Ruang Operasi RS Indonesia
Bagi yang bertanya-tanya kenapa nama pulau Jawa tidak ada dalam daftar nama ruang perawatan di RS Indonesia, ini jawabannya…. Nama pulau Jawa ditetapkan sebagai nama untuk ruang operasi di RS Indonesia. Rumah sakit karya anak bangsa ini dilengkapi dengan 4 kamar operasi yang diberi nama Jawa 1, Jawa 2, Jawa 3 dan Jawa 4. Dengan 4 ruang operasi, RS Indonesia sanggup melakukan semua operasi kedaruratan berupa bedah umum, trauma kepala, trauma dada dan abdomen hingga kegawatan kardiovaskuler. Peralatan bedah terkini memudahkan dokter bedah dan anestesi untuk melakukan tindakan dengan aman, nyaman dan efisien sehingga meningkatkan survival rate pasien operasi. Sejak dibuka pada akhir Desember 2015 lalu, hingga saat ini, ruang operasi RS Indonesia telah menangani banyak pasien. #Semoga_terus_manfaat
RS INDONESIA DI GAZA MULAI BEROPERASI

Minggu/27 Desember 2015 menjadi salah satu hari bersejarah dalam proses panjang program pembangunan RS INDONESIA di Jalur Gaza, Palestina. Pada hari ini, Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza secara resmi membuka dan mengoperasionalkan RS INDONESIA. Bahkan dua hari sebelumnya, Kamis (24/12), Ir. Edy Wahyudi, Site Manager RS INDONESIA melaporkan bahwa Kementerian Kesehatan sudah melakukan uji coba kesiapan peralatan-peralatan medis di RS INDONESIA dengan adanya tindakan operasi bagi tiga pasien yang berasal dari Gaza Utara. Operasi dilakukan di Ruang Operasi Jawa 1 dan Ruang Operasi Jawa 2. Usai operasi pasien langsung dipindahkan dan diinapkan ke ruang rawat inap Batam yang berada di lantai 2 RS INDONESIA. Pembukaan RS INDONESIA disambut antusias oleh warga Gaza. Pada hari Sabtu (26/12), RS INDONESIA sudah mulai menerima antrian pasien rawat jalan yang sementara masih dilayani di Ruang IGD Teungku Cik Ditiro karena Ruang Poliklinik masih dalam tahap persiapan untuk pembukaan. Sejak hari Sabtu – Minggu (26 – 27 Desember 2015), jumlah pasien rawat jalan yang berobat ke RS INDONESIA sudah mencapai 312 orang. Ruang Rawat Inap dan ICU pun mulai terisi pasien. RS Indonesia adalah sebuah karya anak bangsa yang dikerjakan oleh putra-putra bangsa dengan donasi seluruhnya murni berasal dari rakyat Indonesia tanpa bantuan asing. Dicetuskan pada Januari 2009, kemudian pembangunan fisik RS INDONESIA dimulai pada Mei 2011. Melalui dua peperangan besar pada tahun 2012 dan 2014, pembangunan RS Indonesia tetap berjalan dan selesai pada pertengahan tahun 2014. Pembangunan kemudian dilanjutkan dengan pengadaan alat kesehatan, furniture serta instalasi listrik, oksigen, telepon, internet, dll yang dimulai sejak November 2014 hingga Desember 2015. Kini di penghujung tahun 2015, tepatnya Minggu/27 Desember 2015 RS Indonesia akhirnya resmi dibuka dan memberikan pelayanan medis bagi rakyat Gaza yang membutuhkan. Rasa syukur tak terhingga dan haru yang luar biasa ketika melihat RS INDONESIA mulai dipenuhi oleh tenaga medis dan para pasien yang mengantri untuk mendapatkan pengobatan. Alat-alat medis canggih dan modern pun, akhirnya mulai digunakan dan dimanfaatkan untuk memberikan pelayanan medis terbaik bagi warga Gaza yang selama ini hidup dalam agresi dan blokade illegal ketat Israel. Terima kasih dan selamat kepada rakyat Indonesia atas beroperasinya RS INDONESIA di Gaza, Palestina. Semoga semua doa, donasi, jerih payah dan keikhlasan, menjadi amal baik yang terus mengalir bagi para relawan dan donatur serta seluruh pihak yang telah terlibat dan mendukung program ini.
MER-C Adakan Videoconference dengan Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza

Rabu (28/10), pkl 19.00 wib atau sekitar pkl 14.00 waktu Gaza, Tim MER-C yang diwakili oleh dr. Joserizal Jurnalis, SpOT (Presidium), Ir. Faried Thalib (Presidium), Ahyahudin Sodri, MSc. VDI (Ketua Tim Alkes RSI) dan dr. Yogi Prabowo, SpOT mengadakan videoconference dengan Wakil Menteri Kesehatan Palestina (dr. Yusuf Abu Al Reesh) yang didampingi staf Kementerian Kesehatan untuk membicarakan persiapan operasionalisasi RS INDONESIA. Videoconference yang berlangsung selama lebih dari 1 jam 30 menit tersebut membahas berbagai hal detail terkait persiapan pembukaan RS INDONESIA seperti kebutuhan SDM Medis dan Non Medis yang akan bertugas, pemasangan jaringan IT rumah sakit, penambahan peralatan serta sarana lainnya untuk mendukung berjalannya RS INDONESIA nanti. Rencananya, kegiatan videoconference ini akan diadakan rutin dan berkala hingga RS INDONESIA dibuka. Sementara itu, sampai saat ini MER-C masih menempatkan empat relawannya di Jalur Gaza, Palestina. Mereka adalah Ir. Edy Wahyudi, Karidi bin Martono Parjo, Miyanto Modo Sodimejo dan salah satu relawan muda yang juga tengah menempuh pendidikan di Universitas Islam Gaza, Reza Aldilla Kurniawan. Meskipun pembangunan RS INDONESIA telah selesai , namun tugas keempat relawan ini masih sangat penting dan berat. Para relawan dibawah komando Ir. Edy Wahyudi harus berkoordinasi dengan berbagai pihak di Gaza, khususnya Kementerian Kesehatan Palestina untuk mempersiapkan segala sesuatunya agar RS INDONESIA bisa segera dibuka.
MER-C to open Indonesian health center in Myanmar

Jakarta (ANTARA News) – MER-C Indonesia has been helping with the construction of an Indonesian Health Center in the Rakhine state of Myanmar. “The Rakhine state government in Myanmar, has allocated a plot of land located in the Mrauk U region for a health center,” Dr. Joserizal Jurnalis, Chairman of the Team-3 of MER-C for Myanmar, said recently. The Myanmar government is also supporting the plan to set up a health center. The team left for Minbya through Sittwe, on August 28 with the assistance of the Indonesian embassy in Yangon. From Sittwe, they took a speedboat for a three-hour journey to Minbya. In Minbya, the team also visited two schools constructed by the Indonesian government. One school is for Buddhists and another for Muslims. The two-story schools are located at a distance of just 500 meters from each other. In February this year, MER-C Indonesia donated two power generators to support the schools activities. “Students in both the Buddhist and Muslim schools were very happy to meet the team,” Jurnalis said. From Minbya, the team was accompanied by an Indonesian embassy staff member and officers of the Rakhine state administration, who proceeded to Mrauk U in six cars. When they arrived in Mrauk U, they could see that the area was still chaotic in the aftermath of flooding. The 4000 square meter site for an Indonesian Health Center is located between the Site village, which has a Muslim population of 650, and the Nanja village having 1,700 Buddhist inhabitants. MER-C Indonesia has paid Rp17.6 million to the local farmers to compensate the state-owned land. The construction of the health center building is estimated to cost Rp3 billion. For Indonesians interested in extending financial aid for the health centers construction, the Medical Emergency Rescue Committee has opened bank accounts in Bank Central Asia (BCA), with account number 686.028.0009 and in Bank Syariah Mandiri (BSM), with account number 700.1306.833. Earlier, the team had gifted an ambulance to the residents of Rakhine in Sittwe, the states capital. MER-C Indonesia is currently also preparing to inaugurate an Indonesian Hospital in Gaza, Palestine.(*) Source : http://www.antaranews.com/en/news/100318/mer-c-to-open-indonesian-health-center-in-myanmar
MER-C akan Bangun “Indonesia Health Center” di Mrauk U, Myanmar

Usai melakukan serah terima bantuan ambulans untuk masyarakat Rakhine State, dari Sittwe (ibukota Rakhine State), Tim ke-3 MER-C untuk Myanmar atas fasilitasi dari KBRI Yangon bergerak ke Minbya, Jum’at (28/8). Kunjungan ini dilakukan untuk meninjau dan memastikan rencana lokasi pembangunan “Indonesia Health Center” yang telah mendapat respon positif dari pemerintah Myanmar. Bahkan pemerintah Rakhine State, Myanmar telah menyediakan sebidang lahan, tepatnya di wilayah Mrauk U untuk pembangunan sarana kesehatan ini. Selain meninjau lahan untuk “Indonesia Health Center”, Tim MER-C didampingi oleh Staf KBRI Yangon dan Staf Pemerintah Rakhine State juga akan mengunjungi bantuan sekolah yang telah dibangun oleh pemerintah Indonesia di Minbya, dimana sebelumnya pada Februari 2015 dengan donasi dari rakyat Indonesia, MER-C telah menyumbangkan dua unit genset untuk membantu kegiatan belajar mengajar di sekolah ini. Jum’at pagi (28/8), Tim menuju pelabuhan di Sittwe, karena perjalanan ke Minbya harus melalui sungai dan delta sungai menggunakan speedboat selama kurang lebih 3 jam. Tujuan pertama Tim adalah mengunjungi sekolah bantuan dari pemerintah Indonesia. Ada dua unit sekolah yang telah dibangun pemerintah Indonesia di wilayah Minbya. Satu sekolah khusus untuk Budha dan satu sekolah khusus untuk muslim dengan jarak keduanya sekitar 500 meter. Masing-masing bangunan sekolah terdiri dari 2 lantai. Suasana pasca banjir masih terlihat di sana-sini, bahkan sekitar satu minggu lalu bangunan sekolah ini sempat terendam hingga 1 meter akibat bencana banjir yang melanda Myanmar. Anak-anak, baik di sekolah Budha maupun Muslim nampak ceria menyambut kedatangan Tim. Menuju Mrauk U Dari Minbya, Tim bersama Staf KBRI Yangon dan Staf Pemerintahan Rakhine melanjutkan perjalanan menuju Mrauk U yang ditempuh dengan menggunakan enam kendaraan jeep. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 1 jam, tim tiba di Mrauk U. Daerah ini pun masih terlihat porak poranda pasca terjangan bencana banjir. Antara desa Muslim bernama Site berpenduduk sekitar 650 jiwa dan desa Budha bernama Nanja berpenduduk sekitar 1.700 jiwa, pemerintah Rakhine State telah menyiapkan sebidang lahan seluas 4.000 meter persegi untuk lokasi pembangunan “Indonesia Health Center”. Lokasi cukup strategis karena dapat diakses dengan dua sarana moda transportasi, yaitu dipinggir jalan raya Yangon – Sittwe dan di bagian belakangnya terdapat sungai besar yang berfungsi sebagai sungai transportasi. Pembebasan Lahan untuk “Indonesia Health Center” Di Rakhine State, seluruh tanahnya adalah milik negera. Untuk itu, setelah mempertimbangkan lokasi lahan yang cukup strategis dan wilayah ini pun adalah wilayah pasca bencana yang masih sangat membutuhkan adanya sarana kesehatan, maka Tim MER-C langsung melakukan proses pembebasan lahan dengan membayar ganti rugi kepada para petani penggarap. Saat itu juga, proses pembayaran kepada 3 orang petani penggarap lahan sebesar 1,6 juta kyat atau sebesar 17,6 juta rupiah langsung dilakukan di kantor Pemerintah Daerah setempat. “Yang mengusulkan lokasi adalah pemerintah Rakhine State,” ujar dr. Joserizal Jurnalis, SpOT, Ketua Tim ke-3 MER-C untuk Myanmar. “Pertimbangannya adalah di Mrauk U ada komunitas Budha dan Muslim yang bisa hidup berdampingan, walaupun ada juga internal displacement,” tambahnya. Lebih lanjut Joserizal menyampaikan bahwa sekolah Indonesia di Minbya juga menjadi sarana berbaur masyarakat Budha dan Muslim. “Kita berharap Indonesia Health Center pun demikian dan akan menjadi bagian dari humanitarian politics MER-C berikutnya untuk masalah konflik di Myanmar,” imbuhnya. Drs. Ichsan Thalib, anggota Tim dari Divisi Konstruksi MER-C memperkirakan dengan luas lahan 4.000 meter persegi, maka perkiraan biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan fisik “Indonesia Health Center” sekitar 3 Milyar rupiah, belum termasuk peralatan kesehatannya. “Biaya fix akan kami hitung kembali setelah tiba di Jakarta,” ujarnya. Dukungan dan bantuan untuk pembangunan “Indonesia Health Center” dapat disalurkan melalui: Bank Central Asia (BCA), Rek. No. 686.028.0009 Bank Syariah Mandiri (BSM), Rek. No. 700.1306.833 Atas nama Medical Emergency Rescue Committee
Misi Myanmar : MER-C Serahkan Bantuan Ambulans
Menunaikan amanah donasi dari rakyat Indonesia, Kamis (27/8), MER-C menyerahkan bantuan satu unit ambulans jenis Toyota Hiace Super Long Body kepada Chief Ministy of Health of Rakhine State. Serah terima dilakukan di kantor Chief Minister of Rakhine State yang turut dihadiri oleh Duta Besar RI untuk Myanmar DR. Ito Sumardi, dan sejumlah pejabat setempat diantaranya Chief Minister of Rakhine State, Ministry of Boarder Security, Ministry of Transportation, dan Ministry of Health. Bantuan ambulans dibeli oleh Tim MER-C pada bulan Februari 2015, ketika menunaikan misi ke-2 ke wilayah ini. Ambulans senilai 44.000 US dollar didatangkan langsung dari Thailand dan baru tiba di Sittwe, Rakhine State sekitar satu minggu yang lalu. Sementara itu, hari Jum’at ini (28/8), setelah mendapat respon positif dari Pemerintah Rakhine State, Tim MER-C didampingi oleh KBRI Yangon akan berangkat ke Minbya Township untuk meninjau rencana lokasi pembangunan “Indonesia Health Center” dan akan mengunjungi bantuan sekolah yang telah dibangun oleh Pemerintan Indonesia. Dukungan dan bantuan untuk pembangunan “Indonesia Health Center” dapat disalurkan melalui: Bank Central Asia (BCA), Rek. No. 686.028.0009 Bank Syariah Mandiri (BSM), Rek. No. 700.1306.833 Atas nama Medical Emergency Rescue Committee
MER-C Kirim Tim ke-3 ke Myanmar

Jakarta – Sebagai bagian dari komitmen jangka panjangnya, Selasa (25/8), MER-C Indonesia kembali mengirimkan Tim Relawannya ke Rakhine State, Myanmar. Tim yang dikirimkan berjumlah tiga orang relawan, yaitu dr. Joserizal Jurnalis, SpOT selaku Ketua Tim, Drs. Ichsan Thalib dari Divisi Konstruksi MER-C dan dr. Tonggo Meaty Fransisca relawan yang telah mengikuti dua kali misi kemanusiaan ke wilayah ini. Keberangkatan tim ke-3 MER-C ke Rakhine State, Myanmar dimungkinkan setelah adanya izin dari MOFA (Ministry of Foreign Affairs) Myanmar yang pengurusannya difasilitasi oleh KBRI Yangon. Tujuan keberangkatan tim kali ini adalah melakukan serah terima bantuan satu unit ambulans jenis Toyota Hiace Super Long Body donasi dari rakyat Indonesia. Selain itu, Tim juga akan melakukan peninjauan lahan di wilayah Minbya untuk rencana lokasi program pembangunan “Indonesia Health Center”. Dukungan dan bantuan donasi untuk pembangunan “Indonesia Health Center” dapat disalurkan melalui : Bank Central Asia (BCA), Rek. No. 686.028.0009 Bank Syariah Mandiri (BSM), Rek. No. 700.1306.833 Atas nama Medical Emergency Rescue Committee
Ramadhan 2015, MER-C Bagikan 1.000 Paket Sembako dan 500 Paket Ifthar di Gaza

Di bulan suci Ramadhan tahun ini, MER-C Indonesia kembali menyalurkan bantuan dari para donator di Indonesia yang masuk melalui rekening amanah khusus kemanusiaan Gaza. Bantuan yang diberikan berupa 1.000 paket sembako ditambah 500 paket ifthar (buka puasa) yang ditujukan bagi para anak yatim di Gaza. Kegiatan ini dilakukan langsung oleh 4 relawan MER-C Indonesia yang masih melanjutkan tugas di Jalur Gaza, Palestina mempersiapkan Grand Opening RS Indonesia. Menurut dr. Henry Hidayatullah, Ketua Presidium MER-C, “Kegiatan ini dilakukan selain dalam rangka menyalurkan amanah donasi dari para donator, juga membantu rakyat Gaza yang mengalami kondisi terblokade darat, laut dan udara yang menjadi lebih sulit pasca perang 51 hari lalu. Dengan adanya bantuan ini, kami berharap bisa sedikit meringankan beban penderitaan saudara-saudara kita di sana, sebagaimana amanah yang kami terima.” Koordinator program Ramadhan 2015 yang juga Site Manager RS Indonesia, Ir. Edy Wahyudi mengatakan bahwa pembagian 1.000 sembako mulai dilakukan secara bertahap sejak hari Selasa lalu. “Pada tanggal 7 bulan 7 pukul 7 waktu setempat, persiapan kami lakukan untuk memulai pembagian paket sembako. Tim relawan yang masih tersisa sebanyak 4 orang dibagi menjadi 2 tim yang menyalurkan bantuan sembako kepada warga yang berhak menerimanya di berbagai wilayah di Jalur Gaza. Paket sembako yang berisi beras 5 kg, daging kornet 4 kaleng, gula pasir 3 kg, saos tomat 2 kaleng besar, broad beans/kacang kara oncet 3 kaleng, kacang fudi (fuul) 1 kaleng, macaroni besar 2 bungkus, macaroni golda 1 bungkus, macaroni filiz 1 bungkus, kacang adas 1 bungkus, kacang humus 1 bungkus, kacang fasuliah 1 bungkus, teh celup 1 kotak besar, dan mentega (samnah) 1 kaleng diangkut dengan menggunakan 3 kendaraan operasional truk terbuka, mobil box dan mobil operasional RS Indonesia. “Alhamdulillah seluruh paket telah selesai tersalurkan ke berbagai tempat yang berhak menerimanya, kepada para anak-anak yatim dan fakir miskin baik di Gaza bagian Utara hingga ke wilayah Gaza bagian Selatan,” jelas Ir. Edy Wahyudi yang sudah tiga kali bertugas di Jalur Gaza untuk memimpin program pembangunan RS Indonesia. 500 Anak Yatim dan Janda Para Syuhada Berbuka Puasa Bersama di RS Indonesia Sementara itu paket bantuan ifthar (buka puasa) dilakukan dengan mengundang 500 anak yatim untuk berbuka puasa bersama di RS Indonesia, Kamis (9/7). Relawan Indonesia yang mempersiapkan 4 bus besar untuk membawa seluruh para anak yatim dari berbagai wilayah di Jalur Gaza ke lokasi RS Indonesia yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina. “Kami mempersiapkan 600 kursi yang disusun di depan RS Indonesia dan Alhamdulillah hampir semuanya terisi penuh oleh anak-anak yatim yang didampingi oleh ibunda atau keluarga mereka,” tutur Ir. Edy Wahyudi. Sekitar 30 menit sebelum adzan maghrib, atau sekitar jam 19.30 waktu setempat, para anak yatim sudah berkumpul di RS Indonesia. Sejumlah menu berbuka puasa terbaik yang ada di Gaza telah disiapkan oleh para relawan untuk menyambut mereka. “Kami menyiapkan kurma-kurma dengan kualitas terbaik (kurma Ajwa), sebotol minuman dalam kondisi dingin, satu nampan makanan Dajaj untuk 2 – 3 orang/nampan (makanan khas Arab dengan nasi bercampur bumbu khas dan satu ekor ayam/nampan), sebotol juz buah kualitas terbaik, Laban (sejenis susu yang sudah difermentasi dalam keadaan dingin) dan ditutup dengan Halawiyat (kue kacang dengan berbalut bahan serabut gandum),” ungkap Ir. Edy. Tidak hanya itu, sebelum pulang anak-anak juga diberikan satu paket oleh-oleh berisi berbagai macam snack, permen, cokelat dan makanan lainnya yang disukai anak-anak Gaza yang dikemas dalam plastik bergambar RS Indonesia. Hari itu RS Indonesia benar-benar semarak dan dipenuhi oleh keceriaan anak-anak Gaza. Terima kasih kepada para donator yang telah menyisihkan rizkinya sehingga kegiatan-kegiatan seperti ini bisa berlangsung. MER-C melalui relawan-relawannya yang bertugas di Jalur Gaza, siap menyalurkan amanah donasi dari para donator untuk berbagai program kemanusiaan di Jalur Gaza. Rekening Kemanusiaan Gaza, Palestina : BCA, 686.033.5555 Bank Mandiri, 124.000.3753754 BSM, 700.290.5803 Semua rekening atas nama: Medical Emergency Rescue Committee
MER-C Adakan Lomba Gambar RS Indonesia dan Tahfidz Qur’an di Gaza

Seiring telah selesainya pembangunan RS Indonesia dan akan rampungnya proses pengadaan alat kesehatan RS Indonesia yang sudah mencapai hampir 90%, MER-C akan segera melakukan serah terima RS Indonesia kepada rakyat Gaza, Palestina. Segala persiapan menuju momentum bersejarah ini tengah dilakukan. Mengawali rangkaian acara menuju serah terima RS Indonesia, MER-C melalui cabangnya di Jalur Gaza, Palestina akan mengadakan lomba-lomba yang diperuntukkan bagi anak-anak di Jalur Gaza. Ada dua lomba yang akan dipertandingkan, yaitu lomba menggambar bangunan RS Indonesia dan lomba tahfidz Al Qur’an yang terbuka bagi anak-anak mulai tingkat pendidikan SD hingga SMU. Pengumuman lomba telah diiklankan di harian berbahasa Arab di Gaza, yaitu koran Palestina, yang terbit pada hari Minggu (7/6) lalu. Sejak adanya pengumuman tersebut, anak-anak di Jalur Gaza mulai berdatangan ke lokasi Rumah Sakit Indonesia untuk mendaftarkan diri mereka menjadi peserta. Rangkaian lomba dijadwalkan akan diselenggarakan pada tanggal 13 dan 14 Juni 2015 mendatang, bertempat di Rumah Sakit Indonesia yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina. Lomba terdiri dari menggambar bangunan RS Indonesia untuk anak-anak di bawah usia 15 tahun serta tahfidz Al Qur’an juz 30 untuk anak-anak usia di bawah delapan tahun. Rencananya acara akan dibuka oleh Syaikh Dr. Abdurrahman Al-Jamal, Pimpinan Ma’had Tahfidz Darul Qur’an Karim Wa Sunnah Gaza. “Kelak anak-anak usia SD hingga SMU yang menjadi target peserta dari lomba ini akan mengingat event bersejarah ini, sehingga nama Indonesia akan tersimpan dalam ingatan dan hati mereka,” ujar Muqarrabin Al Fikri, Ketua MER-C Cabang Gaza.
Tertunda 2 bulan, Peralatan Fisioterapy dan USG Akhirnya Tiba di RS Indonesia

Gaza – Satu persatu alat kesehatan berdatangan di RS Indonesia (RSI). Alat yang baru saja tiba setelah terlambat hampir dua bulan adalah peralatan Fisioterapy dan USG. “Alamdulillah atas ijin Allah peralatan Fisioterapy dan USG RS Indonesia akhirnya tiba,” ungkap Ir. Edy Wahyudi, Site Manager RSI dengan penuh rasa syukur. Peralatan tersebut terdiri dari peralatan fisioterapy produk Enraf Holland sejumlah 11 unit dari total kontrak sejumlah 13 unit yang tiba pada tanggal 25 Mei 2015 dan peralatan USG produk Philips sejumlah 2 unit yang tiba pada tanggal 3 Juni 2015 lalu. Edy memaparkan bahwa kedatangan peralatan tersebut seharusnya maksimal pada tanggal 10 April 2015, akan tetapi alat ini baru tiba di RSI pada tanggal 3 Juni 2015 atau mengalami keterlambatan hampir dua bulan. “Sebelumnya kami merasa kecil hati bahwa peralatan tersebut akan tiba di RSI mengingat kondisi supplier yang memasok alat ini mengalami goncangan krisis keuangan perusahaan yang cukup parah akibat situasi secara global Palestina,” tambah relawan yang sudah 3 kali bertugas di Gaza, Palestina menunaikan amanah pembangunan RSI. /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Sementara itu, dr. Arief Rachman, anggota Tim Pengadaan Alat Kesehatan RSI Gaza menjelaskan bahwa 2 unit alat USG RSI terdiri dari alat fixed dan portable. USG utama akan ditempatkan di ruang poliklinik RSI untuk melayani kasus rawat jalan dan pasien rawat inap. “Alat USG dengan klasifikasi multipurpose ini mampu melakukan pemeriksaan dasar seperti abdomen (perut), hingga yang advance seperti Doppler vascular, Echocardiography dan small parts (payudara, tiroid),” terangnya. “Sedangkan alat USG portable dengan kemampuan yang sama akan ditempatkan di ruang IGD RSI untuk mendukung diagnosis trauma. Pemeriksaan real time pada kasus cedera organ dalam seperti liver, limpa atau ginjal menjadi krusial untuk menentukan penanganan pasien apakah akan dioperasi atau konservatif,” ungkapnya. Dokter yang tengah menjalani pendidikan Kedokteran Spesialis Radiologi di FKUI ini juga memaparkan bahwa pemeriksaan emergensi lain semisal adanya cairan bebas di rongga paru atau sumbatan pada sistem pembuluh darah tungkai juga bias diperiksa dengan alat USG ini Dengan kedatangan alat Fisioterapy dan USG ini, hampir 90% alat kesehatan RSI telah terpenuhi. Sisanya masih dalam proses pemesanan dan perizinan, yaitu peralatan untuk Bank Darah, Laboratorium dan Kamar Jenazah, yang diharapkan bisa segera selesai waktu dekat.