Tahanan Palestina Kembali, Keluarga Ungkap Kondisinya yang Memprihatinkan

Gaza – Seorang tahanan asal Palestina yang ditahan oleh Israel selama lebih dari satu tahun telah kembali ke rumahnya. Namun, keluarganya mengungkapkan bahwa kondisi fisik dan mentalnya sangat memprihatinkan. Hal itu diungkap saat Marissa Noriti, Liaison officer (LO) EMT MER-C di Gaza, Palestina, berkesempatan bersilaturahim langsung ke keluarga tahanan yang baru dibebaskan tersebut, di salah satu lokasi pengungsian UNRWA, di Beyt Hanoun, Minggu (9/2). Menurut keluarganya, ia telah ditahan Israel sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023. Selama penahanan, dia mengalami penyiksaan fisik dan mental yang sangat parah. “Kondisinya tidak baik-baik saja, sering sedih,” kata seorang anggota keluarga. “Terdapat tanda-tanda penyiksaan di seluruh tubuhnya.” Keluarga tersebut mengharapkan perhatian dari masyarakat dan pemerintah untuk membantu tahanan tersebut dalam proses pemulihan. “Kami berharap dia dapat sembuh dan kembali normal seperti sebelumnya,” ujar mereka menutup perbincangan.
Ketua MUI Apresiasi Peran MER-C dalam Misi Kemanusiaan di Palestina

Jakarta – Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof. Sudarnoto Abdul Hakim, menyampaikan apresiasi tinggi kepada Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) atas perannya dalam misi kemanusiaan di Palestina. Dalam acara silaturahim ormas Islam, lembaga filantropi, dan aliansi solidaritas pembela Palestina yang digelar MUI di Jakarta, Rabu (19/2), ia menegaskan bahwa MER-C telah menunjukkan kepedulian yang luar biasa di tengah situasi krisis kemanusiaan di Palestina. “MER-C sejak awal sampai hari ini terus menunjukkan kepedulian yang luar biasa. Dalam situasi yang sangat genting, MER-C hadir untuk membangun kembali kehidupan. Semoga apa yang dilakukan ini membuka mata dunia bahwa kemanusiaan adalah yang nomor satu, dan MER-C telah membuktikannya,” ujarnya. Ia juga mendorong MER-C serta masyarakat untuk terus bergerak dan memastikan bahwa MUI akan selalu mendukung perjuangan kemanusiaan untuk Palestina. “Jangan lewatkan kesempatan emas ini terutama di bulan suci Ramadhan untuk memberikan kepedulian. Berikan yang terbaik untuk Palestina, berapa pun dan dalam bentuk apapun, dukungan ini akan sangat bermanfaat. MER-C telah maju, masyarakat mari dukung MER-C dan seluruh lembaga kemanusiaan dan filantropi yang juga telah melakukan hal yang sama,” tambahnya. MER-C sejak serangan 7 Oktober 2023 terus mengintensifkan bantuan ke Jalur Gaza Palestina, dengan mengirimkan pengiriman tim medis, obat-obatan, alat kesehatan, makanan, air berisih dan kebutuhan dasar lainnya. Acara silaturahim yang digelar oleh MUI ini juga menghasilkan pernyataan bersama untuk menjadikan Ramadan 2025 sebagai “Bulan Palestina”, dengan mengintensifkan bantuan kemanusiaan serta memperkuat dukungan terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina.
Warga Beit Hanoun Hadapi Krisis Air dan Ancaman Tembakan Penjajah Israel

Gaza Utara – Beit Hanoun, wilayah yang terletak di utara Jalur Gaza dan berbatasan langsung dengan Israel, menghadapi tantangan ganda yang mengancam kehidupan warganya. Selain kesulitan mendapatkan air bersih, warga setempat juga terancam oleh penembakan acak dari tentara Israel. Osama Alkafarna, salah satu warga Beit Hanoun, menyatakan kepada Relawan MER-C bahwa mereka kesulitan mendapatkan air. Setiap dua hingga tiga hari sekali, beberapa truk pengangkut air datang dari lembaga-lembaga bantuan. Namun, kawasan ini berada di zona yang sangat terbatas, dan perjalanan ke sana pun penuh risiko. Alkafarna menjelaskan, jika warga melewati zona penyangga, mereka bisa terkena tembakan dari penjajah Israel. Warga Beit Hanoun sendiri kadang terpaksa melewati area zona penyangga untuk memeriksa rumah mereka. “Penembakan terjadi tanpa pandang bulu, bahkan siapa saja yang berada di tempat tinggi akan ditembak oleh tentara pendudukan Israel,” katanya. Ia menambahkan, penembakan acak juga terkadang mencapai gerbang masuk kota serta pusat penampungan. Alkafarna mengatakan, di tengah krisis air ini sejumlah donatur berencana untuk membangun sumur di wilayah tersebut. Dengan bantuan sumur ini ia berharap masalah air bersih dapat segera teratasi. Alkafarna juga mengungkapkan harapan bahwa setelah genjatan senjata tahap kedua disepakati, tentara Israel akan mundur sekitar 700 meter dari daerah mereka, sehingga penembakan terhadap warga akan berhenti. MER-C sendiri melalui relawannya di Jalur Gaza telah melakuka penilaian langsung kondisi di Beit Hanoun. Berdasarkan hasil penilaian, MER-C kemudian mengirimkan bantuan air bersih serta makanan siap saji. Sekitar 1000 orang atau 130 keluarga menerima bantuan air bersih dan makanan ini, yang disambut dengan sukacita karena sebelemunya warga Beit Hanoun harus berjalan kaki sekitar satu kilometer untuk bisa mendapatkan air.
BAZMA Pertamina Salurkan Bantuan melalui MER-C untuk Palestina

Jakarta – Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia menerima serah donasi sebesar 300 (Tiga Ratus) Juta Rupiah untuk disalurkan ke Palestina dari yayasan Baituzzakah Pertamina (BAZMA) pada hari Selasa, 18 Februari 2025. Dalam rangka memperkuat kelembagaan dan memperluas peran aktifnya, BAZMA memberikan bantuan yang tidak hanya ditujukan kepada masyarakat Indonesia tetapi juga untuk saudara sesama Muslim yang ada di Palestina. BAZMA bertekad seluruh pekerja Pertamina di Indonesia dapat menebar kebaikan dengan cakupan yang lebih luas lagi. Penyerahan bantuan ini diberikan kepada MER-C, sebagai salah satu lembaga yang secara aktif terjun langsung dalam menyediakan bantuan kemanusiaan dan medis di Jalur Gaza. Serah donasi ini diterima oleh salah satu Presidium MER-C, dr. Tonggo Meaty Fransisca. Dari pihak BAZMA Pertamina diwakili oleh Ketua Umum Ir. Susilo, MBA. Kegiatan ini dilakukan dalam acara Rapat Koordinasi Nasional BAZMA tahun 2025 di Gedung Sopo Del Lantai 37, Kuningan, Jakarta. Dalam kesempatan ini pula, BAZMA menyampaikan tujuan dari penyerahan serah donasi ini adalah untuk dapat memberikan bantuan operasional kemanusiaan pada klinik Al Alqsa sebuah klinik spesialis lapangan yang berada di kawasan Al Mawasi, Khan Younis, Jalur Gaza bagian Selatan.
Antrean Panjang dan Sukacita Warnai Kepulangan Warga Gaza Utara

Gaza Utara – Setelah perjanjian gencatan senjata disepakati pada 19 Januari 2025, warga Gaza Utara yang telah lebih dari satu tahun mengungsi ke wilayah selatan akhirnya dapat kembali ke rumah mereka. Hingga kini, jalan dari Gaza Selatan menuju utara masih dipadati kendaraan warga yang membawa barang-barang mereka. Antrean panjang terjadi hingga berjam-jam, mencerminkan kerinduan mendalam warga untuk pulang ke rumah yang telah lama ditinggalkan. Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-7 yang akan kembali ke utara usai pertemuan dengan WHO, sekaligus meninjau pelayanan hemodialisis di sejumlah rumah sakit di Gaza Selatan, juga turut merasakan kemacetan serta sukacita warga. Salah satu relawan EMT MER-C dr. Ni Nyoman Indirawati Kusuma, Sp.PD mengatakan, mereka terjebak kemacetan hingga tiga jam saat melewati pos pemeriksaan Netzarim. “Kita lihat di sini penduduk sangat semangat dan excited untuk pulang ke Gaza Utara, ke rumahnya masing-masing,” ujarnya. Sejak dimulainya agresi Israel pada 7 Oktober 2023, banyak warga Gaza yang terpaksa mengungsi akibat serangan dan perintah evakuasi dari militer Israel.
MER-C Hantarkan Suka Cita di Al-Shawa Shelter, Gaza: Air Bersih dan Bantuan Makanan Tersalurkan

Sekitar 1000 orang atau 130 keluarga menerima bantuan makanan dan air bersih yang disalurkan pada 10 Februari di Al-Shawa Shelter, bekas sekolah milik UNRWA, di mana selain air bersih MER-C juga membagikan makanan siap saji. Kemudian tahap dua disalurkan pada 11 Februari 2025. Mereka menyambut dengan suka cita karena sebelumnya harus berjalan kaki sekitar satu kilometer untuk bisa mendapatkan air. “Baru saja kami datang langsung diserbu karena mungkin memang kehausan, butuh air sekali. Insya Allah program ini akan kita teruskan, mohon dukungannya dari teman-teman semua,” kata dr. Eka saat pembagian air. Bantuan ini menyusul hasil penilaian awal yang dilakukan Tim MER-C di Beit Hanoun. Tim melihat, Beit Hanoun yang merupakan daerah paling utara Gaza dan berbatasan langsung dengan Israel mengalami kerusakan sangat luas. Hampir semua infrastruktur termasuk jalan hancur, sehingga bantuan logistik yang masuk masih sangat terbatas. Dari hasil penilaian ditetapkan lokasi pembagian bantuan, kemudian berkoordinasi dengan warga lokal untuk membantu penyaluran dan estimasi jumlah masyarakat yang membutuhkan. Donation Account: Bank Central Asia (BCA), 686.0153678Bank Mandiri, 124.000.8111.925Bank Syariah Indonesia (BSI), 700.1352.061Bank Mega Syariah (BMS), 1000.209.400Bank Muamalat Indonesia (BMI), 358.000.1720Bank Rakyat Indonesia (BRI), 033.501.0007.60308 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee
Pertama Kalinya! Bantuan Air Capai Beit Hanoun di Perbatasan Gaza-Israel

Gaza Utara – Untuk pertama kalinya bantuan air bersih dapat mencapai Beit Hanoun yang berbatasan langsung dengan Israel. MER-C menyalurkan bantuan dua tanki air berukuran 5000 liter yang disalurkan dalam dua tahap. Tahap pertama disalurkan pada 10 Februari di Al-Shawa Shelter, bekas sekolah milik UNRWA, di mana selain air bersih MER-C juga membagikan makanan siap saji. Kemudian tahap dua disalurkan pada 11 Februari 2025. Relawan Emergency Medical Team ke-7 dr. Eka Budhi, SpBS dan Liaison Officer EMT MER-C Marissa Noriti datang langsung untuk membagikan air bersih dan makanan siap saji ini. Marissa mengatakan, berdasarkan informasi dari warga setempat, MER-C merupakan lembaga pertama yang memberikan bantuan air sampai ke daerah Bait Hanun yang dekat dengan perbatasan. “Biasanya yang lain di daerah Beit Hanoun juga ada, tapi masih jauh dari perbatasan. Mereka merasa terbantu karena tidak terlalu jauh untuk membawa air ke tenda atau rumahnya,” ujar Marissa.
IGD RS Indonesia di Gaza Utara Layani Ratusan Pasien Per Hari

Gaza Utara – IGD Rumah Sakit Indonesia di Beit Lahia, Gaza Utara, melayani sekitar 100-150 pasien per harinya. Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-7 yang terdiri dari empat relawan medis yaitu dua dokter spesalis penyakit dalam DR. dr. Hadiki Habi dan dr. Ni Nyoman Indirawati Kusuma, satu dokter spesialis bedah saraf dr. Eka Budhi Satyawardhana, serta satu perawat Puren Prasetiyadi, Amd.Kep turut mendukung pelayanan IGD RS Indonesia yang sudah diaktifkan kembali sejak 1 Februari 2025. Ketua Tim EMT MER-C ke-7, dr. Hadiki Habib mengatakan, pasien yang ditangani terdiri atas kasus-kasus penyakit kronik yang mengalami perburukan seperti infeksi saluran nafas, gagal jantung, diabetes dan hipertensi tidak terkontrol, kasus luka akibat kecelakaan domestik serta penembakan di buffer zone oleh tentara penjajah. “Tim bertugas selama lima kali seminggu, mulai pukul 09.00-18.00. Kasus-kasu yang perlu rawat inap dirujuk ke rumah sakit di Gaza City,” ujarnya. Ia juga mengatakan, saat ini wilayah Gaza Utara semakin ramai. Kondisi pengungsian, keterbatasan sumber makanan serta tempat tinggal dan air bersih berisiko menimbulkan banyak masalah kesehatan. Untuk itu, perlu ada fasilitas kesehatan pendukung.
Beit Hanoun, Jejak Kehancuran di Gaza Utara

Gaza Utara – Beit Hanoun yang terletak di Gaza Utara menjadi salah satu wilayah yang mengalami kehancuran cukup parah akibat aksi genosida yang dilakukan penjajah Israel selama lebih dari 15 bulan, sejak 7 Oktober 2023. Seperti wilayah lainnya di Jalur Gaza, jejak kehancuran di Beit Hanoun terlihat cukup masif. Terlebih posisinya yang berbatasan langsung dengan IsraeI yang hanya berjarak 6 kilometer (3,7 mil) dari kota Israel, Sderot. Relawan Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-7 dr. Eka Budhi, SpBS dan Liaison Officer EMT MER-C Marissa Noriti, S.Farm yang melakukan penilaian langsung ke Beit Hanoun pada 3 Februari 2025 mengatakan, infrastruktur termasuk rumah sakit dan jalan hancur total. Kerusakan cukup parah serta wilayahnya yang berada dekat dengan zona penyangga juga menyebabkan wilayah ini sulit diakses oleh lembaga bantuan internasional. “Mereka (warga Beit Hanoun) untuk mendapatkan air saja bisa berjalan lebih dari satu kilometer untuk sampai ke titik truk air biasanya ada,” kata Marissa. Pelayanan kesehatan juga sangat terbatas, sedangkan warga yang sebelumnya mengungsi sudah mulai kembali. “Pelayanan medis di Beit Hanoun sangat kurang, yang terdekat ya di RS Indonesia,” kata dr. Eka. Menilai kondisi Beit Hanoun yang memprihatinkan ini, MER-C kemudian merencanakan program bantuan di antaranya pengiriman air bersih, agar warga setempat tidak perlu menempuh jarak yang jauh untuk mendapatkan air.
IDI Anugerahkan Penghargaan Abdulrachman Saleh untuk [Alm] dr. Joserizal Jurnalis

Jakarta – Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memberikan penghargaan Abdulrachman Saleh kepada Pendiri Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Almarhum dr. Joserizal Jurnalis, Sp.OT. Penghargaan ini diserahkan pada hari Rabu (12/2), dalam rangka muktamar IDI ke 32 (MIDIXXXII) yang digelar di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Penghargaan diterima langsung oleh Ibu Dian Susilawati selaku Istri dari dr. Joserizal. Menurut PB IDI, Almarhum Dr. Joserizal Jurnalis ditetapkan sebagai penerima penghargaan Abdulrachman Saleh, karena telah membuktikan peran aktif dan pengabdiannya selama menjadi dokter, dalam membantu masyarakat di daerah bencana atau konflik sosial. Dr. Joserizal merupakan pendiri MER-C yang dikenal sebagai dokter sekaligus aktivis, yang banyak berkontribusi terhadap masyarakat korban perang dan bencana. Joserizal lulus sebagai dokter umum dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Kemudian melanjutkan pendidikan spesialis Bedah Orthopedi dan Traumatologi di Universitas yang sama dan selesai pada tahun 1999. Tidak hanya di Indonesia, Ia juga kerap terjun dalam misi kemanusiaan luar negeri. Mulai dari konflik Ambon, Maluku, Mindanao, Afganistan, Irak hingga Gaza. Dr. Joserizal wafat pada 20 Januari 2020, di usia 57 tahun.