MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

MER-C Siapkan Tim Bedah untuk Korban Gempa Bumi di Nepal

Jakarta – Sabtu (25/4), gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,9 SR mengguncang Nepal. Hingga saat ini jumlah korban jiwa sudah mencapai lebih dari 3.300 orang, sementara ribuan lainnya mengalami luka-luka. Jumlah korban tewas diperkirakan akan terus bertambah karena masih banyak daerah yang belum terjangkau serta jaringan komunikasi di negara tersebut yang terputus. Melihat besarnya dampak bencana, MER-C sebagai sebuah lembaga kegawatdaruratan medis, tengah mempersiapkan relawannya untuk turut memberikan bantuan guna meringankan penderitaan para korban. Tim yang dibentuk MER-C akan berfokus pada Tim Bedah, yang terdiri dari dokter spesialis bedah umum, spesialis bedah orthopedi, spesialis anastesi dan dokter umum serta perawat bedah. Hal ini berdasarkan pengalaman MER-C pada penanganan bencana gempa bumi serupa baik di Yogyakarta maupun di Padang (Sumatera Barat) misalnya, bahwa korban hidup yang akan banyak ditemui adalah korban dengan kasus patah tulang akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Bantuan bagi korban bencana gempa bumi di Nepal dapat disalurkan melalui: BNI Syariah, 08.111.92995 BCA, 686.028.0009 Atas nama Medical Emergency Rescue Committee              

MER-C Berikan Bantuan untuk 55 Nelayan Indonesia yang Ditahan di Myanmar

Selain menyalurkan bantuan kepada korban konflik dan pengungsi di Rakhine State, Tim ke-2 MER-C untuk Myanmar juga mengunjungi nelayan Indonesia yang saat ini ditahan di Yangon. Nelayan Indonesia yang berjumlah 55 orang ditahan otoritas Myanmar karena melanggar batas wilayah perairan Myanmar. Sudah satu tahun lebih para nelayan ini ditahan dan KBRI di Yangon tengah mengupayakan pembebasan mereka.  Kunjungan ini dimungkinkan setelah Kedutaan Besar RI di Yangon memfasilitasi izin bagi Tim MER-C. Awalnya Tim MER-C berharap dapat melakukan juga pemeriksaan kesehatan kepada para nelayan asal Indonesia tersebut. Namun ternyata hal ini belum memungkinkan karena diperlukan waktu lebih lama untuk pengurusan izin untuk pemeriksaan kesehatan. Rabu (25 Februari 2015), sekitar pukul 2 siang, didampingi staf KBRI Yangon, Tim MER-C menuju lokasi penahanan 55 nelayan Indonesia. Pada kesempatan tersebut, Tim MER-C juga membawa bantuan berupa 70 paket tikar dan kaos kaki yang akan dibagikan kepada para nelayan. Bantuan ini diharapkan dapat sedikit membantu para nelayan Indonesia ini melawan dinginnya ruang tahanan. Sekitar satu jam, Tim MER-C yang diketuai dr. Meaty Fransisca bertemu dan berbincang dengan para nelayan asal Indonesia. “Sebenarnya para nelayan tersebut tidak mengetahui kalau mereka telah melanggar batas perairan,” ujar dr. Meaty yang telah dua kali mengikuti Misi Kemanusiaan MER-C ke Myanmar. “Kami turut prihatin dan berharap Pemerintah Indonesia melalui KBRI Yangon dapat segera membantu proses pembebasan para nelayan ini,” lanjut dr. Meaty. Dr. Meaty juga menambahkan bahwa pada pertemuan tersebut para nelayan meminta bantuan buku-buku bacaan berbahasa Indonesia, khususnya buku-buku yang dapat meningkatkan keimanan mereka.  “Bahan bacaan sangat diperlukan untuk mengisi waktu selama dalam tahanan. Sudah setahun lebih ini mereka tidak menemukan bahan bacaan berbahasa Indonesia. Selama dalam tahanan juga nyaris tidak ada yang bisa dikerjakan. Apabila hal ini terus berlanjut mereka khawatir bisa menjadi stress,” ungkap dr. Mea, sapaan akrab dr. Meaty. Untuk itu, usai kepulangan Tim dari Myanmar, MER-C langsung mengirimkan satu paket buku-buku melalui staf Kemenlu RI yang akan berangkat ke Myanmar. Menurut info dari KBRI Yangon, paket buku-buku tersebut sudah diterima oleh para nelayan Indonesia di Yangon.                

Penyaluran Bantuan Kemanusiaan untuk Perbaikan Masjid di Gaza Utara

Gaza – Donasi amanah kemanusiaan Palestina terus disalurkan oleh para relawan Indonesia di Gaza. Kali ini dalam bentuk bantuan perbaikan masjid. Ada dua masjid di Gaza Utara yang telah selesai diperbaiki oleh relawan Indonesia di Gaza, yaitu Masjid Abdurrozaq Galebo dan Masjid Syeikh ‘Aid Zawiyat. Kedua masjid ini adalah dua masjid yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara yang keduanya mengalami kerusakan akibat perang 51 hari lalu. “Alhamdulillah pelaksanaan bantuan pembuatan jendela Masjid Galebo yang hancur pasca perang lalu sudah dapat diselesaikan,” ungkap Ir. Edy Wahyudi, salah satu relawan Indonesia di Gaza, dalam laporan tertulisnya kepada MER-C Pusat Jakarta.   “Saat ini musim dingin cukup ekstreem di Gaza, akan tetapi setelah kita melaksanakan perbaikan jendela-jendela masjid maka jamaah sholat di Masjid Galebo terutama sholat Subuh, Maghrib dan Isya sudah dapat dilaksanakan dengan baik karena tidak diterpa angin yang sangat dingin,” tambah insinyur yang sudah tiga kali bertugas di Gaza. Selain kerusakan jendela, akibat serangan lalu, karpet masjid Galebo juga banyak yang mengalami kerusakan total dan tidak dapat digunakan lagi oleh jamaah sholat. Hal ini menyebabkan shaf sholat yang bisa digunakan hanya sebagian itupun menggunakan karpet yang bekas terbakar di sana sini akibat percikan bom dan rudal. Untuk itu, MER-C juga menyalurkan bantuan karpet untuk masjid Galebo seluas 800 m2. Karpet dibeli dan dipasang langsung oleh para relawan Indonesia di Gaza. Berdasarkan informasi dari Ir. Edy Wahyudi, para relawan Indonesia juga sebelumnya sudah menyelesaikan perbaikan masjid Syeikh ‘Aid Zawiyat. “Kami memperbaiki dinding masjid Zawiyat dengan diplester dan dicat kembali. Kami juga membuatkan tempat wudhu dan tambahan toilet baru. Atap teras masjid juga sudah diganti,” papar Ir. Edy Wahyudi. Selain itu, perang juga membuat rusaknya jaringan sound system Masjid ini sehingga suara adzan tidak terdengar lagi. “Dengan donasi dari rakyat Indonesia, MER-C juga sudah membantu sound system masjid Syeikh ‘Aid Zawiyat sehingga aktifitas dan syiar masjid bisa berjalan kembali seperti sedia kala. “Imaam Masjid dan para jamaah masjid Abdurrozaq Galebo mengucapkan syukur kepada Allah SWT dan mengucapkan terima kasih serta do’a jazaakumullah khair yang artinya ‘Semoga Allah membalas amalan antum dengan yang lebih baik’ kepada rakyat Indonesia. Begitu pun dengan jamaah masjid Syeikh ‘Aid Zawiyat,” tutup Ir. Edy Wahyudi dalam laporannya.   /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;}        

MER-C Berangkatkan Tim ke-2 ke Rohingya Myanmar untuk Tindaklanjuti “Indonesia Health Center”

Jakarta – Senin (16/2), MER-C kembali memberangkatkan Tim Kemanusiaan ke Myanmar. Ini adalah pengiriman Tim ke-2 MER-C ke Myanmar setelah sebelumnya, pada bulan September 2012, MER-C mengirimkan tim pertama sebanyak 5 orang relawan yang telah melakukan assessment dan penyaluran bantuan medis tahap awal. Pada misi kemanusiaan ke-2 ini, Tim MER-C terdiri dari 7 orang relawan dengan berbagai keahlian, yaitu 1 dokter spesialis penyakit dalam, 2 dokter umum, 2 perawat, serta 2 relawan non medis dari divisi konstruksi dan divisi bantuan logistik MER-C. Target tim adalah kembali masuk dan menyalurkan secara langsung bantuan medis dan kemanusiaan ke wilayah konflik dan pengungsian di Provinsi Rakhine (Rakhine State), Myanmar.    Selain itu, dengan amanah donasi dari rakyat Indonesia, MER-C juga akan membuat program bantuan jangka panjang di wilayah ini. Salah satu program yang telah dicanangkan dan akan ditindaklanjuti oleh Tim ke-2 MER-C adalah rencana pembangunan “Indonesia Health Center”. Hal ini berdasakan hasil assessment tim pertama bahwa fasilitas di kamp pengungsian masih sangat minim, khususnya fasilitas kesehatan bagi para pengungsi. Program bantuan yang bersifat jangka panjang seperti “Indonesia Health Center” diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang dan menjadi simbol persahabatan Indonesia dan Myanmar, serta mempererat hubungan baik rakyat kedua negara. Keberangkatan Tim ke-2 MER-C ke Myanmar dimungkinkan setelah adanya izin dari Kementerian Luar Negeri dan Kantor Kepresidenan Myanmar yang sebelumnya telah melalui proses cukup panjang. Dengan adanya izin dari Kementerian Luar Negeri dan Kantor Kepresiden Myanmar ini, diharapkan misi kemanusiaan ke-2 MER-C bisa diberi kelancaran dan keamanan untuk seluruh anggota Tim. Dari Yangon, Rabu (18/2) Tim MER-C dijadwalkan akan bertolak ke Sittwe, ibukota Rakhine State dengan menggunakan maskapai penerbangan lokal. Sesuai izin, Tim akan berada di Rakhine State hingga hari Sabtu (21/2) untuk memberikan pelayanan medis kepada para pengungsi, memberikan bantuan obat-obatan dan memberikan bantuan paket alat kesehatan. Sementara relawan dari divisi Konstruksi MER-C akan fokus melakukan survei serta koordinasi dengan pihak terkait untuk rencana pembangunan sarana kesehatan yang akan diberi nama “Indonesia Health Center”. Apabila donasi dari rakyat Indonesia masih mencukupi, MER-C akan membuat program lanjutan diantaranya berupa pembuatan sarana air bersih dan MCK. Keberangkatan tim MER-C ke Myanmar pada hari Senin ini dilepas oleh dua Presidium MER-C, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT dan Ir. Faried Thalib serta sejumlah relawan MER-C di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta. Tim akan transit di Bangkok dan diperkirakan tiba di Yangon pada Senin malam ini, pkl. 19.00 waktu setempat. Setibanya di Yangon, Tim akan langsung berkoordinasi dengan KBRI Yangon dan sejumlah pihak terkait di Myanmar.   Rekening Donasi #Hand4Rohingya dapat disalurkan melalui: BSM, 700.1306.833 An. Medical Emergency Rescue Committee   Info lebih lanjut: www.mer-c.org Call center: 0811 99 0176              

Musim Dingin Melanda Gaza, MER-C Bagikan Selimut dan Baju Hangat

Gaza – Setelah bantuan selimut sebanyak 1.200 buah tersalurkan kepada warga Gaza sejak awal musim dingin lalu, kini MER-C Cabang Gaza kembali menyalurkan bantuan kemanusiaan amanah dari para donatur di Indonesia. Bantuan yang diberikan kali ini adalah pakaian musim dingin yang terdiri dari kaos, long john, celana panjang, jaket hangat, untuk wanita ditambah dengan jalabiah tebal dan kerudung. Sebanyak 500 paket pakaian musim dingin disiapkan dan telah bertahap dibagikan sejak Selasa (3/2) lalu yang terdiri dari 150 stel pakaian untuk pria, 150 stel untuk wanita dan sisanya sebanyak 200 stel pakaian untuk anak-anak. Bantuan langsung disalurkan oleh relawan MER-C yang sedang bertugas untuk Pembangunan RS Indonesia di Gaza. Selimut dan pakaian dingin ini diharapkan dapat membantu warga Gaza bertahan menghadapi musim dingin yang kerendahan suhunya bisa mencapai hingga 5 derajat celcius. Bahkan, menurut informasi dua musim dingin terakhir adalah musim dingin terekstrim di Gaza setelah 50 tahun lamanya. Dampak musim dingin kali ini terasa lebih berat bagi warga Gaza terutama bagi mereka yang rumahnya hancur akibat agresi militer Israel pada perang 51 hari lalu, juga tentunya bagi rakyat kalangan bawah yang rumahnya tidak mampu menahan dinginnya musim tahun ini.   Dibandingkan dengan penyaluran bantuan-bantuan sebelumnya seperti sembako, peralatan sekolah, dll, teknis pemberian bantuan pakaian dingin dilakukan sedikit berbeda. Relawan MER-C terlebih dahulu membagikan kupon kepada para warga yang berhak. Warga penerima kupon kemudian dapat menukarkan kupon tersebut dengan satu paket pakaian dingin di toko pakaian yang telah ditunjuk oleh MER-C Cabang Gaza. Dengan cara ini diharapkan pakaian yang diterima warga bisa cocok dan sesuai baik ukuran, model dan warnanya. MER-C juga menugaskan beberapa relawannya untuk berjaga di toko pakaian yang telah ditetapkan tersebut untuk membantu melayani para warga yang berdatangan mengambil bantuan pakaian musim dingin mereka, karena setiap harinya warga yang datang untuk menukarkan kupon bantuan mencapai 100 orang. Dengan target 100 orang per hari, maka pembagian bantuan pakaian dingin ini akan selesai tersalurkan dalam 5 hari hingga Ahad (8/2).   Warga Gaza mengaku senang dengan bantuan dan sistem pembagian seperti ini karena mereka dapat memilih pakaian yang cocok untuk mereka dan bisa langsung mereka pakai kala musim dingin melanda Gaza seperti saat ini. Warga Gaza juga mengucapkan terima kasih kepada rakyat Indonesia atas kepedulian dan bantuan yang telah diberikan. Sementara itu, 19 relawan MER-C Indonesia masih berada di Gaza dengan tugas diantaranya untuk mengawal proses pengadaan alat kesehatan RS Indonesia di Gaza. Proses ini masih terus berlangsung, beberapa alat seperti nebulizer dan ventilator sudah tiba  dan akan menyusul kedatangan alat-alat lainnya yang akan mengisi seluruh ruangan RS Indonesia.          

Wisma Rakyat Indonesia di Gaza Tengah Dibangun

Gaza, Palestina – Bersamaan dengan proses pengadaan Alat Kesehatan untuk RS Indonesia di Gaza, Palestina, 19 orang relawan MER-C di Gaza juga sedang berfokus mengerjakan pembangunan Wisma Rakyat Indonesia. Wisma Rakyat Indonesia adalah bangunan yang terletak di belakang bangunan utama RS Indonesia, masih di dalam kompleks RS Indonesia. Menurut Ir. Edy Wahyudi, Site Manager program RS Indonesia, progress pembangunan Wisma Rakyat Indonesia sudah memasuki pengerjaan lantai 2. Apabila material semen tersedia, pembangunan wisma ini diperkirakan selesai pada Desember 2014. Pembangunan Wisma Rakyat Indonesia dimulai sejak tanggal 2 Juli 2014. Akibat agresi Israel yang berlangsung selama tujuh pekan pada bulan Juli – Agustus 2014 lalu, pembangunan Wisma juga sedikit terhambat. Hal ini karena mempertimbangkan keselamatan para relawan sehingga selama agresi banyak pekerjaan yang dilakukan hanya di dalam ruangan. Selain itu, pasca agresi, stok semen juga menjadi kendala. “Pembangunan RS Indonesia sudah mencapai lantai 2. Saat ini kami masih terkendala dengan stok semen di Gaza, apabila semen bisa segera masuk ke Gaza, pembangunan Wisma Rakyat Indonesia diharapkan bisa selesai pada Desember 2014, bersamaan dengan target selesainya pengadaan alat kesehatan RS Indonesia,” ujar Ir. Edy Wahyudi.  Wisma Rakyat Indonesia terletak di belakang bangunan utama RS Indonesi. Bangunan 2 lantai seluas 368 m2 ini nantinya akan berfungsi sebagai kantor MER-C Cabang Gaza dan tempat tinggal relawan yang bertugas di Gaza.                

Proses Pengadaan Alat Kesehatan Rumah Sakit Indonesia di Gaza Telah Dimulai

Jakarta – Donasi yang masuk ke MER-C untuk pengadaan alkes sudah hampir mencapai target, yaitu senilai 65 Milyar. Saat ini relawan MER-C dari divisi konstruksi, baik yang berada di Jakarta maupun yang berada di Gaza, sudah memulai proses pengadaan alat kesehatan RS Indonesia yang telah memasuki tahap seleksi alat-alat yang akan dibeli dari pemasok alkes di Gaza.  Sebelumnya, proses ini dimulai dari keberangkatan relawan medical technologist yang datang ke Gaza pada bulan Februari 2014, dimana tim tersebut selain mendatangi berbagai tempat untuk mengetahui proses pengadaan alat kesehatan untuk rumah sakit, juga berkoordinasi dengan pihak MOH. Tim mencoba untuk mencari pemasok alat-alat kesehatan yang ada di Gaza dikarenakan apabila di Gaza tidak terdapat pemasok alkes, maka peralatan tersebut harus dibeli dan didatangkan dari luar Gaza. Tim pengadaan alat kesehatan RS Indonesia yang diketuai oleh Ahyahudin Sodri ini membagi alat kesehatan tersebut ke dalam 14 paket yang ditawarkan kepada para pemasok. Setelah pihak relawan MER-C Jakarta dan Gaza berkomunikasi secara berkesinambungan baik melalui telpon maupun skype, akhirnya terkumpul sebanyak 12 pemasok yang sudah menyerahkan dokumen penawaran untuk alat kesehatan RS Indonesia. Seluruh dokumen penawaran saat ini telah di terima MER-C Pusat dan sedang dievaluasi untuk menentukan pemasok yang akan terpilih untuk menyediakan alat kesehatan RS Indonesia berdasarkan kriteria yang telah ditentukan sebelumnya oleh tim pengadaan alkes RS Indonesia. Proses pembelian ini dilakukan secara bertahap dan diharapkan akan selesai pada bulan Desember 2014, sehingga Rumah Sakit Indonesia ini dapat diserah-terimakan kepada pemerintah Gaza sebagai hadiah dari Rakyat Indonesia untuk Rakyat Gaza.        

PROGRAM KURBAN DI GAZA KEMBALI DI LAKSANAKAN

Jakarta – Dalam rangka menyambut Idul Adha 1435H MER-C Cabang Gaza kembali menyelenggarakan program qurban di Gaza. Qurban akan dilakukan langsung oleh 19 relawan RS Indonesia di Gaza mulai dari memilih, membeli, memotong, sampai membagikan hewan qurban langsung kepada yang berhak dan membutuhkan. Hewan qurban yang dipilih adalah domba dengan kisaran berat 48 – 50 kg dengan harga 420 USD atau senilai Rp. 5.040.000,- (Kurs Rp 12.000/USD) sedangkan untuk hewan sapi berat 500 kg dengan harga 2.880 USD atau Rp 34.620.000,- Pendaftaran dan pengiriman dana untuk program kurban dibuka mulai tanggal 12 september 2014, dan di tutup tanggal 27 september2014, akan tetapi karena masih ada masyarakat yang konfirmasi ingin kurban di Gaza, akhirnya pendaftaran di tutup  1 Oktober 2014. Rekening Program Qurban MER-C: BSM, Cabang Kramat No. Rek. 701.5658.902 A/n. Medical Emergency Rescue Committee, Bukti transfer dikirimkan ke MER-C mll fax 021-3159256 atau email ke merc@indosat.net.id, sertakan nama lengkap, alamat, no tlp/hp, alamat email untuk konfirmasi ulang. Hingga saat ini berdasarkan konfirmasi yang sudah masuk ke MER-C dan sudah terdata  jumlah hewan qurban untuk Gaza berjumlah 17 ekor domba dan 1 ekor sapi.                

MER-C Terus Salurkan Bantuan Kemanusiaan Rakyat Indonesia Secara Bertahap kepada Rakyat Gaza

Gaza – Memanfaatkan genjatan senjata yang cukup panjang selama 8 hari beberapa waktu lalu, MER-C Cabang Gaza melakukan kegiatan bantuan kemanusiaan berupa pembagian 2.000 paket sembako kepada warga Gaza yang membutuhkan. Pembagian dilaksanakan selama 3 hari gencatan senjata, dimana targetnya adalah warga yang rumahnya hancur karena agresi Israel, anak yatim dan fakir miskin. Proses pembagian dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, para relawan turun langsung untuk membagikan. Kedua, bekerja sama dengan Instansi Pemerintah seperti pihak Civil Defense dan pengurus masjid atas nama pemerintah. Ketiga, bekerja sama dengan NGO. Keempat, warga datang ke RS Indonesia untuk mengambil bantuan secara langsung. Teknis pembagian ialah warga menyetorkan data lengkap mereka sebagai persyaratan untuk mendapatkan paket sembako. Hal ini untuk mencegah terjadinya double paket pada satu nama. Pembagian dilangsungkan di seluruh daerah di Jalur Gaza dari selatan hingga utara, dengan rincian daerahnya sbb, Utara: Bait Lahiya, Jabaliya, Syuja’iyah, Bait Hanun, Tal za’tar. Gaza city dan Zaitun. Selatan: Khonyunis dan Rafah. Selain sembako, bantuan lainnya yang juga telah tersalurkan dari donasi rakyat Indonesia adalah bantuan daging sapi menjelang Idul Fitri sebanyak 80 paket yang dibagikan kepada 80 keluarga, bantuan uang tunai bagi para korban luka-luka yang berada di Rumah Sakit dan korban agresi lainnya sebesar total USD 11,000 dan Rp 500 juta. Penyaluran bantuan kemanusiaan akan dilanjutkan dengan penambahan 2.000 paket sembako lagi dan menyusul juga paket alat-alat dapur. Sementara untuk bantuan obat-obatan dengan alokasi sebesar USD 200.000, prosesnya juga sedang berjalan dan selalu update setiap harinya, karena khusus obat-obatan relawan MER-C harus selalu berkomunikasi dengan pihak Kemenkes Gaza untuk mengetahui obat-obatan apa saja yang saat itu sangat dibutuhkan, demikian arahan yang disampaikan Jubir Kemenkes Gaza Dr. Ashraf Alqedra. MER-C melalui cabangnya di Gaza yang terdiri dari 19 relawan Indonesia dan beberapa relawan lokal akan terus menyalurkan amanah bantuan dari rakyat Indonesia secara bertahap kepada rakyat Gaza.                  

RELAWAN MER-C SALURKAN LANGSUNG BANTUAN RAKYAT INDONESIA UNTUK GAZA

Gaza – Relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) di jalur Gaza menyalurkan bantuan dari rakyat Indonesia kepada warga gaza secara langsung pada selasa 15/7. Ditengah serangan israel yang masih berlangsung relawan mendatangi rumah-rumah warga Gaza yang sedang membutuhkan dengan memberikan paket makanan pokok, demikian Ketua MER-C Cabang Gaza, Muqarrabin Al Fikri menyatakan. “Kami datangi rumah warga Gaza satu persatu, walaupun serangan israel masih terus berlangsung” Ujar Fikri. Mahasiswa Universitas Islam Gaza ini menambahkan bahwa ini baru bantuan awal saja, karena akan ada program lain berupa buka puasa bersama dengan anak yatim dan pembagian makanan untuk berbuka bagi para dhuafa. Sementara itu walaupun dua hari yang lalu RS Indonesia terkena imbas serangan Israel yang mengakibatkan kerusakan pada kaca dan plafond, relawan dalam kondisi selamat dan pekerjaan penyelesaian Rumah Sakit masih terus berangsung, relawan setiap harinya melakukan pekerjaan pekerjan seperti penyelesaian akhir pekerjaan elektrikal, serta pembersihan ruangan. Saat berita ini ditulis serangan israel masih terus berlangsung, sejumlah korban terus berjatuhan tercatat setidaknya 205 orang meninggal dan 1530 luka luka, kebanyakan dari mereka adalah anak-anak dan wanita. Warga dan pemerintah Gaza sendiri mengharapkan Rumah Sakit Indonesia segera beroperasi terlebih dalam situasi seperti ini, dimana daerah utara gaza tempat Rumah Sakit Indonesia berdiri adalah daerah yang paling banyak memakan korban serangan israel, karena jarak dengan perbatasan tanah jajahan israel hanya 2,5 km. MER-C sendiri berkomitment akan mempercepat beroperasinya RS Indonesia ini, yang semula direncanakan akan dibuka pada desember 2014, namun banyaknya donasi maka akan segera dilakukan pemesanan alat kesehatan agar segera beroperasi. Donasi untuk amanah Kemanusiaan Gaza: BSM, 700.2905.803 A/n. Medical Emergency Rescue Committee Donasi untuk Alat Kesehatan RS Indonesia di Gaza: . BCA, 686.0153678 . BSM,700.1352.061 BNI SYARIAH, 08.111.929.73 . BRI,033.501.0007.60308 . BMI, 301.00521.15 . Mandiri,124.0008111925 An. Medical Emergency Rescue Committee (nia)  

Silahkan bertanya?