MER-C, Wujud Nyata Peranan Masyarakat Indonesia Peduli Palestina

Ceknricek.com — Konflik di Jalur Gaza, Palestina, seolah tidak berkesudahan. Sebagai negara dengan masyarakat Muslim terbesar di dunia, Indonesia tentu tak bisa tinggal diam melihat penderitaan yang dialami saudara-saudaranya di Palestina. Organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis, MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) terjun langsung menolong para warga Palestina dengan berbagai aksi kemanusiaan. Lembaga yang berasaskan Islam dan prinsip rahmatan lil’aalamiin itu menerjunkan para relawannya, serta mengirimkan berbagai bantuan medis dan kemanusiaan. “Pada 18 November lalu para relawan MER-C di Jalur Gaza melakukan kunjungan ke rumah korban akibat serangan roket militer zionis Israel ke Daerah Zaitun dan Deri Balah, Jalur Gaza Bagian Tengah,” kata Luly Larissa, Head of Fundraising Division MER-C, saat berkunjung ke Redaksi Ceknricek.com, Senin (25/11).“Tim relawan menemukan seorang bayi dari keluarga Abu Malhus Swarkah yang selamat dari serangan 4 roket yang menghantam rumahnya. Ada 2 bocah selamat setelah terlempar akibat serangan roket, Alhamdulillah masih bisa bangun dan langsung lari ke rumah neneknya,” ucap Luly seraya membagikan foto-foto kegiatan relawan MER-C.Selain mengirimkan relawan, MER-C juga memiliki Rumah Sakit Indonesia di Bayt Lahiya, Gaza, Palestina. RS Indonesia ini letaknya hanya 2,5 kilometer dari perbatasan Israel. “Kalau ada serangan bom dari Israel, biasanya kami turut merasakan getaran akibat ledakan itu. Beberapa sedikit merusak bagian-bagian depan dari rumah sakit, lalu kami perbaikinya demi menjaga kenyamanan para pasien,” ujar Luly. Menurut Luly, kehadiran MER-C dan Rumah Sakit Indonesia ini merupakan wujud nyata masyarakat Indonesia untuk menolong saudara-saudaranya di Palestina. Pasalnya, semua pembangunan RS ini merupakan hasil donasi dari rakyat Indonesia. “Ini murni donasi dari rakyat. Kami meminta donasi di masjid-masjid, masuk sekolah, minta donasi dari perusahaan. Beberapa kali kami juga melibatkan para band misalnya Slank, Wali, NAIF. Intinya ini ialah uluran tangan para masyarakat Indonesia yang peduli dengan Palestina,” ucapnya. Sumber : https://ceknricek.com/a/mer-c-wujud-nyata-peranan-masyarakat-indonesia-peduli-palestina/12591
Delapan Truk Pasir RS Indonesia Tiba Saat Gaza Masih Mencekam

Gaza, MINA – Sebanyak delapan truk pasir tiba di Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza di tengah situasi Palestina yang masih mencekam, kata seorang relawan pembangungan yang berbicara kepada MINA dalam status anonim. “Alhamdulillah datang delapan truk Pasir dengan dua macam jenis, untuk jenis plester dan jenis pemasangan Lantai Porcelaine dari 15 tronton yang ditarget datang, akan tetapi karena keterbatasan lokasi pembangunan tidak mungkin menempati 15 tronton pasir datang sekaligus,” ujarnya kepada MINA, Jumat (22/11). “Kondisi mencekam masih terasa akan tetapi sebagai sebagai wujud tanggung jawab mengemban amanah Site Manager Pembangunan RS Indonesia di Gaza harus mendatangi titik nol perbatasan Israel karena harus menyurvei galian bahan bangunan berupa pasir untuk menentukan area jenis pasir yang diperlukan walaupun memiliki risiko yang sangat tinggi,” tambahnya. Ia juga mengungkapkan, posisi galian pasir sendiri bersebelahan dengan tiang beton, tempat tentara-tantara Israel menatap tajam bila ada pihak yang mendekat perbatasan. Sebelumnya pada tahap pertama, pembangunan RSI sudah dibangun satu basement, lantai satu dan dua bangunan utama RSI, Gedung Mortuary dan Ruang Pompa, Gedung Genset dengan kapasitas total 1600 KVA , Gedung Pabrik Oksigen dan Wisma Indonesia. Adapaun saat ini tengah dilaksanakan pembangunan tahap kedua yang menambah lantai tiga dan lantai empat bangunan utama RSI. RSI di Jalur Gaza menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Inisiator pembangunan RSI Gaza adalah Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang dalam pembangunannya bekerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Fatah Indonesia dan untuk pembangunan tahap kedua ini mengirimkan sebanyak 29 relawan ke Jalur Gaza. (L/Ast/RI-1) Sumber : https://minanews.net/delapan-truk-pasir-rs-indonesia-tiba-saat-gaza-masih-mencekam/
MER-C Dorong Tokoh Bangsa Dukung Boikot Produk Israel Berlabel Palestina

Jakarta, MINA – Lembaga medis kemanusiaan dan kegawatdaruratan Medical Emergency Recsue Committee (MER-C) mendorong tokoh berpengaruh untuk mendukung gerakan boikot produk Israel yang disebut Boycott, Divestment and Sanctions atau Boikot, Divest dan Sanksi (BDS), khususnya produk yang diberi label Palestina. Memulai inisiatif ini, Presidium MER-C dr. Sarbini Abdul Murad menemui Prof. Din Syamsuddin, Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI), di salah satu hotel di Jakarta pada Jumat (18/10) untuk menyampaikan hal tersebut. “Tujuan kita mendorong para tokoh bangsa yang berpengaruh untuk terlibat atau mendukung BDS secara nyata. Untuk itu kita bertemu dengan salah satu tokoh Islam berpengaruh, yaitu Prof. Din Syamsuddin untuk meminta dukungan nyata terhadap gerakan ini,” kata Presidium MER-C yang akrab disapa dr. Ben itu di Jakarta, Jumat (18/10). Kepada Prof. Din, dr. Ben menjelaskan bahwa gerakan BDS yang dimaksud MER-C bukan seperti BDS yang didirikan oleh Omar Barghouti, seorang pembela hak asasi manusia Palestina yang mendirikan kampanye boikot produk Israel secara global. Namun BDS yang dimaksud MER-C yaitu memboikot produk-produk Israel yang diambil dari tanah Palestina di Tepi Barat kemudian diberi label Palestina, sementara keuangannya masuk ke Israel. “MER-C akan roadshow kepada tokoh bangsa dan tokoh agama untuk bahas BDS, tapi kita fokuskan ke Tepi Barat. Produknya berupa kurma, jeruk dari lahan Palestina yang di klaim Israel tapi dilabel Palestina, agar masyarakat pada membeli. Ini produknya dijual di Palestina dan negara-negara luar,” katanya. Dalam pertemuan ini, dr. Ben didampingi oleh Manajer Operasional MER-C Rima Manzanaris. Dr. Ben juga menyampaikan kekhawatirannya bahwa ada produk-produk tersebut yang masuk Indonesia melalui pihak ketiga. Karenanya, ia mengharapkan Prof. Din yang juga tokoh Muhammadiyah tersebut untuk menggalakkan gerakan BDS ini secara masif. Terkait ini, Prof. Din sangat mengapresiasi inisiasi MER-C. Selain mendukung, ia juga memberi saran agar MER-C melakukan dialog kepada tokoh-tokoh dan organisasi-organisasi masyarakat lainnya serta kepada pemerintah. “Gerakan ini sangat bagus dari MER-C. Saya sangat mendukung. Ini jalan terus. Tapi MER-C harus mengidentifikasi betul produk-produknya, jangan sampai produk ini, produknya pengusaha Palestina yang kita dorong. MER-C juga harus sampaikan ke pemerintah agar kita semua dukung dan pemerintah sangat berperan untuk tidak menerima impor produk-produk Israel itu (yang dilabel Palestina),” ujar Prof. Din. (L/R10/RI-1) Sumber : https://minanews.net/mer-c-dorong-tokoh-bangsa-dukung-boikot-produk-israel-berlabel-palestina/
Syafiq Basalamah, Salah Satu Pendiri MER-C Tutup Usia

Salah satu pendiri MER-C (Medical Emergency Rescue Committee), DR. Dr. Syafiq Basalamah, SpOT., MAH tutup usia, pada Sabtu/28 September 2019, di usia 55 tahun. Informasi yang diterima dari pihak keluarga menyatakan bahwa almarhum meninggal dunia di Singapura pagi tadi saat sedang menunaikan shalat subuh. “Istri beliau bilang sedang sholat subuh. Terus dibawa ke ICU, katanya juga sudah tidak ada. Jam persisnya tidak tau,” demikian informasi dari pihak keluarga yang diterima oleh salah satu relawan MER-C. Kabarnya, jenazah dokter kelahiran 20 Mei 1964 ini akan diberangkatkan dari Singapura menuju Jakarta pada Minggu siang pukul 12.30 waktu setempat, namun hal ini masih menunggu konfirmasi lagi terkait pengurusan dokumen. Dari Jakarta jenazah akan dibawa ke rumah duka di Purwokerto. Dr. Syafiq Basalamah, SpOT adalah salah satu pendiri lembaga kemanusiaan MER-C. Bersama enam relawan lainnya, almarhum mendirikan MER-C tepatnya pada tanggal 14 Agustus 1999 atau 20 tahun silam. Saat pecahnya konflik berbau SARA di Ambon, Maluku dan sekitarnya, almarhum bersama relawan lainnya turun ke wilayah ini untuk memberikan pertolongan medis kepada para korban. Segenap keluarga besar MER-C menyatakan duka cita yang mendalam atas wafatnya DR. Dr. Syafiq Basalamah, SpOT., MAH. Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadahnya, mengampuni segala salah dan khilafnya, serta menempatkan almarhum di tempat terbaik di sisi-Nya. Untuk keluarga yang ditinggalkan semoga senantiasa diberikan ketabahan dan kekuatan.
MER-C Kutuk Tindakan Israel Menahan Jenazah Warga Palestina

/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Israel terus menambah daftar panjang kejahatan kemanusiaan terhadap Palestina. Berdasarkan data kampanye nasional untuk pemulangan jenazah syuhada Palestina, otoritas Israel telah menahan lebih dari 260 jenazah Palestina sejak tahun 1967. Israel terus mempertahankan kebijakan kejinya selama bertahun-tahun termasuk penahanan 51 jenazah para syuhada di lemari pendingin sejak Oktober 2015 lalu. Menanggapi hal ini, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia, sebuah lembaga kegawatdaruratan medis dan kemanusiaan untuk korban perang, konflik dan bencana alam, menyatakan mengutuk tindakan keji Israel yang telah menahan dan menyembunyikan jenazah para syuhada Palestina, karena melanggar semua hukum dan nilai-nilai universal kemanusiaan. Ini adalah sebuah kejahatan perang. Jenazah seharusnya dihormati, diberikan hak-haknya sesuai dengan aturan yang berlaku dan dikuburkan sesuai dengan keyakinannya. MER-C Indonesia juga meminta organisasi besar dunia seperti PBB dan OKI untuk melakukan penekanan kepada Israel agar segera mengembalikan seluruh jenazah warga Palestina. Kepada Pemerintah Indonesia, MER-C berharap untuk terus melakukan lobby-lobby kepada PBB terkait masalah ini. Sebagai bagian dari warga dunia, MER-C sebuah lembaga medis kemanusiaan berkomitmen untuk terus mendukung perjuangan rakyat Palestina, satu-satunya negara di dunia yang masih terjajah, hingga Palestina meraih kemerdekaannya. Salah satu dukungan bagi Palestina adalah pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza. Diinisiasi pada 2009, pasca operasi besar-besaran Israel terhadap Jalur Gaza saat itu, MER-C langsung menyatakan komitmen bantuan jangka panjangnya dalam bentuk pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza. Pekerjaan pembangunan dimulai pada Mei 2010 dan selesai pada 2015. Akhir Desember 2015, RS Indonesia mulai dibuka untuk memberikan pelayanan medis bagi warga Gaza yang membutuhkan. Sebagai wilayah perang, kapasitas RS Indonesia dengan 100 tempat tidur ternyata tidak cukup menampung warga yang datang berobat. Ditambah lokasi RS Indonesia yang hanya berjarak 2,5 km dari perbatasan Israel membuat RS Indonesia menjadi sarana kesehatan penting di Jalur Gaza untuk merujuk para korban. Untuk itu, sejak Februari 2019, MER-C melakukan pengembangan RS Indonesia, yaitu pembangunan dua lantai tambahan untuk menambah kapasitas RS menjadi 200 tempat tidur dan menambah fasilitas lainnya yang diperlukan. Saat ini pembangunan masih terus berlangsung dan diperkirakan memakan waktu selama 1,5 – 2 tahun.
Penghancuran Desa Sur Baher, Dunia tidak Boleh Diam

Senin (22/7), serdadu Israel mulai menghancurkan dan meratakan pemukiman Palestina di desa Sur Baher, Jerusalem Timur. Tindakan ini mengakibatkan sejumlah warga Palestina termasuk anak-anak kecil kehilangan tempat tinggal dan dievakuasi secara paksa dari daerah tersebut. Menanggapi hal ini, Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad menyatakan kecamannya dan mengajak dunia untuk segera menghentikan kebiadaban Israel. “Kami mengecam keras tindakan Israel yang melakukan penghancuran pemukiman warga Palestina. Kami mengajak dunia melakukan langkah tegas dan nyata agar menghentikan kebiadaban Israel yang sudah berkali-kali melanggar hukum Internasional,” ungkap Sarbini. Menurutnya, Indonesia sebagai anggota Dewan Keamanan PBB bisa menginisiasi pertemuan darurat untuk menghentikan kebiadaban Israel terhadap warga Palestina. Info:www.mer-c.org
MER-C Menyayangkan Kunjungan KADIN ke Israel

Delegasi Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) diberitakan melakukan kunjungan ke Israel pada awal Juli ini. Dalam kunjungan tersebut, delegasi Indonesia terdiri dari tujuh pengusaha yang dipimpin oleh Wakil Ketua KADIN bidang Hubungan Timur Tengah, Mufti Hamka Hasan. Diberitakan sejumlah media, bahwa delegasi ini bahkan sempat mengunjungi pameran permata yang digelar di kota Ramat Gan, padahal Indonesia tidak mempunyai hubungan dagang atau diplomatik dengan Israel. Ketua Presidium MER-C (Medical Emergency Rescue Committee), Sarbini Abdul Murad, menyayangkan kunjungan tersebut. “Kami sangat menyayangkan apabila benar ada delegasi KADIN yang melakukan lawatan ke Israel. Hal ini tentunya melukai dan mencederai komitmen Indonesia dalam mendukung perjuangan Palestina merdeka,” ungkap Sarbini. “Kunjungan yang dilakukan KADIN menunjukkan bahwa KADIN tidak peka terhadap penderitaan Palestina. Padahal sudah seharusnya KADIN juga ikut serta memboikot semua produk-produk Israel sebagai wujud dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina,” tambahnya. Lebih lanjut menurut Sarbini, KADIN harus menjelaskan kepada publik perihal kunjungan ini, apakah merupakan kunjungan resmi KADIN atau bukan, sehingga tidak ada kesimpang siuran berita terkait hal ini. Info:www.mer-c.org
Keikhlasan Sang Istri Kuatkan Relawan RSI di Gaza

Jakarta, MINA – Sudah enam bulan tidak terasa, 28 relawan Indonesia berada di Palestina dalam rangka melakukan pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) tahap kedua di Gaza. Ke-28 relawan tersebut berasal dari jaringan Pondok Pesantren Al-Fatah dan melakukan pembangunan RSI dI Gaza di bawah Lembaga Medis Kegawatdaruratan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C). Tidak terdengar keluhan maupun tangisan baik dari keluarganya. Padahal kondisi Palestina, khusunya di Gaza penuh dengan ancaman yang setiap waktu bisa terjadi konflik senjata. Dibalik kuat dan tegarnya para relawan, terdapat keikhlasan istri dan anak-anaknya yang selalu memberi dukungan. Hal ini ditunjukan oleh Huzaimah, istri Ir. Edi Wahyudi salah seorang relawan yang menjadi Site Manager pembangunan RSI di Gaza. Ketika ditanya tentang dorongan hati sang suami tercinta berasal dari mana sehingga rela meninggalkan keluarga untuk beramal shalih di tempat yang jauh di Gaza, sambil tersedu ia menjawab, “Barang siapa yang berbuat kebaikan maka kebaikan tersebut akan kembali kepada kita, itu lah mungkin yang membuat kami tegar dan kuat,” kata Huzaimah, saat diwawancarai Metro TV di Jakarta, Rabu (10/7). Ibu dengan empat anak tersebut juga mengatakan, menjadi jiwa relawan sudah ditanamkan sejak awal, ketika masuk pesantren Al Fatah, bahkan ia menyebut, relawan adalah juga profesinya. ” Mudah-mudahan bisa terwujud suami membantu saudara-saudara kita di Palestina dan ini juga membawa nama baik Indonesia,” jelasnya. Hal itu juga didukung oleh anak-anak mereka, karena ia juga sudah menanamkan kepada anak-anak tentang pentingnya punya jiwa penolong. “Kami sudah tanamkan sejak kecil bahwa kita harus punya jiwa menolong orang lain dan apalagi kondisi dari tempat tinggal di pesantren yang juga mendukung,” katanya. “Alhamdulillah anak-anak pun gak ada yang sampai nangis, nanya di mana Abi (Ayah),” tambahnya sambil menceritakan keceriaan dua anaknya yang ia bawa saat wawancara. Sebelum wawancara, Yayasan Media Group menyerahkan dana sebesar Rp 6.507.911.514 untuk pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) tahap kedua di Gaza, Palestina. Dana yang terkumpul dari masyarakat melalui Yayasan Media Group dan Metro TV tersebut, diserahkan secara simbolik oleh Ketua Yayasan Media Group, Ali Sadikin dan diterima oleh Presidium MER-C dr. Sarbini Abdul Murad. Dalam pembangunan RSI di Gaza tahap kedua ini, MER-C masih memerlukan dana sekitar Rp 75 miliar. MER-C sendiri telah bekerjasama dengan berbagai organisasi, media masa, dan start up di Indonesia untuk menggalang dana, termasuk dengan Minanews.net, Metro TV dan lainnya. (A/Sj/R01) Sumber : https://minanews.net/keikhlasan-sang-istri-kuatkan-relawan-rsi-di-gaza/
Media Group Serahkan Donasi Pembangunan RS Indonesia di Palestina

Jakarta: Media Group menyerahkan donasi pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia tahap dua di Gaza, Palestina. Media Group menyerahkan donasi berjumlah Rp6.507.911.514 kepada Lembaga Medis dan Kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committe (MER-C). “Saya mengucapkan terima kasih kepada MER-C yang mempercayakan niat baiknya mendirikan rumah sakit, dan menjadikan Media Group sebagai salah satu kawan seperjalanan untuk mewujudkan cita-cita. Kami mengucapkan terima kasih karena diberikan kesempatan menjadi orang baik,” kata Deputy Chairman Media Group Rerie L Moerdijat di Gedung Metro TV, Kedoya, Jakarta Barat, Rabu, 10 Juli 2019. Rerie mengapresiasi kerja sama yang dibangun bersama MER-C. Ini bukan kali pertama Media Group terlibat dalam kerja kemanusiaan bersama MER-C. Sebelumnya, Media Group juga ikut membantu pembangunan RS Indonesia tahap pertama. Donasi ini dikumpulkan Yayasan Media Group dari masyarakat. Media Group merasa tergerak karena pada beberapa kesempatan juga sempat melihat langsung kondisi di Gaza, Palestina. Rerie pun berharap kerja sama serupa ini terus terjalin dengan lembaga kemanusiaan seperti MER-C. “Kita juga bisa menyampaikan dan menyiarkan kepada masyarakat bantuan tidak hanya bisa disampaikan negara dan LSM, tapi institusi media juga bisa melakukan banyak hal. Semoga apa yang dilakukan Media Group menjadi inspirasi,” kata dia. Ketua Presidium Mer-C Sarbini Abdul Murad mengapresiasi donasi yang diberikan Media Group. Ia sempat mengenang saat proses pembangunan Rumah Sakit Indonesia tahap pertama. Kata dia, banyak pihak yang meragukan rencana pembangunan rumah sakit itu. Tapi, Sarbini terbantu dengan pemberitaan di Metro TV. “Awalnya kami kesulitan, tapi itu membantu kami. Masyarakat ragu apakah mungkin bangun RS di tempat yang aksesnya sulit dari darat, laut, udara, tapi berkat berita Metro TV, masyarakat tergerak,” kata Sarbini. Sarbini mengatakan Rumah Sakit Indonesia dirancang dengan selera khas Nusantara. Nama ruangan pun sarat dengan identitas Indonesia, seperti ruangan Sumatra, ruangan Cik Di Tiro, dan ruangan Cut Nyak Dien. Awalnya, nama Rumah Sakit Indonesia akan diganti menjadi Rumah Sakit Ar Rayan, tapi MER-C menolak rencana itu. “Ini ikatan emosional masyarakat Indonesia dengan masyarakat Palestina,” kata dia. Sarbini berharap kerja sama serupa ini terus berlanjut. Apalagi, proyek kemanusiaan yang akan dibangun di Gaza, Palestina, tak berhenti pada pembangunan Rumah Sakit Indonesia. “Mudah-mudahan juga hubungan kita dengan rakyat Palestina terus berlanjut dan kita bisa meringankan beban masyarakat Palestina,” pungkas Sarbini. Donasi yang dikumpulkan selama setahun itu diserahkan secara simbolis oleh Ketua Yayasan Media Group Ali Sadikin kepada Sarbini. Dalam penyerahan itu, Ali Sadikin didampingi Deputy Chairman Media Group Rerie L Moerdijat, Chieff CSR Officer Media Group Lisa Luhur, dan Presiden Direktur Metro TV Suryopratomo. Selesai penyerahan donasi, Sarbini juga menyerahkan sejumlah cendera mata kepada Ali Sadikin. Salah satunya, syal berbendera Palestina yang dikalungkan langsung kepada Ali Sadikin. (DRI) Sumber : https://www.medcom.id/nasional/peristiwa/0k8DLQWk-media-group-serahkan-donasi-pembangunan-rs-indonesia-di-palestina
Die Pressekonferenz von MER-C über die Massenaktion am 21.05.-23.05.2019: Dies ist ein humanitäres Problem

Am 25.05.2019 habe MER-C eine Pressekonferenz zum dritten Mal im MER-Cs Hauptsitz (Kramat Lontar, Jakarta) über die Ereignisse am 21.05.-23.05.2019 nach der Präsidentenwahl gehalten. Der Gründer von MER-C, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT, habe seine Traurigkeit über die blutige Tragödie geäußert. ,,Die Traurigkeit auf die Gewalt vom 21.05 bis zum Morgengrau am 23.05.2019 klammert noch auf unsere Gesicht.‘‘ sagte er. Auch äußerte er, dass die gestorbenen Opfer in dieser Demonstration eine humanitäre Tat sind. Deutlich sagte dr. Jose, dass trotz des Kriegs die zivilen Menschen respektiert werden müssen, die in der Evakuierung oder eben in der Demonstration sind. Insbesondere sind die Kinder, die Frauen und religiöse Persönlichkeit, wie im Genfer Abkommen gegründet war. ,,Der Genfer Abkommen regulierte auch, dass der Angriff im Krieg gegen Krankenwagen und medizinischen Angestellte verboten ist.‘‘, zitierte er auch zuzüglich, dass die amtliche Sicherheit in der letzten Demonstration gegen manche Krankenwagen und medizinischen Angestellte brutal angegriffen habe. ,,Aus den Videos u. Fotos Meldungen im Feld von MER-Cs medizinischen Angestellte und Ehrenamtliche kann man sehen, dass es nicht gleichmäßig war. Die amtliche Sicherheit benützte Schusswaffen, während die Demonstranten nur Steine mitgebracht haben.‘‘ erklärte er. Die letzten Ereignisse bestätigt sich auch, dass die amtliche Sicherheit scharfe Waffen benützte. Jose zeigte auch Beweismaterialien wie zum Beispiel scharfe Geschoss, Gummigeschoss und schwarze Bleigeschosse, die möglicherweise beim Einschuss Knochen von Opfer betroffen waren. Er bedauerte auch den Angriff gegen Journalisten in der letzten Demonstration. Aus seinen eigenen Erfahrungen im Krieg in Irak und Afghanistan meint er, dass einen Angriff gegen Journalisten während des Kriegs schon eine Tat ist, ist es schlimmer sogar in einer einzigen Demonstration. Darüber hinaus legte Jose dar, dass MER-C durch die Diskussion mit ihrem eigenen Jura-Team diese Tat zu den internationalen Institutionen melden will. ,,Weil MER-C eine universale nichtstaatliche Organisation ist, werden wir dieses Problem durch ICC (International Criminal Court) oder ICJ (International Court of Justice) sowohl auch UNHRC (United Nations Human Rights Council) angehen.‘‘ Zum Schluss sagte Jose, dass ein humanitäres Problem respektiert werden muss und in die letzten Ereignisse keinen humanitären Wert eingeschätzt waren. Bericht Einschätzung eines Lebens … Ein Bericht der Demonstration am 21.05.-23.05.2019 aus der Perspektive der Menschlichkeit und Medizin Das Ereignis von dem 21.05 bis zum Morgengrau am 23.05.2019 hat eine tiefgründige Wunde für die indonesische Bevölkerung gelassen, insbesondere die das Leben eines Menschen sehr einschätzen… ohne Berücksichtigung von den politischen Meinungen oder dem ethnischen Hintergrund, und so weiter. Die Opfer waren erschlagen und die Reste haben leichtes sowohl auch schweres Trauma. Der Wahl 2019 waren teuer zu stehen gekommen … Die Ursache von 600 gestorbenen und kranken Angehörige des Ausschusses für die Sammlung der Abstimmung sind noch nicht enthüllt. Jetzt muss die indonesische Bevölkerung (als der Inhaber der Souveränität dieser Nation) über die getöteten Jugendliche wieder betrauern. Die mochten nur Ihre Meinungen äußern. Der Gouverneur von Jakarta berichtete, dass in den Massenausschreitungen am 21.05. bis zum 22.05.2019 schon 6 Opfer gestorben und 737 Menschen verletzt sind (Meldung am 23.05., um 11 Uhr). 93 Menschen haben ,,untraumatischen‘‘ Wunde und 79 waren schwer verletzt. Dann waren 462 leicht verletzt und 95 Menschen sind noch in der Untersuchung, ihre Wunde sind noch nicht bestimmt. Die Verletzten sind meistens Jugendlicher von 20 bis 29 Jahre alt, die 294 Menschen sind. Und andere 170 Menschen sind unter 19 Jahre alt. Als freiwillige Sozialdienst in der Richtung von Katastrophenfall, Humanitär und medizinischem Notfall hat MER-C ihre Ehrenamtliche seit 21.05 bis zum Morgengrau am 23.05.2019 zusammengeführt. Um die zivilen sowohl auch amtlichen Verletzten zu behandeln, sind 4 Einsatzwagen und mehr als 30 Ehrenamtlicher bereitgehalten. Die Ehrenamtliche sind Ärzte, Krankenpfleger und medizinischen Versorger. MER-C kritisiert die Regierung und amtliche Sicherheit für die Unterdrückungsmaßnahme scharf, worin sie die Demonstranten ohne Berücksichtigung der Einschätzung von Menschlichkeit und internationale Konvention behandelt haben. Hiermit sind unsere Aufzeichnungen von der Demonstration am 21.05.2019-23.05.2019 aus der Perspektive der Menschlichkeit und Medizin: 1. Die Behandlung der Demonstranten war mit Schusswaffen und Folter. Die amtliche Sicherheit hat auch: – Jugendlicher geschossen – Die Demonstranten in der Moschee gejagt – eng geschossen – die gefallenen Leute noch geschossen – direkt das Tränengas, Gummigeschoss und auch scharfe Geschosse benützt, nicht den Wasserwerfer 2. Die medizinischen Ehrenamtliche Sie sind im Genfer Abkommen (engl. Geneva Convention) die beschützte Gesellschaft im Krieg und Konflikt. Die amtliche Sicherheit sollte auch als die Beschützer der medizinischen Ehrenamtliche während ihrer Dienst. Aber in der letzten Demonstration gab es einen Eindruck von der Polizei, dass sie die medizinischen Ehrenamtliche von der Evakuierung abgehalten haben. Der Krankenwagen durfte nicht reinkommen. Der erste Genfer Abkommen 1949, Artikel 24: Die medizinischen Ehrenamtliche, die ausschließlich mit der Suche, Rettung, dem Transport und der Behandlung von Verletzten beauftragt sind, müssen auf jeden Fall respektiert und beschützt werden. Der erste Genfer Abkommen 1949, Artikel 25: Die bewaffneten amtlichen Mitglieder müssen auch respektiert und beschützt werden, die die Krankenhauspersonal, -pfleger, oder -tragen bei der Suche, Rettung, dem Transport und der Behandlung von Verletzten unterstützen. Im Fall sind sie während ihrer Unterstützungen einen Kontakt mit dem Feind aufgenommen oder in seine Hände gefallen. Der vierte Genfer Abkommen 1949, Artikel 20, der erste Absatz: Die Menschen, die regelmäßig und ausschließlich mit dem Betrieb und der Verwaltung ziviler Krankenhäuser befasst sind sowohl auch mit der Suche, Rettung, dem Transport und der Behandlung von zivilen Verletzten, Schwach- und Schwangerschaftsfälle beauftragt sind, müssen auch respektiert und beschützt werden. Zusatzprotokolle I 1977 Artikel 15 (1): Die Beschützung des zivilen medizinischen und religiösen Personals. 1. Das zivile medizinische Personal muss respektiert und beschützt werden. 2. Wäre es notwendig, muss alle verfügbaren Unterstützungen durch das zivile medizinische Personal gegeben werden, wo der zivile medizinische Dienst wegen des Kriegs zerstört ist. 3. Krankenwagen Angriff auf die Krankenwagen und Unterdrückungsmaßnahme von der amtlichen Sicherheit zum Krankenwagens Personal. Diese Ereignisse werden schwer, zu vergessen und auf die Geschichte von Indonesien zu entfernen. Die werden immer da sein … Es ist wichtig, auf diese Ereignisse zu lernen, um solchen Katastrophen zu vermeiden. Bitte fangen Sie mit überzeugenden weisen Methoden sowohl auch Respekt für die gestorbenen und verletzten Opfer an. MER-C legt sich auch auf fest,