Dari Jarak Ribuan Kilometer Relawan MER-C Sambut Kelahiran Anaknya

Gaza, Palestina Bukan pekerjaan yang mudah di kala seseorang meninggalkan istri, anak-anak maupun keluarga dengan jarak yang jauh dan jangka waktu yang lama. Sakti Wibowo bin Wakijo, salah seorang relawan MER-C asal Wonogiri (Jawa Tengah) yang saat ini bertugas membantu pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza menempuh tantangan di atas demi memunaikan amanah rakyat Indonesia dan menggapai ridho-Nya. Tidak tanggung-tangung jarak dan waktu yang ditempuh adalah ribuan kilometer dari Indonesia ke Jalur Gaza. Masa tugas yang harus dilalui pun tidak sebentar, bisa mencapai 1 tahun bahkan lebih tergantung selesainya pembangunan fisik RS Indonesia yang akan menjadi sebuah persembahan dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina. Namun berkat keteguhan doa dari seluruh keluarga, membuat pahit manis masa tugas yang dilalui relawan yang akrab dipanggil Abu Zaki ini terasa lebih banyak sisi kesenangan. Inilah nikmat yang menurutnya berhasil menyempurnakan pola hidup yang ia rangkai hingga saat ini, Pada hari Selasa (23/4), relawan asal Wonogiri (Jawa Tengah) ini mendapat kabar gembira dari keluarga di tanah air. Telah lahir putrinya yang ke-4 sekitar pukul 04.00 wib dalam keadaan sehat dengan berat 3.8 kg dan panjang 51 cm. Mendengar kabar tersebut, pria yang dikenal periang ini langsung mengucap syukur dengan menengadahkan kepala dan kedua tangannya ke langit Gaza. Dengan bangga pria yang juga pernah menjadi relawan ke wilayah gempa Padang (Sumbar) tahun 2009 lalu, telah menyiapkan nama yang istimewa bagi buah hati yang baru saja lahir. Dibantu Muhammad Husein, rekan sesama relawan yang juga salah satu mahasiswa di Universitas Islam Gaza (UIG), sepakat memberi nama istimewa KHANSA AL-GHOZIYAH, yang bermakna Khansa (nisbat kepada shohabiyah) wanita Gaza yang anggun.
Warga Solo Sumbang Rp 100 juta Lebih untuk RS Indonesia

Solo, Jawa Tengah Dalam rangka menggalang dana untuk pembangunan RS Indonesia (RSI) di Gaza Palestina, baru-baru ini MER-C Cabang Surakarta mengadakan acara talkshow dan penggalangan dana untuk program ini . Acara yang bertema Sejuta Cinta untuk Palestina digelar Ahad pagi (10/3) bertempat di Masjid Agung Surakarta. Dr. Henry Hidayatullah dan dr. Abdul Mughni Rozy, Sp.B, dua relawan dokter MER-C yang pernah bertugas di wilayah konflik Gaza-Palestina hadir sebagai narasumber. Dr. Mughni, seorang relawan senior dari MER-C Cabang Semarang memaparkan pengalamannya ketika menjadi tim MER-C pada saat agresi Israel awal tahun 2009. Dokter spesialis bedah umum ini menyaksikan sendiri bagaimana kondisi kota Gaza yang luluhlantak akibat serangan bom dan rudal Israel. Serangan ini juga menyebabkan ribuan rakyat Gaza juga menjadi korban. Sementara dr. Henry yang merupakan salah satu pendiri dan relawan senior MER-C membagi pengalamannya saat mengunjungi Gaza belum lama ini. Saat ia datang, pembangunan struktur RSI sudah selesai dan pembangunan tahap 2 segera dimulai. Kedatangan dr. Henry bersama Ketua Divisi Konstruksi MER-C dan 21 relawan teknis dari Indonesia menandakan siap dimulainya pembangunan tahap 2 RSI. Pembangunan tahap 2 memang akan dilakukan oleh relawan ahli dan teknis dari Indonesia, hal ini dalam rangka menghemat biaya pembangunan. Tidak hanya cerita, para jamaah yang hadir di Masjid Agung Surakarta juga disuguhkan dengan foto-foto dan film proses pembangunan RSI dari awal hingga update terakhir. Malam harinya, acara sosialisasi RSI di kota Solo masih berlanjut. Kali ini bertempat di kelompok pengajian ibu Siti Aminah pemilik Tiga Serangkai. Dari dua rangkaian acara ini, jumlah donasi cash semetara yang terkumpul dari warga Solo sebesar Rp 15.478.000 dan cek senilai Rp 100 juta.
MER-C Medan: Berjalan Kaki dan Berperahu untuk Jangkau Korban Banjir

Medan – Bencana banjir belum berlalu. Kali ini, banjir melanda wilayah Tanjung Balai, Sumatera Utara yang menyebabkan lebih dari 12.000 kepala keluarga di wilayah tersebut terendam rumahnya. Menyusul bencana tersebut, MER-C Cabang Medan kembali menurunkan tim relawan medisnya guna membantu dan meringankan penderitaan para korban. Tim harus berjalan kaki bahkan menggunakan perahu milik penduduk untuk menjangkau korban banjir yang belum terjamah bantuan. Tim berangkat pada Kamis malam (28/2) dari posko MER-C Cabang Medan dengan menggunakan ambulans. Jumat (1/3), Tim yang terdiri dari dr. Rinaldi Sani, dr. Iqbal Harziky, dr. Nanda Bagus, dr. Hanum Sesari, Alamsyah, dan M. Irsal supir ambulan memulai kegiatan pada pukul 8 pagi. Tim bergerak dari Kisaran menuju di Tanjung Balai. Pada pukul 10.00 tim tiba di Tanjung Balai dan langsung berkordinasi terlebih dahulu Kepala Dinas Kesehatan Tanjung Balai dan meminta informasi mengenai lokasi-lokasi yang masih membutuhkan bantuan. Dari informasi tersebut, Tim MER-C berencana memberikan bantuan pengobatan di beberapa titik. Tim mulai bergerak menuju arah Simpang Empat Kel. Bandar untuk memberikan bantuan pengobatan dan pakaian layak pakai. Tim kemudian menggelar pengobatan di desa Sijambi Lk1 Pasar Traktor, tepatnya di Jl. H. Adam Malik Tanjung Balai. Pengobatan dilakukan di tenda darurat di depan rumah salah satu warga. Pukul 12.00 tim menyelesaikan kegiatan pengobatan untuk beristirahat dan menunaikan ibadah sholat Jum’at. Tanpa membuang waktu, usai sholat dan istirahat secukupnya, pukul 13.30 kembali melanjutkan pelayanan kepada masyarakat korban banjir di Lk1 dan Lk2 hingga pukul 6 sore. Jumlah pasien yang ditangani sebanyak 61 orang dengan keluhan penyakit terbanyak ISPA dan penyakit kulit. Kondisi cuaca yang baik pada hari ini sangat mendukung kegiatan peengobatan bagi warga dan warga setempat pun sangat proaktif membantu kegiatan ini. Sabtu (2/3), kegiatan pengobatan tim masih berlanjut. Kali ini, Tim mencoba masuk ke wilayah banjir yang lebih dalam, yaitu menuju desa Gading. Ketinggian air di wilayah ini masih selutut orang dewasa. Ambulans pun sulit masuk, sehingga Tim memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Pengobatan dilakukan dari rumah ke rumah. Tercatat sebanyak 45 orang di desa ini yang mendapatkan pengobatan dari Tim MER-C. Usai pengobatan di desa Gading, tim kemudian menyusuri daerah kawasan sungai Kecamatan Sei Dua Hulu dengan menggunakan perahu milik penduduk. Tim berhenti di beberapa titik di mana warga dapat berkumpul dan pengobatan dapat dilakukan. Kali ini jumlah pasien mencapai kurang lebih 60 orang, yang umumnya mengeluhkan gatal di kulit. Menurut info dari warga, Tim MER-C adalah tim medis pertama yang turun, selama ini belum ada Tim yang turun sampai ke daerah tersebut.
MER-C Cabang Medan Kirim Tim ke Lokasi Banjir Bandang Mandailing Natal

Medan Musibah banjir bandang kembali melanda daerah Mandailing Natal, Sumatera Utara. Banjir terjadi karena sungai Sigija yang meluap akibat hujan yang turun terus menerus sejak hari Rabu (13/2). Sebagai cabang terdekat, MER-C Cabang Medan segera mempersiapkan Tim Advance untuk menuju lokasi bencana guna melakukan pemetaan dan memberikan bantuan medis awal. Minggu (17/2), tepat pukul 09.40 pagi, dengan menggunakan ambulans, Tim yang terdiri dari 3 relawan medis mulai bergerak dari posko MER-C menuju lokasi bencana di Kec. Panyambungan, Kab. Mandailing Natal, Sumatera Utara. Setibanya di lokasi, Tim MER-C, yaitu Dr. Andika Pradana, Dashari Ermandi, S.Ked dan Wirsal Harahap, AmK. segera berkoordinasi dengan pihak kesehatan setempat dan melakukan penyusuran ke berbagai titik lokasi yang terkena bencana banjir bandang. Wilayah yang didatangi diantaranya adalah Manyabar, Naga Juang, Pagaran Tonga, Gunung Manaon, Sabajambu, dan Sopobatu. Dari hasil penyusuran tersebut, Tim memutuskan untuk memberikan bantuan pengobatan dengan cara mobile clinic di dua titik, yaitu Manyabar dan Pagaran Tonga. Penyakit yang banyak ditemui oleh Tim adalah penyakit kulit dan ISPA. Tim juga menemui pasien yang mengalami diare yang harus diberi penanganan infus. Pengobatan yang dilakukan tim pada hari itu melayani sekitar 70 pasien, sebanyak 50 pasien di Manyabar dan sekitar 20 pasien di Pagaran Tonga. Pada hari Senin (18/2), MER-C Cabang Medan kembali menurunkan tim medis susulan ke Mandailing Natal. Tim yang ditugaskan kali ini berjumlah 5 orang yang terdiri dari 4 relawan medis dan 1 relawan non medis. Fokus wilayah kerja Tim tetap di Manyabar dan Pagaran Tonga karena wilayah ini yang masih membutuhkan bantuan medis. Dengan sistem mobile clinic, Tim mendatangi rumah para korban banjir dan mengobati para korban yang sakit. Selain bantuan obat-obatan, Tim juga memberikan bantuan berupa sembako, seragam sekolah dan peralatan ibadah yang dibeli dari hasil donasi masyarakat.
MER-C Cabang Medan Kirim Tim ke Lokasi Banjir Bandang Mandailing Natal

Medan Musibah banjir bandang kembali melanda daerah Mandailing Natal, Sumatera Utara. Banjir terjadi karena sungai Sigija yang meluap akibat hujan yang turun terus menerus sejak hari Rabu (13/2). Sebagai cabang terdekat, MER-C Cabang Medan segera mempersiapkan Tim Advance untuk menuju lokasi bencana guna melakukan pemetaan dan memberikan bantuan medis awal. Minggu (17/2), tepat pukul 09.40 pagi, dengan menggunakan ambulans, Tim yang terdiri dari 3 relawan medis mulai bergerak dari posko MER-C menuju lokasi bencana di Kec. Panyambungan, Kab. Mandailing Natal, Sumatera Utara. Setibanya di lokasi, Tim MER-C, yaitu Dr. Andika Pradana, Dashari Ermandi, S.Ked dan Wirsal Harahap, AmK. segera berkoordinasi dengan pihak kesehatan setempat dan melakukan penyusuran ke berbagai titik lokasi yang terkena bencana banjir bandang. Wilayah yang didatangi diantaranya adalah Manyabar, Naga Juang, Pagaran Tonga, Gunung Manaon, Sabajambu, dan Sopobatu. Dari hasil penyusuran tersebut, Tim memutuskan untuk memberikan bantuan pengobatan dengan cara mobile clinic di dua titik, yaitu Manyabar dan Pagaran Tonga. Penyakit yang banyak ditemui oleh Tim adalah penyakit kulit dan ISPA. Tim juga menemui pasien yang mengalami diare yang harus diberi penanganan infus. Pengobatan yang dilakukan tim pada hari itu melayani sekitar 70 pasien, sebanyak 50 pasien di Manyabar dan sekitar 20 pasien di Pagaran Tonga. Pada hari Senin (18/2), MER-C Cabang Medan kembali menurunkan tim medis susulan ke Mandailing Natal. Tim yang ditugaskan kali ini berjumlah 5 orang yang terdiri dari 4 relawan medis dan 1 relawan non medis. Fokus wilayah kerja Tim tetap di Manyabar dan Pagaran Tonga karena wilayah ini yang masih membutuhkan bantuan medis. Dengan sistem mobile clinic, Tim mendatangi rumah para korban banjir dan mengobati para korban yang sakit. Selain bantuan obat-obatan, Tim juga memberikan bantuan berupa sembako, seragam sekolah dan peralatan ibadah yang dibeli dari hasil donasi masyarakat.
Tim MER-C Jemput Bola Susuri Gang-gang Sempit di Penjaringan Jakarta Utara

Jakarta Rabu (23/1) MER-C kembali menurunkan Tim Medisnya untuk memberi bantuan pengobatan bagi warga korban banjir. Tujuan tim masih ke Penjaringan, Jakarta Utara karena banjir masih menggenangi wilayahnya ini. Tim membuka pelayanan medis di Rt 3 Rw 8, Tanah Pasir. Sebanyak 4 relawan dokter dan 2 relawan non medis berpartisipasi dalam misi kali ini. Hujan masih mengguyur cukup deras ketika tim MER-C tiba di lokasi. Di pinggir jalan besar, terlihat sudah ada beberapa posko bantuan baik dari perusahaan maupun lembaga yang peduli terhadap para korban banjir. Hal ini menandakan bantuan sudah cukup memadai di sini dan Tim MER-C harus mencari wilayah lain yang belum atau masih minim bantuan khususnya kesehatan. Dengan panduan warga, Tim pun mencoba memasuki wilayah Penjaringan yang lebih dalam. Tibalah Tim di wilayah Rt 3 Rw 8, Tanah Pasir. Banjir masih merendam wilayah ini. Ada yang setinggi betis hingga setinggi paha orang dewasa bahkan ada yang mencapai 1,5 meter. Hujan juga masih terus mengguyur yang mengakibatkan pengobatan tidak memungkinkan untuk dilakukan di armada ford ranger MER-C. Tidak ada dataran tinggi yang cukup kering juga untuk menggelar pengobatan, sehingga pengobatan pun digelar di sebuah panggung kecil yang memang biasanya digunakan sebagai posko bantuan logistik bagi warga setempat. Dengan bantuan warga, obat-obatan diturunkan dari mobil dan pengobatan pun digelar di atas panggung. Satu persatu warga yang sakit berdatangan. Ada yang berjalan kaki menggunakan payung, ada juga yang diantar oleh keluarganya dengan menggunakan gerobak. Melihat kondisi hujan dan banjir seperti ini, Ketua Tim MER-C hari itu segera memutuskan untuk membagi tim menjadi 2. Tim pertama melayani pasien di posko (panggung), sementara tim ke-2 melakukan mobile clinic dan jemput bola. Hal ini dilakukan agar balita, manula dan warga sakit yang tidak mampu datang ke posko dapat mendapatkan bantuan pengobatan. Dengan menggunakan payung dan membawa tas ransel berisi obat-obatan, relawan dokter MER-C menyusuri gang-gang sempit dan padat di Rw 8 yang masih terendam banjir untuk menjemput bola mendatangi pasien ke rumah-rumah mereka. Hari ini Tim Medis MER-C melayani sekitar 200 orang pasien, sebagian besar adalah balita dan anak-anak. Penyakit yang banyak diderita oleh warga korban banjir di wilayah ini adalah penyakit kulit, diare, dan ISPA.
Dari Atas Bak Mobil Layani Kesehatan Korban Banjir

Jakarta Setelah memberikan pelayanan kesehatan bagi warga korban banjir di Bukit Duri Jakarta Selatan, Tim Medis MER-C mencoba merambah wilayah Jakarta Utara. Senin (21/1), Tim MER-C melakukan mobile clinic lokasi banjir di Penjaringan, tepatnya di Muara Baru. Sebanyak 5 relawan dokter dan 2 non medis, berupaya melalui wilayah yang masih terendam banjir di sana sini. Dengan panduan warga setempat, armada ford ranger MER-C menembus genangan banjir. Warga terus menuntun Tim MER-C mencari jalan yang ketinggian airnya masih dapat dilalui oleh mobil untuk mencapai jalanan yang agak kering untuk menggelar pelayanan kesehatan. Karena akses yang cukup sulit, menjelang sore Tim MER-C baru tiba di lokasi. Pengobatan pun digelar di atas bak mobil MER-C, di pinggir jalan. Sementara di sejumlah wilayah banjir lainnya air sudah mulai surut bahkan kering, tidak demikian dengan Muara Baru Penjaringan Jakarta Utara. Air masih menggenangi pemukiman warga yang padat. Namun, tidak ada pengungsian di wilayah ini. Warga enggan mengungsi dan memilih tetap bertahan di rumah-rumah mereka yang masih terendam banjir dengan ketinggian beragam. Kedatangan Tim MER-C disambut antusias oleh warga Muara Baru. Begitu pelayanan kesehatan dibuka, antrian warga pun mulai mengular mendekati bagian belakang mobil MER-C yang difungsikan menjadi tempat pengobatan. Tim dokter MER-C pun segera bersiap untuk mendengarkan berbagai keluhan sakit dari warga dan berupaya mengobati mereka dengan bantuan obat-obatan yang telah dibawa dari markas MER-C di Jakarta Pusat. Sejak dibuka, pelayanan kesehatan tidak pernah sepi dari kerumunan warga. Hingga pukul 8 malam, warga Muara Baru masih terus berdatangan. Sebagian besar pasien adalah anak-anak dan balita. Penyakit yang banyak diderita adalah ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas) dan diare. Pelayanan kesehatan selesai sekitar pukul 08.30 malam dan tercatat pasien yang berobat hari ini lebih dari 400 orang. MER-C akan terus melakukan program mobile clinic ke wilayah banjir lain yang membutuhkan untuk membantu para korban dan guna menyalurkan amanah dari mayarakat yang masuk melalui rekening kemanusiaan MER-C. Donasi Rekening untuk Banjir Jakarta: Atas nama Medical Emergency Rescue Committee Bank Central Asia (BCA) Cab. Kwitang no Rek. 686.0099.339 Bank Syariah Mandiri (BSM) Cab. Salemba no Rek. 701.565.8899
MER-C Lakukan Mobile Clinic dan Jemput Bola Layani Pasien Korban Banjir

Jakarta Banjir besar kembali melanda Jakarta. Jumat (18/1) MER-C menurunkan tim medisnya yang terdiri dari 5 relawan dokter dan 1 relawan logistik serta 1 supir. Dengan menggunakan armada ford ranger double cabin, Tim menyusuri sejumlah titik bencana banjir guna mencari lokasi yang belum dan masih membutuh bantuan medis. MER-C juga menerapkan sistem mobile clinic dan jemput bola dalam memberikan bantuan medis kepada para korban banjir kali ini. Setelah menyusuri beberapa lokasi banjir di wilayah Jakarta Timur dan Selatan, Tim memutuskan untuk memberikan bantuan medis kepada korban banjir yang mengungsi di Masjid Attahiriyah Bukit Duri. Di lokasi ini belum ada bantuan medis dan jumlah warga yang mengungsi diperkirakan berjumlah lebih dari 1.900 jiwa. Kedatangan Tim MER-C disambut sangat baik oleh masyarakat. Tim yang berjumlah 6 orang dibagi menjadi dua. Tim pertama memberikan pelayanan medis bagi korban banjir di dalam Masjid Attahiriyah, sementara satu tim lagi melakukan mobile ke lingkungan sekitar bersama Tim SAR dan masyarakat setempat. Relawan dokter MER-C yang bertugas di masjid menerapkan sistem jemput bola. Mereka mendatangi satu persatu ruangan dalam lingkungan masjid yang dipenuhi oleh korban banjir yang mengungsi. Warga yang mengeluh sakit diperiksa dan diobati. Usai memberikan pengobatan di dalam masjid, tim melanjutkan pengobatan di bagian luar masjid. Kali ini pelayanan medis dilakukan di atas bak mobil ford ranger MER-C yang diparkir di depan Masjid. Warga korban banjir berdatangan menghampiri mobil berlogo MER-C ini untuk mendapatkan pengobatan dari relawan dokter yang ada. Sementara itu, tim MER-C lainnya melakukan mobile ke wilayah bantaran Ciliwung yang belum mendapat bantuan medis. Tim mobile bersama Tim SAR dengan menggunakan perahu karet. Ternyata masih banyak warga yang memilih bertahan di rumah-rumah mereka yang terendam banjir dan tidak mau dievakuasi. Salah satunya seorang Bapak tua usia 62 tahun yang memilih bertahan di rumah, sorang diri, dalam keadaan sakit. Atas informasi dari istrinya, Dokter MER-C bersama Tim SAR berusaha mencapai dan memasuki rumahnya. Setelah diperiksa, sang Bapak menderita hipertensi dan segera dievakuasi. Usai mobile dengan menggunakan perahu karet, Tim MER-C mendapat laporan dari warga bahwa masih ada lokasi pengungsian yang belum mendapatkan bantuan pengobatan. Mereka berharap Tim MER-C bisa mengecek kondisi kesehatan warga yang mengungsi di sana. Dengan menggunakan sepeda motor, warga mengantar dokter MER-C ke lokasi pengungsian yang terletak di Wisma Tjiliwung. Pelayanan medis pun segera digelar bagi warga di wisma ini. Hari sudah mulai gelap ketika Tim MER-C selesai memberikan bantuan pengobatan. Penyakit yang banyak diderita oleh warga korban banjir yang diobati hari ini adalah ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas), penyakit kulit, hipertensi dan diare.
Kolaborasi TPG dengan MER-C Indonesia

Foto (ki-ka) dr. Zackya Yahya S. SpOk (MER-C) dan Ahmad Gunung (CEO TPG) “Lihatlah apakah anda hanya melihat orang yang mendapat ujian saja dan apakah Anda hanya menyaksikan orang yang menderita saja?. Disetiap rumah ada ratapan tangis, disetiap pipi ada air mata mengalir” (Jangan Bersedih, La Tahzan) Kutipan kalimat diatas diambil dari buku “Senja Merah di Tanah Maluku” yang berisi untaian hikmah misi kemanusiaan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee). Siapa yang tak kenal dengan MER-C Indonesia?. Kegiatannya merupakan terobosan bagi bantuan kemanusiaan ke beberapa daerah konflik dan bencana. Saat ini yang sedang dilakukan adalah membangun rumah sakit di Palestina dan di wilayah timur Indonesia tepatnya di Galela, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. Kutipan kalimat diatas serta hikmah misi kemanusiaan MER-C Indonesia itulah yang menggerakkan hati untuk lebih jauh melangkah untuk berbuat sesuatu dan tidak membiarkan atau hanya menyaksikan cobaan penyakit yang datang kepada staf dan karyawan Perusahaan hingga air mata mereka mengalir. Berawal dari penandatangan nota kesepahaman dalam rangka program kerjasama antara Perusahaan dengan Pengurus MER-C Indonesia dilakukan pada tanggal 24 Mei 2012 di kantor pusat Jakarta, sangat didasari niat baik untuk lebih mensejahterakan karyawan serta masyarakat sekitar unit usaha di Bumi Etam, Kalimantan Timur. Seiring waktu berjalan pada tanggal 26 s/d 29 Juni 2012 tibalah saat yang sangat berarti untuk menapaki jalan di Bumi Etam bersama para dokter handal dari MER-C Indonesia dengan memulai langkah penempatan 4 orang dokter di empat unit usaha. Siapakah mereka; dr. Bintang Pamodana di MB1, dr. Zalela di PB1, dr. Makbruri di BP1 dan dr. Zecky Eko Triwahyudi di TS1. Selama perjalanan menapaki bumi etam, didampingi oleh Koodinator Program, dr. Zackya Yahya S. SpOk dan dr. Fransisca Tonggo Meaty serta Asmen HRM, Novianto H. Triwibowo dan staf HRM, Adhi Setyanto. Rombongan juga melakukan beberapa pertemuan dengan para pihak terkait seperti; pertemuan dengan Dekan & staf Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman untuk program kerjasama khususnya penempatan calon dokter lulusan Universitas tersebut, pertemuan dengan Kepala Dinas Pelayanan Kesehatan Kabupaten Kutai Timur untuk lebih lanjut bersama-sama membangun program-program pelayanan kesehatan di Unit Usaha serta masyarakat sekitar. Semoga rintisan upaya diatas dapat terus berkembang lebih baik lagi dan memberi pengaruh bagi staf dan karyawan yang semangat bekerja karena dirinya sehat. Seorang karyawan di satu unit usaha sempat berkata “terima kasih ya dok… Dokter mau bersama kami disini”. Sumber : http://www.teladanprima.com/renew/index.php/38-most-popular-news/50-mou-tpg-mer-c
MER-C Penuhi Undangan Acara SALAM UI Why Palestina

DEPOK – Kamis (10/5), MER-C kembali diundang untuk mengisi acara yang berkaitan dengan Palestina. Kali ini pihak pengundang adalah SALAM UI yang menggelar acara bertajuk Why Palestina?. Acara yang diadakan di Gedung Perpustakaan Pusat UI lantai 6 ini dibuka dengan pemaparan sejarah Palestina yang dilanjutkan dengan presentasi mengenai kondisi Palestina terkini dan progress pembangunan RS Indonesia di wilayah terblokade Gaza oleh dr. Joserizal. Selain menayangkan beberapa film dokumentasi MER-C termasuk film progress pembangunan RSI yang tahap pertamanya sudah mencapai 100%, MER-C juga berkesempatan menunjukkan maket RS Indonesia di Jalur Gaza kepada para audiens yang hadir. Dengan adanya maket ini diharapkan masyarakat bisa mendapat gambaran yang lebih jelas mengenai bentuk unik RSI di Jalur Gaza hasil disain anak bangsa yang dana pembangunannya berasal dari rakyat Indonesia. Selain video progress pembangunan RSI, MER-C juga menayangkan trailer Buku Jalan Jihad Sang Dokter, buku terbaru MER-C yang banyak menceritakan tentang misi MER-C di Palestina. Walau banyak dari audiens yang ngeri dan takut melihat film tersebut, tapi mereka juga penasaran melihat kinerja para relawan di lapangan. Banyak hal yang dipaparkan oleh dr. Joserizal seputar Palestina dan permasalahannya serta bagaimana para audiens yang kebanyakan adalah mahasiswa bisa berperan besar di dalamnya.