MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

MER-C Lanjutkan Pembangunan RS Swadaya Masyarakat di Galela

GALELA, MALUT, Selain menjalankan program pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza Palestina, MER-C juga sedang membangun RS di wilayah timur Indonesia, tepatnya di Galela, Kab. Halmahera Utara, Maluku Utara. Setelah pembangunan pondasi usai, pembangunan RS ini sempat terhenti beberapa waktu karena dana yang terbatas. Setelah donasi RS mulai bertambah lagi, baik yang dikumpulkan oleh masyarakat lokal maupun yang masuk melalui rekening MER-C dengan amanah khusus RS Galela, pada akhir Maret 2012 pembangunan RS ini dilanjutkan kembali. Sebanyak 7 relawan tukang dikirimkan oleh Divisi Konstruksi MER-C untuk membantu dan mengawasi langsung proses pembangunan. Pembangunan yang dilakukan saat ini rencananya akan dibagi menjadi 3 tahapan. Tahap pertama, pembangunan RS bagian depan. Tahap kedua, pembangunan RS bagian tengah dan tahap ketiga pembangunan RS bagian belakang. Pada tanggal 7 Mei 2012, pembangunan tahap pertama selesai. Antusiasme masyarakat Galela sangat nampak sejak awal pembangunan RS ini. Dengan kehadiran 7 relawan Divisi Konstruksi MER-C, warga Galela pun berdatangan ke lokasi RS untuk menawarkan bantuan baik berupa tenaga maupun materi. Semua ingin berpartisipasi dalam program ini. Pada pembangunan tahap pertama diperoleh tambahan sumbangan berupa batu split untuk cor sebanyak 2 truk dan semen sebanyak 5 sak. Masyarakat juga secara bergantian memberi bantuan tenaga secara sukarela selama proses pembangunan. Ibu-ibu setempat juga tidak mau ketinggalan, mereka turut berpartisipasi memberi bantuan berupa makanan untuk para relawan dan warga yang bekerja di lokasi pembangunan. Saat ini tengah berlangsung pembangunan tahap kedua, yaitu pembangunan bagian tengah RS yang merupakan ruangan rawat inap. Pekerjaan tahap kedua diestimasikan selesai dalam waktu satu bulan ke depan. Keberadaan RS ini memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Galela karena di sana baru terdapat Puskesmas. Apabila ada masyarakat Galela yang membutuhkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut di RS, maka mereka harus pergi ke Tobelo atau bahkan ke Ternate.   Apabila selesai, RS ini akan menjadi contoh sarana kesehatan yang dibangun atas swadaya masyarakat. Mengapa? Pertama, karena tanah RS seluas 4.000 m2 merupakan wakaf dari warga setempat. Kedua, warga juga berperan aktif melakukan penggalangan dana untuk membantu Pembangunan RS yang memang sangat diharapkan oleh warga. Ketiga, selain beberapa relawan tukang yang ditugaskan dari MER-C Pusat, warga juga aktif membantu secara bergotong royong dan bergiliran dari desa ke desa dalam melakukan pekerjaan pembangunan. Semua dilakukan oleh warga dengan ikhlas tanpa berharap imbalan.   Bagi Bapak/Ibu/Sahabat yang ingin membantu mewujudkan pembangunan RS bagi masyarakat Galela, Maluku Utara, dapat menyalurkan donasinya melalui: Rekening Donasi Pembangunan RS MER-C di Galela, Maluku Utara: BNI, Cab. Kramat, 0140600983 A/n. Medical Emergency Rescue Committee

Tabligh Akbar untuk Gaza Digelar di Kota Malang

MALANG Minggu (29/4), Masjid Jend. Ahmad Yani Kota Malang dipadati sekitar 700 orang yang membludak hingga pelataran masjid. Massa yang hadir membawa semangat membara untuk mendukung perjuangan rakyat Gaza Palestina melalui kegiatan Tabligh Akbar bertajuk “Uang Receh Untuk Gaza” dalam rangka sosialisasi program pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) Gaza-Palestina dan juga Unit Bank Darah yang akan melengkapi RS tersebut. Acara yang terlaksana berkat kerjasama antara Baitul Mal Abdurrahman bin ‘Auf Cabang Malang, Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI) dan Medical Emergency Rescue Commiittee (MER-C) berjalan cukup lancar dengan menghadirkan dua pembicara yaitu dr. Joserizal Jurnalis, Sp.OT. (Presidium MER-C) dan Ust. Ir.Andri Kurniawan, M.Ag. (Tokoh Islam Malang). Hadirin pun begitu antusias mengumpulkan bantuan berupa dana yang akan mereka sumbangkan sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pembangunan Rumah Sakit yang kini telah melewati 100 % untuk tahap I. Tidak hanya berupa uang rupiah yang terkumpul bahkan karena semangat arek-arek Malang, bantuan lain berupa uang dollar, cincin emas dan tabung elpiji pun ikut disumbangkan untuk mendukung pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza.   Semoga daerah-daerah lain tidak mau kalah dengan arek-arek Malang. Mari dukung terus pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza dan Unit Bank Darah-nya. Semoga ini menjadi langkah konkrit kita untuk membantu Palestina.

Tabligh Akbar untuk Gaza Digelar di Kota Malang

MALANG Minggu (29/4), Masjid Jend. Ahmad Yani Kota Malang dipadati sekitar 700 orang yang membludak hingga pelataran masjid. Massa yang hadir membawa semangat membara untuk mendukung perjuangan rakyat Gaza Palestina melalui kegiatan Tabligh Akbar bertajuk “Uang Receh Untuk Gaza” dalam rangka sosialisasi program pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) Gaza-Palestina dan juga Unit Bank Darah yang akan melengkapi RS tersebut. Acara yang terlaksana berkat kerjasama antara Baitul Mal Abdurrahman bin ‘Auf Cabang Malang, Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI) dan Medical Emergency Rescue Commiittee (MER-C) berjalan cukup lancar dengan menghadirkan dua pembicara yaitu dr. Joserizal Jurnalis, Sp.OT. (Presidium MER-C) dan Ust. Ir.Andri Kurniawan, M.Ag. (Tokoh Islam Malang). Hadirin pun begitu antusias mengumpulkan bantuan berupa dana yang akan mereka sumbangkan sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pembangunan Rumah Sakit yang kini telah melewati 100 % untuk tahap I. Tidak hanya berupa uang rupiah yang terkumpul bahkan karena semangat arek-arek Malang, bantuan lain berupa uang dollar, cincin emas dan tabung elpiji pun ikut disumbangkan untuk mendukung pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza.   Semoga daerah-daerah lain tidak mau kalah dengan arek-arek Malang. Mari dukung terus pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza dan Unit Bank Darah-nya. Semoga ini menjadi langkah konkrit kita untuk membantu Palestina.

Satu Tahun Lebih Bertugas di Gaza, 3 Relawan MER-C Tiba di Tanah Air

JAKARTA Raut muka bahagia terpancar dari wajah tiga relawan MER-C Indonesia ketika menginjakkan kaki di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Senin (7/5), sekitar pkl. 22.00 wib. Mereka adalah Ir. Ahmad Fauzi, Ir. Edy Wahyudi dan Darusman Abdul Hamid. Ketiganya adalah relawan yang telah bertugas lebih dari 1 tahun di Gaza mengawasi proses pembangunan RS Indonesia (RSI) di sana. Para keluarga, kerabat, Imaam Muhyidin Hamidy (Pimpinan Pesantren Alfatah), dr. Sarbini Abdul Murad (Ketua Presidium MER-C) dan dr. Joserizal Jurnalis, SpOT (Presidium MER-C) turut hadir malam itu untuk menyambut kedatangan para relawan. Kepulangan tiga relawan ini menyusul telah selesainya pembangunan tahap pertama untuk struktur RSI yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina. Sementara, tiga relawan lainnya, yaitu Abdillah Onim, Ir. Nur Ikhwan Abadi dan Muhammad Husein masih melanjutkan tugas di Gaza guna mempersiapkan pembangunan tahap 2 untuk Arsitektur dan ME (Mekanikal Elektrikal) RSI. Selamat datang kepada para relawan, kalian adalah para putra terbaik bangsa. Perjuangan teman-teman selama ini di Gaza meninggalkan keluarga dan pekerjaan serta semua yang dicintai di Indonesia untuk menunaikan amanah mengawasi pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza adalah hal yang sangat luar biasa, ungkap Presidium MER-C pada acara penyambutan sederhana yang digelar di Terminal Kedatangan luar negeri Bandara Soekarno Hatta. Ir. Ahmad Fauzi, Ir. Edy Wahyudi dan Darusman Abdul Hamid, ketiganya adalah relawan MER-C yang berasal dari Pesantren Alfatah. Mereka bisa mencapai Gaza setelah mengikuti konvoi darat pembukaan blokade Gaza Asia to Gaza Solidarity Caravan pada bulan Desember 2010 hingga Januari 2011. Setelah 1 bulan menempuh jalur darat melalui sejumlah negara untuk mengkampanyekan pembukaan blokade Gaza, akhirnya konvoi ini berhasil menginjakkan kaki di Gaza, termasuk ketiga relawan tersebut. Sejak saat itu, mereka berkomitmen menetap di Gaza bergabung sebagai Tim relawan MER-C Indonesia untuk mengawal proses pembangunan RS INDONESIA di Jalur Gaza. Terlebih lagi Ahmad Fauzi dan Edy Wahyudi memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman sebagai Insinyur yang memang sangat dibutuhkan untuk program pembangunan RS Indonesia di Gaza, Palestina. Setelah hampir 1,5 tahun meninggalkan keluarga untuk mengabdi sebagai relawan (unpaid volunteers) di wilayah perang dan terblokade seperti Gaza Palestina, adalah suatu anugerah yang sangat disyukuri bisa kembali ke tanah air dengan selamat tanpa kurang suatu apapun. Kami bersyukur bisa kembali ke Indonesia dengan selamat, bertemu dengan keluarga dan sahabat yang lain. Namun, kami juga rindu dan siap apabila mendapat amanah serta kesempatan untuk kembali bertugas di Gaza, ujar ketiganya. Proses pembangunan RS Indonesia tidak lepas dari berbagai kendala dan hambatan. Namun yang kami rasakan bila ada satu kesulitan yang kami temui di sana, selalu diikuti dengan banyak kemudahan. Hal inilah yang membuat kami tetap semangat menghadapi segala tantangan, karena kami yakin setelah tantangan ini Allah akan memberikan banyak kemudahan, ungkap Ahmad Fauzi, relawan yang berasal dari Samarinda, Kalimantan Timur. Senada dengan Ahmad Fauzi, insinyur lainnya, yaitu Edy Wahyudi juga mengungkapkan bahwa berbekal taat, Allah SWT memberikan banyak sekali kemudahan dan kekuatan selama mereka mengawal proses pembangunan RSI yang mulanya dianggap sebagian orang sebagai sebuah program Mission Impossible. Sementara Darusman, relawan yang paling senior dan mempunyai 11 anak ini juga menyatakan sangat bersyukur diberi kesempatan berharga terlibat dalam proses pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza. Menyambut kedatangan para murid-muridnya, Imaam Pesantren Alfatah, Muhyidin Hamidy menyampaikan bahwa kepulangan ini adalah buah dari perjuangan dan kesabaran. Kalian telah lulus. Kepulangan ini adalah  buah dari perjungan dan kesabaran kalian. Namun ingat, kepulangan ini bukanlah akhir dari segalanya, tapi merupakan awal dari tugas dan amanah-amanah baru. Sementara itu, Divisi Konstruksi MER-C di Jakarta saat ini tengah mempersiapkan pembangunan tahap selanjutnya untuk Arsitektur dan ME (Mekanikal Elektrikal) RSI. Apabila tidak ada halangan, pembangunan tahap 2 akan dimulai pada bulan Juni 2012. Sejumlah relawan yang berlatar belakang Arsitektur dan ME akan ditugaskan ke Gaza untuk mengawal pembangunan tahap 2. Sampai saat ini dari Rp 30 Milyar dana yang dibutuhkan untuk pembangunan fisik RSI, donasi yang sudah terkumpul dari rakyat Indonesia sudah mencapai Rp 21 Milyar lebih. Sosialisasi dan penggalangan dana RSI akan terus dilakukan sambil berjalannya pembangunan. Semoga RS Indonesia, persembahan dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina bisa selesai dalam waktu secepatnya.   Tiga Relawan kembali ke Indonesia Dilepas Tangisan Haru rakyat Gaza   Saat yang sangat mengharukan ketika harus berpisah dengan orang-orang yang sudah seperti saudara kandung sendiri. Setelah berhari-hari selalu bersama, susah dan senang bersama, merasakan blokadeGaza bersama-sama, inilah yang terjadi terhadap tiga relawan Indonesia saat harus kembali ke Indonesia setelah berakhirnya pembangunan tahap I RSI Gaza. Kepulangan mereka dilepas haru oleh masyarakat Gaza. Masalahnya kalian adalah bagian dari keluarga kami, kita bertemu bukan sehari atau dua hari, satu minggu atau dua minggu, tapi lebih dari satu tahun kita bersama, kita sedih bersama, kita tertawa bersama, kita menghadapi masalah bersama, dan kita diblokade bersama. Kita mengalami masa-masa sulit di daerah blokade ini, sungguh sangat berat melepas kepulangan kalian. Jangan lupakan kami, kami sangat berharap kaliansemua bisa kembali lagi kemari melanjutkan perjuangan bersama kami, ungkapJomah Al-Najjar, Ketua PWH (Palestine Welfare House) yang selama ini turut membantu proses pembangunan RSI di Gazamenyampaikan rasa harunya kala melepas kepulangan para relawan.   Lain lagi dengan Abu Walid, yang selalu membantu relawan MER-Cdalam membuat laporan ke Pemerintahan Gaza. Kedatangan muslimin dari luar ke Palestina untuk berkhidmat membantu Palestina sungguh sangat luar biasa. Terlebih lagi dari Indonesia, yang berada di ujung dunia bagian timur. Kedatangan kalian memberikan pesan berharga kepada kami bahwa kami tidak sendiri ditengah diamnya dunia Arab disekitar kami, ujarnya. Sampaikan salam dan ucapan terima kasih kami kepada rakyat Indonesia, tambahnya. Abu Abdallah Shanti, seorang pemuka masyarakat di Gaza Utara, juga turut melepas kepergian para relawan di lokasi RSI. Beliau menyampaikan salam kepada masyarakat Indonesia dan mengucapkan terima kasih kepada MER-Cyang telah berusaha membuat sebuah RS di Gaza. Kami tidak bisa membayangkan jika kami seperti kalian, membantu kami di sini dengan meninggalkan segalanya di tanah air kalian, maafkan kami jika kami tidak bisa memuliakan kalian sebagai tamu disini, ujarnya penuh haru. Memang kehadiran relawan Indonesia di Gaza sedikit banyak memberikan isnpirasi dan semangat tersendiri untuk rakyat Gaza khususnya. Mereka sangat merasakan dukungan moril yang begitu besar dari rakyat Indonesia. Dibangunnya sebuah Rumah Sakit di Gaza bantuan dari rakyat

Dilepas Tangisan Haru Rakyat Gaza, Tiga Relawan Kembali ke Indonesia

Gaza, Palestina Setelah sekitar 1.5 tahun berada di Gaza guna mengawal pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza Palestina, tiga orang relawan MER-C Indonesia kembali ke tanah air Indonesia.  Ketiga orang relawan tersebut adalah Ir. Edy Wahyudi, Ir. Ahmad fauzi dan Darusman. Moment yang sangat mengharukan dimana ketika kita harus terpisah dengan seorang yang sudah seperti saudara kandung sendiri. Setelah berhari-hari selalu bersama, susah dan senang bersama, merasakan blokade Gaza bersama-sama, Inilah yang terjadi terhadap tiga relawan Indonesia saat harus kembali ke Indonesia. Kepulangan mereka ini setelah berakhirnya pembangunan tahap I RSI Gaza, dilepas haru oleh masyarakat Gaza. Masalahnya kalian adalah bagian dari keluarga kami, kita bertemu bukan sehari atau dua hari, satu minggu atau dua minggu, tapi lebih dari satu tahun kita bersama, kita sedih bersama, kita tertawa bersama, kita menghadapi masalah bersama, dan kita diblokade bersama. Kita mengalami masa-masa sulit di daerah blokade ini, sungguh sangat berat melepas kepulangan kalian. Jangan lupakan kami, kami sangat berharap antum semua bisa kembali lagi kemari melanjutkan perjuangan bersama kami. Demikian Jomah Al-Najjar menyampaikan rasa haru nya melepas kepulangan para relawan. Lain lagi dengan abu walid, yang selalu membantu relawan MER-C dalam membuat laporan keuangan ke pemerintahan Gaza, mengatakan kedatangan muslimin dari luar ke Palestina untuk berkhidmat membantu Palestina sungguh sangat luar biasa. Terlebih lagi dari Indonesia, yang berada di ujung dunia bagian timur. Kedatangan kalian memberikan pesan berharga  kepada kami bahwa kami tidak sendiri, ditengah diamnya dunia arab disekitar kami. Sampaikan salam dan ucapan terima kasih kami kepada rakyat Indonesia. Abu Abdallah Shanti, seorang pemuka masyarakat di Gaza Utara, melepas pula kepergian para relawan di lokasi RSI. Beliau menyampaikan salam kepada masyarakat Indonesia, dan mengucapkan terima kasih kepada MER-C yang telah berusaha membuat sebuah RS di Gaza. Kami tidak bisa membayangkan jika kami seperti kalian, membantu kami disini dengan meninggalkan segalanya di tanah air kalian, maaf kan kami jika kami tidak bisa memuliakan kalian sebagai tamu disini ujarnya penuh haru. Memang sedikit banyak, kehadiran relawan Indonesia di Gaza memberikan inspirasi dan semangat tersendiri untuk rakyat Gaza khususnya, mereka sangat merasakan dukungan moril yang begitu besar dari rakyat Indonesia. Dibangunnya sebuah Rumah Sakit di Gaza, bantuan dari rakyat Indonesia merupakan sesuatu yang sangat berarti bagi mereka. Terlebih lagi pembangunan tersebut diawasi langsung oleh insinyur-insinyur dari Indonesia, sehingga membuat bantuan ini terasa berbeda dari yang lainnya. Turut pula melepas kepulangan para relawan rekan dari Turki, Matin Abu Talha. Ketiga relawan yang tetap berkomitment untuk terus membantu mengawal pembangunan RSI Gazatersebut, kini telah tiba di Indonesia pada tanggal 7 mei 2012. Semoga ALLAH menerima setiap amal Ibadah yang mereka lakukan selama di Gaza. (nia/gz)

Marwah Filindo, Anak Pertama Pasangan Indonesia-Palestina yang Lahir di Gaza

GAZA, PALESTINA Kebahagiaan tengah menyelimuti pasangan suami istri Abdillah Onim (Relawan MER-C Indonesia di Gaza) dan Rajaa Al Hirthani (seorang Muslimah Gaza) karena baru saja dikaruniai anak pertama. Kamis (3/5), sekitar pukul 11.50 waktu Gaza tangis seorang bayi memecah keheningan ruangan operasi di RS Asy-Syifa, Gaza City, Jalur Gaza. Semua yang hadir menemani proses kelahirannya, khususnya Abdillah Onim, sang ayah berkali-kali mengucap syukur karena anak pertamanya lahir dengan selamat di Bumi Syam yang diberkahi, Palestina. Bayi mungil cantik dengan wajah kemerah-merahan itupun diberi nama Marwah Filindo, bayi pertama keturunan Indonesia-Palestina yang lahir di Gaza. Selain bangunan RS Indonesia yang akan menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan Palestina, kelahiran Marwah Filindo juga akan menjadi satu bukti ikatan, hubungan darah yang kuat antara dua negara, Indonesia dan Palestina. Abdillah Onim adalah seorang relawan MER-C Indonesia yang bertugas di Gaza sejak Juli 2010. Kepergian Abdillah ke Gaza beserta sejumlah relawan MER-C lainnya adalah untuk mengawal proses pembangunan RS Indonesia, amanah dari rakyat Indonesia untuk Palestina. Ketika tengah menunaikan tugas sebagai relawan di Gaza, pada awal Februari 2011, Abdillah menemui jodohnya seorang muslimah Gaza, Rajaa Al-Hirthani. Mereka pun resmi menikah pada 17 Februari 2011. Pernikahan ini merupakan pernikahan pertama antara warga negara Indonesia dan warga negara Palestina di Gaza. Para relawan, relasi dan sejumlah pejabat pemerintahan setempat turut hadir dalam moment pernikahan bersejarah ini. Pada usia pernikahan kurang dari 2 bulan, Rajaa sempat hamil, namun mengalami keguguran. Tidak berapa lama kemudian Rajaa hamil lagi dan akhirnya kehamilan ini bisa bertahan hingga lahirlah Marwah Filindo di tengah-tengah kondisi Jalur Gaza yang masih memprihatinkan. Blockade terhadap Jalur Gaza yang masih terus berlangsung. Hal ini mengakibatkan terjadinya kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang sudah berlangsung sejak 5 bulan lalu sampai dengan sekarang. Hal ini diperparah lagi dengan pemadaman listrik yang tidak menentu. Hal inilah yang turut dirasakan Abdillah dan para relawan MER-C Indonesia di Gaza yang rata-rata sudah setahun lebih tinggal dan bertuags di Gaza. Mereka turut merasakan langsung bagaimana kondisi dan penderitaan rakyat Gaza. Kelahiran anak pertama tentu diselimuti rasa was-was dan kekhawatiran, aku Abdillah. Apalagi saya pribadi sebagai orang asing yang hidup di negara orang harus ektra hati-hati dan pintar-pintar beradaptasi dengan kebiasaan dan budaya setempat. Terlebih lagi seperti yang kita ketahui bersama bahwa wilayah yang saya diami saat ini, yaitu Jalur Gaza, masih diblokade oleh zionis Isarel, tambah pemuda kelahiran Galela, Maluku Utara ini. Abdillah yang saat ini diamanahi sebagai Ketua MER-C Cabang Gaza juga mengungkapkan bahwa proses kehamilan sampai kelahiran putrinya, Marwah Filindo mengiringi proses pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza. Awal kehamilan istriku, Rajaa Al-Hirthani bertepatan dengan dimulainya pembangunan RSI, kini lahirnya anakku Marwah Filindo bertepatan juga dengan selesainya 100 % pembangunan tahap I untuk struktur RS Indonesia. Alhamdulillah¦ ungkapnya penuh syukur.  

Rakyat Indonesia Berperan Besar atas Berdirinya RSI Gaza

Gaza, Palestina Suksesnya tahap pertama pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) untuk pekerjaan struktur tidak lepas dari peran berbagai pihak. ALLAH SWT adalah faktor utama yang  berkehendak sehingga proyek ini berjalan dengan lancar. Pihak lain yang berperan penting dalam pelaksanaan pembangunan RSI ini adalah rakyat Indonesia yang telah menyumbangkan donasinya rupiah demi rupiah sebagai tanda cintanya terhadap saudara-saudara mereka yang sedang dalam penderitaan di Gaza. Peran besar yang dimainkan oleh rakyat Indonesia ini tercermin dari donasi yang masuk ke MER-C yang mencapai milyaran rupiah.   Tiada kata lain selain kami mengucapkan syukur dan terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia yang telah memberikan sumbangsih yang begitu besar. Kami mendoakan semoga ALLAH SWT memberikan balasan yang lebih baik.   Rakyat Gaza juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada rakyat Indonesia atas bantuan ini. Hampir di setiap sudut Gaza, mengetahui adanya rumah sakit ini, rumah sakit yang unik, berbentuk segi delapan seperti Masjid Qubbah Sakhra yang ada di Masjid Al-Aqsha, dan bentuk seperti ini belum pernah ada sebelumnya di Gaza.   Selain itu, program RSI juga tidak terlepas dari peran relawan yang pertama kali memunculkan ide pembangunan bantuan Rumah Sakit Indonesia ini. Peran media, baik cetak maupun elektronik yang ada di Indonesia juga tak kalah pentingnya. Mereka senantiasa membantu dengan menyebarkan setiap informasi terkait pemabangunan RSI Gaza.   Semoga semua bantuan dalam bentuk apapun dalam program ini menjadi sebuah amal baik bersama.   Ir. Nur Ikhwan Abadi Salah satu relawan MER-C Indonesia di Gaza, Palestina

Talkshow Progress RSI Gaza di Universitas Trisakti

JAKARTA Talkshow mengenai progress RS Indonesia (RSI) Gaza kembali digelar. Kali ini bertempat di Masjid As-Syuhada, Kampus Universitas Trisakti, Jakarta Barat, Sabtu (28/4). Talkshow di isi oleh Presidium MER-C dr. Joserizal Jurnalis, SpOT atas undangan UKM Hudzaifah. Awalnya acara dijadwalkan mulai pukul 14.00, namun harus bergeser sedikit ke jam 14.30 wib. Hal ini disebabkan kesibukan Dr. Joserizal yang masih harus menangani pasiennya di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta. Namun keterlambatan ini tidak mengurangi semangat para mahasiswa peserta Talkshow RSI, mereka tetap setia menunggu sampai acara Talkshow dimulai. Sambil menunggu kedatangan Dr. Joserizal, Tim MER-C yang sudah tiba lebih dulu memutarkan beberapa film dokumentasi MER-C seperti Film 2 Tahun Penyerangan Israel ke Gaza, Misi Konvoi Darat Tim MER-C pada Global March To Jerussalem, Film Profil MER-C, dan sejumlah liputan di TV Nasional seputar progress pembangunan RSI di Gaza Palestina. Peserta tampak terkesan dan takjub menyaksikan film-film tersebut. Terlihat wajah mereka yang serius bahkan ngeri melihat kondisi para korban dan adegan operasi yang dilakukan Tim Dokter MER-C di daerah konflik dan juga perang. Ketika Dr. Joserizal tiba di lokasi, acarapun langsung dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh Fadli, salah satu Mahasiswa FTSP Jurusan Arsitektur, dilanjutkan dengan kata sambutan oleh Ketua UKM Hudzaifah, Ahmad Haikal. Usai kata sambutan, MC mempersilahkan Dr. Joserizal untuk tampil di depan para peserta. Selama 1 jam pertama, dokter yang berpengalaman di berbagai wilayah perang konflik dan bencana baik di dalam maupun di luar negeri memaparkan tentang kondisi Palestina dan Progress RSI di Gaza. Salah satu pesan yang disampaikan dr. Joserizal kepada para mahasiswa agar mahasiswa jangan bermental inferior karena mahasiswa adalah penerus generasi bangsa yang akan memimpin bangsa ini kelak di tengah bangsa-bangsa lain. Pada acara ini peserta juga diajak berkomunikasi secara langsung melalui skype dengan Tim relawan MER-C di Gaza. Nur Ikhwan Abadi salah satu relawan insinyur MER-C di Gaza menyampaikan progress RSI. Alhamdulillah pembangunan tahap I untuk struktur RSI sudah selesai 100% dan hari ini (Sabtu/28 April 2012) sedang dilakukan pengecoran tangga ram yang menandakan berakhirnya pekerjaan struktur RSI Gaza, papar Nur Ikhwan relawan yang saat ini diamanahi sebagai Wakil Ketua MER-C Cabang Gaza sekaligus Pimpinan Proyek Pembangunan RSI di Gaza. Suksesnya pembangunan RSI ini adalah berkat dukungan semua pihak termasuk peran besar rakyat Indonesia yang telah menyumbangkan donasinya melalui MER-C, juga peran teman-teman mahasiswa yang mengadakan acara ini. Mohon doanya karena sebentar lagi kita akan mulai pembangunan tahap kedua RSI Gaza, tambahnya. Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar dan para peserta tampak senang dengan informasi dan pemaparan dr. Joserizal. Acara ini telah menambah ghiroh dalam beraktifitas, ujar salah satu peserta. Panitia berencana akan mengundang MER-C kembali untuk mempresentasikan tentang progress RSI.

Pembangunan RS MER-C di Galela Maluku Utara, Contoh RS Swadaya Masyarakat

Saat ini Divisi Konstruksi MER-C juga tengah melakukan proses Pembangunan RS MER-C di Galela, Halmahera Utara, Maluku Utara. RS ini akan menjadi contoh pembangunan sarana kesehatan yang dibangun atas swadaya masyarakat. Mengapa? Pertama, karena tanah RS seluas 4.000 m2 merupakan wakaf dari warga setempat. Kedua, warga juga berperan aktif melakukan penggalangan dana untuk membantu Pembangunan RS yang memang sangat diharapkan oleh warga. Ketiga, selain beberapa relawan tukang yang ditugaskan dari MER-C Pusat, warga juga aktif membantu secara bergotong royong dan bergiliran dari desa ke desa dalam melakukan pekerjaan pembangunan. Semua dilakukan oleh warga dengan ikhlas tanpa berharap imbalan.   Setelah sempat vakum beberapa waktu karena terbatasnya dana, pada akhir Maret 2012 pembangunan dimulai kembali. Pembangunan RS ini berada dibawah pengawasan langsung Divisi Konstruksi MER-C yang juga tengah mengawasi pembangunan RS Indonesia di Gaza Palestina.   Bagi Bapak/Ibu/Sahabat yang ingin membantu program Pembangunan RS di Galela, dapat menyalurkan bantuannya melalui:   Rekening Donasi Pembangunan RS MER-C di Galela, Maluku Utara: BNI, Cab. Kramat, 0140600983 A/n. Medical Emergency Rescue Committee   Terima kasih, semoga pembangunan RS ini akan menjadi amal baik bersama. Program ini didukung Rasil (Radio Silaturahim) 720AM & Pondok Pesantren AlFatah

Serba-Serbi Donatur RSI¦.

Penjelasan dari dr. Jose sangat bagus, menyentuh dan tidak memprovokasi sehingga berhasil membuat kami para karyawan rela potong gaji untuk infaq ke Palestina, ungkap seorang ibu usai mendengar penyampaian dr. Joserizal tentang Palestina pada acara pengajian di kantornya. Memang sebelum acara ditutup, sang MC sempat mengumumkan kepada para karyawan bahwa bagi yang ingin berinfaq untuk RS Indonesia di Palestina, harap mengisi form pemotongan gaji, ungkap salah seorang staf MER-C yang mendampingi dr. Jose presentasi pada pagi itu. ——– Lain lagi dengan kisah seorang Bapak tua yang usianya sekitar 70-an tahun, yang kami terima dari teman di Rasil 720 AM (Radio Silaturahim 720 AM salah satu radio yang selama ini menjadi media partner MER-C). Dengan agak susah payah Bapak tua itu berusaha melangkahkan kaki tuanya menyusuri jalan Masjid Silaturahim yang sebelumnya telah menempuh jalan jauh dari rumahnya dengan bergonta-ganti angkot. Setibanya di depan studio Rasil, Bapak tua itu bertemu dengan Krisna, salah seorang penyiar Rasil, kemudian menyerahkan uang Rp 20.000,-. Untuk infaq pembangunan RS Indonesia di Gaza, katanya lirih. Saya tidak punya ATM dan saya ingin melihat studio Rasil. Dari sini rupanya suara yang menemani sisa hidup saya sehari-hari,” lanjutnya. Subhanallah¦ yang seperti itu menambah energi kami mengelola dakwah di Rasil 720 AM, ungkap Gheiz Chalifah, salah seorang pengelola radio tersebut. Donasi Rp 20ribu,-  per orang untuk RS Indonesia (RSI) di Gaza memang program yang diluncurkan oleh MER-C sejak pembangunan RSI dimulai, tepatnya bulan Juni 2011. Jumlah donasi yang ditetapkan sengaja tidak besar agar siapapun bisa ikut berpartisipasi. Sosialisasi pun dilakukan baik melalui penyebaran brosur, poster, spanduk, pesan melalui email, jejaring sosial, sms, bbm, dll. Berbagai Media, termasuk Rasil juga gencar membantu sosialisasi program donasi Rp 20ribu orang hingga menggerakkan para pendengarnya untuk ikut berdonasi, termasuk Bapak tua tadi.   ——-      Pertolongan dan bantuan Allah untuk pembangunan RS Indonesia di Gaza juga sering datang dari arah yang tak disangka-sangka. Masih kisah dari teman di Rasil 720 AM yang menerima email dari seorang Ibu. Ibu itu mendapat amanah dari ayahnya, seorang pendengar setia Rasil yang sudah wafat pada bulan Januari 2012 lalu. Ayahnya berwasiat untuk memberi sumbangan bagi pembangunan RS Indonesia di Gaza sebesar Rp 150 juta. Usai memberi informasi nomor rekening donasi Pembangunan RS Indonesia di Gaza, tidak selang berapa lama, sumbangan itu pun ditransfer. Alhamduliilah dana sudah diterima oleh MER-C, kata Faried, salah seorang pengelola Rasil yang juga merupakan Ketua Divisi Konstruksi MER-C. . Sampai saat ini saya bahkan belum pernah bertemu dengan orangnya, hanya sempat berbicara di telpon saja, tambahnya,   ——–     Tidak hanya orang tua atau yang sudah berekonomi mapan, anak-anak pun ingin ikut berperan dan beramal untuk pembangunan RS Indonesia di Gaza Palestina. Sebut saja Nufa, seorang siswi SD sengaja datang ke Sekretariat MER-C sepulang sekolah. Saat itu, masih nuansa bulan Syawal. Nufa kemudian mengutarakan niatnya kepada staf MER-C yang menerimanya. Saya mau nyumbang untuk Rumah Sakit di Palestina. Gadis kecil itupun menyerahkan dua buah amplop bertuliskan namanya, dan satu amplop lagi titipan dari kakaknya. Bagian keuangan MER-C membuka amplop dan menghitung lembar demi lembar ribuan dalam kedua amplop itu. Jumlahnya belasan ribu rupiah. Kenapa Nufa ingin menyumbang untuk RS di Palestina? tanya staf MER-C sambil membuatkan bukti tanda terima donasi untuknya. Saya ingin membantu teman-teman saya di Palestina yang terkena bom Israel, jawabnya. Mungkin jumlah belasan ribu rupiah tidak besar menurut kita. Tapi niat seorang gadis kecil yang dengan ikhals menyisihkan sebagian dari uang Lebaran-nya untuk bisa ikut membantu Palestina hendaknya bisa menjadi inspirasi dan penyemangat bagi kita untuk lebih giat beramal dan berbuat baik.   ——-      Masih banyak lagi kisah-kisah nyata yang mungkin mewarnai ikhtiar pembangunan RS Indonesia. Yang pasti, setiap rupiah yang terkumpul untuk program pembangunan RS Indonesia di Gaza betul-betul merupakan rizki yang disisihkan oleh rakyat Indonesia sesuai dengan kemampuannya. Baik seribu rupiah, puluhan ribu rupiah, ratusan ribu rupiah bahkan ratusan juta rupiah. Berapapun atau bahkan apapun yang dimilikinya, mereka ingin terlibat dalam program yang memang diharapkan bisa menjadi sebuah amal baik bersama. Untuk itu, sampai saat ini MER-C masih menutup bantuan-bantuan asing karena ingin dana pembangunan RS Indonesia murni dari rakyat Indonesia. Dengan jumlah muslim terbesar di dunia, kami yakin akan bisa menyelesaikan monumen persahabatan dua negara ini, Indonesia Palestina. Hingga tanggal 11 April 2012, dari total Rp 30 Milyar yang dibutuhkan untuk pembangunan RS Indonesia di luar biaya alkes sudah terkumpul sebesar Rp 20.937.327.882,-. Terima kasih kami ucapkan kepada para donatur, relasi, relawan (dimanapun berada, khususnya di Gaza) dan seluruh rakyat Indonesia yang sudah mendukung dan dengan ikhlas membantu program ini dalam bentuk apapun. Terima kasih juga kami ucapkan kepada rekan-rekan media baik cetak, elektronik maupun online yang sudah gencar membantu mengkampanyekan dan mensosialisasikan setiap progress pembangunan RSI ini kepada masyarakat luas mulai awal hingga saat ini.  Semoga keikhlasan semua pihak mendapat balasan yang berkali lipat dari NYA.     Salam, MER-C Indonesia

Silahkan bertanya?