Exit Way Pandemi Covid-19 Bidang Kesehatan

Dua bulan lebih Indonesia dilanda Covid-19 dan hampir sebulan PSBB diberlakukan. Pemda DKI juga memberikan sinyal PSBB akan dikendurkan, ditambah dengan kalimat kontroversi pak Presiden akan “berdamai” dengan Covid-19 atau hidup berdampingan. Pro dan kontra timbul di masyarakat. Ada kelompok masyarakat yang sudah tidak tahan berdiam diri di dalam rumah, lapar, tidak ada penghasilan, bosan dan lain-lain, atau bahkan karena sakit , mulai mengalahkan “fearness” terhadap Covid-19. Namun ada juga kelompok masyarakat yang menyayangkan masyarakat yang sudah keluar rumah. Apalagi melihat angka-angka kurva pertambahan jumlah positif Covid-19 yang disajikan media. Kelompok ini misalnya kelompok tenaga kesehatan yang memang garda terdepan dalam menghadapi Covid-19 dan banyak menjadi korban. Situasi mengkhawatirkan dilihat dari keberhasilan lockdown yang bervariasi di negara-negara di dunia, ditambah dengan adanya issue “second hit”. Ketidakjelasan kapan bebas dari Covid-19 ini membuat lockdown harus diperpanjang hingga waktu yang tidak jelas dan semakin mustahil. Lalu apa solusi jalan keluarnya atau EXIT WAY? Terutama dibidang kesehatan yang merupakan MASALAH HULU dari Pandemi Covid-19 ini. Artinya masalah kesehatan ini dapat menyebabkan timbulnya masalah-masalah di bidang lain seperti pendidikan, ekonomi, sosial dsb. Mencoba berpikir jalan tengah, mengaspirasi kedua kelompok dan menganalisa situasi. Untuk kondisi indonesia, khususnya DKI Jakarta. Data objektifnya adalah : 1. Kurva pertambahan kasus positif “cenderung landai” di DKI namun masih “cenderung memuncak” di Indonesia karena kasus-kasus di daerah baru mulai bermunculan. 2. Angka kematian pasien terduga Covid-19 atau PDP “cenderung menurun” baik di DKI ataupun di Indonesia. 3. Kesadaran masyarakat untuk menggunakan masker dan “physical distancing” cenderung meningkat di DKI dan beberapa daerah namun masih juga ada yang minim. 4. Meningkatnya “virtualisasi” berbagai bidang, sehingga masyarakat mulai terbiasa. 5. Tingkat stress masyarakat meningkat akibat kekurangan bahan makanan, keuangan, dan sakit. Sementara ada data-data lain yang belum atau tidak terungkap seperti data kasus yang belum diperiksa swab akibat keterbatasan alat, data angka kesakitan atau kematian penduduk di rumah akibat penyakit yang bukan Covid-19 akibat PSBB. Perkembangan dunia dalam mencari pengobatan Covid-19 ini mulai ada pencerahan, dengan diujikan dan direkomendasikan beberapa metode pengobatan seperti Resemdivir, Plasma Convalesence, dan Vaksin. Melihat hal tersebut di atas penulis mencoba membuat SKENARIO EXIT WAY di bidang kesehatan. UNTUK RUMAH SAKIT/FASKES Untuk mengembalikan percaya diri para Nakes dan meningkatkan safety dalam pelayanan : 1. Tetap menggunakan masker N95 dan face shield, sarung tangan dalam praktek sehari-hari , mengingat sangat tidak nyamannya baju hazmat, maka dapat digantikan baju dinas atau baju jaga yg lebih nyaman yang dicuci di rumah sakit; 2. Tetap membuka ruang rawat infeksi dengan tekanan negatif untuk RS yang mampu, atau bangsal perawatan khusus infeksi saja. Begitu juga untuk IGD dipisahkan perawatan infeksi dengan non infeksi; 3. RS lebih rutin melakukan tindakan dekontaminasi ruang pelayanan; 4. Wajibkan pasien-pasien dan pengantarnya menggunakan masker yang reuseable seperti masker kain yang bisa dicuci; 5. Tingkatkan budaya “Hand Hygiene” baik tenaga RS atau pengunjung; 6. Pastikan tata udara RS memadai. Untuk menekan angka mortalitas pasien : 1. Perbanyak ICU dan peralatan penunjangnya; 2. Buat tim penanganan multidisiplin ilmu untuk Covid-19 (Covid Board); 3. Pastikan ketersediaan obat-obat Covid-19 seperti remdesivir, chloroquin, dll; 4. Perkuat pelayanan IGD dengan tim multidisiplin; 5. Perkuat layanan ambulance dan pra hospital; 6. Pastikan alur diagnostik yang cepat, sehingga bisa cepat terdiagnosis; 7. Kelola faktor psikologis pasien dan keluarga yang terisolasi. Untuk mengurangi stress yang bisa berdampak pada kondisi kesehatan. Misalnya dengan membesuk secara virtual dan adanya pusat informasi layanan Covid-19 di rumah sakit, melengkapi fasilitas RS dengan radio atau televisi bagi pasien-pasien yang tidak pakai ventilator; 8. Untuk pasien Non Covid-19, bisa mulai dibuka pelayanan baik poliklinik, IGD, ataupun kamar operasi. UNTUK PENELITIAN : 1. Teliti strain virus dan upaya memproduksi vaksin; 2. Penelitian obat seperti plasma convalescent; 3. Ujikan pelayanan Kesehatan Virtual (Telekonsultasi, Telenursing, Tele First Aid); UNTUK KESEHATAN MASYARAKAT 1. Wajibkan penggunaan masker bila keluar rumah; 2. Sediakan cuci tangan atau hand sanitizer pada fasilitas-fasilitas umum seperti restoran, sekolah, tempat ibadah, pariwisata dll; 3. Tetap melakukan screening kesehatan di perkantoran, sekolah, aktifkan dokter sekolah, klinik perusahaan, klinik-klinik rumah peribadatan, dll; 4. Terus melakukan survey epidemiologi dilengkapi pemeriksaan swab PCR; 5. Penyuluhan kesehatan dan pola hidup sehat melalui media televisi, radio, dsb; Catatan : Untuk daerah dimana kasus Covid-19 baru mulai bermunculan perlu diterapkan PSBB, physical distancing dan penggunaan masker. Salam Dr. Yogi Prabowo, SpOTPendiri, Presidium dan Relawan Medis MER-C
Mencari MER-C demi Bantu Gaza

Dengan senyum bu Fatma memasuki kantor MER-C yang berada di ujung Jl. Kramat Lontar, Senen, Jakarta Pusat. Keinginannya untuk membantu saudara-saudaranya di Jalur Gaza – Palestina menghantarkannya ke kantor ini. Tertegun kami mendengar kisah bu Fatmah bagaimana perjuangannya mencari MER-C demi bisa membantu Jalur Gaza, Palestina. Bu Fatmah mengaku selama ini mendengar info tentang Gaza, Palestina dan pembangunan RS Indonesia melalui Radio Silaturahim (Rasil), sebuah radio yang selalu setia menemani hari-harinya. “Saya mendengar Rasil hampir 24 jam, dari situ saya dengar info tentang Gaza, tentang Rumah Sakit Indonesia yang sedang dibangun oleh MER-C di sana,” akunya. Sejak mendengar info tentang Jalur Gaza dan Rumah Sakit Indonesia, muncul keinginan kuat untuk turut membantu. “Saya ingin sekali ikut membantu. Tapi tidak tahu MER-C dimana,” katanya.Akhirnya ia mencoba mencari Radio Silaturahim, meski studio Rasil berada cukup jauh dari rumahnya, di Cibubur Bekasi. “Sebelumnya saudara saya sudah mencari Rasil, tapi tidak ketemu. Lalu saya ingin coba mencari lagi, dengan naik ojek motor ke sana. Alhamdulillah saya bisa ketemu radio Rasil dan dari Rasil saya mendapat brosur tentang RS Indonesia lengkap dengan alamat MER-C yang ternyata tidak jauh dari rumah saya,” kisahnya. Sambil terus bercerita, bu Fatmah kemudian mengeluarkan uang cukup banyak yang membuat kami terpana, lalu menyerahkannya kepada petugas MER-C di bagian penerimaan donasi. Menurutnya, uang itu sudah diniatkannya untuk membantu perjuangan pembangunan tahap 2 RS Indonesia di Gaza. Semoga niat ikhlas bu Fatmah membantu Gaza dibalas dengan berkali lipat lebih baik oleh-NYA. Petugas MER-C kemudian memperlihatkan kepada bu Fatmah wujud RS Indonesia lengkap dengan foto-foto, video dan juga maket RS Indonesia yang berada di kantor MER-C. “Selama ini hanya dengar dari radio, alhamdulillah sekarang bisa lihat RS Indonesia,” ucapnya dengan senyum. #Gaza#Palestina#RSIndonesiaGaza#MERCforGaza#blessingforuniverse#beapartofhistory#MERCIndonesia |www.mer-c.org|
Merah Putih Berkibar di Gaza

Pemasangan bendera merah putih dan bendera MER-C di tower Wisma Rakyat Indonesia (Indonesia Guest House), kompleks RS Indonesia, Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina, untuk memberikan “sign” kepada Israel bahwa ada asset rakyat Indonesia di Jalur Gaza. Seiring kondisi Gaza yang memanas, lebih banyak bendera merah putih akan dipasang di lokasi Pembangunan Tahap 2 RS Indonesia. Mohon doanya untuk warga Gaza, para relawan Indonesia yang sedang bertugas di sana dan kelancaran Pembangunan Tahap 2 RS Indonesia. #GazaDiserang#PrayforGaza#Gaza#Palestina#tahap2rsindonesiagaza#mercforgaza#mercindonesia
Hujan dan Gaza

Sesuai prediksi, memang hari ini dan prakiraan cuaca 2 hari ke depan akan lebih dingin dari sebelumnya disertai hujan. Kemarin hujan ringan hanya turun menjelang waktu shubuh. Suhu pun menjadi drop di waktu ini. Tapi hari ini, bahkan saat sholat shubuh pun air masih tercurah dari langit. Kami yang biasanya berjamaah cukup mengenakan mantel, kali ini banyak yang memakai sarung tangan. Dingin memang terasa lebih menggigit. Terlebih sesekali udara cukup keras berhembus, terasa menembus tulang. Jangan dibayangkan Gaza seperti kebanyakan wilayah Timur Tengah yang didominasi padang pasir nan tandus. Panas dan berdebu. Berkebalikannya, Gaza adalah lahan subur kehijauan dengan hasil tani melimpah ruah. Zaitun, kurma, jeruk, aprikot dan apel berbuah lebat memberi warna berbeda di tiap musimnya. Di musim dingin, hujan turun sesekali membawa butiran es. Bukan tidak mungkin, jika suhu udara ke depan semakin turun, hujan es juga akan kami alami. Ironisnya, melimpahnya hasil pertanian tidak membuat petani bahagia. Kebanyakan produk mereka rusak karena tidak memiliki fasilitas pengolahan, atau tidak laku dijual. Hampir tidak ada pabrik pengemasan untuk pengiriman keluar Gaza. Atau lebih jelek lagi, perusahaan Israel menolak menjual hasil bumi Gaza jika tidak mau dilabeli made in Israel. Kehidupan masyarakat Gaza menjadi sangat bergantung kepada buka-tutupnya perbatasan, orang dan juga barang. Dari 5 pintu masuk yang menghubungkan Gaza dan luar, mereka tinggal bergantung kepada perbatasan Rafah (Mesir) untuk pergi keluar. Perbatasan Erez menjadi momok karena buruknya perlakuan tentara Israel kepada warga Gaza. Sementara pintu Karem Abu Shalom hanya digunakan untuk arus barang. Paspor adalah barang mewah bagi kebanyakan warga Gaza. Bahkan bagi yang memilikinya, terkadang tak lebih dari sekedar travel document. Paspor Palestina tidak memberikan kebebasan berpergian bagi pemegangnya, malahan mengundang ‘perlakuan khusus’ dari petugas imigrasi saat ditunjukkan. Banyak cerita bagaimana warga Palestina mendapat diskriminasi, intimidasi hingga pembatasan saat berpergian menggunakan paspornya. Dengan status 60% warga Gaza adalah pengungsi (refugee) maka bantuan donor adalah vital. Di tengah pemangkasan bantuan AS kepada UNRWA (lembaga PBB yang mengurusi pengungsi Palestina), pengurangan bantuan dari Uni Eropa kepada Palestina karena isu terorisme, dan konflik internal politik, semakin menempatkan penderitaan warga Gaza ke titik terendahnya. Anehnya, bantuan yang dibutuhkan di dalam Gaza, kadang menumpuk di gudang-gudang perbatasan Yordania, Mesir atau Israel sendiri tanpa kejelasan penyaluran. Bahkan anekdotnya, bantuan yang disalurkan ‘sengaja’ diatur agar tidak sesuai kebutuhan dan momennya. Saat musim dingin, peralatan sekolah anak dimasukkan. Saat musim panas, pakaian dan selimut dingin disalurkan. Hujan dan cuaca dingin memang datang di Gaza. Namun, seolah masyarakat merasakan biasa-biasa saja. Wajah-wajah ceria anak bersekolah di pagi hari dengan pipi kemerahan karena dingin. Celoteh dan teriakan mereka saat bermain di sore hari dengan baju hangat seadanya. Suasana masjid dan azan yang mengundang jamaah untuk memenuhi shaf-shaf sholat 5 waktu. Bayt Lahya, 28 Februari 2109Arief Rachman
Gaza Hujan, Suhu Udara Kembali Turun

Sempat menghangat dalam pekan terakhir Februari, ramalan cuaca memprediksi suhu udara akan kembali turun dalam tiga hari ke depan. Bahkan, dua hari terakhir hujan ringan menyiram menjelang waktu shubuh. Beruntung curah yang tidak terlalu tinggi tidak sampai mengganggu aktivitas kerja para relawan konstruksi. Sedianya, para relawan akan membuat atap di garasi guest house RS Indonesia menggunakan baja ringan yang akan digunakan untuk tempat penyimpanan sementara. Secara prinsip, program pembangunan RS Indonesia tahap 2 sudah mendapatkan persetujuan dari Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Kesehatan c.q Direktur RS Indonesia untuk segera dimulai. Ir. Faried Thalib sudah mulai menginstruksikan kepada Ir. Edy Wahyudi selaku Site Manager untuk mulai melakukan pembelian material yang dibutuhkan. Semoga, hujan yang turun menyiram bumi para syuhada menjadi barokah bagi program pembangunan RS Indonesia tahap 2. Allahumma shoyyiban naafi’an. GAZA, Kami Kembali… Dukungan dan Donasi untuk Pembangunan Tahap 2 RS Indonesia, Gaza – Palestina dapat disalurkan melalui : BSM, 700.1352.061BCA, 686.0153678Bank Mandiri, 124.000.8111925BNI Syariah, 081.119.2973BRI, 033.501.0007.60308Bank Muamalat, 301.00521.15 Semua rekening atas nama :Medical Emergency Rescue Committee Info :Website : www.mer-c.orgCall center : 0811990176FB : MER-C IndonesiaIG : @mercindonesia, @rsindonesia #mercforgaza#tahap2rsindonesiagaza#beapartofhistory#mercindonesia
Mengenal Popo, Pelukis Mural Peduli Rohingya
MINA – Di antara kita mungkin sudah ada yang mendengar nama Ryan ‘Popo’ Riyadi, salah seorang seniman jalanan atau street artist yang karya-karya muralnya banyak menghiasi tembok-tembok ibukota Jakarta. Lelaki yang akrab disapa Popo itu sering menggambar karakter ‘Popo’ dalam setiap karyanya dibumbui dengan tulisan-tulisan kritis. Selama belasan tahun, lelaki peraih penghargaan ‘The Best Mural Artist’ pada Tembok Bomber Award 2010 ini selalu menghadirkan kritikan dalam setiap karyanya, walau tidak semua orang setuju dengan cara dia. Bahkan, Popo pernah juga diprotes dosen di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta, lantaran hobinya corat-coret ini. Tapi siapa sangka, beberapa tahun kemudian Popo malah ikut mengajar sebagai dosen mata kuliah komunikasi visual di almamaternya itu. Dalam sebuah wawancara khusus dengan Popo di tempat biasanya nongkrong, penulis sempat berbincang soal beberapa hal menarik dengan Duta Campaign RS Indonesia ini, salah satunya soal krisis kemanusiaan di Rakhine State, Myanmar. Popo yang cukup peka terhadap situasi di sekitarnya langsung merespon dengan pernyataan kritisnya. “Banyak manusia hidup berdampingan, tapi sedikit yang berkemanusiaan. Ini sebenarnya kita tunjukan bagi tempat-tempat yang di mana ada banyak orang tetapi di sana tidak ada nilai kemanusiaan,” kata Popo kepada wartawan Mi’raj News Agency(MINA) Rendy Setiawan di Gudang Sarinah Pancoran, Jakarta, Jum’at (7/10). Meskipun lahir dan besar di Indonesia, Popo cukup konsisten mengikuti perkembangan terkini yang terjadi di Myanmar maupun di Palestina. Menurut Popo, krisis-krisis yang terjadi di dua wilayah itu tak perlu terjadi apabila keberagaman dijaga sebagaimana mestinya. “Kita sering mendengar ajakan untuk saling menghargai dalam keberagaman. Tapi di sisi lain kita melihat ada banyak krisis kemanusiaan yang terjadi, contoh di Myanmar dan Palestina. Sebenarnya bukan hanya di dua wilayah itu saja, apabila nilai-nilai kemanusiaan itu dijaga, krisis seperti itu seharunya nggak perlu terjadi,” katanya. “Ini pelajaran dari apa yang pernah disampaikan oleh ayah saya. Jadi kalau mau menolong, harus menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan,” katanya menambahkan. Apabila diperhatikan lebih teliti, semua karya yang pernah diciptakan Popo, sebagian besar memuat pesan kritik sosial. Hal itu tak terlepas dari peran ayahnya yang selalu memotivasi untuk selalu memperhatikan kondisi sekitar. “Banyak cara untuk mengekspresikan apa yang ingin kita sampaikan, salah satunya dengan komunikasi non verbal, dan melalui lukisan-lukisan mural ini salah satunya,” katanya. Popo melanjutkan, untuk membantu orang-orang, tidak harus menunggu isu global seperti kelaparan, perang dan krisis lainnya. Cukup dengan memberikan makan kepada tetangga kita yang lapar, itu sama saja sudah menolong banyak orang. “Kemanusiaan tidak bisa dilepaskan dari keadaan sosial di sekitar kita. Contoh gampangnya begini, kadang kita kenyang tapi ada di sekitar kita yang kelaparan. Kalau ini terjadi, berarti nilai kemanusiaan kita harus dikritik. Kritikan yang saya lontarkan secara khusus sebenarnya ditunjukkan untuk diri saya sendiri,” paparnya. Popo berpesan, sebelum memenuhi hasrat keinginan kita, ada baiknya untuk melihat kondisi sosial di sekitar terlebih dahulu. Hal itu dilakukan sebagai cara untuk menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan agar selalu merasa dekat dengan lingkungan di sekitar. “Sebelum memenuhi keinginan kita, ada baiknya kita lihat dulu sekeliling kita,” pesannya. Menurut Popo, kritik sosial atau kondisi kemanusiaan yang selalu menjadi temanya adalah sebagai cara untuk menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan masyarakat Indonesia khususnya. “Saya pikir ini nggak bisa lepas dari kehidupan sosial,” ujarnya. “Harus selalu sabar ketika hidup berdampingan dalam usaha menumbuhkan nilai-nilai sosial kepada orang yang kita kenal maupun yang nggak kita kenal. Tetapi yang terpenting untuk diri sendiri,” katanya lagi. Ketika disinggung soal ‘Popo’ yang menjadi karakter dalam setiap karyanya, Popo mengatakan, itu sudah menjadi identitas dirinya. “Popo menjadi signature, menjadi identitas saya. Jadi di setiap karya saya itu ada saya yaitu Popo,” katanya. (W/R06/B05) Sumber : www.mirajnews.com
RS Indonesia, Salah Satu Tema yang Diangkat pada Peringatan 61 Tahun KAA

Dalam rangka Peringatan 61 Tahun Konferensi Asia Afrika, Museum Konferensi Asia Afrika (KAA), Kementerian Luar Negeri RI dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat serta Bandung menyelenggarakan serangkaian kegiatan yang berlangsung mulai tanggal 17 April 2016 hingga 1 Mei 2016, bertempat di Museum KAA, Bandung – Jawa Barat. Salah satu rangkaian kegiatan dari peringatan ini adalah “Bandung Spirit for Palestine” yang dikemas dalam bentuk Pameran Foto dan Talkshow. Selasa, 19 April 2016 kemarin, kegiatan pameran foto mulai dibuka dengan salah satu tema yang diangkat adalah mengenai program pembangunan Rumah Sakit Indonesia, di Jalur Gaza, Palestina. Selain foto, dokumentasi kegiatan dalam bentuk video juga ditayangkan dihadapan undangan yang hadir yang berasal dari berbagai kalangan mulai dari pejabat pemerintahan, akademisi, mahasiswa dan masyarakat umum. Kegiatan pameran foto berbagai dukungan Indonesia untuk Palestina akan berlangsung hingga tanggal 1 Mei 2016. Perwakilan MER-C juga turut menghadiri acara ini dan berkesempatan memberikan sedikit penjelasan mengenai program pembangunan Rumah Sakit Indonesia sebagai sebuah karya anak bangsa dan salah satu bentuk dukungan nyata dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina. Pada pernyataannya, perwakilan MER-C menyampaikan harapannya bahwa RS Indonesia bukan hanya sekedar rumah sakit tapi bisa menjadi bukti persaudaraan dan dukungan jangka panjang rakyat Indonesia untuk Palestina hingga Palestina meraih kemerdekaannya.
Masuk Susah, Keluar pun Susah

Ini adalah hari ke-2 bagi tiga relawan RS Indonesia (Ir. Edy Wahyudi, Karidi dan Miyanto) menunggu di perbatasan Rafah. Sejak beberapa lama info pembukaan Rafah hanya “katanya dan katanya”, alhamdulillah kali ini benar pintu perbatasan Rafah akhirnya dibuka, meskipun hanya 2 hari, ya hanya 2 hari, Sabtu dan Ahad ini. Mendengar informasi tersebut, 3 relawan dari 5 relawan yg masih berada di Gaza segera bersiap. Tugas mereka telah selesai di Gaza krn RS Indonesia telah diserahterimakan & telah beroperasional. Kini waktunya mereka pulang utk di rolling dg relawan lainnya. Sejak Sabtu pagi (13/2), 3 relawan telah bergegas menuju perbatasan Rafah untuk mencoba keluar dari Gaza dan berharap bisa kembali ke tanah air. Di perbatasan Rafah, ternyata banyak orang yang mengantri utk keluar dr Gaza g berbagai keperluan. Info dr relawan ada sekitar 5.000 orang. Mengantri di kerumunan orang hingga malam hari ternyata kesabaran para relawan kembali diuji. Mereka blm bisa keluar dr Gaza pd hari Sabtu kemarin. Kesempatan utk mencoba keluar tinggal hari Ahad ini. Klo tdk berhasil, para relawan hrs bersabar lg menunggu info pembukaan Rafah berikutnya yang entah kapan dan berapa lama lagi. Masuk susah, keluar pun susah. Hari ini, hari kedua atau hari terakhir pembukaan Rafah, tiga relawan RS Indonesia tengah berikhtiar kembali di Perbatasan Rafah. Mohon doa dari Bapak/Ibu/Sahabat semoga urusan para relawan diberi kemudahan dan kelancaran. Smg mereka bisa segera kembali ke tanah air dg selamat & berkumpul lagi dg keluarga tercinta yg sdh sekian lama mengikhlaskan kepergian suami mereka utk melaksanakan jihad profesi membangun RS Indonesia di Gaza, Palestina.
Myanmar Dulu dan Kini serta Peran Penting Indonesia

Setelah menunggu proses pengurusan ijin di pihak-pihak terkait selama + 3 bulan, akhirnya pada tanggal 16 Februari 2015 MER-C dapat mengirimkan Misi Kemanusiaan ke-2 ke Myanmar. Misi kemanusiaan ke-2 ini berselang lebih dari 2 tahun dari misi pertama sebelumnya pada September 2012. Tujuan dari Tim ini adalah melaksanakan penilaian ulang kondisi terkini pasca konflik di Rakhine State dan menindaklanjuti rencana pembangunan “Indonesia Health Center”. (Laporan Misi Kemanusiaan ke-2 MER-C ke Myanmar) Berbekal Nota Diplomatik dari Kemenlu RI dan bantuan dari KBRI Yangon, akhirnya Tim MER-C mendapat izin untuk bisa masuk sampai ke Sittwe, Rakhine State, dimana konflik komunal antara Muslim Rohingya dan Budha Rakhine terjadi. Tim yang dikirimkan sebanyak 7 orang relawan dengan berbagai keahlian baik medis maupun non medis. Misi berlangsung selama 10 hari mulai tanggal 16–26 Februari 2015. Karena proses perizinan yang sangat ketat bahkan harus mendapat persetujuan hingga ke Kantor Kepresidenan Myanmar, maka dari 10 hari masa tugas, Tim MER-C mendapat izin tinggal selama 3 hari untuk mengunjungi lokasi kamp-kamp pengungsian di Rakhine State. Dengan pengawalan ketat sepanjang perjalanan oleh tentara Myanmar, Tim MER-C berkesempatan mengunjungi 7 kamp pengungsian dari sekitar 15 kamp yang ada di Sittwe saja, Ibukota Rakhine State. Ketujuh kamp yang dikunjungi Tim MER-C terdiri dari 4 kamp Muslim dan 3 kamp Budha/Rakhine, sbb: Pertama, Kamp That Kay Pin (Kamp Muslim) Kedua, Kamp Kaung Doke Khar (Kamp Muslim) Ketiga, Kamp West San Pya (Kamp Muslim) Keempat, Kamp Say Tha Mar Gyi (Kamp Muslim) Kelima, Kamp Say Young Su (Kamp Rakhine/Budha) Keenam, Kamp Sad Yo Kya 1 (Kamp Rakhine/Budha) Ketujuh, Kamp Sad Yo Kya 2 (Kamp Rakhine/Budha) Tim MER-C cukup terkejut melihat sudah banyak perubahan yang terjadi di kamp-kamp pengungsian di Sittwe ini, dibandingkan saat Tim MER-C berkunjung pada September 2012 lalu. Kegiatan belajar mengajar di kamp-kamp di Sittwe sudah mulai berjalan meskipun dengan bangunan sekolah yang masih sangat sederhana (semi permanen). Sarana dan kegiatan pelayanan kesehatan juga sudah mulai berjalan. Layanan kesehatan berlangsung di klinik-klinik dalam kamp dan di Rumah Sakit emergensi dalam kamp. Pelayanan berlangsung rutin setiap Senin-Jumat mulai pukul 08.00-14.00. Diluar jam tersebut ada bidan dan perawat yang bertugas, bila terjadi kasus gawat darurat, ambulans bisa dipanggil dan pasien dapat dirujuk ke rumah sakit di pusat kota Sittwe. Selain program pelayanan kesehatan di Klinik atau RS, terdapat juga program mobile clinic rutin setiap hari, program vaksinasi di tiap-tiap klinik, layanan antenatal care oleh bidan dan pelatihan persalinan untuk tenaga kesehatan tradisional. Berdasarkan informasi dari Dinas Kesehatan setempat, terdapat juga program penyuluhan kebersihan dan program penyuluhan TB paru. Telah tampak juga toilet dan sumber air bersih di tiap-tiap kamp. Sebagian besar bantuan diberikan secara otonom dari lembaga donor internasional dengan koordinasi langsung dengan pemerintah setempat. Bantuan Indonesia dan Rencana Pembangunan “Indonesia Health Center” Tim MER-C pada misi kemanusiaan ke-2 ini menyalurkan bantuan berupa 1 unit ambulans, bantuan obat-obatan yang diterima oleh Dinas Kesehatan Rakhine State, bantuan makanan ke masing-masing kamp, bantuan sprei dan selimut sebanyak 200 paket untuk disebar ke klinik-klinik dan Rumah Sakit, serta dua unit genset. Indonesia sendiri melalui Pemerintah RI memberikan bantuan untuk pembangunan 4 unit sekolah. Lokasi pembangunan sekolah diantaranya di wilayah Minbya, masih dalam provinsi Rakhine State. Namun, karena izin kunjungan Tim yang singkat dan diperlukan izin lenih lanjut untuk mengunjungi Minbya, Tim MER-C tidak berkesempatan mengunjungi wilayah ini. Menurut informasi, wilayah pengungsian di Minbya, kondisinya belum sebaik kamp pengungsian di Sittwe. Dua unit genset bantuan dari rakyat Indonesia melalui MER-C, rencananya akan ditempatkan di sekolah Indonesia di Minbya. Untuk memberikan manfaat jangka panjang bagi korban konflik komunal di Rakhine State, atas nama dan donasi dari rakyat Indonesia, MER-C mencanangkan program jangka panjang berupa pembangunan “Indonesia Health Center”. Melihat langsung kondisi kamp pengungsian di Sittwe, Rakhine State yang sudah berkembang cukup baik, maka MER-C berencana untuk menjalankan program pembangunan “Indonesia Health Center” ke wilayah pengungsian lain yang masih minim sarana kesehatan, seperti di Minbya, dimana sekolah Indonesia berada. Perlakuan Diskriminatif Meskipun sudah banyak perubahan yang terjadi, namun berdasarkan pengamatan Tim MER-C masih berlangsung permasalahan krusial, yaitu perlakukan diskriminatif yang akan menjadi masalah utama ke depan, khususnya bagi sebagian besar warga muslim di Myanmar, tidak hanya warga muslim dari etnis Rohingya. Pertama, Stateless. Stateless adalah masalah yang dihadapi sebagian besar warga muslim di Myanmar. Sampai dengan saat ini mereka belum diakui sebagai warga negara Myanmar. Mereka tidak mempunyai kartu identitas penduduk tetap yang menjadi hak setiap warga negara. Hal ini menyebabkan warga muslim misalnya tidak dapat membuat paspor, anak-anak yang lulus sekolah tidak bisa mendapat ijazah sehingga mereka tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dsb. Kedua, Warga kamp muslim di Rakhine State tidak dapat keluar masuk Kamp dengan bebas, harus ada alasan yang sangat penting untuk bisa mendapat izin keluar dari kamp. Suasana berbeda kami temui saat mengunjungi kamp Budha. Warga kamp Budha dapat keluar masuk kamp dengan bebas dan mudah untuk bekerja, bersekolah, dsb. Peran Penting Indonesia Permasalahan stateless atau tidak diakuinya sebagian besar warga Muslim di Myanmar sebagai warga negara oleh Pemerintah setempat ditambah tidak bisanya warga muslim dalam penampungan di Rakhine State keluar masuk kamp dengan bebas adalah perlakuan yang sangat diskriminatif. Hal ini tentu sangat disayangkan di kala perubahan-perubahan terjadi lebih baik di kamp-kamp yang ada. Terlebih lagi warga muslim Myanmar sudah turun temurun tinggal di negara ini dan berjuang bersama hingga tercapai kemerdekaan Myanmar. Indonesia sebagai bangsa yang besar di Asia Tenggara kami harapkan dapat mengambil peran yang lebih besar dalam membantu menyelesaikan permasalahan ini. Rekomendasi MER-C kepada Pemerintah RI dalam membantu penyelesaian permasalahan di Myanmar sbb: Pertama, Mendorong Pemerintah Indonesia aktif melakukan pendekatan-pendekatan kepada Pemerintah Myanmar mengenai masalah kewarganegaraan bagi minoritas muslim Myanmar; Kedua, Bersama Pemerintah RI dan pihak terkait lainnya untuk mengadakan pertemuan-pertemuan/perundingan-perundingan regional dan internasional untuk mengangkat isu kewarganegaraan minoritas muslim di Myanmar disamping isu kemanusiaan yang berkembang; Ketiga, Pemerintah RI memfasilitasi program-program bantuan dari lembaga-lembaga di Indonesia untuk mewujudkan program-program jangka menengah dan panjang khususnya di Rakhine State, Myanmar.
ROKET PEJUANG GAZA HANCURKAN PABRIK ISRAEL, 4 ORANG LUKA LUKA

Dua roket yang ditembakkan oleh pejuang Gaza, Sabtu (28/6) sore menghancurkan sebuah pabrik dan menimbulkan kebakaran besar di kota Sadirot selatan Palestina, sementara sebuah roket lainnya menghantam area terbuka, media setempat melaporkan sejauh ini 4 orang warga Israel luka luka. Kepulan asap dan cahaya putih pabrik Israel yang terbakar tersebut terlihat hingga ke lokasi RS Indonesia yang berjarak hanya 2,5 km dari perbatasan. Hingga Ahad (29/6) dini hari, terdengar beberapa ledakan tak jauh dari lokasi RS Indonesia. Alhamdulillah semua relawan MER-C dalam kondisi baik.