Hujan dan Gaza

Sesuai prediksi, memang hari ini dan prakiraan cuaca 2 hari ke depan akan lebih dingin dari sebelumnya disertai hujan. Kemarin hujan ringan hanya turun menjelang waktu shubuh. Suhu pun menjadi drop di waktu ini. Tapi hari ini, bahkan saat sholat shubuh pun air masih tercurah dari langit. Kami yang biasanya berjamaah cukup mengenakan mantel, kali ini banyak yang memakai sarung tangan. Dingin memang terasa lebih menggigit. Terlebih sesekali udara cukup keras berhembus, terasa menembus tulang. Jangan dibayangkan Gaza seperti kebanyakan wilayah Timur Tengah yang didominasi padang pasir nan tandus. Panas dan berdebu. Berkebalikannya, Gaza adalah lahan subur kehijauan dengan hasil tani melimpah ruah. Zaitun, kurma, jeruk, aprikot dan apel berbuah lebat memberi warna berbeda di tiap musimnya. Di musim dingin, hujan turun sesekali membawa butiran es. Bukan tidak mungkin, jika suhu udara ke depan semakin turun, hujan es juga akan kami alami. Ironisnya, melimpahnya hasil pertanian tidak membuat petani bahagia. Kebanyakan produk mereka rusak karena tidak memiliki fasilitas pengolahan, atau tidak laku dijual. Hampir tidak ada pabrik pengemasan untuk pengiriman keluar Gaza. Atau lebih jelek lagi, perusahaan Israel menolak menjual hasil bumi Gaza jika tidak mau dilabeli made in Israel. Kehidupan masyarakat Gaza menjadi sangat bergantung kepada buka-tutupnya perbatasan, orang dan juga barang. Dari 5 pintu masuk yang menghubungkan Gaza dan luar, mereka tinggal bergantung kepada perbatasan Rafah (Mesir) untuk pergi keluar. Perbatasan Erez menjadi momok karena buruknya perlakuan tentara Israel kepada warga Gaza. Sementara pintu Karem Abu Shalom hanya digunakan untuk arus barang. Paspor adalah barang mewah bagi kebanyakan warga Gaza. Bahkan bagi yang memilikinya, terkadang tak lebih dari sekedar travel document. Paspor Palestina tidak memberikan kebebasan berpergian bagi pemegangnya, malahan mengundang ‘perlakuan khusus’ dari petugas imigrasi saat ditunjukkan. Banyak cerita bagaimana warga Palestina mendapat diskriminasi, intimidasi hingga pembatasan saat berpergian menggunakan paspornya. Dengan status 60% warga Gaza adalah pengungsi (refugee) maka bantuan donor adalah vital. Di tengah pemangkasan bantuan AS kepada UNRWA (lembaga PBB yang mengurusi pengungsi Palestina), pengurangan bantuan dari Uni Eropa kepada Palestina karena isu terorisme, dan konflik internal politik, semakin menempatkan penderitaan warga Gaza ke titik terendahnya. Anehnya, bantuan yang dibutuhkan di dalam Gaza, kadang menumpuk di gudang-gudang perbatasan Yordania, Mesir atau Israel sendiri tanpa kejelasan penyaluran. Bahkan anekdotnya, bantuan yang disalurkan ‘sengaja’ diatur agar tidak sesuai kebutuhan dan momennya. Saat musim dingin, peralatan sekolah anak dimasukkan. Saat musim panas, pakaian dan selimut dingin disalurkan. Hujan dan cuaca dingin memang datang di Gaza. Namun, seolah masyarakat merasakan biasa-biasa saja. Wajah-wajah ceria anak bersekolah di pagi hari dengan pipi kemerahan karena dingin. Celoteh dan teriakan mereka saat bermain di sore hari dengan baju hangat seadanya. Suasana masjid dan azan yang mengundang jamaah untuk memenuhi shaf-shaf sholat 5 waktu. Bayt Lahya, 28 Februari 2109Arief Rachman
Gaza Hujan, Suhu Udara Kembali Turun

Sempat menghangat dalam pekan terakhir Februari, ramalan cuaca memprediksi suhu udara akan kembali turun dalam tiga hari ke depan. Bahkan, dua hari terakhir hujan ringan menyiram menjelang waktu shubuh. Beruntung curah yang tidak terlalu tinggi tidak sampai mengganggu aktivitas kerja para relawan konstruksi. Sedianya, para relawan akan membuat atap di garasi guest house RS Indonesia menggunakan baja ringan yang akan digunakan untuk tempat penyimpanan sementara. Secara prinsip, program pembangunan RS Indonesia tahap 2 sudah mendapatkan persetujuan dari Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Kesehatan c.q Direktur RS Indonesia untuk segera dimulai. Ir. Faried Thalib sudah mulai menginstruksikan kepada Ir. Edy Wahyudi selaku Site Manager untuk mulai melakukan pembelian material yang dibutuhkan. Semoga, hujan yang turun menyiram bumi para syuhada menjadi barokah bagi program pembangunan RS Indonesia tahap 2. Allahumma shoyyiban naafi’an. GAZA, Kami Kembali… Dukungan dan Donasi untuk Pembangunan Tahap 2 RS Indonesia, Gaza – Palestina dapat disalurkan melalui : BSM, 700.1352.061BCA, 686.0153678Bank Mandiri, 124.000.8111925BNI Syariah, 081.119.2973BRI, 033.501.0007.60308Bank Muamalat, 301.00521.15 Semua rekening atas nama :Medical Emergency Rescue Committee Info :Website : www.mer-c.orgCall center : 0811990176FB : MER-C IndonesiaIG : @mercindonesia, @rsindonesia #mercforgaza#tahap2rsindonesiagaza#beapartofhistory#mercindonesia
Bangun RS Indonesia Tahap II, 32 Sukarelawan MER-C ke Gaza

Jakarta (ANTARA News) – Sebanyak 32 sukarelawan organisasi kegawatdaruratan kesehatan “Medical Emergency Rescue Committee” (MER-C) Indonesia diberangkatkan menuju Gaza, Palestina, untuk program pembangunan tahap II Rumah Sakit Indonesia (RSI) di kawasan yang dilanda konflik itu. “Tim pertama sudah diberangkatkan pada Jumat (23/2) malam, sedangkan tim kedua berangkat pada Sabtu ini,” kata Presidium MER-C, dr Sarbini Abdul Murad kepada Antara di Jakarta, Sabtu pagi. Ia menjelaskan bahwa tim pertama setelah dilepas Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan di Balai Kota, pada Jumat malam, terdiri atas enam orang, yakni Site Manager RSI di Gaza tahap I, Ir Edy Wahyudi Darta, bersama Tata Lukita Sudrajat, Hidayattullah Hissam Damiri, Nasrullah Saukani Johdi, Osamah Dakam Mansur, dan Luthfi Paimin Mualim. Sedangkan pada Sabtu siang, pukul 11.00 WIB menyusul 26 sukarelawan lainnya, sehingga total untuk pembangunan tahap II RSI di Gaza sebanyak 32 orang. Ikut bersama tim itu adalah Presidium MER-C, Ir Faried Thalib dan dr Arief Rachman, SpRad, Ketua Divisi Kontruksi MER-C, Ir Idrus Muhamad Alatas, MSc, arsitek perancang bangunan RSI Gaza, Ir Rizal Syarifuddin. Menurut Sarbini Abdul Murad –dokter Indonesia pertama yang berhasil masuk ke garis terdepan Gaza saat konflik Palestina-Israel pada 2008-2009 itu– untuk pembangunan tahap II RSI di Gaza, sukarelawan dari Divisi Konstruksi MER-C itu diperkirakan akan tinggal selama setahun. Ia menjelaskan para sukarelawan yang diberangkatkan itu, sebagian besar merupakan alumni pembangunan tahap pertama, yang komitmen dan keahliannya sudah terbukti dan teruji dengan berdirinya RSI di Gaza yang ada saat ini. Keberangkatan tim sukarelawan ke Gaza, kata dia, dimungkinkan setelah didapatnya izin masuk Mesir dan Gaza yang diterima oleh MER-C dari pemerintah Mesir dan otoritas setempat di Gaza. Ia menyebut bantuan Menlu RI, Retno Marsudi dan jajarannya di Kemenlu sebagai hal yang sangat penting bagi berhasil masuknya tim sukarelawan MER-C ke Gaza, melalui pintu Rafah di perbatasan Mesir dan Gaza. “Tim ini sudah menunggu setahun, hingga akhirnya setelah kami bertemu Menlu dan jajarannya, maka hasilnya adalah tim bisa berangkat,” katanya. Karena itu, pihaknya memberikan apresiasi dan menyampaikan terima kasih atas peran Menlu dan jajarannya, yang membantu proses bagi masuknya tim sukarelawan untuk bisa berangkat. “Mohon doa semua rakyat Indonesia agar perjalanan tim dari Indonesia menuju Kairo, Mesir hingga masuk Gaza berjalan lancar untuk misi kemanusiaan membangun rumah sakit tahap II ini,” katanya. Ia menambahkan bahwa anggaran untuk pembangunan tahap II RSI di Gaza, yang berasal dari sumbangan rakyat Indonesia itu, mencapai kisaran Rp75 miliar hingga Rp80 miliar. Pada Selasa (16/1), Presidium MER-C Indonesia dr Sarbini Abdul Murad, didampingi Manajer Operasional MER-C Rima Manzanaris dan surelawan senior MER-C, Luly Larissa Agiel, bertemu Menlu Retno Marsudi di ruang kerjanya di Pejambon, didampingi Direktur Timur Tengah Kemenlu Sunarko dan Staf Ahli Bidang Hubungan Antarlembaga Menlu Ronny P Yuliantoro. Selain melaporkan perkembangan pembangunan Rumah Sakit Persahabatan Indonesia-Myanmar yang digagas bersama MER-C, Palang Merah Indonesia (PMI) dan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) dengan dukungan pemerintah Indonesia, Sarbini Abdul Murad juga menyampaikan langsung kepada Menlu mengenai kendala masuknya tim MER-C untuk masuk ke Gaza guna pembangunan tahap II. Menlu dalam kesempatan itu langsung menyatakan akan membantu. “Kebetulan saya sahabat dekat Menlu Mesir (Sameh Shoukry-red), untuk Palestina, kami selalu siap membantu,” kata Retno Marsudi. Pembangun RSI di Gaza berawal dari misi tim bantuan kemanusiaan Indonesia yang membawa bantuan obat-obatan dari pemerintah dan rakyat Indonesia untuk warga Gaza, Palestina, akhir 2008 hingga awal 2009, di mana saat itu sedang terjadi perang 22 hari Palestina dengan zionis Israel. Ketika itu misi dipimpin dr Rustam S Pakaya, MPH yang saat itu menjabat Kepala Pengendalian Krisis (PPK) Departemen (Kementerian) Kesehatan dan Direktur Urusan Timur Tengah Departemen Luar Negeri Aidil Chandra Salim. Dalam perkembangannya, kemudian MER-C menggalang dana dari masyarakat Indonesia hingga akhirnya terwujud RSI di Gaza, yang lokasinya berada di di Bayt Lahiya, Gaza Utara. Sebenarnya, peluncuran secara resmi RS Indonesia di Gaza akan dihadiri relawan dan jurnalis yang pernah ikut menjadi saksi mata saat misi enam tahun silam. Namun, karena izin masuk ke Gaza saat ini masih mengalami kendala, kemudian penyerahan itu telah dilangsungkan di Indonesia, pada 9 Januari 2016. Wakil Presiden Jusuf Kalla menghadiri penyerahan secara simbolis Rumah Sakit Indonesia dari Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) untuk rakyat Palestina. Acara penyerahan secara simbolis RS Indonesia di Gaza itu digelar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Sabtu (9/1) malam. Acara itu dihadiri pula Menlu Retno Marsudi, Wakil Gubernur Aceh (saat itu) Muzakir Manaf, Menteri Kesehatan Palestina Hani Abdeen, serta Duta Besar Palestina untuk RI Fariz Mehdawi. Sumber : https://www.antaranews.com/berita/801704/bangun-rs-indonesia-tahap-ii-32-sukarelawan-mer-c-ke-gaza
MER-C sampaikan perkembangan RS Persahabatan Indonesia-Myanmar kepada Menlu

Bantuan Kemenlu dalam proses pembangunan RS di Myamnar sangat luar biasa yang kami rasakan Jakarta (ANTARA News) – Organisasi relawan kesehatan “Medical Emergency Rescue Committee” (MER-C) Indonesia di Jakarta, Selasa bertemu dengan Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, untuk menyampaikan perkembangan Rumah Sakit Persahabatan Indonesia-Myanmar. Menlu didampingi Direktur Timur Tengah Kemenlu Sunarko dan Staf Ahli Bidang Hubungan Antarlembaga Menlu Ronny P Yuliantoro, menerima anggota Presidium MER-C Indonesia dr Sarbini Abdul Murad, didampingi Manajer Operasional MER-C Rima Manzanaris dan relawan senior MER-C Luly Larissa Agiel, di ruang kerjanya di Pejambon. “Bantuan Kemenlu dalam proses pembangunan RS di Myamnar sangat luar biasa yang kami rasakan,” kata Sarbini Abdul Murad, dokter Indonesia pertama yang berhasil masuk ke garis depan Gaza saat konflik Palestina-Israel pada 2008-2009 itu. Karena itu, pihaknya — yang secara kolaboratif dikerjakan bersama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) dan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) — dengan dukungan pemerintah Indonesia dan Myanmar itu, menyampaikan apresiasi kepada pemerintah, khususnya Kemenlu. Menlu Retno Marsudi dalam diskusi dengan tim MER-C itu menyampaikan bahwa Wakil Presiden Jusuf Kalla — yang juga menjabat Ketua Umum PMI — memberikan arahan dan usulan nama RS tersebut nantinya adalah “Rumah Sakit Persahabatan Indonesia-Myanmar”. “Hari ini kita cocok-cocokkan data. Di New York, AS, akan ada debat mengenai Myanmar, pada 22 Januari nanti. Indonesia akan menekankan aspek kemanusiaan, dan masukan dari MER-C hari ini akan saya jadikan informasi,” kata Menlu. Kepada Menlu, Sarbini memaparkan bahwa perkembangan pembangunan RS tersebut, hingga akhir Desember 2018 sudah mencapai lebih dari 70 persen. “Mudah-mudahan bisa segera dirampungkan sehingga targetnya pada Februari 2019 bisa diresmikan Wapres Jusuf Kalla,” kata dokter putra asli Aceh itu. Ia juga menjelaskan pada Kamis (13/12/2018), Wapres Jusuf Kalla menerima MER-C di Kantor Istana Wakil Presiden, Jakarta. Kepada Wapres dilaporkan perkembangan RS yang sudah dibangun sejak November 2017 itu dengan segala kendala dan dinamika yang muncul di lapangan, termasuk melesetnya target penyelesaian pembangunan, mengingat lokasinya berada di daerah konflik. Area pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) yang luasnya lebih dari 7.000 meter persegi berada di Myaung Bwe Village, Mrauk U Township, Rakhine State, Myanmar itu, menurut Sarbini, menghabiskan dana di kisaran Rp28-Rp30 miliar. Dalam pengerjaan pembangunan RS itu, tenaga kerja yang dilibatkan adalah dari beragam unsur, baik dari kalangan umat Muslim dan Buddha di negara itu. Dikemukakannya bahwa RS tersebut nantinya mirip seperti pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) strata purnama, yakni dengan akreditasi tertinggi. Pembangunan RS itu hanya diperbolehkan setingkat puskesmas purnama oleh Pemerintah Myanmar karena Rakhine State masih rawan konflik. Walaupun hanya setingkat puskesmas strata purnama, di RS tersebut sudah memiliki ruang radiologi, dua ruang bedah, dan sebanyak 32 tempat tidur, demikian Sarbini Abdul Murad. Pewarta: Andi JauharyEditor: Edy SujatmikoCOPYRIGHT © ANTARA 2019 Sumber : https://www.antaranews.com/berita/787840/mer-c-sampaikan-perkembangan-rs-persahabatan-indonesia-myanmar-kepada-menlu
MER-C: Pembangunan RS Indonesia di Rakhine Myanmar Capai 80 Persen

JAKARTA, KOMPAS.com – Medical Emergency Rescue Committe (MER-C) menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Kamis (13/12/2018). Kedatangan rombongan Mer-C adalah untuk melaporkan perkembangan pembangunan Rumah Sakit Persahabatan Indonesia- Myanmar di Rakhine State. “Kami barusan ketemu Pak Wapres melaporkan pogres pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Myanmar. Nah sekarang rumah sakit ini sudah hampir 80 persen. Kami melaporkan perkembangan dengan segala kendala dinamika yang muncul di lapangan,” kata Presidium MER-C Sarbini Abdul Mirad usai menemui Kalla. Sarbini menambahkan, rumah sakit yang sudah dibangun sejak November 2017 itu masih belum rampung lantaran sejumlah kendala di daerah konflik. Selain itu, kendala yang dihadapi ialah minimnya SDM yang bisa direkrut untuk membangun rumah sakit tersebut. Kendala lainnya adalah minimnya material bangunan. Namun demikian, kata Sarbini, pihaknya bisa mengatasi dua kendala itu meskipun waktu pembangunan menjadi lebih lama. Ia menambahkan rumah sakit tersebut nantinya mirip seperti puskesmas strata purnama (akreditasi tertinggi). Ia menambahkan pihaknya hanya diperbolehkan membangun rumah sakit setingkat puskesmas purnama oleh Pemerintah Myanmar karena Rakhine State masih rawan konflik. Meski hanya setingkat puskesmas strata purnama, rumah sakit tersebut sudah memiliki ruang radiologi, dua ruang bedah, dan 32 tempat tidur. Nantinya, rumah sakit tersebut akan dioperasionalkan oleh dokter dan tenaga medis dari Myanmar.Sarbini mengatakan, pihaknya juga bersedia memberikan pelatihan kepada para dokter dan tenaga medis lokal untuk mengoperasionalkan rumah sakit itu. Dana yang dihabiskan untuk pembangunan rumah sakit tersbut diperkirakan mencapai Rp 28 miliar. “Mudah-mudahan kami prediksikan pada bulan dua tahun ke depan ini rumah sakit kami serahkan, resmikan, dan kami minta kepada Bapak Jusuf Kalla untuk meresmikan rumah sakit ini. Kombinasi MER-C, PMI, Walubi. Ya mudah-mudahan bisa selesai,” lanjut Sarbini. Sumber : https://nasional.kompas.com/read/2018/12/13/14020611/mer-c-pembangunan-rs-indonesia-di-rakhine-myanmar-capai-80-persen. Penulis : Rakhmat Nur HakimEditor : Krisiandi
Siswa Mulai Belajar di Sekolah Darurat Buatan UAR dan MER-C

Lombok, MINA – Siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Kayangan, Lombok Utara sudah mulai proses belajar mengajar di sekolah darurat. Pantauan wartawan Mi’raj News Agency (MINA) ke sekolah darurat di lapangan sekolah, Dusun Boyotan Baru, Desa Gumantar, Kecamatan Kayangan pada Senin (3/9), siswa belajar dengan menggabungkan dua kelas menjadi satu. Sekolah Darurat yang dibuat oleh Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) bersama Medical Emergency Rescue Committee (Mer-c) ini sangat dirasakan manfaatnya bagi siswa. Abdul Aziz, Koordinator UAR Posko Gumantar, berharap sekolah darurat ini bisa bermanfaat bagi siswa-siswa korban gempa. “Atas izin dari Kepala Sekolah kami buat ini, harapannya supaya siswa bisa segera kembali ke sekolah, paling tidak menghilangkan trauma mereka pasca gempa,” katanya. Sementara Kepala Sekolah SMPN 3 Kayangan, Drs. Ilham menyatakan kesyukurannya atas bantuan UAR dan Mer-C. “Alhamdulillah sudah 80% siswa hadir belajar perdana ini, semua berkat bantuan Al-Fatah dan relawan dokter (Mer-C),” katanya. Ilham juga berharap Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) NTB segera memperhatikan fasilitas pendidikan ini. “Kami harap Disdikpora segera turun bantu berikan tenda darurat,” ujarnya. Pasca gempa 7.0 SR, siswa sudah mulai kembali melaksanakan rutinitas belajar seperti biasanya, meskipun menggunakan sekolah darurat menggunakan terpal.(L/B01/B05). Link : https://minanews.net/siswa-mulai-belajar-di-sekolah-darurat-buatan-uar-mer-c/
MER-C Buka Posko Kesehatan di Kayangan

Lombok, MINA – Untuk memudahkan akses bantuan kemanusiaan di bidang kesehatan untuk korban gempa lombok di daerah pelosok, Lembaga kemanusiaan Kegawatdaruratan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) bangun Posko di SMPN 3 Kayangan, Dusun Boyotan baru, Desa gumantar, Kec. kayangan, Lombok Utara. Demikian dikatakan koordinator lapangan MER-C untuk Lombok, Dokter Hadiki Habib kepada Mi’raj News Agency (MINA), Sabtu, (18/8). Menurutnya lokasi ini dipilih untuk memudahkan MER-C mengakses daerah pelosok yang belum mendapatkan pelayanan kesehatan. “Selain itu, posko ini juga ada lapangan luas dan relatif cukup jaraknya dari bangunan sekolah yang rusak sehingga aman bila terjadi gempa susulan,” ujarnya. Lebih lanjut, dari posko ini menurutnya, tim MER-C akan mudah menjangkau dua kecamatan yang lumayan besar terdampak gempa yakni kecamatan Kayangan dan Gangga. Posko ini terdiri dari satu tenda sebagai UGD, satu tenda untuk rawat observasi, satu tenda logistik dan relawan perempuan, dan satu tenda untuk relawan pria. “Posko ini untuk posko kita dan untuk pasien yang berobat ataupun dirawat. Ada ruang tindakan untuk perawatan luka dan pencegahan infeksi dari luka,” katanya. MER-C sendiri dalam menangani korban gempa, tidak hanya melakukan tindakan seperti operasi saja, tapi dilanjutkan perawatan berikutnya sehingga diperlukan posko kesehatan yang memadai. “Kami lakukan operasi, perawatan, sampai rehabilitasi. Jadi pasien kita pantau terus perkembangannya, sampai sembuh,” ujarnya. Selain itu, MER-C melakukan kegiatan mobile clinic di kantong-kantong pengungsian untuk mencegah terjadinya public health emergency, juga kegiatan Psychology trauma healing. Proses pengerjaan posko sendiri sudah berlangsung dua hari oleh Tim dari Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) dibantu tim MER-C dengan harapan Senin besok sudah dapat digunakan. (L/B01/P2). Sumber : https://minanews.net/permudah-akses-pengobatan-di-pelosok-mer-c-buka-posko-di-kesehatan-di-kayangan/
Jemput Bola, MER-C Datangi Pasien Patah Tulang Korban Gempa

Lombok Utara, MINA – Tim mobile clinic medis kemanusiaan MER-C melakukan aksi jemput bola kepada tiga korban gempa yang menderita patah tulang di Dusun Kertaraharja, Desa Genghelang, Kecamatan Gangga, Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Senin (13/8). Kepala Dusun Kertaraharja, Khoirul Hadi sebelumnya menghubungi tim MER-C yang berada di Rumah Sakit Tanjung, ibu kota Kabupaten Lombok Utara. Setelah mengecek langsung kondisi korban, tim dokter MER-C memutuskan, ketiga pasien harus dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lanjutan, mengingat kondisinya yang semakin memburuk Tim MER-C akan membawa korban ke RS Tanjung dan RS Awet Muda untuk segera dilakukan operasi. “Semua biaya pengobatan sepenuhnya akan ditanggung oleh Tim MER-C mengingat para korban masih dalam kondisi kekurangan akibat musibah gempa,” kata Widi Kusnadi wartawan MINA melaporkan dari Dusun Kertaraharja. Widi mengatakan, seluruh rumah warga yang ada di dusun tersebut hancur rata dengan tanah. Tidak ada satu bangunan pun yang bisa digunakan untuk tempat tinggal. (L/P2/RI-1) Sumber : https://minanews.net/jemput-bola-tim-medis-mer-c-datangi-pasien-patah-tulang-korban-gempa/
Hasil Temuan dan Pernyataan MER-C Menyikapi Gempa Lombok

Siaran Pers Lombok berduka dan hampir lumpuh pasca 2 gempa besar mengguncang wilayah ini pada Minggu/29 Juli 2018 dengan kekuatan 6,4 SR dan diikuti dengan gempa yang lebih besar berkekuatan 7 SR, Minggu/5 Agustus 2018, hanya dalam jangka waktu sepekan. Namun pola bencana gempa Lombok kali ini tidak biasa. BMKG merilis sampai dengan 13 Agustus 2018 pukul 10.00 WITA tercatat sebanyak 593 gempa susulan terjadi di Lombok. Kebanyakan gempa susulan yang terjadi tidak besar, terasa hanya seperti getaran atau goyangan kecil. Namun satu gempa susulan yang terjadi pada hari Kamis/9 Agustus 2018 terasa cukup besar. Gempa dengan kekuatan 6,2 SR, mengejutkan Tim bedah MER-C yang saat itu tengah melakukan tindakan operasi pada pasien korban gempa di lantai 4 RSU Provinsi Mataram, setelah dinyatakan aman untuk digunakan. Gempa membuat para dokter dan pasien panik bahkan sampai ada yang berlarian. Pelayanan medis di RSU ini akhirnya dihentikan dan dipindahkan ke tempat lain yang lebih aman. Gempa susulan diperkirakan akan terus terjadi hingga beberapa waktu ke depan. Pemerintah Indonesia menetapkan status bencana gempa Lombok, NTB sebagai bencana daerah. Terlepas dari kontroversi penetapan status bencana ini, MER-C Indonesia sebagai lembaga kemanusiaan di bidang kegawatdaruratan medis dan kebencanaan telah menurunkan Tim Nasional untuk memberikan pertolongan kepada para korban dan melakukan assessment. Berikut hasil temuan dan pengamatan Tim MERC di lapangan yang perlu kami sampaikan untuk menjadi rekomendasi bagi pemerintah dan elemen lain yang terkait dengan penanganan gempa pada fase akut : 1. Assessment kelayakan bangunan seharusnya dilakukan pada Fase Rehabilitasi untuk menyatakan apakah bangunan tersebut akan dipertahankan atau diruntuhkan, bukan pada Fase Akut dan menyatakan bahwa bangunan aman untuk relawan bekerja, sementara gempa belum berakhir. Hal ini dapat membahayakan upaya pertolongan, berdasarkan pengalaman Tim Bedah MER-C di RSU Provinsi Mataram; 2. Pada fase akut, pelayanan kesehatan pasca bencana seharusnya tidak menggunakan gedung yang terkena gempa atau gedung yang berada di lokasi gempa. Pelayanan kesehatan dilakukan di luar gedung, RS Lapangan atau container. Apabila tetap akan bekerja di dalam gedung agar memperhatikan 3 hal: a. Bangunan memiliki akses evakuasi yang mudah b. Fasilitas medis memadaic. Bangunan terdiri dari satu lantai dan struktur atap aman Kedua hal di atas kami harapkan dapat menjadi SOP Nasional untuk penanganan bencana gempa pada fase akut dalam rangka keamanan dalam pemberian pertolongan. Masalah Gempa Lombok Pasca Fase Akut Gempa yang terjadi di Lombok menyebabkan lebih dari 90% rumah hancur khususnya di Lombok Utara, ratusan jiwa menjadi korban, ribuan lainnya menderita luka-luka dan ratusan ribu masyarakat menjadi pengungsi. Jumlah ini diperkirakan masih akan terus bertambah seiring masih banyak wilayah gempa yang belum terjangkau tim penolong dan bantuan. Karakter masyarakat setempat yang tidak berkumpul di satu titik pengungsian melainkan memilih mendirikan tenda seadanya di dekat reruntuhan rumah mereka, membuat titik pengungsian menyebar dan penyaluran bantuan belum merata. Masih banyak korban luka yang bertahan di rumah-rumah mereka Gempa susulan yang masih terus terjadi dan besarnya dampak bencana gempa kali ini, akan memunculkan problem yang harus diantisipasi bersama pasca Fase Akut sbb: 1. Masalah distribusi bantuan2. Aksesibilitas kesehatan3. Faktor gizi4. Tempat hunian sementara5. Evakuasi jenazah MER-C Turunkan Tim Nasional dan Tetapkan Lombok Wilayah Misi Jangka Panjang Merespon bencana gempa bumi Lombok, MER-C Indonesia telah menurunkan Tim Nasionalnya untuk tanggap bencana dan melakukan pertolongan medis dan tindakan operasi. MER-C bahkan menetapkan Lombok sebagai wilayah misi kemanusiaan jangka panjang. Hingga saat ini, 14 Agustus 2018, MER-C telah menurunkan 31 relawan dengan rincian 6 dokter spesialis, 12 dokter umum, 5 perawat, dan 8 relawan non medis. Kamis/16 Agustus 2018 akan dikirimkan tim lanjutan yang terdiri 10 relawan medis dengan berbagai keahlian untuk mendukung program kemanusiaan MER-C di Lombok. Pengiriman Tim akan terus dilakukan secara rolling dan terjadwal hingga beberapa bulan ke depan. Sementara data yang masuk sampai dengan hari Sabtu/11 Agustus 2018, Tim Bedah MER-C telah melakukan 14 tindakan operasi dan Tim mobile clinic telah melayani 505 pasien korban gempa dengan menyusuri desa-desa yang belum tersentuh bantuan di Lombok Utara. Pada Fase Akut MER-C membentuk 4 tim kecil sbb: 1. Tim Mobile Clinic untuk melakukan case finding, fokus di Lombok Utara2. Tim Rujuk Balik dan Kontrol untuk mengawasi perawatan pasien di tempat penampungan sementara3. Tim Perawatan Pasien Bangsal4. Tim Bedah, saat ini bertugas di RSUD Awet Muda, Narmada Lombok Barat Untuk mendukung kerja medis di lapangan, Senin malam/13 Agustus 2018, MER-C mengirimkan satu truk berisi bantuan medis dan kemanusiaan untuk Lombok diantaranya tenda-tenda dan peralatan guna pembukaan RS Lapangan di Lombok Utara. MER-C juga mengirimkan kendaraan operasional berupa satu unit ford ranger dan dua unit motor trail untuk memperluas jangkauan mobile clinic MER-C. Jakarta, 14 Agustus 2018Divisi Humas MER-C ————– Dukungan dan donasi bagi Korban Gempa Bumi Lombok dapat disalurkan melalui: BCA, 686.0099339BSM, 701.5658.899BNI Syariah, 303.2000.922 Atas Nama: Medical Emergency Rescue Committee Info:Website : www.mer-c.orgCall Center : 0811990176FB : MER-C Indonesia #mercpedulilombok
Jamaah Masjid Raya Batam Bantu Pembangunan RSI Gaza Tahap II

Jakarta, MINA – Lembaga Amil Zakat Masjid Raya Batam menyalurkan dana sebesar Rp25 juta melalui Lembaga Kemanusian Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) untuk pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia Gaza, Palestina tahap kedua. Ketua Lembaga Amil Zakat Masjid Raya Batam, Syarifudin menjelaskan, dana ini dari jamaah Masjid Raya Batam, yang didapat selama bulan Ramadhan kemarin. “Ada donatur kita yang menyerahkan untuk kegiatan di Palestina dan baru hari ini saya sempat menyerahkan ke MER-C,” kata Syaifudin kepada kantor berita Islam MINA usai menyerahkan donasi ke MER-C di Kantor Pusat MER-C, Jakarta Pusat, Kamis (19/7). Lebih lanjut ia mengatakan, 5 tahun sebelumnya untuk pembangunan pertama RS Indonesia Gaza, jamaah Masjid Raya Batam ikut juga menggalang dana. Di kantor MER-C Pusat, Syaifudin disambut oleh Manajer Operasional MER-C, Rima Manzanaris. “Karena ini amanat dari jamaah untuk diserahkan ke Palestina, makanya saya datang ke kantor MER-C Pusat sekaligus untuk melihat program-program baru MER-C dan ternyata program barunya, yaitu menambah dua lantai pada bangunan RS Indonesia di Gaza dan pembangunan RS Indonesia di Rohingya,” paparnya. Syaifudin yang juga Direktur Masjid Raya Batam menjelaskan lembaga Amil Zakat Masjid Raya Batam mengelola dana dari zakat, infaq shadaqah dan kemanusiaan. “Dana yang kita serahkan ini dari dana kemanusiaan Masjid Raya Batam. Setalah ini, insya Allah kami akan bantu program-program MER-C termasuk pembangunan RS di Rohingya,” jelasnya. Ia berharap program MER-C pada penambahan dua lantai berjalan lancar, sehingga amanah dari para donatur bisa segera terealisasi. “Kami berharap MER-C terus melakukan pembangunan di sana, kita insya Allah siap mempublikasi, siap mensupport dan siap untuk menghimpun dana, kebersamaan ini harus terus terjalin karena membuat program di sana tidak semudah membuat program di daerah. Jadi harapan kami, insya Allah dana-dana yang kita serahkan ini bisa terasa manfaatnya disana dan semoga segera terealisasikan program penambahan dua lantai,” tambahnya. Manager Operasional MER-C menjelaskan, sejak terjadinya aksi kembali ke tanah air (Great Return March) yang dilakukan oleh warga Palestina khususnya di perbatasan Jalur Gaza, jumlah pasien RS Indonesia terus meningkat, sehingga banyak pasien yang harus mengantri karena ruangan yang terbatas. “Adapun untuk penambahan lantai pada pembangunan tahap dua, membutuhkan dana kira-kita Rp. 40-50 miliar. Namun jumlah tersebut bisa saja lebih,” katanya. (L/R10/RS3-P1) Sumber : https://minanews.net/masjid-raya-batam-salurkan-25-juta-untuk-pembangunan-rs-indonesia-gaza-tahap-dua/