MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Tim MER-C Susuri Wilayah-wilayah Gempa di Aceh

Aceh. Menyusul gempa berkekuatan 6,4 SR, MER-C segera menggerakkan relawannya yang berada di Aceh dan Medan untuk menuju lokasi bencana guna melakukan Early Assessment of Disaster. Rabu pagi, relawan MER-C di Aceh mulai bergerak ke lokasi bencana, disusul oleh ambulans dan tim medis dari MER-C Cabang Medan.   Setelah melakukan koordinasi dan assessment, Kamis/8 Desember 2016, Tim MER-C langsung menuju posko Tampung Blang Cut, Meusa Jurung, Kecamatan Meurah Dua. Posko pengobatan di posko ini menangani pasien korban gempa sebanyak 108 orang, terdiri dari 33 pasien anak-anak dan 75 pasien dewasa dengan mayoritas lansia.     Jum’at/9 Desember 2016 Tim MER-C mencari wilayah gempa lainnya yang masih minim bantuan medis. Tim melakukan pelayanan kesehatan di posko Masjid Besar At-Taqarrub Tarienggading. Jumlah pasien yang mendapatkan pengobatan sebanyak 84 orang, yang terdiri dari 28 orang anak-anak dan 56 orang dewasa.       Di hari yang sama, Tim Medis MER-C melanjutkan pengobatan ke posko Desa Gampong Dee. Sesampainya di posko Gampong Dee, Tim sempat merasakan getaran gempa pada pukul 16:50 waktu setempat. Para pengungsi terlihat masih dalam keadaan trauma. Pasca gempa anak-anak dan ibu-ibu pun langsung menangis. Di posko ini, Tim MER-C juga menemukan pasien trauma pasca bencana, yaitu seorang wanita yang tidak dapat menggerakkan anggota gerak bawah. Pasien selanjutnya dirujuk ke RS Sigli untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Jumlah pasien di posko Gampong Dee sebanyak 78 orang, dengan perincian dewasa 48 orang dan anak-anak 30 orang.     Sabtu/10 Desember 2016, Tim MER-C kembali menyusuri wilayah gempa lainnya di Aceh. Kali ini Tim berupaya mencapai desa Temanah, kecamatan Trienggading yang sama sekali belum mendapatkan bantuan medis disebabkan akses yang sulit dan jarak tempuh yang jauh. Tim MER-C berhasil mencapai desa ini dan membuka posko pengobatan. Pada kegiatan ini MER-C kolaborasi dengan Tim Medis dari TNI-AD, TNI-AL, dan TNI-AU. Jumlah pasien korban gempa yang mendapatkan pelayanan medis sebanyak 128 orang.       Pelayanan medis yang dilakukan Tim MER-C selama di lapangan adalah pengobatan dasar, perawatan luka, ekstraksi kuku, eksisi abses, transportasi pasien trauma, serta pemeriksaan dan konsultasi kehamilan  

MER-C Kirimkan Relawan dari Aceh dan Medan Bantu Korban Gempa Pidie

Aceh, Duka kembali menoreh Aceh. Rabu, 07 Desember 2016 sekitar pukul 5 pagi, gempa berkekuatan 6,4 SR mengguncang tiga kabupaten di wilayah Aceh, yaitu Kab Pidie Jaya, Kab. Pidie dan Kab. Bireun. Relawan MER-C wilayah Aceh, yaitu Ira Hadiati, SH yang juga pernah diamanahi sebagai Project Manager MER-C untuk bencana tsunami Aceh beberapa tahun silam, bersama relawan lokal lainnya langsung menuju lokasi gempa untuk melakukan penilaian awal bencana.   Sore harinya di hari yang sama, MER-C Cabang Medan sebagai cabang yang terdekat dengan lokasi bencana, juga segera mengirimkan relawan medisnya dengan menggunakan ambulans menempuh jalur darat menuju Aceh. Tim yang diketuai oleh dr. Rifwanul Basir Nst ini berencana melakukan mobile clinic untuk menjangkau korban-korban gempa yang mengalami luka ringan agar bisa langsung mendapat penanganan medis sehingga tidak perlu dirujuk ke Rumah Sakit.     Laporan sementara dari Tim MER-C di lapangan, korban meninggal akibat gempa sampai sudah mencapai 96 orang, kasus luka berat sebanyak 125 orang dan kasus luka ringan sebanyak 452 orang. Total pengungsi sebanyak 3.200 orang. Saat ini sudah tersedia 21 posko yang tersebar di 5 kecamatan.     Tim Medis MER-C mendapat wilayah tugas di Kampung Blang Cut, Meusa Jurung, kecamatan Meurah Dua. Pelaksanaan yang dilakukan oleh Tim Medis MER-C adalah pemeriksaan dan pengobatan dasar serta pemeriksaan dan konsultasi kandungan.     Tim medis awal ini diperkirakan akan bertugas hingga satu minggu ke depan atau lebih tergantung kondisi di lapangan. Relawan dari MER-C Pusat dan cabang lainnya baik tim medis umum maupun tim bedah bersiaga dan siap diberangkatkan sewaktu-waktu apabila dibutuhkan berdasarkan hasil penilaian tim yang sudah berada di lapangan.     Bantuan untuk korban bencana gempa bumi Aceh dapat disalurkan melalui : Bank Syariah Mandiri (BSM), 701.565.8937 An. Medical Emergency Rescue Committee   Info : 021-3159235 / 0811990176 www.mer-c.org

MER-C Siagakan 200 Relawan Medis untuk Aksi 212

y;”> /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Jakarta, Animo relawan medis untuk turut mengawal Aksi Bela Islam III bertambah besar. Hal ini terlihat dari jumlah relawan yang mendaftarkan diri untuk menjadi Tim Medis MER-C pada Aksi Super Damai 212 meningkat dua kali lipat lebih. Sebelumnya pada Aksi Bela Islam ke-2, Jumat (4/11) jumlah Tim Medis MER-C sebanyak 70 orang, kali ini jumlahnya mencapai hampir 200 orang. Tim terdiri dari berbagai dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi dan perawat serta relawan pendukung lainnya.   Tidak hanya menyiagakan Tim Medis di lokasi utama aksi, yaitu Monas, MER-C juga menyiagakan Tim Medis di Masjid Istiqlal, salah satu tempat menginap terbesar bagi para peserta aksi yang datang dari luar Jakarta dan di Masjid At-Tin TMII yang menjadi tempat kedatangan peserta aksi yang berjalan kaki dari Ciamis. Posko Kesehatan MER-C di Masjid Istiqlal mulai diaktifkan sejak H-2 atau Rabu sore karena seperti aksi sebelumnya, peserta aksi diperkirakan mulai berdatangan sejak dua harinya sebelumnya. Pada H-1, Kamis/1 Desember 2016, seiring makin banyaknya peserta aksi yang tiba di Istiqlal, MER-C mengaktifkan posko kesehatannya non-stop sejak Kamis hingga Jumat malam. Ratusan peserta aksi dari berbagai daerah yang kelelahan dan sakit datang ke posko kesehatan MER-C untuk mendapatkan pelayanan medis.  Peserta aksi yang berjalan kaki dari Ciamis juga turut menjadi perhatian Tim MER-C. Kamis/1 Desember 2016, MER-C mengirimkan satu tim medisnya untuk mengawal para peserta aksi yang masih dalam perjalanan menuju Jakarta. Tim Medis MER-C akhirnya menuju ke Masjid At-Tin dan membuka posko kesehatan di masjid ini setelah adanya informasi bahwa peserta aksi sudah difasilitasi bus dan telah berdatangan di Masjid At-Tin TMII. Meski hari yang sudah menjelang malam, posko kesehatan tetap diserbu oleh para peserta aksi dari Ciamis untuk mendapatkan pengobatan atas keluhan kesehatan yang mereka alami. Sementara itu, mengantisipasi jumlah peserta aksi dan jumlah tim medis yang lebih besar, maka divisi bantuan dan logistic pada aksi 212 mempersiapkan lebih banyak set obat dan alat medis, yaitu sebanyak 100 paket untuk pelayanan mobile dan penanganan kasus emergency. Selain itu, MER-C juga menyiagakan 4 ambulans dan 2 kendaraan operasional untuk mengawal aksi.

Puluhan Relawan Medis MER-C Kawal Aksi Damai 4/11

Jum’at, 4 November 2016 telah berlangsung aksi damai rakyat terbesar sepanjang sejarah NKRI. MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) sebagai sebuah lembaga kegawatdaruratan medis untuk korban perang, kekerasan akibat konflik, kerusuhan, kejadian luar biasa, dan bencana alam menurunkan sekitar 70 relawan untuk mengawal aksi ini disertai dua ambulans dan dua kendaraan operasional.     Sesuai pembagian wilayah kerja dari Panitia Pusat Bidang Medis GNPF-MUI (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa – Majelis Ulama Indonesia), titik lokasi Tim MER-C berada di depan gedung Indosat. Untuk aksi kali ini Tim MER-C dibagi menjadi 4 kelompok besar, ada yang bertugas standby di posko tetap dan ada yang bertugas mobile menyebar menjadi tim-tim kecil lagi untuk memantau kondisi para peserta aksi yang membutuhkan pertolongan medis.       Melengkapi kerja relawan, MER-C juga menyiapkan 10 set emergency kit dan beberapa perlengkapan emergency pendukung lainnya seperti tandu lipat, oksigen dan lain-lain untuk persiapan penanganan medis di lapangan sebelum korban dirujuk ke Rumah Sakit.       dr. Zackya Yahya Setiawan, SpOk selaku Koordinator Lapangan Tim Medis MER-C untuk Aksi Damai 4/11 mengatakan bahwa Tim memutuskan standby hingga malam hari dikarenakan masih ada konsentrasi massa di sekitar Istana. Keputusan ini tepat karena menjelang jam 7 malam mulai terjadi kericuhan dan penembakan gas air mata yang mengakibatkan sejumlah peserta aksi menjadi korban.       Dengan peralatan yang ada, Tim MER-C segera memberikan pertolongan medis kepada para korban yang saat itu dievakuasi ke area gedung RRI (Radio Republik Indonesia). Hari yang sudah mulai gelap membuat Tim MER-C harus bekerja dengan penerangan seadanya. Usai menangani pasien di lokasi aksi ini, Tim MER-C melanjutkan pengawalan peserta aksi yang bergerak ke gedung DPR/MPR RI.                                      

Bisik Daun Ti Garut…

Bisik Daun Ti Garut adalah rangkaian program “Trauma Healing” hasil kerja bareng Relawan MER-C, WANADRI, Lima Amanah, Panti Asuhan Ibu Aledja Garut, Sumber Alam Garut, ITB’83 dan ILUNI UI. Kegiatan difokuskan di salah satu wilayah terdampak banjir bandang terparah, yaitu kecamatan Tarogong Kidul, khususnya kampung Cimacan, Sabtu/29 Oktober 2016.   Bertempat di LEC, Terminal Guntur, Garut, kegiatan dibuka dengan pelayanan kesehatan oleh Tim MER-C yang dimulai sejak pukul 9 pagi – 12 siang. MER-C menurunkan 17 relawannya untuk bertugas pada kegiatan ini. Tercatat sekitar 200 warga korban banjir yang mendapat bantuan pengobatan.     Ini adalah kedua kalinya Tim MER-C menyambangi Garut. Sebelumnya, pada masa tanggap darurat, 23 – 25 September 2016, MER-C mengirimkan Tim Medis pertamanya untuk memberikan bantuan medis kepada para korban.   Dalam rangka menghibur warga korban banjir, usai pengobatan kegiatan dilanjutkan dengan berbagai acara, seperti persembahan Barongsay dan Taiko dari anak-anak Panti Asuhan Ibu Aledja, pembacaan puisi oleh Sha Ine Febriyanti, penampilan dari grup band Maximum Theory dan Swara Sabila. Sementara ITB’83 dan ILUNI UI memberikan bantuan berupa MCK dan sarana air bersih. Acara ditutup dengan nonton bareng (layar tancap), film Nagabonar.        

Banjir Bandang Melanda Garut, MER-C Turunkan Tim Medis

Setelah mengumpulkan informasi dan berkoordinasi dengan jaringan MER-C di wilayah bencana Garut, Jawa Barat, Jum’at pagi/23 September 2016 MER-C segera mengirimkan relawannya sebagai Tim Advance untuk melakukan penilaian dan pemetaan serta memberikan bantuan pengobatan kepada para korban. Tim yang diturunkan dari Jakarta sebanyak 8 relawan, sementara relawan tambahan, diantaranya Dokter Spesialis Anak langsung bergabung dengan Tim di lokasi bencana.   Dalam bencana banjir bandang di Garut, MER-C kembali bekerjasama dengan Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung (Wanadri). Ini bukan yang pertama, MER-C dan Wanadri sebelumnya pernah bekerjasama pada misi kemanusiaan medis untuk korban bencana gempa bumi di Nepal pada tahun 2015 lalu. Setelah berkoordinasi dengan relawan Wanadri yang sudah tiba di lokasi bencana lebih awal, Sabtu pagi/24 September 2016, relawan MER-C dan Wanadri melakukan penyisiran ke wilayah terdampak banjir di Garut yang belum mendapat bantuan medis. Wilayah yang dituju tim adalah desa Banjarsari, kecamatan Bayongbong, salah satu wilayah yang terdampak banjir. Jembatan yang terputus membuat Tim harus melalui jembatan sementara yang ada untuk mencapai lokasi bencana. Melihat kondisi desa Banjarsari dan informasi dari warga setempat, maka Tim memutuskan untuk mengadakan pengobatan bagi warga korban banjir di RW 03 Kampung Pasantren dan RW 05 Kampung Rancamidin yang berada di Desa Banjarsari, Kec. Bayongbong. Warga yang berobat pada hari ini berjumlah 75 orang. Minggu/25 September 2016, tim kembali melakukan penyisiran ke wilayah banjir lainnya. Pada hari ke-3 misi, Tim menuju desa Mekarjaya, kecamatan Cikajang dan menggelar pengobatan bagi warga di wilayah ini. Hasil pengamatan dan evaluasi dari Tim Advance ini akan didiskusikan untuk menentukan langkah lebih lanjut bagi korban bencana banjir bandang Garut.                     

MER-C Akan Turunkan Tim Relawan ke Poso Bantu Evakuasi 16 DPO

MER-C yang pernah menurunkan Tim Medisnya ke Poso ketika wilayah ini dilanda konflik pada tahun 2000 silam, kini akan kembali mengirimkan relawannya ke Poso. Hal ini dinyatakan salah satu Presidium MER-C, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT saat menghadiri pertemuan dan konferensi pers dengan Tim 13 yang digelar di Kantor Komnasham, Selasa/9 Agustus 2016. Sebelumnya Komisioner Komnasham yang juga merupakan anggota Tim 13, Siane Indriani menawarkan MER-C untuk ikut terlibat dalam proses evakuasi 16 orang sisa kelompok Santoso, Presidium MER-C langsung merespon hal ini karena MER-C memiliki pengalaman melakukan misi kemanusiaan di wilayah konflik di Poso. “Kita menganggap persoalan terorisme bukan lagi persoalan up to date. Program war on terror sudah banyak dipakai oleh si pembuatnya sendiri di Timur Tengah. Kita ingin di Indonesia persoalan ini juga selesai. Jangan sampai ini menjadi program yang dianggap penting di NKRI, karena di dunia lain juga sudah redup. Makanya kami ingin terlibat di sini. Ketika Ibu Siane menawarkan hal ini, kami langsung merespon ya,” tutur Joserizal. MER-C berencana akan menugaskan 3 hingga 4 orang relawan ke Poso. Relawan yang dipilih untuk ditugaskan dalam misi kali ini adalah para relawan wanita yang akan terdiri dari dokter, perawat dan relawan non medis. MER-C akan membuka posko di Poso untuk jangka waktu 1 sampai 2 bulan sesuai dengan kondisi di lapangan. Presidium MER-C Joserizal menjelaskan bahwa fungsi relawan MER-C adalah masuk ke hutan dan menjemput 16 orang yang masih ada di hutan untuk kemudian membawanya turun. Hal ini dilakukan seandainya proses-proses operasi yang lain mengalami kebuntuan. Tim MER-C akan melakukan perawatan medis terhadap mereka jika ada yang mengalami hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan. Berdasarkan informasi, dari 16 orang tersebut juga terdapat 2 orang wanita sehingga Tim MER-C akan menyiapkan juga masalah-masalah yang berhubungan dengan kesehatan wanita. Hal lainnya yang penting dalam proses ini menurut Joserizal adalah jaminan amnesti bagi para DPO. “Kita perlu jaminan kalau mereka bisa diberikan amnesty. Kalau mereka tidak bisa diberikan amnesti mungkin kelompok ini bisa kita amankan tapi yang lain akan tumbuh lagi dan tingkat kepercayaan akan hilang.” Selain mengirimkan relawan ke Poso, MER-C juga akan membantu operasi salah satu korban konflik Poso yang sampai saat ini masih terdapat peluru di badannya. Salah satu saksi hidup konflik Poso ini rencananya akan didatangkan ke Jakarta oleh Komnasham untuk menjalani pemeriksaan dan tindakan medis yang diperlukan.

MER-C Turunkan Tim Medis Bantu Korban Banjir dan Longsor di Carita dan Anyer

Musibah banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah Carita dan Anyer membuat MER-C menurunkan Tim Medisnya untuk memberikan bantuan pasca bencana kepada para korban. Rabu malam/27 Juli 2016, sebanyak 5 personil relawan berangkat dari kantor Pusat MER-C di Jakarta menuju lokasi bencana dengan membawa bantuan obat-obatan dan peralatan medis. Dengan kekuatan personil satu relawan dokter dengan spesialisasi penyakit dalam, satu perawat bedah dan relawan logistik serta relawan pendukung lainnya, Tim akan mencari lokasi bencana yang belum tersentuh bantuan medis. Sistem mobile clinic akan ditempuh guna menjangkau para korban bencana yang masih terisolir.   Bekerjasama dengan TAGANA Kabupaten Pandeglang, esok paginya Kamis/28 Juli 2016, Tim langsung melakukan koordinasi dengan Kecamatan dan Puskesmas Carita. Dari hasil koordinasi, Tim mendapat informasi bahwa ada 4 desa yang terendam banjir, yaitu Desa Sukanegara, Banjarmasin, Sukajadi dan Carita. Diantara ke empat desa tersebut, desa yang paling parah terkena dampak bencana adalah desa Sukajadi. Dengan didampingi oleh relawan TAGANA, Tim melakukan suvai langsung ke desa ini dan memutuskan untuk membuka posko pengobatan di Kampung Pagedongan dan Kampung Sukun. Dari dua kampong, total jumlah pasien yang ditangani Tim MER-C mencapai 201 orang dengan perincian 141 pasien di kampong Pagedongan dan 60 pasien di kampong Sukun. Dikarenakan ada korban bencana yang tidak mampu datang ke posko untuk berobat, Tim MER-C kemudian mendatangi rumah pasien (home visit) dengan arahan dari warga. Dari 201 pasien tersebut, sebanyak empat pasien harus dirujuk ke sarana kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Dari pengamatan Tim, pemerintah Pandeglang cukup sigap dalam menangani bencana ini. Secara umum, tidak ada korban yang dalam kondisi gawat dan sebagian besar penyakit yang ditemui adalah penyakit pasca bencana dalam kategori ringan sedang. Tim MER-C juga memprediksi tidak akan terjadi kejadian luar biasa untuk penyakit pasca bencana di wilayah Carita. Untuk itu, Jum’at pagi/29 Juli 2016, Tim kembali bergerak mencari wilayah lainnya yang masih membutuhkan bantuan medis. Kali ini Tim menuju kecamatan Mancak di kabupaten Serang. Bersama dengan relawan dari BNPB Provinsi, Tim melakukan koordinasi dengan Puskesmas Mancak. Kepala Puskesmas Mancak mengarahkan tim untuk menuju ke Kampung Cikedung yang merupakan lokasi terjadinya bencana. Pukul 13.00, tim turun ke lokasi longsor dan banjir bandang dengan menggunakan sepeda motor yang ditempuh selama 30 menit. Perjalanan kemudian harus dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 2 jam karena akses ke lokasi bencana yang tidak bisa dilalui oleh kendaraan. Sepanjang berjalan kaki, tim melihat kerugian material yang sangat besar dari bencana ini walau semua penduduk dapat diselamatkan. Dua jam berjalan kaki dengan medan yang luar biasa berlumpur, tim akhirnya tiba di lokasi dan langsung membuka posko pengobatan di kampung Baru. Kampung Baru merupakan kampung yang terisolir karena semua akses ke dunia luar tertutup lumpur. Selain memberikan pelayanan medis bagi 76 pasien korban bencana alam, di kampung ini Tim juga melakukan 2 kunjungan ke rumah pasien (home visit) yang tidak dapat datang ke posko untuk berobat. Hari mulai beranjak gelap ketika tim MER-C selesai memberikan bantuan pengobatan kepada warga. Karena perjalanan yang cukup berbahaya untuk ditempuh pada malam hari, Tim memutuskan dan meminta izin menginap di rumah Ketua Kampung Cikedung. Seperti halnya di kecamatan Carita, walaupun tidak ditemui korban jiwa di wilayah bencana ini, namun Tim melihat kerugian material yang sangat besar dan merugikan banyak pihak. Meskipun longsor dan banjir bandang hanya terjadi di 4 desa, namun dikarenakan akses menuju 12 desa hanya melalui satu jalur sehingga bencana ini menyebabkan 8 kampung lainnya juga terisolir.  

Silahkan bertanya?