Menuju Momentum Bersejarah Grand Opening RS Indonesia di Gaza, Palestina

Senin, 15 Juni 2015 menjadi salah satu hari yang bersejarah dari rangkaian panjang program pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Pada hari itulah MER-C melalui relawannya di Jalur Gaza telah melakukan Soft Opening RS Indonesia yang pembangunan fisiknya telah selesai dan proses pengadaan alat kesehatannya telah mencapai tahap akhir. Salah satu proses penting dalam acara ini adalah penandatanganan MOU serah terima RS Indonesia. MER-C selaku inisiator pembangunan RS Indonesia, menyerahkan bangunan fisik RS Indonesia berikut seluruh alat kesehatan yang ada di dalamnya kepada rakyat Palestina. Penandatanganan MOU dilakukan oleh Ir. Nur Ikhwan Abadi, salah satu relawan MER-C di Gaza selaku wakil dari rakyat Indonesia dan Dr.Ashraf Abu Mahadi selaku Dirjen Hubungan Luar Negeri Kementerian Kesehatan, mewakili rakyat Palestina. Bendera kedua Negara tampak menghiasi area rumah sakit Indonesia sebagai tanda ikatan dan silaturahmi yang semakin erat dari kedua bangsa. Prosesi sederhana serah terima itu dihadiri oleh seluruh relawan Indonesia yang berjumlah 19 orang, para Pejabat dan rakyat Gaza. RS Indonesia akhirnya diputuskan untuk diserah terimakan dengan tujuan agar Kementerian Kesehatan Palestina bisa segera melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan agar RS Indonesia bisa segera beroperasional, diantaranya mempersiapkan SDM lokal yang akan bertugas, mempersiapkan manajemen RS dan mengadakan pelatihan-pelatihan yang diperlukan bagi para SDM yang akan mengoperasikan alat-alat medis tertentu. Sebagai tahapan selanjutnya dan sebagai acara puncak dari rangkaian ini, MER-C akan melakukan Grand Opening RS Indonesia, yaitu peresmian dan pembukaan RS Indonesia yang rencananya akan dihadiri oleh delegasi dari Indonesia. Sejumlah pejabat Indonesia, bahkan Presiden RI, Ketua DPR RI serta donatur RS Indonesia telah menyatakan kesediaannya untuk hadir pada acara ini. Kami berharap Grand Opening RS Indonesia bisa terlaksana dalam waktu dekat dan saat itu RS Indonesia telah dapat beroperasionalisasi memberikan pelayanan kesehatan kepada rakyat Gaza yang membutuhkan. Presiden RI Akan Meresmikan RS Indonesia di Gaza Berbagai persiapan menuju momentum bersejarah Grand Opening RS Indonesia tengah dilakukan, diantaranya audiensi dengan sejumlah pejabat pemerintahan telah dilakukan untuk melaporkan perkembangan Program Pembangunan RS Indonesia dan rencana Grand Opening RS Indonesia. Program ini mendapat apresiasi mendalam salah satunya dari Presiden RI. Tim MER-C berkesempatan bertemu dengan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo di Istana Negara, Rabu/17 Juni 2015 lalu. Mendengar pemaparan tentang RS Indonesia, Presiden Joko Widodo menyatakan keinginannya untuk memenuhi undangan MER-C ke Gaza untuk meresmikan RS Indonesia. Keinginan ini bahkan sampai tiga dinyatakannya dan langsung meminta kepada Mensesneg RI (Prof. Dr. Pratikno), Wakil Menteri Luar Negeri (AM Fachir) dan Tim Komunikasi Presiden (Teten Masduki) yang mendampinginya menerima audiensi Tim MER-C, untuk dapat menyusun kunjungannya ke Gaza, Palestina. Mensesneg RI, Prof. Dr. Pratikno saat di wawancarai usai menerima audiensi Tim MER-C menyampaikan bahwa Presiden sangat tertarik dengan pembangunan RS Indonesia di Gaza, yang merupakan RS terbesar di Gaza yang dibangun oleh masyarakat Indonesia, tanpa dana pemerintah, tanpa dana dari masyarakat negara lain. Menurutnya, Presiden akan melakukan kunjungan ke Timur Tengah. Dalam konteks semacam ini, teman-teman dari MER-C juga mempunyai program yang sangat menarik, yaitu pembangunan RS Indonesia di Gaza yang didanai oleh masyarakat Indonesia sepenuhnya dan merupakan RS terbesar di Gaza. RS Indonesia di Gaza akan menjadi titik tambahan dari rencana kunjungan Presiden ke Timur Tengah yang sampai saat ini belum terjadwal, karena perlu komunikasi dengan negara-negara di Timur Tengah yang sedang dijajaki oleh Kemenlu RI. Menurut Pratikno, bagi Presiden yang menarik adalah ini kontribusi dari masyarakat Indonesia, recehan yang dikumpulkan dari seluruh Indonesia tanpa dana dari pemerintah, tanpa dana dari masyarakat negara lain. Selain Presiden RI, Ketua DPR RI, Setya Novanto juga mengapresiasi pendirian Rumah Sakit Indonesia. Hal ini disampaikan saat menerima audiensi Tim MER-C pada hari Senin/20 April 2015 di Gedung DPR RI. Ketua DPR RI yang dturut didampingi oleh Wakil Ketua DPR RI, Fachri Hamzah dan Staf Ahli Ketua DPR Nurul Arifin, menyambut baik rencana Peresmian dan Grand Opening RS Indonesia dan berniat hadir pada acara ini. Bahkan, Fachri Hamzah mengusulkan kepada Ketua DPR agar pemerintah memberikan anggaran untuk mendukung operasionalisasi RS Indonesia ke depan melalui perencanaan APBN. Di kesempatkan lain, Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, saat ditemui oleh Tim MER-C untuk memberikan undangan peresmian Grand Opening RS Indonesia, Rabu/10 Juni 2015 menyampaikan harapannya bahwa RS Indonesia yang merupakan pemberian dari masyarakat Indonesia untuk masyarakat Palestina agar bisa menjadi pemersatu faksi-faksi yang ada di Palestina. Menteri Luar Negeri RI juga berpesan agar pemberian bantuan bagi rakyat Palestina jangan hanya kepada salah satu golongan/kelompok. Ir. Idrus M Alatas, Ketua Divisi Konstruksi MER-C, khususnya untuk Pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza memaparkan bahwa selama ini MER-C dan relawannya di Jalur Gaza berusaha menjalin komunikasi dengan semua faksi-faksi yang ada di Palestina, begitupun dengan penyaluran bantuan kemanusiaan yang ditujukan bagi semua kelompok yang membutuhkan, tidak terbatas pada kelompok tertentu saja. Menanggapi undangan untuk menghadiri Grand Opening RS Indonesia, Menteri Luar Negeri mengatakan bahwa pihaknya belum bisa mengkonfirmasi hal tersebut sebelum adanya kepastian untuk memasuki wilayah Gaza yang diblokade. Sementara itu, sejumlah donator RS Indonesia yang juga akan turut hadir pada acara Peresmian dan Grand Opening RS Indonesia adalah Wakil Gubernur Aceh, Muzakir Manaf dan Aburizal Bakrie. RS Indonesia Dilengkapi Berbagai Alat Medis Canggih dan Modern Dengan donasi dan kedermawanan yang luar biasa dari rakyat Indonesia khususnya menengah ke bawah, target Rp 40 Milyar melalui kampanye Rp 20ribu per orang untuk pembangunan fisik RS Indonesia serta target Rp 65 Milyar melalui kampanye Rp 50ribu per orang untuk pengadaan alat kesehatan RS Indonesia di Gaza, Palestina telah tercapai. Bahkan target dana Alat Kesehatan Rp 65 Milyar tercapai hanya dalam jangka waktu tidak lebih dari 2 bulan pada bulan Juni – Juli 2014 lalu. Tim pengadaan alat kesehatan RS Indonesia yang diketuai oleh Ahyahudin Sodri, MSc, VDI salah seorang relawan dengan keahlian dalam bidang medical technologist, bersama Timnya, menyusun daftar alat-alat kesehatan yang modern dan canggih dalam rangka menyalurkan amanah rakyat Indonesia dan memberikan yang terbaik bagi rakyat Palestina. Sebagai RS Traumatologi dan Rehabilitasi, RS Indonesia memiliki 4 ruang operasi yang fully equipped dengan meja operasi dan lampu operasi berteknologi LED
Klarifikasi MER-C untuk Kasus Rohingya dan Solusi MER-C untuk Warga Muslim Myanmar

Rabu/3 Juni 2015, MER-C Indonesia menggelar konferensi pers untuk memaparkan masalah konflik Myanmar berdasarkan pengalaman MER-C yang telah dua kali melakukan misi kemanusiaan ke lokasi konflik di Rakhine State, Myanmar. Bertempat di kantor pusat MER-C, konferensi pers disampaikan oleh dr. Joserizal Jurnalis, SpOT (Presidium MER-C), didampingi oleh dr. Meaty Fransisca, drs. Ichsan Thalib, dr. Hadiki Habib, SpPD, Ita Muswita dan dr. Citra Haflinda, yang merupakan tim relawan MER-C untuk Myanmar. Anggota Presidium MER-C, Joserizal Jurnalis menegaskan bahwa memang ada konflik, ada orang yang terbunuh, ada pembakaran, seperti yang terjadi Maluku dulu. Pengungsian juga terjadi dalam permasalahan Rohingya. Persoalan Rohingya menurutnya sudah ada sejak lama sebelum tahun 2012 dan ada usaha-usaha untuk membuat mereka stateless. Namun, provokasi menjadi dahsyat dengan adanya peristiwa terbunuhnya seorang wanita Budha pada 28 Mei 2012 kemudia menjadi konflik yang dimulai pada tanggal 3 Juni 2012. Sehingga, untuk melihat kasus Rohingya, setidaknya ada 3 persoalan utama dari etnis ini. Pertama, ada konflik yang terjadi pada 2012. Kedua, ada usaha stateless dari pemerintah Myanmar. Ketiga, ada orang-orang yang keluar dari Rohingya dengan berlayar untuk mencari kehidupan yang lebih baik di negara lain karena mereka tidak nyaman dengan masalah stateless ini dan masalah lainnya yang perlu dicari tahu bersama. Konflik yang mencuat pada tahun 2012 inilah yang mendorong MER-C mengirimkan Tim pertamanya ke Rakhine State Myanmar untuk memberikan pertolongan medis, tepatnya pada tanggal 12 -19 September 2012. Dengan proses perizinan dan negosiasi yang cukup sulit, akhirnya Tim bisa melakukan pengobatan di kedua kamp baik kamp Muslim maupun kamp Budha. Dr. Meaty, relawan MER-C untuk Myanmar memaparkan bahwa pada kunjungannya yang pertama pada September 2012 ke Sittwe Rakhine State, Tim tidak melihat konflik masih terjadi ataupun korban-korban pembantaian. “Namun saat itu kami saksikan ada sisa-sisa konflik seperti masjid, kuil, dan rumah-rumah penduduk yang hangus terbakar. Kamp yang terpisah antara kamp Muslim dan kamp Budha juga menunjukkan ada histori konflik antara keduanya. Selama di Rakhine State, Tim MER-C juga selalu dikawal oleh Militer Myanmar bersenjata yang dengan sangat ketat mengawasi segala tindakan tim. Yang menjadi fokus perhatian tim MER-C pada saat kunjungan misi pertama ini adalah kondisi kamp muslim yang sangat memprihatinkan kala itu. Meskipun area kamp cukup luas, namun sangat ramai dan padat serta dengan sarana yang sangat terbatas. Bahkan pos kesehatan hanya terbuat dari tenda tanpa ada peralatan medis di sana. Kami melihat pasien tergolek lemah tidak berdaya tanpa tindakan medis. Warga kamp muslim juga tidak bisa keluar dengan bebas dari kamp. Hal berbeda ditemukan oleh Tim di kamp Budha yang kondisinya lebih tertata, lebih bersih, tidak terlalu padat dan warganya bisa keluar masuk dengan mudah. Dr. Meaty yang kembali mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Rakhine State Myanmar pada Februari 2015 dan ditunjuk sebagai ketua tim ke-2 MER-C menyatakan bahwa pada 2015 tim juga sudah tidak melihat konflik terjadi saat itu. Yang ada, tim sangat kaget dengan perubahan luar biasa yang telah terjadi dalam kamp, khususnya kamp Muslim. “Sistem pendidikan sudah berjalan walaupun masih sederhana. Sistem pelayanan kesehatan yang sudah berjalan, sudah ada bangunan permanen dan semi permanen pos-pos kesehatan dengan peralatan medis yang cukup lengkap dan tenaga medis yang terjadwal.” Drs. Ichsan Thalib juga menambahkan bahwa aktifitas di dalam kamp khususnya Muslim juga dinamis. Kamp berukuran besar dan berisi ribuan orang. Kamp tampak sudah tertata oleh lembaga-lembaga UNHCR dibantu oleh berbagai negara. Kehidupan berjalan, pendidikan sudah berjalan walaupun baru sampai tingkat SD. Pasar dalam kamp hidup yang menjual berbagai kebutuhan, mulai dari bahan makanan, emas, bahkan motor ada, dan lainnya. Ichsan Thalib juga memaparkan kondisi Yangon yang disaksikan pada 2015 lalu sudah berkembang seperti bandara yang indah, jalanan macet seperti di Jakarta meskipun tidak seramai Jakarta, ada masjid dan suara adzan terdengar, pasar yang ramai yang berisi pedagang muslim dan Budha. Namun yang tetap menjadi permasalahan utama adalah: 1. Warga kamp muslim khususnya di Sittwe tidak bisa keluar masuk kamp dengan mudah serta tidak ada akses pekerjaan. Ada aturan dan proses izin yang sulit untuk bisa keluar dari kamp. 2. Masalah STATELESS dan PEMISAHAN status kewarganegaraan. Hal ini dialami tidak hanya oleh etnis Rohingya yang berjumlah sekitar 1,1jt orang, tapi juga oleh semua warga Muslim Myanmar yang berjumlah 10% dari jumlah penduduk Myanmar atau sekitar 5 juta orang. Warga muslim Myanmar memiliki Kartu Penduduk berwarna putih dan berwarna merah. KTP PUTIH artinya mereka bisa hidup, bisa sekolah namun tidak bisa mendapatkan ijazah. KTP MERAH hanya dimiliki oleh warga muslim yang sudah mapan. ——————————— Melihat permasalahan yang ada baik dari penilaian langsung tim MER-C ke Rakhine State Myanmar maupun penilaian terhadap pengungsi Rohingya yang saat ini berada di Aceh dimana MER-C melalui cabangnya di Medan telah mengirimkan 3 gelombang tim medis ke Aceh, menawarkan tiga solusi bagi permasalahan Rohingya, yaitu: 1. Pemerintah RI agar melakukan langkah-langkah diplomatik kepada Pemerintah Myanmar untuk menghapuskan masalah STATELESS warga Muslim Myanmar, agar warga muslim Myanmar, tidak hanya Rohingya bisa menjadi warga negara Myanmar sebagaimana orang Budha menjadi warga negara RI. Sehingga warga Muslim Myanmar bisa hidup berdampingan dengan Budha di Myanmar, sebagaimana orang Budha di Indonesia juga bisa hidup berdampingan dengan mayoritas muslim di negara ini. 2. Kami meminta kepada Pemerintah RI untuk menampung pengungsi Rohingya di Aceh dan kemudian mengusahakan mereka untuk dikembalikan ke Rohingya atau Myanmar. Jangan keluar dari Rohingya atau Myanmar karena kalau mereka keluar, itulah yang yang diinginkan pemerintahan rezim, seperti halnya pemerintah Israel menginginkan orang Palestina keluar dari Palestina. 3. Sebelum kedua hal di atas tercapai, pemerintah Myanmar juga harus membuka akses dan memudahkan semua usaha serta langkah-langkah kemanusiaan untuk membantu masyarakat Rakhine State. Tautan terkait : – Misi Konflik Myanmar, 2012: https://mer-c.id/index.php/id/component/content/article?id=216:misi-konflik-myanmar-2012 – Misi Konflik Myanmar, September 2012: – Myanmar dulu dan Kini Serta Peran Penting Indonesia: https://mer-c.id/index.php/id/berita2?id=665:myanmar-dulu-dan-kini-serta-peran-penting-indonesia
MER-C Sosialisasikan Perkembangan Rs Indonesia Di Gaza Kepada Jamaah Masjid Istiqlal

Jakarta, 4 Sya’ban 1436/22 Mei 2015 (MINA) – Lembaga kemanusian Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) melakukan sosialisai perkembangan Rumah Sakit Indonesia di Gaza Palestina kepada para jamaah masjid Istiqlal usai shalat Jumat. “Dana yang disalurkan untuk pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza Palestina adalah murni berasal dari masyarakat Indonesia,” kata Ketua Presidium MER-C dr. Henry Hidayatullah kepada jamaah Masjid Istiqlal usai shalat di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (22/5). Henry mengatakan, pembangunan rumah sakit Indonesia di Gaza membutuhkan proses atau waktu yang panjang, yaitu di awali pada tahun 2009 pada saat itu terjadi agresi militer Israel ke Gaza. “Pada saat itu (agresi militer Israel ke Gaza,Red) MER-C awal masuk ke daerah Gaza, Palestina,” kata Henry. Ia juga mengatakan, dana-dana yang masyarakat Indonesia yang terkumpul melalui MER-C pada awalnya ditunjukan untuk pembelian 3 buah ambulan dan obat-obatan yang disalurkan ke Rumah Sakit Asyifa, Gaza. “Kemudian donasi mulai berdatangan dan dari situlah kami mempunyai misi ingin membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza Palestina, walaupun saat ini dana yang ada masih kurang, tapi kami yakin semua itu akan terwujud,” ujar Ketua Presidium MER-C. Menurutnya, pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza merupakan sebuah bentuk kepedulian rakyat Indonesia untuk membantu rakyat Palestina. “Rakyat Indonesia mendukung secara penuh agar Palestina segera merdeka,” ujar Henry. Sementara Ketua Kontruksi pembangunan Rumah Sakit Indonesia, Farid Thalib mengatakan, hingga saat ini perkembangan Rumah Sakit Indonesia di Gaza sudah dalam tahap akhir. “Banyak keajaiban-keajaiban yang terjadi pada saat proses pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina,” kata Farid Thalib. Sebelumnya Menteri Agama RI Lukman Hakim Saefuddin secara simbolis menyerahkan dana sebesar Rp. 1 satu miliar untuk Rumah Sakit Indonesia (RS Indonesia) di Gaza, Palestina, kepada Ketua Presidium MER-C dr. Henry Hidayatullah usai shalat Jum’at (15/5) di Masjid Istiqlal, Jakarta. “Inilah wujud dari rasa cinta kita kepada masyarakat dan bangsa Palestina, bantuan ini adalah murni dari masyarakat Indonesia, khususnya jamaah Masjid Istiqlal,” kata Menteri Agama saat memberikan sambutan usai Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, di Jakarta, Jumat. Lukman mengatakan, bantuan tersebut merupakan bantuan kesekian kalinya yang diberikan masyarakat Indonesia untuk rakyat Palestina. “Momentumnya juga sangat tepat, yaitu berdekatan dengan peringatan Isra Mi’raj sekarang ini,” kata Lukman. Ia juga menambahkan, dalam Undang-Undang Dasar Indonesia dengan tegas disebutkan bahwa kemerdekaan adalah hak semua bangsa dan perdamaian abadi itulah adalah menjadi cita-cita bagi seluruh bangsa. Rumah Sakit Indonesia di Gaza Rumah Sakit Indonesia di Gaza menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina dimana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Dalam pembangunan RSI ini, MER-C bekerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Fatah Indonesia yang telah mengirim 33 relawan ke Gaza. Rumah Sakit Indonesia di Gaza merupakan sebuah bangunan berbentuk segi delapan yang didirikan atas sumbangan dari rakyat Indonesia dengan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sebagai inisiator pendirian bangunan tersebut. Bangunan yang cukup unik tersebut merupakan sebuah hadiah dari rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina, dan akan menjadi sebuah sejarah tersendiri. Rakyat Indonesia dari Sabang sampai Marauke bahu membahu memberikan yang terbaik untuk saudara-saudara mereka di Palestina. Pekerjaan tahap ini dilakukan oleh relawan Indonesia yang seluruhnya sukarelawan yang tidak dibayar (unpaid volunteers). Tentang MER-C MER-C adalah organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak di bidang kegawatdaruratan medis dan mempunyai sifat amanah, profesional serta netral. Tujuan MER-C adalah memberikan pelayanan medis untuk korban perang, kekerasan akibat konflik, kerusuhan, kejadian luar biasa, dan bencana alam di dalam maupun di luar negeri. Awalnya, organisasi ini dibentuk oleh sekumpulan mahasiswa Universitas Indonesia yang berinisiatif melakukan tindakan medis untuk membantu korban konflik di Maluku, Agustus 1999. Sejak dibentuk, lembaga ini telah mengirim tim medisnya ke berbagai daerah konflik perang, krisis kemanusiaan, wilayah bencana di seluruh dunia. MER-C juga berpartisipasi dalam berbagai misi kemanusiaan nasional dan internasional, salah satunya adalah upaya untuk membuka bloklade Israel atas Jalur Gaza, Palestina, dengan ikut serta dalam konvoi kapal Mavi Marmara 2010. Dengan prinsip rahmatan lil alamin (rahmat bagi semesta alam), MER-C memberi “pertolongan” kepada semua makhluk, baik personal maupun kelompok tanpa melihat latar belakang, agama, mazhab, kebangsaan, etnis, golongan, politik, penjahat atau bukan, dan pemberontak atau bukan, melainkan atas dasar kegawatan. (L/P010) Sumber : http://mirajnews.com/id/indonesia/nasional/merc-sosialisasikan-perkembangan-rs-indonesia-di-gaza-kepada-jamaah-masjid-istiqlal/
Menag Serahkan 1 Miliar Infaq Jamaah Istiqlal Untuk Gaza

Jakarta (Pinmas) —- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyerahkan infaq jamaah Masjid Istiqlal sebesar Rp 1 Miliar untuk Rumah Sakit Indonesia yang ada di Gaza, Palestina. Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis oleh Menag kepada Ketua Presidium MER-C Henry Hidayatullah usai Salat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (15/05). Penyerahan bantuan ini diawali dengan pembukaan kain penutup papan pengumuman pemberian infaq jamaah Masjid Istiqlal oleh Dubes Palestina untuk Indonesia. Hadir dalam kesempatan ini, Sekjen Kemenag Nur Syam, Dirjen Bimas Islam Machasin, Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Muchtar Ali, Ketua Badan Pelaksana Pengelolan Masjid Istiqlal Mubarok, dan ribuan jamaah Masjid Istiqlal. Menag LHS menyampaikan bahwa hubungan baik masyarakat Indonesia dengan Palestina sudah terjalin sejak awal kemerdekaan Indonesia. Sejarah mencatat bahwa Palestina adalah negara yang pertama kali memberikan dukungan atas Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Dukungan itu disampaikan langsung oleh Mufti Palestina, Syekh Muhammd Amin Al Khusaini yang saat itu sedang mengungsi di Berlin, Jerman. “Sejak saat itulah, banyak dukungan dari negara-negara di Timur Tengah untuk kemerdekaan Indonesia,” tegas Menag. Selain itu, pada pada tahun 1948, lanjut Menag, ada juga tokoh Palestina Syekh Ali Tahir yang banyak memberikan bantuan pendanaan kepada para pejuang Indonesia. “Syekh Ali Tahir lah yang menggalang pengumpulan dana yang diserahkan kepada pejuang Bangsa Indonesia,” tuturnys. “Inilah bagian dari keterkaitan hubungan antara masyarakat Indonesia dan Palestina, mereka adalah saudara-saudara kita,” imbuhnya. Menag menegaskan bahwa membantu Rumah Sakit Indonesia di Ghaza merupakan wujud bahwa Bangsa Indonesia terus mendambakan dan memperjuangakan agar bangsa Palestina juga bisa mencapai kemerdekaannya. (Arief/mkd/mkd) Sumber : http://www.kemenag.go.id/index.php?a=berita&id=260015
Misi Kemanusiaan MER-C Wanadri Fokuskan Barat Kathmandu

Kepala RS Kanthipur sedang memberikan arahan kepada tim MER-C WANADRI.(Foto: Widi/MINA) Kathmandu, 22 Rajab 1435/11 Mei 2015 (MINA) – Lembaga kemanusiaan untuk medis dan kegawatdaruratan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) bersama dengan organisasi penjelajah gunung dan rimba WANADRI, akan melanjutkan misi medis ke Desa Capakot, Distrik Pokhara, barat ibukota Kathmandu. “Hari ini, kita sudah mendapat rekomendasi dari Kepala RS Kanthipur, dr. Buddhi Man Shrestha untuk melanjutkan misi kita ke Desa Capakot. Semoga misi kita berhasil,” kata Ketua Tim Saleh Soedrajat kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Kathmandu, Senin (11/5). Desa Capakot terletak di sebelah barat kota Kathmandu. Desa tersebut berjarak 60 km dari desa wisata Pokhara, atau tujuh jam perjalanan darat dari Kathmandu dengan mengggunakan mobil pribadi. Tim MER-C dan WANADRI terdiri atas sembilan orang dengan satu dokter umum, dr Ratih Citra Sari, dokter spesialis Hadiki Habib, Sp. PD, dua perawat, Rita Tambunan dan Islamiyah Samaun, empat tim rescue, Saleh Soedrajat (ketua tim), Adriansyah Purwasunu, Rohmat Sopian dan Dadang Muhammad serta tim media dan dokumentasi, Widi Kusnadi (MINA). Sementara itu, dr. Buddhi Man menegaskan, kabar rencana datangnya tim medis dari Indonesia yang akan melakukan misi kemanusiaan di Capakot dan Pokhara serta sekitarnya, telah disiarkan melalui radio kepada pihak berwenang di dua daerah itu. Buddhi Man menyediakan fasilitas mobil dinas rumah sakit beserta tim pemandunya untuk mengantar dan menemani tim MER-C WANADRI sampai ke tempat tujuan hingga misi selesai. Dari penuturan Buddhi Man yang merupakan putra daerah Capakot, menyatakan, warga desa kelahirannya itu sampai saat ini masih mengalami trauma akibat gempa pekan lalu. “Ada delapan warga desa yang meninggal dan 255 rumah rusak berat akibat gempa. Warga desa mengirimkan surat permohonan agar ada tim medis yang masuk ke sana,” kata Buddhi Man. Sebelumnya, Kamis (7/5) lalu, MER-C WANADRI berhasil menjangkau dua desa di puncak pegunungan Ganesh, Kaurani dan Lapgaun di Distrik Halembu, wilayah Sindupalcowk untuk memberikan pengobatan medis. “Warga sangat antusias menyambut kedatangan tim medis kita. Untuk desa Kaurani jumlah pasien mencapai 170 orang, sedangkan di Lapgaun mencapai 120 orang,” kata dr Ratih Citra Sari, salah satu relawan yang mengikuti misi medis MER-C Wanadri itu. Sementara itu, pemandu tim MER-C dan WANADRI yang juga warga asli Kaurani, Ramba Ba mengatakan, warga desa sangat senang dengan kehadiran tim medis Indonesia itu. Bahkan salah seorang warga menyembelih seekor kambing saat malam pertama kedatangan tim. Desa Kaurani merupakan sebuah desa di Sindhupalcowk, tujuh jam perjalanan darat arah barat laut dari ibukota Kathmandu. Sementara desa Lapgaun ditempuh selama satu jam perjalanan darat dari Kaurani. Dari pantauan MINA yang ikut terjun langsung ke lapangan, hampir 100 persen rumah warga hancur total. Warga pegunungan Ganesh itu kini tinggal dengan tenda sederhana terbuat dari dahan-dahan dan daun. (L/R03/R05-P2) Sumber : http://mirajnews.com/id/indonesia/nasional/kemanusiaan-merc-wanadri-untuk-nepal-fokuskan-barat-kathmandu/
MER-C Dan Wanadri Berangkatkan Tim Pertama Ke Nepal

Menyusul gempa bumi dahsyat berskala 7,9 SR yang menerjang Nepal pada hari Sabtu (25/4) lalu yang telah menyebabkan ribuan korban jiwa dan ribuan lainnya mengalami luka-luka, MER-C berkolaborasi dengan WANADRI akan mengirimkan Tim Relawannya untuk turut memberikan pertolongan kepada para korban. Tim akan dibagi menjadi dua tahap keberangkatan. Untuk Tim Pertama akan terdiri dari 9 orang relawan dengan keahlian medis dan SAR, yaitu Saleh Sudradjat (Ketua Tim), dr. Hadiki Habib, SpPD (Wakil Ketua Tim), dr. Ratih Citra Sari, Rita Elseria Tambunan, Islamiah Samaun, Purwasunu Adriansyah, Rohmat Sopian, Dadang Mokhamad Rizal dan Widi Kusnadi Sunardi. Sementara Tim Kedua yang merupakan Tim Bedah dengan keahlian multi spesialis akan berangkat menyusul ke lokasi bencana. Tim Pertama MER-C dan WANADRI direncanakan akan bertolak ke Nepal pada hari Senin (4/5) pukul 04.40 pagi dengan menggunakan maskapai penerbangan Malaysia Airlines, nomor penerbangan 726. Tim akan mengalami dua kali transit di Kuala Lumpur (Malaysia) dan Dhaka (Bangladesh) sebelum bisa mendarat di Kathmandu (Nepal). Apabila lancar, tim dijadwalkan akan tiba di Nepal pada pukul 12.50 waktu setempat. Sasaran wilayah kerja Tim Pertama MER-C dan WANADRI adalah di luar kota Kathmandu. Hal ini berdasarkan pertimbangan di dalam kota Kathmandu diperkirakan sudah banyak bantuan dan relawan yang bekerja. Tim akan mencari wilayah bencana terparah lainnya di luar ibukota Nepal yang terpencil dan masih minim bahkan belum terjangkau bantuan medis. Sebagai Tim Pertama, tugas tim mencakup penilaian (assessment) kondisi terkini di lapangan, melakukan pengobatan dengan sistem mobile clinic dan Search Rescue. Pengobatan dengan sistem mobile clinic dinilai efektif untuk dapat menjangkau korban-korban gempa di wilayah terpencil yang belum mendapat bantuan medis. Tugas penting lainnya yang diemban tim pertama adalah mempersiapkan kedatangan Tim Bedah, yaitu identifikasi korban-korban yang memerlukan tindakan operasi dan mencari Rumah Sakit atau tempat yang masih bisa digunakan untuk melakukan tindakan operasi bagi para korban gempa. Sementara itu, sejumlah relawan medis dengan berbagai keahlian diantaranya Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi, Dokter Spesialis Anastesi dan juga perawat bedah telah menyatakan kesiapannya untuk bertugas sebagai Tim Kedua ke Nepal. Tim Kedua yang merupakan Tim Bedah ini akan berangkat ke Nepal segera setelah adanya informasi dari Tim Pertama. Bantuan untuk korban bencana gempa bumi di Nepal dapat disalurkan melalui: BNI Syariah, No. Rek. 08.111.92995 BCA, No. Rek. 686.028.0009 Atas nama Medical Emergency Rescue Committee Jakarta, 2 Mei 2015 MER-C Indonesia dan WANADRI /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} #MercWanadriForNepal
MER-C Bagikan 1000 Paket Sembako Untuk PNS Di Jalur Gaza

Gaza, 4 Rajab 1436/23 April, 2015 (MINA) – Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), sebuah lembaga kemanusiaan yang saat ini sedang membangun Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza membagikan sebanyak 1000 paket sembako untuk Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Jalur Gaza. “Pembagian sembako ini merupakan yang kesekian kalinya untuk rakyat Gaza. Namun kali ini kita konsentrasikan ke para PNS dan staf pemerintahan di Jalur Gaza,” kata Muqarrabin Al Fikri, ketua MER-C cabang Gaza, kepada Kantor Berita Islam Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Kamis 23/4 di Jalur Gaza. Fikri menambahkan, PNS di Gaza sudah satu tahun lebih tidak mendapatkan Gaji mereka akibat terjadinya krisis keuangan di Pemerintahan Palestina. /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Para Relawan MER-C Sedang Persiapan Pembagian Sembako. FOTO : MINA “PNS di jalur Gaza sudah setahun lebih tidak mendapatkan gaji akibat krisis keuangan, namun mereka tetap bekerja keras melayani rakyat. Kewajiban kita membantu mereka,” ujarnya. Sembako yang terdiri dari makanan pokok seperti, beras, minyak goreng, daging kaleng, keju, tepung, dan lainya tersebut dibagikan kepada beberapa kementrian di Gaza. “Kami membagikan paket sembako ini, kepada beberapa kementrian seperti, Kementrian Kesehatan, Kementrian Dalam Negeri, Kementrian Kehakiman, Rumah Sakit Al Syifa, Rumah Sakit Kamal Udwan, Jabaliya Medical Center serta lainya,” ujar Mahasiswa Universitas Islam Gaza ini. Lajang berusia 25 tahun itu juga mengatakan, pembelian dan pembagian sembako ini dilakukan langsung oleh para relawan MER-C yang sedang bertugas melakukan persiapan akhir pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Bayt Lahiya, sebelah utara Jalur Gaza. /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Relawan MER-C diatas Truk bak terbuka yang penuh dengan paket sembako untuk PNS Gaza. foto : MINA “MER-C senantiasa memegang teguh amanah dari rakyat Indonesia. Untuk itu penyaluran bantuan dari rakyat Indonesia kepada rakyat Gaza dikerjakan langsung oleh para relawan termasuk pembelian dan pembagianya. Jadi kami bisa tahu persis penerima tepat sasaran,” terangnya. Atas bantuan itu, PNS di Gaza mengucakan rasa terima kasihnya kepada rakyat Indonesia yang telah memberikan bantuan tersebut. Omar Al Bursh, Wakil Menteri Kehakiman Pemerintahan Persatuan Nasional Palestina mengucapkan penghargaan kepada MER-C atas bantuan dan usahanya kepada rakyat Gaza. “Kementrian Kehakiman Palestina, mengucapkan penghargaan setinggi-tingginya kepada MER-C atas usaha besarnya untuk membantu kehidupan yang sangat sulit dari rakyat Gaza,” ujarnya kepada MINA di kantornya. “Kami juga mengapresiasi berdirinya Rumah Sakit Indonesia di Utara jalur Gaza. Semoga Allah membalas semua kebaikan kalian,” ujarnya. Senada dengan itu, Kementrian Palestina melalui Reeham, Shorafa sekretaris Hubungan Luar Negeri Kemenkes mengucapkan apresiasinya kepada MER-C yang telah membangun sebuah Rumah Sakit Besar di Gaza, serta bantuan kemanusiaan lainnya. “Saya hanya ingin menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada anda semua atas usaha yang diberikan kepada rakyat Gaza,” ujarnya. MER-C, adalah sebuah lembaga kemanusiaan yang saat ini tengah membangun RS Indonesia di Utara Jalur Gaza. Sebuah rumah sakit yang saat ini tengah dalam proses akhir penyelesaian, dan sedang menunggu kelengkapan alat-alat kesehatan. Diberitakan sebelumnya, peralatan RS Indonesia saat ini sudah mulai didatangkan ke rumah sakit yang jaraknya hanya 2,5 km dari perbatasan. Ahad 19/4 lalu sebanyak 90 ranjang pasien sudah berdatangan, selain itu peralatan seperti 4 unit meja operasi, 10 ventilator, nebulizer untuk ICU juga sudah tiba. Pihak MER-C sendiri juga sudah merencanakan akan segera membuka RS Indonesia ini agar segera beroperasi. Komunikasi intensif dengan Kementrian Kesehatan Pemerintah Palestina sedang dilakukan. Rumah sakit ini memang sangat dinantikan oleh warga Gaza untuk segera beroperasional. Situasi Gaza yang tidak menentu dan senantiasa dalam ancaman peperangan. MER-C juga membuka kesempatan kepada para dermawan dan donatur yang ingin memberikan dukungan dan bantuan kemanusiaan dan pengadaan alkes RS Indonesia di Gaza Palestina dapat disalurkan melalui: BNI Syariah No. Rek. 08.111.929.73, BCA No. Rek. 686.0153.678, BRI No. Rek. 033.501.0007.60308, BSM No. Rek. 700.1352.061, BMI No. Rek. 301.00521.15, atas nama Medical Emergency Rescue Committee. (K01/R02) Sumber : http://mirajnews.com/id/palestina/merc-bagikan-1000-paket-sembako-untuk-pns-di-jalur-gaza/
DPR RI APRESIASI PEMBANGUNAN RS INDONESIA DI GAZA

Ketua DPR RI Setya Novanto (tengah), didampingi Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah, dengan Presidium MER-C Joserizal Jurnalis. (Foto: Rendi/MINA) Jakarta, 1 Rajab 1436/20 April 2015 (MINA) – Ketua DPR RI Setya Novanto sangat mengapresiasi pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza Palestina yang digagas lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) melalui sumbangan dana amanah rakyat Indonesia. “Kami sangat mengapresiasi pendirian Rumah Sakit Indonesia di Gaza sebagai langkah konkret dukungan Rakyat Indonesia untuk Rakyat Palestina,” kata Novanto saat menerima kunjungan delegasi MER-C dipimpin oleh dr. Joserizal Jurnalis, di ruang kerjanya Lantai III Gedung Nusantara III, kompleks DPR/MPR/DPD Senayan, Senin (20/4). Didampingi Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah, Staf Ahli Ketua DPR Nurul Arifin, Ketua DPR lebih lanjut menyambut baik peresmian RS Indonesia yang dijadwalkan pada awal Juni 2015 mendatang dan berniat hadir dalam peresmian itu. MER-C telah melakukan koordinasi intensif bersama pemerintah mengenai rencana peresmian RS Indonesia di Jalur Gaza tersebut. “Kami benar-benar menyambut baik, bangunan RS Indonesia desainnya sangat bagus,” ujar Novanto saat melihat galeri foto proses pembangunan RS Indonesia di Gaza pada hardcopy presentasi MER-C yang diterimanya. Fahri Hamzah, Wakil Ketua DPR bidang Kesejahteraan Rakyat, mengatakan, RS Indonesia merupakan aksi nyata sumbangan rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina. Dia juga mengusulkan kepada Ketua DPR agar pemerintah memberikan anggaran untuk mendukung aktifitas RS Indonesia itu dalam perencanaan APBN nanti. “Tentunya ini membawa Indonesia menjadi terdepan dalam dukungan kepada Palestina melalui berbagai bantuan nyatanya,” ujar Fahri. Fahri Hamzah yang akan memimpin sidang pembahasan Palestina dalam Konferensi Parlemen Asia Afrika 2015 tanggal 23 April 2015 mendatang, menyatakan, akan menjadikan pembangunan RS Indonesia, menjadi salah satu bahan presentasi dalam sidang konferensi tersebut. Rumah Sakit Indonesia berlokasi di Bayt Lahiya, Gaza Utara, merupakan sumbangan rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina yang digagas oleh lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C). Pekerjaan pembangunan fisik RS Indonesia itu juga dikerjakan sendiri oleh anak-anak bangsa yang datang langsung ke Jalur Gaza, termasuk para insinyur antara lain Ir. Nur Ikhwan Abadi, Ir. Edi Wahyudi. Rombongan relawan terakhir yang ada sekarang juga mengawal proses pengadaan alat-alat kesehatan bernilai Rp. 65,1 miliar lebih. Rumah Sakit itu dibangun di atas areal seluas 16.261 m2 yang merupakan wakaf dari Pemerintah Palestina di Gaza, berlantai dua tambah basement, dengan tipe rumahsakit traumatologi dan rehabilitasi, kapasitas 100 tempat tidur. Proses pembangunan yang cukup sulit, karena terbatasnya material di daerah terblokade tersebut akhirnya bisa terealisasi, meskipun para relawan sempat menghadapi dua peperangan besar pada 2012 dan 2014 saat proses pengerjaan berlangsung, namun demikian para relawan tetap tegar dan terus melanjutkan pembangunan. Warga Gaza sangat menantikan RS Indonesia ini beroperasi. MER-C, mengharapkan dukungan dari rakyat Indonesia dengan memberikan dukungan dan bantuan baik moril maupun material. Tak menerima bantuan asing. Pembangunan RSI dimulai sejak 14 Mei 2011. Pada akhir April 2012, pembangunan tahap 1 untuk struktur RS Indonesia selesai. Pada 1 November 2012, pembangunan tahap 2 RS Indonesia untuk pekerjaan Arsitektur dan ME (Mechanical Elctrical) dimulai dan selesai pada akhir 2014. Diplomasi Kemanusiaan Presidium MER-C Joserizal menyatakan, RS Indonesia yang dibangun anak-anak bangsa adalah rumah sakit terbesar dan terlengkap di Gaza. “RS Indonesia dibangun atas dana amanah dari rakyat Indonesia, ada yang menyumbang Rp 1000, Rp 100.000, hingga 100 juta rupiah. Oleh karena itu, karena dari dana publik, tentunya MER-C perlu melaporkan kepada wakil rakyat,” kata dokter ahli bedah tulang itu. Dalam pertemuan dengan Pimpinan DPR, Joserizal melaporkan total biaya untuk RS Indonesia menghabiskan Rp 120 miliar yang didapat dari pengumpulan dana 100 persen sumbangan masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Joserizal menyatakan RS Indonesia di Jalur Gaza Palestina dapat menjadi humanitarian diplomacy (diplomasi kemanusiaan), di mana setelah peresmian Indonesia akan ada pertukaran para ahli Indonesia dan Palestina khususnya di bidang medis. Untuk merealisasikan diplomasi kemanusiaan di Palestina, MER-C juga telah membangun bangunan Wisma Indonesia bersebelahan dengan RS Indonesia di Gaza, sebagai representasi rakyat Indonesia di Palestina. “Meski nantinya RS Indonsia diserahkan ke Palestina, namun dukungan riil rakyat Indonesia akan terus berjalan, tukar menukar knowledge melalui para ahli Indonesia dan Palestina, tentunya menjadikan persahabatan Indonesia-Palestina semakin kokoh,” ujarnya.”(L/R05/P011-P2) Sumber : http://mirajnews.com/id/indonesia/dpr-ri-sambut-peresmian-rs-indonesia-di-gaza/
TIBA 90 UNIT RANJANG PASIEN RS INDONESIA DI GAZA

Paket berisi Patiens Beds tiba di halaman Rumah Sakit Indonesia. foto : MINA Gaza, 1 Rajab 1436 / 20 April, 2015 (MINA) – Setelah tertunda selama lebih dari dua bulan, akhirnya 90 unit “patient beds” (ranjang pasien), tiba di Rumah Sakit Indonesia di Bayt Lahiya Jalur Gaza Palestina, Ahad 19/4. “Alhamdulillah, ranjang untuk pasien sudah tiba, hari ini kita baru terima 45, Senin besok akan tiba lagi 45, jadi semua total 90 unit,” kata Muqarrabbin Al Fikri, Ketua Mer-c Cabang Gaza, kepada Kantor Berita Islam Miraj (MINA) di Bayt Lahiya, Ahad 19/4. Fikri menjelaskan proses kedatangan alat kesehatan ini sempat tertunda selama beberapa bulan, akibat tertahan di Israel. “Seharusnya ranjang pasien ini datangnya akhir Januari yang lalu, namun proses pengurusan dan perizinan masuk ke Jalur Gaza cukup rumit dan sulit, sehingga tertunda lebih dari dua bulan” terangnya. /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Ranjang Patient untuk RS Indonesia. fot : MINA Selain itu, pemuda lajang yang masih menempuh kuliah di Universitas Islam Gaza ini juga menyampaikan bahwa pihaknya masih menunggu alat kesehatan lain yang masih belum tiba. “Kami masih menunggu alat kesehatan yang lain seperti Paket Radiologi, X-Ray, CT Scan dan jika proses perizinan masuk ke Gaza lancar, kita harapkan akhir bulan April ini akan segera tiba” tambahnya. Sementara itu pantauan MINA di lapangan, beberapa alat kesehatan lain sudah ada yang tiba di Rumah Sakit Indonesia, seperti alat kesehatan untuk ruang Operasi dan ICU berupa ventilator, nebulizer dan meja operasi. Diharapkan dalam waktu dekat Rumah Sakit Indonesaia di Jalur Gaza akan segera beroperasi sehingga bisa segera membantu masyarakat Gaza. Fikri juga mengucapkan rasa syukur dan terima kasihnya kepada Rakyat Indonesia yang telah mendukung baik moril dan material, demi berdirinya Rumah Sakit yang mengangkat nama Indonesia di kancah internasional ini. /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Paket Patient Beds untuk Rumah Sakit Indonesia. Foto : MINA “Meskipun banyak ujian yang kami alami, namun Insya Allah kami akan terus menjalankan amanah ini, rakyat Indonesia rakyat yang dermawan, terkadang kami haru, banyak penyumbang RSI ini dari yang berasal dari kalangan kurang mampu” ujarnya. Dia menambahkan “untuk itu, saya atas nama relawan Indonesia yang ada di Gaza, menyampaikan penghargaan yang setinggi tingginya kepada rakyat Indonesia yang telah menyumbangkan rupiah demi rupiah mereka untuk terealisasinya Rumah Sakit ini. dari tanah penuh berkah ini kami mendoakan semoga para donatur diberikan balasan oleh Allah dengan sebaik-baik balasan dari sisi-NYA” Rumah Sakit Indonesia merupakan sumbangan rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina yang digagas oleh lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C). Proses pembangunan RS Indonesia sendiri dikerjakan oleh anak-anak bangsa yang datang langsung ke Jalur Gaza. Proses pembangunan yang cukup sulit, karena terbatasnya material didaerah terblokade tersebut akhirnya bisa terealisasi, meskipun para relawan sempat menghadapi dua peperangan besar pada 2012 dn 2014 saat proses pengerjaan berlangsung, namun demikian para relawan tetap tegar dan terus melanjutkan pembangunan. Warga gaza sangat menantikan beroperasionalnya RS Indonesia ini, sementara itu para relawan MER-C tengah bekerja keras agar rumah sakit segera beroperasi. MER-C, mengharapkan dukungan dari rakyat Indonesia dengan memberikan dukungan dan bantuan baik moril maupun material. Untuk para dermawan dan donatur yang ingin memberikan dukungan dan bantuan Dukungan dan bantuan untuk pengadaan alkes RS Indonesia di Gaza Palestina dapat disalurkan melalui: BNI Syariah No. Rek. 08.111.929.73, BCA No. Rek. 686.0153.678, BRI No. Rek. 033.501.0007.60308, BSM No. Rek. 700.1352.061, BMI No. Rek. 301.00521.15, atas nama Medical Emergency Rescue Committee. (K01/P2) Sumber : http://mirajnews.com/id/palestina/tiba-90-unit-ranjang-pasien-rs-indonesia-di-gaza/
MER-C KOORDINASI PEMERINTAH PERESMIAN RS INDONESIA DI GAZA

Dari kanan ke kiri: Wamenlu A.M. Fachir, Presidium MER-C Sarbini Abdul Murad, Farid Thalib, Rima Manzanaris. Foto: Putri/MINA Jakarta, 27 Jumadil Akhir 1436/16 April 2015 (MINA) – Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) terus melakukan koordinasi intensif bersama pemerintah mengenai rencana peresmian RS Indonesia di Jalur Gaza. Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia A.M. Fachir mengungkapkan apresiasinya kepada MER-C atas upaya menyelesaikan amanah bantuan kemanusian rakyat untuk membangun RS di satu-satunya daerah yang masih terjajah itu. “Saya sangat kagum dan terkesan dengan kemajuan MER-C untuk merealisasikan misi yang mustahil rasanya. Tapi dengan tekad yang tinggi ini bisa di realisasikan, dan tentu ini tidak gampang,” ungkap Fachir, di Kantor Kemenlu Jakarta, Kamis. Sejauh ini, peresmian yang direncanakan Juni mendatang masih mengalami kesulitan, terutama berkenaan dengan perizinan perbatasan Rafah yang berada di bawah kendali intelijen Mesir. Sementara, Manajer Operasional MER-C, Rima Manzanaris mengatakan pihaknya masih menunggu pemerintah Mesir terkait izin masuk melalui perbatasan tersebut. “Pemerintah Mesir mengatakan perkiraan di bulan Mei dan Juni itu aman, tapi kita akan mengambil di bulan Juni untuk peresmiannya,” ujar Rima. Rima juga mengatakan, kondisi terkini RS Indonesia di Gaza, sebagian alat kesehatan sudah ada yang masuk dan sebagian lainnya masih menunggu proses izin masuk. “Kita semua berharap hal ini bisa cepat selesai dan RS Indonesia siap untuk direalisasikan oleh masyarakat, ” kata Rima. Dalam hal ini, Wamenlu A.M. Fachir juga menjanjikan pemerintah akan membantu kelancaran teknis menjelang peresmian RS Indonesia di Jalur Gaza. “Menyusul panasnya situasi Sinai dan Rafah yang berbatasan dengan rute ke Jalur Gaza akhir-akhir ini masih konflik,” ujar Fachir. Kondisi Sinai yang masih dalam situasi darurat menimbulkan kesulitan bagi relawan untuk masuk ke Gaza. Pasalnya, rumah-rumah di Sinai utara menjadi korban operasi tentara Mesir untuk melawan militan di sana. (L/P007/P4) Sumber : http://mirajnews.com/id/indonesia/nasional/merc-koordinasi-pemerintah-peresmian-rs-indonesia-di-gaza/