MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Pembangunan Tahap 2 RS Indonesia di Gaza, Kala Corona dan Bulan Suci Ramadhan

Ditengah merebaknya wabah Corona yang sudah memasuki Jalur Gaza, aktifitas pembangunan tahap dua RS Indonesia di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina terus berjalan. Datangnya bulan suci Ramadhan juga tidak menyurutkan semangat relawan dalam menunaikan amanah pembangunan rumah sakit sebagai bukti cinta mendalam rakyat Indonesia untuk Palestina. Hal ini disampaikan Ir. Edy Wahyudi, Site Manager RS Indonesia di Gaza. “Progress pembangunan RS Indonesia tidak terganggu dan terus bergerak meskipun adanya blokade Israel terhadap sejumlah material sejak beberapa bulan terakhir, ditambah merebaknya wabah virus corona yang sudah mulai masuk ke Jalur Gaza,” ujar Edy. “Alhamdulillah aktifitas pembangunan RS Indonesia amanah dari rakyat Indonesia terus berjalan. Namun dengan adanya wabah Corona, kami langsung melakukan sejumlah penyesuaian dan antisipasi di lapangan,” tambah insinyur yang sudah berpengalaman memimpin pembangunan tahap 1 RS Indonesia. “Kegiatan antisipasi yang dilakukan diantaranya adalah penyemprotan disinfektan di area Wisma Indonesia tempat tinggal relawan pada pagi dan sore hari, membatasi aktifitas relawan di/ke luar dari area RS Indonesia kecuali untuk hal-hal yang sangat darurat dan relawan fokus pada penyelesaian pekerjaan di bagian dalam bangunan RS Indonesia khususnya area lantai 3 dan 4,” terang Edy. Bulan Suci Ramadhan Tidak Menyurutkan Semangat Relawan Bulan suci Ramadhan juga tidak menyurutkan semangat relawan dalam menuntaskan pembangunan tahap dua RS Indonesia yang sudah dimulai sejak Februari tahun 2019 lalu. Edy menyampaikan bahwa kegiatan pembangunan RS Indonesia tetap dilakukan selama bulan Ramadhan dengan penyesuaian waktu aktifitas relawan. “Pada bulan suci Ramadhan, aktifitas pembangunan tetap kami lakukan selama enam hari dalam satu minggu sama seperti di luar bulan Ramadhan, yaitu dari hari Sabtu sampai dengan hari Kamis,” ujar Edy. “Hanya saja jumlah jam aktifitas pada bulan Ramadhan adalah selama 6 jam kerja, yaitu dimulai pada pukul 6 pagi hingga pukul 12 siang waktu Gaza. Sementara di luar bulan Ramadhan, aktifitas pembangunan biasanya dilakukan selama 7 jam kerja, yaitu dimulai pukul 7 pagi sampai pukul 11 siang, kemudian istirahat, lalu relawan akan melanjutkan lagi aktifitas pembangunan pada pukul 2 siang hingga jam 5 sore waktu Gaza,” tambahnya. Penyesuaian waktu ini menurutnya dilakukan agar pembangunan tahap dua RS Indonesia tetap dapat berjalan sesuai jadwal, namun para relawan juga tetap punya waktu untuk memperbanyak kegiatan ibadah di bulan suci ini. Namun suasana Ramadhan tahun ini juga dirasakan berbeda oleh relawan. Bila sebelumnya para relawan RS Indonesia selalu ikut meramaikan masjid-masjid di Gaza dan berbaur dengan masyarakat setempat pada waktu-waktu shalat, kini ditengah wabah corona semua kegiatan ibadah  dilakukan oleh relawan di dalam area Wisma Indonesia. Hal ini dalam rangka mengikuti anjuran dari Pemerintah setempat. “Kegiatan Ramadhan relawan RS Indonesia di saat wabah corona mengikuti anjuran Pemerintah setempat,” ujar Edy. “Alhamdulillah kegiatan yang sudah berjalan selama beberapa hari di awal Ramadhan tahun ini diantaranya tadarus Al Quran satu hari 3 juz menjelang berbuka puasa dan shalat maghrib, shalat 5 waktu berjamaah, sholat tarawih berjamaah, shalat tahajjud berjamaah yang semuanya kami lakukan di dalam area Wisma Indonesia,” papar Edy. Info :www.mer-c.orgCall Center : 0811990176 #MERCIndonesia#rsindonesiatahap2#Gaza#Palestina#beapartofhistory#LawanCorona

Supervisi Pembangunan RSI, MER-C Kembali Kirim Tim ke Jalur Gaza

Meskipun kondisi Jalur Gaza sempat memanas, MER-C Indonesia kembali mengirimkan Tim Relawannya ke wilayah okupasi Israel ini. Tim yang terdiri dari 11 orang relawan dengan berbagai keahlian, yaitu dokter, insinyur, ahli mekanikal elektrikal, ahli instrumentasi medis dan lainnya bertolak ke Kairo Mesir, negara yang berbatasan langsung dengan Jalur Gaza, pada hari ini Minggu pagi/16 Februari 2020. Tim dijadwalkan tiba di Kairo Mesir pada Minggu malam, dan berencana untuk melanjutkan perjalanan darat esok paginya menuju Perbatasan Rafah untuk mencoba menembus Jalur Gaza Palestina. Salah satu Presidium MER-C yang juga Ketua Tim Pembangunan RS Indonesia, Ir. Faried Thalib mengatakan tujuan keberangkatan Tim adalah untuk melakukan supervisi pembangunan tahap 2 RS Indonesia di Gaza yang sudah berlangsung selama satu tahun. “Bulan ini satu tahun lalu, kami memberangkatan 32 relawan ke Jalur Gaza untuk memulai pembangunan tahap 2, yaitu membangun dua lantai tambahan untuk menambah kapasitas tempat tidur sebanyak 100 buah lagi dan melengkapi alat kesehatan tambahan karena bangunan dan 100 lebih tempat tidur lebih yang ada saat ini sudah tidak dapat menampung pasien yang datang berobat,” kata Faried. “Bulan ini tepat satu tahun proses pembangunan tahap dua telah berlangsung, untuk itu kita perlu segera melakukan supervisi,” tegasnya. Keberangkatan Tim diputuskan setelah adanya izin masuk Gaza dan izin masuk Mesir yang telah didapat oleh Tim dari otoritas setempat. “Setelah menunggu sekitar 3,5 bulan akhirnya kedua izin kami dapatkan dan kami segera memutuskan untuk berangkat ke Gaza,” kata Faried. Tim supervisi berencana bertugas di Jalur Gaza selama dua pekan. Saat ini sebanyak 29 relawan tengah bertugas di Jalur Gaza untuk menunaikan pembangunan tahap dua RS Indonesia. Waktu pembangunan diperkirakan selama 1,5 – 2 tahun, namun semuanya tergantung situasi di lapangan. “Kami memohon doa dari seluruh rakyat Indonesia agar perjalanan yang kami sadari tidak mudah dan penuh resiko ini, agar senantiasa diberi perlindungan, kemudahan dan kelancaran. Kami juga mohon doa bagi para relawan yang sedang bertugas di Jalur Gaza juga agar senantiasa diberi kekuatan untuk menunaikan amanah ini ditengah berbagai krisis yang tengah melanda Jalur Gaza, juga menguatkan para keluarga relawan yang berada di tanah air. Doakan kami, doakan rakyat Palestina,” ungkapnya. Ditanya mengenai biaya yang dibutuhkan untuk merampungkan pembangunan tahap ini, Faried mengungkapkan biaya untuk bangunan dan alat kesehatan diperkirakan mencapai Rp 70 hingga 75 Milyar. Untuk itu, Faried berharap terus dukungan dari rakyat Indonesia untuk pembangunan tahap dua RS Indonesia. “Bismillah, semoga kita bisa mewujudkan pengembangan RS Indonesia sebagai bukti cinta dan dukungan dari rakyat Indonesia untuk perjuangan rakyat Palestina,” harapnya. Dukungan dan donasi untuk Pembangunan Tahap 2 RS Indonesia dapat disalurkan melalui: BSM, 700.1352.061BCA, 686.0153678Bank Mandiri, 124.000.8111925BNI Syariah, 081.119.2973BRI, 033.501.0007.60308Bank Muamalat, 358.000.1720 Semua rekening atas nama :Medical Emergency Rescue Committee Info :Website : www.mer-c.orgCall center : 0811990176FB : MER-C IndonesiaIG : @mercindonesia, @rsindonesia

Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Diserah Terimakan

Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar diserahterimakan kepada pemerintah Myanmar melalui Kemenetrian Kesehatan dan Olahraga Myanmar di Ibukota Myanmar, Nay Pyi taw, Selasa 10/12. Hadir dalam acara serah terima tersebut, Menteri Kesehatan dan Olahraga Myanmar, Dr. Myint Htwe, Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Prof. Dr. Iza Fadri, Koordinator Relawan MER-C, Dr. Tonggo Meaty Fransisca, dan Kepala Kantor PMI, Sunarbowo Sandi Hardjosudiro. Dalam sambutannya, Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, menyatakan ucapan terima kasih dan  apresiasi atas kerja PMI dan MER-C sebagai inisiator dan eksekutor pembangunan Rumah Sakit ini. “Selama pelaksanaan pekerjaan konstruksi, tim MER-C yang berada di lapangan telah menghadapi banyak tantangan seperti, kendala keamanan, hujan yang terus menerus sehingga menyebabkan banjir, dan kesulitan dalam mencari pekerja dan material serta performance kontraktornya” kata Iza di Meeting Hall Kementrian Kesehatan dan Olahraga  di Nay Pyi Taw. Profesor dalam bidang hukum itu juga menyampaikan penghargaan khusus kepada 4 orang tim MER-C yang telah berada di lokasi selama proses pengerjaan pembangunan hingga selesai. “Saya ingin menyampaikan penghargaan khusus kepada empat orang pengawas dari MER-C Indonesia, Saudara Nur Ikhwan Abadi, Ahmad Fauzi, Karidi dan Wanto yang telah berada di lokasi sejak awal pekerjaan konstruksi pada 2017 dan membuat upaya keras untuk menyelesaikan project ini” kata Iza. Iza juga menekankan bahwa pembangunan rumah sakit ini akan membawa pesan perdamaian antar dua komunitas baik Islam maupun Budha. “Saya sangat yakin bahwa Rumah Sakit ini akan membawa pesan yang sangat penting bagi kedua agama, Islam dan Budha bisa bekerja secara bersama – sama” katanya. Sementara itu Menteri Kesehatan dan Olaharaga Myanmar, Dr. Myint Htwe, menyampaikan apresiasinya kepada rakyat Indonesia. Pada kesempatan tersebut, MER-C juga diminta untuk memaparkan proses pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine, yang diwakili oleh Nur Ikhwan Abadi, selaku Site Manager pembangunan Rumah Sakit ini. “Pada hari yang sangat berharga bagi kedua negara ini, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada Indonesia atas Rumah Sakit ini, dan saya meyakini bahwa Rumah Sakit ini akan terus diingat dan oleh warga di Myaung Bwe Rakhine State dan akan makin mempererat hubungan Indonesia dan Myanmar” kata Myint Htwe. Ia juga menegaskan bahwa Islam dan Budha bisa bekerja secara bersama-sama dan mengharapkan bahwa Rumah Sakit ini akan menjadi symbol perdamaian bukan hanya bagi warga Rakhine namun juga seluruh Myanmar. “Rumah Sakit ini sangat penting bagi kami, bukan hanya bagi warga Rakhine State, namun juga bagi seluruh negara ini” lanjutnya. Myint Htwe juga menyatakan kegembiraanya terhadap fasilitas bangunan yang dimiliki oleh Rumah Sakit tersebut. “Saya juga sangat mengapresiasi apa yang telah disampaikan oleh insinyur tadi, bahwa rumah sakit ini juga telah dilengkapi dengan generator yang cukup besar dari 125 KVa yang dibutuhkan, namun disediakan 220 KVA, dan juga Kamar Jenazah, Landscaping, Groundtank yang cukup besar yang artinya Indonesia memiliki visi jangka panjang bagi rumah sakit ini, karena mungkin saja ke depan Rumah Sakit ini akan dibesarkan menjadi 30 atau 50 beds” ujar menteri yang mengaku sudah puluhan kali datang ke Indonesia ini. Dia juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia dan semua tim yang terlibat dalam pembangunan Rumah Sakit. “Saya juga ingin menyampaikan salam hangat dan terima kasih saya kepada rakyat Indonesia atas bangunan Rumah Sakit yang cukup baik ini, dan mewakili masyarakat Myaung Bway Rakhine State, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih saya kepada masyarakat Indonesia, MER-C Indonesia dan semua insinyur yang telah berada hampir dua tahun di sana. Disini kita bisa membuktikan kepada dunia bahwa Muslim dan Budha bisa bekerjasama, dan pesan ini harus disebarluaskan secara luas ke seluruh dunia”.Htwe juga berharap ke depan Rumah Sakit ini akan menjadi Rumah Sakit yang modern dan semua data pasien bisa tercatat dengan baik dalam sistem komputerisasi. “Rumah sakit ini juga bukan hanya akan melayani kesehatan masyarakat, namun juga akan melayani segala aktivitas yang berkaitan dengan kesehatan dan akan dirawat dengan baik dan diharapkan nantinya akan disediakan juga sistem informasi yang baik, registrasi yang sudah terkomputerisasi dan lain sebagainya, dan Kementerian Kesehatan akan menjaga dan bertanggungjawab secara penuh menjaga rumah sakit ini,” pungkasnya. Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar merupakan inisiasi dari MER-C sejak tahun 2012 lalu. Saat inisiasi ini digulirkan banyak sekali tantangan yang dihadapi oleh MER-C mengingat sangat sulitnya perizinan yang diberikan oleh pemerintah Myanmar. Perizinan dikeluarkan oleh pemerintah Myanmar tiga tahun kemudian atau pada 2015 setelah melihat netralitas MER-C dilapangan. Pemerintah Myanmar bahkan memberikan lahan kepada MER-C seluas 4.000 meter persegi guna dibangun satu rumah sakit untuk dua komunitas, yaitu Budha dan Muslim. Keluarnya perizinan tersebut mendapat sambutan yang sangat positif dari pemerintah Indonesia, Wakil Presiden RI saat itu, Jusuf Kalla yang juga Ketua Umum PMI, menyatakan kegembiraanya dan kemudian mengajak PMI dan Walubi untuk bergabung dengan MER-C mensukseskan pembanguan RS ini. Pesan perdamaian kepada rumah sakit ini akan terus disebarluaskan, semoga RS Indonesia di Myaung Bway Village, Mrauk U Township, Rakhine State menjadi simbol perdamaian bagi warga di Rakhine, Myanmar dan juga Dunia. Info:Website : www.mer-c.orgCall center : 0811990176

MER-C Laksanakan Pembangunan Tahap 2 Rumah Sakit Indonesia di Palestina

Ceknricek.com — Organisasi sosial kemanusiaan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) tengah melaksanakan pembangunan tahap 2 Rumah Sakit Indonesia yang berlokasi di Bayt Lahiya, Gaza, Palestina. Upaya tersebut ditempuh untuk menambah daya tampung pasien di rumah sakit terbesar kedua di Jalur Gaza itu. “RS Indonesia saat ini sudah difungsikan sebagai rumah sakit umum. Jumlah pasiennya terus bertambah dan kondisi sekarang sudah kewalahan menampung pasien yang datang berobat,” kata Luly Larissa, Head of Fundraising Division MER-C saat berkunjung ke Redaksi ceknricek.com, di kawasan Meruya Selatan, Jakarta Barat, Senin (25/11). Perlu diketahui, saat ini RS yang terletak 2,5 kilometer dari perbatasan Israel itu menjadi pusat rujukan utama bagi masyarakat di wilayah Jalur Gaza Bagian Utara. Berdiri di atas tanah wakaf seluas 1,6 hektar, bangunan RS Indonesia terdiri dari 2 lantai dan 1 lantai basement dengan kapasitas 100 tempat tidur, 4 kamar operasi, 10 bed ICU, Ruang Radiologi, Laboratorium, Bank Darah, IGD dengan dilengkapi peralatan medis terbaik saat ini. RS Indonesia telah beroperasi sejak Desember 2015, dan secara simbolis diserahterimakan dari rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina, pada 9 Januari 2016. RS Indonesia diharapkan bisa menjadi bukti silaturahmi dan dukungan jangka panjang rakyat Indonesia bagi perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina. “Saat ini masih dibutuhkan departemen dan layanan medis baru untuk melengkapi pelayanan di RS Indonesia seperti bedah vaskuler, unit jantung, bedah syaraf, cuci ginjal, dan sebagainya. Untuk itu kami membangun dua lantai tambahan, menambah kapasitas ruang perawatan menjadi 200 tempat tidur, serta menambah peralatan medis yang dibutuhkan,” ujar Luly menjelaskan. Luly mengakui, aktivitas pembangunan saat ini masih terus berjalan, meski sempat terjadi serangan-serangan di sekitar Jalur Gaza. Rencananya, proses pembangunan tahap 2 yang memiliki anggaran Rp75 miliar itu akan selesai dalam 1,5-2 tahun mendatang. “Mohon doanya untuk 29 relawan Indonesia di Jalur Gaza dan kelancaran pembangunan tahap 2 RS Indonesia. Rumah Sakit ini merupakan karya anak bangsa yang sepenuhnya dibangun dari donasi rakyat Indonesia,” tutup Luly. Bagi para masyarakat Indonesia yang ingin terlibat langsung dalam pembangunan tahap 2 RS Indonesia di Palestina ini, dapat memberikan donasi melalui rekening Bank Syariah Mandiri (BSM) Acc. No. 700.1352.061. Donasi juga bisa disalurkan melalui rekening BNI Syariah Acc. No. 081.119.2973, serta melalui Bank Central Asia (BCA) Acc. No. 686.0153678.Selain itu, donasi juga bisa disalurkan melalui rekening Bank Rakyat Indonesia (BRI) Acc. No. 033.501.0007.60308, atau rekening Bank Mandiri Acc. No. 124.000.8111925, atau rekening Bank Muamalat Indonesia (BMI) Acc. No. 301.00521.15. Semua rekening terdaftar atas nama Medical Emergency Rescue Committee. Sumber : https://ceknricek.com/a/mer-c-laksanakan-pembangunan-tahap-2-rumah-sakit-indonesia-di-palestina/12631

Gaza Diserang, Suara Ledakan Terdengar Jelas dari Lokasi RS Indonesia

“Ledakan demi ledakan terdengar dahsyat #Gaza_Under_Attack” demikian kabar singkat yang kami terima siang ini (12/11) dari salah seorang relawan Indonesia yang tengah menunaikan amanah tugas pembangunan tahap 2 di Jalur Gaza, Palestina, Ir. Edy Wahyudi. Rangkaian serangan terdengar sejak sebelum subuh waktu setempat. Serangan yang dilancarkan tentara zionis Israel bahkan telah menyebabkan syahidnya seorang petinggi Jihad Islami, Bahaa Abu Al-ata, dan istrinya setelah tempat tinggal mereka di Gaza City luluh lantak akibat serangan udara tentara zionis. Syahidnya petinggi Jihad Islami, Bahaa Abu Al-ata memicu serangan balasan dari Jalur Gaza. Sampai detik ini suara-suara ledakan masih terdengar jelas dari lokasi pembangunan RS Indonesia yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara atau berjarak sekitar 2,5 kilometer dari perbatasan Israel.     Reza Aldillah Kurniawan, salah satu relawan Indonesia yang juga mahasiswa di Universitas Islam Gaza menginformasikan bahwa aktifitas belajar mengajar diliburkan oleh Kementerian Pendidikan. Sementara itu, Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa 2 warga Palestina telah menjadi korban dan 7 warga lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tentara Israel yang masih terus berlangsung hingga saat ini.  

Relawan MER-C Iedul Fitri Bersama Muslimin Rohingya

Empat orang Relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang sedang melaksanakan tugas mengawasi pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Myaung Bwe Village, Mrauk U Township, Rakhine State, Myanmar melaksanakan shalat Iedul Fitri 1440 Hijriah bersama dengan muslimin Rohingya, Rabu (5/6).   “Alhamdulillah, ini yang kedua kalinya kami berempat melaksanakan shalat Iedul Fitri bersama muslim Rohingya” ujar Karidi salah satu relawan MER-C asal Wonogiri.   Karidi yang juga pernah bertugas di Jalur Gaza, Palestina ini menjelaskan bahwa, shalat Iedul Fitri kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya, konflik yang terjadi di Rakhine, meluas hingga mencapai lokasi RS Indonesia. “Ied kali ini sedikit berbeda, suasananya lebih mencekam, karena tiga hari sebelumnya terjadi pertempuran di dekat RSI, dan biasanya kami shalat di salah satu masjid di Kampung Muslim dekat RS Indonesia tersebut,” ujar relawan spesialis Mekanikal Electrikal ini.   Karidi menambahkan, para relawan tidak bisa shalat di tempat biasanya karena kampung tersebut dijadikan basis tentara Myanmar untuk menyerang Arakan Army.   “Kami tidak mendapatkan izin dari pihak keamanan untuk shalat Ied di kampung tersebut, karena situasi sedang tidak memungkinkan karena kampung tersebut dijadikan basis bagi 230 orang personel tentara Myanmar,” ujarnya. Para relawan akhirnya diperkenankan shalat di salah satu Masjid di Kampung Bina Para, berjarak 8 kilometer dari lokasi RSI.   “Akhirnya kami shalat di salah satu kampung yang berjarak 8 km dari lokasi Rumah Sakit, itupun kami harus hati-hati, karena tentara sedang siaga satu, berjaga-jaga di setiap sisi jalan,” terangnya.   Menurutnya perayaan Iedul Fitri Muslim Rohingya di kampung tersebut cukup sederhana, ratusan warga memulai shalat sekitar pukul 09.00 waktu setempat di dalam sebuah Masjid.   “Warga di sini sangat sederhana, shalat ied di dalam masjid sekitar pukul sembilan, ratusan warga mengikuti shalat ied tersebut, sebelum shalat mereka biasanya tausiyah dengan menggunakan bahasa lokal, untuk kemudian shalat Ied dan diikuti khutbah berbahasa arab _full_” terangnya.  Selesai shalat Ied dan Khutbah, Imam sekaligus Khatib memimpin doa, puluhan orang terlihat menagis tersedu-sedu saat doa dibacakan dalam bahasa Rohingya. Kami pun turut sedih melihat mereka menangis, meski kami tidak mengerti doa apa yang sedang dipanjatkan.   Kemudian para warga bersalaman, satu sama lain dan juga dengan para relawan. Selesai bersalaman warga keluar dan kemudian membagi-bagikan uang kepada para fakir miskin yang sudah menunggu di depan Masjid.   Nampak kebahagiaan menyelimuti warga muslim Rohingya ini, di luar halaman Masjid, banyak warga berjualan jajanan, anak-anak tua dan muda, bahagia menyambut datangnya hari kemenangan umat Islam ini. Sementara relawan diundang ke rumah salah satu warga untuk menyantap hidangan khas Iedul Fitri, makanan berupa bihun dicampur susu dan irisan kelapa. Alhamdulillah, meskipun berlebaran jauh dari keluarga, namun para relawan tetap semangat menunaikan amanah kemanusiaan pembangunan RS Indonesia di wilayah ini.   Info : Website : www.mer-c.org Call Center : 0811990176 FB : MER-C Indonesia IG : @mercindonesia / @rsindonesia Twitter : @mercindonesia

Atap dan Dinding RS Indonesia di Rakhine Bolong Terkena Peluru

Setidaknya delapan titik di atap dan dinding Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State bolong akibat terkena peluru, saat terjadi baku tembak antara Arakan Army (AA) sayap militer suku Arakan yang beragama Budha dengan tentara Pemerintah Myanmar (Tatmadaw), Minggu (2/6) lalu.   “Hari kamis ini kami baru bisa kembali ke lokasi Rumah sakit setelah Ahad lalu, terjadi pertempuran sengit antara AA dan Tatmadaw di dekat lokasi RSI, dan setelah kami cek ternyata ada setidaknya delapan titik di dinding dan atap yang bolong akibat peluru saat pertempuran kemarin” terang Ahmad Fauzi, salah satu relawan MER-C yang berada di lokasi.   Fauzi juga menambahkan ditemukan setidaknya tiga proyektil peluru di dalam lokasi Rumah Sakit Indonesia ini.   “Kami temukan 3 proyektil peluru didalam lokasi RS Indonesia, 2 diantaranya berukuran 2,5 cm dan satu berukuran 3 cm, ini cukup besar juga” terangnya. Ia menambahkan selain bangunan rumah sakit, kantor atau direksi kit di lokasi yang biasa digunakan sehari-hari untuk berkantor para relawan juga terkena tembakan.   “Ada setidaknya 3 lubang di atap kantor, saya juga heran padahal direksi kit ini terbilang rendah, dan terhalang banyak pepohonan dan bangunan, namun tetap kena juga” terangnya.   Sebagaimana diberitakan sebelumnya telah terjadi pertempuran antara Arakan Army (AA) dengan tentara pemerintah Myanmar (Tatmadaw) Minggu (2/6). Baku tembak terjadi sekitar pukul dua sore hari, ketika truk militer Tatmadaw diserang menggunakan ranjau darat oleh AA.  Dari laporan media setempat, AA mengklaim telah menewaskan 10 tentara Myanmar dan melukai 40 orang lainnya. Tatmadaw segera membalas serangan tersebut dengan menggempur salah satu tempat yang dianggap basis AA yang berada di dekat lokasi RS Indonesia.   Pertempuran sengit pun terjadi, hingga malam hari, Tatmadaw mengerahkan sekitar 230 personel untuk menghalau para tentara dari Suku Arakan Budha ini. Tatmadaw membuat base camp di salah satu kampung dekat RSI, dimana kampung tersebut merupakan satu-satunya kampung muslim yang diizinkan oleh pihak keamanan ketika relawan akan menunaikan shalat jumat.   Akibat selain itu, diberitakan juga ada 2 warga muslim meninggal dan satu orang anak luka-luka akibat terkena tembakan saat terjadi pertempuran antara kedua belah pihak. Seorang anak yang terluka saat ini sedang dirawat di Rumah Sakit lama, disamping bangunan RS Indonesia.   Akibat pertempuran tersebut, pekerjaan pembangunan Rumah Sakit Indonesia sempat terhenti beberapa hari. Saat ini bangunan utama telah mencapai 91,5 persen dan sedang dikerjakan pekerjaan bangunan pendukung seperti, kamar jenazah, ground tank, rumah genset dan landscaping.   Info : Website : www.mer-c.org Call Center : 0811990176 FB : MER-C Indonesia IG : @mercindonesia / @rsindonesia Twitter : @mercindonesia

Baku Tembak di Myaung Bwe, Pekerjaan RS Indonesia di Rakhine Terhenti

Pertempuran terjadi antara tentara Myanmar (Tatmadaw) dan Arakan Army (AA) di dekat lokasi pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Myaung Bwe Village, Mrauk U Township, Rakhine State, Myanmar, Minggu (2/6).   “Ahad kemarin sekitar pukul dua siang, terdengar suara rentetan senjata di dekat lokasi pembangunan RS Indonesia, pekerjaan seketika terhenti, dan para pekerja berlindung menyelamatkan diri,” kata Ahmad Fauzi, salah satu relawan pembangunan RS Indonesia.   Fauzi juga menambahkan, ketika terjadi baku tembak para pekerja yang sedang mengerjakan pekerjaan ground tank di bagian belakang berhamburan lari menyelamatkan diri.   “Tiba-tiba saja, para pekerja berhamburan keluar dari dalam galian ground tank kemudian lari keluar dari lokasi,” terang insinyur yang pernah bertugas membangun RS Indonesia di Jalur Gaza ini.   Ia menambahkan, warung-warung di sekitar lokasi RS Indonesia pun seketika tutup, situasi menjadi sangat mencekam dan warga masuk ke dalam rumahnya masing-masing.   “Warung-warung seketika ditutup, warga berlarian masuk ke dalam rumahnya menyelamatkan diri” ujar Fauzi.    Fauzi yang saat itu sedang bersama dengan seorang relawan lainnya, segera masuk ke dalam bangunan rumah sakit untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Sementara itu, dua relawan lainnya saat itu sedang berada di Sitwee dan dalam perjalanan menuju Mrauk U.   Ditengah perjalanan keduanya mendapatkan kabar kejadian tersebut, dan meminta dua relawan yang masih terjebak di lokasi, untuk berhati hati dan sementara tidak keluar dari lokasi bangunan RS Indonesia.   “Kami meminta kepada dua relawan yang masih terjebak di lokasi RS untuk tidak keluar, sambil memastikan, jika baku tembak mereda, agar mereka segera kembali ke penginapan di Mrauk U” ujar Nur Ikhwan, salah satu relawan MER-C.   Nur Ikhwan juga menjelaskan, satu jam setelah baku tempak pertama mereda, kedua relawan akhirnya bisa kembali ke penginapan yang berjarak 16 km dari lokasi pembanguann rumah sakit Indonesia itu.   “Alhamdulillah, setelah satu jam kedua relawan bisa dengan selamat kembali ke penginapan kami,” tambahnya.   Pertempuran sengit terjadi antara Arakan Army (AA) dengan tentara pemerintah Myanmar (Tatmadaw) pada Minggu (2/6) kemarin. Baku tembak terjadi sekitar pukul dua sore hari, ketika truck militer Tatmadaw diserang menggunakan ranjau darat oleh AA.    Dari laporan media setempat, AA mengklaim telah menewaskan 10 tentara Myanmar dan melukai 40 orang lainnya. Tatmadaw segera membalas serangan tersebut, dengan menggempur salah satu tempat yang dianggap basis AA yang berada di dekat lokasi RS Indonesia.   Pertempuran sengit pun terjadi, hingga malam hari, bahkan Tatmadaw mengerahkan sekitar 230 personel untuk menghalau para tentara dari Suku Arakan Budha ini. Tatmadaw membuat base camp di salah satu kampung dekat RSI yang biasa digunakan oleh para relawan untuk shalat jumat di salah satu masjid di kampung tersebut.    Selain itu, diberitakan juga ada dua warga muslim meninggal dan satu orang anak luka-luka akibat terkena tembakan saat terjadi pertempuran antara kedua belah pihak.   Akibat pertempuran tersebut, pekerjaan rumah sakit Indonesia sempat terhenti beberapa hari. Para pekerja takut untuk datang ke lokasi, karena suasana masih dalam peperangan. Para relawan juga diingatkan oleh warga dan pihak keamanan untuk tidak datang ke lokasi hingga keadaan menjadi aman.   Pekerjaan RS Indonesia, saat ini telah mencapai 91.5 persen memang sedikit tertunda. Berbagai kendala yang dihadapi dilapangan membuat bangunan yang harusnya sudah selesai sejak tahun lalu ini, menjadi terlambat.   Selain, cuaca, sulitnya pengiriman material, dan kendala para pekerja, faktor keamanan menjadi hal utama penyebab keterlambatan pembangunan Rumah Sakit Indonesia ini. Beberapa kali pembangunan sempat terhenti, karena situasi keamanan yang tidak bisa di prediksi.    Jika tidak ada hambatan diperkirakan bangunan RS Indonesia akan selesai dalam tiga bulan mendatang dan akan segera difungsikan.   Info : Website : www.mer-c.org Call Center : 0811990176 FB : MER-C Indonesia IG : @mercindonesia / @rsindonesia   Twitter : @mercindonesia

Pengecoran Kolom Lantai Tiga RS Indonesia Selesai

Alhamdulillah, puji dan syukur kepada ALLAH Yang Maha Kuasa, bahwa pengecoran kolom lantai 3 RS Indonesia yang terdiri dari 55 kolom bulat diameter 70 cm, 16 kolom kotak dimensi 50 x 60 cm dan 13 kolom 15 x 50 cm akhirnya selesai.    Pengecoran yang dibantu oleh mobil pompa yang memiliki ketinggian 60 meter dan truk pengangkut beton ready mix K300, membuat pekerjaan ini menjadi lebih mudah.   Ir. Edy Wahyudi, Site Manager Pembangunan Tahap 2 RS Indonesia dengan cermat memantau dan mengecek semua prosesnya untuk memastikan pekerjaan ini menghasilkan kualitas yang terbaik.  Terima kasih kepada donatur, keluarga relawan dan seluruh masyarakat Indonesia yang sudah memberikan doa dan dukungannya.  Be a part of history… Bantu warga Gaza… Dukung Pembangunan Tahap 2 RS Indonesia…   Bantuan dan Donasi dapat melalui :     BSM, 700.1352.061 BCA, 686.0153678 Bank Mandiri, 124.000.8111925 BNI Syariah, 081.119.2973 BRI, 033.501.0007.60308 Bank Muamalat, 358.000.1720   Semua rekening atas nama : Medical Emergency Rescue Committee Info : Website : www.mer-c.org Call center : 0811990176 FB : MER-C Indonesia IG : @mercindonesia, @rsindonesia   #beapartofhistory #tahap2rsindonesiagaza #mercforgaza #mercindonesia

Meski Situasi Mencekam, Relawan MER-C Tiba di Lokasi RS Indonesia

Meski situasi di beberapa wilayah Rakhine State masih mencekam akibat konflik yang terjadi antara Arakan Army dan Tentara Myanmar, empat relawan MER-C akhirnya tiba di lokasi pembangunan RS Indonesia yang terletak di desa Myaung Bwe, kota Mrauk U, Rakhine State, Myanmar, Rabu/10 April 2019. “Sejak tengah malam hingga saat ini, terjadi pertempuran antara Arakan Army dan Tentara Myanmar. Suara tembakan, bom dan pesawat tempur terdengar jelas dari penginapan kami yang berjarak sekitar 16 km dari RS Indonesia,” ungkap Nur Ikhwan, Site Manager RS Indonesia di Rakhine State. “Helikopter masih hilir mudik di sini, suara-suara tembakan masih terus terdengar. Tadi kami ke pasar, banyak yang tutup, biasanya jam segini pasar sudah ramai,” tambahnya. Setibanya di RS Indonesia para relawan, Ir. Nur Ikhwan Abadi, Ir. Ahmad Fauzi, Karidi dan Wanto langsung bekerja mengecek pekerjaan pembangunan. Pekerjaan yang akan dilakukan selanjutnya adalah instalasi listrik. Pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar adalah sebuah langkah diplomasi kemanusiaan di dunia internasional kerjasama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee), PMI (Palang Merah Indonesia) dan Walubi (Perwakilan Umat Buddha Indonesia). Kita berharap RS Indonesia bisa menjadi simbol persatuan warga muslim dan non muslim di wilayah ini. Dukungan dan donasi : BSM, 700.1306.833BCA, 686.0280009Bank Mandiri, 124.000.8111982 Semua rekening atas nama:Medical Emergency Rescue Committee Info:Website : www.mer-c.orgCall Center : 0811990176FB : MER-C IndonesiaIG : @mercindonesia; @rsindonesia |Humanity for Peace||Peduli untuk Kemanusiaan yang Lebih Baik|

Silahkan bertanya?