MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Abu Rizal Bakrie Apresiasi dan Sambut Gembira Rencana Grand Opening RS Indonesia

Jum’at (8/5), bertempat di kediamannya, Abu Rizal Bakrie menerima kunjungan Tim MER-C yang diwakili oleh Presidium MER-C, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT didampingi dua pengurus MER-C, Ir. Luly Larissa Agiel dan Rima Manzanaris.   Pada kunjungan ini, Presidium MER-C menyampaikan perkembangan program RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina, khususnya proses pengadaan alat kesehatan yang sudah mulai berdatangan dan memenuhi ruangan-ruangan di RS Indonesia.   Hal penting lainnya yang juga disampaikan pada pertemuan kali ini adalah rencana “Serah Terima serta Grand Opening RS Indonesia” yang diagendakan pada bulan Juni 2015 mendatang dimana MER-C mengundang sejumlah tokoh dan donatur untuk turut menghadiri dan menjadi saksi momentum bersejarah ini. Menanggapi hal ini, Abu Rizal Bakrie sebagai salah satu donatur alat kesehatan RS Indonesia menyambut baik perkembangan RS Indonesia dan menyatakan kegembiraannya bahwa RS Indonesia akan diresmikan dalam waktu dekat.   “Saya kira ini sesuatu amal ibadah yang mulia, mendirikan sebuah rumah sakit di tempat pertempuran,” tutur Abu Rizal. “Yang paling penting juga ini merupakan sumbangan daripada rakyat Indonesia untuk mendirikan RS Indonesia di sana (Gaza, Palestina), di tempat perang. Saya bergembira RS Indonesia dalam waktu dekat bisa segera diresmikan” tambahnya.   Abu Rizal Bakrie juga menyampaikan apresiasinya kepada MER-C yang telah mempelopori pembangunan RS Indonesia dan akan mencoba menyesuaikan jadwal untuk bisa memenuhi undangan Grand Opening RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina.        

MER-C Indonesia Mengikuti Focused Group Discussion of Maritim Security Issued

Jakarta – Pada tanggal 23-24 April 2015 Kementerian Kelautan Republik Indonesia dan International Organization for Migration (IOM) mengadakan Focuse Group Discussion (FGD) dengan tema sentral keamanan maritim. Kegiatan ini dilaksanakan di Hotel Mandarin, Jakarta dari jam 08.00 sampai jam 16.00, dihadiri oleh berbagai stakeholder yang terkait maritim seperti kementrian kelautan, perhubungan, kepolisian, kementrian kesehatan, angkatan laut, badan pengelola perbatasan, badan SAR nasional, kejaksaan agung, Badan Narkotika Nasional (BNN), Lemhanas,Universitas Pertahanan Indonesia, dan lain-lain.   Tujuan dari kegiatan ini adalah melakukan identifikasi masalah maritim Indonesia dari berbagai aspek dan memberikan rekomendasi strategis. Kegiatan hari pertama berupa pemaparan dari Badan Keamanan Laut (BAKAMLA) mengenai visi Indonesia untuk menjadi poros maritim, dan pembahasan isu-isu keamanan laut. Hari kedua diisi dengan studi kasus Benjina dan dilanjutkan dengan FGD. Medical emergency Rescue Committee (MER-C) memiliki pengalaman dalam bidang kemanusiaan berhubungan dengan kelautan dan perbatasan, antara lain kasus tenaga kerja Indonesia yang berada dalam penampungan di Nunukan, manusia perahu dari Rohingya, Myanmar di Aceh, dan yang terakhir bekerjasama dengan kementrian kelautan pengelolaan kesehatan Suku Bajau yang berada di penampungan  di Berau. Dalam focused group discussion yang dipimpin oleh Kompolnas Prof. Adrianus Meliala, PhD, MER-C yang diwakili oleh drg. Sari Elizabeth, dr. Dian Fridayani, dr. Hadiki Habib, SpPD, dan dr. Tubagus Aria mengangkat 2 aspek, pertama aspek kesehatan berupa risiko infeksi menular yang bisa masuk melalui jalur pelabuhan, sebab pemeriksaan di pelabuhan laut tidak seketat di pelabuhan udara. Selain itu maraknya prostitusi di daerah pelabuhan dan kebiasaan seks tidak aman anak buah kapal warga negara asing dan warga negara Indonesia meningkatkan risiko penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV). Salah satu contoh kasus terbaru adalah terungkapnya satu kasus HIV pada ABK asing, dan ditemukannya praktik prostitusi di sekitar pelabuhan. Atas dasar ini, MER-C memberikan buah pikiran agar ada kebijakan terhadap masalah tersebut. Aspek kedua adalah kemanusiaan, bagaimana negara mengelola anak buah kapal yang masuk secara illegal, para pencari suaka illegal, kelompok-kelompok masyarakat yang stateless dan masuk ke wilayah perairan Indonesia. Aspek kemanusiaan perlu dipertimbangkan seperti kesehatan, pangan dan tempat penampungan layak, sebab, apabila hal ini dilanggar, Indonesia akan berhadapan dengan hukum internasional. Kondisi ini pernah dihadapi ketika MER-C bekerjasama dengan Kementerian Kelautan mengelola suku Bajau yang ditampung di Berau, Kalimantan Timur. Karena belum ada Standard Operational Prosedur (SOP) dalam mengelola masyarakat yang stateless, proses pemulangan menjadi berlarut-larut. Kegiatan ini diikuti oleh MER-C karena kami menyadari, pengelolaan kesehatan dan kemanusiaan tidak hanya berkutat pada masalah praktis dan teknis, tapi harus ada advokasi sampai ditingkat kebijakan, yang oleh MER-C diistilahkan dengan ‘Politik Kemanusiaan’.        

Program Yankes dan Trauma Healing untuk Korban Longsor Banjarnegara

Yogyakarta – Sabtu, 17-18 Januari 2015, MER-C Cabang Yogyakarta kembali menurunkan Tim relawannya untuk memberikan bantuan medis kemanusiaan bagi korban bencana longsor di Banjarnegara. Relawan yang diturunkan berjumlah 10 orang yang terdiri dari 3 medis, 2 mahasiswa psikologi dan 5 relawan non medis dari berbagai disiplin ilmu lainnya. Ini adalah tim kedua untuk Banjarnegara, sebelumnya Tim pertama sebanyak 7 relawan yang merupakan gabungan dari MER-C Cabang Yogyakarta dan MER-C Cabang Semarang telah memberikan bantuan medis bagi korban longsor di wilayah ini pada tanggal 15 – 17 Desember 2014 lalu.     Pada misi kemanusiaan pertama, bantuan difokuskan kepada pelayanan medis. Wilayah yang didatangi Tim MER-C adalah desa Pandansari kecamatan Wanayasa dan Dusun Pencil Desa Karang Tengah. Hal ini dikarenakan wilayah bencana di Jemblung saat itu sudah banyak relawan dan bantuan yang datang, sehingga Tim MER-C mencari wilayah lain yang masih minim bantuan khususnya medis. Berdasarkan informasi, Desa Pandansari adalah daerah yang pertama kali terjadi longsor, seminggu sebelum bencana longsor di Jemblung. Namun karena tidak ada korban jiwa, para relawan kemudian berpindah ke Jemblung karena longsor di sana lebih dahsyat. Pelayanan di kedua wilayah ini dilakukan oleh Tim MER-C dengan sistem mobile dengan mengunjungi rumah-rumah warga yang menjadi posko-posko pengungsian serta kunjungan ke rumah pasien yang tidak dapat datang ke posko karena sakit.         Dengan berjalan kaki tim mencoba mencapai lokasi pengobatan, khususnya di Dusun Pencil Desa Karang Tengah yang terisolasi akibat dampak longsor bukit Bulu yang terjadi pada hari Jum’at/5 Desember 2014, tepatnya seminggu sebelum terjadinya longsor di Jemblung. Setelah terjadinya longsor bukit Bulu tersebut, akses jalan menuju dusun Pencil menjadi sangat sulit karena longsoran tanah membuat jalan menjadi licin dan susah untuk dilewati. Padahal jalan ini merupakan satu-satunya akses menuju dan keluar dari dusun. Aktivitas warga pun lebih sulit lagi, selain dikarenakan jalan yang tertutup, tiang listrik rubuh dan listrik pun mati total. Setelah berkoordinasi dengan Pihak Puskesmas setempat, program pengobatan dilakukan bertempat di rumah Kepala Dusun bersamaan dengan kegiatan posyandu. Jumlah pasien yang ditangani mencapai 71 orang dari anak-anak, ibu hamil hingga lansia. Adanya amanah bantuan dari donatur, maka MER-C kembali mengirimkan Tim relawannya ke Banjarnegara. Selain program pengobatan, Tim kedua ini juga merencanakan program trauma healing bagi anak-anak korban bencana. Wilayah sasaran Tim kali ini adalah Desa Pasuruan, Sukawera Kabarangkobar, Banjarnegara. Setelah berkoordinasi dengan Perangkat Desa setempat, Tim mendapat informasi bahwa Desa Pasuruan termasuk Desa yang dikelilingi oleh area longsor dan tanah bergerak. Di Desa ini terdapat 2 Dusun yaitu Dusun 1 dan Dusun 2. Kegiatan pengobatan dilaksanakan pada pagi hari di dusun 1 dengan jumlah pasien mencapai 107 orang. Kemudian siang harinya, pengobatan dilanjutkan didusun 2 dengan jumlah pasien sebanyak 55 orang.   Bersamaan dengan pengobatan, Tim relawan dari mahasiswa psikologi dan tim relawan non medis lainnya mengadakan Trauma Healing bagi anak-anak setempat mulai dari balita sampai dengan SMP. Trauma healing diberikan dalam dua sesi, yaitu permainan indoor dan outdoor. Jumlah peserta trauma healing menjadi bertambah banyak saat mulai permainan outdoor. Kegiatan ditutup dengan pembagian hadiah kepada anak-anak berupa tempat makan, tempat pensil, tempat minum, buku bergambar dan pensil warna.                  

Misi Kemanusiaan MER-C untuk Suku ‘Gipsi Laut’

Suku Bajau Palau atau ‘gipsi laut’, begitu mereka disebut oleh masyarakat internasional, adalah masyarakat yang hidup secara nomaden di laut. Cakupan daerah pengembaraan mereka cukup luas, mulai dari perairan Malaysia, Indonesia, Filipina, sampai kepulauan di Samudera Pasifik. Budaya mengembara mereka sudah berlangsung lama jauh sebelum ada negara dan batas-batas wilayah. Dan seperti nasib suku-suku pengembara lain yang hidup menghindari peradaban, masyarakat suku Bajau Palau masih sangat sederhana sistim hidupnya, dan kepercayaan terhadap nenek moyang adalah religi mereka.  Melalui surat bertanggal 12 Desember 2014, Kementerian Kelautan dan Perikanan RI menyampaikan permohonan dukungan bantuan untuk nelayan suku Bajau di Tanjung Batu, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur kepada MER-C.   Masalah berawal dari ditangkapnya sekelompok perahu yang berisi suku ‘gipsi laut’, mereka yang selama ini banyak tinggal di Malaysia dan Filipina ternyata sudah memasuki perairan Indonesia tanpa izin, mengambil ikan secara ilegal, merusak terumbu karang dengan metode mencari ikan yang tidak memahami konsep konservasi. Sebanyak 676 masyarakat Bajau Palau di’amankan’ pemerintah Indonesia dan di tempatkan di darat, lalu dilakukan pendataan dan penyelidikan. Proses ini memakan waktu 30 hari lebih karena ternyata banyak masalah administrasi terkait kewarganegaraan. Atas dasar kemanusiaan dan menjawab surat permohonan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, maka MER-C mengirimkan Tim Relawannya untuk memberikan bantuan medis kepada warga Bajau Palau yang sudah mulai terserang penyakit. Tim berjumlah 8 orang yang terdiri dari 1 orang Dokter Spesialis Penyakit Dalam, 6 orang Dokter Umum dan 1 orang Koordinator Logistik. Tim melakukan kegiatan kemanusiaan selama satu minggu, mulai tanggal 30 Desember 2014 sampai tanggal 3 Januari 2015. Kegiatan yang dilakukan terutama adalah Rapid Health Assesment, pemeriksaan antropometri, pengobatan kesehatan, promosi kesehatan, dan Blanket Treatment Ascariasis. Kendala bahasa adalah tantangan terbesar yang dihadapi Tim MER-C karena suku Bajau Palau ini banyak yang tidak paham bahasa Indonesia, sehingga pemerintahan setempat seperti Puskesmas dan lembaga seperti PMI turut membantu dan mendampingi tim MER-C dengan seorang penterjemah. Penyakit yang banyak diderita adalah ISPA, dyspepsia, diare, infeksi kulit bakteri, infeksi kulit jamur, iritasi kulit. Kasus diare mengalami peningkatan signifikan selama berada di penampungan karena masyarakat Bajau Palau yang tidak terbiasa hidup di darat. Tidak hanya memberikan tindakan pengobatan, Tim MER-C juga mengajarkan kepada anak-anak cara mandi yang baik untuk menjaga kebersihan dan kesehatan diri. Karena kendala bahasa dan warga Bajau Palau yang tidak bisa baca tulis, maka penyuluhan tata cara mandi pun langsung dicontohkan oleh para relawan dengan memandikan beberapa anak dihadapan warga. Esok harinya, beberapa anak-anak terlihat sudah mempraktekkan cara mandi karena terlihat lebih bersih. Di Akhir kegiatan, Tim MER-C memberikan presentasi mengenai hasil Rapid Health Assesment Tim yang diselenggarakan oleh Departemen Kelautan dan Perikanan RI dan di hadiri pihak-pihak terkait seperti Departemen Kelautan, Dinas Kelautan, Kapolres, dan pimpinan daerah setempat.                  

Tim MER-C Susuri Wilayah Terpencil di Aceh Bantu Korban Banjir

Aceh – Banjir dan longsor kembali melanda sejumlah wilayah di Aceh. Pemerintah Daerah setempat menetapkan bencana banjir dan longsor kali ini sebagai bencana provinsi. Selasa (11/11), MER-C sebagai sebuah lembaga kegawatdaruratan medis mengirimkan Tim Relawannya yang terdiri dari 2 dokter dan 1 logistik, yaitu dr. Prabowo Himawan, dr. Tri Rahma Janumantika dan Islamiyah Samaun untuk memberikan bantuan medis kepadapara korban. Sementara untuk tenaga perawat dan relawan non medis lainnya dibantu oleh relawan lokal MER-C yang berada di Aceh. Lama misi awal ini direncanakan 1 minggu atau lebih sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Setibanya di Banda Aceh, Tim MER-C mendatangi BPBD setempat didampingi relawan lokal untuk berkoordinasi dan mencari informasi terkini mengenai wilayah bencana yang benar-benar masih membutuhkan dan minim bantuan medis. Wilayah seperti inilah yang menjadi fokus tujuan Tim MER-C. Rabu (12/11), wilayah pertama yang dikunjungi Tim MER-C adalah desa Lamsujen Kecamatan Lhoong. Masih ada beberapa warga yang mengungsi akibat longsor, walaupun sebagian besar memilih pulang ke rumah. Di daerah ini, Tim MER-C melayani pengobatan 15 warga dan 2 tindakan medis, salah satunya kepada seorang kakek yang kakinya terkena balok kayu rumahnya yang hancur akibat longsor. Kemudian diantar staf BPBD, Tim MER-C bergerak ke lokasi bencana lainnya yang direkomendasikan yaitu Kecamatan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya. Ada sekitar 12 desa di kecamatan ini yang dilanda banjir dan longsor. Jalan menuju daerah ini cukup jauh membutuhkan waktu sekitar 3 jam dari Banda Aceh apabila lancar. Di beberapa bagian jalan terlihat masih ada longsor dan jalan dibuka tutup. Tampak juga ada jalan-jalan longsor yang sedang diperbaiki. Sesampainya di Puskesmas Sampoiniet, Tim bertemu dengan Sekretaris Camat (Sekcam) setempat. Dari Informasi Sekcam, di wilayah ini banjir mencapai 1-2 m. Dari 12 desa, sebanyak 6 desa sudah dapat dijangkau oleh Pelayanan Puskesmas, sementara 6 desa lagi belum. Tim MER-C yang diketuai oleh dr. Prabowo Himawan memutuskan untuk menetap sementara di wilayah ini untuk memberikan bantuan medis bagi para korban banjir yang belum terjangkau bantuan medis. Walaupun banjir dan longsor sudah mulai surut, namun hujan masih kerap turun. Bekas-bekas bencana banjir juga masih terlihat di desa ini. Desa-desa yang belum terjangkau bantuan medis letaknya cukup jauh dan berada di pegunungan.  Kamis (13/11), dua dokter, 1 relawan logistik dibantu relawan lokal berprofesi perawat memulai pengobatan di kecamatan Sampoinet, tepatnya di Meunasah desa Ligan. Mengetahui ada bantuan pengobatan, masyarakat setempat sangat antusias. Tercatat sebanyak 160 warga korban banjir dari beberapa desa yang datang berobat dengan berbagai keluhan penyakit khas pasca banjir.   Keesokan harinya, Jum’at (14/11) pengobatan masih dilakukan di Kecamatan Sampoiniet tepatnya di Meunasah Desa Cot Punti dengan jumlah pasien yang masih cukup banyak, mencapai lebih 100 orang. Pasien yang berobat juga datang dari beberapa desa sekitar. Tim bahkan sempat mendatangi rumah pasien yang lumpuh yang tidak dapat datang berobat. Berdasarkan rekomendasi dari Dinas Kesehatan Aceh Jaya, ada wilayah bencana di Kabupaten Aceh Jaya yang masih belum terjangkau bantuan medis. Untuk itu, hari Sabtu (15/11), Tim MER-C mencoba untuk mencapai daerah ini, yaitu Teupin Asan, Kecamatan Darul Hikmah, Kabupaten Aceh Jaya. Wilayah Teupin Asan memang terpencil diunjung kampong dan berada di pegunungan namun saat banjir kemarin sempat terendam setinggi 1 meter. Jumlah pasien di desa ini juga mencapai lebih dari 150 orang. Beruntung Tim MER-C bisa sampai ke daerah ini dan memberikan bantuan pengobatan bagi masyarakat korban banjir yang membutuhkan.   Aceh dan MER-C Sepanjang jalan yang dilalui Tim MER-C dari Banda Aceh hingga ke Kabupaten Aceh Jaya, masih banyak masyarakat yang mengenali MER-C. Memang jalur ini adalah jalur Posko dan wilayah cakupan klinik keliling MER-C pada misi kemanusiaan pasca bencana tsunami dahsyat beberapa tahun lalu. Banyak masyarakat yang menanyakan kabar relawan dokter yang dulu pernah mereka kenal karena bertugas memberikan bantuan pengobatan di wilayah mereka. Bahkan sejumlah relawan perawat dan non medis MER-C ada yang menikah dengan gadis setempat dan memilih menetap di Aceh. Di Aceh Jaya, tepatnya di Desa Keude Panga salah satu wilayah terparah akibat terjangan tsunami, MER-C bahkan membangun sebuah Klinik Rawat Inap yang kini sudah diserahkan kepada Pemerintah Daerah untuk dikelola dan dikembangkan lebih lanjut bagi kemaslahatan warga setempat. Meskipun kerap diuji dengan berbagai bencana namun warga Aceh adalah warga yang peduli terhadap sesama. Ketika agresi Israel beberapa bulan lalu, segenap masyarakat dan Pemerintah Daerah Aceh mengumpulkan bantuan  untuk membantu saudara mereka di Gaza. Bantuan yang terkumpul mencapai lebih dari 6 Milyar rupiah hanya dalam jangka waktu kurang dari 1 bulan. Seluruh bantuan diserahkan kepada MER-C untuk membantu pengadaan Alat Kesehatan Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Sebagai ucapan terima kasih dan apresiasi MER-C kepada masyarakat Aceh, dua ruangan di Rumah Sakit Indonesia akan diberi nama dengan nama dua pahlawan terkenal asal Aceh, yaitu Cut Nyak Dien atau Teungku Cik Di Tiro.

Perjalanan Mobile Clinic Tim MER-C ke Desa Lalonga

Galela – Kembali kegiatan mobile clinic sebagai agenda rutin bulanan klinik sosial BNI Berbagi dan MER- C di Galela, kabupaten Halmahera Utara, provinsi Maluku Utara dilakukan. Bulan Oktober ini tujuan mobile clinic adalah desa Lalonga yang berada di Galela Utara. Wilayah Lalonga sebenarnya masuk ke wilayah binaan Puskesmas Salimuli. Namun untuk dapat sampai ke puskesmas Salimuli, masyarakat yang ingin berobat harus melewati jalan berbukit dengan jurang dan tebing tanah dipinggirnya. Karena kondisi inilah, desa Lalonga dipilih menjadi salah satu desa binaan Klinik Sosial MER-C Galela.   Kamis (16/10), Tim klinik yang dipimpin oleh dr. Siti Lirih Chumairah mulai menyiapkan keperluan untuk mobile clinic besok seperti obat-obatan. Jumat (17/11) sekitar jam 6 pagi, Tim mulai berangkat dari klinik dengan menggunakan motor. Kurang lebih sekitar 1 jam perjalanan Tim tiba di desa Limau. Desa ini merupakan wilayah binaan klinik juga, sehingga tim sempat singgah sebentar di rumah Kepala Desa Limau, tempat tim biasanya menggelar pengobatan untuk mengecek apakah ada warga yang sakit dan memerlukan pemeriksaan. Karena tidak ada warga yang berobat, Tim pun langsung melanjutkan perjalanan ke desa Lalonga. Jarak dari Limau ke Lalonga sebenarnya cukup dekat hanya saja jalannya terjal. Sampai di Lalonga Tim menuju rumah Kepala Desa dan di sana Tim membuka pelayanan kesehatan. Warga desa Lalonga sangat antusias datang berobat baik tua, muda maupun anak-anak. Mereka semua antri bergiliran untuk diperiksa kesehatannya oleh Tim Klinik. Penyakit yang dikeluhkan juga beragam. Penyakit batuk pilek banyak diderita anak-anak. Sedangkan orang yang usianya sudah lanjut banyak yang mengeluh pusing dan badan pegal-pegal. Dari 43 pasien di Lalonga terdapat 5 penyakit tertinggi, yaitu: ISPA, Hipertensi, Mialgia, Abses, dan Dispepsia. ISPA banyak dijumpai di sini mungkin salah satu penyebabnya adalah letak geografis desa Lalonga dimana jalan menuju desa belum beraspal sehingga banyak debu. Pengobatan akhirnya selesai dalam jangka waktu 3 jam. Sekitar jam 11 tim pun pamit untuk kembali ke Galela. Jam 12 an tim sudah tiba di klinik, istirahat sebentar dan tim pun harus segera bersiap untuk melayani pasien yang datang berobat ke klinik.                  

Laporan Sinabung dari MER-C Cabang Medan

Medan – Info dari Wirsal, relawan MER-C Medan yang berprofesi sebagai perawat, Senin (13/10), MER-C Medan melakukan pengobatan untuk warga di desa Simpang Guru Kinaya, Sinabung, Sumatra Utara. Adapun tim yang berada di lokasi terdiri dari 2 tenaga dokter, 1 tenaga perawat dan 5 relawan dari Fakultas Kedokteran. Saat ini kondisi Sinabung masih mengeluarkan hujan debu yang menyebabkan gangguan ISPA dan juga penglihatan bagi warga sekitar.  Berdasarkan laporan akhir Tim Assessment MER-C Medan, Kamis (9/10) untuk bencana alam Gunung Sinabung, terdapat 16 posko pengungsi dengan kebutuhan di antaranya masker, susu untuk balita, popok balita, serta pemeriksaan kesehatan dan pengobatan untuk pengungsi dan masyarakat sekitar. Donasi kemanusiaan untuk bencana Sinabung dapat disalurkan melalui MER-C Cabang Medan, Bank Syariah Mandiri No.Rek 7074585099 a.n Medical Emergency Rescue Committe Cabang Medan atau secara langsung ke Kantor MER-C Cabang Medan di Jl. Setiabudi, Komplek Ruko Milala Mas Blok C No. 6 Kec. Tanjung Rejo Medan.                

Laporan Sinabung Dari MER-C Medan

Berdasarkan Laporan akhir Tim Assessment MER-C Cabang Medan (Kamis,09-10-14) untuk bencana alam Gn.Sinabung, terdapat 16 posko pengungsi dengan: 1. Kebutuhan saat ini adalah masker, susu untuk balita, popok balita. 2. Dibutuhkan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan untuk pengungsi dan masyarakat sekitar yang membutuhkan, khususnya pengobatan untuk saluran pernapasan.    Berdasarkan kondisi diatas, MER-C Cabang Medan akan mengirimkan tim kesehatan pada Senin,13 Oktober 2014.   Bagi Bapak/Ibu/Saudara/i yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan tersebut silahkan menghubungi Wirsal (081268864753)   Donasi kemanusiaan sinabung dapat disalurkan melalui MER-C Cabang Medan, Bank Syariah Mandiri No.Rek 7074585099 a.n Medical Emergency Rescue Committe Cabang Medan atau secara langsung di kantor MER-C Cabang Medan, jl.Setiabudi, Komplek Ruko Milala Mas blok C No 6 Kec.Tanjung Rejo Medan.   MERC CAB MEDAN      

Relawan MER-C Sorong Salurkan Qurban ke Desa Binaan Klinik

Sorong, Papua Barat  –  Momen Idul Adha kali ini di Klinik MER-C Sorong berlangsung dengan suasana berbeda. Alhamdulillah tahun ini Tim Klinik MER-C Sorong bertindak sebagai penyelenggara pembagian daging kurban.  Donatur dari pembagian daging kurban ini adalah beberapa orang rekan yang berdomisili di luar Sorong, berjumlah 14 orang dengan donasi yang terkumpul berjumlah 22 Juta Rupiah. Dibantu oleh beberapa pihak diantaranya Pesantren Darul Istiqamah yang berperan dalam pemotongan hewan kurban serta sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam PC IPNU-IPPNU Kabupaten Sorong yang membantu dalam pembagian daging kurban, Tim Klinik MERC berhasil mendistribusikan daging kurban dari 2 ekor sapi yang kemudian terbagi menjadi 150 kantong.     /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Tiap kantongnya berisi 1 kg daging siap bagi.  Sebanyak 100 kantong dibagikan  kepada Warga Binaan di Desa Klalin 4, 20 kantong dibagikan kepada warga di sekitar Klinik MER-C Sorong , dan sisanya diberikan kepada Pondok Pesantren Darul Istiqamah Sorong.    Raut bahagia terpancar dari wajah Warga Binaan saat Tim MER-C membagikan daging kurban ini. Semoga ke depannya kegiatan ini dapat dilaksanakan kembali dan menjangkau wilayah lain di Papua. Secara  khusus Klinik MER-C mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan yang telah memberikan donasinya, juga kepada berbagai pihak yang telah membantu hingga penyelenggaraan pembagian daging kurban ini bias berjalan dengan lancar.   Sebelumnya, Klinik MER-C sudah beberapa kali mengadakan kegiatan serupa di Desa Binaan Klalin 4 ini. Di antaranya Baksos Pembagian Sembako, Perlengkapan MCK, Peralatan Sekolah dan Makanan Sehat kepada anak-anak Warga Desa Binaan. Juga pengobatan gratis yang rutin diadakan setiap satu bulan sekali.          

Masyarakat Aceh Serahkan Lagi Sumbangan untuk Gaza

Jakarta – Kamis (9/10), Kabag Pengelolaan Informasi dan Dokumentasi  Biro Humas Setda Aceh, dr. Mahyuzar, MSi kembali menyerahkan sumbangan dari masyarakat Aceh untuk Gaza Palestina melalui MER-C. Sumbangan sebesar Rp 208.654.163,- diserahkan di Kantor Pusat MER-C Jakarta dan diterima langsung oleh Presidium MER-C, dr. Arief Rachman.  Mahyuzar menjelaskan bahwa sumbangan kali ini berasal dari Pemerintah dan Masyarakat Kabupaten Aceh Selatan serta dari karyawan dan keluarga besar Bank Aceh. “Dana Rp 160 juta adalah bantuan untuk Gaza dari Pemerintah dan Masyarakat Kabupaten Aceh Selatan. Lalu Rp 43 juta sekian merupakan sumbangan dari karyawan dan keluarga besar Bank Aceh. Sisanya sebanyak Rp 5 juta adalah bunga di Bank Mandiri tempat kami membuka rekening ini. Semuanya menjadi total  sebesar Rp 208.654.163,-,” ujar Mahyuzar yang juga merupakan Ketua Posko Aceh untuk Gaza. Lebih lanjut Mahyuzar menyatakan bahwa dengan diserahterimakannya sumbangan ini, maka Pemerintah Aceh telah menutup sumbangan melalui Posko Aceh untuk Gaza. Namun, menurutnya, apabila ada masyarakat Aceh yang masih ingin menyumbang untuk Gaza, maka Pemerintah Daerah Aceh mempersilahkan untuk mengirimkannya langsung ke lembaga MER-C. Sebelumnya masyarakat Aceh pada 27 Agustus 2014 Gubernur Aceh, dr. H. Zaini Abdullah, mewakili pemerintah dan masyarakat Aceh telah menyerahkan sumbangan dana Rp 6.379.606.470 dan 12 gram emas untuk membantu warga Palestina di Gaza melalui MER-C. Sehingga total donasi dari masyarakat Aceh untuk Gaza Palestina berjumlah Rp 6.588.260.633,- Sumbangan ini akan digunakan untuk membeli alat kesehatan bagi dua ruangan di Rumah Sakit Indonesia yang akan diberi nama dua pahlawan Aceh, yaitu Cut Nyak Dien atau Teungku Chik Di Tiro. Saat ini, sebanyak 19 orang relawan MER-C masih bertugas di Gaza. Proses pengadaan alat kesehatan (alkes) pun sudah dimulai dengan masuknya dokumen penawaran dari 12 pemasok alkes di Gaza. Seluruh dokumen penawaran sedang dalam tahap evaluasi oleh Tim alkes RS Indonesia di Jakarta. Diharapkan pengadaan alkes akan selesai pada akhir tahun ini dan RS Indonesia bisa segera diserahkan kepada rakyat Gaza sebagai hadiah dari rakyat Indonesia.            

Silahkan bertanya?