Rumah Sakit Indonesia Tangani Korban Serangan Udara Israel di Beit Lahiya

Beit Lahia, Gaza Utara – Rumah Sakit Indonesia menangani sejumlah korban syahid dan luka-luka akibat serangan udara Israel di Beit Lahiya, Gaza Utara, pada Sabtu (15/3). Serangan pesawat nirawak Israel menyebabkan setidaknya sembilan orang syahid dan enam lainnya terluka. Para korban dilarikan ke Rumah Sakit Indonesia karena lokasinya yang berdekatan dengan tempat kejadian. Tim Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-8, bersama tenaga medis lokal, bekerja sama menangani korban. Beberapa korban belum dapat diidentifikasi karena tiba dalam kondisi tidak utuh. Sumber-sumber lokal menyebut, penjajah menarget langsung mobil yang membawa relawan yang akan membagikan bantuan kemanusiaan, lengkap dengan wartawan dan fotografer yang mendokumentasikan kegiatan tersebut. Tiga wartawan yang syahid adalah Mahmoud Al-Sarraj, Mahmoud Isleem (Al-Basous), dan Bilal Abu Matar. Kejadian ini semakin menambah angka korban jiwa di Gaza, yang telah meningkat sejak dimulainya gencatan senjata tahap pertama pada 19 Januari lalu, dengan jumlah total korban syahid mencapai sekitar 150 orang.
MER-C Salurkan Bantuan Paket Makanan Pokok untuk Staf RS Indonesia di Gaza

Beit Lahia, – Tim Emergency Medical Team (EMT) MER-C bersama staf lokal MER-C menyalurkan bantuan paket makanan pokok kepada seluruh staf Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara. Distribusi bantuan dilakukan di Wisma dr. Joserizal Jurnalis, dengan total penerima manfaat mencapai 700 staf, termasuk tenaga medis maupun nonmedis yang bekerja di RS Indonesia. Bantuan ini diberikan sebagai respons terhadap akses bahan pokok yang semakin sulit akibat penutupan perbatasan oleh Israel, yang juga menyebabkan harga kebutuhan dasar melonjak tajam. Setiap paket bantuan berisi beras, daging kaleng, tomat, kentang, minyak goreng, dan bawang bombai, yang diharapkan dapat membantu mencukupi kebutuhan pangan para staf di tengah situasi krisis. RS Indonesia di Gaza Utara merupakan salah satu fasilitas kesehatan utama yang terus beroperasi di tengah konflik berkepanjangan. Bantuan makanan ini menjadi bentuk dukungan nyata bagi para tenaga kesehatan dan staf yang tetap bertahan melayani masyarakat Palestina.
Perdana! Operasi Bedah Saraf Dilakukan di RS Indonesia Gaza Pasca Gencatan Senjata

Beit Lahia, 10 Maret 2025 – Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara pada Senin (10/3) kembali melakukan operasi bedah saraf untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata diberlakukan. Tim medis gabungan dari Emergency Medical Team (EMT) MER-C dan tenaga kesehatan lokal berhasil melakukan operasi kompleks pada seorang pasien dengan patah tulang tengkorak, dan sisa pecahan peluru yang tertanam selama tiga bulan terakhir. Operasi ini dipimpin oleh dokter bedah saraf dari EMT MER-C dr. Eka Budhi Satyawardhana, SpBS bersama dokter bedah saraf lokal dr. Ayesh, dokter anestesi dr. Wahyu Bimantoro, Sp.An-TI serta tim medis lokal RS Indonesia lainnya. Prosedur bedah berlangsung di ruang operasi yang sebelumnya sempat rusak akibat serangan militer dan kini telah diperbaiki. Saat ini empat kamar operasi sudah kembali berfungsi. Dua di antaranya untuk bedah mayor, termasuk bedah saraf, dan dua lainnya untuk bedah minor. Sejak 2 Maret, operasi minor telah dilakukan oleh tim medis lokal. RS Indonesia di Gaza, yang terletak di Beit Lahia, menjadi salah satu fasilitas kesehatan utama bagi warga Palestina. Pemulihan layanan bedah saraf ini menjadi langkah penting, sebagai upaya rehabilitasi sistem kesehatan di wilayah tersebut. Dengan kembalinya fungsi ruang operasi, diharapkan lebih banyak pasien dengan kondisi kritis dapat segera ditangani, terutama mereka yang mengalami cedera akibat serangan.
Relawan MER-C Bagikan Pengalaman Bertugas di Gaza kepada Santri Ponpes At-Taqwa

Depok, 7 Maret 2025 – Relawan medis dari Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), dr. Regintha Yasmeen, Sp.OG, membagikan pengalaman bertugas di Jalur Gaza dalam acara “Dialog Ringan Akhir Pekan” di Pondok Pesantren At-Taqwa, Depok, Sabtu (8/3). Acara yang berlangsung dari pukul 08.30 hingga 11.00 WIB ini mengangkat tema “Huru-Hara Palestina Pra-Gencatan Senjata.” Dalam kesempatan tersebut, dr. Regintha menceritakan pengalamannya selama dua kali bertugas di Gaza, yakni dalam misi Emergency Medical Team (EMT)MER-C ke-4 dan EMT MER-C ke-6. Ia mengungkapkan tantangan berat yang dihadapi oleh para relawan, mulai dari sulitnya proses masuk ke Gaza hingga berbagai ujian yang muncul, baik sebelum, selama, maupun setelah bertugas. “Ujian terbesar bagi relawan adalah meninggalkan keluarga di tanah air, kemudian menghadapi situasi sulit di medan tugas, dan bahkan setelah pulang ke Indonesia. Namun, di balik itu semua, ada banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan dari masyarakat Gaza,” ungkapnya. Ia menyoroti keteguhan hati serta keyakinan kuat warga Gaza dalam menghadapi konflik berkepanjangan. Selain itu, ia juga mengagumi adab luar biasa masyarakat setempat dalam menghormati tamu, bahkan di tengah kondisi agresi. Acara ini dihadiri ratusan santri yang antusias mengikuti sesi diskusi. Para peserta diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan kepada dr. Regintha terkait pengalamannya selama bertugas di Gaza. Sesi sharing ini kemudian diakhiri dengan foto bersama. Kegiatan “Dialog Ringan Akhir Pekan” sendiri merupakan agenda rutin Pondok Pesantren At-Taqwa yang bertujuan untuk memperluas wawasan dan memberikan motivasi bagi para santri, dengan menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang dan bidang keahlian.
Dukungan MER-C untuk Pelayanan Kesehatan di Al-Aqsa B Medical Center, Gaza Selatan

Gaza Selatan – Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-7 membantu pelayanan kesehatan di Klinik Lapangan Al Aqsa B Medical Center, di Al Mawasi, Gaza Selatan. Klinik Lapangan Al Aqsa B Medical Center, merupakan fasilitas kesehatan yang telah beroperasi atas kerja sama antara MER-C dan Kementerian Kesehatan Palestina (MOH) sejak 26 Oktober 2024. Klinik ini menyediakan berbagai layanan spesialis, termasuk poliklinik kedokteran keluarga, penyakit dalam, pediatri, obstetri dan ginekologi, bedah, rehabilitasi medik, ortopedi, neurologi, klinik nutrisi, serta dukungan psikososial. Sebagai klinik spesialis lapangan di bawah Kementerian Kesehatan Palestina, Al Aqsa B Medical Center berperan penting dalam memberikan layanan kesehatan bagi sekitar 600.000 warga pengungsi di Jalur Gaza. Setiap harinya, klinik ini menangani rata-rata 800 pasien yang membutuhkan perawatan medis di tengah situasi krisis kemanusiaan yang terus berlangsung.
Relawan MER-C: Rumah Rata dengan Tanah, Warga Beit Hanoun Terpaksa Tinggal di Tenda

Gaza Utara—Relawan dari Emergency Medical Team (EMT) MER-C, dr. Eka Budhi Satyawardhana, SpBS, pada 25 Februari 2025 melakukan pelaporan langsung dari Beit Hanoun, Gaza Utara, yang berbatasan langsung dengan wilayah yang dikuasai Israel. Dalam laporannya, dr. Eka mengungkapkan bahwa sebagian besar wilayah tersebut telah rata dengan tanah akibat serangan penjajah Israel. “Wilayah ini hampir rata semua dengan tanah. Rumah-rumah yang sebelumnya mungkin memiliki dua hingga tiga lantai kini sudah hancur,” ujar dr. Eka saat melakukan survei di di kawasan timur jalan utama Shalahuddin, Gaza Utara. Ia juga menyebutkan bahwa sekitar dua hingga tiga hari yang lalu, Gaza diguyur hujan deras dengan suhu mencapai 4 derajat Celsius, menambah penderitaan warga yang tinggal di daerah yang hampir sepenuhnya hancur. “Bisa dibayangkan, penduduk Gaza dengan kondisi rumah seperti ini terpaksa harus tinggal di tenda-tenda darurat,” katanya. Selain masalah tempat tinggal, dr. Eka juga menyoroti krisis air yang masih terjadi. “Masalah air juga masih menjadi kendala besar di sini. Penduduk mengandalkan bantuan tanki air dari Gaza City yang didistribusikan 2-3 kali sehari. Satu tanki biasanya berukuran 5.000 liter, yang tentunya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” jelasnya. “Hujan deras juga menyebabkan genangan air yang memicu masalah lingkungan, termasuk penumpukan sampah yang belum diangkut. Ini bisa menimbulkan risiko penyakit, terutama yang berhubungan dengan pencernaan,” tambah dr. Eka. Meski begitu, dr. Eka berharap ada solusi terbaik untuk meringankan beban penduduk Gaza terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti air bersih dan tempat tinggal yang layak.
Layanan Rawat Jalan Dibuka, RS Indonesia Layani Ratusan Pasien Setiap Hari

Gaza – Setelah lebih dari 15 bulan terhenti akibat perang, layanan rawat jalan di Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza kini kembali dibuka. Sejak 24 Februari 2025, ratusan pasien kembali mendapatkan pelayanan medis setiap harinya. Layanan dilakukan di area poliklinik RSI, yang sebagian masih dalam tahap renovasi. Dua relawan dari Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-7, dr. Ni Nyoman Indira dan dr. Eka Budhi Satyawardhana, bertugas di poli penyakit dalam serta poli bedah saraf dan poli nyeri. Kehadiran layanan ini menjadi harapan baru bagi warga Gaza yang selama perang kesulitan mengakses perawatan medis. “Pelayanan kesehatan, terutama spesialis, sangat penting bagi warga yang kesehatannya terabaikan selama konflik,” ujar dr. Indira. Saat ini, beberapa poliklinik yang telah beroperasi di RSI meliputi: Poli Penyakit Dalam: Poli penyakit dalam umum, poli ginjal, poli paru, poli endokrin, poli jantung, dan poli gastroenterologi. Poli Bedah: Poli bedah umum, poli urologi, poli bedah thorax, dan poli bedah saraf.Poli Lainnya: Poli THT dan poli perawatan luka. Dengan kembali berjalannya layanan ini, masyarakat Gaza diharapkan dapat memperoleh perawatan medis yang lebih baik, meski tantangan dalam pemulihan infrastruktur kesehatan masih terus dihadapi.
Warga Beit Hanoun: Tetap Tegar di Tengah Kehancuran dan Kehilangan

Di tengah kehancuran, kehilangan dan kesulitan hidup akibat perang yang melanda Gaza, warga Beit Hanoun tetap menunjukkan keteguhan dan semangat yang luar biasa. Kota yang berbatasan langsung dengan Israel ini kini hancur, dengan banyak rumah rusak, serta fasilitas dasar seperti air, listrik, dan layanan kesehatan yang hampir tidak ada. Namun, meski hidup dalam kondisi sangat sulit, penduduk Beit Hanoun tetap bertahan dengan penuh harapan. Salah satu warga setempat, dr. Basil Al-Basouni, yang merupakan dokter ortopedi di Rumah Sakit Indonesia, mengungkapkan kepada relawan MER-C betapa besar perubahan yang dialami Beit Hanoun. Ia mengatakan bahwa sebelum perang, kota ini stabil, dengan kehidupan yang berjalan normal. Warga dapat bekerja, memiliki akses ke air bersih, dan listrik. Kondisinya berubah drastis setelah perang datang dan menghancurkan segalanya. “Alhamdulillah, perang dahsyat ini datang dan menghancurkan segalanya, rumah, manusia, bahkan batu dan pohon,” ujar dr. Basil dengan penuh keteguhan. Seperti warga Gaza lainnya, dr. Basil juga telah kehilangan rumah, sementara keluarganya terluka akibat serangan penjajah Israel. “Saya dan keluarga mengungsi ke Gaza City, dan kami dikejutkan dengan pemboman rumah di sebelah kami menggunakan F-16. Istri saya dan dua anak saya terluka. Istri saya mengalami patah tulang tengkorak, anak saya patah tulang paha, dan satu lagi patah tulang rahang. Alhamdulillah, mereka kini dalam perawatan dan sudah menjalani operasi serta implant platinum, dan sekarang semua sudah baik-baik saja,” katanya. Meski begitu, dr. Basil tetap bersyukur atas apa yang masih dimiliki, termasuk keselamatan keluarganya yang sempat terluka akibat pengeboman. “Kondisi kami lebih baik dibandingkan dengan banyak orang di sini yang kehilangan keluarga dan rumah mereka. Semua orang kehilangan di sini, tapi kami tetap bersyukur dan memuji Tuhan atas segalanya,” ujarnya. Kini, dr. Basil berharap agar tempat tinggal mereka yang hancur dapat digantikan dengan tenda untuk melindungi keluarganya, sementara mereka menunggu pemulihan situasi. Meski masa depan penuh ketidakpastian, warga Beit Hanoun tetap menunjukkan keteguhan hati dan harapan akan kehidupan yang lebih baik. “Kita tidak tahu bagaimana kehidupan akan membawa kita, segalanya ambigu. Tapi kami akan berusaha beradaptasi dan menjalaninya,” tambahnya.
Kondisi Terkini Rumah Sakit Indonesia di Tengah Proses Renovasi

Gaza – Rumah Sakit Indonesia (RSI) yang terletak di Bait Lahiya, Gaza Utara, saat ini tengah menjalani proses renovasi setelah mengalami kerusakan parah akibat serangan yang dilakukan oleh penjajah Israel. Meskipun dalam tahap perbaikan, Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-7 yang berhasil masuk ke Gaza pada 30 Januari 2025, telah membuka kembali sejumlah layanan kesehatan di RSI. Relawan EMT MER-C ke-7, Puren Prasetiyadi, Amd.Kep, menjelaskan bahwa banyak perbaikan yang telah dilakukan di fasilitas tersebut. Ia mengatakan bahwa jalan, gas station, serta sejumlah pintu masuk RSI yang sebelumnya rusak akibat serangan tank penjajah Israel sudah diperbaiki. Jendela-jendela yang lepas juga telah terpasang kembali, meskipun masih banyak bekas tembakan yang terlihat di bagian dinding. Selain itu, Puren menambahkan bahwa reruntuhan, tempat tidur yang rusak, serta sampah yang sebelumnya berserakan sudah mulai dibersihkan, namun belum seluruhnya. “Saat ini, banyak perbaikan yang telah dilakukan, dan sebagian besar sampah sudah disingkirkan. Semua masih dalam tahap pembersihan dan renovasi,” lanjutnya. Selain RSI, Wisma dr. Joserizal Jurnalis juga telah mengalami perbaikan pada dinding dan atapnya, yang memungkinkan EMT MER-C ke-7 untuk tinggal di tempat tersebut selama bertugas di Jalur Gaza. Puren juga mengatakan bahwa jumlah generator telah bertambah. Sebelumnya hanya ada satu, kini telah ada tiga generator yang diperoleh dari bantuan Kementerian Kesehatan Palestina (MoH) dan MER-C, mengingat sebelumnya RSI kesulitan memberikan layanan radiologi dan laboratorium akibat kekurangan pasokan listrik. Meskipun dalam kondisi penuh tantangan, RSI tetap berkomitmen untuk memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat Gaza, dengan dukungan penuh dari EMT MER-C serta warga Gaza yang bekerja sama dalam proses perbaikan fasilitas rumah sakit. ————————————————————————- Indonesia Hospital in Gaza: Hope and Challenges after Ceasefire Despite still in the renovation phase,The 7th Emergency Medical Team (EMT) MER-C has reopened several health services at the Indonesia Hospital in Gaza (RSI). Numerous repairs have been made to the facility,Including the reparation of roads, gas stations, and entrances to the RSI. The Dr. Joserizal Jurnalis Guest House,has also undergone the reparation to its walls and roof. Number of generators has increased,From one to three generators, which obtained via mutual aid that the Palestinian Ministry of Health (MoH) and MER-C have received. The RSI and the EMT team from MER-C remain committed,To provide the best possible healthcare services for the community, with full support from the people of Gaza. Full Video Watch On Youtube MER-Chttps://youtu.be/o2WXfhsonsQ?si=S3Dqrxgi360gxHtv——————————————— Donation Account: Bank Central Asia (BCA), 686.0153678Bank Mandiri, 124.000.8111.925Bank Syariah Indonesia (BSI), 700.1352.061Bank Mega Syariah (BMS), 1000.209.400Bank Muamalat Indonesia (BMI), 358.000.1720Bank Rakyat Indonesia (BRI), 033.501.0007.60308 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee
Kunjungi MER-C, Perwatusi Serahkan Donasi untuk RS Indonesia di Gaza

Jakarta – Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia (Perwatusi) pada Ahad (2/3) mengunjungi Kantor Pusat MER-C di Jakarta dan menyerahkan bantuan untuk Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina. Bantuan diserahkan langsung oleh Ketua Umum Perwatusi Anita Hutagalung dan diterima oleh Presidium MER-C Dr. dr. Yogi Prabowo, Sp.O.T, SubSp.Onk.Orth.R (K)., Sp.Em. Anita berharap, bantuan ini akan membantu MER-C dalam upaya untuk menyediakan bantuan dan dukungan penting bagi masyarakat Gaza. “Kami sangat berharap bahwa dana ini akan memberikan kelegaan, kenyamanan, dan bantuan yang sangat dibutuhkan bagi mereka yang menghadapi kesulitan,” ujarnya. Anita juga menyampaikan terima kasih kepada para donatur yang telah memberikan bantuannya untuk warga Gaza Palestina. “Terima kasih yang sebesar-besarnya atas sumbangan Anda yang murah hati untuk Gaza, Palestina. Dukungan Anda sangat berharga, dan dengan senang hati kami sampaikan bahwa dana tersebut telah disalurkan hari ini kepada MER-C,” tuturnya. Perwatusi adalah organisasi nirlaba yang bergerak untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kesehatan tulang, terutama osteoporosis, dengan mencegah dan merehabilitasi osteoporosis melalui klub-klub senam binaan. Perwatusi juga aktif melakukan bakti sosial.