MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Tiba di Jalur Gaza, Relawan MER-C Langsung Bertugas di Sejumlah Rumah Sakit

Sebelas relawan MER-C yang telah berhasil memasuki Gaza sejak Senin (18/3/2024) lalu langsung ditempatkan dan bertugas di sejumlah rumah sakit untuk membantu warga Gaza. Salah satu relawan yang merupakan Dokter Spesialis Orthopedi, dr. Reza, SpOT mengatakan, Rabu (20/3/2024) pagi Tim sudah melakukan koordinasi terkait penempatan relawan bersama Emergency Medical Teams (EMT) Gaza dan Kementrian Kesehatan Palestina (MoH) di Gaza. Tim langsung disambut dr. Muhammad yang merupakan Koordinator Rumah Sakit Se-Gaza. Relawan medis MER-C langsung dibagi menjadi tiga tim yang disebar di tiga fasilitas Kesehatan di Gaza bagian Selatan yang masih beroperasional. Pembagian tim berdasarkan hasil kordinasi dengan Kementrian Kesehatan Palestina. Tim 1 terdiri dari Tim bedah ditempatkan di RS Abu Yousef Al Najjar di Rafah yang diperuntukkan melayani pasien-pasien bedah dan trauma. Kasus terbanyak adalah open fraktur yang terinfeksi dan luka bakar. Tim 2 terdiri dari bidan dan perawat ditempatkan di RS Bersalin Al-Helal Al-Emirati di Rafah yang memang didedikasikan untuk perawatan pasien-pasien melahirkan. Jumlah operasi Sectio Caesaria di RS ini mencapai 15 operasi perhari. Sementara jumlah persalinan yang ditangani di RS ini mencapai 7000 kasus perbulannya.Sedangkan Tim 3, merupakan Primary Care Team yang terdiri dari dokter umum dan perawat ditempatkan di Tall Al-Sultan Primary Health Clinic di Rafah yang cukup besar dengan fasilitas seperti X Ray dan laboratorium. Pasien yang dilayani dalam satu hari bisa mencapai 1500 orang. “Alhamdulillah ketiga tempat di atas cukup sesuai bagi Tim kita sebagai spesialis, dokter umum, dan bidan. Sesuai dalam artian pasiennya memang banyak, peralatan yang kita miliki memang dibutuhkan dan cukup membantu tim medis di sini yang telah lelah,” tutur Reza. “Jadi dengan mendapat tempat yang sesuai di daerah yang relatif aman, kami sudah sangat bersyukur,” tambahnya. Relawan MER-C itu juga mengatakan berdasarkan hasil penilaian Tim hari pertama, dengan jumlah dokter, nakes, obat obatan serta peralatan yang tidak cukup, pihak rumah sakit sangat berharap mereka dapat bantuan tim medis berikutnya.   Para relawan dokter dan nakes dari berbagai negara mulai masuk ke Gaza untuk membantu. EMT MER-C merupakan tim Indonesia pertama yang memberikan pertolongan medis sejak agresi 7 Oktober terjadi. Tim membantu melakukan operasi pasien trauma, layanan maternal dan layanan umum. Tim akan bekerja selama dua pekan hingga maksimal satu bulan.Pengiriman bantuan tim medis ini membutuhkan keberlanjutan program. Oleh karena itu, besar harapan Kementrian Kesehatan Gaza, Indonesia bisa mengirimkan bantuan tim medis secara berkelanjutan dengan kebutuhan dokter-doketer spesialis ortopedi traumatologi, obgyn, bedah saraf, bedah plastik, spesialis anestesi, spesialis anak, spesialis penyakit dalam dan dokter umum serta layanan bidan dan perawat. Apa saja yang kita punya amat sangat dibutuhkan oleh warga Palestina di Gaza saat ini. Bantuan medis dari Indonesia bagaikan oase persaudaraan Indonesia-Palestina.

MER-C Kirim Tim Relawan Bantu Korban Banjir Demak

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), hari Selasa (19/3) mengirimkan tim relawan dari Cabang Yogyakarta untuk membantu korban banjir di Demak, Jawa Tengah. Ketua MER-C Cabang Yogyakarta, dr. Rizki Rinaldi yang juga ikut turun ke lokasi bencana pada hari Kamis (21/3) mengatakan, saat ini tenaga kesehatan dari luar wilayah Demak sangat dibutuhkan, karena banyak tenaga kesehatan yang juga jadi korban banjir. “Rumah sakit juga kalau ada pasien baru harus dijemput agak jauh oleh tim rumah sakitnya biar bisa menerjang banjir. Beberapa kantor inti pemerintahan juga terendam, seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Palang Merah Indonesia (PMI), Masjid Demak, BKKBN, RSUD Sunan Kalijaga dan beberapa RS lainnya,” kata Rinaldi. Ia mengatakan, saat ini Tim Relawan MER-C yang dikirimkan sudah berada di Pusat Service Center (PSC) dan akan mendiskusikan penempatan relawan. Untuk kegiatan Tim, sementara mereka akan melakukan assessment lapangan. Rinaldi mengatakan banjir yang terjadi cukup tinggi dan sudah terjadi sejak bulan lalu sehingga warga sudah terpusat di lokasi pengungsian. Untuk itu, Tim fokus memberikan pelayanan di pengungsian dan tidak melakukan mobile clinic. “Kita sementara ditempatkan di pengungsian warga Demak di Kudus, karena saat ini di Kota Demaknya sendiri lumpuh jadi warga di beberapa kecamatan diungsikan di Kudus,” ujarnya. Berdasarkan laporan dari Tim yang turun di lapangan terkait situasi terkini di Demak dan perlunya tambahan relawan, MER-C akan kembali mengirimkan sejumlah relawan dari pusat. Dikutip dari Dinkominfo Demak, hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Jawa Tengah dan jebolnya enam tanggul mengakibatkan 89 desa di 11 kecamatan yang berada di Kabupaten Demak terendam banjir. Selain itu, pada Ahad 17 Maret 2024 tanggul Sungai Wulan yang berada diperbatasan Kabupaten Demak dan Kudus juga kembali jebol. Adapun Sebelas kecamatan yang terdampak meliputi Kecamatan Demak, Kecamatan Karangtengah, Kecamatan Sayung, Kecamatan Mranggen, dan Kecamatan Wonosalam. Kemudian, Kecamatan Karanganyar, Kecamatan Karangawen, Kecamatan Kebonagung, Kecamatan Guntur, Kecamatan Dempet, serta Kecamatan Gajah. Bedasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Demak, Senin (18/3/24), mencatat ketinggian banjir di 11 Kecamatan tersebut antara 30-80 cm. Sebanyak 93.149 jiwa terdampak dan 22.725 diantaranya mengungsi,Saat ini Pemkab Demak telah mendirikan lokasi pengungsian di 45 titik.  BPBD Kabupaten Demak hingga kini masih bersiaga dengan kondisi banjir tersebut mengingat hingga (19/03/24) Selasa banjir semakin meluas. Bantu kami menyediakan layanan kesehatan untuk penyintas banjir di Kab. Demak melalui donasi ke rekening: Bank Syariah Indonesia (BSI) 700 499 5818 atas nama MER-C DIJ. Informasi dan konfirmasi donasi ke 085150723118 a.n MER-C DIJ

Ketua Presidium MER-C: Pengriman Tim Medis ke Gaza Tanggung Jawab Besar untuk Bantu Saudara Kita

Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr. Sarbini Abdul Murad dalam konfereni pers yang digelar hari Selasa (19/3) mengatakan, pengiriman tim relawan medis ke Jalur Gaza merupakan tanggung jawab besar untuk membantu warga Gaza.Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr. Sarbini Abdul Murad dalam konfereni pers yang digelar hari Selasa (19/3) mengatakan, pengiriman tim relawan medis ke Jalur Gaza merupakan tanggung jawab besar untuk membantu warga Gaza. “Perjalanan panjang ini tidaklah melelahkan buat kami, karena ini merupakan tanggung jawab besar untuk membantu saudara kita yang ada di Gaza. Walaupun situasi dan kondisi hari ini di Indonesia begitu dinamis, tapi kami tidak akan pernah melupakan perjuangan dan penderitaan yang dialami oleh saudara kita yang ada di Gaza,” kata Sarbini di Kantor MER-C di Jakarta. Ia mengatakan, pengiriman 11 relawan MER-C yang saat ini sudah tiba di Gaza merupakan tujuan utama sejak awal terjadinya agresi, untuk membantu warga Gaza yang pada hari ini sangat membutuhkan tenaga medis.  Sarbini mengungkapkan, MER-C telah berupaya sekuat tenaga untuk bisa mengirimkan tim medis ke Gaza dengan bekerjasama ke semua pihak tapi sejak dulu belum ada kabar gembira, hingga akhirnya melalui kerja sama dengan WHO di bawah naungan Emergency Medical Tim (EMT), Tim Medis MER-C berhasil masuk ke Jalur Gaza pada hari Senin (18/3) pukul 17.15 waktu Gaza atau jam 22.15 waktu Indonesia. “Maka hari ini ada 11 orang relawan MER-C yang berada di Jalur Gaza terdiri dari dokter bedah orthopedi, dokter umum, perawat dengan berbagai keahlian, bidan dan lainya. Semua ada 11 orang ditambah dua relawan yang sudah ada di sana jadi total ada 13 relawan. Mereka akan bekerja di sana minimal selama dua minggu, maksimal satu bulan dan nanti akan ada estafet selanjutnya karena kami tidak mau ini berhenti selama ada relawan kita di sana,” tambahnya. Pada kesempatan ini, Sarbini mengajak semua elemen bidang Kesehatan baik yang berada di naungan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI) maupun di bawah lembaga rumah sakit atau pemerintah untuk bersama membangun koalisi besar mengirim tim medis ke Gaza secara berkelanjutan. “Ini pekerjaan besar, masalah besar, kasus besar, maka harus melibatkan segala elemen anak bangsa. Pada kesempatan ini kita mengajak kepada pemerintah untuk bisa terdepan, secara bersama kita membantu warga Gaza. Masalah Gaza adalah masalah dunia, masalah kita bersama yang tidak cukup hanya satu elemen membantu . Kita harus saling berkontribusi membangun kerja sama, sehingga satu bidang kesehatan bisa kita tangani bersama,” tuturnya.

Korban Banjir di Pesisir Selatan Masih Minim Bantuan dan Butuh Air Bersih

Korban banjir dan longsor di Pesisir Selatan Sumatera Barat membutuhkan bantuan air bersih pasca bencana yang melanda wilayah tersebut pada Kamis (7/3). Hal ini dikatakan Kepala Puskesmas IV Koto Mudik. Kec. Batang Kapas, Kab. Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Sukmatal Kadipopu Rita Saif, S.Kep.,Ns saat kegiatan mobile clinic bersama Tim MER-C di kecamatan Batang Kapas, salah satu wilayah terdampak bencana yang terisolir.   “Akses ke wilayah kerja kami, sempat terputus tidak bisa dilalui kendaraan dan tidak bisa ditempuh dengan jalan kaki selama dua hari. Alhamdulillah saat ini sudah bisa diakses kendaraan roda dua, kendaraan roda empat masih belum,” ujarnya. “Keadaan tempat kami sekarang ini, kami sangat membutuhkan air bersih karena semua sumber air bersih di sini sudah tidak bisa kami gunakan lagi. Untuk sementara masyarakat kami menggunakan MCK adalah air sungai padahal air sungai sangat tidak bagus untuk kesehatan. Sungai saat ini keadaan sungainya juga cukup parah dampak dari banjir,” lanjutnya. Ia juga mengkhawatirkan apabila masalah air bersih tidak segera ditangani maka bisa menyebabkan penyakit ISPA akan lebih meningkat lagi dan juga munculnya penyakit diare.  Selain itu, warga korban banjir juga mengeluhkan masih minimnya bantuan yang mereka peroleh seperti bahan makanan, air bersih dan pelayanan kesehatan.

Tim MER-C Mobile Clinic ke Wilayah Banjir di Pesisir Selatan yang Terisolir

 Tim MER-C Indonesia yang berasal dari Padang dan Medan yang turun ke lokasi bencana banjir dan longsor di Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat melakukan mobile clinic untuk bisa menjangkau wilayah terdampak bencana banjir dan tanah longsor yang terisolir, Selasa/12 Maret 2024. Mobile clinic dilakukan bekerjasama dengan Tim Kesehatan dari Puskesmas setempat.   “Selain membuka pelayanan pengobatan di Posko Induk di nagari Lubuk Nyiur, Tim MER-C juga melakukan mobile clinic di nagari Teratak Tempatih. Pasien yang ditangani tercatat sebanyak 108 orang, dengan kasus penyakit tertinggi yaitu gatal gatal dan nyeri otot serta 2 perawatan luka,” Wirsal, salah satu perawat anggota Tim MER-C melaporkan. Ia memaparkan bahwa banjir yang melanda Kab. Pesisir Selatan terjadi di beberapa titik. Korban terbanyak berada di Kec. Bayang, Kec. Terusan dan Kec. Sutera. Berdasarkan informasi yang didapat dari BPBD Pesisir Selatan, jumlah korban jiwa akibat bencana ini berkisar 23 orang yang sudah teridentifikasi, 1 orang masih diidentifikasi, dan 5 orang lainnya masih dalam proses pencarian. Sementara total pasien korban bencana yang telah ditangani oleh Tim MER-C sejak Senin/11 Maret 2024 mencapai sekitar 345 orang. Hasil pantauan Tim MER-C di lapangan, masih banyak reruntuhan reruntuhan rumah warga yang belum ditangani dan infrastruktur yang terputus akibat longsoran juga masih belum ditangani. Rabu/13 Maret 2024, Tim MER-C masih terus melanjutkan kegiatan mobile clinic yang akan menelusuri desa yang terisolir, yaitu nagari Langgai kec. Sutera. Akses ke nagari atau desa ini masih sulit karena sempat terputus akibat longsoran. Listrik juga maish padam dan jaringan internet tidak ada.  

Relawan MER-C Jalani Ramadhan di Tengah Agresi Israel

Seperti halnya sebagian umat muslim di dunia, umat muslim di Jalur Gaza sudah memulai puasa Ramadhan pertamanya pada hari Senin/11 Maret 2024. Demikian pula dengan dua relawan MER-C yang masih bertahan di Jalur Gaza, Fikri Rofiul Haq dan Reza Aldilla Kurniawan.  Di tengah agresi yang masih terus dilancarkan Israel, relawan MER-C bersama warga Gaza lainnya tetap menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan tahun ini, meski dengan segala keterbatasan.“Tadi subuh kita sahur seadanya. Saya sendiri sahur dengan mie” tutur Fikri.  Namun ia merasa bersyukur masih ada makanan untuk sahur karena banyak warga Gaza yang beribadah puasa namun tidak bisa sahur karena tidak adanya makanan. “Banyak warga Gaza, hari ini mereka puasa tapi tidak sahur karena keterbatasan stok bahan pangan yang mereka miliki,” ujarnya. Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa data dari Kemenkes Palestina mengatakan terdapat 2.000 tim medis yang hari ini ikut berpuasa tapi tidak ikut sahur karena selama 24 jam mereka harus merawat korban dan pasien-pasien. Mayoritas tim medis ini menurutnya ada di Gaza Utara. Kondisi ini disebabkan bantuan-bantuan yang masuk ke Gaza memang masih sulit, terutama untuk mencapai ke Jalur Gaza bagian utara. Ketika tiba adzan maghrib, Fikri bersama Reza ditemani satu relawan lokal berbuka puasa di ruangan tempat mereka mengungsi, di salah satu kamp pengungsian berupa bangunan sekolah bersama ribuan warga Gaza lainnya. Walaupun berbuka hanya dengan menu seadanya, namun mereka sangat bersyukur. “Alhamdulillah beginilah buka puasa di Jalur Gaza, seadanya dan bahkan banyak saudara-saudara kita yang lebih menderita lagi. Semoga kita terus istiqomah dan bisa menyalurkan bantuan,” ujarnya. “Kita berbuka puasa dengan roti, dicolek dengan daging kornet dan campuran lainnya yang dimasak seadanya. Setelah itu, dengan buah Zaytun atau bisa dengan cabai atau daun bawang dan bombay sebagai lalapan,” jelas Fikri sambil menikmati makanan berbuka. Relawan yang telah berada di Gaza sejak awal 2019 ini mengingatkan agar rakyat Indonesia terus mendoakan rakyat Gaza, khususnya mendokan agar gencatan senjata di Jalur Gaza bisa terlaksana.

Truk Bantuan Obat-obatan MER-C Bergerak Menuju Rafah

Setelah truk-truk bantuan makanan dan tepung yang telah berhasil masuk ke Jalur Gaza dan telah didistribusikan ke kamp-kamp pengungsian di Gaza Tengan dan Selatan, truk-truk yang berisi bantuan obat-obatan dan bahan medis MER-C juga dikabarkan telah bergerak menuju perbatasan Rafah.   Hal ini dilaporkan oleh Tim MER-C yang saat ini masih berada di Kairo untuk melakukan pemantauan langsung pembelian, pengemasan dan pengiriman bantuan-bantuan dari rakyat Indonesia melalui MER-C. “Saat ini sudah pukul 08.00 malam waktu Kairo dan kami berada di gudang dimana bantuan dari Bapak Ibu sebanyak kurang lebih ada 18 palet yang berisi obat-obatan sudah siap untuk dilakukan proses pengiriman,” ujar dr. Arief Rachman, SpRad, Ketua Tim MER-C.  “Di luar sudah menunggu truk yang akan mengangkat bantuan-bantuan ini berangkat dari pergudangan di Kairo menuju ke perbatasan Rafah dan berharap akan masuk ke Jalur Gaza,” lanjutnya. Mewakili MER-C, Dr. Arief memohon doa kepada rakyat Indonesia agar perjalanan truk-truk bantuan berjalan dengan lancar dan tidak mendapat hambatan. Ia berharap bantuan bisa segera diterima dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memenuhi kebutuhan obat-obatan yang semakin sulit di Jalur Gaza. Hal ini disebabkan blockade dan agresi yang masih terus dilancarkan Israel ke Jalur Gaza. Ia juga mengucapkan terima kasih atas semua partisipasi dan dukungan dari Masyarakat Indonesia sehingga berbagai bantuan dapat terus disalurkan oleh Tim MER-C baik bantuan yang berasal dari Kairo Mesir maupun bantuan-bantuan di dalam Gaza yang dilakukan oleh Tim MER-C baik di Gaza bagian Selatan maupun Gaza bagian Utara. “Kita berharap usaha kecil ini bisa membantu saudara-saudara kita di Gaza,” tuturnya.  Lebih lanjut ia mengatakan bahwa di samping bantuan kemanusiaan, MER-C masih terus berkomitmen untuk membangun kembali Rumah Sakit Indonesia yang berada di Bait Lahiya, Jalur Gaza Utara. RS Indonesia mengalami kerusakan berat dan sampai saat ini masih berhenti beroperasional pasca penyerangan dan pengepungan yang dilakukan Israel pada November 2023 lalu.

Penyaluran Bantuan ke Gaza Terus Berlanjut, MER-C Bagikan Susu di Pengungsian

Relawan MER-C di Jalur Gaza terus menyalurkan bantuan yang diberikan masyarakat Indonesia untuk warga Gaza, di tengah gempuran Israel yang masih berlangsung. Pada Senin (4/3/2024), MER-C membagikan susu untuk bayi yang berada di pengungsian.   “Selain susu, MER-C juga membagikan botol susu. Ini merupakan pertama kalinya kita membagikan susu karena memang harganya saat ini cukup tinggi dan kelangkaan barang tersebut yang sulit didapatkan. Jadi kita membagikan susu formula dan botol susunya kepada pengungsi yang ada di dua sekolah di sekitar Rumah Sakit Eropa” kata Relawan MER-C Fikri Rofiul Haq. “Data yang kita catat anak kecil di bawah satu tahun yang ada di pengungsian ini ada sekitar 65,” ujarnya.Ia mengatakan, MER-C hanya bisa membagikan susu untuk anak kecil di bawah satu tahun karena kondsi yang sangat sulit. Bahkan mereka membutuhkan waktu berhari-hari untuk bisa mengumpulkan 65 kaleng susu.  “Perlu diketahui ada 15 anak yang meninggal karena malnutrisi atau dehidrasi yang di rawat di Rumah Sakit Kamal Udwan di Gaza Utara. Untuk itu dibutuhkan lebih banyak lagi bantuan yang masuk ke Jalur Gaza,” tuturnya.Menurutnya, gencatan senjata segera sangat dibutuhkan agar bantuan bisa lebih banyak masuk. Karena saat gencatan senjata sebelumnya,  ada 200-an truk bantuan yang bisa masuk ke Jalur Gaza. Lebih lanjut Fikri mengatakan, saat ini mereka baru bisa intens menyalurkan bantuan di dua sekolahan tempat mereka mengungsi karena situasi yang memang belum memungkinkan untuk bergerak bebas dan lebih jauh.  “Kenapa kami hanya membuat program di dua sekolahan, perlu diingat sampai hari ini pihak Zionis Israel terus melakukan serangan-seranganya terhadap masyarakat sipil terutama yang baru hangat dibicarakan insiden sebuah truk bantuan yang masuk ke Gaza Utara dan warga berkumpul untuk menerima bantuan, namun Israel menembaki truk bantuan dan masyarakat sipil yang mengambil bantuan tersebut, sehingga dilaporkan 112 warga meninggal dan 760 lainnya mengalami luka-luka dalam beberapa menit saja,” katanya. Meski ada kesempatan menyalurkan bantuan di tenda-tenda ataupun di tempat lainnya, Fikri mengungkap Relawan MER-C harus melewati proses yang cukup sulit. Selain itu, mereka juga mengalami kesulitan dana yang menipis,  di mana bank juga menjadi target sasaran Israel. Mesin ATM juga banyak yang tutup atau antriannya sangat panjang. Jika antre pagi kemungkinan dapat menarik uang di malam hari. Hingga hari ini, bantuan air bersih dan air minum MER-C juga masih terus berjalan, dengan total 10.000 liter air per hari. Ada empat drum penampung air minum dan air bersih untuk dua sekolahan lokasi pengungsian. Saat ini tidak semua masyarakat bisa mecari air minum atau air bersih karena cukup langka.

Tim MER-C Yogyakarta Gerak Cepat Bantu Korban Longsor di Brebes

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) cabang Yogyakarta bergerak cepat mengirimkan tim relawan ke lokasi bencana tanah longsor di Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Tim berjumlah empat orang yang terdiri dari satu dokter, satu paramedis dan dua logistik yaitu; dr. Galuh Shafira Safitri, Lucia Maya Dian Pramesti, Ade Mahendra dan Eti Suci Ningrum. Tim bertugas dari hari Kamis 29 Februari – Senin 4 Maret 2024. dr. Galuh mengatakan, misi Tim MER-C kali ini adalah recovery pasca banjir dan longsor. Menjangkau daerah-daerah yang masih terisolir dan belum mendapatkan layanan kesehatan. “Pada hari Kamis 29 Februari 2024, kami telah berkoordinasi dengan BPBD kabupaten Brebes dan Puskesmas Bentar dalam rangka penempatan petugas kesehatan untuk daerah atau desa yang terisolir dan belum mendapatkan akses pelayanan kesehatan,” katanya. Tim MER-C melakukan pelayanan kesehatan di tiga desa yang terisolir yaitu Desa Gandoang, Tanggenan dan juga Pabuaran. “Kami memilih tiga lokasi ini karena memang sejak empat hari terakhir tiga desa tersebut belum mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat,” kata dr. Galuh. Ia mengungkap, beberapa kendala yang dihadapi dalam penerjunan misi kali ini  adalah masyarakat masih tersebar di beberapa lokasi sehingga menyulitkan untuk pelayanan yang terkoordinir di satu titik. Namun saat ini BPBD sudah menetapkan dua posko utama untuk pelayanan kesehatan. Kendala lainnya yaitu curah hujan yang masih tinggi di daerah Brebes sehingga pada beberapa kondisi menyulitkan untuk mengakses lokasi yang masih terisolir tersebut. Curah hujan yang tinggi juga bisa berisiko tinggi terjadi longsor susulan. “Untuk penyakit yang banyak dialami masyarakat yaitu seperti batuk, pilek, kemudian nyeri kepala, demam dan juga banyak pasien atau masyarakat yang mengalami trauma sehingga mengakibatkan kondisi tertentu seperti gula darah sangat tinggi atau tensi yang naik,” tuturnya. “Kemudian untuk beberapa kondisi seperti pasien yang seharusnya mendapatkan perawatan kesehatan atau rawat luka setiap hari, ini juga mengalami kendala sehingga kami sempat menjumpai beberapa pasien ada yang sudah muncul luka bernanah di bagian kakinya, sehingga sempat kami juga melakukan perawatan luka agar kondisi pasien bisa membaik. Tim juga melakukan pemberian obat-obatan yang dibutuhkan oleh pasien,” tambahnya. dr. Galuh lebih lanjut mengatakan, untuk tindak lanjut secepatnya dari Tim yaitu melakukan follow up kemudian melakukan pemeriksaan atau pelayanan kesehatan kembali di desa-desa yang masih terisolir serta melakukan evaluasi setiap harinya. Curah hujan yang tinggi di berbagai daerah mengakibatkan bencana alam seperti tanah longsor dan banjir. Salah satunya terjadi di Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, pada Ahad hingga Senin (25-26/2/2024). Ribuan warga terisolasi dan sedikitnya ada 210 rumah di Brebes, Jawa Tengah terisolir. Bencana tanah longsor juga memutus satu-satunya akses jalan.

Warga Palestina Desak Pembukaan kembali Layanan Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara

Warga Palestina di Gaza Utara hari Sabtu (24/2) melakukan protes untuk mendesak dibukanya kembali layanan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza yang terpaksa ditutup sejak akhir November karena kerusakan parah setelah serangan Israel.Warga Palestina di Gaza Utara hari Sabtu (24/2) melakukan protes untuk mendesak dibukanya kembali layanan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza yang terpaksa ditutup sejak akhir November karena kerusakan parah setelah serangan Israel.   Puluhan pengunjuk rasa memasang poster di depan Rumah Sakit Indonesia di Beit Lahiya, Gaza Utara, meminta dibukanya kembali layanan rumah sakit atau disediakannya rumah sakit lapangan. Anak-anak yang ikut dalam protes tersebut memukul alat-alat makan untuk menunjukkan bahwa mereka kekurangan makanan. “Kami ingin menunjukkan kepada dunia kerusakan Rumah Sakit Indonesia yang dilakukan oleh Tentara Pendudukan Israel lebih dari tiga bulan lalu. Mereka menghancurkan rumah sakit saat setengah juta orang dirawat di dalamnya,” kata Jamil Ashour, salah satu Warga Gaza yang ikut melakukan protes. Menanggapi hal tersebut, Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr. Sarbini Abdul Murad mengatakan, Warga Palestina di Gaza Utara sedang menyampaikan aspirasi mereka, keinginan yang sangat dalam agar Rumah Sakit Indonesia dapat difungsikan kembali.  “Mereka tidak tahu mau minta ke siapa agar rumah sakit ini bisa difungsikan. Mau minta sama pemerintah di sana pemerintahnya sudah tidak berfungsi, kemudian kepada WHO mereka tidak bisa berbuat banyak. Menurut saya tuntutan mereka ini adalah sebuah aspirasi keinginan yang sangat dalam dari mereka agar Rumah Sakit kebanggaan bersama ini bisa difungsikan kembali,” ujarnya.  Sarbini mengatakan, aksi protes ini juga merupakan isyarat rasa frustasi Warga Gaza Utara atas peristiwa yang terjadi kepada mereka sampai dengan hari ini. Warga Gaza Utara telah terisolir dari dunia selama kurang lebih empat bulan. Meski bantuan masuk ke Jalur Gaza, tapi tidak sampai ke wilayah mereka.  “Demonstrasi kemarin merupakan puncak frustasi mereka untuk menyuarakan  penderitaan mereka yang menurut saya hari ini dunia melupakannya. Mereka berinisiatif melakukan demonstrasi di depan Rumah Sakit Indonesia, karena merupakan simbol bantuan masyarakat internasional khususnya Indonesia, agar suara mereka benar-benar di dengar dan dunia dapat mengambil langkah-langkah tegas untuk menyelesaikan penderitaan panjang yang begitu menyedihkan,” kata Sarbini.  “Saat ini Rumah Sakit Indonesia sudah lumpuh total, saya begitu terharu dan sedih melihat Rumah Sakit Indonesia tidak bisa berfungsi, kita tidak bisa memberikan apa-apa kepada penderitaan Gaza hari ini,” ucapnya.  Terkait pembukaan kembali Rumah Sakit Indonesia, Sarbini mengungkapkan MER-C  sudah membuka donasi dan berkomitmen untuk membangun kembali Rumah Sakit tersebut. Ia mengatakan, pembangunan kembali Rumah Sakit akan membutuhkan dana yang cukup besar, karena tidak hanya bangunannya yang mengalami kerusakan parah, alat-alat kesehatan yang ada juga telah dihancurkan oleh tentara israel

Silahkan bertanya?