MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

MER-C Yogyakarta Gelar Diklat Kerelawanan

Tak seperti biasanya, suasana Klinik MER-C Yogyakarta yang berlokasi di Bokoharjo tampak ramai. Bukan oleh pasien yang hendak berobat, melainkan semarak oleh puluhan relawan peserta Diklat Kerelawanan yang dihelat oleh MER-C Yogyakarta.   Acara yang berlangsung dari 19 – 20 April itu mengusung tema “Bersapa, Berbagi, Beraksi”. Ketua Pelaksana Diklat, Arief Wahyu, Mengatakan, kegiatan yang diikuti oleh delegasi tiga cabang MER-C, yaitu Yogyakarta, Solo, dan Semarang, bertujuan untuk mempererat tali silaturahim bagi para calon relawan. Selain itu, juga membangun sinergitas antarcabang MER-C di ketiga daerah. “Titik penting dari diklat ini adalah adanya keterikatan antar peserta,” papar mahasiswa FKU UGM 2009 ini. Suasana diklat berjalan dengan cukup dinamis dengan peserta sebanyak 54 peserta meski waktu pelaksanaannya cukup singkat. Peserta diklat merupakan mahasiswa dari berbagai universitas di Yogyakarta, Solo dan Semarang. Mereka berasal dari fakultas dan angkatan. Tidak hanya terbatas pada mahasiswa fakultas medis, tetapi juga mahasiswa non medis. Hadir dalam acara ini, para pengurus MER-C Yogyakarta dan perwakilan MER-C Pusat. Presidium MER-C Pusat, dr. Joserizal Jurnalis, berkesempatan menghadiri kegiatan ini. Dalam kesempatan itu, pria yang akrab dipanggil dr. Jose itu menekankan bahwa menjadi mahasiswa yang cerdas dan peduli adalah salah satu modal untuk menjadi relawan seutuhnya. Ini, ungkap dia, dimulai dari niat yang lurus dan tulus dibarengi dengan pengesahan ilmu dan kemampuan yang kemudian diarahkan pada misi kemanusiaan. “Dan, yang paling pentingadalah konsistensi atau keiatiqamahan berjuang melalui MER-C,” tuturnya. Dr. Jose juga membeberkan kepada para peserta perihal agenda Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Bagaimana proses berdirinya RS Indonesia di Gaza, Palestina, lengkap dengan perjalanan misi ke sana. Ia mengajak peserta untuk memaknai bersama makna Pembukaan UUD 1945 tentang hak merdeka bagi segenap bangsa, tak terkecuali bangsa Palestina yang terjajah hingga kini oleh Zionis Israel. Sumber : Republika, Minggu 11 Mei 2014, Hal. 24        

Konferensi Press dan Peluncuran Video Campaign Rumah Sakit Indonesia di Gaza – Palestina

Alhamdullilah, berkat rahmat Allah SWT dan atas dukungan dari rakyat Indonesia, pembangunan gedung Rumah Sakit Indonesia di Gaza – Palestina dinyatakan telah selesai. Rumah Sakit Indonesia memiliki sejarah yang cukup panjang dan berliku-liku sejak kemunculan gagasannya pada masa agresi militer Israel di Gaza di tahun 2008/2009 lalu. Rumah sakit ini juga tidak akan menjadi bangunan yang megah seperti sekarang ini tanpa dukungan dari begitu banyak pihak yang telah merapatkan barisan selama beberapa tahun lamanya baik lewat pemikiran, tetes keringat, dana, pemberitaan, doa, waktu, dan dukungan semangat, yang insya Allah itu semua akan menjadi bukti bagi rakyat Palestina dan dunia, bahwa uluran tangan tanda persaudaraan dari rakyat Indonesia telah sampai dan diterima oleh rakyat Palestina, dan semoga tali persaudaraan ini akan terjalin untuk selamanya. Kembali dukungan kita dinanti oleh rakyat Palestina. MER-C mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bahu-membahu melengkapi pengadaan alat kesehatan bagi Rumah Sakit Indonesia yang memerlukan dana sekitar 65 miliar rupiah. Alhamdullilah, Pembaca Republika telah mengawali donasi bagi alat kesehatan di Ruang Poliklinik sebesar satu milyar rupiah, serta Majelis Ta’lim Telkomsel (MTT) telah menyumbangkan dana sebesar 650 juta rupiah untuk melengkapi Ruang Farmasi. Hari ini, kami meresmikan awal kampanye pengadaan alat kesehatan Rumah Sakit Indonesia yang didukung oleh Slank, Wali, Bapak Adi Sasono, Jihan Fahira, Naif, Vadi Akbar, Sore, White Shoes & the Couples Company, Wanadri, Farida Thalib, Indra Hidayat, Salma yang telah mempersembahkan karya seninya untuk MER-C dan Hengky Saing yang telah mempersembahkan lagu berjudul “Satu Untuk Semua” untuk dijadikan lagu soundtrack bagi kampanye alat kesehatan RS Indonesia. Tak lupa kami ucapkan banyak terima kasih kepada BNI Syariah yang telah menjadi sponsor demi terselenggaranya acara hari ini. Semoga usaha kita semua akan diterima sebagai amal baik, dan semoga rakyat Palestina dapat segera menikmati pelayanan kesehatan dari Rumah Sakit Indonesia.   Donasi untuk Alat Kesehatan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina dapat disalurkan melalui: BNI Syariah No. Rek. 08.111.929.73 Atas nama Medical Emergency Rescue Committee     Jakarta, 30 April 2014 Divisi Humas MER-C                

Slank Ajak Rakyat Indonesia Berpartisipasi untuk Rumah Sakit Indonesia di Gaza

Jakarta, Pembangunan Rumah Sakit Indonesia memang sudah selesai Februari lalu. Namun ternyata hanya bangunannya saja yang sudah selesai, sementara gedung tersebut belum dilengkapi oleh alat dan fasilitas kesehatan apapun. foto: Reza/detikHealth Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (Mer-C) sekaligus penggagas utama berdirinya rumah sakit tersebut mengatakan bahwa masih dibutuhkan banyak dana untuk mengisi alat kesehatan agar Rumah Sakit Terapitologi dan Rehabilitasi tersebut dapat beroperasi penuh. “Meski bangunan fisiknya sudah rampung, namun Rumah Sakit Indonesia belum bisa beroperasi karena belum ada alat kesehatannya. Dana yang kami butuhkan kurang lebih Rp 65 Miliar,” ujarnya kepada detikHealth usai acara Konferensi Pers dan Peluncuran Video Campaign Sumbangan Dana untuk Alat Kesehatan Rumah Sakit Indonesia di FX Sudirman, Jl Jend Sudirman, Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (30/4/2014). Untuk itu, Mer-C pun membuat video kampanye yang bertujuan untuk mengajak rakyat Indonesia berpartisipasi dalam kegiatan ini. Video tersebut berdurasi selama 4 menit dan berisikan beberapa pendukung gerakan ini. Slank, Naif, wali dan pesinetron Jihan Fahira adalah beberapa nama yang ada di video. Disinggung mengenai alasannya tergabung dalam gerakan ini, Bimbim Slank yang hadir pada acara tersebut mengatakan bahwa dirinya termasuk orang yang senang memberi. Terlebih bantuan tersebut diberikan untuk membantu rakyat yang ada di Palestina. “Kalau gue percaya memberi itu pasti enggak rugi. Karena nanti pasti dibalas 10 kali lipat sama Tuhan,” ujarnya pada kesempatan yang sama. “Cukup dengan Rp 50 ribu kita sudah bisa membantu saudara-saudara kita yang di sana,” sambungnya lagi. Sumber : http://health.detik.com/read/2014/04/30/173358/2570327/763/slank-ajak-rakyat-indonesia-berpartisipasi-untuk-rumah-sakit-indonesia-di-gaza http://www.youtube.com/watch?v=VOsH7xGf4IE                  

MER-C Serahkan Aset Rp2,5 Miliar Kepada Pemerintah

Banda Aceh, 25/4 (Antaraaceh) – Lembaga Swadaya Masyarakat  MER-C Indonesia menyerahkan aset Puskesmas dan peralatan medis senilai Rp2,5 miliar kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh. “Kami berharap aset ini dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin dalam upaya memberikan pelayanan kesehatan maksimal kepada masyarakat,” kata Projek manager MER-C for Aceh Ira Hadiati di Banda Aceh, Kamis. Dijelaskannya, aset di gampong/desa Panga Kecamatan Keude Panga Kabupaten Aceh Jaya itu diserahkan oleh Presidium MER-C Indonesia dr Sarbini Abdul Murad dan diterima Setkdakab setempat Teuku Irvan TB.  Aceh Jaya merupakan salah satu kawasan yang cukup parah diterjang tsunami yang menewaskan tidak kurang dari 200 ribu penduduk di Provinsi Aceh pada 26 Desember 2004. Ira mengatakan Puskesmas dan peralatan medis yang diserahkan kepada Pemkab Aceh Jaya itu memadai untuk sebuah rumah sakit. Adapun aset yang diberikan itu terdiri dari tanah wakaf dari warga setempat Syarifuddin Yunus kpd MER-C seluas 1200 m2 dan  tanah milik MER-C seluas 200 m2 beserta bangunannya. Kemudian peralatan medis lengkap untuk IGD, apotek, kamar bersalin, poliklinik umum, rawat inap, dental unit, laboraturium, ruang operasi dan X Ray. “Semua peralatan medis yang kami serahkan ini memenuhi standar untuk sebuah rumah sakit,” katanya. Aset yang diserahkan tersebut di bangun dan dipergunakan MER-C serta petugas Puskesmas Panga sejak 2006 yang merupakan salah satu bantuan dibangun untuk membantu pelayanan kesehatan untuk korban  tsunami Aceh 26 Desember 2004. Pihaknya berharap dengan kehadiran Puskesmas dengan peralatan rumah sakit tersebut dapat memberikan tindakan medis secepatnya kepada masyarakat di gampong setempat khususnya dan Aceh Jaya umumnya. Pewarta : Muhammad Ifdhal Sumber : http://www.antaraaceh.com/2014/04/mer-c-serahkan-aset-rp25-miliar-kepada-pemerintah.html                

Serah Terima aset MER-C di Puskesmas Panga kepada Pemerintah Daerah Aceh Jaya

Aceh – Pada tanggal 22 April 14, MER-C Indonesia telah menyerahkan seluruh aset MER-C yg berada di desa Panga, Kec Keude Panga, Kabupaten Aceh Jaya kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Jaya.Serah terima ini dilaksanakan oleh Presidium MER-C Indonesia dr. SarbiniAbdul Murad dan Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Jaya Drs. T. Irvan. TB.   Aset tersebut berupa tanah wakaf dari warga setempat Bapak Syarifuddin Yunus kepada MER-C seluas 1200 m2, tanah milik MER-C seluas 200 m2 beserta bangunannya, dimana nilai total keseluruhan dari tanah dan bangunan saat itu adalah bangunan utama kurang lebih senilai Rp 700 juta, gudang  senilai Rp 150 juta serta Rp 10 juta tanah perluasan. Selain itu, terdapat aset berupa peralatan medis lengkap antara lain : alat kesehatan untuk Instalasi Gawat Darurat, alat kesehatan apotik, alat kesehatan untuk bersalin, alat kesehatan untuk Poliklinik umum, alat kesehatan untuk Rawat Inap, alat kesehatan dental unit,alat kesehatan laboraturium, alat kesehatan ruang operasi, alat kesehatan X–Ray dengan nilai keseluruhan dari alat kesehatan saat itu kurang lebih 1,5 Milyar. Semua aset tersebut dibangun dan dipergunakan oleh MER-C dan petugas puskesmas Pangasejak tahun 2006 dimana pada saat itu di daerah Aceh Jaya belum terdapat sarana kesehatan yg memadai setelah bencana Tsunami pada tahun 2004. Pertimbangan diserahkannya semua alat kesehatan ini  antara lain dikarenakan oleh kinerja rekan2 staf puskesmas sangat baik dan amanah, hal ini dibuktikandengan prestasi yg di raih sebagai Juara I se–Propinsi aceh katagori programIbu dan Anak pada tahun 2012, sebagai juara I kategori Puskesmas Bersahajase–propinsi aceh pd tahun 2013, sebagai juara I sekebupaten Aceh Jaya dalam kategori Puskesmas terakreditasi. Kedua, untuk mempermudah pemerintah daerah dalam pengalokasian dana untuk pengembangan Puskesmas Panga. Ketiga, agar Puskesmas Panga dapat lebih maksimal dalam melakukan pelayanan kepada masyarakat Panga khususnya dan masyarakat Aceh Jaya pada umumnya.. Semoga dengan diseraherimakannya aset MER-C Indonesia di desa Panga dapat lebih bermanfaat bagi masyarakat Panga, serta hubungan baik antara LSM MER-C Indonesia dan Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Jaya dapat terus terjalin dalam berbagai kegiatan lainnya.              

MER-C – RRI Kampanyekan Penggalangan Dana RSI Gaza

Jakarta, 15 Jumadil Akhir 1435/15 April 2014 (MINA) – Lembaga kemanusian medis MER-C (Medical Emergency Rescue Committe) dan Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta, menandatangani MoU kesepakatan terkait kampanye iklan penggalangan dana untuk pengadaan peralatan kesehatan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza. Naskah kesepakatan tersebut ditandatangani di gedung RRI Jakarta, Selasa oleh anggota Presidium MER-C Dr. Arief Rachman dan Kepala RRI Jakarta, Herman Zuhdi.  Dalam kesepakatan itu, RRI Jakarta secara sosial akan menyiarkan iklan kampanye penggalangan dana RS Indonesia melalui Gerakan Rp 50 ribu/orang untuk alat kesehatan. Ada pun MER-C akan memberikan bantuan pelayanan medis gratis kepada RRI Jakarta dalam berbagai acara. Herman mengatakan, MER-C adalah lembaga kemanusiaan di bidang medis yang kerjanya sudah terlihat nyata di masyarakat. “Saya melihat MER-C adalah suatu komunitas yang kiprah dan kinerjanya sudah bisa kita lihat. Terutama berdirinya RS Indoensia di Gaza, tentunya membutuhkan suatu upaya kerja keras, cerdas dan ikhlas. Saya kira itu sejalan dengan RRI,” ujar Herman. Menurutnya, kerjasama tersebut adalah awal kolaborasi yang baik dan diharapkan bisa terus berlanjut hingga jaringan RRI di wilayah Indonesia lainnya dapat melakukan hal yang serupa. “Saya mempelajari dan melihat bagaimana kiprah MER-C di masyarakat dan ketika kami bergabung bersama dalam layanan bantuan bagi korban banjir di Kampung Pulo, Jakarta, MER-C tanpa menghitung rupiah,” kata Herman. Sementara itu, Dr. Arief Rachman mengakui bahwa MER-C sangat membutuhkan media partner, terutama untuk menyebarluaskan kempanye tentang RS Indonesia di Gaza, khususnya Gerakan Rp 50 ribu/orang. “Kita tahu jaringan RRI di Indonesia dari ujung timur hingga ujung barat, Sabang sampai Merauke. Semakin banyak orang yang tahu, kami harap akan semakin cepat upaya pembelian alat kesehatan RS Indonesia di Gaza terlaksana,” kata Arief. Arief menjelaskan bahwa RS Indonesia di Gaza adalah karya anak bangsa, di mana mulai dari gambar rancangannya hingga nanti asistensinya ketika operasional, semua dari Indonesia. Bahkan desain di dalam rumah sakit akan bernuansa khas Indonesia, seperti adanya corak batik dan tapis Lampung. Komentar dari masyarakat dan para pejabat di Gaza sangat baik dan kagum sekali dengan struktur rancangan RS Indonesia yang sangat berbeda dengan yang lain. Hanya ada dua negara yang menyumbang rumah sakit di Gaza, yaitu Uni Eropa dan Indonesia. Uni Eropa menyumbang dengan gabungan danan dari negara-negara Eropa. “Jika disepadankan, level Indonesia di Gaza sama dengan Uni Eropa. Ini suatu kebanggaan bagi kita yang perlu kita sampaikan kepada masyarakat Indonesia di tengah gonjang-ganjing dalam negeri,” tambah Arief. (L/P09/EO2). Sumber : http://mirajnews.com/web/indonesia/nasional/17527-mer-c-dan-rri-jakarta-tandatangani-mou-untuk-rs-indonesia.html                

Kehadiran Relawan RS Indonesia jadi Penyejuk bagi Perpecahan Gaza

Jakarta, 14 Jumadil Akhir 1435/14 April 2014 (MINA) – Ir. Abu Fikri adalah Pimpinan Proyek Pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza, Palestina. Selama pembangunan rumah sakit dari tahun 2011 sampai awal 2014, dia dua kali berangkat ke Gaza memimpin pembangunan atas nama Relawan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee). Pria yang berasal dari Pondok Pesantren Al-Fatah, Cileungsi, Bogor itu, mengungkapkan sekilas pengalamannya di bumi yang diblokade, saat ditemui oleh wartawan MINA Sabtu (12/4) di kantor MER-C, Jakarta. Berikut hasil wawancara Rudi Hendrik, wartawan MINA, dengan Ir. Abu Fikri: MINA: Bagaimana awalnya Anda bisa memasuki Gaza? Ir. Abu Fikri: Bermula pada akhir 2010 mengikuti aksi kemanusiaan “Asia Caravan To Gaza” bersama dengan negara-negara Asia lainnya. Ada sekitar 150 orang. Sementara tim kami sendiri yang bergabung dengan MER-C ada lima orang. Ketika kami, para relawan pertama datang, kami juga disambut oleh welcome bomb (bom selamat datang). Begitu sampai di perbatasan, ada istilah welcome bomb dari tentara Israel. Itu menunjukkan bahwa kedatangan setiap relawan ke Gaza sudah diketahui oleh Israel. MINA: Situasi Gaza awalnya bagi relawan seperti apa? Ir. Abu Fikri: Gaza identik dengan penjara terbesar di dunia. Untuk masuk sulit dan untuk keluar pun sulit. Yang kita lihat memang, bukan hanya daerah perang, tapi juga daerah yang terblokade selama bertahun-tahun. MINA: Apa kesulitan awal bagi para relawan di sana? Ir. Abu Fikri: Kesulitan awal bagi relawan adalah bahasa, karena ada Bahasa Arab formal dan ada Bahasa Arab yang umum digunakan oleh warga Gaza. Sedangkan yang kita pelajari adalah Bahasa Arab formal dalam pendidikan. Sementara dalam pembangunan, kita banyak bergaul dan berkomunikasi dengan masyarakat lapangan, sehingga bahasa yang harus digunakan adalah bahasa sehari-hari. Dan keduanya sangat jauh berbeda. Ada pun untuk peralatan dalam membangun, tidak seperti yang kami khawatirkan sebelumnya bahwa di sana tidak cukup lengkap, ternyata di sana cukup lengkap peralatan. Untuk bahan bangunan di tahap pertama tidak begitu menemui kesulitan. Justru di tahap kedua kami menemui kesulitan, karena di tahap ini kami kesulitan untuk mendapatkan beberapa bahan bangunan, salah satunya semen dan kelangkaan solar. Solar kita perlukan untuk mengoperasikan peralatan-peralatan berat. Dampak ketiadaan solar di Gaza, berdampak pada ketiadaan listrik, karena satu-satunya generator yang ada di Gaza menggunakan solar, sehingga harus dikurangi, setiap hari hanya empat jam dengan waktu yang tidak menentu. Juga berdampak pada gas dan terus berdampak kepada masalah air. Karena air pun harus dipompa dengan tenaga listrik dan solar.  Bahkan sempat selama empat hari tidak bisa menggunakan air. Luar biasa kondisi yang kita hadapi di sana.   MINA: Bagaimana dengan perang? Ir. Abu Fikri: Di sana, sewaktu-waktu perang bisa muncul. Tidak bisa dikategorikan kondusif. Selain perang besar, secara menyeluruh sering terjadi konflik-konflik. Baik dari Gaza sendiri maupun dari Israel. MINA: Adakah budaya negatif Indonesia di Gaza? Ir. Abu Fikri: Salah satunya, untuk relawan Indonesia, mereka terbiasa shalat menggunakan sarung, sedangkan di sana dipandang kurang baik. Bagi mereka, sarung digunakan untuk kegiatan-kegiatan saat tidur. Mereka kurang pas jika melihat kita shalat menggunakan sarung. Meski kita sudah berusaha untuk meyakinkan, tapi kita tidak bisa untuk mencoba meyakinkan masyarakat banyak yang memandang. Ada pun sisi positif yang kami temukan di sana yaitu sesuatu yang sudah sangat langka kita jumpai di Indonesia, yaitu memberi salam kepada orang yang tidak kita kenal, meski di jalan umum, kecuali memberi salam kepada beda jenis, itu tidak boleh. Itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami. MINA: Apakah pembangunan RS Indonesia sudah selesai? Ir. Abu Fikri: Pembangunan fisik RSI ada dua, yaitu pembangunan arsitektur dan mekanikal elektrikal. Untuk pembangunan di bidang fisiknya, alhamdulillah, tinggal masuk tahap perawatan dan service. Memang dalam setiap pembangunan, ada waktu sekitar enam bulan untuk perawatan. Karena memang pembangunan fisik sifatnya saling terpadu. Untuk perawatan, karena tidak sulit, pengawasan tetap dari pihak MER-C, namun pekerjanya dari tenaga lokal. Saat ini memasuki tahap ketiga, yaitu pengadaan alkes (alat kesehatan) yang membutuhkan dana lebih besar dari pembangunan fisik RS Indonesia. MINA: Kesulitan yang paling terasa bagi para relawan? Ir. Abu Fikri: Secara fisik memang banyak sekali kesulitan, tapi alhamdulillah, secara akidah, setiap kami menemui kesulitan maka disitu kami menemui kemudahan. Dan  disitulah kami meyakini bahwa kemudahan yang kami rasakan adalah pertolongan Allah SWT. MINA: Apakah pada masa menunggu kepulangan yang tidak jelas setelah pembangunan selesai, ada relawan yang putus asa? Ir. Abu Fikri: Dalam pembangunan ini, kami berusaha sekuat mungkin menggunakan skejul dan bekerja sesuai itu. Tanggung jawab para relawan pada prinsipnya, akhir bulan Desember 2014 itu sudah selesai. Jadi sesuai dengan schedule. Ada waktu sekitar sebulan masa menunggu, dan itu pun hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan ringan saja. Dalam masa menunggu itu, memang mereka merasa tanggungjawab utama itu sudah selesai, sehingga secara psikologis fisik mereka sudah terfokus pada keluarga. Mereka yang awalnya sibuk dengan pekerjaan dan kegiatan-kegiatan yang ada, tapi karena dia sudah merasa akan segera kembali, maka secara otomatis kesabarannya teruji. Ujian itu mungkin juga dari pihak keluarga yang sudah lama menahan rindu ingin bertemu dengan ayahnya atau suaminya, tentunya ada tekanan-tekanan dari keluarga agar bisa segera kembali.   MINA: Solusinya? Ir. Abu Fikri: Yang pertama kita terus melakukan siraman rohani kepada mereka, karena kita ada taklim setiap Jumat pagi dan itu memang efektif sekali untuk memompa semangat mereka, bagaimana mereka bisa tetap sabar. Karena permasalahannya adalah satu-satunya prinsip bagi para relawan, yaitu “kepastian relawan adalah ketidakpastian”. Jadi tidak ada kepastian bagi relawan. Apa pun yang direncanakan, kita kembalikan kepada apa yang diijinkan oleh Allah. Kita tahu bahwa Gaza sendiri adalah satu daerah konflik yang hingga kini tidak ada jalan keluarnya secara penuh dan kita tahu, Gaza semakin hari semakin sulit. Apa lagi kondisi negara-negara sekitarnya mulai tercarut-marut oleh perang seperti Suriah dan Mesir sendiri, sehingga membuat kondisi semakin tidak pasti. MINA: Bagaimana respon para pejabat Palestina di Gaza dengan adanya pembangunan RS Indonesia ini? Ir. Abu Fikri: Al hamdulillah sangat positif, bukan hanya pejabat, tapi juga warga gaza, tapi kami mengambil beberapa sample saja. Salah satunya adalah kunjungan Perdana Menteri Ismail Haniyah ke RS Indonesia di Gaza. Intinya dia menyampaikan: “Setiap kami melihat kalian, timbul semangat kami untuk terus bisa bertahan dalam kondisi yang serba sulit. Timbul juga semangat bagi kami bahwa Al-Aqsha akan

Pengamat: Amerika Target Hancurkan Tujuh Negara Arab

Tangerang, 13 Jumadil Akhir 1435/13 April 2014 (MINA) – Pengamat Timur Tengah Dr. Joserizal Jurnalis mengungkapkan, jauh sebelum peristiwa 11 September 2001, Amerika Serikat (AS) sudah mentargetkan untuk menghancurkan tujuh negara Arab. “Jauh sebelum 2001, Amerika sudah memiliki target bahwa tujuh negara Arab harus dihancurkan, yaitu Irak, Iran, Libanon, Suriah, Libya, Sudan dan Somalia,” kata Joserizal Ahad pagi (13/4) dalam Kuliah Dhuha di Masjid Raya Bintaro Jaya, Tangerang, Banten. Pernyataan anggota Presidium MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) itu, mengutip pengakuan mantan Panglima NATO Wesley Kanne Clark dalam bukunya “Winning Modern Wars”.  Mantan calon Presiden Amerika itu mengungkapkan, ketika kembali ke negaranya pada tahun 1971 dan bertemu dengan para pejabat tinggi pertahanan Amerika, ternyata mereka sudah punya program yang telah disepakati, yaitu akan menghancurkan tujuh negara Arab. Joserizal mengaku bahwa kasus pembantaian terhadap Muslim Ambon di Tobelo, Pulau Halmahera, ia bawa keliling Eropa dengan tujuan bahwa konflik agama sangat berbahaya. “Kami sampaikan kepada masyarakat Eropa, jangan main-main dengan konflik agama. Jika terjadi, maka efeknya sangat besar. Tidak berapa lama, terjadilah peristiwa 11 Sepetember,” ujar dokter ahli bedah yang sudah berpengalaman dalam beberapa perang di Timur Tengah sebagai relawan medis tersebut. Menurutnya, yang menarik dalam peristiwa 11 September 2001 adalah telunjuk Amerika langsung mengarah Osama Bin Laden dan mujahidin Afghanistan. “Setelah pulang dari Afghanistan (sebagai relawan medis), saya mengambil kesimpulan bahwa ini bukan dilakukan oleh mujahidin,” katanya. Joserizal menilai bahwa rekayasa 11 September begitu kasar, terlalu jelas bahwa kejadian itu adalah rekayasa. Pria kelahiran Padang itu menyimpulkan, peristiwa peledakan gedung WTC dijadikan suatu kondisi sebagai alasan untuk menyerang Afghanistan. “Karena AS sudah memprogram ‘War on Teror’ sejak lama. Karenanya Amerika membuat gara-gara agar masyarakat menerima program itu.” Namun menurut Joserizal, masyarakat kini sudah tahu dan sudah banyak buku-buku yang ditulis berisi pengungkapan fakta-fakta dalam peristiwa itu. Joserizal menyimpulkan bahwa kejadian besar yang melanda negeri-negeri Timur Tengah yang dikenal sebagai “Arab Spring”, merupakan bagian dari konspirasi Zionis global, yaitu konspirasi Novus Ordo Seclorum (Tatanan Dunia Baru). “Jika di Islam dengan khilafahnya, Zionis dengan NOS, di Katolik ada Kerajaan Katolik. Cara Zionis adalah menimbulkan konflik dan memperalat. Jika tidak ada konflik, bisnis mereka tidak jalan, seperti penjualan senjata dan rente (bunga uang),” tambah Joserizal. Mengutip sejarah perseteruan Bani Aus dan Khazraj di Madinah, Joserizal mengatakan bahwa solusi yang dilakukan Nabi Muhammad terhadap perang saudara itu adalah mendamaikan keduanya dan melakukan operasi-operasi pasar yang dikuasai oleh Yahudi. (L/P09/P12/EO2). Sumber : http://mirajnews.com/web/indonesia/nasional/17427-pengamat-timur-tengah-amerika-target-hancurkan-tujuh-negara-arab.html        

Relawan Gaza: Pendidikan Hijab Masyarakat Gaza Sejak Balita

Jakarta, 9 Jumadil Akhir 1435/9 April 2014 (MINA) – Masyarakat Gaza melaksanakan syariat hijab yang sangat kuat dan dididik sejak usia di bawah lima tahun (balita). Hal itu dikisahkan oleh salah seorang relawan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee), Karidi, saat ditemui MINA di Jakarta, Selasa (8/4).  Pria asal Wonogiri itu belum lama kembali dari Gaza setelah turut membangun Rumah Sakit (RS) Indonesia di sana sekitar satu setengah tahun lamanya bersama para relawan dari jaringan Pondok Pesantren Al-Fatah yang berpusat di Cileungsi, Bogor. “Di masa balita, dari umur tiga sampai empat tahun ke atas, tidak ada anak-anak sebaya yang ngobrol atau main bareng antara anak laki-laki dan perempuan. Itu sudah sangat dijaga,” ujar Karidi. “Jika terjadi obrolan antara anak sebaya lawan jenis, maka anak itu dianggap aib bagi keluarga,” tegasnya. Relawan yang mengetuai bidang mekanikal elektrikal di pembangunan RS Indonesia itu mengisahkan, syariat hijab di masyarakat Gaza sangat kuat. Sejak sekolah sudah dipisah antara sekolah laki-laki dan perempuan. Demikian pula dari segi ruangan tamu di rumah orang Gaza, sudah di tata sedemikian rupa. Ruang tamu memiliki kamar mandi sendiri. Jika tamu mau ke kamar mandi, tidak sampai nyelonong ke belakang hingga melihat ruangan-ruangan yang lain. “Jika bertamu, kita juga tidak akan mungkin bisa melihat isteri pemilik rumah. Yang menyuguhkan makanan dan minuman adalah suaminya, bukan isterinya,” kata Karidi. Dia melanjutkan bahwa rumah-rumah warga Gaza memiliki pagar yang tinggi dengan tujuan orang yang lewat di depan rumah tidak bisa melihat langsung ke dalam. Demikian pula di tempat fasilitas umum, laki-laki dan perempuan sangat dibatasi. “Masyarakat di sana sudah dididik sejak kecil, jika berjalan menundukkan pandangan. Tidak ada yang namanya berpapasan dengan lawan jenis saling tatap face-to- face,” tambahnya. Selain itu, Karidi juga menceritakan betapa “luar biasanya” masyarakat dalam menyambut tamu, terutama terhadap para relawan yang sangat sering diundang untuk makan ke rumah warga. Terlebih ketika bulan Ramadhan saat berbuka puasa. “Saya sangat salut sekali dengan orang Gaza, mereka sangat memuliakan tamu. Mereka sangat hebat dalam memuliakan tamu. Kalau di sini (Indonesia), mungkin cukup sediakan air putih, selesai. Di sana sampai pesan makanan, seolah-olah semua dikeluarkan.” (L/P09/R2) Sumber : http://www.mirajnews.com/web/palestina-mb/17266-relawan-gaza-pendidikan-hijab-masyarakat-gaza-sejak-balita.html                

RSI Gaza, Penyambung Tali Batin Rakyat Indonesia dan Palestina (3-habis)

Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Distrik Beit Lahiya, Gaza utara, Palestina. REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Yoebal Ganesha Rasyid Sang mufti telah menyatakan dukungan sebelum negara Indonesia resmi diproklamasikan. Saat itu, dari tempat pengungsiannya di Jerman, Syekh Muhammad Amin al-Husaini menyatakan rakyat Palestina mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dukungan ini disiarkan Radio Berlin berbahasa Arab pada 6 September 1944. Pernyataan dukungan tersebut gaungnya menggema ke kawasan Timur Tengah dan menarik simpati rakyat negara-negara di kawasan tersebut. Dukungan serupa juga dinyatakan seorang saudagar ternama Palestina saat itu, Muhammad Ali Taher, setahun sebelum Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI. Dia bersimpati terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia dan spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata, “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia.” Dukungan ini lalu menjadi modal besar untuk memperjuangkan pengakuan dari negara-negara lainnya di dunia. Setelah seruan dari mufti Palestina itu, negara berdaulat yang berani mengakui kedaulatan RI pertama kali yakni negara Mesir pada 1949, lalu diikuti India. Pengakuan resmi Mesir itu (yang disusul oleh negara-negara Timur Tengah lainnya) menjadi modal besar bagi RI untuk secara sah diakui sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh. Pengakuan ini membuat RI berdiri sejajar dengan Belanda (juga dengan negara-negara merdeka lainnya) dalam segala macam perundingan dan pembahasan tentang Indonesia di lembaga internasional. Fakta sejarah tersebut tertulis dalam  buku Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia, M Zein Hassan Lc. Faried mengatakan fakta sejarah tersebut juga yang membangkitkan MER-C untuk memprakarsai usaha bersama rakyat Indonesia guna membangun rumah sakit di Gaza-Palestina. “Kami memandang rumah sakit ini akan menjadi tali batin rakyat Indonesia, yang selalu akan mendukung kemerdekaan Palestina,” katanya. Kini bangunan rumah sakit boleh dikatakan telah selesai. Selanjutnya, masih dibutuhkan dana Rp 65 miliar untuk pengadaan peralatan medis. MER-C memasang target rumah sakit tersebut mulai dioperasikan tiga bulan ke depan, sekitar Juni. Untuk soft launching, kata Faried, dibutuhkan dana Rp 15 miliar untuk pembelian peralatan medis dari Rp 65 miliar keseluruhannya. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/14/04/03/n3f6zv-rsi-gaza-penyambung-tali-batin-rakyat-indonesia-dan-palestina-3habis        

Silahkan bertanya?