MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Indonesia’s Poor Donate $15 Million To Build A Hospital In Gaza

An Indonesian non-governmental organisation has collected nearly $15 million from Indonesia’s poor and rich alike to build the first Indonesian hospital in the Gaza Strip. The hospital, which will serve those Palestinians living in northern Gaza, is nearly finished and awaiting some equipment before it starts receiving patients. It is due for completion in May.     Southeast Asian countries are known for their strong support for Palestine, especially the Muslim communities who spend many efforts to visit and support Gaza. Fikri Fikri, a 24 year-old young man from Sumatra, is a volunteer at Indonesia’s Medical Emergency Rescue Committee, known as MER-C. He and 28 other Indonesians have been in Gaza for nearly four months to finalise building the hospital.   Fekri told Quds.net that: “We are nearly 30 people between workers, engineers, doctors and technicians. Many of us have already returned home because the work here is almost completed.” Fekri described how “Indonesian civil society groups in Jakarta collected donations from people who were happy to support Gaza, even though many of them suffered uneasy financial situations.”   When asked if they face any problems in Gaza, Fekri responded that: “The people like us here. We have only encountered a small problem with the local Ministry of Health because the organisation wanted to have an office near the hospital but the ministry refused to allow this. But we will solve it.”   Fekri, who studies sharia at the Islamic University of Gaza, explained how: “We have taken risks to complete the hospital. It’s a nice feeling to help the wounded in Gaza who suffer from Israeli aggression. We have come here and we know that it’s not easy, but we are happy. I have learned Arabic in an acceptable way. However, I’m not married so I miss my home and my country.”   Abu Mohammed, a 42 year-old Indonesian engineer who joined the mission, said: “I feel sad sometimes because I have been here for so long. I feel lonely, but because I work for Palestine and Gaza, I am proud of what I do. We are nearly done. There are a few Indonesian workers here who take a symbolic wage. They all came to work for Palestine. We should finish our work and transfer the hospital’s administration to the Local Ministry of Health in May 2014. We work near the borders and it is unsafe. I do not know how to describe my feeling when I hear the explosions and Israeli airstrikes; however, I am ready to die for Palestine and for the weak and the just. I am going to be very happy when the hospital is completed and ready to serve the people of Gaza and when I return safely to my family in Jakarta.”   The Health Ministry of the Hamas-led government in Gaza and Indonesia’s MER-C signed a memorandum of understanding on 21 November 2011 stipulating the financing of the hospital.   Shadi Abu Herbein, the deputy director of the hospital, explained that the hospital is established on an area that is 3000 square metres and has 100 beds, eight of which are for the intensive care unit, ten for the reception, and four rooms for surgeries.   – See more at: http://www.middleeastmonitor.com/news/48-asia/9146-indonesias-poor-donate-15-million-to-build-a-hospital-in-gaza#sthash.65e362SF.dpuf    Source : http://www.middleeastmonitor.com/news/48-asia/9146-indonesias-poor-donate-15-million-to-build-a-hospital-in-gaza                  

Mantap MER-C Medan!

Medan – “Pagi ini untuk menyambut Relawan-relawan MER-C Medan memasang spanduk untuk alamat kantor MER-C…MER-C Medan siap menyambut pergantian tahun dengan rencana kegiatan untuk 1 tahun kedepan dengan program-program pengokohan sistem organisasi…Mohon Doa & Dukungannya dari kita semua,” dr. Rahmad Gunawan, Sekretaris Umum MER-C Cabang Medan.        

Meski Cuaca Ekstrim, Pembangunan RS Indonesia Di Gaza Terus Berlanjut

Proses pemasangan paving block pada halaman RS Indonesia, Bayt Lahiya, utara Jalur Gaza, Palestina. (Foto: MER-C/MINA) Bayt Lahiya, 12 Shafar 1435/15 Desember 2013 (MINA) – Meski kondisi cuaca ekstrim musim dingin  melanda sekitar Jalur Gaza, Palestina, hingga turunnya hujan dan salju, tidak menyurutkan semangat relawan untuk terus melaksanakan pembangunan tahap akhir Rumah Sakit (RS) Indonesia di sana. “Hujan yang mengguyur Jalur Gaza tidak menghentikan proses pembangunan RS Indonesia, mereka menghadapinya dengan semangat,” kontributor Kantor Berita Islam Mi’raj News Agency (MINA), Fikri di Jalur Gaza melaporkan, Sabtu (14/12) malam waktu setempat. Fikri mengungkapkan, para relawan menyiasati rasa dingin suhu minus delapan derajat  dengan memakai pakaian rangkap, jaket, dan pakaian khas musim dingin. “Di mana orang Gaza menyebutnya ‘Long Jhons’,” tuturnya. Tidak hanya itu, hujan turun selama tiga hari terakhir sempat menghambat aktivitas para relawan dalam membangun RS Indonesia. Para relawan hanya mampu mengerjakan pekerjaan bagian dalam, dengan mengganti keramik yang pecah akibat alat-alat berat atau sekedar membersihkan lantai. Sementara pengerjaan pemasangan paving block pada halaman RS Indonesia terhenti jika hujan turun. “Hujan yang tak kunjung berhenti menjadi kendala kami, namun walau demikian kami melanjutkan pekerjaan ketika hujan reda,” kata Sumadi, relawan RS Indonesia asal Wonogiri. Pekerjaan pembangunan RS Indonesia yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara Palestina itu dilakukan oleh relawan Indonesia di mana seluruh pekerjanya tidak dibayar (unpaid volunteers). Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sebagai inisiator pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, dalam pembangunannya bekerjasama dengan Ma’had Al-Fatah Indonesia telah mengirim 33 relawannya ke Jalur Gaza. Rumah Sakit Indonesia itu sendiri menjadi tempat untuk pemulihan trauma dan rehabilitasi bagi warga Palestina di Jalur Gaza yang menjadi korban penjajahan Israel atas tanah Palestina.  RS Indonesia di Jalur Gaza menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Laporan yang diterima oleh MINA, setidaknya empat korban telah tewas akibat cuaca ekstrim di Jalur Gaza, dua di antaranya meninggal karena  kedinginan, sementara yang lainnya meninggal akibat luka-luka setelah banjir yang tinggi melanda. Musim dingin yang disertai banjir di sebagian wilayah Jalur Gaza semakin memperburuk kondisi krisis Gaza di tengah blokade yang dilakukan penjajah Israel terhadap warga Palestina di sana selama lebih dari tujuh tahun, terutama setelah penutupan seluruh terowongan di Rafah yang menjadi alternatif penyaluran kebutuhan pangan sekitar 1,8 juta jiwa di area tepi laut itu. Pada Sabtu (14/12) kemarin, Perdana Menteri Palestina, Ismail Haniyah mendesak masyarakat internasional untuk membantu warga Jalur Gaza yang terkena dampak bencana banjir yang sedang melanda wilayah yang diblokade Israel tersebut. (L/P08/P02) Sumber : http://mirajnews.com/palestina/12884-pembangunan-rsi-terus-berlanjut-meski-kondisi-cuaca-gaza-ekstrim.htmlA

Warga Filipina Puji Tim Bedah MER-C

Seorang warga berjalan melewati pemukiman yang hancur akibat Topan Haiyan di kota Tacloban, Leyte provinsi Leyte, Filipina tengah, Ahad (10/11). (AP/Bullit Marquez) REPUBLIKA.CO.ID,  CEBU — Department of Health Filipina dan sejumlah NGO asing dari berbagai negara menyatakan salut dan apresiasi yang besar bagi kinerja Tim Bedah MER-C. Hal ini disampaikan pada saat rapat koordinasi yang diadakan DOH Filipina, Selasa (3/12) bertempat di kantor DOH, Cebu City. Turut hadir tiga relawan MER-C pada rapat tersebut untuk memberikan laporan kegiatan Tim, yaitu dr Abdul Mughni SpB KBD, dr Nurul Qomaruzzaman SpOT, dan dr Dany Kurniadi Ramdhan, SpBS. Kami tidak menyangka diberi applaus dan salut dari semua hadirin seperti UNICEF Japan Army, sesaat setelah dr. Abdul Mughni Ketua Tim MER-C memberikan laporan, ungkap dr Nurul Qomaruzzaman yang juga merupakan Wakil Ketua Tim MER-C untuk Filipina, dalam pernyataannya, Sabtu (7/12).   Relawan yang berprofesi sebagai ahli bedah tulang ini memaparkan, sejak awal peserta rapat menyampaikan bahwa di Medellin dan sejumlah wilayah di Cebu Utara yang dilanda topan belum ada medis dan warga belum tertangani. Padahal, Tim MER-C sudah menjangkau seluruh daerah yang disebutkan tadi.   Kami sudah melayani sekitar 1.670 pasien rawat jalan melalui program mobile clinic dan telah melakukan 12 kali operasi mayor di seluruh radius North District Cebu sampai ke pulau terjauh Kinatarcan, jelas dr Nurul. Paparan inilah yang membuat para hadirin salut dan bertepuk tangan karena apa yang telah dilakukan Tim MER-C menjawab semua permasalahan dan keluhan yang semenjak tadi dibicarakan, yakni belum adanya medis di Medellin.   Ungkapan terima kasih juga berdatangan dari sejumlah sejawat medis Bogo Medellin Medical Center (BMMC). Rumah Sakit yang turut mengalami kerusakan akibat topan ini juga merupakan tempat Tim MER-C berposko selama menunaikan tugas kemanusiaan di Filipina.   “Selamat kepada grup MER-C Indonesia yang telah menjadi grup pertama dari 20 negara yang telah memberikan bantuan medis di Cebu Utara,” ujar perwakilan Kemenkes Filipina, Enirhtak Ocificap Atelom. Rasa terima kasih juga disampaikan langsung perwakilan RS Medellin. “Selamat kepada seluruh grup MER-C! Merupakan sebuah kehormatan bagi kami untuk dapat bekerja sama dengan anda semua. Dengan cinta dari kami BBMC dan seluruh warga Medellin,” ujat LZ Hurado Iscanilla. Reporter : Indah wulandari Redaktur : Dewi mardiani Sumber  : http://www.republika.co.id/berita/internasional/asean/13/12/07/mxf3pd-warga-filipina-puji-tim-bedah-merc

Good bye Nelson Mandela

The family of MER-C would like to convey our deepest condolences to the passing of Nelson Mandela. His fight for the freedom of the people of South Africa, Palestine and for all mankind will never be forgotten. “We know too well that our freedom is incomplete without the freedom of the Palestinians.” -Nelson Mandela-

Selamat Jalan Nelson Mandela

Keluarga besar MER-C turut berduka cita akan berpulangnya Nelson Mandela di Afrika selatan. Perjuangannya demi kemerdekaan rakyat Afrika Selatan, Palestina Dan seluruh umat manusia tidak Akan kami lupakan. “Kita tahu betul bahwa kemerdekaan kita tidak Akan menjadi lengkap tanpa adanya kemerdekaan bagi rakyat Palestina.” -Nelson Mandela 

Rindu Suara Adzan

Cebu, Filipina – Ada satu hal yang sangat dirindukan sembilan relawan MER-C yang telah bertugas di Filipina selama satu minggu ini. Ya, rindu akan suara adzan yang biasanya akrab terdengar di Indonesia kala memasuki waktu-waktu shalat. Rasa rindu itu akhirnya terobati. Bukan karena pulang ke Indonesia, namun karena ketika melakukan pengobatan keliling (mobile clinic) hari itu, Sabtu (30/11), tim bertemu dengan komunitas muslim di wilayah Bogo, tepatnya di San Remigio yang ternyata letaknya tidak jauh dari posko tempat Tim MER-C tinggal selama ini. San Remigio adalah salah satu wilayah yang turut dilanda topan dahsyat Haiyan. Karena bertepatan dengan hari libur nasional di Filipina, yaitu Bonifacio Day atau hari kemenangan pahlawan lokal terhadap penjajahan di Filipina, maka pada hari ini hampir tidak ada aktifitas di semua sektor kehidupan. Meskipun demikian, Tim Bedah MER-C tetap melakukan jadwal operasi seperti biasa dan perawatan luka pada beberapa pasien post operasi. Sebelumnya Tim mobile clinic MER-C agak kesulitan untuk mencari transportasi. Menjelang sore hari tim baru bisa mendapatkan mobil untuk menuju San Remegio, Cebu. Seorang kontak person warga lokal yang memandu dan mengantarkan Tim ke sana. San Remegio merupakan perkampungan muslim yang baru berkembang pada tahun 2007 dan mungkin satu-satunya kampung muslim di pulau Cebu ini. Diawali oleh seorang muallaf yang berdakwah sendirian secara perlahan. Di desa ini, dan berkat upaya dakwahnya, meskipun belum selesai pembangunannya, tampak sudah berdiri tegak sebuah masjid dengan luas bangunan kira-kira 40×20 m persegi. Ini adalah satu-satunya masjid yang tim temui selama menunaikan misi kemanusiaan di Filipina, mesjid ini diberi nama masjid Madinah. Tim MER-C memulai pengobatan massal pada pukul 16.00 di area depan masjid dan diakhiri saat azan maghrib berkumandang, dengan jumlah pasien sebanyak 112 orang.  ” Subhanallah … Kami sangat terharu bertemu dengan komunitas muslim yang hanya 10 kepala keluarga. Kami juga terharu akhirnya bisa mendengar suara adzan dan bisa sholat berjamaah dengan saudara-saudara seiman kami di sini,” ungkap Islamiyah salah satu anggota tim MER-C. Bertindak sebagai Imam sholat maghrib adalah anggota Tim MER-C, dr. M. Nurul Qomaruzzaman, SpOT. “Kami juga menyampaikan salam dari muslim Indonesia,” tambah Islamiyah, yang juga akrab disapa dengan Iis. “Rasa haru tidak bisa kami sembunyikan. Sampai yang mengantar kami kesini warga local yang nonmuslim pun juga ikut terharu,” lanjutnya. ———- Selama menunaikan misi medis di Filipina, Tim MER-C tinggal di Bogo-Medellin Medical Center, sebuah RS Advent. Tim mengoperasikan dan mengobati siapa saja korban topan Haiyan di RS ini tanpa memandang ras dan agama. Meskipun berada di lingkungan nonmuslim, namun Tim MER-C merasakan perlakuan yang luar biasa dari sejawat medis di RS dan warga lokal. “Subhanallah perlakuan saudara kita di sini luar biasa, selalu menyiapkan makanan halal bagi kami,” tutur Islamiyah

Relawan Indonesia Di Gaza Kunjungi Rumah Duka Ismail Haniyah

Perdana Menteri Ismail Haniyah sedang membawa jenazah cucu pertamanya Amal Abdussalam Haniyah, di salah satu rumah sakit di Gaza City, Rabu (27/11). (Foto: Team Palestina) Gaza City, 24 Muharram 1435/28 November 2013 (MINA) – Para relawan Indonesia di Gaza berkunjung ke rumah duka Perdana Menteri Palestina Ismail Haniya setelah cucu satu-satunya pemimpin di Jalur Gaza itu meninggal pada Rabu (27/11) akibat krisis yang melanda negeri itu semakin memburuk. Amal Abdussalaam Haniyah yang masih berumur satu tahun meninggal karena penyakit infeksi pencernaan yang kemudian menyerang saraf otaknya. Amal merupakan putri dari putra sulung Ismail Haniyah yang bernama Abdussalam Haniyah. Cucu perempuan Haniyah satu-satunya itu dinyatakan meninggal di Rumah Sakit An-Nasr, Jalur Gaza, menyusul kekurangan peralatan dan obat-obatan akibat blokade berkelanjutan yang kini melanda daerah kecil itu. Dua puluh dua relawan yang kini tinggal di Beit Lahiya, utara Gaza, berangkat pada Kamis sore (28/11) ke rumah Ismail Haniyah di Jalur Gaza dan disambut langsung Perdana Menteri beserta keluarga dan jajaran pemerintahan yang juga tengah berkunjung. ‘Pada saat kami ke sana, para tamu dan warga yang ikut ta’ziah (melawat) ke rumah Ismail Haniyah,” kata koresponden MINA (Mi’raj News Agency), Muhamad Hussein. Hussein melaporkan, minimnya peralatan medis di Jalur Gaza akibat blokade Israel menyebabkan banyak pasien di berbagai rumah sakit terbengkalai dan tidak mampu dirawat sebagaimana mestinya. Namun, Hussein melanjutkan, Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza yang tidak lama lagi akan selesai proses pembangunannya diharapkan dapat meringankan penderitaan  masyarakat Gaza.(L/K11/P03/P02) Sumber : http://mirajnews.com/palestina/12479-relawan-indonesia-di-gaza-ta-ziah-ke-rumah-ismail-haniya.html

MER-C Beri bantuan Medis Ke Pelosok Filipina

Warga menggunakan terpal untuk melindungi mereka dari hujan saat topan melanda kota Tacloban di provinsi Leyte, Filipina tengah, Ahad (10/11). (AP/Bullit Marquez) REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Medical Emergency Rescue Committe (MER-C) mengirimkan tim medis untuk membantu pengungsi badai Haiyan di Filipina. Tim yang terdiri dari dokter ahli bedah, ortopedi, saraf dan umum dibantu tim perawat terjun hingga pelosok Filipina. Presidium MER-C, Jose Rizal Jurnalis menyebutkan tim MER-C fokus pada pertolongan medis, mobile clinik dan tindakan operasi. Tim medis MER-C sementara bermarkas di Medellin Medical Clinic. “Tim mobile clinic juga melakukan bedah di lokasi yang memungkinkan,” ujarnya saat dihubungi Republika, Kamis (28/11). Jose menyebut lembaganya fokus memberi bantuan medis meski memiliki divisi konstruksi. Sebagai lembaga yang bergerak di bidang medis, timnya lebih mendahulukan menolong pengungsi dibanding rekonstruksi. Namun timnya juga siap menyalurkan bantuan untuk konstruksi. “Sesuai amanah masyarakat. Kalau amananahnya bangun sekolah, rumah sakit, Insya Allah disalurkan,” ujar Jose. Ketua Tim MER-C untuk Filipina, Abdul Mughni melaporkan saat ini tim sedang melakukan mobile clinic di pulau Instrasan. Daerah ini adalah daerah terjauh yang dijangkau tim dari posko di Medellin. Tim harus menempuh tiga jam perjalanan dengan ferry dilanjut boat kecil ke lokasi ini. “Separuh rumah sudah hancur atapnya. Pohon-pohon juga habis bertumbangan,” ujar Mughni dari Filipina, Kamis (28/11). Medical Clinic yang digelar sejak kedatangan disambut antusias pengungsi. Rata-rata 250 pasien ditangani setiap harinya. Saat ini yang dikeluhkan pengungsi adalah diare, Ispa dan gatal. “Tiga pekan setelah bencana tidak ada air sehingga penyakit kulit muncul,” terang Mughni. Tim membagi peran dalam misi ini. Ada yang berjaga di Medellin untuk melakukan tindakan operasi dan ada tim yang terjun dengan mobile clinic. Relawan MER-C juga telah melakukan tindakan operasi terhadap 20 pasien. Sebagian besar karena luka yang terlambat ditangani. “Kasus patah tulang 4 orang kita operasi,” ujarnya. Tim yang tiba di Filipina sejak, Sabtu (23/11) direncakan akan kembali ke tanah air 4 Desember mendatang. MER-C akan terus menggalang bantuan kemanusiaan untuk Filipina. Jose menerangkan dana untuk Filipina diambil dari pos kemanusiaan. “Kita tak ambil dari dana untuk Gaza dan Afghanistan,” kata Jose. Pihaknya juga masih menerima donasi dari masyarakat untuk membantu korban badai Haiyan Filipina. Bagi masyarakat yang ingin menyumbang lewat MER-C bisa melalui rekening BCA Cabang Kwitang 6860099339 atau Bank Syariah Mandiri Cabang Salemba  7015658899 atas nama Medical Emergency Rescue Committe. Reporter : Hafidz Muftisany Redaktur : Heri Ruslan Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/11/28/mwz801-merc-beri-bantuan-medis-ke-pelosok-filipina

Calm Around Indonesia Hospital

Gaza – On Thursday 21 November 2013, Eng. Edy Wahyudi has once again delivered news about Gaza though bbm, however, this time it was a good news that he gave. “Praise be to Allah, there is no Israeli attacks on the perimeters of Indonesia Hospital. Since the attack, Indonesian volunteers continued to finish the construction of Indonesia hospital. Not only that we could see the attacks clearly with our eyes, we could also feel the hospital shake. May Allah always keep all of us under his protection. Amin. “( Eng. Edy Wahyudi- chief of Indonesia hospital construction project in Gaza, Palestine. Today Indonesia hospital is undergoing its finishing stage, and MER-C continues to raise fund for the availability of medical equipment for the hospital.  

Silahkan bertanya?