MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

MER-C Mulai Renovasi Wisma dr. Jose Rizal Jurnalis di Jalur Gaza

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mulai melakukan renovasi Wisma Indonesia dr. Joserizal Jurnalis di Jalur Gaza, yang ikut terdampak saat penjajah menyerang Rumah Sakit Indonesia. Tim Engineer MER-C yang sebelumnya bertugas di selatan pada awal September bergerak menuju utara dan berhasil masuk kembali ke RS Indonesia setelah sempat tertahan selama satu hari. Tim kemudian melakukan pengecekan kerusakan secara detail dari yang besar hingga kecil, baik di dalam maupun di luar bangunan untuk menentukan rencana perbaikannya. Renovasi dilakukan Tim Engineer MER-C di Gaza setelah penyusunan rencana anggaran dan rencana kerja kemudian berkoordinasi dengan MER-C Pusat di Jakarta. Segera setelah menerima konfirmasi persetujun, Tim bergerak mencari lokasi-lokasi yang masih tersedia bahan bagunan dan material.  Relawan MER-C di Jalur Gaza Edy Wahyudi mengatakan, kondisi perang yang belum juga berhenti dan langkanya bahan yang dicari mengakibatkan harga naik hingga 10 kali lipat dari harga normal. Tapi itu adalah sebuah pilihan pahit yag harus diputuskan untuk tetap dibeli. Ia mengatkan, saat ini banyak penduduk Gaza Utara yang evakuasi ke selatan dan banyak pula yang syahid sementara untuk mendatangkan relawan pembangunan dari Indonesia masih belum memungkinkan. Maka MER-C mencari tenaga kerja yang tersisa di sekitar RS Indonesia dengan tetap melalui seleksi dalam prinsip keahlian yang dimiliki.  “Kini Wisma dr. Joserizal Jurnalis sudah siap menerima kembali para relawan MER-C baik medis maupun non-medis untuk beraktivitas dan beristirihat di dalamnya. Kebersihan insyaa Allah sudah terkondisikan mulai dari lantai satu hingga atap berkat para relawan yang saat ini bertugas di Wisma bekerja keras mencuci seluruh peralatan tidur siang dan malam,” kata Edy. “Kenyamanan beraktivitas juga sudah dilengkapi penerangan dan internet yang aktif insyaa Allah 24 jam bila tidak ada gannguan,” tambahnya. Wisma dr. Joserizal Jurnalis menjadi saksi saat RS Indonesia diserang dan sempat diduduki tantara penjajah Israel sebanyak dua kali, hingga meninggalkan banyak kerusakan di Wisma tersebut.  Edy mengungkap, di luar bangunan Wisma banyak tumpukan reruntuhan dari bangunan lain, bangkai-bangkai kendaraan yang hacur saat perang terjadi, area depan dan samping termasuk pagarnya semua hancur.  “Dinding depan Wisma juga dirobohkan mungkin untuk jalan masuk tantara ke dalam Wisma. Hampir seluruh jendela kaca pecah bahkan bingkainya terlepas. Sementara atap Wisma yang sudah kami cek, ada sekitar 120 buah genteng yang perlu diganti,” ujarnya. Lebih lanjut ia mengatakan, instalasi plambing atau jalur air sebagian rusak termasuk torent air di atap wisma bolong-bolong terkena serpihan bom. Instalasi listrik pun ikut berantakan akibat plafon yang hampir seluruhnya ambruk akibat getaran-getaran bom yang dijatuhkan pesawat dan artileri tank Israel di sekitar RS Indonesia.  Untuk kerapihan dokumen pembangunan dan pengadaan peralatan, Edy mengungkap masih memerlukan waktu cukup panjang untuk menyeleksi dan menata kembali.  “Bisa terbayang dokumen mulai dari tahun 2011 hingga saat ini tahun 2024,” tuturnya.  Edy juga mengunggkap hal menarik saat proses renovasi berlangsung, di mana ia menemukan Al Quran di tiang tempat membaca dalam kondisi masih terbuka dengan baik padahal di sekelilingnya hancur berantakan diacak-acak. Berbagai peralatan elektronik, peralatan kantor bahkan peralatan dapur dilempar keluar dan berserakkan di luar Wisma.

Relawan MER-C Jadi Pembicara di MICOHEDMED 2024

Relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Cabang Medan dr. Ahmad Handayani Sp.JP menjadi pembicara dalam Malikussaleh International Conference on Helath and Disaster Medicane (MICHOHEDMED) 2024, yang digelar pada 17-19 September 2024. Konferensi MICOHEDMED merupakan kegiatan dua tahunan yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh, Aceh. Tema besar konferensi tahun ini adalah “Improving Preparedness and Response in Emergency Care”. Konferensi yang digelar secara daring ini menghadirkan pembicara dari berbagai negara yaitu Prof. Yi-Hsuan Lee dari Taiwan, Prof. Mehmet Sever dari Turkiye, Nelson Tsuno, Ph.D, dari Jepang, Dr. Wittawat Wattanasiriporn dari Thailand, dr. Radi Muharris Mulyana, Sp. OT (K), Sp.EM, dr. Adirizka, Sp.B (K) Onk, serta dr. Ahmad Handayani, Sp.JP dari Indonesia. Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh mengundang MER-C sebagai pembicara karena  menilai sebagai sebuah lembaga kemanusiaan internasional, MER-C memiliki pengalaman dan kontribusi signifikan dalam penanganan kegawatdaruratan medis di daerah konflik maupun daerah terdampak bencana. Dr. Yani dalam kesempatan itu menyampaikan materi mengenai “Peran Lembaga Kemanusiaan dalam Penanganan Kegawatdaruratan Medis di Daerah Konflik atau Terdampak Bencana.” Ketua MER-C Cabang Medan Periode 2012-2018 itu mengatakan bahwa pada beberapa kondisi dapat terjadi korban, MER-C mengenali ini sebagai kelompok orang-orang yang the most neglected and vulnerable people di mana kondisi ini termasuk diantaranya adalah korban bencana alam, korban perang atau konflik, korban kebijakan pembangunan yang berdampak pada kesehatan pada orang-orang lemah, dan penduduk dunia tanpa kewarganegaraan.  Menurutnya, organisasi kemanusian memiliki peranan penting untuk menolong kelompok ini. Dan ciri khas MER-C dalam menjalankan misinya yaitu sifat amanah, profesional, netral, mandiri, sukarela, dan mobilitas tinggi.

MER-C dan Kitabisa Lakukan Kerja Sama Pengadaan Kendaraan untuk RS Indonesia

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dan Kitabisa melakukan kerja sama pengadaan kendaraan untuk Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara dan resmi diserahkan pada 10 September 2024. RS Indonesia sendiri telah beroperasi kembali sejak 1 Juni, setelah diserang penjajah pada November 2023 dan sempat diduduki tentara penjajah selama dua pekan. Meski pengoperasian masih secara terbatas, RS Indonesia terus berupaya memberikan pelayanan terbaik.  “Diantara pelayanan yang diperlukan adalah untuk menjemput dan mengantar pulang sebagian besar tenaga medis dan non-medis ke RS Indonesia sehingga diperlukan pengadaan sebuah bis sebagai sarana transportasi. MER-C bersama Kitabisa berinisiasi untuk memberikan bantuan sebuah bis dengan kapasitas 20 tempat duduk,” kata Relawan MER-C di Jalur Gaza, Edy Wahyudi, Kamis (19/9). Edy mengatakan, kondisi RS Indonesia yang sempat diduduki dan beberapa kali diserang pasukan penjajah saat ini masih menyisakan bangkai-bangkai kendaraan yang terbakar, hancur dan rusak. Relawan MER-C yang bertugas di Jalur Gaza juga banyak mengalami kendala dalam situasi perang yang masih terus berlangsung. Mulai dari terbatasnya lokasi yang dapat dikunjungi, harga yang jauh lebih mahal dari situasi normal hingga suku cadang kendaraan yang langka. Hal ini juga mempersulit pencarian bis untuk RS Indonesia. Namun Edy mengungkap, setelah melakukan survei beberapa pekan dari beberapa alternatif jenis bis dan dengan variasi harganya, ia dapat menemukan bis yang sesuai. Tak hanya sulit dalam proses mencari, perjalanan membawa bis dari Gaza Tengah ke RS Indonesia di Gaza Utara juga tidak mudah. Relawan MER-C bersama konvoi WHO harus menempuh waktu hingga dua hari untuk tiba di sana karena beberapa kali status “Green Light” dibatalkan. “Perjalanannya sangat berat karena sebagian besar jalan dirusak dan jembatan diruntuhkan oleh penjajah. Insiden lain juga kami alami saat melewati suatu kawasan, di mana ada seorang yang melemparkan batu ke sisi kanan sebuah jendela hingga hancur berkeping-keping,” ujar Edy. “Setelah perjalanan panjang, akhirnya Relawan MER-C dan konvoi WHO dapat tiba dengan selamat di RS Indonesia dan disambut gembira oleh staf Rumah Sakit dan warga Gaza,” tambahnya. Direktur RS Indonesia dr. Marwan Al-Sultan menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas bantuan bis dari rakyat Indonesia yang diberikan melalui MER-C dan Kitabisa ini. “Semoga Allah membalas dengan yang lebih baik kepada MER-C, Kitabisa dan seluruh rakyat Indonesia,” kata dr. Marwan. “Setiap putaran roda menjadi balasan kebaikan dan setiap debu yang menempel akan menjadi saksi dan tameng di hari akhir, insyaa Allah menjadi jariyah yang terus mengalir bagi para donatur,” ujarnya.

Kitabisa Serahkan Donasi Rp 1,5 Miliar kepada MER-C

Wadah galang dana, sedekah, zakat maal dan fitrah secara online, Kitabisa, menyerahkan donasi yang digalang melalui aplikasi Kitabisa untuk warga Palestina, kepada Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sebesar Rp 1.521.325.000,-. CEO Kitabisa Vikra Ijas melakukan penyerahan donasi secara simbolis kepada Ketua Presidium MER-C, DR. dr. Hadiki Habib, Sp.PD., Sp.Em di Kantor Pusat MER-C di Jakarta pada Rabu (18/9). Penyerahan donasi juga dihadiri Head of Islamic (zakat) Kitabisa Ahmad Mujahid, Partenership Account Kitabisa Muhammad Hibatur Rahman, Ketua Divisi Penggalangan Dana MER-C Ir. Luly Larissa dan Manajer Operasional MER-C Rima Manzanaris. “Alhamdulillah hari ini kita silaturahim ke Kantor MER-C ketemu Mba Luly, Mba Rima dan Ketua Presidium baru MER-C, dr. Hadiki Habib, serta penyerahan simbolis donasi dari para donatur yang menyumbangkan dan menitipkan amanah melalui Kitabisa,” kata Vikra. “Alhamdulillah kami juga bersyukur dipercaya menjadi rekanan dari MER-C untuk penyaluran donasi Palestina. Kita sudah sama-sama tahu MER-C adalah lembaga yang sangat kredibel dan juga menjadi Lembaga satu-satunya yang ada di dalam Palestina di Jalur Gaza, turut mengoperasikan RS Indonesia di Gaza. Jadi kami bersyukur dengan kemitraan ini para donatur yang menitipkan amanah dan harapan mereka, bisa melihat bagaimana dana mereka tersalurkan khususnya untuk penanganan medis di Jalur Gaza,” tambahnya. Ia juga mengapresiasi kerja relawan MER-C yang turun langsung untuk membantu warga Palestina di Jalur Gaza, Palestina. “Masyaallah teman-teman MER-C, kami hanya bisa memberikan rasa takzim untuk para dokter, para relawan, para engineer yang turun langsung ke lapangan, serta teman-teman di belakang layar yang juga bekerja agar inisiatif dan program-program dari MER-C berjalan,” tuturnya. Vikra juga menyerukan agar masyarakat tetap berisik dan menjaga harapan untuk Palestina, karena ini menjadi simbol perjuangan bukan hanya sebagai umat muslim tapi juga sebagai umat manusia. “Apapun yang kita lihat di berita, ini ada bukti lembaga dari Indonesia yang terus berjuang, yang menjadi ‘alat diplomasi’ Indonesia untuk perjuangan kemerdekaan Palestina,” katanya.

Komunitas Pejuang Subuh Masjid Raya Pondok Indah Salurkan Donasi Palestina 10.000 USD Melalui MER-C

Komunitas Pejuang Subuh Masjid Raya Pondok Indah menyalurkan donasi untuk warga Palestina di Jalur Gaza sebesar 10.000 USD melalui Medical Emergency Rescue Committee (MER-C). “Alhamdulillah hari ini kami menyerahkan donasi dari jamaah Pejuang Subuh Masjid Raya Pondok Indah dalam bentuk cash 10.000 USD, untuk diserahkan dan disampaikan kepada sahabat-sahabat kita di Gaza,” kata Pengurus Pejuang Subuh Masjid Raya Pondok Indah, Fadian Paham, saat menyerahkan donasi di Kantor Pusat MER-C di Jakarta, Rabu (18/9). Penyerahan donasi ini diterima langsung oleh Presidium MER-C dr. Zecky Eko Triwahyudi, Sp.OT., MARS, Ketua Divisi Penggalangan Dana MER-C Ir. Luly Larissa dan Manajer Operasional MER-C Rima Manzanaris. Fadian mengatakan, jamaah mempercayakan penyaluran donasi untuk warga Gaza ini melalui MER-C karena terbukti memiliki program nyata, bahkan MER-C memiliki bangunan nyata, RS Indonesia. “Terima kasih kepada MER-C yang bisa memberikan kepercayaan kepada jamaah Komunitas Pejuang Subuh Masjid Raya Pondok Indah,” tuturnya. “Mari kita doakan bahwa apa yang bisa kita lakukan selain berdoa, mungkin ada harta kita yang bisa diberikan. Doa-doa itu juga dilakukan dengan cara kita melakukan banyak kegiatan. Insya Allah kita dari Masjid Raya Pondok Indah akan selalu membantu MER-C dengan mengumpulkan donasi-donasi dari jamaah kita,” tambahnya. Fadian mengungkapkan, saat ini Komunitas Pejuang Subuh Masjid Raya Pondok Indah tidak hanya memiliki jamaah di Jakarta, tidak hanya skala nasional, tapi juga di luar negeri. “Kita sudah ter-conncet dengan 20 kota dunia. Insya Allah syiar kami untuk MER-C dan saudara-saudara kita di Gaza bisa dilaksanakan dengan lancar,” ujarnya.  Sebelumnya, Komunitas Pejuang Subuh Masjid Raya Pondok Indah juga telah menyerahkan donasi kemanusiaan tahap 4 untuk Gaza, Palestina, sebesar Rp 100 juta.

Jajaran Presidium MER-C Silaturahim ke Sejumlah Tokoh dan Ulama Solo

Jajaran Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia pada 15 September 2024 melakukan silaturahmi ke Kota Solo untuk bertemu dengan sejumlah tokoh dan ulama.  Kunjungan silaturahmi ini merupakan bentuk komitmen MER-C Indonesia dalam menggalang dukungan untuk Palestina dan agenda kemanusiaan lainnya baik didalam maupun luar negeri.  “Selain bertemu dengan MER-C Cabang Yogja dan Pembina MER-C, Presidium MER-C juga bertemu sejumlah tokoh dan ulama Kota Solo antara lain Pimpinan Majelis Tafsir Al Quran (MTA), Al Ustadz Nur Kholid Syaifullah., Lc., M.Hum dan Pimpinan Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS), Ustaz. Abdul Rochim Ba’asyir,” ujar Ketua Presidium MER-C dr. Hadiki Habib.  Ia mengatakan, dalam pertemuan yang diselenggarakan di Kantor MTA dan DSKS tersebut, Presidium MER-C mengabarkan hasil musyawarah besar MER-C dan program-program kemanusiaan yang terus berjalan, khususnya di Jalur Gaza, Palestina, serta rencana strategis MER-C untuk Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara. Pertemuan ini juga menghasilkan rencana kerjasama antara MER-C Yogja dan unit kesehatan MTA dan DSKS.  Selain itu, Tim MER-C menerima arahan dan nasehat dari kalangan ulama di Kota Solo yang sangat berarti bagi MER-C dalam mengemban amanah masyarakat Indonesia. MER-C berharap, forum silaturahmi ini semakin memperkuat solidaritas kemanusiaan untuk Palestina dari kalangan ulama hingga masyarakat secara luas.

Atasi Krisis Bahan Bakar, MER-C Pasang Panel Surya di RS Indonesia

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mulai melakukan pemasangan panel surya di Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara, untuk mengurangi dampak krisis bahan bakar dan listrik yang masih terus berlangsung akibat agresi dan blokade Israel. Pada 8 September, sebanyak 30 lembar panel surya tahap pertama dengan kapasitas 20 kV yang memback up 16 persen dari kebutuhan telah terpasang. Rencananya, pemasangan panel surya ini akan dilakukan dalam tiga tahap.  Pemasangan panel surya ini dipantau langsung oleh relawan MER-C di Jalur Gaza. Mereka juga bertemu dengan Direktur RS Indonesia dan berdiskusi terkait pentingnya pemasangan panel surya ini. “Panel surya yang telah dipasang oleh MER-C mencakup 30 lembar panel surya, dengan kapasitas 20 kV yang memback up 16 persen dari kebutuhan. Sebelumnya, sudah ada panel surya yang terpasang sejak sebelum perang, yang tersisa 30 persen dari total kebutuhan 130 kV. Artinya saat ini RS Indonesia masih memerlukan 46 persen lagi dari kebutuhan,” kata Relawan MER-C di Jalur Gaza, Edy Wahyudi, Kamis (12/9). Saat ini, 30 panel surya yang baru dipasang sudah bisa digunakan dan difokuskan untuk kebutuhan ruang operasi dan ICU. Edy mengatakan, RS Indonesia terdampak pasokan bahan bakar yang sangat terbatas. Kapasitas bahan bakar yang dikirimkan dari selatan ke utara, yang tadinya satu unit tanki solar untuk satu atau dua rumah sakit, saat ini terpaksa dibagi ke banyak rumah sakit karena dibatasi oleh Israel. “Akibatnya, operasional RS Indonesia mengalami banyak kendala. Banyak lampu yang harus dipadamkan dan hanya menggunakan lampu-lampu yang memang sangat emergency,” ujarnya. Panel surya tahap pertama yang sudah terpasang, semuanya masih berasal dari dalam Gaza. Hal ini dikarenakan pemesanan dari luar Gaza masih terkendala izin. Langkanya barang serupa di dalam Gaza membuat harga menjadi cukup mahal. Namun mempertimbangkan kebutuhan listrik yang mendesak di RS Indonesia dan adanya dukungan donasi dari rakyat Indonesia, membuat program ini dapat terwujud meski bertahap.        

Misi Kemanusiaan untuk Afghanistan

Afghanistan adalah misi kemanusiaan pertama MER-C ke luar negeri. Tercatat sebanyak 5 kali MER-C mengirimkan Tim Medis ke negara atap langit ini. Tim PertamaTim bertolak ke Afghanistan saat pecah perang di Afghanistan pada 2001 antara Taliban dan Amerika. Sebanyak 5 relawan sebagai Tim Bedah berangkat dengan pesawat Hercules menuju Islamabad Pakistan membawa peralatan operasi dan obat-obatan. Dari Islamabad Pakistan, Tim berkendara menempuh ratusan kilometer melintasi wilayah perbatasan Pakistan – Afghanistan, mendatangi rumah sakit-rumah sakit di Afghanistan untuk membantu para korban perang.  Tim KeduaDi tengah perang yang masih berkecamuk, pada tahun 2002 MER-C mengirimkan Tim Medisnya yang terdiri dari 3 relawan berangkat ke Afghanistan.  Tim KetigaPasca perang panjang Taliban dan Amerika, pada Agustus 2022 Taliban berhasil mengambil alih pemerintahan. Namun belum didapatnya pengakuan dunia untuk kemerdekaan Afghanistan, disertai pembekuan bank sentral dan asset Afghanistan oleh Amerika mengakibatkan Negara ini dilanda krisis kemanusiaan terburuk. Pada 20 – 26 Maret 2022, MER-C mengirimkan Tim Relawannya ke Afghanistan untuk mengambil bagian dalam membantu mengatasi krisis kemanusiaan yang ada.  Tim KeempatDi kala negara tersebut tengah memerangi krisis kemanusiaan dan ekonomi terburuk pasca Taliban mengambil alih kekuasaan pada tahun 2022 yang diikuti pembekuan semua assetnya oleh asing, bencana gempa bumi mengguncang Afghanistan. Gempa bumi menyebabkan Afghanistan menghadapi bencana ganda. MER-C pun mengirimkan Tim Bedah yang terdiri dari 4 relawan medis untuk bertugas di Afghanistan pada tanggal 14 – 27 Juli 2022.  Tim KelimaBencana Gempa kembali mengguncang Afghanistan, tepatnya wilayah Herat, ribuan jiwa menjadi korban. Bencana dahsyat ini tak luput dari perhatian MER-C. MER-C Kembali mengirimkan Tim Medis dan Bantuan Kemanusiaan ke Herat pada 14 Desember 2023 – 8 Januari 2024. Tim MER-C menjadi tim pertama dari Indonesia yang tiba di Herat dengan nilai total bantuan yang dibawa mencapai lebih dari $ 50,000. Bantuan Kemanusiaan Musim Dingin Zenda Jan Maret 2024MER-C menyalurkan bantuan musim dingin untuk korban gempa di Distrik Zenda Jan, Provinsi Herat, Afghanistan.Bantuan ini disalukan ke empat desa yang terdampak gempa 7 Oktober 2023 paling parah, yaitu di Bidak Ishaqzai, Cheshma Tasak, Qashoqi Zoori dan Qashoqi Achakzaee. Di masing-masing desa ini MER-C menyalurkan bantuan berupa 100 helai selimut, 50 pasang sarung tangan, 50 pasang kaos kaki, 50 baju hangat anak-anak, 50 topi anak-anak, 250kg beras, 100kg kedelai, 25 bungkus minyak goreng, 50 bungkus garam dan 25 kaleng pasta tomat.Bantuan disalurkan melalui Yayasan Marefat dan bekerja sama dengan Komite Pemerintah Herat yang bertanggung jawab untuk mengoordinasikan dukungan donor internasional untuk desa-desa di Distrik Zenda Jan yang terkena gempa. Proses pendistribusian pada tanggal 12 dan 13 Maret 2024 dipimpin oleh Sadeq Akbari, seorang pekerja kemanusiaan yang berpengalaman dalam operasi tanggap darurat.Para pejabat pemerintah daerah menyatakan penghargaan mendalam atas bantuan yang diberikan oleh MER-C dan mengakui kontribusi dan komitmen yang teguh untuk membantu penduduk Herat yang terkena dampak. Program Jangka Panjang untuk Afghanistan: RS IndonesiaAfghanistan adalah wilayah pasca perang yang masih sangat membutuhkan bantuan dari berbagai negara. MER-C sebagai perwakilan bangsa Indonesia berkomitmen untuk menjalankan program kemanusiaan jangka panjang di Afghanistan.  Saat pertemuan dengan Gubernur Herat, pemerintah Afghanistan di Herat menyambut positif apabila MER-C berencana melakukan Pembangunan rumah sakit di negara mereka. Gubernur Herat bahkan siap memberikan tanah wakaf untuk Pembangunan RS.

Dua Relawan MER-C Jadi Narasumber dalam Program “Design Cita-Cita” di SMAIT Insan Mandiri Cibubur

Dua relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr. Naenda Stasya, MARS dan dr. Reyfal Khaidar, pada hari Kamis (9/5) menjadi narasumber dalam program “Design Cita-Cita” yang digelar oleh SMAIT Insan Mandiri Cibubur. Program ini ditujukan untuk mengarahkan para siswa SMAIT Insan Mandiri Cibubur dalam memilih cita-cita mereka, dengan menghadirkan sejumlah narasumber sesuai dengan bidang atau profesi yang mereka minati. dr. Naenda, yang juga Direktur MER-C Training Center (MTC) dalam kesempatan itu menjelaskan materi terkait profesi tenaga kesehatan dan tenaga medis, peluang dan tantangan dalam profesi kedokteran dan kiat-kiat untuk bisa menjadi seorang dokter. Dalam kesempatan itu, dr. Reyfal juga menyampaikan pentingnya nilai jihad dalam setiap pekerjaan atau profesi yang nantinya dijalani oleh para siswa Insan Mandiri Cibubur. Ia mengungkap, hal ini yang ia tanamkan sejak kecil ketika memutuskan ingin menjadi dokter karena tergerak melihat penderitaan warga Palestina dan ingin membantu mereka. Hingga akhirnya cita-citanya terwujud dan bergabung bersama MER-C untuk menjalankan misi kemanusiaan ke Gaza, Palestina, pada bulan Maret lalu. Kepala Sekolah SMAIT Insan Mandiri Cibubur Manarul Ikhsan, S.s., M.Pd., Gr. menyampaikan terima kasih kepada Tim MER-C yang telah hadir dalam program “Design Cita-Cita” SMAIT Insan Mandiri Cibubur. “Berkaitan dengan kegiatan hari ini, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada MER-C dan Timnya yang telah memberikan kontribusinya di dalam pendidikan yang ada di sekolah kami,” ujarnya. “Alhamdulillah anak-anak tadi terlihat antusias, terutama di bidang kedokteran yang memang mereka cita-citakan. Semoga dari kegiatan ini anak-anak tahu dia akan kemana, yakin akan apa yang dicita-citakan dan juga mereka tahu nanti di masyarakat akan seperti apa,” tambahnya. “Mudah-mudahan Tim MER-C selalu maju, selalu sukses selalu lancar dalam segala aktifitasnya di mana pun berada,” kata Manarul.

MER-C Beri Pelatihan Penyusunan RHA untuk 35 UPTD Puskesmas Tangerang Selatan

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) atas undangan Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, memberikan pelatihan penyusunan Rapid Health Assessment (RHA) untuk 35 UPTD Puskesmas Tangerang Selatan, yang digelar selama dua hari pada 4-5 September 2024. Dr. Aghata Christie, Kepala Seksi Surveilans Imunisasi dan Penanggulangan Krisis Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan mengatakan, tujuan pelatihan ini adalah untuk membekali petugas assessment agar bisa melakukan kaji cepat dalam keadaan situasi darurat bencana pada saat nanti terjadi bencana di Tangerang Selatan. “Kami mempersiapkan di masa pra-krisis ini, supaya tim penanggulangan krisis puskesmas dapat melaksanakan RAH untuk respon cepat, tepat, juga untuk pengelolaan bencana yang efektif nantinya,” kata dr. Aghata. Ketua Emergency Medical Team (EMT) MER-C, dr. Arief Rachman, SpRad yang telah memiliki banyak pengalaman terjun di misi kebencanaan dan konflik baik di dalam mupun luar negeri, hadir mewakili MER-C untuk memberikan materi terkait penyusunan RHA ini. “Alhamdulillah dua hari ini kami diundang oleh Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan untuk berbagi pengalaman penyusunan Rapid Health Assessment dalam dunia kesehatan. Jadi dalam dua hari kegiatan ini, kami bersama teman-teman dari puskesmas di Kota Tangerang Selatan, belajar konsep bagaimana menyusun rencana kaji cepat kesehatan dalam krisis,” kata dr. Arief. “Dari Pusat Krisis Kesehatan Kementrian Kesehatan juga hadir, kami berdua saling isi, saling membagi tips and trick dalam penyusunan RHA tersebut. Semoga kolaborasi ini dapat berjalan baik dan memberikan awareness pentingnya RHA ini dalam penanggulangan bencana, karena harus dipahami RHA adalah kompas dalam penanggulangan bencana. Jika RAH-nya bisa disusun dengan baik maka arah penanggulangan bencananya akan terarah,” tambahnya. Mewakili Pusat Krisis Kemenkes RI, Johan Safari, SKM.,MPH, mengapresiasi pelatihan ini yang menurutnya sangat bermanfaat dalam upaya penanggulangan krisis kesehatan. “Ini merupakan kegiatan yang luar biasa karena memang pembekalan seperti ini dalam proses mitigasi merupakan salah satu upaya meningkatkan kompetensi dan kapasitas dalam jajaran tenaga kesehatan, terutama dalam hal ini adalah teman-teman di puskesmas Dinkes Kota Tangerang Selatan. Saya apresiasi, kegiatan ini merupakan salah satu upaya yang benar-benar bermanfaat dalam rangka upaya penanggulangan krisis kesehatan.            

Silahkan bertanya?