Hengky Saing yang membawakan lagu “Satu untuk Semua”. Lagu ini diciptakan Hengky dan dipersembahkan khusus untuk penggalangan dana bagi alat kesehatan Rumah Sakit Indonesia. Acara dilanjutkan dengan penayangan video Campaign penggalangan dana bagi pengadaan alat kesehatan Rumah Sakit Indonesia, yang menampilkan di antaranya Slank, Wali, Bapak Adi Sasono, Jihan Fahira, Naif, Vadi Akbar, Sore, White Shoes & the Couples Company, Wanadri, Farida Thalib, Indra Hidayat dan seniman cilik Salma. Ketua Presidium MER-C dr  Henry Hidayatullah mengatakan bahwa banyak peristiwa yang mengiringi proses pembangunan RSIndonesia dan RSIndonesia merupakan satu-satunya rumah sakit di Palestina yang dibangun atas nama rakyat. Acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan Presidium MER-C dr Joserizal Jurnalis SpOT, presidium MER-C Ir. Farid Thalib, penanggung jawab pengadaan alat kesehatan RSIndonesia Ahyaudin Sodri, site manager RSIndonesia Edy Abu Fikry dan mechanical electrical manager RSIndonesia Karidi. Slank, Salma, Vadi Akbar, dan Hengky Saing hadir untuk menyatakan dukungannya terhadap program pengadaan alat kesehatan RSIndonesia. Acara ditutup oleh penampilan oleh seluruh peserta press conference di bawah arahan Sanggar Saung Mang Udjo yang membawakan lagu “Tanah Air”.                

Bakti Sosial MER-C dan Labs School Kebayoran

Jakarta – pada tanggal 12 April 2014 tim medis MER-C mengadakan bakti sosial dengan mengadakan pengobatan masal di daerah Gandaria, Kebayoran. Acara yang berlangsung sejak pukul 9.30 pagi sampai 13.00 siang ini terlaksana  atas kerjasama dengan Lab School Kebayoran. Tim yang berjumlah 10 orang ini memberikan pengobatan kepada 250 pasien.                  

Mobile clinic di Jere – Klinik Galela

Galela – Bulan Maret ini kami merencanakan untuk Mobile Clinic MER-C ke ujung Halmahera Utara yaitu Desa Jere. Untuk mobile clinic kali ini ada dua dokter gigi yang suka rela untuk berpartisipasi, yaitu drg.Herlina (dokter gigi PTT di Puskesmas Soasio) dan drg.Besse (dokter gigi PTT dipuskesmas Kupa-Kupa). Wilayah Jere sendiri sebenarnya masuk ke wilayah puskesmas salimuli untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakatnya untuk dapat sampai ke puskesmas salimuli haru melewati jalan berbatu yang berbukit-bukit dengan jurang disisi sampingnya (ini menurut cerita orang Galela mengenai Jere). Pasien Gigi dan umum saat penobatan di Jere Baru. (ket. Foto)  Hari ini Sabtu, 9 Maret 2014, kami berangkat menuju Jere siang nanti. Persiapan untuk berangkat Kami berkumpul di Galela pukul 13.00 WIT dan berangkat pukul 13.55 WIT dari klinik MER-C Galela dengan menggunakan motor. Jalan menuju ke Jere medannya cukup berat sebelum sampai kesana kami harus melalui beberapa desa, dari mulai Limau hingga Jere. Sesampainya di kali Aru kami harus menyebrang kali karena jembatan yang baru dibangun sudah rusak kembali. Baru setelah melewati kali Aru kami sampai didesa Salimuli. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju Saluta. Kami sampai di Saluta pukul 16.15 WIT dan rencana awal kami akan ke Jere dari Saluta dengan ketingting menyebrang laut, setelah sampai di Saluta kami tidak mendapatkan ketingting karena ombak bulan ini masih sangat tinggi dan berbahaya sehingga tidak ada jasa penyewaan ketingting yang stand by dipelabuhan Saluta. Akhirnya kami memutuskan lanjutkan perjalanan lewat jalan darat, dimana medan yg harus dilalui sangat sulit. Bismilah… Insya Allah aman. Daerah ini disebut gunung es karena posisinya yg curam, ini dua teman saya drg.Besse dan drg.Herlina (ransel hitam) sedang mendaki jalan. (ket. Foto) Saluta ke Jere lewat jalan darat sama artinya perjalan kesana baru akan dimulai (heheee.. lebayatun ya teh), kenapa?? Karena jalan yang menanjak, menurun, berkelok dan sisi kanan adalah jurang yg tinggi dengan dasar laut lepas ditambah lagi permukaan jalan yg penuh bebatuan. Untuk lebih amannya ketika menanjak kami berjalan kaki dan motor dikendarain dengan pelan. Tapi kami tetap semangat ini pengalaman yang baru untuk kami. Setelah melewati sekian belas tanjakan dan turunan (ga ngitung tepatnya) kami sampai juga didesa Jere Baru pukul 18.45 WIT. Selamat datang di Jere Baru. Jalan menuju rumah Kepala Desa Jere Baru (ket. Foto) Pak Kades memberitahu wilayah Jere kalau sudah tiba malam mati lampu hingga pagi hari. Saya harap untuk saat ini jangan mati lampu dulu karena disini tidak ada Genset dan emergency lamp pun kami tak punya. Setelah istirahat sebentar dan sholat maghrib, pelayanan pengobatan dari MER-C BNI kami bukan pukul 19.30 WIT untuk Jere Baru lokasinya tepat disampin rumah kepala desa setempat.  Kedua teman saya pun ikut buka pengobatan gratis atas nama MER-C  BNI untuk pasien gigi. Partisipasi masyarakat setempat  sangat baik walaupun pengobatan dibuka malam hari, mereka antusias untuk dating ke lokasi. Tidak hanya pasien umum tapi pasien gigi juga lumayan terhitung ada 5 tindakan exo (cabut gigi) yang dilakukan di Jere Baru. Karena ketersedian alat, bahan serta obat yang terbatas untuk pasien-pasien gigi, hanya bias dilakukan 5 tindakan. Pengobatan malam itu kami tutup pukul 22.00 WIT. Alhamdulillah hari ini tidak mati lampu, suatu kebetulan. Mobile Clinic MER-C BNI di Jere Baru (ket. Foto) Dan pagi harinya kami lanjutkan ke desa tetangga yaitu Jere Tua. Jarak dari Jere Baru ke Jere Tua tidak terlalu jauh dengan menggunakan motor hanya sekitar 10 menit. Kami berangkat dari Jere Baru pukul 08.00 WIT kemudian singgah di rumah kepala desa Jere Tua dan membuka pengobatan tepat didepan halaman rumah pak kades ini. Disini kami mulai pengobatan pukul 08.30 dan tutup pengobatan setelah pasien habis semua sekitar pukul 11.30 dan pukul 13.00 kami berangkat pulang ke Galela. Dan tiba di Galela sekitar pukul 19.00. Alhamdulillah perjalanan kami selamat dari berangkat hingga tiba kembali di Galela. Selamat pagi Jere Tua. Dari Atas ke bawah searah jarum jam:  Istihad, bu Nur, Wandi, drg.Herlina, dr.Lirih, dan drg.Besse (ket. Foto) Don, bu Nur, Wandi, drg.Herlina dr.Lirih, dan drg.Besse (ket. Foto)  Mobile Clinic MER-C BNI Jere Tua (ket. Foto) Kesan kami untuk Jere adalah wilayah yang sangat amat terpencil bahkan untuk listrik saja hanya menyala sampai pukul 7-8 malam kemudian mati lampu hingga pagi hari. Keadaan geografisnya pun sangat sulit ditempuh jika menggunakan motor harus berhati-hati. Jarak puskesmas terdekat dengan Jere sangat jauh. Ini pengalaman yang menyenangkan semoga lain waktu kami bisa ke Jere lagi.              

Silahkan bertanya?