Pembangunan Bangunan Utama RS Indonesia di Rakhine Dimulai

Pembangunan bangunan utama RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar resmi dimulai. Hal ini ditandai dengan peletakan batu pertama atau groundbreaking yang digelar hari Minggu (19/11) yang dihadiri oleh Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Myanmar, Ito Sumardi, Dirjen Kementerian Kesehatan Myanmar U Aye Thar Kyam, Secretary of State Rakhine U Tin Maung Swe serta perwakilan MER-C, Nur Ikhwan Abadi dan Ahmad Fauzi, dua insinyur yang ditugaskan untuk mengawasi pembangunan RS Indonesia. Sekitar seribu orang dari berbagai etnis di Myanmar juga berkumpul di area rumah sakit Indonesia, Kampung Myaung Bwe, Mrauk U, Negara Bagian Rakhine, Myanmar. Mereka datang dari berbagai desa di sekitar area rumah sakit untuk turut menyaksikan acara groundbreaking RS Indonesia. Bukan hanya komunitas Budha, namun komunitas Muslim juga berdatangan dan mereka bersama-sama menyaksikan acara tersebut. “Ini sangat bersejarah karena untuk pertama kalinya Indonesia memberikan bantuan berupa Rumah Sakit kepada negara pimpinan Aung San Su Kyi,” ujar Ikhwan. Dubes Ito Sumardi mengawali peletakan batu RS Indonesia, diikuti dengan perwakilan Kementerian Kesehatan, dan Secretary of State Rakhine, sementara MER-C diwakili oleh Nur Ikhwan Abadi. Selain itu, perwakilan dari Muslim dan Budha juga turut melakukan peletakan batu pertama. Rumah Sakit Indonesia di Rakhine merupakan bagian dari diplomasi kemanusiaan yang dilakukan oleh MER-C dengan tujuan jangka panjang meredakan konflik yang ada. Ketika pertama kali masuk ke Rakhine pada tahun 2012 MER-C melakukan aksi kemanusiaan dengan memberikan pengobatan kepada masyarakat baik Muslim maupun Budha. Dari hasil pengamatan di lapangan, maka pada tahun 2015, MER-C kembali ke Myanmar dan menginisiasi berdirinya Rumah Sakit di Rakhine. Setelah mendapatkan perizinan dari otoritas Myanmar yang pengurusannya difasilitasi oleh KBRI, maka MER-C segera bergerak untuk merealisasikan Rumah Sakit tersebut. Setelah selesai mendisain dan mendapatkan persetujuan dari berbagai pihak di Myanmar, pada Mei 2017 pembangunan tahap pertama RSI berupa pembangunan pagar dan penimbunan lahan akhirnya dimulai. Pembangunan kemudian dilanjutkan dengan pembuatan gedung utama rumah sakit pada November 2017, dengan menunjuk satu kontraktor lokal yang pernah membangun sekolah Indonesia di Rakhine. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pembangunan RS Indonesia diperkirakan selama 10 bulan ke depan. Masyarakat Indonesia dapat terus mendukung dan memberikan donasi bagi kelancaran program ini. Dukungan dan donasi bagi program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar dapat disalurkan melalui: Mandiri 124.000.8111.982 BSM 700.1306.833 BCA 686.028.0009 Semua rekening atas nama Medical Emergency Rescue Committee Info: www.mer-c.org 0811990176
Dua Insinyur Pengawas Pembangunan RS Indonesia Bertolak ke Rakhine Myanmar

Jakarta – Menyusul program pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar yang sudah memasuki tahap pembangunan bangunan utama, Selasa (13/11) pagi tadi MER-C mengirimkan dua insinyur ke wilayah Rakhine State untuk mengawasi proses pembangunan. Kedua insinyur tersebut adalah Nur Ikhwan Abadi dan Ahmad Fauzi yang sudah berpengalaman membangun RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Kali ini mereka kembali dipercaya untuk menunaikan amanah pembangunan RS Indonesia di wilayah konflik Rakhine State. Keberangkatan ini dimungkinkan setelah keluarnya izin tinggal di Mrauk U, Rakhine State dari Pemerintah Myanmar. Kedua insinyur dijadwalkan akan bertugas sampai pembangunan RS Indonesia selesai yang diperkirakan akan memakan waktu selama 10 bulan ke depan. Sebelumnya pada akhir Oktober lalu, Ketua Tim Pelaksana Pembangunan RS Indonesia, DR. Ir. Idrus M. Alatas, MSc telah berangkat ke Rakhine State untuk melakukan tender bangunan utama. “Pada akhir Oktober lalu, kami telah melakukan tender bangunan utama yang diikuti oleh lima kontraktor lokal. Pada tanggal 26 Oktober 2017 kami sudah menetapkan pemenang tender sekaligus melakukan tanda tangan kontrak pembangunan dengan kontraktor pemenang, Rakhapura Co Ltd. Kontraktor ini sudah memiliki pengalaman membangun sekolah Indonesia di Rakhine State,” terang Idrus. “Saat ini kontraktor sudah memulai persiapan pembangunan berupa mobilisasi peralatan berat dan pengadaan sejumlah material pembangunan. Untuk itu, hari ini dua insinyur kita berangkatkan untuk melakukan pengawasan seluruh proses pembangunan mulai dari persiapan sampai dengan pembukaan RS Indonesia nantinya,” tambahnya. Keberangkatan kedua insinyur pada Selasa pagi tadi dilepas oleh Presidium MER-C, Ir. Faried Thalib dan dr. Arief Rachman, SpRad, juga para keluarga relawan yang akan bertugas, staf MER-C dan sejumlah relawan. Dalam sambutannya, Ir. Faried Thalib berharap keberangkatan tim kali ini bukan hanya sekedar mengawal proses pembangunan namun dapat merajut silaturahmi dengan saudara-saudara di sana dan masyarakat di Rakhine State, Myanmar. “Tugas kita tidak sekedar pengawasan tapi juga membantu mewujudkan sebuah perdamaian yang abadi. Mudah-mudahan ALLAH melindungi, memberikan kesehatan sehingga perjalanan jihad profesi ini betul-betul dalam ridho ALLAH SWT. Semoga tim yang akan bertugas diberi kekuatan dan keluarga yang ada di Indonesia dalam keadaan baik,” harap Faried. Faried juga berpesan agar tim senantiasa menjaga ketulusan, keikhlasan dan profesionalitas selama bertugas. Dukungan dan donasi bagi program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar dapat disalurkan melalui: Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.1306.833 BCA, 686.028.0009 Semua atas nama Medical Emergency Rescue Committee Info: www.mer-c.org 0811990176
Tim Pembangunan RS Indonesia Kembali Berangkat ke Rakhine Myanmar
Setelah menunggu proses izin sekitar dua pekan, Jumat (20/10) Kementerian Luar Negeri Myanmar akhirnya menyetujui Tim Pembangunan RS Indonesia untuk dapat mengunjungi lokasi pembangunan yang terletak di Muaung Bwe, Mrauk U, Rakhine State. Proses izin yang cukup lama ini menyusul situasi di Rakhine State yang memanas pada akhir Agustus 2017 lalu. Senin (23/10) pagi, dua relawan teknis MER-C, yaitu DR. Ir. Idrus M. Alatas, MSc dan Ir. Rizal Syarifuddin langsung bertolak ke Yangon, Myanmar. Direncanakan esoknya tim akan terbang ke Sittwe dengan maskapai lokal. Dari ibukota Rakhine State ini, tim akan melanjutkan perjalanan melalui jalur darat ke lokasi pembangunan RS Indonesia dengan jarak tempuh sekitar 3,5 jam. Idrus yang juga merupakan Ketua Divisi Konstruksi MER-C sekaligus Penanggung jawab Pembangunan RS Indonesia di Rakhine Myanmar mengatakan bahwa tujuan kunjungan kali ini adalah untuk melakukan pengukuran dan penentuan titik-titik bangunan kompleks RS Indonesia. Pengukuran akan dikerjakan bersama dengan kontraktor lokal pemenang tender. “Saya dan Pak Rizal akan melakukan pengukuran bersama kontraktor lokal pemenang tender tahap dua, sekaligus menentukan titik-titik seluruh bangunan yang akan berada di dalam kompleks RS Indonesia,” terang Idrus. “Setelah proses pengukuran ini, kami berharap Rakhita Ah Linn, kontraktor lokal yang kami tunjuk bisa segera memulai pembangunan tahap dua berupa rumah dokter dan rumah perawat,” tambahnya. Relawan yang telah berpengalaman dalam membangun rumah sakit Indonesia di Jalur Gaza, Palestina ini juga menjelaskan bahwa agenda penting lainnya dalam kunjungannya ke Rakhine adalah pra tender pembangunan tahap tiga, yaitu pembangunan bangunan utama RS Indonesia. “Target penting kami lainnya adalah untuk pra tender pembangunan tahap tiga dengan beberapa calon kontraktor lokal, sehingga setelah pembangunan rumah dokter dan perawat selesai kami harap bisa segera dilanjutkan dengan pembangunan bangunan utama rumah sakit,” imbuhnya. Misi tim teknis dijadwalkan berlangsung selama 5 hari hingga Jumat (27/10) mendatang. Pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar merupakan bagian dari diplomasi kemanusiaan yang sudah dilakukan MER-C sejak mendirikan RS Indonesia di Gaza, Palestina. Khusus wilayah konflik Myanmar dimulai dengan misi pertama MER-C ke Rohingya pada tahun 2012 dan dilanjutkan dengan assessment ke lokasi lahan RS Indonesia di Mrauk U pada Agustus 2015. Saat itu, Tim langsung melakukan pembelian (pembebasan lahan karena tanah adalah milik negara), tepatnya di Mrauk U, Rakhine State. Pada Mei 2017, setelah sempat tertunda selama dua tahun, pembangunan RS Indonesia resmi dimulai. Hal ini berkat inisiasi dari Bapak M. Jusuf Kalla yang memberikan dukungan positif dan berharap RS Indonesia bisa segera terwujud dalam jangka waktu satu tahun ke depan. Ketua Umum PMI ini juga mengarahkan agar RS Indonesia menjadi program kerjasama MER-C dan PMI. Serangkain rapat koordinasi antara MER-C, PMI, Kementerian Luar Negeri dan Kementerian terkait lainnya sudah beberapa kali digelar baik di kantor Wakil Presiden RI dan Markas Besar PMI untuk menindaklanjuti dan mempercepat pembangunan RS Indonesia. MER-C telah menunjuk tim pelaksana pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar yang terdiri dari para relawan insinyur yang sudah berpengalaman membangun RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Meskipun pembangunan diserahkan kepada kontraktor lokal, namun MER-C akan menempatkan relawan insinyur di lapangan untuk mengawasi seluruh proses pembangunan RS Indonesia di Rakhine State sampai pembangunan selesai. Dukungan dan donasi bagi program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar dapat disalurkan melalui: Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.1306.833 BCA, 686.028.0009 Semua atas nama Medical Emergency Rescue Committee Info : www.mer-c.org 0811990176
RS Indonesia Raih Predikat RS Terbersih di Jalur Gaza
Gaza – Nama Indonesia semakin “Harum” di kalangan warga Palestina di Jalur Gaza. Alasannya, Rumah Sakit Indonesia di Gaza, karya anak bangsa yang selama ini menjadi kebanggaan Nusantara, mendapatkan predikat sebagai rumah sakit terbersih dan terhigienis di antara seluruh rumah sakit yang ada di Jalur Gaza. Lebih dari itu, predikat tersebut telah disabet oleh Rumah Sakit Indonesia selama 2 tahun berturut-turut sejak beroperasinya pada Desember tahun 2015 silam. Hal ini sebagaimana diutarakan oleh pimpinan perusahaan kebersihan swasta di Rumah Sakit Indonesia, Mahmud Atef Al Hindi, kepada Reza, aktifis MER-C di Gaza. Mahmud menungkapkan bahwa Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza menobatkan Rumah Sakit Indonesia sebaga rumah sakit terbersih dalam acara penghargaan tahunan yang rutin diselenggarakan oleh pihak kementerian. Selain Rumah Sakit Indonesia yang menjadi rumah sakit utama di wilayah utara, Gaza juga memiliki sejumlah rumah sakit besar lainnya. Diantaranya, Rumah Sakit Assyifa yang merupakan rumah sakit utama Jalur Gaza yang berlokasi di pusat kota Gaza, Rumah Sakit Eropa yang berlokasi di selatan Jalur Gaza, dan Rumah Sakit pemerintah Yordania yang berlokasi di kota Gaza.
Rabithah Alawiyah Salurkan Donasi untuk Rohingya melalui MER-C

Jakarta – Rabithah Alawiyah sebuah organisasi yang menghimpun WNI keturunan Arab khususnya kaum Alawiyyin menyalurkan donasi untuk Rohingya senilai 165 juta rupiah melalui MER-C. Dalam kesempatan silaturahim di Kantor Pusat DPP Rabithah Alawiyah di Jl. TB. Simatupang No. 7 A, Sabtu (23/9), Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad menyampaikan terima kasih atas dukungan dan bantuan yang diberikan Rabithah Alawiyah. Dalam pertemuan yang berlangsung hangat tersebut, Sarbini yang didampingi oleh Pimpinan Proyek Pembangunan RS Indonesia di Rakhine Myanmar, Drs. Ichsan Thalib, memaparkan mengenai pengalaman misi MER-C, sekaligus situasi terkini dan program pembangunan RS Indonesia di Myanmar. Sarbini juga mengungkapkan bahwa MER-C konsisten untuk membangun rumah sakit di daerah-daerah konflik. “Saat ini di Rakhine, lalu setelah Rakhine selesai, kita berencana membangun rumah sakit di Tepi Barat. Tidak hanya di luar negeri, di dalam negeri seperti Papua, pembangunan puskesmas di Aceh yang saat ini sudah diserahkan kepada pemerintah setempat, di Piyungan Jogja, juga pembangunan rumah sakit di Galela. Kami bisa bangkit karena dukungan banyak pihak seperti Rabithah Alawiyah,” tandasnya. Sementara itu, Ketua Umum Rabithah Alawiyah, Habib Zen Umar bin Smith menyampaikan keinginannya agar bisa bersama-sama merealisasikan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine, khususnya untuk para pengungsi dan penduduk Rohingya dan terbuka juga untuk kalangan non muslim di sana yang harus dibantu. “Semoga konflik ini segera berakhir,” tambahnya. Ia juga berharap Rabithah Alawiyah dan MER-C akan terus bergandengan tangan untuk hal-hal yang sifatnya ke arah bantuan kemanusiaan tidak hanya untuk Rohingya dan luar negeri, termasuk juga bantuan kemanusiaan lainnya di Indonesia.
MER-C Tandatangani Kontrak Pembangunan RSI Myanmar dengan Kontraktor
Yangon – Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menandatangani kontrak pembangunan Rumah Sakit Indonesia tahap kedua yang berlokasi di Rakhine State, Myanmar, Rabu (6/9) di Yangon. Penandatangan dilakukan oleh Presidium MER-C, Ir. Faried Thalib dengan Kyaw Nay Oo, selaku Direktur Rakhita Ah Linn Construction. Co.Ltd, kontraktor lokal pemenang tender pembangunan RS Indonesia. “Ini merupakan kontrak kedua dari pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar. Tahap pertama sudah selesai dan kita sekarang akan segera bangun tahap kedua” ujar Faried Thalib, anggota Presidium MER-C, sesaat setelah menandatangani kontrak. Mantan Manajer Proyek Pembangunan RS Indonesia di Gaza (Palestina) ini menjelaskan bahwa tahap kedua pembangunan rumah sakit ini merupakan pembangunan gedung tempat tinggal untuk dokter dan perawat. “Pembangunan rumah tinggal untuk dokter dan perawat ini kita dahulukan, dan setelah berjalan, bangunan utama akan segera kita bangun secara bersamaan” ujarnya. “Ini bagian dari diplomasi kemanusiaan yang dilakukan oleh MER-C, diharapkan dengan dibangunnya rumah sakit ini, akan memberikan manfaat kepada rakyat Myanmar yang dilanda konflik dan yang lebih penting akan membantu meredakan konflik di daerah ini” jelasnya. Faried menambahkan, Indonesia dengan mayoritas Muslim dan minoritas Budha hendaknya menjadi contoh bagi pemerintah dan rakyat Myanmar, bahwa keberagaman bukan alasan untuk bertikai, namun justru saling mengayomi satu dengan yang lain. “Terlebih lokasi Rumah Sakit berada di antara daerah penduduk muslim dan Budha, sehingga bisa menjadi fasilitas untuk semua penduduk di sana” lanjutnya. Pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar merupakan bagian dari diplomasi kemanusiaan yang sudah dilakukan MER-C sejak mendirikan RS Indonesia di Gaza, Palestina. Khusus wilayah konflik Myanmar dimulai dengan misi pertama MER-C ke Rohingya pada tahun 2012 dan dilanjutkan dengan assessment ke lokasi lahan RS Indonesia di Mrauk U pada Agustus 2015. Saat itu, Tim langsung melakukan pembelian (pembebasan lahan karena tanah adalah milik negara), tepatnya di Mrauk U, Rakhine State. Pada Mei 2017, setelah sempat tertunda selama dua tahun, pembangunan RS Indonesia resmi dimulai. Hal ini berkat inisiasi dari Bapak M. Jusuf Kalla yang memberikan dukungan positif dan berharap RS Indonesia bisa segera terwujud dalam jangka waktu satu tahun ke depan. Ketua Umum PMI ini juga mengarahkan agar RS Indonesia menjadi program kerjasama MER-C dan PMI. Serangkain rapat koordinasi antara MER-C, PMI, Kementerian Luar Negeri dan Kementerian terkait lainnya sudah beberapa kali digelar baik di kantor Wakil Presiden RI dan Markas Besar PMI untuk menindaklanjuti dan mempercepat pembangunan RS Indonesia. MER-C telah menunjuk tim pelaksana pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar yang terdiri dari para relawan insinyur yang sudah berpengalaman membangun RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Meskipun pembangunan diserahkan kepada kontraktor lokal, namun MER-C akan menempatkan relawan insinyur di lapangan untuk mengawasi seluruh proses pembangunan RS Indonesia di Rakhine State sampai pembangunan selesai. Dukungan dan donasi bagi program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar dapat disalurkan melalui: Mandiri 124.000.8111.982 BSM 700.1306.833 BCA 686.028.0009 Semua atas nama Medical Emergency Rescue Committee Info: www.mer-c.org 0811990176
Tindaklanjuti Pembangunan RS Indonesia, MER-C Kirim Tim ke Myanmar
Rabu pagi (6/9), dua relawan insinyur MER-C yang sudah berpengalaman dalam program pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza Palestina, yaitu Ir. Faried Thalib dan Ir. Nur Ikhwan Abadi bertolak ke Myanmar. Kedua relawan dari Divisi Konstruksi MER-C inj akan meninklanjuti program pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar yang akan memasuki tahap dua dari tiga tahap yang direncanakan. Meski situasi di Myanmar belum kondusif, namun proses pembangunan RS Indonesia di wilayah ini terus berjalan. Pembangunan tahap pertama telah selesai, akan dilanjutkan pembangunan tahap dua berupa pembangunan asrama dokter dan perawat. Pada keberangkatan kali ini tim akan melakukan finalisasi kontrak dengan para kontraktor lokal, juga mencari akses untuk bantuan kemanusiaan ke wilayah konflik. RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar diharapkan bisa segera selesai dan memberikan bantuan pelayanan kesehatan jangka panjang bagi para korban. Pembangunan RS Indonesia di wilayah konflik Rakhine State, Myanmar adalah sebuah langkah diplomasi kemanusiaan di dunia internasional kerjasama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan PMI (Palang Merah Indonesia). Dukungan dan donasi bagi program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui : Mandiri 124.000.8111.982 BSM 700.1306.833 BCA 686.028.0009 Semua atas nama Medical Emergency Rescue Committee Info: www.mer-c.org 0811990176
Teknologi Ultra Filtrasi akan digunakan untuk suplai kebutuhan air RS Indonesia di Myanmar

Yangon – Tim Teknis RS Indonesia memutuskan akan menggunakan teknologi ultra filtrasi untuk mensuplai kebutuhan air bagi Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar. Hal ini dijelaskan oleh salah satu anggota tim ahli MER-C, Agus Subiyakto Saleh saat melalukan kunjungan ke lokasi pembangunan RS Indonesia di Mrauk U, Rakhine State, Myanmar, Rabu (9/8). “Setelah melakukan pengecekan di lapangan, air yang ada PH nya 7,1 dan TDS nya rendah hanya 2 yang berarti mineralnya rendah, maka kita akan menggunakan sistem ultra filtrasi, ini akan langsung jernih airnya” terang ahli pengolahan air asal ITB tersebut. Pria yang lahir 58 tahun lalu itu menjelaskan bahwa teknologi ultra filtrasi ini merupakan sebuah teknologi penyaringan air dengan menggunakan membran tertentu dan dapat menyaring setiap partikel yang ada di dalam air hingga ukuran 0,01 mikron. “Jadi ultra filtrasi itu adalah teknologi dengan menggunakan membran dengan ukuran rembesannya 0,01 mikron. Nah dengan adanya air yang masuk melalui membran tersebut, semua kotoran akan tertahan, sehingga air itu sudah bebas dari kemungkinan bakteri dan lain-lain” jelasnya. Ia juga menyatakan selain perawatan yang mudah, teknologi ini pun mampu menahan virus hingga ukuran 0,5 mikron. “Sampai dengan virus akan tertahan di membran itu, karena virus ukuran nya 0,5 mikron. Tekonologi ini mudah dioperasikan dengan menggunakan pompa karena tekanannya cukup rendah. Hanya membutuhkan tekanan 0,5 – 1 bar. Membersihkannya cukup mudah, dengan bayclin sudah bisa membersihkan membran” lanjutnya. Agus juga menambahkan bahwa dengan kapasitas penampungan air yang mencapai 120 ribu meter kubik, bisa melayani 1000 orang selama empat bulan kedepan. “Kapasitas penampungan air ini 120 meter kubik, bisa melayani 1.000 orang, dan jika dihitung kebutuhan air perorang 100 liter perhari, maka kapasitas air ini bisa digunakan hingga 120 hari kedepan atau 4 bulan,” terangnya. Lebih lanjut Agus menyatakan bahwa air hujan yang ditampung di kolam penampungan tersebut kualitasnya sangat baik, karena tidak ada polusi udara disekitarnya. “Saya langsung minum air tadi, karena saya yakin air tersebut tidak berbahaya, dan airnya bisa dikonsumsi langsung. Rasanya seperti rasa air yang punya TDS rendah. Ini karena air nya tidak tercemar oleh polusi” ungkapnya. Saat disinggung soal biaya Agus menyatakan bahwa biaya yang digunakan bisa terjangkau dan tidak terlalu tinggi. “Untuk kapasitas 3-4 meter kubik per jam jika di Jakarta seharga 15 jutaan. Berarti selama satu jam air ini bisa melayani 300 orang, sehingga untuk kapasitas 1.000 orang, bisa beroperasi hanya 3-4 jam perhari” katanya. Sebelumnya, Senin (7/8), MER-C memberangkatkan empat relawan teknis ke Myanmar dengan salah satu agenda adalah melakukan studi lanjutan untuk mengatasi permasalahan air bersih selain melakukan supervisi pekerjaan pembangunan tahap satu RS Indonesia yang sudah selesai. Tim dijadwalkan akan bertugas selama 5 hari hingga Jum’at (11/8) mendatang. Pembangunan RS Indonesia di wilayah konflik Rakhine State, Myanmar adalah sebuah langkah diplomasi kemanusiaan di dunia internasional kerjasama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan PMI (Palang Merah Indonesia), didukung oleh pemerintah Republik Indonesia. Keberadaan RS Indonesia diharapkan dapat menjadi salah satu perekat persatuan antara etnis di Myanmar sehingga bisa meredam konflik berkepanjangan yang terjadi untuk mendorong terciptanya perdamaian di Myanmar. Dukungan dan donasi bagi program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui : Mandiri 124.000.8111.982 BSM 700.1306.833 BCA 686.028.0009 Semua atas nama Medical Emergency Rescue Committee Info: www.mer-c.org 0811990176
Pembangunan Tahap Pertama Selesai, Tim Teknis RS Indonesia Kembali Kunjungi Myanmar

Jakarta – Empat relawan teknis RS Indonesia, hari ini, Senin/7 Agustus 2017 kembali bertolak ke Myanmar. Kunjungan dilakukan seiring telah selesainya pembangunan tahap pertama, yaitu pengurukan dan pemagaran lahan RS Indonesia seluas lebih dari 7.000 m2 yang terletak di Muaung Bwe, Mrauk U, provinsi Rakhine. Keempat relawan tersebut adalah Drs. Ichsan Thalib (Ketua Tim Pembangunan RS Indonesia, Myanmar), Ir. Idrus M. Alatas, MSc (Ketua Divisi Konstruksi MER-C), Ir. Agus Subiyakto Saleh, MT dan Ir. Nur Ikhwan Abadi. Ichsan Thalib selaku Ketua Tim menyatakan bahwa agenda kunjungan kali ini adalah untuk melakukan supervisi pekerjaan tahap pertama yang dikerjakan oleh kontraktor lokal pemenang tender sekaligus melakukan finalisasi pembayaran. Pekerjaan tahap pertama semula diperkirakan memakan waktu 2 – 3 bulan. Namun sejak dimulai pada 25 Mei 2017 dan meski wilayah ini kerap dilanda hujan lebat, ternyata pada akhir Juli 2017 lalu, pekerjaan pengurukan dan pemagaran lahan RS Indonesia bisa selesai hanya dalam jangka waktu 2 bulan. Ichsan melanjutkan, tidak hanya bidang teknis pembangunan, MER-C juga mengikutsertakan seorang ahli teknik lingkungan untuk mengadakan studi lanjutan dalam rangka mengatasi permasalahan air bersih yang sulit di wilayah sekitar RS Indonesia. “Air di wilayah ini payau sehingga selama ini masyarakat mengandalkan dan sangat bergantung dari air tadah hujan. Keikutsertaan ahli teknik lingkungan dalam misi ini diharapkan bisa mengatasi permasalahan air bersih yang tidak hanya sangat penting bagi operasional RS Indonesia ke depan namun juga bagi kehidupan masyarakat sekitar baik Muslim maupun Budha.” Sementara itu, Ketua Divisi Konstruksi MER-C, Idrus M. Alatas, relawan yang juga pernah terlibat dalam pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina mengungkapkan bahwa agenda penting tim lainnya di Myanmar adalah melakukan persiapan tender untuk pembangunan tahap selanjutnya, yaitu bangunan utama RS Indonesia serta sarana pelengkapnya seperti rumah dokter dan perawat. Lama kunjungan tim untuk menuntaskan semua kegiatan diperkirakan selama 5 hari hingga hari Jum’at/11 Agustus 2017 mendatang. Pembangunan RS Indonesia di Myanmar adalah program kerjasama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan PMI (Palang Merah Indonesia) yang didukung oleh Pemerintah RI. MER-C kembali mengajak masyarakat Indonesia berpartisipasi dalam mewujudkan program ini. RS Indonesia di Myanmar diharapkan dapat menjadi salah satu diplomasi kemanusiaan dalam bidang kesehatan yang dapat mendorong terciptanya perdamaian bagi warga Muslim dan Budha di negara ini. Dukungan dan donasi bagi program Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui : Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.1306.833 BCA, 686.028.0009 Semua rekening a/n. Medical Emergency Rescue Committee Info: www.mer-c.org 0811990176
Bantuan Ambulans dari rakyat Indonesia untuk rakyat Suriah Diserahterimakan

Setelah melalui proses panjang, akhirnya pada hari Rabu/26 Juli 2017, bantuan ambulans yang dibeli dari donasi rakyat Indonesia yang masuk ke rekening MER-C amanah “Ambulance(s) and Medical Aid for Syria” telah diserahterimakan. Terima kasih atas kepercayaan rakyat Indonesia, semoga bantuan ini bermanfaat untuk memberikan bantuan medis bagi rakyat Suriah yang menjadi korban perang. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Duta Besar RI untuk Suriah, Bapak Djoko Harjanto beserta seluruh jajaran staf KBRI Suriah yang telah membantu dan memfasilitasi pembelian bantuan ambulans ini. ———————– DUA AMBULANS DARI RAKYAT INDONESIA UNTUK RAKYAT SURIAH Pada hari Rabu (26/7), KBRI Damaskus telah menyerahkan dua mobil ambulans yang merupakan bantuan kemanusiaan Rakyat Indonesia dari dua organisasi kemanusiaan Indonesia yaitu: Dompet Dhuafa dan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), kepada Syrian Arab Red Crescent (SARC) bertempat di kantor Kementerian Administrasi Lokal Suriah. Serah terima ambulans tersebut dihadiri oleh Deputi Menteri Administrasi Lokal, Ketua Syrian International Rescue Committee (SIRC), para staf KBRI Damaskus dan delegasi dari SARC. Dalam kesempatan serah terima tersebut, Dubes RI Damaskus, Djoko Harjanto menjelaskan bahwa Bantuan Kemanusiaan Indonesia ini sebetulnya sudah dirintis sejak dua tahun yang lalu sebagai wujud solidaritas Rakyat Indonesia kepada Rakyat Suriah yang sedang menghadapi konflik. MER-C sesuai dengan misinya ”Giving Hope to Humanity and Help to People that Need the Most” dan misi Dompet Dhuafa yang juga perduli kepada sesama, dua unit ambulans ini kemudian dikirim dengan harapan segera dapat dimanfaatkan di Suriah dan menjadi catatan amal yang terus mengalir kepada para donaturnya. Dubes Djoko, atas nama Perwakilan Indonesia di Suriah, MER-C, dan Dompet Dhuafa menyampaikan terima kasih kepada Menteri Administrasi Lokal dan Ketua Bulan Sabit Merah Suriah serta pihak terkait lainnya yang telah membantu terselenggaranya acara serah terima Bantuan Kemanusiaan berupa ambulans dari Rakyat Indonesia untuk Rakyat Suriah. Dubes Djoko menyampaikan pula bahwa karena satu dan lain hal, Presidium MER-C, Bapak Ir. Faried Thalib dan Direktur Dompet Dhuafa, drg. Iman Rulyawan tidak dapat hadir di Suriah dan karenanya menyampaikan salam mereka kepada Bulan Sabit Merah Suriah serta semua pihak yang telah berjasa dan mengamanahkan kepada Kedutaan Besar RI di Damaskus untuk mewakili mereka dalam penyerahan Bantuan Kemanusiaan ini. Pada kesempatan yang sama, Menteri Administrasi Lokal Suriah, Hussein Makhlouf, turut menyampaikan terima kasih atas sikap dan dukungan Indonesia selama ini terhadap Suriah, baik dukungan politik di forum internasional, dukungan dalam bidang ekonomi, maupun bantuan kemanusiaan seperti ini. (Sumber: KBRI Damaskus) – https://www.facebook.com/kbri.damaskus?fref=ts