MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

MER-C LAKUKAN KHITANAN MASSAL DAN PENGOBATAN UMUM DI SALAWATI TENGAH

Sorong – Papua Barat. Medical Emergency Rescue Committee atau MER-C menerjunkan 7 dokter, 3 perawat dan 1 orang logistik dalam khitanan massal dan pengobatan umum bagi warga di Distrik Salawati Tengah sejak Rabu hingga Sabtu minggu ini. Kegiatan tersebut merupakan agenda bersama yang dirancang oleh Asia Moslem Charity Foundation (AMCF) dan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Sorong bertajuk “Kapal Kemanusiaan”. “Hari Rabu kemarin MER-C mengadakan khitanan bagi total 95 anak. Sedangkan Kamis dan Jumat peserta pengobatan setidaknya ada 120-an pasien. Ini terpaksa distop dulu karena hujan dan dilanjut setelah warga selesai sholat jumat,” demikian penjelasan Islamiyah Samaun yang merupakan staf logistik dalam kegiatan ini di Kalobo. dr. Zackya Yahya, Sp.Ok selaku perwakilan MER-C untuk Papua merasa gembira dengan adanya program Kapal Kemanusiaan ini. “Sudah lebih dari 11 tahun kami hadir di Papua melalui klinik sosial. Relawan medis kami menyusuri pelosok SP untuk memberikan layanan kesehatan berkualitas dan terjangkau. Sekarang dengan adanya kapal ini kami berharap jangkauan kami bisa lebih luas ke pulau-pulau terpencil di Papua Barat.” Demikian jelasnya perihal program Kapal Kemanusiaan. Bagi MER-C, kerja sama dengan AMCF sudah dimulai lama semenjak bencana gempa dan tsunami Aceh pada 2004. Khusus untuk kali ini, AMCF menyediakan kapal dan awaknya, sedangkan pembiayaan kegiatan tim medis didapat dari Badan Amil Zakag Nasional (BAZNAS). Sedikitnya 36 titik akan mendapat layanan kesehatan dari tim medis MER-C dalam kurun 12 bulan ke depan. “Teknisnya kami akan kirim tim pendahulu untuk melakukan survei dan pemetaan masalah kesehatan di lokasi yang akan dimasuki. Lalu akan disusun prioritas kegiatan untuk mengatasi masalah tersebut. Tim medis sendiri akan bekerja selama maksimal 2 minggu di 3 titik tiap bulannya.” jelas dr. Zackya. “Bukan tidak mungkin ke depan kami akan melibatkan dokter spesialis jika memang dibutuhkan. Pasien-pasien yang membutuhkan tindakan akan didata dan dikumpulkan, lalu dokter spesialis yang sesuai akan bekerja di satu rumah sakit yang sudah memiliki kesepakatan. Atau jika mau, dokter spesialisnya yang ikut keliling naik kapal bersama kami.” Keterbatasan akses kesehatan dan minimnya tenaga serta fasilitas kesehatan masih merupakan masalah tersendiri di kawasan timur Indonesia. Hingga sekarang beberapa program sudah dilakukan untuk menjangkau warga di daerah terpencil, termasuk pulau-pulau terluar untuk mengurangi permasalahan ini. Diharapkan dengan adanya Kapal Kemanusiaan ini, bertambah lagi upaya untuk memberikan hak kesehatan bagi setiap warga negara.

PROGRAM KAPAL KEMANUSIAAN DILUNCURKAN DI SORONG

Sorong – Program kapal kemanusiaan yang diinisiasi oleh Asian Moslem Charity Foundation (AMCF), resmi diluncurkan di Sorong – Papua Barat pada hari Rabu, 24 Mei 2017. Acara seremonial dilakukan di Aula Politeknik Kelautan dan Perikanan, dihadiri oleh pimpinan lembaga yang terlibat serta tamu undangan dari kalangan pejabat sipil dan militer di lingkungan pemerintah kabupaten dan kota Sorong. Dalam peresmian tersebut, Dra. Endang Gunaisah, MSi. selaku Plt Direktur Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong menyampaikan selamat atas peresmian program Kapal Kemanusiaan. “Kami sangat berbahagia, karena aula kami yang saat ini menjadi tempat peresmian, justru belum diresmikan oleh pejabat yang berwenang,” ujarnya yang disambut tawa hadirin. Aula yang didominasi warna biru cerah dengan dekorasi langit-langit berupa gambaran awan dan dipenuhi poster kegiatan bawah laut, menciptakan atmosfir laut terbuka yang sangat kental. “Jangan kaget. Dulu kami dikenal sebagai Akademi Perikanan Sorong (APSOR), namun sekarang kami berganti nama menjadi Poltek Perikanan dan Kelautan.” Sementara itu, dalam sambutannya Ketua Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Sorong, Drs. Rustamadji, menyampaikan kegembiraannya terhadap peresmian program Kapal Kemanusiaan ini. “Sudah lama kami bermitra dengan AMCF. Dan kami berbahagia bisa meningkatkan kemitraan melalui Kapal Kemanusiaan ini,” katanya. Dari sekian banyak perguruan tinggi dan swasta yang ada di Papua Barat, STKIP yang juga dikenal sebagai Kampus Biru adalah satu-satunya perguruan tinggi yang mendapat peringkat B. “STKIP sebagai sayap pendidikan Munammadiyah selalu berusaha untuk memberikan manfaat bagi sekitar dan terbuka bagi siapa saja. Buktinya, 70% mahasiswa kami berasal dari masyarakat lokal Papua yang beragama Nasrani,” paparnya sambil menunjuk ke belakang dimana barisan mahasiswanya duduk. Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengirimkan ketua presidiumnya dr. Henry Hidayatullah, MSi untuk memberikan sambutan dan mengunjungi lokasi awal kegiatan kesehatan oleh tim medis MER-C. “Kami ingat bahwa di bulan ini 7 tahun yang lalu, kami bergabung bersama NGO lain dari banyak negara dalam kapal kemanusiaan untuk membuka blokade Gaza,” ujarnya merujuk pada peristiwa penyerbuan tentara Israel ke Kapal Mavi Marmara pada 31 Mei 2010 silam. “Dan tentunya, kini kami bergabung dalam program kapal kemanusiaan ini juga untuk membuka blokade akses kesehatan masyarakat Papua di pulau-pulau terpencil.” Menurut dr. Henry setidaknya ada 36 titik yang akan dikunjungi oleh tim medis dengan berbagai program kesehatan sesuai hasil survei oleh tim pendahulu. “Dan kami berterima kasih kepada BAZNAS yang bersedia menyokong pembiayaan program kesehatan di kapal ini.” Sebagai kegiatan awal, aktivitas tim medis akan dipusatkan di Salawati Tengah untuk mengadakan sunatan massal dan pemeriksaan kesehatan. Dalam sambutan peresmian, Ahmad Yaman, Direktur AMCF, menyampaikan bahwa program kapal kemanusiaan ini adalah capaian baru bagi AMCF, karena sebelumnya AMCF tidak memiliki pengalaman bekerja dengan kapal. “Kami menyiapkan 3 kapal kemanusian untuk Sorong, Ternate dan Pontianak agar bisa menjangkau area sekitar menjalankan program dakwah kami. Untuk menambah manfaat, kami bersinergi dengan elemen lain seperti STKIP selaku mitra lokal sekaligus menjalankan program pendidikan, dan MER-C yang sudah dikenal luas dalam memberikan bantuan kesehatan di daerah terpencil.” Ahmad berharap ke depan sinergi ini bisa diperluas untum meningkatkan kemanfaatan program Kapal Kemanusiaan. “Alhamdulillah, meski sempat mengalami hambatan dalam setahun terakhir, Kapal Kemanusiaan ini bisa diresmikan pada hari ini,” pungkasnya. Setelah peresmian, Kapal Kemanusiaan segera bertolak ke Salawati Tengah untuk mengunjungi lokasi pengobatan dimana sehari sebelumnya tim medis MER-C sudah masuk untuk persiapan dan perbekalan medis. Sedikitnya 11 petugas yang terdiri dari dokter, perawat dan logistik akan membantu kegiatan sunatan massal pada hari Rabu dan pengobatan umum pada hari Kamis. Diperkirakan Kapal Kemanusiaan akan bertugas sekitar 2 minggu untuk menyampaikan program bagi masyarakat yang dikunjungi.  

Perluas Jangkauan Pelayanan Kesehatan, MER-C Jalin Kerjasama Program Kapal Kemanusiaan

Jakarta – Dua belas tahun berkiprah di Papua, MER-C terus berupaya untuk memperluas jangkauan pelayanan kesehatan melalui sinergi dengan berbagai pihak. Khusus untuk wilayah Papua Barat, MER-C bekerjasama dengan Baznas (Badan Amil Zakat Nasional), AMCF (Asia Muslim Charity Foundation) dan STKIP Muhammadiyah akan mengadakan program kapal kemanusiaan. Program ini akan menjelajah dan menjangkau wilayah-wilayah terpencil serta sulit di akses di provinsi Papua Barat. Koordinator MER-C untuk wilayah Papua, dr. Zackya Yahya Setiawan, SpOk menyatakan bahwa program kerjasama Kapal Kemanusiaan di Papua Barat akan berlangsung selama satu tahun. Bulan suci ramadhan dirasa sebagai waktu yang tepat untuk memulai program ini. Untuk itu launching program rencananya akan diadakan pada hari Rabu/24 Mei 2017 di Sorong, Papua Barat beberapa hari menjelang Ramadhan. Senin malam/22 Mei 2017, MER-C memberangkatkan 8 relawan medis beserta obat-obatan, alat kesehatan dan perlengkapan logistik ke Sorong untuk persiapan launching dan dimulainya program ini. Perwakilan dari semua lembaga yang terlibat dalam kerjasama serta beberapa pejabat daerah, tokoh masyarakat dan organisasi lokal akan hadir pada acara ini. Melalui kerjasama dengan berbagai lembaga, MER-C berharap pelayanan dan bantuan yang diberikan kepada masyarakat di Papua Barat bisa menjadi lebih luas dan komprehensif. Cakupan program Kapal Kemanusiaan Papua Barat akan meliputi pelayanan kesehatan yang akan dicover oleh MER-C dan Baznas. Sementara renovasi rumah warga agar layak huni, pendidikan dan keagamaan khususnya bagi warga muslim dhuafa di provinsi ini akan dicover oleh AMCF selaku pemilik kapal dan STKIP Muhammadiyah. Selama jangka waktu satu tahun ke depan, target wilayah yang akan dijangkau tim kapal kemanusiaan sebanyak 36 kampung/distrik di Papua Barat yang akan dibagi dalam 12 kali trip. Setiap kali trip akan mengunjungi tiga distrik. Distrik pertama yang akan dikunjungi langsung saat peresmian, yaitu distrik Salawati Tengah. Dr. Zackya Yahya Setiawan,SpOk menambahkan bahwa khusus bidang kesehatan, pelayanan MER-C mencakup pengobatan umum, sirkumsisi dengan target minimal 1.000 anak, pemeriksaan gizi anak, pemeriksaan mata dan penyuluhan kesehatan. Sebelumnya, MER-C bersama Baznas, AMCF dan STKIP Muhammadiyah telah melakukan ujicoba kapal kemanusiaan (sea trial) untuk memastikan kesiapan armada program ini.  

MER-C Bangun TPA di Wilayah Pasca Gempa Pijay Aceh

Menindaklanjuti misi kemanusiaan sebelumnya ke wilayah pasca gempa Pijay Aceh pada Desember 2016 lalu, kini MER-C kembali mengirimkan tim relawannya. Selain melakukan kegiatan pelayanan kesehatan dan konseling bagi masyarakat korban gempa khususnya anak-anak, tim juga melakukan survey lokasi untuk penyaluran bantuan amanah dari para donatur. Tim dipimpin oleh salah satu Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad dengan beranggotakan 11 relawan yang merupakan gabungan dari MER-C Pusat Jakarta, Aceh, Medan dan Yogyakarta. Untuk memberikan manfaat jangka panjang dan dalam rangka membantu korban gempa Pijay melengkapi fasilitas umum yang dibutuhkan masyarakat setempat, MER-C akan membangun fasilitas Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA), tepatnya di desa Blangusi, kelurahan Blangusi, kecamatan Ulim, kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Wilayah ini dipilih karena merupakan salah satu wilayah terdampak gempa. “TPA akan dibangun di atas tanah wakaf seluas 20 x 10 meter. Kita telah melakukan koordinasi dengan Pemda setempat dan Pemda sangat mendukung program ini. Setibanya di Jakarta, tim kami akan segera membuat rancangan bangunan TPA. Dengan donasi yang ada, kami berharap TPA ini bisa segera terealisasi dalam waktu dekat,” papar Sarbini Abdul Murad saat kunjungannya ke Aceh.   Ke depan, Tim MER-C dari Medan juga akan mengadakan program trauma healing di TPA ini. Lebih lanjut menurut Sarbini, bangunan TPA juga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan sosial atau kegiatan masyarakat lainnya. Selama misi kali ini, Tim MER-C mengadakan bantuan pelayanan kesehatan di empat lokasi di dua kecamatan di kabupaten Pidie Jaya, yaitu kecamatan Ulim dan kecamatan Bandar Baru. Selain pelayanan kesehatan, relawan MER-C juga melalukan konseling, terutama kepada anak-anak korban gempa. Metode yang digunakan adalah konseling sederhana dengan pendekatan personal terhadap pasien dengan melibatkan keluarganya.  

Menlu RI Dukung Rencana Pembangunan RS Indonesia di Myanmar

Jakarta – Sebagai tindaklanjut dari rencana program pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar, hari ini Selasa/14 Maret 2017, Menteri Luar Negeri RI menerima audiensi perwakilan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan PMI (Palang Merah Indonesia). Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 30 menit tersebut, Menteri Retno Marsudi, menyatakan dukungannya kepada rencana program pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar. Menteri Luar Negeri juga mengapresiasi dan bersyukur NGO-NGO di Indonesia sejalan dan bekerjasama dengan Pemerintah untuk melakukan pendekatan-pendekatan yang konstruktif khususnya dalam membantu menangani permasalahan konflik etnis di Myanmar.  Pada pertemuan ini, Tim MER-C yang dipimpin oleh dr. Sarbini Abdul Murad dan didampingi oleh Drs. Ichsan Thalib (Project Manager RS Indonesia di Myanmar), Ir. Luly Larissa Agiel (Ketua Divisi Penggalangan Dana MER-C) dan Rima Manzanaris (Manajer Operasional) menyampaikan rancangan gambar RS Indonesia di Rakhine State (Myanmar) yang sudah mengalami perbaikan dan pengembangan disain. Disain bangunan RS Indonesia dibuat netral karena diperuntukkan bagi 2 komunitas, baik Muslim maupun Budha yang ada di Myanmar.    Untuk dapat segera merealisasikan pembangunan, pada akhir Maret 2017 ini akan ada pengiriman Tim Gabungan ke Myanmar untuk menjajaki teknis pembangunan Rumah Sakit. Tim Gabungan akan membicarakan masalah-masalah detail terkait pembangunan RS kepada pihak-pihak terkait di Myanmar.    “Mudah-mudahan dalam waktu dekat kita bisa membangun RS Indonesia karena Wapres RI meminta dalam tahun ini RS Indonesia di Myanmar bisa selesai. Menlu juga telah menunjuk Staf Ahli Bidang Hubungan Kelembagaan/Duta Besar Kemenlu RI, Bapak Salman Alfarisi, sebagai Ketua Penghubung sehingga semua elemen NGO atau ormas Indonesia yang akan membantu Myanmar akan dikoordinir melalui satu pintu,” ujar dr. Sarbini Abdul Murad usai menghadiri pertemuan dengan Menlu RI.    “Kita mohon doa dan dukungan dari masyarakat Indonesia agar RS ini sebagai simbol perdamaian, simbol persatuan, simbol harmoni hubungan antar umat beragama di Indonesia bisa segera terwujud. Kita harapkan juga Myanmar bisa mengadopsi pesan-pesan ini,” tambahnya.   Dukungan dan bantuan untuk pembangunan RS Indonesia di Myanmar dapat disalurkan melalui :   Bank Syariah Mandiri (BSM), 700.130.6833 Bank Central Asia (BCA), 686.028.0009 Atas nama : Medical Emergency Rescue Committee  

MER-C Kirim Tim ke-3 ke Bima

Rabu/28 Desember 2016, sekitar pukul 16.00, MER-C melalui cabangnya di Mataram kembali mengirimkan tim relawan ke Bima. Tim ini adalah tim ke-3 yang dikirimkan ke wilayah bencana banjir bandang Bima sejak banjir menerjang wilayah ini pada hari Rabu/21 Desember 2016.   Selain melanjutkan kegiatan pelayanan kesehatan pasca bencana terhadap para korban, tim juga bertugas melakukan assessment terhadap dampak banjir bandang terutama di bidang medis. Tim yang terdiri dari tiga relawan, yaitu dr. AD Irma Ramdani (Ketua MER-C Cabang Mataram), dr. Denuna Enjana dan dr. Muhammad Nauval berangkat dari Mataram menuju Bima melalui jalur darat dengan menggunakan ambulance. Tim membawa bantuan obat-obatan, alat medis, pakaian, dan bantuan logistic lainnya.   Bantuan Donasi untuk korban banjir bandang Bima dapat disalurkan ke: BCA, 686.0099.339 An. Medical Emergency Rescue Committee   Info lebih lanjut: 0811990176 www.mer-c.org

MER-C Menerima Kunjungan dari Peserta “Indonesia International Leadership Camp”

Senin/12 Desember 2016, kantor Pusat MER-C yang terletak di bilangan Senen, Jakarta Pusat menerima kunjungan dari peserta Indonesia International Leadership Camp (IILC). Indonesia International Leadership Camp (IILC) 2016 adalah kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Al Azhar Youth Leader Institute (AYLI). Tahun ini adalah IILC ke-5 dengan tema Building Global Leadership Through Youth Empowerment. Salah satu kegiatan peserta adalah diperkenalkan dengan Organisasi Indonesia secara holistik. MER-C menjadi salah satu tempat bagi peserta untuk mempelajari organisasi di Indonesia.   Bertempat di Aula MER-C Training Center, sebanyak 21 peserta dari 7 negara, yaitu Afrika Selatan, Srilanka, Filipina, Thailand, Australia, Mesir, dan Indonesia mendengarkan pemaparan mengenai MER-C dan kerelawanan dari dr. Arief Rachman (Presidium MER-C). Beberapa relawan MER-C yang pernah melakukan tugas-tugas kemanusiaan ke berbagai wilayah juga turut membagikan pengalamannya dan memberikan motivasi kepada para peserta untuk dapat berbuat sesuatu bagi lingkungan mereka.

Silahkan bertanya?