MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Sarana Pendukung RS Indonesia di Gaza Terus Dilengkapi

Gaza, Palestina – Jum’at (19/4) atau bertepatan dengan 8 Jumadil Akhir 1434 H MER-C sebagai organisasi yang memikul amanah dari rakyat Indonesia kembali menapakkan penambahan sebuah bangunan di bumi para nabi Palestina Gaza. Bangunan tersebut adalah Mortuary and Technical Room atau Bangunan Kamar Mayat dan Teknis dengan luas bangunan 356 m2 sebagai sarana pelengkap RS Indonesia (RSI) di Gaza. Bangunan yang terletak di sebelah Barat RSI tersebut juga dilengkapi dengan berbagai ruangan yang akan menjadi satu kesatuan fungsi yang terdiri dari beberapa ruang, yaitu  gas, pumpa, R.O (Reverse Osmosis), workshop, 4 ruang toilet, 2 ruang kantor, kantor utama, penyimpanan mayat, washing gowning dan administrasi.   Ruang pumpa adalah untuk menghisap air dari ground tank kemudian dialirkan menuju tangki-tangki penampung air rumah sakit yang diletakkan pada lantai atap. Kamar Mayat dipersiapkan untuk tempat menyimpan atau meletakkan sementara jenazah sebelum diambil oleh keluarganya.

Progres Pembangunan Deep Well RS Indonesia Di Gaza Dimulai

Gaza, Palestina – Salah satu agenda pelaksanaan pembangunan RS Indonesia di Gaza adalah tahapan pembangunan pekerjaan Deep Well. Tahapan ini merupakan rangkaian Pekerjaan Mekanikal. Deep Well adalah sumur bor yang mengambil sumber air tertekan dari lapisan Aquifer atau Zona Jenuh di bawah tanah. Kedalaman pengeboran di Gaza umumnya berkisar antara 60 s.d 200 meter atau tergantung dari kondisi hidrogeologi.  Keuntungan menggunakan Deep Well adalah ketersediaan airnya yang lebih banyak dari sumur pantek atau sumur dangkal. Selain itu, lapisan akifer yang mengandung air asin maupun payau dapat dihindari. Keberadaan jalur air yang disalurkan oleh pemerintahan Gaza melalui pipa-pipa kecil ke lokasi pembangunan RS Indonesia tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan air di lokasi proyek. Selain keperluan air untuk pembangunan, air juga untuk memenuhi keperluan air sehari-hari 30 relawan RS Indonesia di Gaza Palestina. Pelaksanaan pekerjaan Deep Well RS Indonesia di Gaza dimulai pada hari Rabu/17 April 2013 yang sampai dengan hari Jum’at 19 April 2013 pengeboran sudah mencapai 47 meter dari 80 meter yang direncanakan. Casing steel deep well RS Indonesia di Gaza menggunakan pipa steel berdiameter 8 inch direncanakan mencapai kedalaman 70 meter kemudian dianjutkan dengan Pipa Nurustho berdiameter 8 inch sedalam 10 meter. Pada bagian pipa Nurustho dilengkapi dengan pengisian hasma sebanyak tiga ton sebagai filter. Pompa yang digunakan adalah jenis Pompa Submersible yang ditempatkan pada kedalaman 70 meter. Sedangkan pipa air dari pompa ke Groundtank melalui manhole menggunakan pipa Galvanis dua inch. Seiring perkembangan progress Pembangunan RS Indonesia, kebutuhan air bersih kian meningkat. Musim panas di Gaza pernah mencapai suhu antara 38 sampai dengan 43 derajat celcius membuat jalur-jalur air dari pemerintahan Gaza biasanya akan terhenti atau dipadamkan secara bergilir setiap tiga hari. Kesulitan warga Gaza tidak hanya listrik yang hanya menyala 8 jam/harinya, ketersediaan gas dan termasuk juga untuk mendapatkan air bersih disebabkan oleh aksi Israel yang menempatkan mesin-mesin penyedot air tanah di sekitar perbatasannya dengan Jalur Gaza.

Kelangkaan Gas Kembali Terjadi Di Gaza

Gaza – Penutupan kembali perlintasan Gaza oleh zionis Israel sejak Senin (8/4) pada jalur Karem Shalom berimbas dengan kembalinya kelangkaan gas melanda Gaza. Abu Ali sebagai pemilik pangkalan Gas terbesar di Gaza tepatnya di daerah Sijaiah juga telah menutup pangkalan gasnya setelah pangakalan-pangkalan gas yang lebih kecil lainnya tutup. Kelangkaan gas di Gaza sudah berjalan 7 hari ini sehingga salah seorang relawan RS Indonesia saudara Abdurrahman belum juga mendapatkan gas walaupun sudah setiap hari terus mencari hingga seluruh Gaza. Syuhada salah seorang relawan RSI yang bertugas memimpin tim dapur relawan RS Indonesia mengatakan bahwa beberapa hari kedepan gas stok dapur relawan akan habis sehingga perlu dicari alternatip penggantinya untuk masak di dapur umum relawan. Dalam waktu satu bulan dibutuhkan delapan sampai dengan sembilan tabung 12 kilogram. Kebutuhan gas itu untuk penyediaan konsumsi 30 relawan RS Indonesia di Gaza. Harga setiap tabung gas ukuran 12 kg di Gaza sekitar 65 sheikel atau setara dengan Rp. 169.000,- Sementara kebutuhan gas dua juta penduduk di Gaza memerlukan tujuh kontainer per harinya. Bila satu kontainer gas menampung 21.800 kg gas maka berarti Gaza memerlukan 152.600 kg gas perharinya. Sampai saat ini militer Israel masih menahan tidak kurang dari seribu armada truk pengangkut pangan dan kebutuhan sandang milik organisasi bantuan internasional di perbatasan. Akibatnya, jutaan sipil di Gaza terancam kekurangan pangan dan kebutuhan sehari-hari.

Dimulainya Pemasangan Granit Tangga RSI Gaza Palestina

Gaza – Rumah sakit Indonesia di Gaza  adalah Rumah Sakit Traumatology dan bagian integral dari organisasi MER-C yang fungsi menyediakan pelayanan komprehensif, penyembuhan penyakit (kuratif) dan pencegahan penyakit (preventif) kepada masyarakat Gaza Palestina. Nantinya rumah sakit ini juga direncanakan sebagai pusat pelatihan bagi tenaga kesehatan para dokter di Palestina. Desain bentuk Rumah Sakit ini dibuat menyerupai kubahtuh sakhrah di Kompleks Masjidil Aqsha sebagai wujud rasa cinta kaum muslimin terhadap masjid tersebut, untuk menghubungkan ruangan-ruangan yang berada pada segi delapan maka ditempatkan empat sisi tangga yaitu di bagian Utara, Selatan, Timur dan Barat yang memiliki luas tangga 350 m2 yang akan dilapis dengan Granit. Granit adalah jenis batuan yang umum dan banyak ditemukan di daerah Tepi Barat Palestina. Granitnya kebanyakan besar, keras dan kuat, dan oleh karena itu banyak digunakan sebagai batuan untuk konstruksi. Kepadatan rata-rata granit adalah 2,75 gr/cm³ dengan jangkauan antara 1,74 dan 2,80. Selain dilengkapi dengan tiga jalur Lift RSI juga dilengkapi dengan tangga utama yang dimulai pelapisan Granitnya pada hari Selasa tanggal 2 April 2013 atau bertepatan dengan tanggal 21 Jumadil Awal 1434 Hijriyah. Semoga tangga utama ini dapat memberikan kenyamanan pemakainya dalam kondisi keseharian karena menjadi sirkulasi utama. Dan yang terpenting dari satu bagian ini saja dapat mengalirkan jariyah atau balasan yang berlipat ganda dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para donatur pembangunan RSI ini hingga hari Qiyamat, seperti halnya janji Allah dalam Al Qur’an yang artinya : Dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [At Taubah 121]

Relawan RSI Gaza Berlomba Mencari Ridla Allah

Gaza – Ditengah penat dan letih, ditengah udara panas yang mulai merayap menggantikan musim semi di Gaza, ditengah suasana Gaza yang belum kondusif akan tetapi para relawan RSI masih menyempatkan diri untuk berpuasa sunah Senin dan Kamis bahkan ada yang berpuasa sunah Daud (sehari puasa sehari tidak).  Semua yang mereka lakukan hanya semata untuk berlomba menggapai dan mencapai Ridla Ilahi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa surga diliputi dengan perkara-perkara yang tidak disenangi, dan neraka diliputi dengan syahwat. Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya): Tidaklah seorang hamba yang puasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim” [Hadits Riwayat Bukhari 6/35, Muslim 1153 dari Abu Sa’id Al-Khudry, ini adalah lafadz Muslim. Sabda Rasulullah: “70 musim” yakni: perjalanan 70 tahun, demikian dikatakan dalam Fathul Bari 6/48]. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): Puasa adalah perisai, seorang hamba berperisai dengannya dari api neraka” [Hadits Riwayat Ahmad 3/241, 3/296 dari Jabir, Ahmad 4/22 dan Utsman bin Abil ‘Ash. Ini adalah hadits yang shahih]. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): Barangsiapa yang berpuasa sehari di jalan Allah maka di antara dia dan neraka ada parit yang luasnya seperti antara langit dengan bumi” [Dikeluarkan oleh Tirmidzi no. 1624 dari hadits Abi Umamah]. Masyarakat Gaza sempat terperanjat saat mengetahui sebagian besar para relawan RSI berpuasa sunah secara rutin. “Bagaimana bisa kalian bekerja keras sambil berpuasa?” demikian salah satu ungkapan mereka kepada para relawan. Atas ijin dan karunia Allah semata sebagian masyarakat yang mengetahui kondisi semangat para relawan RSI di bumi para nabi di Palestina ini berusaha secara bergantian mengundang para relawan RSI untuk futhur buka puasa dengan makanan-makanan ala Gaza di rumah-rumah mereka atau secara bersama di Masjid walau dalam hati kecil para relawan berkata Subhanallah bahwa masyarakat Gaza Palestina yang sedang terblokade masih ingin menghormati tamu-tamunya yaitu para relawan RSI Gaza Palestina. Sangat terasa kasih sayang antara masyarakat Gaza Palestina dengan masyarakat Indonesia karena mereka memang bersaudara dalam ikatan Allah Subhanahu wa Ta’ala Yaa Allah penguasa langit dan bumi jadikanlah puasa para relawan yang berada di jalan Mu dan Al-Qur’an yang dibaca oleh mereka akan memberikan syafaat kepada mereka di hari Kiamat.

MER-C Berangkatkan Tim Konstruksi ke Gaza untuk Supervisi RSI

Jakarta MER-C kembali memberangkatkan relawannya ke Jalur Gaza, Palestina. Jumat sore (15/3), sebanyak 7 orang relawan, 3 diantaranya adalah insinyur bertolak ke Kairo Mesir dengan menggunakan maskapai penerbangan Singapore Airlines. Keberangkatan tim yang dipimpin langsung oleh Ketua Divisi Konstruksi MER-C, Ir. Faried Thalib ini adalah untuk melakukan supervisi pembangunan tahap 2 RS Indonesia yang masih berlangsung di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina. Tim dijadwalkan akan tiba di Kairo, Mesir hari ini Sabtu (16/3) pukul 9.30 waktu setempat atau pukul 14.30 wib. Dari bandara Kairo, tim akan langsung menuju perbatasan Rafah untuk mencoba langsung masuk ke Gaza berbekal surat izin yang sudah didapat.   Ini adalah bentuk jihad para profesional, ungkap Presidium MER-C, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT yang turut mengantar keberangkatan Tim di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Jihad para professional yang terpenting adalah pengorbanan waktu dan pengamalan ilmu-teknologi untuk perjuangan, tambahnya. Saat ini sebanyak 31 relawan Indonesia yang terdiri dari insinyur dan tenaga teknis tengah mewaqafkan waktu dan ilmunya di Gaza. Mereka semua tengah menunaikan tugas melakukan pembangunan tahap 2 RS Indonesia yang seluruh amanah dananya berasal dari rakyat Indonesia. Pembangunan tahap ini berupa pekerjaan arsitektur dan ME (Mechanical Electrical) RS memang akan dikerjakan sendiri oleh putra-putra bangsa Indonesia. Kedatangan Ketua Divisi Konstruksi MER-C dan Tim ke Gaza kali ini adalah untuk melakukan supervisi langsung proses pembangunan tahap 2 yang sudah dikerjakan oleh relawan selama 4 bulan lebih, sejak akhir awla November 2012. Pekerjaan yang sudah selesai adalah pemasangan blok dinding samping dan blok sekat dalam seluruh ruangan RSI yang terdiri dari 2 lantai dan 1 lantai basement serta 1 lantai middle area. Rencana pekerjaan selanjutnya adalah pengerjaan ME rumah sakit. Sementara itu, dukungan dari rakyat Indonesia terhadap program RS Indonesia di Gaza Palestina masih terus mengalir. Sampai dengan awal Maret 2013, dana yang sudah terkumpul untuk program ini sebesar Rp 31 milyar. Target awal penggalangan dana RSI telah tercapai. Saat ini, fokus pengglangan dana adalah untuk pengadaan alat kesehatan dan bangunan pendukung RS. Semoga menjadi amal baik bersama.  

Relawan RSI Penuhi Undangan dari AILAH JARROD, Keluarga Terbesar dengan 100 Cucu

Gaza, Palestina – Nama ailah/marga di tanah Arab khususnya di Palestina dilestarikan hingga turun-menurun, setiap warga mencantumkan nama marga di belakang nama aslinya, contoh Muhammad Abu Samir, Nama Samir adalah nama ailah atau nama marga. Pada satu momen undangan makan siang yang biasa relawan pembangunan RSI terima minimalnya hampir sebulan sekali, momen kali ini terbilang istimewa bagi para relawan, karena hari Jumat 04 Maret 2013 relawan pembangunan RSI mendapatkan satu oleh-oleh yang berupa pengetahuan juga informasi penting. Kholid Abu Muhammad Abu Jarrod, pria yang dikaruniai anak lima inilah yang mengundang 30 relawan pembangunan RSI untuk makan siang di kebunnya nan asri di perbatasan Bayt Lahiya dan Bayt Hanuun, dengan membagi kelompok pejalan kaki dan pengendara mobil, para relawan pun dengan senang hati menuju lokasi makan siang setelah shalat Jumat. Ayah dari Kholid Abu Muhammad Abu Jarrod bernama Musa Abu Jarrod, beliau dikaruniai 14 anak di antaranya Kholid, tidak tanggung-tanggung 100 cucu dari keempat belas anak anaknya menghangatkan suasana kekeluargaan keluarga besar Musa. Tidak hanya itu, keluarga besar Musa adalah keturunan keluarga Jarrod yang mana keluarga Jarrod ini masyhur karena terbilang salah satu keluarga terbesar di Kota Gaza yang banyak memiliki keturunan. Musa Abu Jarrod yang berumur 74 tahun, hingga saat ini telah melaksanakan haji beserta umroh sebanyak 15 kali, mabruuk alaih kata orang sini untuk ucapan selamat sekaligus doa bagi orang yang menerima banyak nikmat semasa hidupnya.

Satu Lagi Relawan Insinyur MER-C Berangkat ke Gaza

Jakarta Jum’at/15 Februari 2013, tepatnya pukul 20.20 wib, MER-C memberangkatkan lagi tambahan satu relawan insinyur ke Gaza, Palestina. Keberangkatan relawan insinyur ini adalah untuk membantu mengawasi pekerjaan pembangunan tahap 2 RS Indonesia (RSI) berupa pekerjaan arsitektur dan ME (Mechanical Electrical). Pekerjaan pembangunan tahap dua RSI memang dilakukan sendiri oleh insinyur dan tenaga teknis dari Indonesia yang semuanya adalah relawan (unpaid volunteers) dari Pesantren Alfatah yang tergabung dalam Divisi Konstruksi MER-C. Kedatangan tambahan insinyur, yaitu Ir. Edy Wahyudi diharapkan bisa melakukan pemantauan yang lebih baik terhadap proses pembangunan RS Indonesia, amanah dari rakyat Indonesia untuk Palestina yang mulai memasuki tahap lebih rumit dan detail, apalagi pembangunan tahap dua seluruhnya akan dikerjakan oleh tenaga ahli dan pendukung dari Indonesia.  Bersama Ir. Edy Wahyudi, berangkat juga 3 relawan dari Pesantren Alfatah. Selain turut membantu dalam program pembangunan RS Indonesia, mereka juga akan menimba ilmu di Gaza melalui program kerjasama beasiswa antara Universitas Islam Gaza dan Pesantren Alfatah.  Keempat relawan tiba di Kairo Sabtu (16/2) sekitar pukul 9 pagi waktu setempat. Dari Kairo, semua relawan langsung menuju perbatasan Rafah dan dengan surat izin yang ada, semua relawan bisa masuk ke Gaza pada hari Sabtu sorenya.  Bagi Ir. Edy Wahyudi ini adalah keberangkatan keduanya ke Gaza. Sebelumnya, Ir. Edy pernah bertugas selama 1,5 tahun di Gaza. Tugasnya bersama 2 relawan insinyur lainnya saat itu, Ir. Nur Ikhwan Abadi dan Ir. Ahmad Fauzi adalah untuk menindaklanjuti dan mengawasi proses pembangunan tahap 1 berupa pekerjaan struktur RSI. Ia baru kembali ke Indonesia setelah pembangunan struktur RSI selesai. Kini, keahliannya kembali dibutuhkan, untuk mengawasi pembangunan tahap 2 RSI yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara.  Ir. Edy Wahyudi dan 3 relawan akan bergabung dengan 27 relawan Indonesia yang sudah berada di Gaza. Semua relawan berkomitmen akan bertugas di Gaza hingga pembangunan RSI selesai dan amanah donasi dari rakyat Indonesia yang disalurkan melalui MER-C tertunaikan. Berdasarkan laporan dari Ir. Nur Ikhwan Abadi di Gaza, Pekerjaan pemasangan blok dinding samping dan blok sekat-sekat ruangan dalam untuk lantai 1 dan 2 RSI sudah selesai. Yang masih berlangsung adalah pemasangan blok lantai basement yang tersisa sekitar 50% lagi. Donasi Rakyat Indonesia untuk RSI Capai Rp 30,7 Milyar   Sementara itu, total donasi dari rakyat Indonesia untuk program pembangunan RS Indonesia di Gaza sudah mencapai Rp 30,7 Milyar. Semua donasi murni berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar dari kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke.  Alhamdulillah perkiraan awal biaya pembangunan sebesar Rp 30 Milyar, yang sebelumnya sulit terbayangkan akhirnya tercapai bahkan sudah melebih dari target. Kini kebutuhan selanjutnya adalah biaya untuk pengadaan alat-alat kesehatan dan pengembangan kompleks RS Indonesia, yaitu pembangunan infrastruktur, masjid, gedung manajemen dan juga wisma rakyat Indonesia. papar Ir. Faried Thalib, Ketua Divisi Konstruksi MER-C. ***

Malaysia Ucapkan Selamat Atas Berdirinya RSI Gaza

GAZA, PALESTINA Sebanyak 11 orang dari LSM Haluan Malaysia mengunjungi lokasi pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Jalur Gaza, Palestina, Sabtu (28/4). Delegasi yang dipimpin oleh Dr. Syed Muhamad Haleem ini menyatakan kekagumannya kepada bangunan RSI . Tiga dari 11 orang delegasi Malaysia tersebut merupakan alumni Mavi Marmara. Mereka adalah pimpinan rombongan Dr. Syed haleem, Dr. ArbaI dan Azman . Rasa haru dan bahagia terlihat di wajah para relawan saat pertama kali bertemu kembali setelah tragedi berdarah mavi marmara Mei 2010 yang lalu. Tidak disangka setelah dua tahun ALLAH mempertemukan kembali kami dengan para relawan tersebut, ujar Nur Ikhwan Abadi, relawan MER-C yang juga mengikuti misi Mavi Marmara. Dalam kunjungan ke RSI yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza utara, terlihat para relawan dari Haluan Malaysia takjub dan antusias melihat perkembangunan pembangunan RSI. Mereka menyampaikan selamat kepada MER-C Indonesia dan rakyat Indonesia pada umumnya atas berdirinya RS Indonesia di Jalur Gaza.

Dukungan para Relawan Turki dan Gaza untuk RSI

Gaza, Palestina – Peran berbagai pihak di Gaza sendiri tidak kalah pentingnya terhadap program pembangunan RS Indonesia (RSI). Di tengah wilayah Gaza yang sempit dan lahan yang terbatas, Pemerintah Gaza menyambut baik rencana program pembangunan RS di wilayah mereka dengan mewakafkan lahan seluas 16.000 m2 kepada MER-C Indonesia untuk pembangunan RSI. Selain itu, temen-teman seperjuangan dari negeri Khalifah Utsmaniyah Turki, juga memberikan dukungannya. Salah satunya Muhammad Kaya, Ketua IHH Turki Cabang Gaza. Ia memberikan dukungan penuh dari awal hingga akhir demi terlaksananya pembangunan RSI ini. Bahkan tatkala terjadi perbedaan pendapat antara Tim MER-C Gaza dan Pihak Kementrian Kesehatan Gaza, Muhammad Kaya tampil terdepan membela kami. Kemudian beliau juga merekomendasikan insinyur lokal Jomah Al-Najjar untuk menjadi sharing partner kami dalam proses pembangunan RSI ini. Beliau membantu kami siang dan malam dalam membantu berdirinya RSI ini. Tak jarang pula Muhammad Kaya memberikan nasihat-nasihat berharga kepada kami selama di Gaza. Salah satu nasehat yang masih kami ingat selalu adalah ketika beliau mengatakan bahwa, dalam menjalankan amanah orang turki memiliki prinsip, Pantang kembali atau mundur kebelakang jika amanah yang diemban belum selesai dilaksanakan. Karena ketika berangkat menunaikan amanah, kapal yang akan membawa kami kembali sudah kami bakar, tidak ada kata lain selain maju terus meraih kemuliaan disisi ALLAH Subhanahu wa Taala. Prinsip ini lah yang selalu beliau pegang teguh dan sampaikan kepada setiap relawan. Apa yang disampaikannya senantiasa menjadi semangat dan motivasi buat kami para relawan Indonesia di Gaza. Tiada kata yang pantas selain doa kami semua, semoga kebaikan mereka mendapat balasan berkali lipat. Kami para relawan di Gaza pun tidak pernah menyangka pembangunan RSI ini akan terlaksana. Kami hanya manusia dhoif yang tidak lebih baik dari yang lain, yang hanya menjalankan amanah yang begitu besar di pundak kami. Berangkat dengan hanya bermodalkan ketaatan semata, tanpa ilmu dan pengetahuan yang memadai. Bekal minimum, seperti penguasaan bahasa asing yang harus ada pada setiap relawan pun tidak kami kuasai. Dalam satu tim relawan Indonesia ini, kami saling melengkapi, ada relawan insinyur, ada relawan yang mempunyai kemampuan bahasa dan lainnya. Teringat nasihat seorang Ustadz yang senantiasa memberikan semangat kepada kami ketika akan berangkat menunaikan amanah di Gaza dengan mengatakan, Berangkat saja dahulu, nanti diperjalanan ALLAH yang akan memberikan ilmu. Subhanallah benar saja, pertolongan ALLAH memang sangat dekat, pada awalnya kami tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa Arab sama sekali. Ketika awal datang, seseorang menanyakan Kayfa Haluka? kami hanya terbengong karena tidak mengerti apa yang ditanyakan. Namun saat ini, kami semua relawan Indonesia di Gaza sudah bisa dengan fasih berbahasa Arab harian karena setiap hari kami kontak dengan masyarakat dan para pekerja bangunan lokal di proyek RSI. Ini salah satu contoh nikmat yang berikan-NYA dan masih banyak nikmat-nikmat lainnya yang begitu besar yang diberikan kepada kami. Sungguh kesempatan dan pengalaman menunaikan amanah tugas di Gaza mengawal pembangunan RSI adalah hal yang luar biasa yang tidak bisa kami ungkapkan dengan kata-kata.   Ir. Nur Ikhwan Abadi Salah satu relawan MER-C Indonesia di Gaza

Silahkan bertanya?