MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Israel Lancarkan Serangan Besar-besaran ke Jalur Gaza

Gaza – “Gaza diserang besar-besaran, malam ini, mulai dari selatan hingga utara Jalur Gaza. Israel luncurkan perang kali ini dengan Sandi “The Solid Rock”. Sementara Hamas menamakanya “Intifadhah Al Quds”. Teman-teman relawan alhamdulillah dalam keadaan baik. Mohon doanya,” tulis Ir. Nur Ikhwan salah satu relawan Indonesia di Gaza dalam pesan singkat yang diterima MER-C Pusat Jakarta pagi ini, Selasa (8/7).  MER-C Gaza menambahkan bahwa sebuah serangan juga terjadi tidak jauh dari lokasi Rumah Sakit Indonesia, Bayt Lahiya, Gaza Bagian Utara. Menyusul serangan yang meningkat ke seluruh wilayah Jalur Gaza beberapa waktu terakhir, hari ini MER-C Pusat Jakarta mengirimkan dana sebesar Rp 200juta ke Gaza yang terkumpul dari donasi masyarakat Indonesia untuk Kemanusiaan Gaza. Melalui Cabang MER-C yang sudah resmi berdiri di Gaza sejak tahun 2010, donasi tersebut akan disalurkan secara langsung oleh para relawan Indonesia di Gaza yang saat ini berjumlah 19 orang dalam 4 program di bulan Ramadhan, yaitu: 1. Memberikan bantuan sembako untuk korban agresi Israel 2. Memberikan bantuan sembako untuk keluarga dhuafa 3. Berbuka puasa bersama dengan anak yatim di Gaza 4. Berbuka puasa bersama keluarga dhuafa (langsung mendatangi rumah-rumah dhuafa). Program ini Inshallah Akan dilaksanakan Oleh relawan Indonesia, yang saat ini sedang melaksanakan penyelesaian pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza Palestina. Donasi untuk amanah Kemanusiaan Gaza: BSM, 700.2905.803 A/n. Medical Emergency Rescue Committee Donasi untuk Alat Kesehatan RS Indonesia di Gaza: •BCA, 686.0153678 •BSM, 700.1352.061 •BNI SYARIAH, 08.111.929.73 •BRI, 033.501.0007.60308 •BMI, 301.00521.15 •Mandiri, 124.0008111925 An. Medical Emergency Rescue Committee        

SETIBANYA DI GAZA KE 15 RELAWAN INDONESIA SEGERA BEKERJA

Gaza – Sejumlah 15 orang relawan Indonesia yang tergabung dalam Medical Emergency Rescue Comiittee (MER-C) telah memulai pekerjaan pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina sehari setalah kedatangan mereka, Senin (30/6). Pekerjaan difokuskan kepada penyelesaian pekerjaan listrik dan AC pada bangunan utama serta pekerjaan Wisma Rakyat Indonesia yang terletak di belakang bangunan utama.   “Untuk pekerjaan mekanikal elektrikal di bangunan utama akan kita fokuskan kepada instalasi transformer di ruangan operasi, kemudian menyelesaikan saluran air di ruangan sterilisai dan penyelesaian pekerjaan AC,” ujar Koordinator Lapangan bidang Mekanikal Elektrikal RS Indonesia, Karidi Abu Hanifah, relawan yang telah dua kali bertugas ke Gaza, Palestina.    Karidi juga berharap Tim ME (Mekanikal Elektrikal) akan secepat mungkin mengerjakan pekerjaan di bangunan utama untuk kemudian melanjutkan pembangunan Wisma Rakyat Indonesia.  Sementara itu, Koordinator Lapangan di bidang Sipil, Tata Lukita yang juga sudah dua kali bertugas di Gaza menyatakan bahwa pekerjaan tim sipil adalah menyelesaikan beberapa pekerjaan kecil sebelum memulai pekerjaan pembangunan Wisma Rakyat Indonesia, diantaranya penutupan ground tank dan saluran air di belakang gedung. “Kita akan tutup dulu ground tank air karena ini sangat penting. Kebutuhan air untuk Rumah Sakit Indonesia berasal dari ground tank yang berkapasitas 80 meter kubik ini. Setalah selesai kita akan langsung mengerjakan Indonesia Guest House atau Wisma Rakyat Indonesia” papar relawan yang mempunyai keahlian khusus dalam pembuatan kolam taman. Sementara itu, Site Manager Rumah Sakit Indonesia, Ir. Edy Wahyudi menyatakan bahwa pekerjaan Rumah Sakit Indonesia akan dilakukan secepat mungkin karena targetnya akhir tahun ini semua pekerjaan harus sudah selesai karena bangunan akan diserahterimakan kepada rakyat Gaza untuk bisa dipergunakan.    Untuk mewujudkan rencana ini, Tim MER-C di Indonesia akan melakukan penggalangan dana untuk melengkapi target tersebut. Dibutuhkan dana sejumlah 65 milyar rupiah untuk pengadaan alat kesehatan sebelum beroperasionalnya rumah sakit sumbangan rakyat Indonesia ini.    Bulan ramadhan bulan yang penuh berkah, semoga keberkahan ramadhan kali ini bisa mengetuk para dermawan dan donatur untuk memberikan sedikit dari hartanya untuk rakyat Palestina.    Bagi para dermawan dan donatur yang ingin memberikan dukungan dan bantuan untuk pengadaan alkes RS Indonesia di Gaza Palestina dapat disalurkan melalui:   BNI Syariah No. Rek. 08.111.929.73, BCA No. Rek. 686.0153.678, BRI No. Rek. 033.501.0007.60308, BSM No. Rek. 700.1352.061, BMI No. Rek. 301.00521.15, dan Bank Mandiri No. Rek. 124.0008111925,   atas nama Medical Emergency Rescue Committee.        

Dikawal Militer Mesir, 15 Relawan Indonesia Akhirnya Masuk Gaza

Gaza – Melakukan perjalanan selama dua hari dari Jakarta ke Kairo sejak Sabtu (28/06), sebanyak 15 relawan Indonesia untuk program RS Indonesia sempat tertahan pada usaha pertama untuk memasuki Gaza melalui Perbatasan Rafah, Ahad (29/06). Perjalanan ke Perbatasan Rafah kali ini pun berbeda dari biasanya. Bus yang membawa relawan  dikawal oleh pasukan militer Mesir dengan kendaraan dan persenjataan lengkap seperti tank, hammer dan lain sebagainya. Namun, kesabaran Tim diuji, setibanya di Perbatasan Rafah Mesir mereka belum diizinkan masuk ke Gaza dan terpaksa mencari penginapan untuk bermalam dan berusaha untuk masuk ke Gaza esok harinya.   Senin (30/06) sekitar pukul 09.00 waktu setempat, kelima belas relawan kembali bergegas ke Perbatasan Rafah Mesir. Empat relawan Indonesia yang berada di Gaza, yaitu Ir. Nur Ikhwan Abadi, Moqorrobin Alfikri, Muhammad Husein dan Reza Aldilla menunggu kedatangan relawan di Perbatasan dengan tak lepasnya berdoa agar proses perizinan para relawan yang baru datang dari Indonesia pada hari ini diberi kemudahan. Setelah melalui proses pengecekan paspor hingga lepas waktu Dzuhur akhirnya kelima belas relawan Indonesia berhasil memasuki Jalur Gaza dan disambut suka cita oleh para relawan di Gaza. Kedatangan kelima belas relawan ini menambah jumlah relawan Indonesia di Gaza menjadi total 19 orang. Setelah proses penyambutan, para relawan bergegas menuju lokasi RS Indonesia. Bagi Karidi, Tata Lukita,  Abdul Azis dan Luthfi Paimin ini adalah kali kedua mereka mendapat kesempatan dan dipercaya untuk bertugas di Gaza untuk program RS Indonesia. Bahkan bagi Ir. Edy Wahyudi ini adalah kesempatan ke-3 kalinya mendapat amanah memimpin Tim Relawan Konstruksi Pembangunan RS Indonesia. Sementara bagi 10 orang relawan lainnya ini adalah pengalaman pertama mereka bertugas di wilayah terblokade Gaza, Palestina yang selama ini hanya mereka dengar ceritanya. Meski bertugas di wilayah yang tidak aman bahkan beberapa hari terakhir kerap terjadi serangan yang getaran dan suara ledakannya terasa hingga RS Indonesia, namun niat dan tekad para relawan sudah bulat. Amanah tugas sudah menanti mereka untuk mengawal pengadaan alat kesehatan RS Indonesia. Tugas lainnya adalah melanjutkan proses pembangunan Wisma Rakyat Indonesia (Indonesia Guest House) yang terletak di belakang RS Indonesia dan perbaikan masjid yang berada di sebelah timur RS Indonesia.  Mohon do’a dan dukungan dari seluruh rakyat Indonesia, semoga proses pembangunan ini berjalan dengan lancar meskipun di tengah-tengah situasi yang sedang genting di Gaza-Palestina.                

MER-C Departed Phase 3 Team to Precede Medical Equipment Procurement for Gaza’s Indonesia Hospital

In order to complete development program of Indonesia Hospital at Gaza, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) has departed Phase 3 volunteer team from construction division.  Apart from finishing Indonesia Hospital development, the team will also assign for preceding medical equipment procurement, donated from Indonesian people.   Team lead by Ir Edy Wahyudi is planned to complete Indonesian Hospital development, related to its mechanical and electrical side. The team will also finish Indonesian Guest House development which is located in area of Indonesia Hospital. The team of 15 was departed on Saturday (28/6) at 9 am by Malaysia Airlines, followed by Egypt Airlines. They were scheduled to be arrived at Cairo on Sunday (29/6) at 4.55 am local time. Arriving in Cairo, team will go straight to Rafah border, leading to Gaza. In the meantime, within the last month according to information sent by MER-C volunteer at Gaza, received by MER-C Headquarter, there have been attacked to Gaza area. Not only building damages have occurred but also loss of lives. Until now MER-C is still fundraising for medical equipment procurement for Indonesian Hospital that amounts to Rp. 50.000/person        

Israel Kembali Bombardir Jalur Gaza

Gaza – Israel kembali lancarkan serangan ke jalur Gaza selasa (24/6) menjelang tengah malam. Menargetkan beberapa lokasi di jalur Gaza. Di Utara Gaza, Bayt Lahiya, 1,5 km dr RS Indonesia Israel targetkan lokasi latihan milik Brigade Al Quds, sayap militer Jihad Islami. Di Nushairat Gaza tengah juga di Selatan Jalur Gaza. Sejauh ini dilaporkan Tidak ada korban Jiwa. Pantauan Tim MER-C setidaknya terdengar 5 ledakan keras dekat RS Indonesia dalam waktu kurang dari satu jam. Para relawan yang sedang bertugas dalam pembangunan RS Indonesia dalam keadaan baik, Alhamdulillah. Laporan terbaru dari jubir kementrian kesehatan Ashraf Al qadrah, 2 orang polisi laut terluka  akibat serangan Israel.

ANAK KORBAN LUKA AKIBAT SERANGAN ISRAEL AKHIRNYA TEWAS

Gaza – Seorang anak korban luka akibat serangan Israel pada rabu (11/6) menghembuskan nafas terakhirnya sabtu (14/6) sore waktu Gaza setelah  mengalami koma sejak 3 hari yang lalu.  Anak bernama Abdul Lathif Al Awoor (7) mengalami luka serius dibagian kepala. Demikian Juru bicara Kementrian kesehatan Ashraf Al Qadra mengatakan.   Pada rabu  malam Israel menembakkan rudal ke sebuah motor di daerah Sudaniyah, Utara Jalur Gaza seorang warga gaza pengendara sepeda motor. Akibat serangan tersebut satu orang meninggal bernama Muhammad Ahma Al Arrur (30) dari bayt lahiya Utara jalur Gaza. Sedangkan 2 orang lainnya mengalami luka-luka termasuk seorang anak bernama Abdul LAthif Al Awoor yang akhirnya meninggal sabtu (14/6) sore waktu gaza.                

Laporan Tim MER-C Terkait Konferensi Pers Penyerangan Freedom Flotilla di Turki

Istanbul – Pada hari ini (28/3) telah diadakan konferensi press oleh koordinator Fredoom Flotilla dan pengacara yang mewakili para penuntut atas kasus di mana tentara Israel melakukan penyerangan terhadap awak Freedom Flotilla. Adnan Wirawan dari TPM ( Tim Pengacara Muslim) bertanya apa yang akan dilakukan jika peradilan Turki memutuskan untuk menutup kasus ini, dan dijawab oleh ketua IHH Bulent Yildirim bahwa sebenarnya sejak awal pihak Freedom Flotilla telah memenangkan kasus ini. Hukum yang ada di Turki pun sebenarnya sudah menyediakan landasan yang jelas bahwa dalam kasus seperti ini ke empat Jenderal Israel yang dituntut segera ditangkap. Sebuah “public case” tidak dapat ditutup menurut hukum yang berada di Turki. Setiap sidang yang dilaksanakan menunjukkan kepada dunia bahwa kasus ini masih berjalan. Jika pun kasus ini akhirnya ditutup oleh para hakim, maka ini hanya menunjukkan kekalahan dari pihak negara Turki, karena kasus ini merupakan kesempatan besar untuk menunjukkan kekuatan hukum negaranya. Dan kalaupun kasus ini ditutup, maka kapal Mavi Marmara ada, dan dapat digunakan untuk kembali berlayar menuju Gaza.                

Laporan Tim MER-C dari Sidang Lanjutan Kasus Mavi Marmara

Istanbul – Pada tanggal 27 Maret 2014 telah diadakan sidang lanjutan atas kasus penyerangan terhadap Freedom Flotilla 2010 yang menyebabkan kematian 9 aktifis di atas kapal Mavi Marmara. Sidang kali ini memanggil sebagian dari panitia penyelenggara Freedom Flotilla asal Turki, yaitu mereka yang bertanggung jawab mengawal kapal Mavi Marmara dan kapal kargo bernama Defne Y yang saat itu membawa di antaranya bahan bangunan untuk digunakan di Gaza, Palestina. Dilaver Kutluay, yang berada di atas kapal Defne Y ketika penyerangan terjadi, dalam kesaksiannya menceritakan bagaimana ia dapat melihat tentara Israel menembak tanpa henti, melempar bom gas dan mengarahkan laser senjata ke arah kapal Mavi Marmara. Ia juga mendengar jeritan dari orang-orang yang berada di atas kapal Mavi Marmara yang membuat ia yakin bahwa banyak orang yang terluka di sana. Dilaver mengingat bahwa setidaknya ada 20 orang tentara Israel yang menaiki kapal Defne Y. Dilaver juga menggarisbawahi mengenai adanya orang yang mengaku sebagai orang Yahudi yang berbicara bahasa Turki dengan sangat fasih sebagaimana orang Turki pada umumnya, yang mengaku sebagai perwakilan konsulat Turki di Israel, memaksa penumpang Defne Y untuk menandatangani sebuah dokumen sambil mengancam bahwa jika dokumen ini tidak ditandatangani maka hukumannya adalah 10 tahun penjara di Israel. Dilaver mengaku bahwa barangnya diambil, ditelanjangi beberapa kali, dipukuli beberapa kali bahkan ketika ingin membantu kawan yang terluka di penjara Ashdod. Dilaver menambahkan bisa bahwa ada tentara Israel yang berbicara kepada kapten Kapal Defne Y dengan menggunakan bahwa Turki yang sangat fasih, dan ketika ditanya, tentara Israel ini menjawab bahwa ia berasal dari Istanbul. Omer, yang berada di atas kapal Mavi Marmara ketika penyerangan terjadi mengatakan bahwa sampai saat ini ia masih trauma atas kejadian yang ia alami hampir empat tahun lalu, karena ia selalu berpikir bahwa tentara Israel akan datang dan turun dari helikopter ke teras rumahnya. Di akhir sesi kesaksian kali ini para pengacara menyatakan tuntutannya kepada pengadilan. Mereka mengatakan bahwa dalam hukum Turki kasus ini masuk ke dalam kategori penyiksaan sistematis maka para hakim harus melakukan prosedur penangkapan terhadap General Gavriel Ashkenazi, Admiral Eliezer Marom, Brigadier General Avishai Levi, dan Major General Amos Yaldin. Para pengacara juga menegaskan bahwa hak asasi manusia terletak di atas semua hukum, dan para tertuntut harus mematuhi semua perintah pengadilan dan menjelaskan alasan perbuatan mereka. Para pengacara juga menuntut para hakim untuk membekukan kekayaan ke empat orang tersebut. Para pengacara juga mempertanyakan hubungan antara kepolisian Turki dan Israel karena ketika paspor salah satu warga Turki dikembalikan setelah disita di Israel, dan ditanyakan kepada polisi, siapa yang memberikan paspor ini kepada mereka, polisi ini hanya meminta penumpang Mavi Marmara ini untuk tidak banyak bertanya. Di akhir persidangan, hakim mengumumkan bahwa keputusan untuk melakukan prosedur penangkapan akan dilakukan di sidang berikutnya yang jatuh pada tanggal 26 Mei 2014.                

Laporan Tim MER-C dari Konferensi Mavi Marmara “Search for Justice” di Turki

Istanbul – pada tanggal 25 Maret 2014 telah diadakan konferensi  Mavi Marmara Search for Justice, “Not the law of the strong but justice for all” di Ali Emiri Kultur Merkezi, Istanbul, Turki.  Konferensi yang digagas oleh IHH ini bertujuan untuk menyatukan misi dan visi dalam usaha menuntut Israel atas kejahatannya di kapal Mavi Marmara khususnya dan Freedom Flotilla pada umumnya.   Pada sesi pembuka, ketua IHH Bulent Yildirim mengatakan bahwa walaupun terdapat banyak sekali tantangan yang dihadapi dalam menuntut Israel, di mana bahkan para hakim di Turki menolak kasus pembunuhan atas Furkan Dogan, akan tetapi ini adalah untuk pertama kalinya Israel dituntut oleh berbagai negara untuk kasus yang sama, yang mana ini berarti bahwa Israel sedang mengalami gangguan terbesar dalam sejarah penjajahan mereka. Sementara itu, Dror Feiler, yang merupakan mantan warga negara Israel menegaskan bahwa sudah seharusnya Israel diseret ke Mahkamah yang juga telah membawa Milosevich di Den Hague. Ahmet Dogan, ayahanda dari Syahid Furkan Dogan mengatakan bahwa anaknya yang merupakan warga negara Amerika Serikat sekalipun tidak mendapatkan keadilan di Mahkamah Amerika Serikat, karena hukum di Amerika Serikat tidak memungkinkan dilakukannya tuntutan kriminal atas negara Israel, karena belum ada kesepakatan dengan negara tersebut sampai saat ini. Greta Berlin menceritakan asal mula gerakan pelayaran menembus Gaza yang dipelopori antara lain oleh Greta sendiri bersama empat orang lainnya di tahun 2008. Dimitri Plionis menjelaskan bahwa harus ada kesamaan persepsi bahwa Freedom Flotilla merupakan inisiasi internasional yang terdiri dari 36 negara, bukan hanya inisiasi negara Turki.  Ziyad Patel yang merupakan pengacara dari Gadija Davids (Afrika Selatan) membandingkan sistem Apartheid yang terjadi di Afrika Selatan Adam yang sedang berlangsung di Palestina. Ziyad mengatakan bahwa kolonialisme internasional sangat dikecam oleh masyarakat internasional dan hal ini dapat diangkat dalam tuntutan terhadap Israel. Prof Dr Ali Emrah Bozbayindir menjelaskan bahwa ada dua hal yang dapat membuat kasus ini menjadi lebih strategis, yaitu bahwa penyerangan terhadap bala bantuan kemanusiaan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang serius, sementara apabila kita dapat membuktikan bahwa pembunuhan dilakukan dengan cara “excecution style”, ini dapat menghilangkan alibi Israel bahwa mereka melakukan sela defence di kapal Mavi Marmara. Hadir juga sebagai pembicara di antaranya Ismail Bilgen, anak dari Syahid Ibrahum Bilgen, Ugur Yildirim, Yasin Samli, Ahmet Turk dari Palestina, Gonzales Boye dari Spanyol, Gilles Dever dari Perancis dan Gulden Sonmez dari IHH.                

DOH Filipina Apresiasi Kinerja Tim Bedah MER-C

Cebu, Filipina – DOH atau Department of Health of the Philippines dan sejumlah NGO asing dari berbagai negara menyampaikan rasa salut dan apresiasi yang besar bagi kinerja Tim Bedah MER-C. Hal ini disampaikan pada saat rapat koordinasi yang diadakan DOH Filipina, Selasa (3/12) di kantor DOH, Cebu City. Turut hadir tiga relawan MER-C pada rapat tersebut untuk memberikan laporan kegiatan tim. Ketiga relawan tersebut adalah dr. Abdul Mughni, SpB KBD, dr. Nurul Qomaruzzaman, SpOT dan dr. Dany Kurniadi Ramdhan, SpBS. “Kami tidak menyangka diberi applause (tepuk tangan) dan salut dari semua hadirin seperti Unicef, Japanese Army, dll sesaat setelah dr. Abdul Mughni Ketua Tim MER-C memberikan laporan,” ungkap dr. Nurul Qomaruzzaman yang juga merupakan Wakil Ketua Tim MER-C untuk Filipina.  Lebih lanjut relawan yang berprofesi sebagai ahli bedah tulang ini memaparkan bahwa sejak awal peserta rapat yang lain menyampaikan bahwa di Medellin dan sejumlah wilayah di Cebu Utara yang dilanda topan belum ada bantuan medis dan warga yang sakit belum tertangani. Padahal, menurutnya lagi, Tim MER-C sudah menjangkau seluruh daerah yang disebutkan tadi.  “Kami sudah melayani sekitar 1.670 pasien rawat jalan melalui program mobile clinic dan telah melakukan 12 kali operasi mayor di seluruh radius North District Cebu sampai ke pulau terjauh Kinatarcan,” tambahnya. Paparan inilah yang membuat para hadirin salut dan bertepuk tangan karena apa yang telah dilakukan Tim MER-C menjawab semua permasalahan dan keluhan yang semenjak tadi dibicarakan, yakni belum adanya bantuan medis di Medellin.   Ungkapan terima kasih juga berdatangan dari sejumlah sejawat medis Bogo Medellin Medical Center (BMMC), Rumah Sakit yang turut mengalami kerusakan akibat topan yang juga merupakan tempat Tim MER-C berposko selama menunaikan tugas kemanusiaan di Filipina. “Selamat kepada grup Merc Indonesia yang telah menjadi grup pertama dari 20 negara yang telah memberikan bantuan medis di Cebu utara, terimakasih banyak.” (Enirhtak Ocificap Atelom). “Selamat kepada seluruh grup Merc! Merupakan sebuah kehormatan bagi kami untuk dapat bekerja sama dengan anda semua. Dengan cinta dari kami bbmc Dan seluruh warga Medellin.” (LZ Hurado Iscanilla) Tim Medical Emergency Rescue Committee dari Indonesia telah membuat kami sadar bahwa kami tidak sendirian Dan andalah Salah satu Alasan mengapa kami dapat bertahan Dan bangkit kembali. Terima kasih. (Holda)

Silahkan bertanya?