MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Pembangunan Tahap 2 RSI Gaza Segera Dimulai

Gaza, Palestina – Dengan selesainya pembangunan tahap pertama untuk struktur RS Indonesia (RSI), bukan berarti pekerjaan selesai sampai disini. Pembangunan tahap kedua untuk pekerjaan Arsitektur dan ME (Mekanikal Elektrikal) sudah menanti diepan mata dan memiliki tantangan yang tak kalah besarnya dari tahap pertama. Jika tahap pertama pembangunan RSI ini material yang dibutuhkan hanya berupa beton dan besi, maka di tahap kedua proses akan lebih rumit dan memerlukan konsenterasi dan tenaga yang lebih besar. Pembangunan tahap kedua untuk Arsitektur dan ME akan memerlukan banyak material yang di-supply dari luar Gaza. Terlebih lagi material-material tersebut hampir semua diimpor melalui terowongan Gaza. Namun demikian kami sangat yakin akan pertolongan ALLAH. Dulu RSI ini awalnya adalah sebuah khayalan, namun dengan pertolongan ALLAH khayalan itu kini sudah berbentuk nyata dan berdiri tegak di Gaza. Demikian juga dengan semua relawan MER-C yang mengawasi pembangunan RSI Gaza, insha ALLAH senantiasa berkomitment akan mengerahkan segenap kemampuan dan tenaga yang dimiliki untuk menyelesaikan pembangunan RSI Gaza ini.   Kurangnya dana menjadi salah satu kendala   Direncanakan pembangunan tahap II RSI Gaza akan dimulai pada bulan Juni 2012. Sementara itu kendala pendanaan juga menjadi salah satu faktor penghambat dilanjutkanya tahap kedua. Sejatinya, setelah selesai tahap pertama RSI ini dilanjutkan langsung dengan pembangunan Tahap kedua, namun karena dana yang dibutuhkan belum memadai, maka pembanguanan tahap kedua menjadi molor. Dari total dana yang dibutuhkan sekitar 30 milyar rupiah, dana yang sudah terkumpul sumbangan dari rakyat Indonesia sekitar 21 milyar rupiah, masih diperlukan 9 milyar rupiah lagi untuk selesainya pembangunan tahap kedua ini. RSI Gaza sangat berperan mengangkat nama baik Indonesia di dunia international, terlebih lagi sudah banyak rekan-rekan dari luar negeri seperti Turki dan Malaysia yang pernah mengunjungi dan melihat langsung proses pembangunan RSI di Gaza. Mereka mengatakan kekagumannya terhadap perjuangan rakyat Indonesia dalam memberikan bantuan kepada rakyat Gaza. Mohon doa dan dukungan dari seluruh rakyat Indonesia.   Ir. Nur Ikhwan Abadi Salah satu relawan MER-C Indonesia di Gaza

Pembangunan Tahap I RSI Gaza Selesai 100 %

Gaza, Palestina – Setelah hampir satu tahun sejak dimulainya proses pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza pada Mei 2011, akhirnya pembangunan tahap 1 untuk struktur RSI selesai 100 %. Pekerjaan yang semula ditargetkan selama 9 bulan, sempat molor selama 3 bulan dikarenakan beberapa hal antara lain, susahnya relawan masuk ke Gaza dalam rangka mengawal pembangunan RSI, pengadaan material yang senantiasa dikirimkan melalui terowongan, kondisi cuaca pada akhir tahun 2011 dan awal tahun 2012 yang senantiasa turun hujan lebat. Selain itu, kondisi keamanan di Gaza yang tidak menentu akibat serangan-serangan zionis Israel juga menyebabkan beberapa kali pekerjaan harus terhenti, serta beberapa item pekerjaan tambahan memerlukan waktu tambahan pula dalam pengerjaannya. Namun demikian hambatan-hambatan di atas masih terbilang sangat wajar, terlebih di daerah yang diblokade ketat bak penjara terbesar di dunia, seperti Gaza, pekerjaan bisa berjalan seperti ini memang sudah sangat luar biasa. Akhir pekerjaan RSI Gaza ini ditandari dengan pengecoran akhir tangga ramp yang dilaksanakan pada hari Sabtu 28 April 2012. Dua minggu sebelumnya diadakan pengecoran middle area dari RSI ini setinggi 1 lantai, dan beberapa item lain seperti pintu masuk basement dan lantainya. Dengan demikian 100 % selesai sudah pembangunan RSI tahap pertama ini yang selanjutnya akan diikuti oleh pembangunan tahap kedua untuk Arsitektur dan ME (Mekanikal Elektrikal) RSI. Terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, dukungan baik moril maupun materiil untuk program ini, dukungan anda semua sangat berarti besar demi terbangunnya RSI sebagai persembahan nyata dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina.   Ir. Nur Ikhwan Abadi Salah satu relawan MER-C Indonesia di Gaza Palestina

GMJ Darat Tiba di Beirut: 8,5 Jam Tertahan di Kapal

Turki Tim Konvoi Darat Global March to Jerusalem (GMJ) tiba di Pelabuhan Mersin Turki, pukul 02.30 pagi hari, 27/3. Sebelumnya tim sempat demonstrasi dan singgah di pusat kota Konya tepat di depan gedung Konya Bolge 26/3. Tim disambut oleh NGO Mazlumder Konya. Feroze, delegasi India mengatakan, kita akan marcing ke Jerusalem dari seluruh penjuru dunia untuk membebaskan Aqsa, setelah Netanyahu memberi peringatan akan menindak tegas demonstran GMJ yang mendekati perbatasan, peserta GMJ tambah besar hingga 2 juta. Seluruh peserta kelihatan lelah setelah  lima jam perjalanan dari Konya. Delegasi sempat mengunjungi Museum dan makam Jalaluddin Rumi, di Konya sekitar lima jam. Usai dari museum, Panitia GMJ Konya menjamu makan malam kemudian dilanjutkan dengan  pertemuan dengan organisasi Kaum Dhuafa (Enderun Egitim Fakfi Kenya Subesi),   Direktur Enderum Foundation, Mr. Latief mengucapkan selamat datang di Konya dan semoga anda bisa kesini lagi., kami menyambut GMJ dan insyaAllah Palestina akan merdeka. Meski peserta dari berbagai agama dan negara kita punya satu tujuan, membebaskan Jerusalem. Fadil salah satu peserta dari Palestina mengatakan, solidaritas bangsa Asia sangat penting untuk menekan Israel, Jerusalem harus menjadi  milik semua umat monoteisme, Jerusalem harus dibebaskan dari kolonialisme. Nyanyian Aqsa terdengar serempak dari para peserta, Aqsa Haquna. Dengan menggunakan 3 bus, tim GMJ melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan Mersin, Turki, dengan jarak 255 KM. Setelah menunggu dari pukul 03.00 hingga pukul 23.00, tim akhirnya berangkat dengan menggunakan kapal berbendera Turki, Fergun Express 2. Angin bergerak kencang, peserta nampak kedinginan, gelombang laut naik turun hingga separuh lebih peserta GMJ mabuk laut. Rabu (28/03) pukul 07.00 pagi waktu lokal, mulai nampak bayangan gedung-gedung bertingkat kota Beirut. Emeraude Express tetap melaju dengan kecepatannya yang konstan hingga akhirnya bersandar di pelabuhan Beirut pada pukul 09.30 waktu Beirut. Tentara Perdamaian PBB dari Brazil dan Libanon nampak berjaga di luar kapal. Di pelabuhan, para delegasi GMJ dari berbagai negara; India, Indonesia, Filipina, Malaysia, Iran, Turki dll berpikir bisa segera turun dan bergabung dengan delegasi yang lain. Tapi ternyata masih menunggu lama dengan ketidakpastian. Informasi simpang siur, belum bisa keluar dari kapal karena masih terganjal dengan masalah visa masuk Beirut. Awalnya para delegasi bersikap tenang dengan mengobrol dan bercanda di dalam kapal maupun di dek. Ada juga yang berusaha mengajak ngobrol aparat keamanan yang mondar mandir di luar kapal, walaupun tidak membuahkan hasil. Aparat bersenjata lengkap hanya diam dan memasang muka sangar. Pukul 12.00, Feroze Mithiborwala, selaku koordinator GMJ India, membawa informasi bahwa tertahannya para delegasi ternyata bukan karena masalah visa belaka, tetapi karena situasi politik Libanon dengan adanya pihak-pihak yang tidak menginginkan delegasi GMJ memasuki Libanon. Para delegasi mulai emosional, berbondong-bondong naik ke palka/atap kapal sambil meneriakkan yel-yel dan memukul-mukul atap kapal. Setelah tertahan selama kurang lebih 8,5 jam di kapal, sekitar pukul. 18.00 khusus delegasi Indonesia yang berjumlah 28 orang dengan bantuan dan jaminan visa dari Pihak KBRI akhirnya bisa keluar dari kapal sementara delegasi yang lain masih menunggu administrasi pelabuhan. Sempat acara seremoni perpisahan di kapal, delegasi GMJ Indonesia kemudian dibagi menjadi dua tim, tim pertama sebanyak 24 orang  menuju Yordania 28/3 malam pukul 22.15 untuk berkampanye di Front Yordania. Sementara, tim kedua sebanyak empat orang ikut bergabung dengan panitia GMJ Libanon untuk berkampanye di Front Libanon. Duta Besar Indonesia di Libanon, Dimas Samudra sempat memberikan statemen dukungan pada kegiatan GMJ, karena amanah mukadimah Undang-Undang Dasar 1945, dan menyerukan bahwa tempat suci Jerusalem untuk semua umat dan mendukung dibebaskanya Jerusalem dari kolonialisame. KBRI Libanon akan  menfasilitasi bagi kelancaran kampanye sipil GMJ di Libanon.   Tim Konvoi Darat GMJ Indonesia Laporan dari Muhammad Maruf (VOP) & dr. Nafan Akhun (MER-C)

GMJ Konvoi Darat Tiba di Yordania

Jordan Rabu (28/03), dari KBRI Beirut, sebanyak 24 orang Tim Konvoi Darat GMJ Indonesia langsung menuju bandara internasional Rafic Hariri Beirut Libanon untuk mengejar jadwal penerbangan ke Amman Yordania pada pukul 22.15. Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit, Tim Konvoi darat GMJ Indonesia tiba di Bandara Internasional Queen Alia Amman Yordania pada pukul 23.10 waktu setempat. Di bandara Amman, Tim Konvoi Darat dijemput oleh Tim GMJ Indonesia rute 2 yang sudah lebih dulu tiba di Yordania yang kemudian dibawa ke penginapan dimana delegasi Indonesia lainnya sudah menunggu. Sesampainya di penginapan, di daerah Syifa Badran, rombongan Konvoi Darat GMJ bisa beristirahat dengan tenang dan membersihkan badan setelah hampir tiga hari tidak mandi. Kamis (29/03), pagi hingga siang harinya, tim GMJ Indonesia baik rute 1 (konvoi darat) maupun rute 2 sebanyak 79 orang berkumpul untuk melakukan evaluasi kegiatan konvoi darat yang telah dilalui, membahas segala kekurangan dan keterbatasan yang  ada untuk dilakukan perbaikan pada GMJ di tahun-tahun mendatang. Usai shalat maghrib seluruh rombongan GMJ Indonesia menghadiri acara jamuan makan malam di kediaman KBRI Jordania. Selepas menikmati hidangan, diadakan acara ramah-tamah dan sambutan dari pimpinan masing-masing delegasi. Acara dibuka oleh Bapak Zainul Bahar Noor, Duta Besar RI untuk Yordania sekaligus selaku tuan rumah yang didampingi oleh istri, Ibu Rosidah. Disusul oleh Bapak Bachtiar Nasir selaku Ketua ASPAC (Asia Pasific Committee for Palestine), kemudian dr. Joserizal Jurnalis, Sp.OT selaku Penggagas GMJ, lalu Bapak Ferry Nur dari KISPA, Ibu Marwah Daud Ibrahim (ASPAC), Koordinator AWG (Aqsha Working Group), M. Hafidz dari DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia) dan Ibuu Siti Aminah Assegaf dari VOP (Voice of Palestine). Masing-masing delegasi berkomitmen dan bersepakat bahwa rombongan dari Indonesia harus bersatu dalam satu barisan untuk acara yang akan digelar esok hari, 30 Maret 2012. Usai acara resmi ditutup, dilakukan pembicaraan antar koordinator delegasi untuk membahas masalah teknis di lapangan, termasuk memilih Koordinator Pusat untuk seluruh rombongan, yaitu Ust. Agus Sudarmaji dari AWG dan Lilik Nur Kholili dari ASPAC. Acara berakhir pukul 23.00 waktu lokal, para delegasi menuju kediaman masing-masing untuk menyiapkan acara keesokan harinya. Diperoleh informasi via SMS dari pelabuhan Beirut Lebanon bahwa tadi malam rekan-rekan delegasi GMJ dari India, Turki, Iran dan lain-lain sudah diizinkan menginjakkan kaki di Beirut dan saat ini  dalam perjalanan menuju Nabakhtiye, Beirut Selatan. Laporan dari Tim GMJ Indonesia dr. Naf’an Akhun (MER-C)

8,5 Jam Tim Konvoi Darat GMJ Indonesia Tertahan di Kapal

Turki – Selasa (27/03), dini hari pukul 02.00 wib, bus yang mengangkut rombongan Konvoi darat GMJ (Global March to Jerusalem) tiba di kota Pelabuhan Mersin, pelabuhan yang terletak di wilayah pesisir selatan negara Turki. Meski demikian para penumpang masih tertidur lelap dalam bus, kecuali yang bangun untuk mencari toilet setelah menahan buang air kecil semalaman. Seluruh rombongan baru terbangun pada pukul 05.30 saat terdengar adzan subuh dari sebuah masjid terdekat.   Sebagian rombongan, termasuk saya, segera mencari arah suara adzan untuk mengikuti shalat berjamaah. Usai shalat subuh, para delegasi segera membersihkan diri walau hanya sekedar menyikat gigi di masjid bernama Haliliye (Resadiye) Camii. Masjid mungil dan cantik ini dibangun pada masa H. Mehmet Pasa Tarafindan pada tahun 1908. Diperoleh informasi bahwa pemberangkatan menuju Beirut (Libanon) ditunda karena cuaca buruk dan angin kencang, ditambah lagi pengurusan visa masuk Beirut yang belum selesai. Namun satu alasan paling mendasar adalah mewaspadai mata-mata bila perjalanan dilakukan di siang hari. Untuk sementara, seluruh rombongan sementara menunggu di Cypru Bazaar, sebuah toko di tepi pantai yang masih dalam renovasi untuk menampung bagasi para delegasi. Pukul 21 waktu lokal, kapal laut yang ditunggu-tunggu mulai kelihatan. Perlahan kapal merapat di dermaga dekat lokasi penampungan bagasi. Seluruh delegasi bersiap, mulai dilakukan pengecekan paspor dan visa masuk Beirut. Jam 23.30 waktu lokal, Emeraude Express, kapal laut yang ditumpangi seluruh delegasi mulai melaju perlahan menuju arah selatan, membelah ombak laut Mediterania dengan tujuan pelabuhan Beirut di Libanon. Rabu (28/03) pukul 07.00 pagi waktu lokal, mulai nampak bayangan gedung-gedung bertingkat kota Beirut. Emeraude Express tetap melaju dengan kecepatannya yang konstan hingga akhirnya bersandar di pelabuhan Beirut pada pukul 09.30 waktu Beirut. Di pelabuhan, para delegasi GMJ dari berbagai negara; India, Indonesia, Filipina, Malaysia, Iran, Turki dll berpikir bisa segera turun dan bergabung dengan delegasi yang lain. Tapi ternyata masih menunggu lama dengan ketidakpastian. Informasi simpang siur; belum bisa keluar dari kapal karena masih terganjal dengan masalah visa masuk Beirut. Awalnya para delegasi bersikap tenang dengan mengobrol dan bercanda di dalam kapal maupun di dek. Ada juga yang berusaha mengajak ngobrol aparat keamanan yang mondar mandir di luar kapal, walaupun tidak membuahkan hasil. Aparat bersenjata lengkap hanya diam dan memasang muka sangar. Pukul 12.00, Feroze Mithiborwala, selaku koordinator GMJ India, membawa informasi bahwa tertahannya para delegasi ternyata bukan karena masalah visa belaka, tetapi karena situasi politik Libanon dengan adanya pihak-pihak yang tidak menginginkan delegasi GMJ memasuki Libanon. Para delegasi mulai emosional, berbondong-bondong naik ke palka/atap kapal sambil meneriakkan yel-yel dan memukul-mukul atap kapal. Setelah tertahan selama kurang lebih 8,5 jam di kapal, khusus delegasi Indonesia yang berjumlah 28 orang mendapat jaminan visa dari KBRI Libanon sehingga akhirnya mendapat kemudahan untuk keluar dari kapal, dengan syarat yang digaris bawahi: delegasi Indonesia dilarang menuju Lebanon Selatan. Syarat ini bisa menjadi masalah di kemudian hari, karena delegasi Konvoi Darat GMJ Indonesia memutuskan berkampanye di dua front, yaitu front Lebanon selatan dan front Yordania. Bagi front Yordania, syarat tersebut tidak menjadi masalah karena delegasi Indonesia memasuki Beirut hanya sekedar transit, untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan via udara menuju Amman, Yordania pada malam harinya. Pukul 19.30 waktu lokal, rombongan dari Indonesia menghadiri jamuan makan malam di KBRI yang diterima langsung oleh Duta Besar RI untuk Lebanon, Bpk. Dimas Samodra Rum. Usai makan malam dan shalat, rombongan segera menuju bandara Internasional Rafiq Hariri Beirut, mengejar jadwal pesawat yang akan take off pada pukul 22.15 waktu lokal. Alhamdulillah, penerbangan selama 45 menit lancar hingga mendarat di bandara Internasional Queen Alia Amman Yordania pada pukul 23.10 waktu setempat. Di bandara Amman, rombongan GMJ (yang telah bertemu dengan panitia penjemputan) langsung meluncur untuk bergabung dengan Tim GMJ Rute 2 yang sudah lebih dulu tiba di Yordania dan menunggu di penginapan. Sesampainya di penginapan, di daerah Syifa Badran (Belakang Levant Academic School), rombongan Konvoi Darat GMJ bisa beristirahat dengan tenang dan membersihkan badan setelah hampir tiga hari tidak mandi. Sampai berita ini ditulis, belum diperoleh informasi mengenai nasib delegasi GMJ dari negara lain yang kami tinggal di atas kapal dan nasib delegasi GMJ Indonesia front Libanon. Naf’an Akhun GMJ Indonesia dari MER-C

Hari ini, Rombongan Terakhir GMJ Indonesia Bertolak ke Yordania

Jakarta Hari ini, Selasa (27/03), dua rombongan terakhir GMJ (Global March to Jerusalem) Indonesia bertolak ke Amman Yordania. Rombongan pertama berjumlah 9 orang telah bertolak ke Amman Yordania pada pukul 00.40 wib dengan menggunakan Emirates Airlines. Kesembilan orang tersebut merupakan perwakilan dari beberapa lembaga seperti MER-C, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Aqsa Working Group (AWG), Front Pembela Islam (FPI), dan Forum Indonesia Muda (FIM). Rombongan langsung dipimpin oleh dr. Joserizal Jurnalis, SpOT. Rombongan kedua sebanyak 3 orang yang semuanya berasal dari Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI) akan menyusul terbang ke Amman (Yordania) pada siang ini.   Untuk itu, sampai dengan saat ini total jumlah delegasi Indonesia di bawah koordinasi MER-C yang akan berkumpul di Amman Yordania untuk mengikuti gerakan masyarakat sipil dunia Global March to Jerusalem (GMJ) pada tanggal 30 Maret 2012 mendatang, berjumlah 79 orang. Sebanyak 28 orang mengikuti GMJ melalui konvoi darat (rute 1) yang telah bertolak ke Karachi (Pakistan) pada tanggal 9 Maret 2012 lalu. Sementara sisanya, sebanyak 51 orang mengikuti GMJ rute 2, dari Jakarta langsung ke Amman Yordania. Sebelum berangkat, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT mengingatkan kepada para peserta bahwa misi kali ini adalah untuk pembebasan Jerusalem dan mematahkan 4 mitos hak yang selama ini diyakini oleh zionis Israel. Keempat hak tersbeut adalah Yahudi adalah etnis terpilih untuk memimpin dunia, mereka adalah pemilik tanah Palestina yang dijanjikan, mereka berhak kembali ke tanah itu dan mereka berhak untuk melakukan serangan lebih dulu. Empat hak inilah yang harus kita patahkan karena tidak bisa berdampingan dengan norma-norma peradaban manusia, tegas dr. Joserizal pada saat briefing singkat Tim di Terminal 2D Bandara Internasional Soekarno Hatta tadi malam.

RSI Gaza Bukukan Rekor untuk Kedua Kalinya

Gaza Palestina: RS Indonesia (RSI) Gaza, kembali memecahkan rekor pengecoran terbesar yang pernah terjadi di Gaza. Beton sejumlah 500 m3 (meter cubic) yang dimuntahkan dalam satu waktu selama 8 jam proses pengecoran lantai 3 RSI pada Selasa (20/03) ini menjadikannya sebagai pengecoran terbesar yang pernah terjadi di Gaza. Jika di Indonesia atau negara lainnya, pengecoran sejumlah tersebut terbilang biasa, namun berbeda dengan Gaza, negeri yang terblokade ini belum pernah melakukan pengecoran sebesar itu.   Rekor pertama dipecahkan pada saat pengecoran lantai 2 RSI sekitar 2 bulan yang lalu, pengecoran sejumlah 484 m3 (meter cubic) berhasil dilakukan. Belum pernah sebelumnya dilakukan pengecoran sebesar ini dalam satu waktu. Awalnya para insinyur di Gaza tidak yakin bisa melakukan pengecoran ini dalam sekali waktu. Berkali-kali mereka meminta kepada Tim Insinyur MER-C yang tergabung dalam Divisi Konstruksi MER-C untuk melakukan pengecoran tidak dalam satu waktu. Banyak alasan yang mereka kemukakan, mulai dari bahan yang terbatas yang harus masuk melalui terowongan, hingga kekhawatiran akan terjadi keruntuhan ketika dicor dalam satu waktu. Tapi para relawan insinyur MER-C di Gaza menyarankan dan mengatakan bahwa hal ini sudah biasa dan insha ALLAH tidak akan terjadi masalah. Seperti kata pepatah, pengalaman merupakan guru yang terbaik, para relawan insinyur MER-C yang telah berpengalaman di bidangnya membuktikan hal itu dan Alhamdulillah tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Dengan luas hanya 365 km2 (kilometer persegi) dan kepadatan penduduk 4.400 jiwa per satu kilometer persegi, menyebabkan Gaza sangat sempit dan kekurangan lahan, sehingga banyak bangunan bertingkat. Namun umumnya bangunan di Gaza hanya berbentuk segi empat. Berbeda dengan RSI Gaza yang berbentuk segi delapan, sehingga menjadikannya sangat unik dan berbeda dari yang lain. Semoga Rumah Sakit Indonesia di Gaza Palestina ini membawa kebaikan bagi rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di Gaza serta semakin mempererat rasa ukhuwah dan kecintaanya satu sama lain. Insha ALLAH. Ir. Nur Ikhwan Abadi Salah satu Relawan Insinyur MER-C di Gaza

Pengecoran Lantai 3 Selesai, Progress RSI Gaza Capai 97 %

Gaza Palestina: Pekerjaan tahap I Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza Palestina mendekati akhir. Tanggal 20 Maret 2012, pengecoran lantai 3 menandai semakin dekatnya penyelesaian tahap I ini. RSI Gaza berbentuk segi delapan yang terinspirasi dari Masjid Qubbah Sakhra, di Al-Quds  ini sudah berdiri tegak di atas bumi Syam penuh berkah ini. Rasa haru dan bahagia tampak di wajah setiap relawan Indonesia. Haru karena mimpi itu menjadi nyata. Lebih dari satu tahun sebanyak 6 orang relawan MER-C Indonesia meninggalkan tanah air, meninggalkan pekerjaan dan keluarga untuk menunaikan amanah di pundak mereka. Dengan izin-NYA semata, para relawan bisa mengatasi berbagai masalah yang ada satu persatu.   Waktu berlalu terasa begitu cepat, sejak ide ini dilontarkan sekitar 3 tahun yang lalu tidak terbayang akan menjadi kenyataan. Terlebih lagi rakyat Indonesia, yang memberikan dukunagn penuh terhadap pembangunan RSI Gaza, dengan menyumbangkan rupiah demi rupiah untuk saudaranya di Gaza Palestina. Walaupun terkadang mereka sendiri membutuhkan bantuan, tapi kecintaan mereka terhadap sesama, kecintaan mereka mendahulukan kepentingan yang paling membutuhkan menjadikanya sebuah kekuatan yang begitu dahsyat. Jika rakyat sudah bersatu padu maka rintangan apapun akan mudah dihadapi dengan izin-NYA. Dengan dibangunnya RSI ini, nama Indonesia pun sudah begitu menggema di setiap sudut kota Gaza. Jika rakyat Gaza bicara tentang Indonesia, maka akan teringat dengan jumlah muslim terbesar di dunia. Begitu juga ketika bicara tentang muslimin maka akan teringat Indonesia yang mempunyai penduduk muslim terbesar di dunia. Setiap rakyat Gaza yang bertemu relawan menyatakan terima kasihnya kepada rakyat Indonesia dan mendoakan semoga program ini menjadi sebuah amal kebaikan. Bangunan RSI ini merupakan bangunan pertama di Gaza yang dibangun dari nol sejak agresi Israel ke Gaza 2008-2009 yang lalu. Bentuknya yang unik, desainnya yang sangat asing membuat bangunan RSI ini menjadi bangunan terunik di Gaza. Tidak pernah ada bangunan seperti ini sebelumnya di Gaza, bahkan setiap orang yang datang melihat terheran-heran, hingga para insinyur di Gaza pun heran melihat disain seperti ini. Bangunan apa ini? Kokoh sekali? Bagaimana mereka membuatnya? Tidak ada bangunan seperti ini sebelumnya di Gaza? tanya mereka penuh keheranan. Pengecoran 500 m3 Lantai 3 RSI Gaza Hanya 8 Jam Setelah melakukan supervisi terhadap seluruh pekerjaan lantai 3, mulai dari pekerjaan shuttering, pembesian hingga kebersihan selama kurang lebih 1 bulan penuh akhirnya dilakukan pengecoran lantai terakhir RSI Gaza. Persiapan pekerjaan pengecoran dilakukan sejak pukul 03.00 dini hari waktu Gaza. Pukul 02.00 dini hari para relawan yang berada di Posko MER-C Gaza City telah bersiap berangkat ke lokasi RSI di Bayt Lahiya Gaza Utara, tiba di lokasi sekitar pukul 02.50 waktu Gaza, Nampak para kerja sudah mulai bersiap-siap melakukan pengecoran, pengecekan terakhir dan beberapa persiapan segera dilaksanakan, Tidak butuh waktu lama, sekitar pukul 04.10 waktu Gaza pengecoran dimulai. Dengan menggunakan 2 concrete pump dan puluhan pekerja, pengecoran pun dimulai. Seluruh relawan berkumpul dan mengawasi bersama-sama proses pengecoran ini. Tiga orang relawan insinyur dari Indonesia ditambah dua orang insinyur lokal Gaza mengawasi berjalannya pekerjaan, sedangkan relawan lainnya membantu tim insinyur dan mendokumentasikan pekerjaan. Ketika waktu subuh tiba, para relawan bergiliran melakukan shalat subuh untuk kemudian kembali melakukan pengawasan. Suhu udara di Gaza yang sudah mulai menghangat menambah semangat para pekerja dan relawan. Pekerja yang terdiri dari 2 grup dimana setiap grup terdiri dari 15 orang ini, dengan semangat melakukan pengecoran. Bentuknya yang segi delapan memang cukup memudahkan para pekerja, karena terdiri dari delapan panel dan setiap panel memerlukan waktu sekitar satu jam untuk dicor. Hanya dalam waktu 8 jam proses pengecoran sebesar 500 m3 ini pun selesai pada pukul 12.00 waktu Gaza. Setiap orang mengucapkan selamat dan bersyukur karena telah menyelesaikannya dengan baik tanpa kendala yang berarti. —————————– Ir. Nur Ikhwan Abadi Salah satu relawan MER-C Indonesia di Gaza – Palestina

GMJ 2012 : Aksi Damai Pembebasan Palestina Terus Digelar di Pakistan

Karachi – Hari ini, Selasa, 13 Maret 2013, pukul 15 waktu lokal, peserta GMJ Indonesia, Filipina, Malaysia, India dan Pakistan melakukan aksi damai untuk pembebasan Palestina di Quaid e Aazam Muhammad Ali Jinnah tomb (Makam Muh ali Jinnah, Pendiri Negara Pakistan). Acara dihadiri oleh Duta Besar Palestina untuk Pakistan, Mr. Hazim Abu Shannab, Hussain Mehenti dari Jamaat Islami Karachi, Mulana Sadiq Raja Taqui dan Mulana Raja Nasir Abbas dari Majlis-e-Wahdat-e-Muslimeen Pakistan.    Orasi yang dilakukan di pintu gerbang makam diawali oleh Mr. Hazim Abu Shannab, kemudian Mulana Raja Nasir Abbas, Asad Ullaa Bautoo dari Jamaat Islami. Setelah orasi selesai para delegasi memasuki kawasan makam sambil berbaris serta meneriakkan yel yel. Memasuki lokasi makam, acara berlangsung khidmat. Seorang perwakilan delegasi meletakkan karangan bunga di pagar makam. Setelah itu acara selesai, diakhiri dengan pembacaan doa. Sore hari rombongan bergerak menuju markas Majlis-e-Wahdat-e-Muslimeen Pakistan menghadiri undangan ramah tamah. Pukul 21 waktu setempat, rombongan bergerak kembali ke basecamp untuk beristirahat karena keesokan harinya peserta dijadwalkan berangkat menuju Quetta, salah satu kota eksotik di Pakistan. Labbaik..labbaik¦Al Quds¦Al Quds¦  Dr. Nafan Akhun Relawan Medis MER-C

Peserta GMJ Bertambah dari India

Karachi Pagi ini, 12 Maret 2012, delegasi dari India mulai berdatangan sebanyak 12 orang dari berbagai kota, suku dan agama dengan pakaian dan atribut seperti yang biasa kita lihat di film-film India. Kami langsung membaur dan segera akrab karena disatukan oleh satu misi dan tujuan, yaitu membebaskan Jerusalem dengan aksi damai.   Menginjak siang, mendadak peserta GMJ kedatangan tamu dari Duta Besar Palestina untuk Pakistan, Mr. Hazim Abu Shannab yang mengunjungi basecamp GMJ di PILER CENTER. Ramah tamah dilakukan di Ruang Auditorium yang diisi dengan sambutan dari tiap wakil delegasi dan dari pihak Dubes. Berikut sambutan dari Dubes Palestina untuk Pakistan: Terima kasih untuk kedatangan dan usaha anda yang luar biasa. Terima kasih untuk orang-orang anda, negara anda, dan kesadaran anda terhadap apa yang menimpa Palestina. Saya adalah seorang Duta Besar tetapi saya juga adalah pengungsi. Kakek, ayah dan anak laki-laki saya adalah pengungsi. Dengan dukungan dari anda, saya harap cucu saya tidak akan menjadi pengungsi. Kami ingin pulang, kami ingin kembali ke Palestina. Kami senang tinggal dimanapun, tapi kami merasakan kehausan dan kelaparan untuk kembali ke Palestina. Mungkin kami tidak punya uang untuk gerakan ini, tapi kami siap untuk menanggung tanggungjawab tidak hanya politik tapi juga jika anda butuh badan kami untuk jadi jembatan menuju Palestina, KAMI SIAP. Siapapun kita, kita punya hak untuk pergi kemanapun. Palestina adalah bagian dari dunia ini. Masjidil Aqsha adalah tempat yang sangat penting untuk orang Islam, tetapi di sana bahkan sholat Jumat saja tidak boleh melebihi 2 shaf. Orang Palestina tidak boleh masuk ke sana, berapapun usianya. Saya percaya bahwa Jerussalem adalah untuk semua orang, bukan hanya untuk satu kelompok orang. Saya mengapresiasi adanya gerakan ini yang akan menyuarakan bahwa Palestina adalah untuk semua orang dan orang Palestina harus kembali pulang dengan damai. Kami ingin semua orang hidup. Kami tidak ingin membunuh siapapun. Menjelang pukul 15 sore waktu setempat, seluruh tim GMJ bergerak ke Karachi Press Club yang berada di pusat kota Karachi untuk mengadakan konferensi pers. Karachi Press Club merupakan markas persatuan jurnalis Pakistan di karachi. Menurut Mustafa, salah seorang anggota GMJ Pakistan, di lingkungan Karachi Press Club terdapat toko kebutuhan pokok yang disediakan khusus untuk para jurnalis dengan harga super murah untuk menjamin kesejahteraan jurnalis, ini demi perkembangan pers di Pakistan. Selepas konferensi press, kami jalan-jalan sejenak di keramaian kota Karachi sembari menunggu jadwal undangan makan malam di kantor Jamaat Islami Karachi Pakistan. Setelah Isya, dimulai acara ramah tamah di markas Jamaat Islami Pakistan yang dihadiri juga dari perwakilan partai dari Pakistan dan perwakilan ekspatriat Saudi Arabia. Berikut kutipan dari masing-masing pembicara: Ketua World Moslem Congress Pakistan: Sejarah menunjukkan bahwa selama masa kekuasaan Islam, siapapun penguasanya, tidak ada darah yang tertumpah di Palestina. Tahun 1987, PBB dibawah kendali Amerika Serikat, memutuskan bahwa Israel juga berhak atas tanah Palestina. Dan sejak saat itu banyak tragedi berdarah terjadi. Contoh : Des 2008 Jan 2009 (bombardir Israel di Gaza), Mavi Marmara, bahkan Ismail Haniya yang hendak pergi ke Mesir untuk meminta bantuan dilarang oleh Israel. Konflik ini tidak dibatasi oleh muslim atau bukan. Ini adalah masalah kemanusiaan. Saya ucapkan selamat untuk para delegasi untuk persatuan dan dedikasinya. Saya doakan semoga anda sukses. Suatu saat akan tiba hari dimana Palestina merdeka. Kepercayaan bahwa Palestina adalah tanah yang dijanjkan adalah mitos yang terus didengung-dengungkan Amerika dan Israel. Palestina bukannya sekedar tanah tanpa tuan, tapi para zionis itulah yang orang-orang tanpa (memiliki) tanah. Founding father Pakistan, Muhammad Ali Jinnah, pernah berkata pada Mufti Palestina : Jangan takut menghadapi Israel, orang-orang Pakistan ada di belakangmu. Perwakilan ekspatriat Saudi Arabia : Saudi Arabia (mungkin) tidak bisa bergabung bersama Anda, para delegasi GMJ secara fisik. Tetapi mereka selalu berdoa untuk anda, untuk kesuksesan anda, untuk keamanan anda. Untuk Jamaat Islami dan rakyat Pakistan, saya mengucapkan terimakasih atas dukungannya pada orang-orang ini (Delegasi GMJ -red), mereka (delegasi GMJ) meninggalkan rumahnya, anak-anaknya, keluarganya, tanah airnya, tanpa tahu apakah mereka bisa kembali atau tidak. Untuk itu,saya mengucapkan banyak terimakasih.

Silahkan bertanya?