Dua Alat Canggih untuk Ruang Radiologi Tiba di RS Indonesia

Sempat tertunda selama 3 minggu akhirnya alat CT Scan dan X-Ray untuk melengkapi Ruang Radiologi tiba di RS Indonesia, Gaza, Palestina. Informasi ini disampaikan oleh Site Manager RS Indonesia, Ir. Edy Wahyudi via pesan singkat, Sabtu (23/5). Salah seorang anggota tim pengadaan alat kesehatan RS Indonesia yang selama ini memberikan pengarahan dan panduan bagi relawan di Gaza untuk pemesanan seluruh paket alat kesehatan RS Indonesia, dr. Arief Rachman, menjelaskan bahwa alat CT Scan yang ada di RS Indonesia adalah CT Scan 128 slices yang memiliki kecepatan dan resolusi tinggi. “Untuk Rumah Sakit Traumatologi seperti RS Indonesia, kecepatan dan resolusi tinggi itu nomor satu. Makin cepat, makin baik. Hasil gambar makin bagus, maka diagnosis akan makin tajam,” ungkapnya. “CT Scan ini multipurpose, bisa untuk pemeriksaan dasar mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki pada kasus trauma dan non-trauma, pemeriksaan jantung (CT Cardiac) atau evaluasi pembuluh darah (CT Angiografi). Ditambah dengan kemampuan rekonstruksi 3 dimensi, kami harap klinisi mendapat manfaat yang besar dari mesin ini,” tambah relawan yang sudah dua kali bertugas ke Gaza, Palestina, pada 2009 dan 2010. Relawan yang tengah menempuh Pendidikan Kedokteran Spesialis Radiologi di FKUI ini juga memaparkan bahwa alat X-Ray RS Indonesia adalah X-Ray fluoroskopi. “Untuk radiologi konvensional, kami melengkapi mesin X-Ray dengan RF system atau fluoroskopi. Sistem ini digital. Pemeriksaan bisa dilihat secara real-time, langsung terhubung ke monitor dan direkam sehingga sangat bermanfaat untuk mengevaluasi pergerakan saluran nafas, saluran cerna atau jantung. Karena digital, tidak diperlukan kaset. Seluruh gambar dikirim ke printer dan dicetak ke film. Praktis karena tidak menggunakan lagi kamar gelap.” “Dengan donasi yang kami terima dari rakyat Indonesia, kami ingin memberi yang terbaik untuk RS Indonesia, untuk rakyat Gaza,” tambahnya.
Proses Pemasangan Lapisan Timbal di Ruangan Radiologi RS Indonesia Akhirnya Selesai

Setelah melalui perjuangan yang cukup sulit dan memakan waktu panjang, Site Manager RS Indonesia, Ir. Edy Wahyudi menyampaikan bahwa proses pemasangan lapisan timbal di ruang Radiologi RS Indonesia untuk menahan radiasi dari mesin X-Ray dan CT Scan akhirnya selesai. Proses pemasangan timbal dilakukan sendiri oleh para relawan RS Indonesia. Hal ini berdasarkan pertimbangan para relawan yang saat ini masih bertugas di Gaza memiliki kemampuan untuk mengerjakannya dan dengan cara ini biaya bisa menghemat biaya hingga mencapai 50%. Ada cerita dan perjuangan tersendiri untuk pengadaan timbal ini. Sebagai sebuah wilayah terblokade, para relawan sudah sekian lama merasa kesulitan untuk mendapatkan stok timbal. Namun dengan kesabaran dan upaya keras tak kenal menyerah dari para relawan, akhirnya timbal bisa didapat. “Alhamdulillah atas karunia dan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala kami mendapatkan Lead (red : timbal). Saya sendiri merasa seperti dalam mimpi mendapatkan ini mengingat begitu sulitnya berbagai jalur yang telah kami coba. Alhamdulillah yaa Rabb,” ungkap Ir. Edy Wahyudi Lebih lanjut Ir. Edy menginformasikan bahwa Kementerian Kesehatan setempat juga sudah datang ke RS Indonesia dan melakukan pengecekan langsung terhadap ruangan Radiologi RS Indonesia. “Mereka menyatakan hasil pemasangan timbal baik dan sudah sesuai dengan standar yang berlaku di Jalur Gaza. Pengecekan akan dilakukan kembali oleh Kementerian setelah mesin X-Ray dan CT Scan terpasang untuk mendeteksi apakah masih ada kebocoran atau tidak,” tambahnya.
Satu Lagi Masjid di Jalur Gaza Selesai Direnovasi

Relawan MER-C di Jalur Gaza selesaikan lagi renovasi satu buah masjid yang hancur akibat agresi Israel 51 hari yang lalu. Namanya masjid Ash Sholah, terletak di wilayah Jabaliya, Gaza Utara. Jabaliya berjarak 4 kilometer (2,5 mil) Utara kota Gaza. Saat perang lalu jenazah syuhada sebagian besar ditemukan di wilayah utara Jalur Gaza, tepatnya di distrik Beit Hanun dan Jabaliya. Kondisi masyarakat Jabaliya yang padat penduduk dan sebagian besar miskin membuat mereka belum dapat memperbaiki dan menggunakan masjid tersebut secara penuh karena adanya kerusakan di sana-sini. Setelah dilakukan pengecekan langsung ke lokasi masjid oleh para relawan Indonesia di Gaza, para relawan mengajukan permintaan material untuk perbaikan masjid ini berupa: seng atap seluas 400 m2, karpet seluas 360 m2, semen 20 sak, blok/batako 200 buah dan pasir 1 truk. Dengan donasi yang masuk untuk amanah Kemanusiaan Gaza, MER-C Pusat menyalurkan donasi rakyat Indonesia untuk pembelian material bagi perbaikan masjid ini. Pengurus Masjid Ash Sholah Ucapan Terima Kasih Unik dalam Bahasa Indonesia Setelah renovasi selesai yang memakan waktu sekitar 1 minggu, pengurus Masjid Ash Sholah mengundang para relawan MER-C di Gaza dalam acara syukur mereka kepada Allah SWT. Dalam acara tersebut, salah seorang Imaam Sholat Masjid Ash Sholah yaitu Abu Bilal memberikan sambutan dan kemudian memberikan Plakat Penghargaan dan ucapan terima kasih kepada rakyat Indonesia yang telah membantu memperbaiki masjid tempat mereka meletakkan dahi, kedua tangan, lutut, dan kaki ke bumi, tempat melabuhkan hati, memohon keridaan dan pertolongan Allah SWT selama ini. Yang unik adalah mereka berusaha keras menulis plakat dalam bahasa Indonesia. Saat para relawan menanyakan kenapa harus bersusah payah dengan bahasa Indonesia, maka salah seorang pengurus menjawab hal ini mereka lakukan agar pesan mereka bisa langsung dipahami oleh rakyat Indonesia melalui MER-C. Berikut bunyi plakat di bawah bendera Indonesia dan Palestina tersebut : PENGHAR GAAN G UCAPAN TERIMA KASIH Bismillahirrahmanirrohim Keluarga besar masjid ash-sholah di kota Jabaliya men gucapkan terima kasiit kepada rakyat Inbonesia ban dan khususnya yayasan Mer-C, juga kepada relawan inbonesla dl Gaza atas kerja kerasnya dalam memperbalkl masjid Ash Sholah. Sesungguh Allah yang maha menghendakl. Keluarga besar Masjid Ash-Sholah. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua donatur yang telah mempercayakan donasinya melalui MER-C. Teriring doa semoga donasi yang diberikan menjadi amal baik yang terus mengalir bagi para donatur selama masjid ini dimanfaatkan oleh saudara-saudara kita di Gaza, Palestina.
MER-C Terus Pantau Progres Pengadaan Alat Kesehatan RS Indonesia

Meski terpisah jarak yang jauh dan izin yang sulit untuk mengirimkan tambahan relawan khususnya dengan keahlian Medis dan juga Medical Technologist, namun hal ini tidak menjadi penghalang proses pengadaan Alat Kesehatan RS Indonesia. Proses ini tetap dijalankan dengan cara memberikan pengarahan jarak jauh kepada para relawan yang ada di Gaza untuk melakukan survey dan kesepakatan-kesepakatan dengan supplier alat kesehatan lokal. MER-C juga secara rutin memantau dan mendampingi relawan di Gaza mulai dari proses pemilihan dan penentuan alat dan supplier, pemesanan, pengecekan, pembayaran, hingga penginstallan alat-alat serta pelatihan bagi para tenaga lokal yang nantinya akan menggunakan peralatan tersebut. Bukan hal yang mudah awalnya, terlebih relawan yang kini masih bertugas di Gaza adalah relawan dengan keahlian bidang konstruksi. Namun dengan dedikasi dan semangat belajar yang tinggi, semua kendala yang mulanya terasa sulit dapat diatasi. Selain via email, media komunikasi yang rutin digunakan antara Tim alat Kesehatan di MER-C Pusat Jakarta dengan para relawan di Gaza adalah melalui skype. Komunikasi via skype ini dilakukan minimal satu kali dalam seminggu. Hal ini untuk memantau kondisi para relawan dan tentunya progress program-program MER-C di Gaza, Palestina seperti program RS Indonesia dan Pengadaan alat kesehatannya, program pembangunan Wisma Rakyat Indonesia, dan Penyaluran bantuan kemanusiaan yang seluruhnya merupakan amanah dari rakyat Indonesia untuk Palestina. Seperti Rabu (6/5) lalu, Tim MER-C Jakarta kembali melakukan komunikasi via skype dengan salah satu perwakilan relawan di Gaza, yaitu Ir. Edy Wahyudi. Dalam komunikasi tersebut, Ir. Edy Wahyudi mengabarkan bahwa seluruh relawan dalam kondisi baik dan sehat. Selanjutnya Ir. Edy Wahyudi yang sudah tiga kali bertugas di Gaza juga melaporkan proses pengadaan Alat Kesehatan RS Indonesia masih terus berjalan, namun belum ada alat lagi yang tiba di RS Indonesia. Berdasarkan komunikasi intensifnya dengan para supplier alat kesehatan di Gaza, alat-alat kesehatan yang telah dipesan RS Indonesia masih dalam proses pengiriman dengan status yang beragam seperti: dalam perjalanan dengan kapal laut, proses perizinan untuk masuk ke Gaza dan ada juga peralatan yang sudah mendapat izin namun masih menunggu antrian untuk bisa masuk ke Gaza.
Warga Korban Gempa Nepal Antusias Datangi Posko Pengobatan MER-C WANADRI

Tiba di distrik Sindhupalcowk pada Kamis (7/5) sore, Jum’at (8/5) paginya Tim MER-C dan WANADRI langsung menggelar posko pengobatan bagi warga korban gempa. Pada hari pertama, posko pengobatan diadakan di wilayah Keurini. Keurini berada di ketinggian 1.800 mdpl. Gempa dahsyat yang menerjang Nepal membuat sembilan puluh persen bangunan di wilayah ini hancur. Kegiatan pengobatan pun diadakan di sebuah bangunan sekolah yang sebagian bangunannya sudah hancur karena gempa. Warga Keurini sangat antusias mendatangi posko pengobatan yang diadakan Tim MER-C dan WANADRI. Sejak posko dibuka, warga sudah terlihat antri untuk mendapat pengobatan bagi penyakit dan luka-luka yang mereka derita akibat terkena atau tertimpa reruntuhan bangunan. Banyak tindakan medis yang dilakukan Tim pada hari ini. Jumlah pasien tercatat mencapai 140 orang dengan kasus terbanyak adalah Neglected Lacerated Wound, Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), dan diare infeksi. Selama berada di Keurini, gempa susulan kerap terasa. Setidaknya ada tiga kali gempa susulan yang terjadi seperti yang dilaporkan Islamiyah Samaun, salah satu relawan dalam Tim ini, “Gempa susulan terus-terusan terjadi. Hari ini saja sudah tiga kali. Malam besar sekali, pagi tidak terlalu besar, dan siang kembali besar sekali.” Tim MER-C WANADRI berencana menetap satu hari di Keurini dan akan menginap dalam tenda yang telah dibangun di tanah lapang depan bangunan sekolah tempat posko pengobatan. Besok Tim akan bergerak pindah ke daerah lain di Sindhupalcowk yang belum tersentuh bantuan medis. “Besok kami akan pindah lagi ke daerah lain yang lebih tinggi, kira-kira di ketinggian 2.000 mdpl,” tutur Islamiyah, anggota Tim yang bertugas di bagian logistik medis. “Mohon doakan kami semoga selalu diberi kemudahaan dan kesehataan semuanya untuk membantu warga korban gempa di sini,” tambahnya.
Tim MER-C WANADRI Bergerak ke Wilayah Gempa Terparah Lainnya di Nepal

Setelah Dhunche yang telah ditangani medisnya oleh militer setempat, Kamis (7/5), Tim MER-C WANADRI yang terdiri dari sembilan orang relawan bergerak ke wilayah gempa terparah lainnya di Nepal, yaitu Sindhupalcowk. Tim mulai bergerak ke Sindhupalcowk sejak Kamis pagi dengan membawa bantuan obat-obatan, alat medis dan juga tenda besar untuk pengobatan. Sindhupalchok adalah kota yang terletak di barat laut Kathmandu. Untuk mencapainya dibutuhkan waktu enam jam perjalanan darat (mobil) dari Kathmandu, dan untuk mencapai desa-desa di wilayah ini diperlukan waktu tempuh tiga jam lagi perjalanan mobil dari Sindhupalcowk. Wilayah Sindhupalcowk menjadi tujuan Tim MER-C WANADRI berikutnya dalam misi kemanusiaan ini atas hasil koordinasi dan negosiasi tim dengan Kepala Rumah Sakit Kantipur di Kathmandu. Info dari Kepala RS Kantipur, dr. Budhiman, distrik Sindhupalcowk merupakan salah satu wilayah korban gempa terparah. Dokter asli Nepal ini mengarahkan tim MER-C WANADRI untuk menuju desa Helembu, salah satu desa di wilayah Sindhupalcowk. Di desa inilah tim akan dapat melakukan aktifitas medis dan menjangkau desa-desa sekitar, meliputi; Gumba vos, Golche vos, Parangtang, desa-desa di distrik Sindupalcowk yang belum tersentuh bantuan medis. Untuk mempermudah kegiatan tim di lapangan nanti, Kepala RS Kanthipur telah mengeluarkan izin tertulis bagi tim MER-C WANADRI melakukan aktifitas medis di Sindhupalcowk. Satu orang lokal sebagai guide juga disiapkan untuk mendampingi dan membantu tim berkomunikasi dengan warga setempat.
Tim MER-C WANADRI Tiba di Sindhupalcowk

Jum’at (8/5), seorang anggota tim MER-C WANADRI untuk Nepal, Dadang Mokhamad Rizal mengabarkan bahwa tim telah tiba Sindhupalcowk pada hari Kamis pukul 5 sore. Namun informasi ini baru diterima MER-C Pusat Jakarta pada hari Jum’at pagi tadi dikarenakan sulitnya sinyal di wilayah tersebut. “Kita tim sudah sampai Sindhupalcowk kemarin sekitar jam 17.00, camp kita tidak bersignal untuk dapat singnal harus berjalan sejauh 1 km naik ke atas bukit,” info Dadang dalam pesan singkatnya. Rencananya, tim MER-C WANADRI yang terdiri dari Sembilan orang relawan medis dan rescue akan melakukan aktifitas medis di Sindhupalcowk dan sekitarnya selama tujuh hari ke depan hingga tanggal 14 Mei 2015. Tanggal 15 Mei 2015, Tim direncanakan kembali ke Kathmandu karena izin aktifitas untuk pelayanan medisnya ini efektif selama tujuh hari.
Sejumlah Alat Kesehatan Berdatangan di RS Indonesia

Sejumlah alat kesehatan yang telah dipesan MER-C untuk melengkapi RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina, mulai berdatangan. Alat yang sudah tiba dan memenuhi RS Indonesia adalah 4 unit meja operasi, 10 unit ventilator, nebulizer dan beberapa instrument bedah. Alat-alat ini adalah alat kesehatan untuk mengisi ruang operasi dan ICU RS Indonesia. Bahkan pada hari Ahad (19/4) dan Senin (20/4) lalu, telah tiba juga sebanyak total 90 unit ranjang pasien. Seluruh unit ranjang pasien ini telah dirakit dan ditempatkan oleh para relawan di ruang rawat inap yang terletak di lantai 2 RS Indonesia. Berdasarkan laporan dari Ir. Edy Wahyudi, Site Manager RS Indonesia, melalui komunikasi skype, alat lainnya yang diharapkan akan segera tiba di RS Indonesia adalah X-Ray dan CT Scan yang akan memenuhi Ruangan Radiologi RS Indonesia. Menurut informasi dari supplier alat kesehatan tersebut, kedua alat ini telah tiba di pelabuhan dan menunggu proses perizinan masuk dari Israel yang diprediksi akan memakan waktu 1 hingga 2 minggu ke depan. Sementara peralatan yang masih dalam perjalanan dengan kapal laut adalah instrument-instrumen bedah. Sedangkan alat-alat lainnya seperti paket perlengkapan ruang operasi dan beberapa paket furnitur rumah sakit sebenarnya telah mendapat izin, namun masih menunggu antrian untuk bisa masuk ke Gaza. MER-C melalui cabangnya di Jalur Gaza juga sudah melakukan pemesanan dua unit ambulans untuk kendaraan operasional RS Indonesia. Kedua unit ambulans dipesan dari Mesir dan saat ini masih berada di Mesir menunggu proses perizinan masuk ke Gaza. Kedatangan Alat Kesehatan RS Indonesia Lambat dari Jadwal Kedatangan alat-alat kesehatan memang lebih lambat dari jadwal yang sebelumnya diperkirakan. Sejak penandatanganan kontrak pengadaan alat kesehatan RS Indonesia pada 23 November 2014 lalu, yang dilakukan oleh Ir. Edy Wahyudi, Site Manager RS Indonesia di Gaza dengan beberapa supplier setempat, peralatan kesehatan diperkirakan akan datang pada 6 – 7 pekan setelahnya. Sehingga saat itu MER-C sempat berencana untuk melakukan serah terima dan pembukaan RS Indonesia pada bulan Februari 2015. Namun kondisi perbatasan yang belum dibuka secara penuh dan proses perizinan masuk ke Gaza yang cukup sulit menyebabkan tertundanya kedatangan alat-alat kesehatan ini. Hal ini seperti yang diungkapkan Ketua MER-C Cabang Gaza, Muqorrobin Al Fikri. “Seharusnya ranjang pasien dijadwalkan datang pada akhir Januari yang lalu. Namun proses pengurusan dan perizinan masuk ke Jalur Gaza cukup rumit dan sulit, sehingga tertunda lebih dari dua bulan,” terangnya. Rencana Serah Terima dan Grand Opening RS Indonesia Ketua Presidium MER-C, dr. Henry Hidayatullah mengatakan bahwa melihat perkembangan situasi di lapangan, khususnya progress kedatangan alat kesehatan RS Indonesia, maka MER-C kembali berencana untuk melakukan serah terima sekaligus Grand Opening RS Indonesia pada bulan Juni 2015 mendatang. Segala hal terkait dengan persiapan Grand Opening RS Indonesia tengah dilakukan khususnya koordinasi dengan pihak-pihak terkait baik di Jakarta, Mesir maupun Palestina. “Kami mohon doa dari rakyat Indonesia agar seluruh proses ini diberi kelancaran dan RS Indonesia bisa segera beroperasionalisasi untuk memberikan pelayanan medis bagi rakyat Gaza yang membutuhkan seperti yang selama ini kita harapkan bersama,” ungkap dr. Henry.
Tim I MER-C WANADRI Bergerak ke Lokasi Gempa Terparah di Nepal

Hari ini, Selasa (5/5) pukul 10.00 waktu setempat, Tim MER-C WANADRI mulai bergerak ke lokasi gempa terparah di Nepal. Untuk efektifitas kerja, tim dibagi menjadi dua. Tim pertama yang terdiri dari 5 relawan, yaitu 1 dokter spesialis, 1 perawat bedah, 1 logistik, 1 rescue dan 1 pendata, hari ini bergerak ke wilayah Lalitpur yang berjarak sekitar 1,5 jam dari kota Kathmandu. Mereka akan melakukan assessment dan pelayanan medis bagi para korban gempa di wilayah ini. Sementara Tim kedua yang terdiri dari 4 relawan, yaitu 1 dokter umum dan 3 rescue bergerak menuju Dhunche yang terletak di sebelah utara Kathmandu. Dhunche merupakan wilayah terparah akibat gempa dengan jumlah korban lebih dari 3.000 jiwa. Dhunche terletak di Distrik Rasuwa, Zona Bagmati, Nepal. Kota ini berjarak sekitar 90 km dari Kathmandu yang biasanya ditempuh dalam waktu sekitar 5 jam perjalanan darat . Dhunche dipilih sebagai salah satu wilayah kerja Tim MER-C WANADRI karena berdasarkan informasi yang diterima Tim, di wilayah ini terdapat empat desa yang hancur total akibat gempa, yaitu Ramche, Gerang, Thade dan Bokehunda yang berjarak sekitar 10 km sebelum Dhunche. Desa terparah terkena dampak gempa adalah desa Ramche dan di desa ini belum terdapat listrik. Bahkan sampai saat ini dikabarkan belum ada bantuan medis yang masuk ke desa-desa tersebut. Di Dhunche juga terdapat Rumah Sakit Tentara dan Sarana Kesehatan milik Pemerintah, namun belum beroperasi karena tidak adanya tenaga medis dan obat-obatan. Selain itu, letak Dhunche berdekatan dengan Lantang, kota yang terkubur oleh reruntuhan gunung Everest akibat gempa dahsyat pada Sabtu (25/4) lalu. Untuk itu, selama 2 – 3 hari ke depan, Tim MER-C WANADRI akan melakukan mobile clinic (pelayanan medis keliling) dan juga assessment untuk mempelajari apakah di wilayah ini memungkinkan untuk dilakukan tindakan operasi bedah bagi para korban gempa sekaligus mengidentifikasi korban-korban yang ada. Informasi ini sangat penting untuk mempersiapkan kedatangan Tim berikutnya yang akan terdiri dari para Ahli Bedah. Bantuan untuk korban bencana gempa bumi di Nepal dapat disalurkan melalui: BNI Syariah, No. Rek. 08.111.92995 BCA, No. Rek. 686.028.0009 An. Medical Emergency Rescue Committee
Tim Pertama MER-C WANADRI Tiba di Nepal

Sembilan orang relawan yang tergabung dalam Tim Pertama MER-C dan WANADRI telah tiba dengan selamat di Kathmandu (Nepal), Senin (4/5) siang waktu setempat. Sempat mengalami dua kali transit, yaitu di Kuala Lumpur (Malaysia) dan Dhaka (Bangladesh), Tim akhirnya bisa mendarat di Kathmandu, Ibukota Nepal. Dari Bandara, Tim langsung bertemu dengan Duta Besar RI untuk Bangladesh dan Nepal, Iwan Wiranataatmadja guna mendapatkan informasi terkini mengenai pemetaan medan dan penyaluran bantuan. “Alhamdulillah Tim sudah sampai di Kathmandu. Dijemput oleh Konjen RI. Dari Bandara kami bertemu dengan Dubes RI untuk Bangladesh dan Nepal. Alhamdulillah sudah banyak info yang kami terima untuk penyusunan rencana kerja Tim besok,” ungkap Saleh Sudradjat, Ketua Tim Pertama MER-C dan WANADRI via pesan singkat yang diterima pada hari Senin (4/5) pkl 15.44 wib. Pada hari yang sama, Tim juga melakukan koordinasi dengan BNPB (Badan Nasional Penaggunglangan Bencana) yang sudah berada di Nepal mengenai daerah mana saja yang mampu terjangkau dan memungkinkan Tim Medis MER-C bekerja dengan efektif di lokasi. Tim Pertama MER-C dan WANADRI bertolak ke Nepal pada hari Senin (4/5) pukul 04.40 pagi. Tim yang terdiri dari dokter spesialis penyakit dalam, dokter umum, perawat bedah, logistik, SAR dan dokumentasi ini mempunyai target kegiatan untuk melakukan assessment Rumah Sakit yang masih bisa digunakan untuk operasi dan identifikasi korban gempa yang memerlukan tindakan operasi. Halini dalam rangka mempersiapkan kedatangan Tim Kedua yang akan terdiri dari para Ahli Bedah. Selain assessment, tim pertama ini juga akan melakukan pengobatan dengan sistem mobile clinic untuk menjangkau wilayah gempa terpencil yang belum mendapatkan bantuan medis. Bantuan untuk korban bencana gempa bumi di Nepal dapat disalurkan melalui: BNI Syariah, No. Rek. 08.111.92995 BCA, No. Rek. 686.028.0009 Atas Nama Medical Emergency Rescue Committee Info : Call Center MER-C 0811 99 0176