MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Keluarga Relawan RSI Mengaku Senang Dan Bangga

Jakarta, 17 Rabi’ul Akhir 1435/17 Februari 2014 (MINA) – Keluarga terdekat para relawan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza mengaku sedih ditinggalkan, tetapi mereka senang dan bangga karena orang-orang yang dicintai itu berangkat untuk membantu saudaranya di Palestina. Ungkapan perasaan itu dikatakan oleh anggota keluarga relawan yang Senin pagi (17/2) turut melepas keberangkatan lima relawan ke Gaza dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta.   “Alhamdulillah senang dan bangga, karena Bapak bisa membantu saudara-saudara kita yang di sana (Gaza). Kami mendukung sejak awal, sebab itu perjalanan ibadah yang bagus,” kata Wahyuni, isteri pemimpin rombongan relawan, Ir. Faried Thalib. Wahyuni mengaku ingin kembali mendampingi suaminya ke Jalur Gaza, sebagaimana dua dari tiga keberangkatan sebelumnya, namun ia terlambat mengurus beberapa persiapan. Faried yang juga pemilik Radio Silaturahim dan Anggota Presidium MER-C adalah Ketua  Tim Pembangunan Konstruksi RSI di Gaza Palestina. Seiring itu, anak kedua Faried yang ikut mengantar ayahnya ke bandara juga merasa bersyukur dan bangga. “Alhamdulillah, selalu yakin kepada Allah, karena misi ke Gaza adalah untuk umat. Secara pribadi pasti akan ada rasa rindu, tapi saya lebih merasa bersyukur dan bangga, punya sosok orang tua atau ayah yang mementingkan kepentingan umum,” kata Farida Thalib kepada wartawan Mi’raj Islamic News Agency (MINA). Di tempat yang sama, Siti Muthmainnah – isteri relawan RSI Nur Ikhwan Abadi – mengatakan dirinya sangat mendukung dengan langkah yang tempuh oleh suaminya. “Saya sangat mendukung, karena ini misi kemanusiaan yang baik, jihad yang tujuannya akhirat,” kata Siti yang untuk ketiga kalinya ikhlas melepas keberangkatan sang suami, relawan yang sudah pernah berhadapan langsung dengan tentara penjajah Israel dalam rombongan kemanusiaan Kapal Mavi Marmara. Maryati, ibu Nur Ikhwan meski mengaku sedih, namun tetap merasa bangga dengan jalan yang dipilih oleh puteranya. “Ada kesenangan dan kebanggaan meskipun sedih itu pasti ada,” kata Maryati yang sempat menitikkan air mata. Sembari menggendong cucunya, Maryati berpesan untuk ibu-ibu para relawan yang ia sebut “mujahid“ agar selalu merasa bangga jika seandainya anak mereka pergi berjihad. “Dalam setiap shalat, saya selalu berdoa, semoga apa yang dikerjakan Nur Ikhwan selama ini tulus ikhlas dan apa yang dikerjakan di sana berjalan lancar,” katanya. Kelima relawan itu terdiri dari tiga tim RSI dan dua wartawan dari media nasional. Mereka akan melanjutkan tugas pembangunan RSI di Gaza, di mana menurut rencana ke 25 relawan RSI sebelumnya akan kembali ke Indonesia. Secara fisik, pembangunan RSI Gaza sudah selesai dan kini memasuki tahap pengadaan alat-alat kesehatan sehingga bisa masuk ke tahap operasional. Pembangunan RSI di Gaza selama ini murni didanai oleh rakyat Indonesia sebagai bentuk cinta dan kepedulian kepada rakyat Palestina. MER-C selaku pihak yang melaksanakan pembangunan, tidak pernah menerima dana dari pihak luar Indonesia. (L/P09/P07/R2). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia-mb/15208-keluarga-relawan-rsi-mengaku-senang-dan-bangga.html                

MER-C Berangkatkan Lima Relawan Ke Gaza

Jakarta, 17 Rabi’ul Akhir 1435/17 Februari 2014 (MINA) – Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) memberangkatkan lima relawannya ke Palestina untuk menuntaskan operasionalisasi Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, Senin (17/2).   Ketua Tim Konstruksi pembangunan RSI Gaza Ir. Faried Thalib mengatakan kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Jakarta, Senin, keberangkatan relawan kali ini untuk menyempurnakan kelengkapan RSI terutama perlengkapan medis sebelum diserahkan ke pemerintah setempat.     “Keberangkatan kami ke Gaza untuk menyelesaikan pengadaan dan pemasangan kelengkapan RSI Gaza terutama alat-alat kesehatan,” katanya saat ditemui di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta sebelum keberangkatan.   Menurutnya, sesampai di Gaza tim akan mengiventarisir kebutuhan alat-alat kesehatan dan selanjutkan mengupayakan pengadaannya. Pengadaan peralatan kesehatan bagi RSI di Gaza tersebut didanai oleh rakyat Indonesia.   “Biaya pengadaan peralatan kesehatan seluruhnya berasal dari sumbangan rakyat Indonesia,” kata Faried.   Dikatakan, pengadaan peralatan diharapkan tidak menemui kendala meski Gaza sampai saat ini masih diblokade oleh pasukan Zionis Israel.   “Akan kami upayakan semaksimal mungkin untuk mengadakan peralatan medis yang utama bagi RSI,” kata Faried.   Sementara itu, Ir Ahyahudin Sodri MSc salah satu anggota Tim Relawan yang diberangkatkan mengatakan, tim akan melakukan supervisi bangunan untuk menentukan kesiapannya dan segera memenuhi peralatan utama yang dibutuhkan RSI Gaza, diantaranya untuk Instalasi Gawat Darurat (IGD), perlatan Poliklinik,  ruang perawatan, kamar bedah dan juga ICU serta lainnya. Pengadaan peralatan kesehatan kemungkinan besar didatangkan dari Mesir sebagai pilihan utama.   “Peralatan-peralatan medis harus sudah terpasang  agar RSI dapat segera beroperasi,” kata dosen Pasca Sarjana Teknologi Biomedis, Universitas Indonesia (UI) tersebut.   Kelima relawan yang berangkat menuju Gaza tersebut adalah Faried Thalib (Ketua Tim),  Ir Ahyahudin Sodri MSc, Nur Ikhwan Abadi dan dua wartawan dari media cetak nasional dan media televisi, Yoebal Ganesha Rasyid dan Subhan Hariadi Putra.   Pembangunan fisik RS Indonesia mulai dikerjakan sejak 14 Mei 2011, dibangun di atas tanah seluas 16.261 m2, berasal dari wakaf pemerintah Palestina di Gaza.   Lahan untuk RSI Gaza itu diserahterimakan oleh Menteri Kesehatan Palestina Baseem Naem kepada Ketua Presidium MER-C Joserizal Jurnalis sebagai pihak pembangun pada 23 Januari  2009.   Lokasinya berada sekitar 2,5 km dari perbatasan Israel sehingga sering dipantau oleh pesawat tempur tanpa awak (drone) AU negara Yahuidi tersebut, namun sejauh ini pembangunan RS Indonesia terus berjalan tanpa hambatan.   RSI di Jalur Gaza ini menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina dimana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia, sebagian besar dari kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke.  (L/P07/P09/EO2). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia-mb/15206-lima-relawan-berangkat-untuk-selesaikan-pembangunan-rsi-gaza.html                

MER-C’s Equipment Assessment at Gaza, Palestina

Jakarta – MER-C departed a team to Gaza stripe, Palestina on February 17, 2014. The team consists of MER-C’s Presidium Ir. Faried Thalib,  Site Manager of Indonesia Hospital in Gaza (RSI) Ir. Nur Ikhwan Abadi, Medical Technologist Ahyahudin Sodri, accompanied by Yoebal Ganesha Rasyid from Republika journal and Subhan Hariadi Putra from TVOne, a national TV station. They took off at 07.45 AM to Cairo, Egypt, by Emirates Airlines, before continuing their journey to Gaza stripe, Palestina.   According to MER-C’s Presidium, dr. Joserizal Jurnalis SpOT, the team brought mission to conduct medical equipment assessment for Indonesia Hospital in Gaza, expecting it will be completed around two weeks of time. Joserizal added that although Indonesia Hospital building has been finished, but still MER C will conduct fundraising that of 65 Billion Rupiahs for the hospital’s medical equipment. Meanwhile, the hospital is in need for a fresh fund of 13 Billion Rupiahs for immediate operation.                    

Misi Equipment Assessment MER-C di Gaza, Palestina

Jakarta – Pada hari ini (17/2) MER-C kembali memberangkatkan tim ke jalur Gaza, Palestina. Tim yang terdiri dari Presidium MER-C Ir. Faried Thalib,  Site Manager Rumah Sakit Indonesia (RSI) Ir. Nur Ikhwan Abadi, Medical Technologist Ahyaudin Sodri, didampingi oleh Yoebal Ganesha Rasyid dari Republika dan Subhan Hariadi Putra dari TVOne take off pukul 07.45 WIB menuju Kairo, Mesir, dengan menaiki pesawat Emirates Airlines, sebelum melanjutkan perjalanan mereka menuju jalur Gaza, Palestina.   Menurut Presidium MER-C dr. Joserizal Jurnalis SpOT, tujuan keberangkatan tim kali ini adalah untuk melakukan assessment terhadap pengadaan alat kesehatan bagi RSI, di mana waktu yang diperlukan untuk melakukan tugas ini diperkirakan mencapai dua minggu. Joserizal menambahkan bahwa walaupun bangunan Rumah Sakit Indonesia dapat dikatakan telah rampung, akan tetapi MER-C masih akan menggalang dana sebesar 65 miliar Rupiah untuk pengadaan alat kesehatan bagi RSI, di mana dana yang dibutuhkan sesegera mungkin, agar RSI dapat mulai dioperasikan, berjumlah 13 miliar rupiah.  /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Dukungan untuk Pengadaan Alat Kesehatan RS INDONESIA dapat disalurkan melalui: Bank Syariah Mandiri (BSM)         : 700.1352.061 Bank Central Asia (BCA)               : 686.0153678 BNI Syariah                                  : 08.111.929.73 Bank Rakyat Indonesia (BRI)       : 033.501.0007.60308 Bank Muamalat Indonesia (BMI)  : 301.00521.15 Semua rekening atas nama Medical Emergency Rescue Committee    Donasi RSI juga bisa melalui iB Hasanah Card dari BNI Syariah. Info dan Pendaftaran Donasi hubungi 500046. ——— Info progress pembangunan RSI dapat diikuti di: Facebook         : RSIndonesia Twitter            : @RSIndonesia Instagram         : @rsindonesia              

RSI Gaza Dibangun Bermodalkan Ketulusan Hati

Jakarta, 28 Rabi’ul Awwal 1435/30 Januari 2014 (MINA)-Rampungnya pelaksanaan konstuksi fisik Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza yang dibangun di lokasi sulit, dinilai oleh Ketua Tim Konstruksi Pembanguan, Ir. Faried Thalib sebagai pertolongan Allah melalui hati-hati dan tangan-tangan yang tulus.   “Kita tidak pungkiri,ini pertolongan Allah melalui hati-hati yang ikhlas dan tangan-tangan yang tulus dari rakyat Indonesia,” kata Faried saat di temui oleh Mi’raj Islamic News Agenc,y (MINA) di Jakarta, Rabu malam (29/1). Menurut insinyur yang mengomandani pembangunan RSI di Gaza itu, dana pembangunan murni berasal dari rakyat Indonesia yang membantu dengan menyisihkan sebagian rezekinya dan donatur lebih banyak berasal dari kalangan menengah ke bawah. Faried yang juga menukangi pembangunan Rumah Sakit Galela di Maluku, mengaku sangat bersyukur kepada Allah yang memberikan kesempatan kepadanya untuk ikut ambil bagian dalam tim pembangunan RSI di Gaza. “Rumah sakit Indonesia di Gaza, Palestina, tidak berdiri sendiri atau karena saya, tapi ini kerja tim semuanya, MER-C, Ponpes Al-Fatah, dan banyak pihak, terutama rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke,” ujar Faried yang sedang menunggu ijin keberangkatannya ke Gaza bersama tim RSI selanjutnya. Menurut salah satu Anggota Presidium MER-C ini, RSI di Gaza adalah bukti tanda mata kasih dan cinta dari rakyat Indonesia kepada Palestina. “Inilah suatu ungkapan, bukan sekedar sebuah rumah sakit, tapi lebih dari itu. Indonesia akan memberikan yang terbaik untuk Palestina, in syaallah.”   Lebih murah dibandingkan di Indonesia “Di akhir pembangunan ini, saya coba menghitung  biaya pembangunan permeternya. Subhanallah. Jika saya bangun di Indonesia, jauh lebih mahal. Itu relatif murah dengan kualitas bangunan yang lebih baik,” kata Faried. Untuk daerah konflik, harga tanah relatif normal dan harga material murah, dapat dikategorikan sama dengan di Indonesia. “Perbandingannya, di Gaza pembangunannya permeter bisa tiga atau empat jutaan Rupiah, tapi di Indonesia, tidak mungkin di bawa lima juta.” /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Karena di sana daerah konflik, ada tingkat-tingkat kesulitan yang dialami di awal-awal pembangunan. Namun setelah tim dari Indoensia lebih mengetahui medan di lapangan, tidak terlalu sulit mendapatkan barang-barang tersebut. Walaupun daerah konflik, ternyata suplai material tidak terlalu sulit. Bahan-bahan dibeli di Gaza, suplierrnya dari Mesir dan Israel. Memang saat terjadi ketegangan usai pemboman, baik di Israel maupun di Gaza, barang-barang agak sulit diperoleh untuk beberapa waktu. Namun, dua atau tiga minggu kemudian, kembali normal lagi. Pasca kudeta Mesir, suplai material terkendala sejak tertutupnya jalur-jalur tidak resmi dari Mesir,tidak seperti pada era pemerintahan Muhammad Mursi memerintah, sehingga suplai hanya tinggal dari satu pihak, yaitu Israel. Keunikan Israel, meski pun militernya berperang dengan Gaza, perdagangan barang ke wilayah yang dikuasai Hamas tetap berjalan. Rumah sakit yang membidangi bidang traumatologi tersebut bangunannya berbentuk segi delapan yang seluruh bagian luarnya ditutup dengan marmer.  Marmer yang tebalnya lima centimeter, akan menjadi pelapis untuk menangkal cuaca ekstrim. Ketika musim panas, bahan marmer mampu meredam suhu menjadi dingin dan ketika musim dingin, suhu tetap hangat. Tebal tembok bangunan sekitar 27 centimeter. Tahapan pembangunan fisik RSI sudah selesai dan memasuki tahap pengadaan peralatan kesehatan. Menurut Faried, anggaran yang diperlukan sekitar Rp60 – 75 milyar, atau meningkat dua kali lipat dari jumlah yang semula dianggarkan. (L/P09/E02/Mi’raj News). Sumber : http://mirajnews.com/palestina/14554-rsi-di-gaza-dibangun-oleh-tangan-tangan-yang-tulus.html                

MER-C Beri Bantuan Medis Ke Warga Apartemen Yang Diputus Aliran Air dan Listrik-nya

Jakarta, 27 Rabiul Awwal 1435/29 Januari 2014 (MINA) – Tim kesehatan Medical Emergency Rescue- Committee (MER-C) memberikan bantuan medis kepada warga apartemen Graha Cempaka Mas, Jakarta yang saat ini bersengketa dengan pihak pengembang Duta Pertiwi (grup Sinar Mas). Aliran listrik dan air pada mereka diputus, sehingga banyak di antara mereka mengalami masalah kesehatan beberapa diantaranya mengalami masalah kesehatan yang serius. Ada pula warga yang jadi korban penganiayaan.   Presidium MER-C, Jose Rizal Jurnalis mengatakan pihaknnya memberikan layanan  bantuan kemanusiaan kepada siapa saja yang membutuhkan.”Kami akan selalu konsisten memberi bantuan kemanusiaan kepada siapapun, tapi sama sekali tidak masuk ke dalam ranah konflik yang terjadi,” katanya saat meninjau lokasi, Rabu malam. “Saat ini warga apartemen ini (Graha Cempaka Mas) tidak memiliki akses listrik dan air untuk kebutuhan hidupnya selama beberapa hari ini. Akibatnya mereka kini membutuhkan bantuan medis karena banyaknya warga yang menderita akibat minimnya pasokan kedua unsur kebutuhan primer itu. “Ada di antara mereka yang mengalami trauma karena kekerasan fisik, ada anak-anak yang lumpuh dan tidak bisa meninggalkan tempat tinggalnya. Ada juga orang tua yang stroke dan mereka butuh bantuan segera,”papar Jose. Irawati (72) warga Graha Cempaka Mas yang menderita stroke berharap agar masalah warga dengan pihak pengembang segera selesai agar tidak ada warga yang dirugikan atas beberapa insiden yang terjadi beberapa hari terakhir.” Kasihan kami para orang tua, juga anak anak, mereka harus jadi korban tanpa bisa berbuat banyak,” katanya. Sementara itu, Veri, warga apartemen yang menjadi korban penganiayaan mengatakan, pihak pengembang harus memberikan hak-hak warga apartemen, seperti listrik, air dan fasilitas lan yang akhir- akhir ini ditahan pengembang.“Air dan listrik adalah hak warga. Itu semua sangat diperlukan untuk kehidupan kami,” katanya. Warga lainnya, Agnes menyatakan telah melaporkan hal ini kepada Wakil Gubernur, Basuki Cahaya Purnama (Ahok). Namun belum ada tanggapan dari dia maupun pemerintah terkait. “ Saya sudah kirim laporan pengaduan ke pak wakil gubernur, tapi belum ada respon,” ungkapnya. Mulai Rabu Malam, tim Mer-C menyediakan ambulan dan beberapa tenaga medisnya di lokasi. “Kita akan terus stand by sampai kondisi benar-benar kondusif,”kata Jose Rizal kepada wartawan Mi’raj News Agency (MINA). “Kita bertugas adalah murni misi kemanusiaan. Kita tidak masuk ke ranah konfliknya. Namun, siapapun yang membutuhkan pertolongan medis, akan berusaha kita bantu, baik dari pihak warga maupun pihak lainnya,”tambahnya. Apartemen Graha Cempaka Mas terdiri atas  188 unit apartemen dan 161 rukan (rumah kantor). Mereka bersengketa dengan pihak Duta Pertiwi selaku pengembang sejak enam bulan lalu. Puncaknya, pihak pengembang memutus aliran listrik dan air para penghuninya beberapa hari terakhir ini. Warga juga merasakan teror dan ancaman keamanan dari pihak pengembang.(L/P04/IR) Sumber : http://mirajnews.com/id/indonesia/14536-mer-c-beri-bantuan-medis-ke-warga-graha-cempaka-mas.html                

Polisi Diminta Tegas Soal ‘Ormas Preman’ Peneror Warga Cempaka Mas

Ilustrasi penyerangan. REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Organisasi kemanusiaan medis, Mer-C menyesalkan terjadinya penyerangan dari beberapa massa organisasi kemasyarakat (ormas) kepada warga di sekitar Apartemen Cempaka Mas, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (28/1) malam. Menurut Mer-C penyerangan oleh beberapa ‘ormas preman’ ini ancaman konflik kemanusiaan di wilayah Jakarta apabila tidak segera ditangani oleh aparat kepolisian. “Kita khawatir ‘ormas preman’ ini terus meneror masyarakat bila Polisi tidak menindak tegas mereka,” ujar Ketua Mer-C Jose Rizal Jurnalis kepada Republika, Rabu (29/1). Mer-C khawatir kesewenang-wenangan ‘ormas preman’ ini. Ini terlihat dari penyerangan ke kantor Pengurus Pengelola Rumah Susun (PPRS) Apartemen Cempaka Mas. Penyerangan oknum ormas ini merusak kantor PPRS Apartemen Cempaka Mas. Permasalahan muncul setelah pihak pengembang apartemen PT Duta Pertiwi yang bertindak sepihak memutus aliran listrik dan air bersih di apartemen itu. Penghuni apartemen yang tergabung dalam PPRS berupaya melawan, hingga akhirnya terjadi penyerangan dari oknum massa ormas yang diduga membekingi pihak pengembang. Menurut Kepolisiam Resor Metro Jakarta Pusat, Kombes Angesta Romano Yoyol, konflik antar pengembang dan warga apartemen yang melibatkan pihak ormas ini terkait sengketa lahan. “Kedua pihak merasa berhak memiliki lahan,” ujarnya. Saat ini, ujar dia, pihak kepolisian sedang memediasi kedua belah pihak. Dari aksi penyerangan ini, seorang warga apartemen luka akibat pemukulan dari beberapa oknum ormas tersebut. Reporter : Amri Amrullah Redaktur : Joko Sadewo Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/14/01/29/n05fk0-polisi-diminta-tegas-soal-ormas-preman-peneror-warga-cempaka-mas                

Rumah Sakit Indonesia di Gaza Diserahkan Maret

Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bangunan fisik Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, Palestina direncakan selesai Maret 2014. Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), Jose Rizal Jurnalis mengatakan instalasi fisik berupa gedung, listrik, pendingin ruangan dan gas sudah selesai.  “Direncanakan Maret kita serahkan ke rakyat Palestina,” ujarnya saat dihubungi Republika, Ahad (26/1).   Namun, selesainya bangunan fisik belum sepenuhnya membuat RSI di Gaza bisa berjalan. Karena, peralatan medis masih belum banyak. Setelah penyerahan kepada rakyat Palestina, Mer-C akan melakukan kampanye untuk bantuan peralatan medis. Menurutnya, angka bantuan peralatan medis justru lebih besar ketimbang bantuan pembangunan fisik. “Kalau pembangunan gedung habis Rp 40 miliar, untuk peralatan medis kita butuh Rp 65 miliar,” ujar Jose. Meski belum sempurna benar, saat diserahkan nanti, RSI di Gaza sudah bisa mengoperasikan Unit Gawat Darurat (UGD), satu atau dua ruang operasi, 10 tempat tidur dan satu poliklinik. Ia masih membutuhkan perlatan seperti CT scan, instalasi ruang ICU, peralatan laboratorium dan penambahan tempat tidur untuk perawatan.  Mer-C sudah berkomitmen akan terus mendampingi operasional RSI hingga lengkap peralatan medisnya. Di sisi lain, operasional RSI nantinya akan diserahkan sepenuhnya kepada rakyat Palestina. Sesuai dengan cita- cita awal, prinsip RSI adalah bantuan dari rakyat Indonesia untuk masyarakat Palestina. Teknisnya, nanti akan dibentuk kepengurusan rumah sakit yang sepenuhnya diisi orang Palestina. “Syaratnya harus berisi faksi-faksi di sana,” terang dia.  Untuk itu, ia sudah menjalin komunikasi dengan faksi-faksi di Palestina utama di Gaza. Hamas, Fatah dan Jihad Islami sudah menyambut seruan ini. Namun untuk penanggung jawab tetap akan diserahkan kepada otoritas pemerintahan di Gaza. Untuk mengimbangi, ia juga menjalin komunikasi dengan Duta Besar Palestina di Indonesia yang berafiliasi dengan pemerintahan di Tepi Barat. “Jika mereka tak bisa bersatu secara politik, minimal dalam bidang kesehatan.” Sementara untuk tenaga kesehatan, dokter dan perawat lokal memiliki kompetensi yang cukup untuk menjalankan RSI. Meski secara kuantitas, Jose mengakui jumlah tenaga kesehatan asal Palestina masih kurang. “Di masa damai mencukupi. Kalau masa perang sangat kurang,” pungkas Jose.  Reporter : Hafidz Muftisany Redaktur : Mansyur Faqih Sumber : http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/14/01/26/n002lq-rumah-sakit-indonesia-di-gaza-diserahkan-maret                

MER-C, Berjibaku Bantu Korban Banjir Manado

Jakarta, 24 Rabi’ul Awwal 1435/25 Januari 2014 (MINA) – Pagi itu, Ahad 19 Januari 2014, tim MER-C dari Jakarta tiba di Bandara Sam Ratulangi Sulawesi Utara tepat pukul 09.30 wita. Kurang lebih setengah jam, tim medis yang sudah melahirkan sejarah besar dengan mendirikan Rumah Sakit Indonesia (RSI) Gaza itu menunggu tim medis Makasar hingga pukul 11.15 wita dengan rencana menuju Kantor BASARNAS.   Setelah berkumpul dan saling melepas rindu, tim langsung menuju Kantor BASARNAS Manado. Di BASARNAS, tim MER-C mendapatkan informasi mengenai letak posko utama penanganan bencana banjir Manado, tepatnya di Kantor Walikota Manado. Sekitar pukul 12.00 wita, tim medis itu, walikota beserta wakilnya bersiap untuk berkordinasi. Selepas kordinasi itulah tim MER-C segera diarahkan ke beberapa titik bencana di Kota Manado. Untuk memudahkan dalam memberi bantuan di lapangan, tim itu dipandu oleh RAPI (Radio Antar Penduduk Indonesia) Rescue Manado. Menurut tim MER-C, sepanjang perjalanan menuju titik bencana, terlihat para warga yang menjadi korban bahu-membahu bersama TNI membersihkan rumah dan jalanan yang tertutup lumpur. Gundukan sampah seperti pakaian, perabotan rumah dan serpihan genting serta tembok rumah yang hancur pun tertimbun lumpur. Jalan-jalan utama menjadi padat akibat timbunan lumpur dan sampah sehingga memperlambat sampai titik bencana. Pukul 15.00 waktu setempat, tim akhirnya sampai di titik pengungsian pertama, tepat di Taman Makam Pahlawan Kai Ragi Weru. Di tempat itulah tim mulai memberikan bantuan medis kepada 20  pasien. Sebagian besar pasien itu berusia dibawah 18 tahun. Mayoritas pasien di titik pertama itu menderita penyakit dermatitis, cephalgia, hipertensi dan diare. Di titik ini juga, tim selesai menjalankan tugasnya sekitar pukul 16.30 wita. Tanpa menunda-nuda, tim kemudian berlanjut menuju titik kedua dari bencana banjir tersebut yang terletak di Kampung Kumoraka, Kecamatan Werang. Di titik itu, tim memberikan bantuan kepada 30 warga. Mayoritas pasien di titik ini berusia dibawah 18 tahun. Para pasien di tempat ini kebanyakan menderita ISPA, hipertensi dan dermatitis. Sekitar pukul 18.15 wita, tim ke penginapan untuk melepas lelah.   Pembagian Tim Di  hari kedua, Senin (20/1), untuk memaksimalkan memberikan bantuan kepada korban, tim MER-C dibagi menjadi dua. Tim pertama beranggota dr. Andi Fajar Wela dan Yan Adhitya Kusuma, sedang tim kedua dr. Rifki Hidayat dan dr. Fathul Rochman. Tim pertama bertugas melakukan survey ke Tomohon, wilayah yang terkena longsor. Sementara tim kedua melakukan mobile clinic  bersama RAPI Rescue. Sekitar pukul 08.30 wita tim berangkat menuju posko utama untuk melakukan kordinasi dengan walikota dan jajarannya. Setelah melakukan kordinasi, dengan kendaraan bermotor, tim pertama menuju dinas kesehatan Kota Manado untuk mengambil obat-obatan yang dibutuhkan pasien. Obat-obatan itu lalu dibawa tim pertama menuju daerah pengungsi di Tinoor, Tomohon.  Kurang lebih 90 menit, tim sampai di tempat tujuan. Tak mudah rupanya menuju tempat pengungsi di hari kedua itu. Meski jalannya beraspal, namun mendaki, licin dan rusak. Meski jalan sepertinya tak bisa dilalui, namun akses untuk mencapai lokasi masih bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat. Walau berat, akhirnya tim pertama sampai juga di lokasi. Bantuan medis pun segera diberikan. Sementara itu, tim kedua bersama RAPI Rescue melakukan mobile clinic di Gereja GKBP Sidan Hosanna, Tikala Kumaran. Tak kurang 30 orang korban ditangani tim kedua itu. Sebagian besar pasien itu adalah wanita berusia di atas 18 tahun. Penyakit yang diderita antara lain; dermatitis, ISPA, hipertensi, dan diabetes mellitus. Setelah selesai memberikan pengobatan, tim melanjutkan perjalanan untuk memberi bantuan kepada korban di Sindulan, Manado Utara. Sekitar 30 pasien bisa ditangani dengan baik. Di lokasi kedua ini, jenis penyakit yang diderita pasien hampir sama dengan pasien di lokasi sebelumnya. Memasuki hari ketiga, Selasa (21/1), tim MER-C melakukan kegiatan bersama dengan anggota Korem 131 Manado. Seperti hari sebelumnya, tim tetap dibagi dua dengan tugas sama seperti hari sebelumnya. Yang membedakan, tim kedua pada hari ketiga ini bekerja sama dengan FKPPI (Forum Komunikasi Putra-putri Purnawirawan Indonesia) menuju beberapa titik bencana di wilayah Manado Utara. Sementara itu, tim pertama melakukan survey ke Kampung Merdeka, Dendengan Dalam. Dengan berjalan kaki, kurang lebih 30 menit untuk menempuh lokasi yang dituju. Menurut pengamatan tim, daerah yang dituju itu merupakan wilayah terparah yang diterjang bencana akibat luapan Sungai Tondano. Menurut penuturan korban, air meluap hingga mencapai ketinggian lebih kurang 4 meter. Akibatnya, sebagian besar rumah warga tenggelam. Beruntung, luapan air itu tak menelan korban jiwa. Sekitar pukul 12.00 wita, tim pertama tiba di posko bencana, tepat di sebuah masjid di Kampung Merdeka. Selepas shalat Dzuhur, tim MER-C  bersama tim Calcaneus Universitas Hasanudin (Unhas) memberikan bantuan medis kepada masyarakat sekitar. Menurut tim MER-C, penyakit yang diderita warga kebanyakan penyakit kulit dan ISPA. Jumlah pasien yang ditangani sekitar 20 orang. Tepat pukul 14.00 wita, bantuan medis selesai diberikan.   Kerjasama yang Baik /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;}   Memasuki hari keempat, Rabu (22/1), baik tim pertama maupun tim kedua bergerak menggunakan kendaraan bermotor menuju daerah bencana. Tim pertama membuka posko di salah satu rumah warga di Kampung Merdeka. Tidak seperti hari sebelumnya, posko kali ini jauh dari masjid. Untuk mempersiapkan perlengkapan bantuan, tim baru bisa membuka layanan medis pukul 10.00 – 12.30 wita. Di hari keempat itu, pasien yang datang berobat berjumlah 10 orang, dengan usia dibawah 18 tahun. Sebagian besar menderita penyakit kulit. Sementara itu, tim kedua melakukan survey ke beberapa titik di Sario, Ketang Baru dan Tanjung. Namun kali ini tim kedua tidak memberikan bantuan medis karena di lokasi itu sudah banyak didirikan posko kesehatan. Selesai melakukan tugas di lokasi masing-masing, semua tim kembali ke Korem untuk melakukan kordinasi. Kali ini yang menjadi tujuan survey adalah daerah Pakowa. Tim berangkat sekitar pukul 15.30 wita menggunakan dua motor. Perjalanan menuju Pakowa memakan waktu sekitar 35 menit. Tiba di lokasi, tim langsung memberikan bantuan kepada pengungsi di masjid yang ada di Pakowa. Memasuk hari kelima, Kamis (23/1), dr. Wela dan dr. Fathul sudah kembali lebih awal ke Makasar. Sementara, dr. Rifki Hidayat dan Yan A Kusuma untuk sementara tetap di posko bencana. Sekitar pukul 14.00 wita, tim yang tersisa melakukan kunjungan kepada para warga untuk memeriksa kesehatan mereka. Setelah itu, tim menuju Kampung Bugis di Kecamatan

Serangan Udara Israel Di Utara Gaza Getarkan RS Indonesia

Jalur Gaza, 14 Rabi’ul Awwal 1435/16 Januari 2014 (MINA) – Bom-bom yang dijatuhkan  pesawat tempur F16 Israel di beberapa titik di Jalur Gaza pada Kamis (16/1) dini hari menggetarkan bangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di utara Gaza.  Koresponden Mi’raj News Agency (MINA) di Jalur Gaza melaporkan serangan bom sekitar 1:OO dinihari diarahkan ke sejumlah titik seperti Gaza City, sebelah timur kota Gaza (Zaitun dan Tuufah), Jalur Gaza Tengah (Nusairot), sebelah Barat Gaza (Maqousi) dan sebelah utara Jalur Gaza (Ashkolan, Beit Lahiya, dan pantai Utara). RSI Gaza yang terletak di Beit Lahiya ikut bergetar akibat tiga kali serangan bom Israel  yang mengenai kamp pelatihan pejuang sayap militer Hamas, Brigade al-Qassam.  Menurut koresponden MINA, serangan udara tersebut diduga merupakan aksi pembalasan  serangan pejuang Palestina dari Gaza terhadap sasaran di wilayah  Israel beberapa waktu lalu. “Alhamdulillah, bangunan rumah sakit tidak megalami kerusakan sama sekali ,meskipun tiga ledakan yang terdengar menggetarkan bangunan,” lapor koresponden Muhamad Husein.  Sementara itu, pejabat kementerian kesehatan Palestina Ashraf al-Qedra mengatakan, empat anak dan seorang perempuan menderita luka ringan dalam serangan udara di dekat kompleks perumahan Maqousi. Husein mengatakan warga di Tuufah mengalami kerusakan kecil akibat radiasi bom yang mengenai mereka. Jendela-jendela rumah mereka rusak akibatnya.(L/P03/E02) Sumber : http://mirajnews.com/palestina/14080-bom-f16-israel-di-utara-gaza-getarkan-rumah-sakit-indonesia.html                

Silahkan bertanya?