MER-C Salurkan Bantuan Air Bersih untuk Ribuan Warga Gaza

Gaza – Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menyalurkan bantuan air bersih untuk ribuan warga Gaza yang tinggal di Kamp Pengungsian Sekolah Kamal Al-Ahoud, Gaza City. Satu truk berukuran 5500 liter air tiba di Sekolah Kamal Al-Ahoud, Gaza City, pada 28 Januari 2025, dan warga yang tinggal di Kamp tersebut langsung antre untuk mendapatkan air bersih. “Hari ini kami membagikan bantuan di Sekolah Kamal Al-Ahoud, Gaza City, di mana banyak orang yang kesulitan untuk mendapatkan air bersih,” ujar relawan lokal MER-C. Ia mengatakan, setidaknya ada 5000 orang yang menerima bantuan air bersih ini. “Kami menyampaikan terima kasi kepada MER-C Indonesia atas dukungannya untuk orang-orang kami yang kehilangan tempat tinggal,” katanya. Warga Gaza mengalami kesulitan untuk mengakses kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, listrik dan obat-obatan akibat agresi dan blokade berkepanjangan penjajah Israel. Hal ini menyebabkan situasi kemanusiaan terus memburuk di wilayah tersebut. Sejak agresi 7 Oktober 2023, MER-C terus mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza mulai dari makanan, air bersih, obat-obatan, sembako hingga tim medis yang terdiri dari dokter umum dan spesialis, perawat dan bidan. Donation Account: Bank Central Asia (BCA), 686.0153678Bank Mandiri, 124.000.8111.925Bank Syariah Indonesia (BSI), 700.1352.061Bank Mega Syariah (BMS), 1000.209.400Bank Muamalat Indonesia (BMI), 358.000.1720Bank Rakyat Indonesia (BRI), 033.501.0007.60308 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee
MER-C akan Kirimkan Air Bersih ke Beit Hanoun, Gaza Utara

Gaza – Medical Emergency Rescue Committee (MER-) akan mengirim bantuan air bersih ke wilayah Beit Hanoun, Gaza Utara, yang berbatasan langsung dengan Israel. Rencana bantuan air bersih ini menyusul kunjungan dua relawan Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-7 dr. Eka Budhi, SpBS dan Liaison Officer EMT MER-C Marissa Noriti, S.Farm ke wilayah tersebut pada 3 Februari 2025. Keduanya melakukan penilaian kondisi pasca genosida di Beit Hanoun, Gaza Utara, yang masih relatif terisolir dan sangat luas kerusakannya. Bantuan logistik juga belum masuk secara konsisten. “Insya Allah kita akan merencanakan program untuk warga Beit Hanoun ini, karena mereka untuk mendapatkan air saja bisa berjalan lebih dari satu kilometer untuk sampai ke titik truk air biasanya ada,” kata Marissa. “Mudah-mudahan kita bisa bantu lebih banyak lagi untuk warga Gaza terutama di daerah Beit Hanoun yang situasinya cukup parah, sangat dekat ke perbatasan dan tidak banyak organisasi atau lembaga yang mengirim bantuanya sampai ke sini,” tambahnya. Daerah Beit Hanoun sendiri hanya berjarak 10 menit perjalanan menggunakan mobil dari Wisma dr. Joserizal Jurnalis di kompleks Rumah Sakit Indonesia di Beit Lahia. “Pelayanan medis di Beit Hanoun sangat kurang, yang terdekat ya di RS Indonesia. Kalau dilihat sekilas kebutuhan air sangat kurang sekali karena aksesnya memang agak sulit, jalanan agak sempit,” ujar dr. Eka Budhi. Kedua relawan MER-C juga menunjukkan situasi di Beit Hanoun yang hancur total. Namun warga yang kembali dari pengungsian masih berusaha menyisir puing-puing bangunan untuk mencari barang-barang yang bisa diselamatkan.
MER-C Buka Layanan Poliklinik di RS Al Awda, Gaza Utara

Gaza – Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-7 berkoordinasi dengan manajemen Rumah Sakit Al Awda, Gaza Utara, untuk membuka layanan Poliklinik di Rumah Sakit bedah saraf dan manajemen nyeri. Tim EMT MER-C bertugas di RS Al Awda sejak 2 Februari 2025, dua kali dalam sepekan pada hari Minggu dan Rabu, pukul 09.00-14.00. Sedangkan lima hari lainnya Tim bertugas di RS Indonesia. dr. Eka Budhi, SpBS mengatakan, tujuan membuka layanan poliklinik bedah saraf di RS Al Awda adalah untuk meningkatkan akses masyarakat ke layanan spesialis dan mengurangi kunjungan kasus non-emergency ke UGD. “Terkait bedah saraf saya hanya melakukan kontrol saja saat ini. Sedangkan untuk operasi sudah kita assessment untuk RS Indonesia insyaallah sudah bisa buka satu kamar, tinggal menambahkan alat anestesinya. Untuk RS Al Awda insyaallah juga sudah bisa melakukan operasi bedah saraf,” kata dr. Eka. “Insyaallah bisa terus berlanjut, minta doanya dan support dari teman-teman,” tambahnya. Selain membuka layanan poliklinik bedah saraf dan manajemen nyeri, Tim EMT MER-C juga menangani pasien emergency di Rumah Sakit tersebut. Karena fasilitas kesehatan lain belum berfungsi optimal, RS Al Awda sering mengalami kondisi penuh sesak. Kunjungan pasien UGD per hari bisa mencapai lebih dari 400 orang.
EMT MER-C ke-7 Dukung Pelayanan di UGD RS Al Awda, Gaza Utara

Setelah berkoordinasi dengan Direktur RS Al Awda, Mohammed Salha, 2 Februari 2025, EMT MER-C ke-7 turut membantu pelayanan di UGD RS Al Awda. Tiga dokter spesialis dan satu perawat dari MER-C melakukan rotasi pelayanan di UGD RS Indonesia dan RS Al Awda. “UGD RS Al Awda sering mengalami kondisi penuh sesak,karena fasilitas kesehatan lain belum berfungsi optimal, kunjungan pasien UGD per hari mencapai lebih dari 400 orang, dan tenaga medis yang ada terbatas,” ujar dr. Ni Nyoman Indira, SpPD, relawan EMT MER-C ke-7. “Dokter dan perawat lokal masih berkomitmen melakukan pelayanan meskipun dengan keterbatasan fasilitas,” lanjut dr. Indira. “Beban kerja yang berat serta kondisi keluarga masing-masing nakes yang mengungsi menambah risiko burnout,” tambahnya. “Tim kita terdiri dari satu dokter spesialis penyakit dalam dan spesialis emergensi, satu dokter spesialis penyakit dalam, satu dokter spesialis bedah syaraf, dan satu perawat mendukung pelayanan UGD di RS Al Awda 2 kali seminggu, bersama dengan pelayanan rawat jalan untuk bedah syaraf” papar ketua EMT MER-C ke-7 yang juga Ketua Presidium MER-C, DR. dr. Hadiki Habib, Sp.PD., Sp.Em. Donation Account: Bank Central Asia (BCA), 686.0153678Bank Mandiri, 124.000.8111.925Bank Syariah Indonesia (BSI), 700.1352.061Bank Mega Syariah (BMS), 1000.209.400Bank Muamalat Indonesia (BMI), 358.000.1720Bank Rakyat Indonesia (BRI), 033.501.0007.60308 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee
Relawan MER-C : Musim semi datang lebih dini di hati masyarakat gaza utara

Puncak musim dingin di Gaza, Akhir Januari 2025, Berbondong warga palestina keluar dari kantong-kantong pengungsian di selatan menuju utara, pasca gencatan senjata tahap 1 dan tentara penjajah keluar dari check point Netzarim, sebuah area yang dibuat oleh penjajah untuk membagi gaza menjadi wilayah utara dan selatan. Masyarakat Gaza Utara pulang kampung, setelah mengungsi berpindah-pindah selama 15 bulan akibat genosida, hanya untuk melanjutkan pengungsiannya di puing-puing rumah keluarga yang di bom rata. Alaa, mahasiswa kedokteran di Gaza, yang berdomisili di Gaza Utara, menceritakan bagaimana keluarganya sangat bersemangat kembali ke kampungnya di utara. “Keluargaku bergegas kembali ke utara begitu mengetahui penjagaan sudah dilonggarkan, mereka menggunakan kenderaan apa saja, meskipun semua tahu saat ini di Utara makanan dan air sangat terbatas” Warga gaza yang kembali ke Utara, saling bertemu, berpelukan, menanyakan keberadaan saudara, keponakan atau tetangga, ada yang wafat, ada yang masih mengungsi, ada yang tidak jelas nasib nya. Muhammed, seorang guru yang harus kehilangan pekerjaannya akibat genosida, menceritakan warga gaza sering bercanda dengan cara membandingkan foto mereka sebelum perang dan pasca perang, “ada yang kehilangan berat badan 10 kilogram, bahkan sampai 30 kilogram” ujarnya “kita sampai tidak kenal karena perubahan penampilan ini” lanjut Muhammed dengan bahasa inggris terbata sambil tertawa menunjukkan foto dirinya sebelum perang yang tampak jauh lebih berisi.Iya juga menyampaikan kebutuhan pokok sudah mulai tersedia di pasar dengan jumlah terbatas, “sebelum perang, 1 kg ayam seharga 13 shekel, saat ini harganya mencapai 25 shekel” tutup Muhammed Dr. Mahmud, warga Gaza Utara yang menjadi relawan di RS Indonesia, baru saja mendapatkan gelar dokter dan harus mengungsi dari utara, mengatakan, “Selama mengungsi, ada masa dimana kami harus bersaing berebut rumput liar dengan keledai, rumput-rumput ini direbus untuk kemudian dimakan, karena tidak tersedia bahan makanan apapun” lanjutnya, dia merupakan salah satu dari sekian banyak warga Gaza Utara yang pulang dengan berjalan kaki dari Selatan. Dr. Marwan, warga Gaza Utara dan direktur RS. Indonesia menyampaikan “Kami akan mensyukuri hari demi hari selama masa 42 hari ini (gencatan senjata fase 1), karena tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi setelah fase 1 selesai” Di jalan-jalan berpasir Gaza Utara, warga hilir mudik, mencari sisa-sisa barang diantara puing-puing, truk-truk logistik mulai masuk, ada yang membawa pasokan air, tenda, dan makanan, warung kaki lima bermunculan, bahkan sudah ada yang menjual makanan. Sekarang puncak musim dingin, namun musim semi tiba lebih awal di hati masyarakat Gaza.
MER-C Bersama Wakaf Salman Bagikan Bantuan Makanan untuk Warga Gaza

Medical Emergency Rescue Committte (MER-C) bersama Masjid Salman ITB pada Minggu (2/2/2025) membagikan bantuan 2000 porsi makanan siap saji untuk warga Gaza di Abu Zaitun Shelter, Jabalia Camp, Gaza Utara. Ini merupakan bantuan tahap ketiga MER-C bersama Wakaf Salman. Sebelumnya pada 14-15 Januari 2025, relawan MER-C di Jalur Gaza bersama relawan lokal juga telah membagikan bantuan makanan siap saji di Gaza City. Salah satu relawan Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-7 Puren Prasetiyadi, Amd.Kep mengatakan, ada lebih dari 1000 orang di Kamp tersebut yang mengungsi akibat genosida penjajah Israel. Ia mengatakan, warga Gaza di kamp pengungsian hidup ditengah kekurangan tanpa air dan listrik. Puren juga menuturkan, selama hampir satu tahun mereka tidak pernah mengkonsumsi nasi, untuk itu pada bantuan tahap tiga ini dipilih menu Makluba, hidangan khas Palestina semacam nasi yang dicampur dengan potongan kentang dan daging ayam. Bantuan ini disambut gembira oleh warga Gaza yang ada di kamp pengungsian. “Semoga ini bermanfaat untuk warga Gaza dan bantuan bisa lebih berkelanjutan lagi sehingga masyarakat Gaza merasa senang,” ujar Puren.
Keluarga dokter Hussam Abu Safiyah : Kami terus berdoa atas pembebasan ayah, Insya Allah

Jumat sore, 31 Januari 2025, tim MER-C berkunjung ke area Syekh Radwan, Jabaliya, Gaza Utara, tempat tinggal sementara Istri dan Anak-anak dr. Hussam Abu Safiyah, direktur RS Kamal Adwan yang saat ini ditawan. Dalam kunjungan ini, keluarga dr. Hussam menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian dan dukungan masyarakat Indonesia atas penangkapan dr. Hussam oleh tentara penjajah, keluarga terus menjaga semangat dan optimisme bahwa dr. Hussam akan dibebaskan, meskipun sampai saat ini tidak pernah bisa berkomunikasi langsung. Tim EMT MER-C menjelaskan bahwa dr. Hussam telah menjadi role model banyak dokter tentang bagaimana memperjuangkan kehidupan pasien-pasiennya, relawan MER-C masih terus melanjutkan kampanye agar dr. Hussam dibebaskan dan terhindar dari kejahatan kemanusiaan selama proses penahanan ilegal tersebut.
MER-C akan Kembali Kirim Bantuan Alat Kesehatan ke Jalur Gaza

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) akan kembali mengirimkan bantuan alat kesehatan berupa instrumen bedah plastik dan bedah saraf, dengan total volume sebanyak tiga pallet atau lebih dari 2.5 miliar rupiah, ke Jalur Gaza, Palestina. Ini merupakan bantuan alat kesehatan tahap kedua yang dipesan dari Yordania. Bantuan alat kesehatan pertama telah diserahterimakan pada September 2024 untuk memenuhi kebutuhan RS Indonesia di Gaza Utara. Saat perbatasan Rafah masih dibuka, MER-C juga menyalurkan bantuan alat kesehatan untuk dua RS di Gaza Selatan melalui Kairo, Mesir. Bantuan ini sebagai upaya lebih lanjut dari MER-C untuk membantu sistem kesehatan di Jalur Gaza yang hancur akibat perang genosida penjajah Israel selama lebih dari 15 bulan. MER-C juga telah mengirimkan dua delegasi ke Yordania yaitu Ketua Emergency Medical Team (EMT) MER-C dr. Arief Rachman, SpRad dan Liaison Officer EMT MER-C Nanang Khoirono untuk melakukan peninjauan terkait kesiapan dan kelengkapan alat kesehatan yang akan dikirim. Nanang mengatakan, bantuan alat kesehatan sudah siap dikirim untuk mendukung fasilitas kesehatan di Jalur Gaza khususnya di RS Indonesia, namun saat ini masih menunggu izin untuk bisa masuk ke Gaza. “Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Indonesia yang tiada henti dalam mendukung program-program MER-C Indonesia di Palestina,” ujarnya. ———————————————————————— MER-C Will Assist Another Medical Equipment Support to the Gaza Strip The Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) will again assist a medical equipment support in the form of plastic surgery and neurosurgery instruments, with a total volume of three pallets or more than 2.5 billion rupiah, to the Gaza Strip, Palestine. This is the second phase of medical equipment support that have been ordered from Jordan. The first assist of medical equipment was handed over in September 2024 to meet the needs of the Indonesia Hospital in Northern Gaza. Back when the Rafah border was still open, MER-C also distributed medical equipment support to two hospitals in the South of Gaza via Cairo, Egypt. This support is a further effort by MER-C to help the healthcare system in the Gaza Strip which had been destroyed by the genocidal war of the Israeli occupation for more than 15 months. MER-C has sent two delegations to Jordan, namely the Head of the MER-C Emergency Medical Team (EMT) dr. Arief Rachman, Sp.Rad and the EMT MER-C Liaison Officer Nanang Khoirono to review the readiness and completeness of the medical equipments support that need to be sent. Nanang said that the medical equipment support is now ready to be sent to help the healthcare facilities in the Gaza Strip, especially in the Indonesia Hospital, but still currently waiting for permission to entering Gaza. “We would like to thank all Indonesian people who have continued to support MER-C Indonesia’s programs in Palestine,” he said.
Bertemu Kemenkes Palestina di Gaza, MER-C Sampaikan Komitmen Reaktivasi RS Indonesia

Gaza, Kamis, 30 Januari 2025 – Tim Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-7 mengadakan pertemuan dengan Wakil Menteri Kesehatan Palestina di Gaza, Dr. Yousef Abu Al Rish, di Rumah Sakit Indonesia, Gaza Utara. Pertemuan ini membahas rencana pemulihan layanan kesehatan di Gaza, khususnya upaya percepatan reaktivasi Rumah Sakit Indonesia (RS Indonesia) sebagai fasilitas kesehatan utama di wilayah tersebut. Dalam pertemuan tersebut, Dr. Yousef Abu Al Rish menyampaikan bahwa Kementerian Kesehatan Palestina secara bertahap akan mengaktifkan kembali layanan kesehatan di seluruh Gaza. Salah satu prioritas utama adalah reaktivasi layanan di RS Indonesia, mengingat RS Al-Shifa, rumah sakit terbesar di Gaza City dan Utara, telah mengalami kerusakan berat akibat agresi militer. Ia memaparkan beberapa layanan yang mendesak untuk segera dioperasikan kembali meliputi unit gawat darurat (UGD), layanan dialisis, serta unit pelayanan medis lainnya yang sangat dibutuhkan masyarakat. Ketua EMT MER-C ke-7, yang juga Ketua Presidium MER-C, DR. dr. Hadiki Habib, Sp.PD., Sp.Em menegaskan kembali komitmen MER-C dan masyarakat Indonesia dalam mendukung pemulihan kondisi masyarakat Gaza pasca genosida. Dalam kesempatan ini, ia juga menyampaikan program “Build Back Better RS Indonesia”, yaitu membangun kembali rumah sakit Indonesia dengan lebih baik di masa depan. “Kami akan melakukan penilaian kerusakan (damage assessment) secara menyeluruh dan detail terhadap struktur bangunan rumah sakit Indonesia, instalasi gas, air, listrik, internet, serta mengevaluasi kelengkapan alat-alat medis dan elektromedis yang masih dapat digunakan,” ujar dr. Hadiki. Pertemuan ini difasilitasi oleh Direktur RS Indonesia, dr. Marwan Al Sultan beserta staf rumah sakit. Turut hadir dalam pertemuan tersebut, perwakilan dari berbagai kementerian dan lembaga di wilayah Gaza, Palestina. Tim MER-C sendiri terdiri dari lima relawan Indonesia dan empat staf local yang berhasil mencapai Gaza Utara hari Kamis, 30 Januari 2025. Pada kesempatan memasuki Gaza Utara pasca kesepakatan gencatan senjata tersebut, Tim MER-C langsung melakukan penilaian ke tiga rumah sakit di Gaza Utara, yaitu RS Al Awda, RS Kamal Adwan dan RS Indonesia. ————————————————————————————— Meet the Palestinian Ministry of Health in Gaza, MER-C Delivers Its Commitment to Reactivate the Indonesia Hospital in Gaza On Thursday, January 30th, 2025, in Gaza – The 7th team of MER-C Emergency Medical Team (EMT) held a meeting with the Deputy Minister of Health of Palestine in Gaza, Dr. Yousef Abu Al Rish, at the Indonesia Hospital, Northern Gaza. Discussed plans to restore the health facility services in the Gaza Strip, especially new efforts to accelerate the reactivation of the Indonesia Hospital (RS Indonesia) as the main health facility in the region. In that meeting also, Dr. Yousef Abu Al Rish has expressed the will from the Palestinian Ministry of Health to gradually reactivate healthcare services throughout Gaza. One of their top main priorities is the reactivation of services at the Indonesia Hospital, considering that Al-Shifa Hospital, the largest hospital in the North and the Gaza City, has been severely damaged by military aggression. He explained several services that urgently need to be reactivated immediately, including the emergency unit (UGD), dialysis services, and other medical service units that are greatly needed by the community. The Chairman of the 7th team of EMT MER-C, who is currently also the Chairman of the MER-C Presidium, DR. dr. Hadiki Habib, Sp.PD., Sp.Em reaffirmed the commitment of MER-C and the Indonesian people to support the recovery conditions in the Gaza community after the genocide. On that occasion, he also conveyed the “Build Back a Better RS Indonesia” program, which is to rebuild Indonesia Hospital in a better form ultimately. “We will conduct a comprehensive and detailed damage assessment of the structure of the Indonesia Hospital building, gas, water, electricity, internet installations, and evaluate the completeness of medical and electromedical equipment that can still be used,” said dr. Hadiki. This meeting was facilitated by the Director of RS Indonesia in Gaza, dr. Marwan Al Sultan along with the hospital staffs. Who were also present at the meeting with other representatives from various ministries and institutions in the Gaza region, Palestine. The MER-C team itself consists of five Indonesian volunteers and four local staffs who manage to reach Northern Gaza on Thursday, January 30th, 2025. On this occasion of entering the North Gaza after ceasefire agreement, MER-C immediately conducted an assessment of three hospitals in Northern Gaza area, namely Al Awda Hospital, Kamal Adwan Hospital and the Indonesia Hospital. ———————————————————————————————- لقاء مع وزارة الصحة الفلسطينية في غزة: “MER-C” تؤكد التزامها بإعادة تفعيل المستشفى الاندونيسي. غزة، الخميس، 30 يناير 2025 – عقد الفريق الطبي الطارئ السابع (EMT) التابع لمنظمة MER-C اجتماعًا مع نائب وزير الصحة الفلسطيني في غزة، د. يوسف أبو الريش، في المستشفى الاندونيسي بشمال غزة. ناقش الاجتماع خطة استعادة الخدمات الصحية في القطاع، مع التركيز على تسريع إعادة تفعيل المستشفى الاندونيسي كمرفق صحي رئيسي في المنطقة. خلال الاجتماع، أكد د. يوسف أبو الريش أن وزارة الصحة الفلسطينية تعمل تدريجياً على إعادة تفعيل الخدمات الصحية في جميع أنحاء غزة، مشيرًا إلى أن أحد الأولويات الرئيسية هو إعادة تشغيل الخدمات في المستشفى الاندونيسي، خاصة بعد تعرض مستشفى الشفاء، وهو أكبر مستشفى في مدينة غزة والشمال، لأضرار جسيمة نتيجة العدوان العسكري. وأوضح أن هناك خدمات طبية عاجلة تحتاج إلى إعادة تشغيل فوري، بما في ذلك قسم الطوارئ، وخدمات غسيل الكلى، بالإضافة إلى وحدات طبية أخرى ضرورية لسكان غزة. من جانبه، أكد رئيس الفريق الطبي الطارئ السابع ورئيس مجلس رئاسة MER-C، د. حديقي حبيب، التزام MER-C والشعب الإندونيسي بدعم المجتمع الغزي بتعافيه بعد المجازر التي تعرض لها. كما استعرض خلال الاجتماع برنامج “إعادة بناء المستشفى الاندونيسي بشكل أفضل” (Build Back Better RS Indonesia)، الذي يهدف إلى إعادة بناء المستشفى بمواصفات محسنة في المستقبل. وقال د. حديقي: “سنقوم بإجراء تقييم شامل ودقيق للأضرار التي لحقت بالمستشفى، بما في ذلك هيكل المبنى، وشبكات الغاز والمياه والكهرباء والإنترنت، بالإضافة إلى تقييم المعدات الطبية والإلكترونية القابلة للاستخدام”. عُقد الاجتماع بتنظيم مدير المستشفى الاندونيسي، د. مروان السلطان، وطاقم المستشفى، بحضور ممثلين من مختلف الوزارات والهيئات في قطاع غزة. يُذكر أن فريق MER-C يضم خمسة متطوعين إندونيسيين وأربعة موظفين محليين، وقد تمكنوا من الوصول إلى شمال غزة يوم الخميس، 30 يناير 2025. وبمجرد دخولهم غزة بعد اتفاق وقف النار قام الفريق بإجراء تقييم للأضرار في ثلاثة مستشفيات في شمال غزة، وهي المستشفى الاندونيسي،
EMT MER-C ke 7 melakukan Disaster Triage di Gaza Utara

Kamis Pagi (30/1) setelah masuk ke Gaza Utara, EMT MER-C ke 7 segera melakukan Disaster Triage dan penilaian cepat kondisi pasca genosida. “Ekosistem Gaza Utara mengalami kehancuran terbesar akibat Genosida, meskipun demikian, populasi meningkat sangat cepat setelah gencatan senjata dan koridor Netzarim dibuka” papar ketua EMT MER-C ke 7, dr.Hadiki Habib. “Kita akan segera menghadapi kasus-kasus luka-luka pasca perang, eksaserbasi akut penyakit kronik, dan penyakit infeksi seperti gastroenteritis dan pneumonia di wilayah Gaza Utara” lanjut dr. Hadiki “Gaza saat ini masih musim dingin, dan sumber air sangat terbatas di Utara” RS Al-Awda masih menjadi satu-satunya rumah sakit yg berfungsi di utara, rumah sakit ini awalnya fokus kepada layanan Obstetri,namun menerima kasus umum lainnya pasca perang. Direktur RS Al Awda, Mohammed Salha mengatakan, layanan gawat darurat mereka saat ini menerima lebih dari 300 kunjungan sehari dan tenaga dokter yang bertugas merupakan fresh graduate dan masih sangat terbatas jumlahnya Diantara puing-puing RS Kamal Adwan, tenaga kesehatan yg tersisa berniat mengaktifkan kembali ruang poliklinik yang relatif tidak hancur, dalam 1 minggu ke depan, rencana 5 poliklinik akan dijalankan kembali oleh staf rumah sakit. “RS Kamal Adwan membutuhkan dukungan logistik RS lapangan seperti tenda, sumber listrik dan air, agar klinik yang dibuka bisa berjalan optimal” dr. Hadiki menjelaskan RS Indonesia sendiri mengalami kerusakan bangunan, interior dan alat medis yang banyak, “Walau demikian, kami siap mengaktifkan kembali Unit Gawat Darurat” terang dr. Marwan, Direktur RS Indonesia di Gaza Utara. “Sumber energi dari solar panel yang dirusak penjajah masih mampu mendukung pelayanan gawat darurat di RS Indonesia” sambung dr. Hadiki, “Aktivasi pelayanan IGD 24 jam dan rawat inap terbatas menjadi prioritas agar penumpukan pasien di rs Al Awda bisa kita diversi, untuk itu, tim akan melakukan komunikasi aktif ke kementerian kesehatan Palestina dan WHO untuk mendukung perbaikan instalasi gas medis, instalasi sanitasi dan sterilisasi dan logistik farmasi ke RS Indonesia”