MER-C & MUHAMMADIYAH: Perkuat Sinergi Misi Kemanusiaan

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) pada Kamis (6/2) bertemu pengurus Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk membahas peluang kerja sama serta memaparkan sejumlah program kemanusiaan yang telah dilakukan oleh MER-C. Kehadiran MER-C disambut oleh Ketua PP Muhammadiyah Dr. Agus Taufiqurrahman, Gunawan Hidayat dari Muhamamdiyah Aid, Direktur Utama LAZISMU Pusat Ibnu Tsani dan Shofia Khoerunisa serta dr. Slamet Budiarto dari Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU). Dalam kesempatan itu, Presidium MER-C dr. Zecky Eko Triwahyudi, Sp.OT.Subsp.Co(K), MARS, menyampaikan sejumlah program yang dikerjakan oleh MER-C. Pertama, terkait pengiriman Emergency Medical Team (EMT) ke Jalur Gaza yang saat ini sudah sampai tahap ketujuh. “Alhamdulillah sejak Februari tahun lalu, Tim medis kita bisa masuk Gaza di bawah EMT, karena memang sebelum gencatan senjata hanya WHO yang bisa masuk,” ujar dr. Zecky. MER-C sendiri berharap, pasca genjatan senjata akan banyak lembaga yang bisa masuk Gaza, termasuk Muhammadiyah yang juga memiliki Tim EMT karena saat ini masih sedikit relawan yang masuk dari Asia Tenggara dibandingkan dengan negara-negara Eropa. Ia juga menjelaskan kondisi RS Indonesia di Gaza Utara yang saat ini sudah dapat diakses oleh Tim EMT MER-C ke-7, di mana pelayanan UGD 24 jam sudah dibuka kembali meski masih mengalami kerusakan berat. MER- juga terus berkomunikasi dengan Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza (MoH) terkait rencana pembangunan kembali RS Indonesia. Selain itu, MER-C juga mengelola klinik spesialis di Gaza Selatan, di mana biaya operasional dan tenaga kesehatannya ditanggung oleh MER-C. Kedua, MER-C juga menyampaikan terkait upaya pembangunan rumah sakit di Galela, Halmahera Utara, yang saat ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat setempat. Terkait ini MER-C mengajak Muhammadiyah untuk bisa bekerja sama mewujudkan keinginan masyarakat memiliki rumah sakit. Selain itu, dr. Zecky juga menyampaikan beberapa program MER-C di Afghanistan. Terbaru, MER-C telah membangun sumur bor di Provinsi Herat, untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga terdampak gempa bumi 7 Oktober 2023 lalu. “Semoga kita bisa bersinergi dan melakukan komunikasi lebih lanjut terkait hal yang mungkin bisa kita kerjasamakan ini,” kata dr. Zecky. Ketua PP Muhammadiya Dr. Agus Taufiqurrahman mengatakan, Muhammadiyah dan MER-C memiliki kesamaan dalam hal kepedulian terhadap umat. Untuk itu, ia berharap banyak hal yang nantinya dapat dikerjakan bersama. Ia juga memberikan apresiasi atas kerja kemanusiaan yang telah dilakukan oleh MER-C, di mana relawannya memiliki keberanian untuk hadir di tempat-tempat atau wilayah konflik yang biasanya justru dihindari. Dalam kesempatan itu, LAZISMU dan Muhammadiyah Aid juga menyatakan siap untuk bersinergi dengan MER-C.
MER-C Cabang Medan Gelar Sunatan Massal

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Cabang Medan bersama Yayasan Batak Islam Nauli (BIN), HMI Komisariat Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) pada 26 Januari 2025 menggelar sunatan massal. Sunatan massal digelar di Masjid Al-Ikhlas Desa Sukandebi, Kecamatan Tigaligga, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, yang merupakan daerah Minoritas Muslim dan Terpencil. Tim medis dan relawan berangkat menggunakan 3 mobil dengan personil sebanyak 17 orang, terdiri dari lima orang dokter, lima orang mahasiswa kedokteran, tiga orang keperawatan, dua orang mahasiswa keperawatan dan dua tenaga administrasi. Total peserta sunatan massal sebanyak 64 orang, 59 orang anak-anak dan 5 orang dewasa. MER-C Cabang Medan menyampaikan terima kasih kami kepada para donatur dan pihak-pihak yg berpartisipasi demi suksesnya acara sunatan massal ini.
MER-C Kembali Salurkan Bantuan Air Bersih dan Perlengkapan Ibadah untuk Pengungsi Rohingya di Lhokseumawe

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) kembali menyalurkan bantuan untuk pengungsi Rohingya di kamp eks-imigrasi, Lhokseumawe, Aceh Timur. “Alhamdulillah pada 9-18 Januari 2025, MER-C kembali menyalurkan bantuan berupa air bersih sebanyak satu mobil tangka air ukuran 5000 ml setiap harinya,” ujar Project Manager MER-C Ira Hadiati, Kamis (23/1). Kemudian pada 21 Januari 2025, MER-C juga memberikan bantuan berupa 78 mukenah dan satu rol terpal alas sholat dengan lebar empat meter untuk pengungsi yang baru tiba beberapa waktu lalu. Ira mengatakan bantuan yang diberikan ini sesuai dengan kebutuhan yang diinformasikan oleh Badan Pengungsi PBB (UNHCR) di Aceh Timur. Lebih lanjut Ira mengatakan, suplai bantuan air bersih ini rencananya akan dilanjutkan pada 23 Januari hingga 5 Februari 2025, mengingat kebutuhan air bersih di kamp pengungsi eks-Kantor Imigrasi Lhokseumawe saat ini masih belum terpenuhi. Sebelumnya MER-C juga telah memberikan bantuan tujuh tangki air bersih sebanyak 35.000 liter untuk pengungsi Rohingya di eks-gedung Imigrasi Lhokseumawe, karena memang pengungsi di kamp tersebut mengalami kekurangan air bersih.
MER-C bersama Sejumlah Organisasi Wartawan Gelar Peringatan 20 Tahun Tsunami Aceh

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dan 4 Organisasi Wartawan yakni Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Aceh, Pewarta Foto Indonesia (PFI) menggelar peringatan 20 tahun gempa dan tsunami Aceh pada Kamis (26/12), dengan tema “Mengenang Sahabat”. Acara ini digelar di Sinargalih, AJI Banda Aceh, dengan rangkaian acara tausyiah, doa bersama, santunan untuk 50 anak yatim-piatu dan dhuafa serta syukuran atau makan bersama. Koordinator MER-C Aceh Ira Hadiati mengatakan, hampir setiap tahun MER-C mengadakan peringatan tsunami Aceh bersama lembaga-lembaga lainnya yang berada di Aceh. “Ini sebagai pengingat dan untuk mengambil pelajaran dari kejadian gempa dan tsunami tersebut agar kita kedepan bisa menjadin insan yang lebih baik dan berguna untuk umat,” ujarnya. Ia mengatakan hingga saat ini MER-C telah menjalankan berbagai macam misi kemanusiaan di luar negeri seperti Palestina, Afganistan, Suria, Myanmar/Rohingya, namun MER-C tetap memperhatikan dan menjalankan berbagai misi kemanusiaan di dalam negeri. 20 tahun yang lalu tepatnya 26 Desember 2004, terjadi gempa dan tsunami Aceh. Tsunami terjadi setelah gempa berkekuatan 9,2 SR, mengguncang Aceh, disusul gelombang laut setinggi 30 meter. Tsunami Aceh ini menelan korban hingga ratusan ribu jiwa. Disebutkan sekitar 126.741 orang tewas dan 93.285 orang dinyatakan hilang tersapu ombak. Bencana ini merupakan bencana alam paling mematikan pada abad ke-21, dan bencana terburuk sepanjang sejarah Indonesia.
Pelayanan Kesehatan Imigran Rohingya Dalam Upaya Peningkatan Kesehatan di Tempat Pengungsian

Dalam upaya menjaga kesehatan para imigran, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia melakukan kegiatan screening Hepatitis-B terhadap imigran asal Rohingya pada Selasa (17/12/2024). Kegiatan ini berlangsung di Aceh Timur dengan melibatkan kerjasama bersama International Organization for Migration (IOM) dan Puskesmas Aceh Timur. Screening ini dilakukan kepada 19 imigran Rohingya sebagai langkah pencegahan dini dalam mendeteksi penyakit Hepatitis-B. Dengan kondisi kesehatan yang kerap menjadi tantangan di tempat penampungan, upaya ini menjadi penting untuk memastikan penanganan kesehatan yang tepat bagi para imigran. Hasil dari pemeriksaan menunjukkan bahwa satu dari 19 imigran dinyatakan positif Hepatitis-B. MER-C kemudian merekomendasikan kepada IOM agar pasien tersebut segera diisolasi dan mendapatkan perawatan medis di fasilitas kesehatan yang memadai. Langkah ini dinilai krusial untuk mencegah penyebaran penyakit di tengah komunitas pengungsi yang berjumlah cukup besar. Saat ini, jumlah total imigran Rohingya yang berada di Aceh Timur mencapai 143 jiwa. Mereka datang dalam kondisi yang rentan, sehingga pengawasan kesehatan menjadi prioritas utama bagi organisasi kemanusiaan seperti MER-C. Selain pemeriksaan Hepatitis-B, MER-C juga mengadakan serangkaian layanan kesehatan dasar lainnya. Layanan tersebut meliputi pemeriksaan kehamilan bagi para ibu hamil dan pemeriksaan kesehatan umum untuk memastikan kondisi kesehatan para imigran tetap terjaga. Banyaknya ibu hamil di antara pengungsi Rohingya membuat pemenuhan kebutuhan gizi menjadi perhatian serius bagi MER-C dan mitranya. Dalam kegiatan ini, kebutuhan nutrisi khusus bagi ibu hamil pun dibagikan agar mereka dan janin yang dikandung tetap sehat. Selain nutrisi, bantuan berupa kebutuhan pokok dan obat-obatan juga disediakan untuk memastikan kesejahteraan para pengungsi selama masa tinggal mereka di Aceh Timur. “Project Manager MER-C for Rohingya Ira Hadiati (Relawan MER-C) beserta 1 perawat komunitas, 1 bidan dan 3 tim logistik berkomitmen untuk memberikan layanan kesehatan terbaik, terutama bagi kelompok rentan seperti ibu hamil dan mereka yang berisiko terkena penyakit menular”. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi risiko penyakit yang berpotensi menyebar di tengah keterbatasan fasilitas penampungan. Kegiatan kolaborasi antara MER-C, IOM, dan Puskesmas ini menunjukkan pentingnya sinergi antara berbagai lembaga untuk memastikan kondisi kesehatan imigran Rohingya terjaga. Dengan demikian, langkah-langkah pencegahan dan penanganan dini dapat dilakukan secara efektif. Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran akan pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin di kalangan pengungsi semakin meningkat, sehingga potensi penyebaran penyakit menular dapat ditekan. Dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak diharapkan mampu meringankan beban para imigran yang membutuhkan perhatian dan perlindungan.
MER-C Berpartisipasi dalam Lokakarya Penanganan Pengungsi Rohingya di Aceh

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) berpartisipasi dalam Lokakarya bertajuk “Refleksi Penanganan Pengungsi Rohingya di Aceh: Praktik Baik, Tantangan dan Langkah ke Depan” yang digelar oleh Pemerintah Aceh bersama UNHCR, pada 12-13 Desember 2024, di Banda Aceh. Workshops ini dihadiri oleh sejumlah pejabat Provinsi Aceh serta perwakilan NGO lokal dan internasional. PJ Gubernur Aceh Safrizal dalam sambutannya mengatakan, tantangan dalam penanganan pengungsi tidaklah ringan. Kompleksitas isu ini melibatkan aspek hukum, sosial, ekonomi, hingga koordinasi antar berbagai pemangku kepentingan, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Untuk itu, melalui Lokakarya ini diharapkan dapat dirumuskan rekomendasi-rekomendasi strategis yang mengintegrasikan hukum internasional, hukum nasional, dan hukum adat dalam tata kelola pengungsi. “Pendekatan terpadu ini bertujuan untuk memastikan penanganan pengungsi yang optimal, berbasis pada prinsip-prinsip kemanusiaan, sekaligus memberikan perlindungan yang sesuai dengan standar hukum dan nilai-nilai lokal di Indonesia,” ujarnya. Pada Lokakarya ini, Project Manager MER-C for Rohingya Ira Hadiati menyampaikan sejumlah rekomendasi, di antaranya ia menekankan pentingnya kordinasi dalam penanganan pengungsi Rohingya, mulai dari tingkat gubernur, sampai perangkat desa yang menjadi tempat kamp penampungan sementara, sehingga dapat ditetapkan kamp penampungan khusus di satu lokasi. Ira juga merekomendasikan pembuatan Standar Prosedur Operasional (SPO) terkait cara penangan pengungsi Rohingya yang mendarat di Aceh, sampai waktu tunggu mereka mendapatkan negara yang bersedia menerima mereka. Lokakarya ini menghasilkan sejumlah rekomendasi untuk penanganan pengungsi Rohingya di Indonesia, antara lain: 1. Percepatan revisi Perpres No. 125 tahun 2016 tentang penanganan pengungsi dari luar negeri untuk dapat mengakomodir segara permasalahan di lapangan; Penegasan kepada Pemerintah Daerah untuk melakukan penanganan pengungsi sesuai dengan Perpres No. 125 tahun 2016; 2. Penyediaan dan penetapan lokasi tempat penampungan pengungsi yang bersifat permanen, tertutup, dan jauh dari pemukiman warga; Perlu mengoptimalkannya pelibatan tokoh agama setempat dalam penanganan pengungsi Rohingya; 3. Peningkatan patroli laut dan udara di wilayah perairan Indonesia untuk mencegah masuknya kapal yang membawa pengungsi Rohingya; Perlu mengoptimalkannya pelibatan tokoh agama setempat dalam penanganan pengungsi Rohingya; 4. Peningkatan kerjasama di kawasan Asia Tenggara dan diplomasi bilateral dalam penanganan pengungsi; Kerjasama dengan resettlement country dalam menerima pengungsi dari Indonesia
MER-C Serahkan Sejumlah Bantuan untuk Pengungsi Rohingya di Tapaktuan dan Lhokseumawe

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menyerahkan sejumlah bantuan untuk pengungsi Rohingya di kamp pengungsian Tapaktuan dan Lhokseumawe pada Jumat, 15 November 2024. Pengungsi Rohingya di GOR Tapaktuan, Gampong Pasar, Kecamatan Tapaktuan, Aceh Selatan, menerima bantuan berupa 30 botol obat cacing, dan penjelasan tentang bahaya penyakit cacingan pada anak-anak usia 2-5 tahun. Peralatan mandi seperti ember untuk menampung air, alat kebersihan seperti sapu, autan, dan kain sarung serta 10 buah Al-Qur’an. “Penyakit cacingan ini akan sangat memungkinkan terjangkit pada anak-anak pengungsi Rohingya, dikarenakan tingkat kebersihan dan pola hidup yang kurang sehat di kamp pengungsian,” ujar Project Manager MER-C for Rohingya, Ira Hadiati. Ira mengatakan MER-C juga memberi bantuan tujuh tangki air bersih sebanyak 35 ribu liter bagi pengungsi Rohingya yang ditampung di bekas gedung Imigrasi Lhokseumawe, karena saat ini pengungsi Rohingya di kamp tersebut sedang mengalami kekurangan air bersih. Terkait rencana program bantuan lanjutan, Ira mengatakan hal ini tergantung situasi kondisi pengungsi. Ia juga mengatakan pekan ini akan fokus melakukan advokasi bersama UNHCR dan LSM lainnya untuk meminta pemerintah menentukan lokasi tetap bagi pengungsi Rohingya yang terdampar di Aceh, sehingga mereka dapat melanjutkan perjalanannya ke negara yang dapat menampung mereka.
MER-C Beri Bantuan dan Layanan Kesehatan untuk Pengungsi Rohingya

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) memberikan sejumlah bantuan dan layanan Kesehatan untuk pengungsi Rohingya yang berada di penampungan sementara di Lapangan Sepak Bola Desa Seuneubok Rawang, Kecamatan Peureulak Timur, Kabupaten Aceh Timur. Tim dipimpin Project Manager MER-C for Rohingya, Ira Hadiati, S.H., yang secara langsung menyerahkan bantuan pada Kamis, 7 November 2024. Saat ini, jumlah pengungsi Rohingnya di penampungan sementara tersebut sebanyak 63 orang termasuk anak-anak, yang mendarat di Aceh pada 31 Oktober 2024. Di lokasi tersebut terdapat 29 orang pengungsi yang telah 9 bulan di Aceh Timur sejak 1 Februari 2024. Ira mengatakan, bantuan diberikan MER-C berupa 31 kain sarung laki-laki, 32 mukena untuk perempuan, 63 psc/lembar sajadah, 10 mushaf Alquran, 5 psc pakaian anak-anak, 15 botol obat kutu peditox, 5 sisir kutu, 20 test pack (tespek), 50 cup tespek, dan 12 botol inai. Sejumlah pengungsi Rohingya laki-laki langsung menggunakan kain sarung dan sajadah yang diberikan MER-C untuk shalat. Mereka juga mengaji atau membaca ayat-ayat suci Alquran menggunakan mushaf bantuan MER-C. Melihat hal itu, Ira merasa bahagia dan bersyukur karena bantuan yang diberikan bermanfaat untuk pengungsi Rohingya. “Salah satu bagian dari rehabilitasi mental mereka adalah mengembalikan mereka untuk berserah diri (tawakal) kepada Allah,” ujar Ira Hardiati. Sebagai bentuk kepedulian, MER-C telah beberapa kali menyalurkan bantuan untuk pengungsi Rohingya yang tersebar di beberapa pengungsian di Aceh. Sejumlah bantuan yang diberikan antara lain sembako dan obat-obatan, bantuan paket higienis untuk dewasa dan anak-anak, perlengkapan ibadah, pembanguan sumur dan fasilitas sanitasi. Ira sebelumnya mengatakan, program bantuan dan layanan kesehatan dari MER-C dilakukan karena masih banyak pengungsi Rohingya yang mendarat di Aceh dengan kondisi memprihatinkan.
MER-C Beri Bantuan untuk Pengungsi Rohingya Terdampak Banjir di Aceh Timur

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) pada Selasa (24/9), memberikan bantuan untuk Pengungsi Rohingya terdampak banjir di Aceh Timur. Total bantuan yang diberikan adalah 51 paket, 26 paket untuk orang dewasa berisi sarung/mukenah, sandal jepit, handuk dan goody bag. 25 paket untuk balita dan anak-anak berisi sabun mandi, pasta gigi, bedak salicyl/caladine botol, kue kering, susu cair, handuk serta goody bag. Bantuan ini diserahkan oleh Presidium MER-C dr. Tonggo Meaty Fransisca kepada Penanggung Jawab Kamp Pengungsi di Aceh Timur. Sebelumnya, MER-C juga memberikan bantuan MER-C berupa iqra dan Al Quran, tikar besar untuk mushalla dan solar cell portable untuk penerangan tenda pengungsi Rohingya di Aceh Timur. MER-C melalui perwakilanya di Aceh, yang dikoordinir oleh Ira Hadiati terus memberikan perhatian kepada pengungsi Rohingya yang tersebar di sejumlah wilayah di Aceh. Para pengungsi ini memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Untuk itu, MER-C berusaha untuk memberikan bantuan sesuai kebutuhan di lapangan. Pada bulan Agustus, MER-C menyalurkan bantuan sembako berupa beras sebanyak 34 karung dengan berat 15 kg per karung dan minyak goreng sebanyak 50 kg, untuk Pengungsi Rohingya di Lhoksumawe. Kemudian MER-C juga membangun sumur dan fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) darurat untuk pengungsi Rohingya di Gampong Kulee, Kabupaten Pidie, Aceh. Selain itu, MER-C juga menggelar pelayanan kesehatan yang juga sangat dibutuhkan, mengingat kondisi mereka hidup di tengah pengungsian yang kurang memadai.
MER-C Salurkan Bantuan Sembako untuk Pengungsi Rohingya di Lhoksumawe

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menyalurkan bantuan sembako berupa beras sebanyak 34 karung dengan berat 15 kg per karung dan minyak goreng sebanyak 50 kg, untuk Pengungsi Rohingya di Lhoksumawe, Senin (20/8). Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Koordinator MER-C Aceh Ira Hadiati kepada Kepala Desa Ulee Blang Mane M Khalis Munadi, yang mengelola dapur umum untuk kebutuhan makanan pengungsi Rohingya di Desanya. Ira mengatakan, saat ini pengungsi Rohingya di Aceh tersebar di beberapa wilayah dan setiap kamp pengungsian memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Untuk itu, MER-C dalam hal ini berusaha memberikan bantuan sesuai kebutuhan dilapangan. “Sebelumnya saya juga sudah memberikan bantuan di dua lokasi, yaitu di Mina Raya dan di Pidi. Pada tiap kamp pengungsi itu terdapat kebutuhan yang masing-masing berbeda. Di Mina Raya mereka butuh pakaian, di Pidi mereka butuh sanitasi, air bersih dan kamar mandi, kemudian di Lhoksumawe, saya dapat info karena mereka pindahan dari Sabang mereka membutuhkan makanan,” kata Ira. Sementara untuk pengungsi Rohingya di Aceh Timur, MER-C juga akan membagian bantuan berupa iqra dan Al Quran, tikar besar untuk mushalla dan solar cell portable untuk penerangan tenda pengungsi. Kepala Desa Ulee Blang Mane mengatakan, dapur umum untuk Pengungsi Rohinya ini sudah berlangsung selama delapan bulan. Dapur umum ini dikelola Desa dengan 120 orang bergantian memasak untuk ratusan Pengungsi Rohingya. “Jadi sekarang yang bekerja disini lebih kurang 120 orang, kita buat shift sehingga dalam sehari bisa bekerja 18 orang,” kata Khalis. Saat ini sekitar 370 Pengungsi Rohingya dari dewasa hingga anak-anak masih ditempatkan di kamp penampungan sementara di gedung bekas kantor imigrasi Lhoksumawe.