RELAWAN INDONESIA DI GAZA: “SEHARI MENJADI DOKTOR”

‘Doktor’ Nur Ikhwan Abadi menyampaikan kuliah ilmiah di hadapan mahasasiswa S2 dan S3 Management & Politics Academy for Postgraduated Studies, di Kota Gaza, Sabtu (21/3). (Foto: Mirajnews) Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency) Jalur Gaza – Sungguh tidak disangka, jika seorang relawan Indonesia di Jalur Gaza, Palestina, mendadak mendapat gelar “doktor” dalam sehari. Tapi, itulah yang terjadi dan diterima oleh Nur Ikhwan Abadi, relawan kemanusiaan MER-C (Medical Emergency Resque Committee) asal Indonesia yang sedang membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Peristiwa bersejarah itu terjadi Sabtu kemarin (21/3), saat Nur Ikhwan, didaulat memberikan ceramah ilmiah bertajuk “Indonesian role to strengthening the international position of Palestinian issues” (Peran Indonesia untuk memperkuat isu Palestina dalam posisi internasional), di hadapan mahasiswa S2 dan S3 Management & Politics Academy for Postgraduated Studies, di Kota Gaza. “Di hadapan para mahasiswa, juga undangan dari pejabat pemerintah, media, dan perwira tinggi kepolisian Palestina, saya diminta berbicara tentang peran Indonesia, dan saya diberi gelar ‘doktor sehari’ untuk seminar tersebut,” ujar ‘Doktor’ Nur Ikhwan Abadi, yang juga Kepala Biro Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency) Timur Tengah berkedudukan di Palestina. Menurutnya, ada tiga pembicara dalam seminar ilmiah tersebut, yaitu Dr. Tayseer Mehasen (Direktur Jenderal Hubungan Internasional Kementerian Luar Negeri Palestina), Ir. Omar Jomah Shiyam (Manager Aman Palestine Cabang Gaza), dan moderator Dr. Ihab Swaikh. Pada kesempatan itu, Nur Ikhwan, yang juga alumni tarbiyah Pesantren Al-Fatah Muhajirun, Negararatu, Natar, Lampung Selatan, menyampaikan tentang peran pemerintah dan rakyat Indonesia dalam mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina dan pembebasan Al-Aqsha. “Indonesia pernah melaksanakan Konferensi Internasional untuk Kemerdekaan Palestina dan Pembebasan Al-Quds di Bandung tahun 2012. Seluruh komponen pemerintah dan rakyat Indonesia mendukung penuh kemerdekaan Palestina dan pembebasan Al-Aqsha dari belenggu penjajahan Israel,” ujarnya. Pada Konferensi Internasional Palestina “International Conference for The Freedom of Al-Quds and Palestine”, yang digagas Jama’ah Muslimin (Hizbullah) sebagai Khilafah ‘alaa minhaajin nubuwwah (Khilafah yang mengikuti jejak kenabian), Bandung, 14-15 Sya’ban 1433 H./4-5 Juli 2012 M. menghasilkan Deklarasi Bandung untuk Pembebasan Al-Quds. Isi Deklarasi Bandung antara lain; bahwa untuk suksesnya perjuangan pembebasan Al-Quds dan Palestina dituntut dukungan yang lebih nyata dari kaum Muslimin pada khususnya dan komunitas internasional pada umumnya. Selanjutnya, disebutkan juga guna menyatukan langkah perjuangan pembebasan Al-Quds dan Palestina tersebut, mengamanahkan kepada H. Muhyiddin Hamidy sebagai Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) sebagai pemimpin bagi upaya-upaya untuk mempercepat pembebasan Al-Quds dan kemerdekaan Palestina yang didukung oleh organisasi-organisasi yang peduli dalam permasalahan Palestina. Sidang Konferensi juga merekomendasikan kepada pihak-pihak Pemerintah dan Parlemen untuk menegaskan pesan pembebasan Al-Quds dan Palestina melalui lembaga Negara. Serta melakukan advokasi hukum terhadap bangsa Palestina terutama kaum perempuan dan anak-anak serta mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengadili kejahatan rezim Zionis Israel atau pemimpin-pemimpinnya yang dzalim. Peserta sidang juga siap menghimpun dan mendayagunakan bantuan-bantuan material dan non material untuk menolong Al-Quds dan Palestina, dan secara khusus mendesak Pemerintah Republik Indonesia untuk membuka Konsulat Pelayanan Diplomatik di wilayah Jalur Gaza. Putusan lain yang penting adalah mempersiapkan pelaksanaan konferensi selanjutnya di Gaza atau tempat-tempat lain sesuai situasi dan kondisi yang berkembang, Mengutus delegasi untuk memfasilitasi perdamaian dan ishlah dari faksi-faksi di Palestina serta mempromosikan kesatuan Muslimin di Palestina dan memprakarsai boikot terhadap produk-produk yang mendukung rezim Zionis Israel. Nur Ikhwan Abadi (Foto: Mirajnews) Konsulat RI di Gaza Nur Ikhwan, alumni Teknik Sipil Universitas Lampung itu, menyampaikan alternatif dukungan politis pemerintah Indonesia untuk Palestina, antara lain adalah dalam bentuk pendirian Konsultas RI di Jalur Gaza. Menurutnya, hal itu sangat memungkinkan, apalagi ada beberapa mahasiswa setempat di Jalur Gaza yang siap mendukung rencana seperti itu. Nur Ikwhan, juga adalah delegasi khusus Jama’ah Muslimin (Hizbullah), wadah kesatuan umat Islam, berpusat di Bogor, Indonesia, yang secara khusus memiliki agenda Ghazwah Fath Al-Aqsha (pembebasan Al-Aqsha) sejak 2007, dan Kepala Koresponden Kantor Berita Islam MINA di Timur Tengah. “Selain kemungkinan pembukaan Konsulat RI di Jalur Gaza, upaya lainnya adalah advokasi hukum oleh Indonesia untuk warga Palestina, terutama wanita dan anak anak atas tindakan kriminal Israel,” paparnya. Upaya lain adalah dengan terus menggencarkan aksi dan kampanye boikot produk-produk Israel, serta upaya melaksanakan konferensi yang dihadiri tokoh-tokoh Indonesia, bertempat di Jalur Gaza. Pada pertemuan pemaparan, ‘Doktor’ Nur Ikhwan juga menyampaikan, salah satu delegasi Konferensi Bandung adalah Menteri Pemuda dan Olahraga Palestina pada pemerintahan PM Ismail Haniyah sebelum pemerintahan persatuan terbentuk, Dr. Muhammad Al-Madhoun. Mendengar nama itu disebut, hadirin pun riuh dan bersorak. Mereka menyebut dan sambil menunjuk ke sosok yang disebut itu, adalah Direktur Akademi tersebut. Nur Ikhwan sendiri sebelumnya belum tahu hal itu. Lalu, masuklah Dr. Al-Madhoun yang sebelumnya hanya di luar, dan ia pun ikut bicara dengan senyuman. Setelah sebelumnya berangkulan dengan Nur Ikhwan, dengan mesra bak saudara kandung. Al-Madhoun menyarankan agar perwakilan pemerintah Indonesia segera dibentuk saja di Jalur Gaza. “Langkah awal bisa saja tidak dalam bentuk Konsulat resmi, tetapi dapat melalui misalnya Pusat Pendidikan atau Pusat Kebudayaan,” ujarnya bersemangat. Pihaknya juga siap membantu pelaksanaan Konferensi serupa yang pernah diselenggarakan di Bandung, Indonesia, untuk dilaksanakan di Kota Gaza. Ia juga mengapresiasi keberadaan Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency – Wakalah Mi’raj lil anba al-islamiyyah), sebagai tindak lanjut dari Konferensi Bandung 2012. Menurutnya, cabang-cabang MINA perlu didirikan di setiap negeri Muslim, agar kaum Muslimin dapat mengikuti perkembangan dunia Islam pada umumnya, serta perkembangan Indonesia pada khususnya, yang mayoritas Muslim sebagai salah satu barometer perjuangan dunia Islam. Sementara itu, Dr. Tayseer Mehasen, Direktur Jenderal Hubungan Internasional Kementerian Luar Negeri Palestina di Jalur Gaza, menyatakan siap membantu merealisasikan pembentukan perwakilan tersebut. Menurutnya, apalagi hubungan Kementerian Luar Negeri antara Jalur Gaza dan Tepi Barat saat ini berjalan baik. Kemenlu di Jalur Gaza berjalan, dan Kemenlu di Tepi Barat juga berjalan. Dari segi keamanaan juga sangat memungkinkan, ujarnya. “Namun yang paling penting dari semuanya adalah bagaimana negeri-negeri Muslimin semakin meningkatkan perannya terhadap Al-Quds dan Palestina,” paparnya. Seret Israel ke Mahkamah Di akhir sesi kuliah ilmiah, seorang mahasiswa bernama Kayd Jarbou, menyatakan seiring pendirian perwakilan di Gaza, dia dan rekan-rekan mahasiswa lainnya siap menghubungkan tim pengacara di Indonesia dengan lembaga-lembaga di Jalur Gaza yang konsen terhadap isu kejahatan Zionis Israel. Mahasiswa yang bekerja di lembaga advokasi juga siap memberikan data-data kepada para pengacara
Banyak Blokade, Gaza Sulit Dapat Bantuan

Anak-anak kecil yang tinggal di Jalur Gaza kondisinya memprihatinkan. REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Warga Rafah yang berada di sisi selatan Jalur Gaza dikabarkan kesulitan mendapatkan akses rumah sakit akibat blokade baik itu dari Israel maupun Mesir. Terkait hal itu, salah satu presidium organisasi kemanusiaan Medical Emergency Rescue Commitee (Mer-C), Joserizal Jurnalis, mengaku proyek pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza sudah selesai namun masih menghadapi permasalahan. ”Rumah Sakit Indonesia sudah selesai, begitu juga Wisma Indonesia dan masjid yang berada di belakangnya juga sudah kita rehab. Masalahnya kami perlu membeli barang, namun terbentur permasalahan dari blokade pintu-pintu ini,” ujar Joserizal kepada Republika.co.id, Rabu (18/3). Dengan adanya blokade, kata Joserizal, warga pun kesulitan mendapat obat-obatan. Untuk menembus perbatasan Rafah, kata Joserizal, pihaknya belum mendapatkan izin dari pihak Mesir karena masih ada operasi militer. Joserizal mengakui kondisi di Sinai memang tidak kondusif. Meski begitu, Joserizal mengaku telah mendapat janji untuk masuk ke Jalur Gaza pada Juni nanti. Pihaknya pun berencana untuk membuat grand opening RSI di Gaza. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/15/03/18/nlezro-banyak-blokade-gaza-sulit-dapat-bantuan
MER-C: Jangan Lelah Suarakan Pembebasan Blokade Gaza

Blokade Gaza REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Salah satu Presidium organisasi kemanusiaan Medical Emergency Rescue Commitee (MER-C) Joserizal Jurnalis menilai blokade untuk Jalur Gaza menjadi masalah terpenting untuk meningkatkan kesejahteraan warga Palestina di wilayah tersebut. “Blokade israel ini menjadi masalah. Laut di depan Gaza itu kan laut bebas, seandainya tidak di blokade mereka (warga Jalur Gaza) bisa bebas berdagang dan tidak bergantung pada orang lain,” ujar Joserizal kepada ROL, Rabu (18/3). Ia menilai, warga tidak akan bergantung pada bantuan-bantuan dari negara donor. Pembukaan blokade, kata Joserizal, akan memberikan kesejahteraan yang lebih baik. Joserizal mengatakan, bantuan yang paling penting adalah untuk selalu menyuarakan tuntutan membuka blokade. “Itu penting karena Palestina sebenarnya bisa mandiri. Kita tidak boleh letih untuk bersuara,” ujarnya. Menurutnya, jika blokade dibuka, Jalur Gaza hanya membutuhkan bantuan pada tahap awal. Ia mengaku yakin dengan hal itu karena menilai warga Palestina sebagai masyarakat yang ulet. Meski begitu, Joserizal mengaku blokade dibuat sehingga menimbulkan problem politis. “Karena blokade, Gaza harus bergantung pada negara negara donor. Padahal, Gaza memiliki pantai dan tentunya bisa digunakan sebagai kota perdagangan,” ujarnya. Sumber : http://internasional.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/15/03/18/nlejrf-merc-jangan-lelah-suarakan-pembebasan-blokade-gaza
MER-C akan Bangun Klinik Kesehatan untuk Pengungsi di Myanmar

Dubes Indonesia untuk Myanmar, Dr Ito Sumardi memberi sambutan saat menerima bantuan dari MER-C untuk pengungsi di Myanmar REPUBLIKA.CO.ID, YANGON, MYANMAR — Tim Medical Emergency Recue Committee (MER-C) telah menuntaskan misi kemanusiaan kedua mereka di Myanmar, tepatnya di Sittwe, Rakhine State, tempat konflik komunal antara Muslim Rohingya dan Buddha Rakhine pecah pada 2012 silam. Misi berlangsung selama 11 hari bulan Februari lalu. Dengan nota diplomatik dan fasilitasi penuh dari KBRI Yangon, tim berhasil masuk ke tujuh kamp Muslim dan Budha dari sekitar 15 kamp yang ada di Sittwe. Di sana tim melakukan berbagai misi kemanusiaan, diantaranya menyalurkan bantuan obat-obatan dan paket alat kesehatan yang diterima langsung Dinas Kesehatan Sittwe serta makanan bagi para pengungsi di dalam kamp. Setelah tim kembali ke Yangon, MER-C menyerahkan bantuan tambahan berupa satu unit ambulans, seprei dan selimut sebanyak 200 paket. Bantuan itu diserahkan dan diterima langsung oleh Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Ito Sumardi untuk nantinya didistribusi oleh KBRI ke klinik dan rumah sakit. Tidak hanya bantuan tersebut, Mer-C juga memiliki program jangka panjang. Yakni mendirikan klinik kesehatan. Dengan bantuan dan fasilitasi penuh dari pihak KBRI Yangon, klinik kesehatan itu rencananya akan dibangun di Desa Thaykan, Minbya Township, Rakhine State, berdampingan dengan dua dari empat sekolah Indonesia di sana. Dua klinik itu akan berfungsi memberi pelayanan kesehatan bagi para pengungsi Muslim Rohingya dan Budha Rakhine pada khususnya dan masyarakat sekitar pada umumnya. “Dan MER-C juga akan mengirim dokter secara berkala ke sana,” ujar Tonggo Meaty Fransisca selaku ketua tim kemanusiaan MER-C 2 untuk Myanmar. Menanggapi hal ini, Ito Sumardi menyatakan, rencana pembangunan klinik berdampingan dengan sekolah Indonesia di sana merupakan hal yang sangat baik. Selain dapat membantu akses pendidikan dan kesehatan bagi pengungsi dan masyarakat Myanmar pada umumnya, keberadaan klinik MER-C juga akan mempererat hubungan antara Indonesia dan Myanmar. “Ini adalah ide yang brilian. Dan saya akan segera buat konsep klinik untuk sebagai pelengkap sekolah kita,” kata Ito. Pemerintah dalam hal ini KBRI di Myanmar, kata Ito, siap mendukung penuh program tersebut. “Saya siap dukung 1.000 persen. Dan nanti saya sendiri yang akan datang langsung dalam peresmian atau peletakan batu pertama,” kata dia. Sumber : http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/03/16/nlax57-merc-akan-bangun-klinik-kesehatan-untuk-pengungsi-di-myanmar
Pemerintah Apresiasi Kepedulian MER-C untuk Pengungsi di Myanmar

Dubes Indonesia untuk Myanmar, Dr Ito Sumardi memberi sambutan saat menerima bantuan dari MER-C untuk pengungsi di Myanmar REPUBLIKA.CO.ID, YANGON, MYANMAR — Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Ito Sumardi mengapresiasi berbagai kegiatan yang dilakukan relawan Medical Emergency Rescue and Committee (MER-C) di Myanmar, khususnya bagi para pengungsi di Sittwe, Rakhine. Menurutnya apa yang dilakukan MER-C membantu mempercepat proses rekonsilisasi antara dua kelompok. “Saya melihat betul MER-C adalah organisasi yang berlandaskan kemanusiaan,” ujar Ito Sumardi saat menerima bantuan tambahan dari MER-C, di KBRI Yangon, Myanmar. Pada bulan Februari lalu Mer-C kembali mengirim tim kemanusiaan ke sittwe, Rakhine, Myanmar. Selama 11 hari relawan MER-C melakukan sejumlah kegiatan sosial, dimana tiga hari diantaranya tim masuk ke dalam lokasi kamp pengungsian. Total ada tujuh kamp pengungsian Muslim dan Budha yang didatangi MER-C. Selama disana, tim MER-C menyalurkan bantuan berupa obat-obatan dan makanan. Serta bantuan tambahan berupa sprei dan selimut yang penyalurannya diserahkan melalui KBRI di Yangon, Myanmar. Lebih lanjut Ito mengatakan, pihaknya siap membantu dan memfasilitasi berbagai program yang akan dilakukan masyarakat Indonesia melalui MER-C untuk pengungsi di Myanmar. “Saya sampaikan bahwa KBRI siap mendukung 1000 persen untuk merealisasikan program-program MER-C,” kata dia. “Silahkan sampaikan ke kami apa saja program-program dari MER-C pasti akan saya dukung, yang penting membawa semangat kemanusiaan,” kata dia lagi. Sumber : http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/03/16/nlawvx-pemerintah-apresiasi-kepedulian-merc-untuk-pengungsi-di-myanmar
MER-C Juga Sumbang Ambulans untuk Pengungsi di Myanmar

dr Tonggo Meaty Fransisca (dua dari kanan) menyerahkan secara simbolis bantuan berupa seprai, satung bantal, selimut dan juga satu unit ambulans yang diterima langsung oleh Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Dr Ito Sumardi. Bantuan nantinya akan didistrib REPUBLIKA.CO.ID, YANGON, MYANMAR — Meski mendadak tidak mendapat izin melakukan pelayanan medis secara langsung, relawan Mer-C Indonesia yang menjalankan misi kemanusiaan di provinsi Rakhine, Myanmar bulan Februari lalu berhasil masuk ke lebih dari tiga kamp. Dengan kesempatan itu Mer-C bisa melakukan pengamatan lebih detail terkait kondisi yang ada di lapangan, khususnya untuk fasilitas kesehatan. Tonggo Meaty Fransisca selaku ketua tim mengatakan, dari hasil pengamatan di lapangan, pihaknya menyimpulkan bahwa sejak tahun 2012, ketika Mer-C memberangkatkan tim untuk melakukan assesment dan penyaluran bantuan medis tahap awal, telah terjadi banyak perubahan. Sistem pelayanan kesehatan, khususnya di dalam kamp saat ini telah berjalan baik. Namun prasarana penunjang kesehatan di sana masih kurang. Berdasarkan hal tersebut, wanita yang akrab disapa Mea ini menyatakan, pihaknya saat itu juga langsung memutuskan untuk memberi bantuan tambahan berupa seprai, sarung bantal, selimut selain obat-obatan dan paket alat kesehatan. Tidak hanya itu, Mer-C juga memberikan satu unit ambulans “Awalnya kita tidak tahu, tapi ternyata mereka lebih butuh itu,” kata Mea. Dengan fasilitasi dari pihak KBRI di Myanmar, Mer-C berhasil merampungkan bantuan tersebut hanya dalam waktu empat hari untuk kemudian disalurkan melalui pihak KBRI di Yangon, Myanmar. “Kita melihat apa prasarana yang kurang di sana. Dan yang paling terpenting adalah ambulans,” kata Mea. Bantuan tersebut kemudian secara resmi diserahkan dan diterima langsung kepada Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Ito Sumardi pada 25 Februari 2015. Sumber : http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/03/16/nlawac-merc-juga-sumbang-ambulans-untuk-pengungsi-di-myanmar
Mer-C Indonesia Salurkan Obat-obatan ke Pengungsi di Myanmar

Penyerahan simbolis bantuan obat-obatan dari tim kemanusiaan MER-C Indonesia untuk pengungsi di Rakhine, Myanmar, yang diterima oleh Dr. Aung Thurein selaku Deputy State Health Director of Sittwe REPUBLIKA.CO.ID, RAKHINE, MYANMAR — Organisasi kemasyarakatan sosial Medical Emergency Committee (MER-C) Indonesia kembali mengirim relawan ke provinsi Rakhine, Myanmar. Dalam misi yang berlangsung selama 11 hari pada bulan Februari kemarin, tim Mer-C melakukan sejumlah kegiatan. Mulai dari pemberian obat-obatan serta paket alat kesehatan. Tonggo Meaty Fransisca selaku ketua tim mengatakan, sedianya MER-C akan melakukan pengobatan medis secara langsung di dalam kamp. Namun karena izin ketat yang diterapkan pemerintah Myanmar, tim tidak dapat melakukan kegiatan tersebut. Padahal sebelumnya tim telah mengurus segala perizinan yang dibutuhkan. “Kita memang sudah persiapkan diri dari Jakarta bahwa berdasarkan pengalaman, misi di Myanmar tidak pernah berjalan mulus, pasti ada yang berubah,” kata Fransesca. Kendati demikian, lanjut wanita yang akrab disapa Mea ini, berkat lobi yang cukup alot dengan pemerintah Myanmar, khususnya dengan negara bagian Rakhine, pihaknya diizinkan masuk ke lebih dari satu kamp. Padahal berdasarkan izin yang didapat sebelumnya, Mer-C hanya mendapat izin masuk ke satu kamp. “Setidaknya kita bisa masuk ke empat kamp muslim dan tiga kamp Rakhine. Dari situ kita bisa lihat langsung bagaimana keadaanya, khususnya fasilitas kesehatan,” kata dia. Dr. Aung Thurein selaku Deputy State Health Director of Sittwe mengucapkan terima kasih atas perhatian dan bantuan yang diberikan masyarakat Indonesia melalui MER-C. Ia berjanji akan menyalurkan bantuan obat-obatan dengan baik. “Terima kasih yang besar atas hal ini, saya akan pastikan obat-obatan dan paket alat kesehatan diberikan secara baik dan kepada orang-orang yang tepat,” kata dia. Thurein menjelaskan, sistem pelayanan kesehatan di Sittwe termasuk di dalam kamp telah berjalan baik. Di setiap kamp terdapat pusat kesehatan yang disebut sebagai Self Centre. Di jenjang ini self centre melakukan pemeriksaan dan pengobatan untuk penyakit-penyakit yang tergolong ringan. Namun jika pasien diputuskan untuk mendapat pemeriksaan lebih lanjut, pasien akan dirujuk ke Health Centre yang letaknya berada di tingkat semacam kecamatan. Setiap kecamatan setidaknya memiliki lima hingga 10 Health Centre. “Tentunya tergantung juga pada luasnya area dan besaran populasi,” kata dia. Setelah itu, di tingkat paling atas adalah fasilitas di setingkat Kabupaten/Kota. Di tingkat ini terdapat Station Hospital yang dapat memberikan perawatan lebih mendalam. “Sarana dan prasarana di fasilitas ini sudah mencukupi, bisa untuk city scan juga tindakan operasi,” kata dia. Dalam menjalankan sistemnya itu, Thurein menjelaskan pihaknya memiliki 224 orang tenaga medis yang terdiri dari 43 dokter dan 95 perawat serta tenaga medis lainnya. Sumber : http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/03/16/nlam7r-merc-indonesia-salurkan-obatobatan-ke-pengungsi-di-myanmar
Myanmar Dulu dan Kini serta Peran Penting Indonesia

Setelah menunggu proses pengurusan ijin di pihak-pihak terkait selama + 3 bulan, akhirnya pada tanggal 16 Februari 2015 MER-C dapat mengirimkan Misi Kemanusiaan ke-2 ke Myanmar. Misi kemanusiaan ke-2 ini berselang lebih dari 2 tahun dari misi pertama sebelumnya pada September 2012. Tujuan dari Tim ini adalah melaksanakan penilaian ulang kondisi terkini pasca konflik di Rakhine State dan menindaklanjuti rencana pembangunan “Indonesia Health Center”. (Laporan Misi Kemanusiaan ke-2 MER-C ke Myanmar) Berbekal Nota Diplomatik dari Kemenlu RI dan bantuan dari KBRI Yangon, akhirnya Tim MER-C mendapat izin untuk bisa masuk sampai ke Sittwe, Rakhine State, dimana konflik komunal antara Muslim Rohingya dan Budha Rakhine terjadi. Tim yang dikirimkan sebanyak 7 orang relawan dengan berbagai keahlian baik medis maupun non medis. Misi berlangsung selama 10 hari mulai tanggal 16–26 Februari 2015. Karena proses perizinan yang sangat ketat bahkan harus mendapat persetujuan hingga ke Kantor Kepresidenan Myanmar, maka dari 10 hari masa tugas, Tim MER-C mendapat izin tinggal selama 3 hari untuk mengunjungi lokasi kamp-kamp pengungsian di Rakhine State. Dengan pengawalan ketat sepanjang perjalanan oleh tentara Myanmar, Tim MER-C berkesempatan mengunjungi 7 kamp pengungsian dari sekitar 15 kamp yang ada di Sittwe saja, Ibukota Rakhine State. Ketujuh kamp yang dikunjungi Tim MER-C terdiri dari 4 kamp Muslim dan 3 kamp Budha/Rakhine, sbb: Pertama, Kamp That Kay Pin (Kamp Muslim) Kedua, Kamp Kaung Doke Khar (Kamp Muslim) Ketiga, Kamp West San Pya (Kamp Muslim) Keempat, Kamp Say Tha Mar Gyi (Kamp Muslim) Kelima, Kamp Say Young Su (Kamp Rakhine/Budha) Keenam, Kamp Sad Yo Kya 1 (Kamp Rakhine/Budha) Ketujuh, Kamp Sad Yo Kya 2 (Kamp Rakhine/Budha) Tim MER-C cukup terkejut melihat sudah banyak perubahan yang terjadi di kamp-kamp pengungsian di Sittwe ini, dibandingkan saat Tim MER-C berkunjung pada September 2012 lalu. Kegiatan belajar mengajar di kamp-kamp di Sittwe sudah mulai berjalan meskipun dengan bangunan sekolah yang masih sangat sederhana (semi permanen). Sarana dan kegiatan pelayanan kesehatan juga sudah mulai berjalan. Layanan kesehatan berlangsung di klinik-klinik dalam kamp dan di Rumah Sakit emergensi dalam kamp. Pelayanan berlangsung rutin setiap Senin-Jumat mulai pukul 08.00-14.00. Diluar jam tersebut ada bidan dan perawat yang bertugas, bila terjadi kasus gawat darurat, ambulans bisa dipanggil dan pasien dapat dirujuk ke rumah sakit di pusat kota Sittwe. Selain program pelayanan kesehatan di Klinik atau RS, terdapat juga program mobile clinic rutin setiap hari, program vaksinasi di tiap-tiap klinik, layanan antenatal care oleh bidan dan pelatihan persalinan untuk tenaga kesehatan tradisional. Berdasarkan informasi dari Dinas Kesehatan setempat, terdapat juga program penyuluhan kebersihan dan program penyuluhan TB paru. Telah tampak juga toilet dan sumber air bersih di tiap-tiap kamp. Sebagian besar bantuan diberikan secara otonom dari lembaga donor internasional dengan koordinasi langsung dengan pemerintah setempat. Bantuan Indonesia dan Rencana Pembangunan “Indonesia Health Center” Tim MER-C pada misi kemanusiaan ke-2 ini menyalurkan bantuan berupa 1 unit ambulans, bantuan obat-obatan yang diterima oleh Dinas Kesehatan Rakhine State, bantuan makanan ke masing-masing kamp, bantuan sprei dan selimut sebanyak 200 paket untuk disebar ke klinik-klinik dan Rumah Sakit, serta dua unit genset. Indonesia sendiri melalui Pemerintah RI memberikan bantuan untuk pembangunan 4 unit sekolah. Lokasi pembangunan sekolah diantaranya di wilayah Minbya, masih dalam provinsi Rakhine State. Namun, karena izin kunjungan Tim yang singkat dan diperlukan izin lenih lanjut untuk mengunjungi Minbya, Tim MER-C tidak berkesempatan mengunjungi wilayah ini. Menurut informasi, wilayah pengungsian di Minbya, kondisinya belum sebaik kamp pengungsian di Sittwe. Dua unit genset bantuan dari rakyat Indonesia melalui MER-C, rencananya akan ditempatkan di sekolah Indonesia di Minbya. Untuk memberikan manfaat jangka panjang bagi korban konflik komunal di Rakhine State, atas nama dan donasi dari rakyat Indonesia, MER-C mencanangkan program jangka panjang berupa pembangunan “Indonesia Health Center”. Melihat langsung kondisi kamp pengungsian di Sittwe, Rakhine State yang sudah berkembang cukup baik, maka MER-C berencana untuk menjalankan program pembangunan “Indonesia Health Center” ke wilayah pengungsian lain yang masih minim sarana kesehatan, seperti di Minbya, dimana sekolah Indonesia berada. Perlakuan Diskriminatif Meskipun sudah banyak perubahan yang terjadi, namun berdasarkan pengamatan Tim MER-C masih berlangsung permasalahan krusial, yaitu perlakukan diskriminatif yang akan menjadi masalah utama ke depan, khususnya bagi sebagian besar warga muslim di Myanmar, tidak hanya warga muslim dari etnis Rohingya. Pertama, Stateless. Stateless adalah masalah yang dihadapi sebagian besar warga muslim di Myanmar. Sampai dengan saat ini mereka belum diakui sebagai warga negara Myanmar. Mereka tidak mempunyai kartu identitas penduduk tetap yang menjadi hak setiap warga negara. Hal ini menyebabkan warga muslim misalnya tidak dapat membuat paspor, anak-anak yang lulus sekolah tidak bisa mendapat ijazah sehingga mereka tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dsb. Kedua, Warga kamp muslim di Rakhine State tidak dapat keluar masuk Kamp dengan bebas, harus ada alasan yang sangat penting untuk bisa mendapat izin keluar dari kamp. Suasana berbeda kami temui saat mengunjungi kamp Budha. Warga kamp Budha dapat keluar masuk kamp dengan bebas dan mudah untuk bekerja, bersekolah, dsb. Peran Penting Indonesia Permasalahan stateless atau tidak diakuinya sebagian besar warga Muslim di Myanmar sebagai warga negara oleh Pemerintah setempat ditambah tidak bisanya warga muslim dalam penampungan di Rakhine State keluar masuk kamp dengan bebas adalah perlakuan yang sangat diskriminatif. Hal ini tentu sangat disayangkan di kala perubahan-perubahan terjadi lebih baik di kamp-kamp yang ada. Terlebih lagi warga muslim Myanmar sudah turun temurun tinggal di negara ini dan berjuang bersama hingga tercapai kemerdekaan Myanmar. Indonesia sebagai bangsa yang besar di Asia Tenggara kami harapkan dapat mengambil peran yang lebih besar dalam membantu menyelesaikan permasalahan ini. Rekomendasi MER-C kepada Pemerintah RI dalam membantu penyelesaian permasalahan di Myanmar sbb: Pertama, Mendorong Pemerintah Indonesia aktif melakukan pendekatan-pendekatan kepada Pemerintah Myanmar mengenai masalah kewarganegaraan bagi minoritas muslim Myanmar; Kedua, Bersama Pemerintah RI dan pihak terkait lainnya untuk mengadakan pertemuan-pertemuan/perundingan-perundingan regional dan internasional untuk mengangkat isu kewarganegaraan minoritas muslim di Myanmar disamping isu kemanusiaan yang berkembang; Ketiga, Pemerintah RI memfasilitasi program-program bantuan dari lembaga-lembaga di Indonesia untuk mewujudkan program-program jangka menengah dan panjang khususnya di Rakhine State, Myanmar.
MER-C Indonesia Siapkan Program Jangka Panjang untuk Pengungsi di Myanmar

dr. Tonggo Meaty Fransisca (dua dari kiri) selaku ketua tim kemanusiaan kedua MER-C untuk Myanmar tengah berbincang dengan Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Dr Ito Sumardi di kantor KBRI di Yangon, Myanmar. REPUBLIKA.CO.ID, YANGON — Organisasi kemasyarakatan sosial Medical Rescue Emergency Commitee (MER-C) Indonesia kembali mengirim tim kemanusiaan ke provinsi, Rakhine, Myanmar. Ini adalah kali kedua MER-C Indonesia mengirim tim ke Myanmar, setelah pada 2012 lalu MER-C memberangkatkan tim untuk melakukan assesment dan penyaluran bantuan medis tahap awal. Dalam misi kedua ini, MER-C mengirim tujuh orang relawan, yang terdiri dari satu dokter spesialis penyakit dalam, dua dokter umum, dua perawat, serta dua relawan non medis dari divisi konstruksi dan divisi bantuan logistik. Tim berangkat pada Senin (19/2) lalu. Keberangkatan tim dilepas dua Presidium MER-C, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT dan Ir. Faried Thalib serta sejumlah relawan MER-C di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta. Berbeda dengan tim sebelumnya, tim kedua ini memiliki target berbeda. Tim memiliki misi jangka pendek dan jangka panjang. Target jangka pendek adalah kembali masuk ke dalam pengungsian dan menyalurkan bantuan medis secara langsung. Sementara program jangka panjang adalah membangun “Indonesia Health Center” dan program lanjutan lainnya. Tim berangkat tepat pukul 13.10 WIB dan tiba di Yangon International Airport pada pukul 18.05 waktu setempat. Sebelumnya tim transit lebih dulu di Suvarnabhumi International Airport, Bangkok. Keesokan paginya, Selasa (20/2), tim bertemu dengan Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Dr. Ito Sumardi. Dalam kesempatan itu dr. Tonggo Meaty Fransisca selaku ketua tim memaparkan sejumlah misi yang akan dilakukan MER-C selama di Myanmar. “Yang pasti adalah menindaklanjuti assessment sebelumnya, yakni memberikan bantuan medis secara langsung untuk kedua belah pihak (Rohingya dan Rakhine),” kata Mea. Selanjutnya, kata dia, tim juga akan melihat sekaligus menentukan program jangka panjang yang tepat untuk dilakukan MER-C, sesuai dengan amanah donasi dari rakyat Indonesia. “Diantaranya adalah pembangunan Indonesia Health Centre sekaligus mengirim dokter dua bulan sekali. Karena berdasarkan hasil assessment pertama, klinik adalah fasilitas yang sangat dibutuhkan para pengungsi,” kata Mea. Menanggapi hal ini Ito Sumardi sangat mengapresiasi apa yang dilakukan MER-C Indonesia. Menurutnya hal ini akan membantu mempercepat proses rekonsiliasi antara dua kelompok, khususnya yang berada di Sitwe, Rakhine, Myanmar. “Kebanggan buat kami bahwa MER-C Indonesia dapat berkontribusi membantu pelaksanaan proses rekonsiliasi,” kata Ito. Ito menyatakan pihaknya akan membantu sepenuhnya MER-C Indonesia dalam mewujudkan sejumlah misi dan program yang dibawa. Pemerintah Indonesia, kata Ito, juga menaruh perhatian yang besar pada proses rekonsiliasi. Diantaranya pada Desember 2014 lalu pihaknya meresmikan empat sekolah bantuan pemerintah Republik Indonesia di Rakhine, Myanmar. Empat sekolah yang dibangun dengan dana 1 juta dolar AS itu terletak di tiga desa di Rakhine, Myanmar. “Kita 1000 persen dukung,” kata Ito. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/15/03/03/nkmmek-merc-indonesia-siapkan-program-jangka-panjang-untuk-pengungsi-di-myanmar
Wakaf Masyarakat Sumatera Utara untuk Rakyat Palestina

(Analisa/Mahjijah Chair) TANDATANGAN: Wakil Gubernur Sumatera Utara HT Erry Nuradi disaksikan Presidium MER-C dr Jose Rizal Jurnalis (baju putih) dan Ketua MER-C Cabang Medan dr Ahmad Handayani (pakai rompi) menandatangani plakat Gerakan Wakaf Masyarakat Sumatera Utara untuk rakyat Gaza, Palestina. Medan, (Analisa). Wakil Gubernur Sumatera Utara HT Erry Nuradi mengapresiasi dan salut kepada MER-C (Medical Emergency Rescue Commitee (Komite Unit Gawat Darurat) Cabang Medan yang telah berhasil mengumpulkan wakaf dari masyarakat Sumatera Utara yang dimanfaatkan untuk pembelian alat medis Rumah Sakit Indonesia di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina. “MER-C dengan segenap masyarakat telah mengumpulkan dana untuk membangun Rumah Sakit Indonesia yang sangat dibutuhkan di Gaza, yang setiap hariny menelan korban cukup banyak. Oleh karena itu tentunya pemerintah, khususnya Sumatera Utara harus mengangkat topi setinggi-tingginya kepada MER-C yang merupakan satu lembaga yang terkenal di bidang sosial, khususnya bidang kesehatan karena kepedulian yang luar biasa telah menggerakkan masyarakat,” jelas Wakil Gubernur Sumatera Utara HT Erry Nuradi usai menyerahkan dana waqaf masyarakat Sumut kepada Presidium MER-C dr Jose Rizal Jurnalis di Aula Fakultas Farmasi, Minggu (25/1). Dikatakannya, apa yang dilakukan oleh MER-C Medan ini salah satu cara untuk membantu para korban perang. Jika ingin membantu tidak mesti mengangkat senjata. “Banyak cara lain yang bisa dilakukan, salah satunya seperti yang diprakarsai oleh MER-C ini,” pujinya. Memang, uang yang telah dikumpulkan oleh MER-C ini tidak begitu banyak. Namun paling tidak sudah dapat membantu masyarakat yang membutuhkan jasa kesehatan. “Dan kita harus mengapresiasi MER-C ini,” katanya. Ketua MER-C Medan Dr Ahmad Handayani mengungkapkan, dana waqaf masyarakat Sumut yang berhasil dikumpulkan itu sebesar Rp900 juta. Dana itu akan digunakan membeli peralatan medis untuk RS Indonesia di Palestina. “Dana yang diserahkan oleh Wagubsu untuk rakyat Gaza itu melalui dr Jose Rizal yang merupakan Presidium MER-C Indonesia sebesar Rp900 juta,” ujarnya didampingi Ketua Panitia dr M Ari Irsyad. Disebutkannya, dana yang terkumpul itu berasal dari sekolah, organisasi masyarakat, perorangan, komunitas, fakultas, mahasiswa dan semua elemen masyarakat Sumatera Utara. “MER-C Medan hanya mengumpulkan saja,” cetusnya seraya menambahkan RS Indonesia di Palestina itu dibangun sejak tahun 2009 menghabiskan dana Rp42 miliar. Sementara untuk alat medis menggelontorkan biaya Rp75 miliar dan sudah terpenuhi. “Semua dana berasal dari masyarakat Indonesia, tidak ada dari masyarakat asing,” cetusnya. Sementara Presidium MER-C dr Jose Rizal Jurnalis menyampaikan dokumentasi kegiatan-kegiatan yang sudah dilaksanakan di Palestina dengan membantu para korban perang. Bersamaan dengan penyerahan waqaf itu, sebelumnya diselenggarakan Seminar Ilmiah Tahunan untuk ketiga kalinya dengan menghadirkan 500 peserta yakni, dokter, mahasiswa kedokteran dan perawat se-Sumatera. Seminar yang mengusung tema Manajemen Sesak Fafas itu menghadirkan pembicara Prof dr Asnan Lelo, Prof dr Sutomi Kasiman SpPD SpJP (K), dr Widi Rahardjo SpP, de jose Rizal Jurnalis SpOT dan dr Andika Kesuma SpP, dr Irfan Hamdani SpAN dan dr Hasanul Arifin SpAN dan lainnya. “Kegiatan ini diakreditasi oleh IDI Sumatera Utara sebesar 30 Satuan Kredit Profesi (SKP),” ujarnya. Turut hadir dalam acara itu Ketua IDI Sumut dr Suhelmi SpB dan Ketua Forum Umat Islam (FUI) Ustazd Leo Insar, Kepala Dinas Kesehatan Sumut Kadiskes Sumut dr RR SH Surjantini MKes dan staf dan lainnya. (mc) Sumber : http://analisadaily.com/news/read/wakaf-masyarakat-sumut-untuk-rakyat-palestina/102234/2015/01/26