MER-C SALURKAN SANTUNAN ANAK YATIM KORBAN AGRESI ISRAEL

Ketua MER-C Cabang Gaza, Muqarabbin Al-Fikri (kanan) memberikan santunan kepada salah seorang anak yatim korban serangan Israel 2008-2009, di RS Indonesia, Bayt Lahiya, utara Jalur Gaza-Palestina, Senin (9/6/2014). (Foto: MINA Gaza) Bayt Lahiya, 12 Sya’ban 1435/10 Juni 2014 (MINA) – Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menyalurkan santunan bagi anak-anak yatim piatu korban agresi Israel di Jalur Gaza pada 2008-2009 lalu. Penyaluran bantuan berupa uang tunai kepada 20 anak yatim tersebut diserahkan langsung oleh ketua MER-C Cabang Gaza, Muqarabbin Al-Fikri di RS Indonesia, Bayt Lahiya, Senin waktu Gaza. Fikri mengatakan, walaupun MER-C saat ini sedang fokus pada pembangunan RS Indonesia dan pengadaan alat kesehatan, namun MER-C juga terus membantu menyalurkan bantuan kepada rakyat Palestina. “Selain pembangunan RS Indonesia dan pengadaan alat kesehatannya, MER-C juga senantiasa menyalurkan berbagai amanah bantuan untuk rakyat Gaza, seperti penyaluran hewan qurban, pembagian sembako, serta penyaluran uang tunai dan bantuan lainnya kepada masyarakat Gaza serta kepada anak-anak Yatim,” ujar Fikri kepada wartawan Mi’raj Islamic News Agency (MINA) Gaza. Menurut dia, MER-C mempunyai kelebihan dengan melakukan penyaluran bantuan secara langsung oleh MER-C kepada masyarakat Gaza dan tidak melalui lembaga-lembaga di Gaza. “sehingga bantuan yang diamanahkan kepada kami tepat sasaran dan tepat guna,” ujar Fikri. Kedatangan anak-anak Yatim tersebut selain bertujuan untuk bersilaturahim, juga untuk meningkatkan kepercayaan diri anak-anak para syuhada tersebut. Dalam pertemuan lebih kurang 45 menit itu, anak-anak yatim tersebut dengan antusias mengajukan pertanyaan kepada para relawan. Pertanyaan-pertanyaan seputar RS Indonesia dan Indonesia sendiri diajukan oleh anak-anak tersebut. Menurut Ummu Muhammad, kegiatan seperti itu diadakan untuk memberikan dukungan terhadap psikologis mereka yang telah ditinggal orang tuanya. “Mereka adalah korban perang Furqan (2008-2009) di mana orang tua mereka menjadi syuhada akibat serangan Israel tersebut. Jadi kami memberikan dukungan psikologis terhadap mereka dan juga untuk meningkatkan semangat mereka guna melanjutkan kehidupan mereka ke arah yang lebih baik,” ujar Ummu Muhammad. Sementara itu, salah seorang peserta bernama Mahmoud mengucapkan terimakasih kepada rakyat Indonesia atas bantuannya terhadap Gaza. “Kami berterimakasih kepada masyarakat Indonesia atas kontribusinya kepada Gaza-Palestina, untuk membangun RS Indonesia ini dan apa pun bentuk kontribusi lainnya yang belum saya ketahui,” Ujar Mahmoud. Seorang anak lainnya bernama Nihal turut mendoakan semoga Allah membalas segala yang telah diberikan oleh rakyat Indonesia. “Pada kunjungan ini kami berterimakasih atas dukungan ini dan semoga Allah memberikan taufiq kepada kalian,” kata Nihal.(L/K01/K02/K03/P02/P04) Sumber : http://mirajnews.com/id/palestina/mer-c-salurkan-santunan-anak-yatim-korban-agresi-israel
RS Indonesia Beri Semangat Baru Rakyat Palestina

Yayasan Yatim Piatu Palestinian Children Relief Fund berkunjung ke RS Indonesia di Bayt Lahiya, utara Jalur Gaza-Palestina, Senin (9/6/2014). (Foto: MINA Gaza) Bayt Lahiya, 12 Sya’ban 1435/10 Juni 2014 (MINA) – Ummu Muhammad, pengurus yayasan yatim piatu Palestinian Children Relief Fund mengatakan, berdirinya RS Indonesia memberikan semangat dan kepercayaan baru bagi rakyat Palestina di Jalur Gaza, terutama anak-anak yatim piatu korban serangan rezim Israel. Pernyataan Ummu Muhammad disampaikan saat belasan anak yatim piatu dari berbagai daerah di Jalur Gaza mengadakan kunjungan ke RS Indonesia di Bayt Lahiya, utara Jalur Gaza, Palestina, Senin (9/6) waktu setempat. Menurut dia, kunjungan anak-anak yang bernaung dibawah yayasan yatim piatu yang berbasis di Gaza itu, bertujuan meningkatkan kemampuan dan kepercayaan diri mereka untuk berinteraksi dengan warga asing yang ada di Gaza, khususnya dari Indonesia. “Kunjungan kali ini termasuk kegiatan membangun kepercayaan diri, kegiatan ini mencakup jumlah anak-anak yang mencapai 60 anak dari berbagai daerah di Jalur Gaza, mulai dari Rafah hingga Bait Hanun,” ujar Ummu Muhammad pimpinan anak-anak yatim tersebut kepada wartawan Mi’raj Islamic News Agency (MINA) Gaza. Ummu Muhammad menyatakan, anak-anak yatim piatu yang datang ke RS Indonesia itu dipilih atas beberapa spesifikasi, terutama mereka yang memiliki jiwa kepemimpinan yang mempu membaca masalah apa yang terjadi di masyarakat sekitar dan kemampuan menanganinya. “Kunjungan ke RS Indonesia ini dilakukan setelah banyak kunjungan-kunjungan lainnya ke beberapa daerah, agar mereka mengetahui keberadaan RS Indonesia yang telah berdiri di daerah selatan Jalur Gaza ini,” ujar Ummu Muhmmd. Dia menyatakan, para anak yatim itu pun saling bertanya apa mengenai apa itu RS Indonesia. Mereka berfikir untuk segera bisa berkunjung ke RS Indonesia guna mengenal apa sebenarnya tujuan dibangun RS Indonesia dan apa program yang tersedia. “Kunjungan ini akan mereka sampaikan kepada anak-anak yang lain yang ada di yayasan pusat,” tutur Ummu Muhammad. Terima Kasih Rakyat Indonesia Ummu Muhammad juga mengatakan, sebagai perwakilan anak-anak yatim piatu di Gaza, yang paling utama mengucapkan terima kasih kepada rakyat dan pemerintah Indonesia atas dukungan mereka kepada masyarakat Gaza khususnya setelah perang terakhir. Dia menghimbau agar dukungan dana dan bantuan apa pun dari masyarakat Indonesia bagi warga Palestina khususnya Jalur Gaza agar terus berlanjut, karena mayoritas warga Gaza adalah orang-orang miskin yang kebutuhan mereka semakin sulit di bawah blokade Israel selama tujuh tahun lebih. “Ada pun proyek-proyek seperti RS Indonesia ini menghidupkan mereka dan memberikan rasa percaya diri. Sekali lagi kami berterima kasih banyak,” kata Ummu Muhammad. Kedatangan anak-anak yatim piatu itu disambut langsung oleh ketua MER-C cabang Gaza, Muqarrabin Al-Fikri, serta tiga relawan lainnya yang masih tetap tinggal di Jalur Gaza. Mewakili para relawan RS Indonesia, dalam sambutannya, Nur Ikhwan Abadi menyampaikan ucapan terima kasih atas kunjungan anak-anak korban agresi Israel 2008-2009 itu. “Kami ucapkan terima kasih atas kunjungan ini, dan merupakan sebuah kehormatan buat kami dikunjungi oleh anak-anak yang mulia ini,” ujar Ikhwan. Dia mengharapkan doa dari semua anak-anak yatim piatu Gaza untuk kelancaran pembangunan RS Indonesia serta keistiqamahan rakyat Indonesia dalam membantu rakyat Palestina. Rumah Sakit Indonesia di Jalur Utara Gaza Palestina, merupakan rumah sakit sumbangan rakyat Indonesia. Lembaga kemanusiaan MER-C sebagai inisiator pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, dalam pembangunannya bekerjasama dengan Ma’had Al-Fatah Indonesia. Pengadaan Alat Kesehatan Pekerjaan pembangunan RS Indonesia yang menjadi tempat untuk pemulihan trauma dan rehabilitasi bagi warga Gaza korban konflik bersenjata Palestina-Israel itu dilakukan oleh relawan Indonesia di mana seluruh pekerjanya tidak dibayar (unpaid volunteers). RS Indonesia di Jalur Gaza menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. RS Indoneaia pernah dikunjungi masyarakat Gaza secara umum, selain itu Perdana Menteri Ismail Haniyah beserta para menteri kabinet dan anggota parlemen pada saat Ramadhan 1434H/2013M yang lalu sengaja datang ke RS Indonesia untuk bersilaturahmi dan berbuka puasa bersama para relawan. Tidak hanya masyarakat dan pemerintahan Gaza yang mengnjungi RS Indonesia ini, rombongan dari berbagai negara seperti Inggris, Al-Jazair, Malaysia, dan berbagai negara lain ikut bersilaturahmi mengunjungi RS Indonesia, tidak terkecuali pemerintah Indonesia dari anggota Komisi I DPR RI. RS Indonesia yang pembangunan fisiknya sudah selesai, tinggal menunggu pengadaan alat kesehatan agar segera beroperasi. Masih dibutuhkan 65 Milyar untuk pengadaan Alat kesehatan tersebut. MER-C masih terus melakukan penggalangan dana untuk pengadaan alat kesehatan RS Indonesia.(L/ K01/K02/K03/P02/P04) Sumber : http://mirajnews.com/id/palestina/rs-indonesia-beri-semangat-baru-rakyat-palestina
Budayawan : RS Indonesia Menggetarkan Hati Manusia

Budayawan dan Seniman Aat Suratin, moderator diskusi Bandung, 12 Sya’ban 1435/10 Juni 2014 (MINA) –Budayawan nasional Aat Suratin, mengatakan bahwa RS Indonesia sungguh menginspirasi dan menggetarkan hati semua manusia, khususnya rakyat Indonesia. “RS indonesia itu sungguh menginspirasi dan menggetarkan hati manusia, dan kebaikan adalah sesuatu yang menginspirasi dan bisa menggetarkan hati manusia. Mendengar cerita para relawan atas usaha pembangunan RS Indonesia ini saya hati saya sungguh bergetar”, kata Aat Suratin pada acara Silaturahmi dan Kampanye Pengadaan alkes Rumah Sakit Indonesia Ahad lalu. Menanggapi antusias warga Gaza mengenai indahnya bentuk fisik RS Indonesia di Gaza yang menyerupai Masjid Al Aqsha, Aat begitu takjub atas ungkapan itu. “Ketika orang mengatakan indah, maka sesuatu itu pasti luar biasa, indah itu adalah estetika, dan estetika adalah telaah rasa atas keindahan, jadi RS Indonesia di Gaza adalah hal yang luar biasa,” kata Aat Suratin selaku Budayawan. Sementara itu salah satu ustadz muda Indonesia Erik Yusuf yang juga hadir menyampakan dalam tausiyahnya bahwa muslim itu satu tubuh, maka ketika saudara sesama muslimin tersakitimuslim lain juga harus merasa sakit. “Muslim itu satu tubuh, maka ketika saudara kita sesama muslimin tersakiti kita juga harus merasa sakit. RS Indonesia di Gaza adalah salah satu bentuk nyata bantuan untuk saudara kita yang tersakiti di Palestina,” katanya. Acara Silaturahmi dan Kampanye Pengadaan alkes RS Indonesia diadakan di Saung Angklung Udjo, Bandung dihadiri a.l. oleh istri wali kota Bandung Ridwan Kamil, Budayawan Aat Suratin, Maximum Theory Band dan pelukis cilik, Salma Khairannisa. Sebelumnya, kampanye Pengadaan AlKes RS Indonesia dilakukan di Jakarta. Kampanye untuk Pengadaan alkes RS Indonesia tersebut juga didukung oleh beberapa musisi ternama Indonesia seperti Slank, Wali, Naif, Ombat Tengkorak dan lainnya. (L/P015/P04). Sumber : http://mirajnews.com/id/indonesia/nasional/budayawan-rs-indonesia-menggetarkan-hati-manusia
WANADRI: JANGAN PERNAH LARI DARI URUSAN NYAWA MANUSIA

Ketua Tim SAR Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri, Soma Suparsa. (Foto: MER-C) Bandung, 11 Sya’ban 1435/9 Juni 2014 (MINA) – Ketua Tim SAR Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri, Soma Suparsa atau akrab di panggil kang Soma mengatakan, jangan pernah lari dari urusan nyawa manusia. “Jangan pernah lari atau diam dari urusan nyawa manusia,” katanya saat menjadi salah satu pembicara dalam sesi diskusi pada acara Silaturahmi dan Kampanye Pengadaan alat kesehatan RS Indonesia di Gaza, Palestina. Dalam diskusi tersebut Kang Soma menegaskan bahwa Wanadri akan menolong siapa saja yang membutuhkan bantuan tidak pernah membedakan suku, ras dan bangsanya. “Kami akan menolong siapa saja yang membutuhkan bantuan tidak pernah membedakan suku, ras dan bangsanya. Oleh karena itu kami siap menurunkan relawan ke Gaza jika memungkinkan,” kata Soma. Kemudian Soma juga menegaskan bahwa Wanadri siap membekali relawan yang akan di kirim ke Gaza, Palestina jika memang diperlukan. Maximum Theory Band, melaui Vokalisnya Hengy Saing dalam sesi itu juga mengatakan bahwa bandnya sangat mensupport gerakan 50 ribu untuk pengadaan alkes RS Indonesia di Gaza ini. Ia mengatakan banyak musisi Indonesia yang juga concern dalam kegiatan kemanusiaan. “Mereka (para musisi) banyak yang bersedia membantu orang yang membutuhkan,” kata Hengky. Acara Silaturahmi dan Kampanye Pengadaan alat kesehatan (alkes) RS Indonesia diadakan di Saung Angklung Udjo, Bandung dihadiri oleh istri wali kota Bandung Ridwan Kamil, Budayawan Aat Suratin, Maximum Theory Band dan pelukis cilik, Salma Khairannisa. Sebelumnya, kampanye Pengadaan Alkes RS Indonesia dilakukan di Jakarta. Kampanye untuk Pengadaan alkes RS Indonesia tersebut juga didukung oleh beberapa musisi ternama Indonesia seperti Slank, Wali, Naif, Ombat Tengkorak dan lain-lain. (L/P015/P04). Sumber : http://mirajnews.com/id/indonesia/nasional/wanadri-jangan-pernah-lari-dari-urusan-nyawa-manusia
Warga Medan Himpun Dana untuk Ruang Operasi RS Indonesia di Gaza

Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Distrik Beit Lahiya, Gaza utara, Palestina. REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Masyarakat Sumatera Utara memulai gerakan wakaf satu item kebutuhan ruang operasi Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Gerakan wakaf item tersebut senilai Rp 3 M untuk memenuhi kebutuhan satu ruang operasi RSI. “Gerakan ini merupakan gagasan dari beberapa tokoh pendidikan kesehatan dan organisasi profesi untuk membentuk gerakan wakaf kebutuhan satu unit ruang operasi,” ujar Rahmad Gunawan, pelaksana teknis Mer-C cabang Medan saat dihubungi Republika (29/5). Ia melanjutkan, pada 24-25 Mei lalu, Mer-C Medan bersosialisasi tentang RSI di Gaza melalui beberapa media stasiun radio di sekitar wilayah Medan. Salah satunya di stasiun radio RRI Medan. Sedangkan, pada 25 membentuk sebuah seminar dan melakukan penggalangan dana. “Pada acara penggalangan dana tanggal 25 lalu, donasi yang terkumpul mencapai jutaan rupiah,” katanya. Mer-C Medan berkolaborasi dengan para penggagas untuk melakukan gerakan ini. Para penggagas pun telah memulai gerakan wakaf tersebut dan Mer-C Medan akan membuat sebuah rekening khusus untuk mengoptimalisasi gerakan masyarakat Sumut. Gerakan wakaf kebutuhan satu unit ruang operasi RSI di Gaza, ditargetkan pada akhir tahun ini dapat terkumpul donasi Rp 3 M, sehingga target pembukaan RSI dapat segera dilakukan. “Kami berharap bantuan konkrit kami dapat terwujud dan kami berharap nantinya apabila donasi terkumpul dan kebutuhan satu ruang operasi terpenuhi, terdapat satu ruang operasi di RSI diberikan nama Sumatera Utara,” jelasnya. Pada Jumat (30/5) Mer-C Medan dan para penggagas akan bertemu untuk membahas kelanjutan gerakan wakaf tersebut. Selain itu, membahas donasi yang sudah terkumpul hingga saat ini, Mer-C dan para penggagas juga telah mengagendakan berbagai acara di bulan Ramadahan untuk penggalangan dana. “Kami akan melakukan dengan maksimal dan berapa pun jumlah besar yang dapat terkumpul, semuanya akan kami serahkan untuk RS Indonesia di Gaza.” kata Rahmad Gunawan. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/05/29/n6bk7r-warga-medan-himpun-dana-untuk-ruang-operasi-rs-indonesia-di-gaza
Din Ajak Umat Islam Bantu RS Indonesia di Gaza

Di tengah derita memilukan yang dialami bangsa Palestina, MUI mensyukuri peran bangsa Indonesia yang bisa membangun rumah sakit di Gaza Palestina, meskipun sampai saat ini rumah sakit tersebut harus dilengkapi peralatan medis untuk menunjang operasionalnya. “Saya pribadi memberikan apresiasi pada Mer-C, meskipun rumah sakit ini baru selesai bangunan fisik, belum fisiknya, saya menghimbau pada umat Islam agar mengumpulkan dana lagi untuk membangun rumah sakit Indonesia di Gaza,” kata Ketum MUI Prof. Dr. Din Syamsuddin di Kantor MUI di Jakarta, Selasa (20/5/2014). Menurutnya apa yang terjadi di Palestina adalah tragedi kemanusiaan yang menuntut uluran tangan kita untuk memberikan bantuan, katanya, banyak istri yang kehilangan suami, anak dan ayah, banyak anak yang tidak bersekolah dan tak terjamin kesehatannya, syukur Alhamdulillah Mer-C dari Indonesia dapat mendirikan rumah sakit Indonesia di Gaza Palestina. “MUI menghimbau kepada seluruh bangsa Indonesia khususnya umat Islam untuk terus menerus mengulurkan tangan kedermawanan untuk memberikan bantuan apapun, termasuk untuk mengisi Rumah Sakit Indonesia yang telah berdiri di Gaza sana yang belum memiliki alat kesehatan dan sara pra-sarana lainnya,” kata Din. Sementara itu, Kepala Divisi Penggalangan Dana MER-C, Luly Larissa Agiel, mengatakan, pengadaan alkes memerlukan anggaran sekitar Rp 65 milyar. Menurutnya, Pembangunan RS Indonesia di Gaza, yang mulai dikerjakan sejak 14 Mei 2011, dibangun oleh MER-C dengan para relawan dari Indonesia, dan dukungan donatur rakyat Indonesia. Ia menambahkan, RS ini memiliki tipe Trauma Center & Rehabilitation, dengan kapasitas 100 tempat tidur, serta bangunan 2 lantai dan 1 lantai basement. Bangunan atap RS ini didesain berbentuk segi delapan, seperti kubah Masjid Al-Aqsha. “Ini diharapkan menjadi karya anak bangsa dan menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina,” ujarnya. Apalagi, katanya, seluruh donasi berasal dari masyarakat Indonesia. Bahkan, sebagian besar berasal dari kantong-kantong kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Untuk itu, bagi masyarakat yang berniat memberikan bantuan donasi untuk Alat Kesehatan RS INDONESIA di Gaza Palestina dapat disalurkan melalui:BNI Syariah, No. Rek. 08.111.929.73 /BCA, No. Rek. 686.0153.678/ BRI, No. Rek. 033.501.0007.60308/ BSM, No. Rek. 700.1352.061/ BMI, No. Rek. 301.00521.15 Sumber : http://mui.or.id/mui/homepage/berita/berita-singkat/din-ajak-umat-islam-bantu-rs-indonesia-di-gaza.html
MUI Ajak Umat Islam Bantu RSI di Gaza (2-habis)

Rumah Sakit Indonesia di Gaza REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — RSI merupakan hadiah rakyat Indonesia untuk warga Palestina atas nama kemanusiaan. Derita bangsa Palestina, kata Din, sangat memilukan hati setiap Muslim karena telah menyebabkan jatuhnya banyak korban jiwa, termasuk kaum wanita dan anak-anak. Ia bersyukur, masyarakat Indonesia telah memberikan bantuan dan dukungan kepada bangsa Palestina melalui berbagai jalur. “Secara pribadi, saya menyampaikan dukungan dan memberikan apresiasi kepada MER-C yang telah memprakarsai pembangunan RSI di Gaza, dan kini telah berdiri.” RSI di Gaza memiliki sejarah panjang dan berliku sejak kemunculan gagasan pembangunannya pada 2009 ketika Israel melancarkan agresi ke wilayah Palestina tersebut. Salah satu pendiri MER-C, Joserizal Jurnalis, mengatakan, pembangunan RSI di Gaza beserta pengadaan alat kesehatannya harus diselesaikan dengan rapi. Sebab, RSI akan menjadi hadiah megah dari rakyat Indonesia untuk warga Palestina atas nama kemanusiaan. “Ini rumah sakit masyarakat Indonesia. Ketika rumah sakit siap beroperasi, kita akan memberikan bulat-bulat untuk rakyat Palestina,” ujarnya dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (30/4). Sejak wacana untuk membangun rumah sakit ini bergulir pada 2009, kata Joserizal, banyak pihak yang meragukan keberhasilannya. Namun, Jose dan rekan-rekannya di MER-C pantang menyerah. “Kalau dibom oleh Israel, ya nanti kita bangun lagi. Karena, yang jauh lebih penting adalah spirit rakyat Indonesia,” tegasnya. MER-C, kata Joserizal, memasang target untuk menyerahkan dana pembelian alat-alat kesehatan pada Oktober atau Desember mendatang. Ia berharap, RSI di Gaza akan menjadi rumah sakit modern yang menjadi pusat perawatan traumatologi dan rehabilitasi terlengkap di Palestina. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/14/05/21/n5x7l2-mui-ajak-umat-islam-bantu-rsi-di-gaza-2habis
MUI Ajak Umat Islam Bantu RSI di Gaza (1)

Replika Rumah Sakit Indonesia di Gaza REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, Palestina, telah selesai dibangun. Namun, untuk beroperasi sebagai pusat pelayanan kesehatan, rumah sakit tersebut masih membutuhkan alat-alat medis. Karena itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau masyarakat Indonesia untuk memberikan bantuan, sehingga RSI di Gaza bisa segera bisa beroperasi. ”Masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam, sangat diharapkan untuk memberikan bantuan lanjutan kepada RSI di Gaza dengan perlengkapan medis sehingga dapat segera beroperasi,” kata Ketua Umum MUI Prof Din Syamsuddin. Din menjelaskan itu usai menerima kunjungan sejumlah perwakilan organisasi kemanusiaan, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) di kantor MUI, Jakarta, Selasa (20/5). Pascatuntasnya pembangunan pada Desember 2013, RSI Gaza masih membutuhkan alat-alat kesehatan yang nilainya ditaksir dua kali lipat dari biaya pembangunan. Untuk pengadaan alat kesehatan, dana yang dibutuhkan diperkirakan mencapai Rp 65 miliar. Din mengatakan, masyarakat Indonesia harus terus mendukung dan membantu bangsa Palestina. Bukan hanya dalam pengadaan alat-alat medis di RSI di Gaza, juga membantu pendidikan anak-anak Palestina. ”Bantuan pangan juga masih sangat dibutuhkan oleh bangsa Palestina,” ujar Din. MUI, menurut dia, telah memberikan bantuan kepada bangsa Palestina melalui berbagai jalur. Jika ada kesempatan, MUI pun berencana mengunjungi RSI di Gaza. “Hal yang patut disyukuri bahwa melalui MER-C masyarakat Indonesia dapat mendirikan RSI di Gaza.” Hal tersebut, menurut Din, merupakan bukti nyata solidaritas masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam terhadap penderitaan bangsa Palestina. Penderitaan panjang yang disebabkan oleh penjajahan Israel. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/14/05/21/n5x7e9-mui-ajak-umat-islam-bantu-rsi-di-gaza-1
Kisah Relawan MER-C di Jalur Gaza (2)

Karidi dan sejumlah relawan bersama PM Ismail Haniyah REPUBLIKA.CO.ID, GAZA — Peristiwa paling mengharukan, tentunya adalah tatkala kami berpamitan untuk kembali ke Indonesia karena tugas sudah selesai, untuk diteruskan oleh relawan lainnya.“Saya lihat mata mereka berkaca-kaca, dan saya lihat itu air mata kesedihan, haru, kecintaan dan persaudaraan”. Itulah, tanggal 15 Februari 2014, setelah 17 bulan atau hampir 1,5 tahun saya membantu membangun RS Indonesia, sungguh perjalanan fisik dan spiritual yang luar biasa, tak ternilai dengan harta apapun jua. Saya sangat berterima kasih kepada saudara-saudaraku di Jalur Gaza, yang banyak mengajarkan saya arti penting ketegaran jiwa, keberanian dalam kebenaran, keshabaran dalam perjuangan dan persaudaraan dalam ketertindasan. Kepada masyarakat Indonesia yang telah berdonasi untuk pembangunan rumah sakit tersebut, saya juga ucapkan terima kasih “Jazakumullahu khaira”, Semoga Allah pun membalas dengan kebaikan yang berlipat ganda. Tetapi, masih ada yanga mengganjal, yaitu bahwa bangunan tipe RS Traumatologi dan Rehabilitasi, dua lantai dan lantai basement, dengan kapasitas 100 tempat tidur itu memang sudah selesai. Terkesan kokoh, tegar, megah, dan berwibawa. Bendera Palestina hitam-putih-hijau-merah, bersanding dengan bendera mera-putih Indonesia, berkibar menyongsong kemerdekaan Palestina dan pembebasan Al-Aqsha oleh putera-putera terbaik dari Indonesia. Adapun yang mengganjal adalah, bangunannya sudah berdiri, tetapi isinya belum ada, yaitu berupa alat kesehatan (alkes). Menurut penghitungan MER-C, masih memerlukan dana sekitar 65 miliar rupiah. Dana tersebut untuk Instalasi Gawat Darurat (IGD), Intensive Care Unit (ICU), Instalasi Radiologi, Laboratorium, dan lainnya. RS Indonesia di Gaza, adalah sebuah karya anak bangsa, bukti silaturahim Indonesia-Palestina. Untuk itu, bagi saudara-saudaraku dari seluruh kalangan, dari seluruh penjuru negeri Indonesia, masih terbuka pintu amal untuk pengadaan alat kesehatan RS Indonesia. “Ya Allah berilah kekuatan, kesabaran, keberkahan, keselamatan dan kemenangan untuk para pejuang di jalan-Mu, untuk para relawan pembangun rumah sakit guna mengobati hamba-hamba-Mu, untuk para donatur yang rela merogoh hartanya untuk amal mulia ini.” Aamiin. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/komunitas/alamsemesta/14/05/16/n5nsuh-kisah-relawan-merc-di-jalur-gaza-2
Kisah Karidi dan Relawan di Jalur Gaza (1)

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA — Tidak terpikir sebelumnya, menjadi relawan di medan perang, Jalur Gaza, yang selama bertahun-tahun dalam blokade Zionis Israel. Blokade darat, laut dan udara. Jangankan untuk membangun klinik atau posko kesehatan, untuk mendatangkan keperluan pokok harian saja, mesti harus melalui terowongan — yang semakin banyak ditutup oleh Mesir. Jalur lain melalui perbatasan Rafah, yang juga buka-tutup tidak menentu oleh pihak keamanan Mesir. Karidi memasang instalasi listrik di Gaza Begitulah, tanpa terasa, saya pun diberangkatkan pada 21 Oktober 2012, sebagai relawan (unpaid volunteers), oleh MER-C (Medical Emergency Rescue Committee), sebuah organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak di bidang kegawatdaruratan medis . Kemampuan saya dipilih di bidang Mecanical Electric (ME), dengan izin Allah mengantarkan saya berziarah ke bumi para Nabi, Jalur Gaza. Walaupun, terus terang nol besar dalam komunikasi bahasa Arab. Ya, memang dari lingkungan pesantren. Tetapi ya, sebagai tukang, yang hanya mampu beberapa ucapan bahasa Arab yang umum-umum saja, seperti bismillah, assalamu’alaikum, kayfa haal, innaa lillaah… Menginjakkan kaki di kampung Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina, saya bersama relawan Indonesia lainnya, pun mulai bekerja (amal sholih) melanjutkan pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia. Terutama sesuai bidang saya, masang-masang alat-alat listrik, urusan kabel-kabel, lampu, ac, dan sejenisnya. RS Indonesia berdiri di atas lahan 16.261m2 waqaf pemerintah Palestina, dinamakan RS Indonesia, menurut yang saya dengar dari Pengurus MER-C, karena memang seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. “Di samping itu juga diharapkan menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dengan rakyat Palestina”, itu kalimat yang saya camkan. Saya, dibantu relawan yang dapat berkomunikasi dalam bahasa Arab, sempatkan jalan-jalan dan bergaul dengan masyarakat sekitar. Sungguh luar biasa sambutan dan penghormatan warga di sana. Keramahannya membuat saya yang harus rela meninggalkan Tina isteri saya, dan keluarga besar saya di Jawa Tengah, serasa mendapat ganti keluarga besar, di bumi yang pernah disinggahi oleh para Nabi dan sahabat-sahabatnya itu. “Menakjubkan, kalian dari negeri yang sangat jauh dari Gaza, datang untuk membangun rumah sakit buat kami,” ujar Abu Muslim, Imam Masjid di daerah Ghalebo, Gaza Utara, tidak jauh dari lokasi RS Indonesia. Tak hanya itu, Perdana Menteri Palestina di Jalur Gaza, Ismail Haniyya pun, demi rasa hormatnya terhadap umat Islam Indonesia yang sedang membangun RS Indonesia, menyempatkan hadir berkunjung ke lokasi bangunan pada Juli 2013 lalu. “Ini bukti kepedulian dan cinta rakyat Indonesia terhadap rakyat Palestina, terutama di Jalur Gaza,” ujar Haniyya di hadapan relawan waktu itu. Apalagi, menurutnya, artistek Indonesia membuat bentuk bangunan RS Indonesia itu, segi delapan, yang menyerupai segi delapan bentuk Kubah Sakhrah di kompleks Al-Aqsha Palestina. Saya dan teman-teman relawan, dalam tim pambangunan, yang ketika di Indonesia bekerja sebagai teknisi AC dan listrik, cukup mengalami kesulitan untuk mendapatkan beberapa bahan elektrik yang tidak biasa dipakai seperti di Indonesia. Walaupun kemudian bisa juga. Kesulitan lainnya, kita sangat tergantung dari donasi masyarakat. Di samping itu, beberapa bahan listrik ternyata juga sulit didapat. Kita mesti order dulu, dan itu perlu waktu cukup lama. Jadi, pekerjaan jadi tertunda waktunya. Hal yang lebih mengkhawatirkan lagi, adalah tatkala Zionis Israel menggempur sepanjang Jalur Gaza pada November 2013. Pesawat menderu-deru di angkasa, bom berjatuhan di mana-mana.Kami sempat panik, karena belum terbiasa mendengar dentuman bom di atas kepala kita. Apalagi beberapa kaca RS Indonesia sempat pecah berantakan oleh getaran bom yang jatuh tidak jauh dari lokasi RS. Tetapi setelah ditenangkan warga setempat, bahwa hal itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Akhirnya terbiasa juga. Anggaplah itu petasan mainan.“Kami pun tetap bekerja, terutama di ruang dalam, seperti pemasangan lantai, kabel-kabel dalam ruangan, dan sebagainya”. Namun, apapun risiko yang terjadi, saya merasa bahwa apa yang saya lakukan dan teman-teman relawan lainnya, dalam ikut serta membangun RS Indonesia di Gaza, adalah bagian dari amal shaleh kami. Kami ingin ini menjadi bukti sejarah ikatan perjuangan Palestina-Indonesia secara keseluruhan. “Ini Insya Allah akan saya jadikan sebagai amal shaleh bagi saya sendiri dan keluarga saya. Saya sangat bersyukur dengan menjadi relawan ini”. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/komunitas/alamsemesta/14/05/16/n5nsex-kisah-karidi-dan-relawan-di-jalur-gaza-1