BAZIS DKI Dukung Ada Ruang Fatahillah di RS Indonesia Gaza

Jakarta, MINA – Badan Amil Zakat Infaq dan Shadaqah (BAZIS) Provinsi DKI Jakarta mendukung penuh pembuatan ruang Fatahillah pada pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza, Palestina tahap kedua. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua BAZIS DKI Jakarta Zahrul Wildan saat menerima kunjungan dari tim lembaga medis kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) di Kantor BAZIS DKI Jakarta, Tanahabang, Jakarta Pusat, Jumat (13/7). Sebelumnya, Presidium MER-C Dr. Sarbini Abdul Murad dan Dr. Arief Rachman telah menjelaskan kondisi RS Indonesia di Gaza saat ini yang telah beroperasi sejak 2016. Menurut Sarbini, saat ini pasien terus meningkat di RS Indonesia akibat dari serangan Israel yang berkelanjutan terhadap warga Palestina, menyebabkan ruangan RS selalu penuh. Masih banyak pasien yang harus mengantri karena ruangan yang terbatas. Untuk menyikapi hal tersebut MER-C ingin menambah dua lantai lagi. “Saat ini rumah sakit sudah dua tahun beroperasi, namun konflik dan serangan dari Israel membuat jumlah pasien meningkat tiga kali lipat, sehingga tempat sudah tidak cukup lagi. Untuk penambahan lantai (pembangunan tahap dua) membutuhkan dana kira-kita 40-50 miliar. jadi untuk satu lantai diperkirakan 20 miliar,” kata Arief. Terkait itu, MER-C menawarkan nama ruang Fatahillah (salah satu nama dari pejuang Jakarta yang mengusir pasukan Purtugis dari kota pelabuhan Sunda Kelapa pada masa Indonesia belum merdeka 22 Juni 1527 silam). Adanya Ruang Fatahillah di RS Indonesia adalah imipian Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno, seperti ruang lainnya yaitu, Chik di Tiro (salah satu pahlawan asal Aceh) sesuai dengan sumbangan dari masyarakat Aceh. Mendengar hal tersebut, BAZIS DKI Jakarta sangat merespon dan mengapresiasi niat baik dari program MER-C, untuk itu ia juga mendukung penuh pembangunan tersebut. “Kami sangat merespon dan mendukung sekali program MER-C membuat nama-nama pada ruangan di rumah sakit Indonesia di Gaza. Tapi karena kedatangan MER-C ini di pertengahan tahun, sedangkan dana zakat di BAZIS ini sudah terprogramkan melalui rapat Pleno Pendayagunaan Zakat BAZIS tahun 2017, maka dana 2018 ini akan dialokasikan sesuai yang terprogramkan,” ujar Ketua BAZIS. Ia menyarankan MER-C untuk membuat program pada 2018 ini untuk penambahan lantai. Nantinya, terhitung Januari 2019, dana yang masuk BAZIS DKI bisa dialokasikan untuk membuat Ruang Fatahillah di RS Indonesia di Gaza, Palestina. (L/R10/RI-1) Sumber : https://minanews.net/bazis-dki-dukung-ada-ruang-fatahillah-di-rs-indonesia-gaza/
MER-C dan BAZIS DKI Bahas Pembangunan RSI Gaza Tahap Dua

Jakarta, MINA – Lembaga medis kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) pada Jumat siang (13/7) berkunjung ke Badan Amil Zakat Infaq dan Shadaqah (BAZIS) Provinsi DKI Jakarta. Kunjungan tersebut membahas kerja sama program pengumpulan dana warga Jakarta untuk pembangunan tahap kedua Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza, Palestina. Pada kunjungannya, tim MER-C yang didampingi oleh Staff Wakil Gubernur DKI Jakarta Arie Mufti. Sementera tim MER-C dipimpin oleh Presidium MER-C Dr. Sarbini Abdul Murad dan Dr. Arief Rachman. Tim disambut baik oleh Ketua Bazis DKI Jakarta Zahrul Wildan bersama Kepala Sekretaris BAZIS Mustofa, Kepala Bidang Pendayagunaan BAZIS Muhammad Habib dan Humas BAZIS Erwanto. Saat kunjungannya, Dr. Sarbini Abdul menjelaskan kondisi RS Indonesia di Gaza yang sudah beroperasi sejak tahun 2016. Karena pasien yang terus meningkat akibat dari serangan Israel yang berkelanjutan, menyebabkan ruangan RS selalu penuh, bahkan masih banyak pasien yang harus mengantri karena ruangan yang terbatas. Untuk menyikapi hal tersebut MER-C ingin menambah dua lantai lagi. “Untuk itu kami melibatkan BAZIS untuk membantu dalam menambah bangunan pada Rumah Sakit Indonesia di Gaza,” ujar Sarbini di Kantor BAZIS DKI Jakarta, Tanah abang, Jakarta Pusat. Sebelumnya, MER-C telah mengadakan pertemuan dengan Gubernur DKI Jakarta yang saat itu diterima oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno. Sandiaga menyarankan kerja sama partisipatif kolaboratif yang lebih luas kedepannya dengan BAZIS DKI Jakarta. Ia juga berharap ada Ruang Fatahillah atau Jayakarta di RS Indonesia di Gaza. Menindaklanjuti hal tersebut, MER-C menawarkan nama ruang Fatahillah ada pada RS Indonesia di Gaza seperti ruang lainnya yaitu, Chik di Tiro (salah satu pahlawan asal Aceh) sesuai dengan sumbangan dari masyarakat Aceh. Hal itu disambut baik oleh Ketua Bazis DKI Jakarta. Ia sangat setuju sesuai dengan apa yang diarahkan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, yaitu Gubernur DKI. “Saya selaku sebagai Ketua BAZIS, sesuai arahan Pak Gubernur, mendukung penuh penambahan lantai pada bangunan Rumah Sakit Indonesia di Palestina,” ujarnya. (L/R10/RI-1) Sumber : https://minanews.net/mer-c-dan-bazis-dki-bahas-pembangunan-rs-indonesia-gaza-tahap-dua/
Cerita Relawan Medis Indonesia Bertaruh Nyawa di Jalur Gaza

tirto.id – Rumah sakit itu bernama Shifa. Letaknya berada di Gaza Tengah, Palestina. Pada halaman rumah sakit terbesar di Gaza itu, terdapat sebuah tenda yang didirikan memanjang, menutupi berbagai benda-benda hasil perang dari terik matahari. Kementerian Luar Negeri Indonesia diminta melakukan perlindungan terhadap para relawan Indonesia yang bertugas di Palestina. Benda-benda itu di antaranya tiga bangkai ambulans yang dipajang sebagai pesan kepada sejumlah relawan medis dari berbagai negara: serangan kepada pekerja kemanusiaan selalu bisa terjadi di Gaza. “Jadi dipajang juga pecahan bom, mortar yang tidak meledak, kemudian jas putih petugas medis yang terluka, beberapa foto lokasi sekolah yang kena bom, lokasi perumahan yang dihujani bom,” kata Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia Arief Rachman kepada Tirto, Kamis (7/6/2018). Arief merupakan salah satu dokter yang sempat bertugas di Gaza. Ia menjalani peran sebagai relawan kemanusiaan di daerah konflik itu pada Januari hingga awal Mei 2010. Waktu itu, ia bertugas bersama dokter spesialis penyakit dalam, dokter bedah, dan dokter bedah syaraf. Arief merupakan satu-satunya dokter umum dari MER-C yang ditugaskan ke Gaza saat itu. Arief mengatakan relawan dari berbagai negara yang hendak membantu di Gaza langsung ditempatkan di RS Shifa. Penempatan mereka diatur Kementerian Kesehatan Palestina. Dokter spesialis ditempatkan di rumah sakit yang memiliki fasilitas bedah, sementara dokter umum bertugas di unit gawat darurat (UGD). Para dokter dapat berpindah-pindah rumah sakit dalam menjalankan tugas asalkan berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan Palestina. Keamanan Tenaga Medis Meski konflik bersenjata antara pejuang Palestina dan tentara Israel berkecamuk Arief merasa keamanannya tetap terjamin. Ini karena menurutnya pemerintah Palestina selalu melindungi para relawan. “Selama teman-teman mematuhi rambu-rambu yang diberikan staf dari kementerian, Insya Allah aman. Biasanya kalau memang kami mau bertugas ke RS tertentu dan perlu ke sana, biasanya akan diantar. Kemudian kalau pergi cuma sebentar, 3-4 jam, si sopir akan menunggu. Tapi kalau full shift, nanti si sopir akan menjemput,” ujar Arief. Dokter dari MER-C itu menyebut, fasilitas kesehatan di Gaza tak sebagus apa yang biasa ditemui di Indonesia. Bahkan tak ada fasilitas kesehatan setara puskesmas di sana. Namun, warga Palestina di Gaza bisa berobat gratis bila menggunakan fasilitas di klinik atau rumah sakit yang sudah bekerjasama dengan pemerintah. Meski kerap merasa aman, Arief mengaku bahwa ia juga kadang takut mendengar dentuman bom dan suara pesawat yang terbang rendah. Ia sering mendengar suara bom dari tentara Israel di beberapa lokasi yang diduga menjadi markas Pejuang Hamas. Kaget Mengetahui Nasib Pekerja Kemanusiaan Arief kaget saat mengetahui ada relawan medis di Gaza yang tewas ditembak tentara Israel. Sebab menurutnya serangan terhadap tenaga medis tak dibenarkan meski dalam kondisi perang. Hal ini sesuai isi dari Konvesi Jenewa. Pokok keempat Konvensi Jenewa menyatakan, menembaki petugas medis termasuk kejahatan perang. Dilarang keras pula menyerang rumah sakit, klinik, atau ambulans. Aturan yang sama ditegaskan kembali pada 2016 lewat Resolusi Dewan Keamanan PBB 2286 yang disponsori lebih dari 80 negara, termasuk Israel. “Diskusi saya dengan beberapa dokter di sana, hal itu [penembakan] sering terjadi di Gaza. Ambulans yang membawa korban sering ditembaki. Bahkan seorang warga di Gaza Utara bercerita, ketika perang itu ambulans tak bisa masuk untuk ambil korban. Sehingga terpaksa warga mengantar korban ke Gaza dengan kereta keledai,” kata Arief. Sepengetahuan Arief, hingga kini belum ada tenaga medis asal Indonesia yang menjadi korban di Gaza. Namun, ia berharap tak ada lagi korban baik dari warga sipil maupun pekerja kemanusiaan di Gaza. Arief berkata, peran Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) untuk mengamankan tenaga medis dan pekerja kemanusiaan di Gaza sangat dibutuhkan. Ia meminta pemerintah melalui Kemenlu selalu memberi bantuan untuk relawan yang hendak pergi ke Gaza. Sebab tidak mudah untuk masuk ke Gaza, harus mendapat izin dari Mesir dan Israel. “Pengalaman kami, sebelum memberangkatkan tim ke Gaza selalu koordinasi dengan Kemenlu dan kedubes Indonesia di Kairo agar menyampaikan info untuk audiensi dengan kedubes Mesir. Jika ketiga [pihak] sudah beri lampu hijau, akan besar kemungkinan bisa masuk [ke Gaza],” katanya. Nasib relawan kemanusiaan di Jalur Gaza mendapat sorotan usai Razan Najjar, seorang paramedis asal Palestina meninggal. Perempuan berusia 21 tahun itu tewas karena timah panas tentara Israel bersarang di tubuhnya saat hendak menolong korban unjuk rasa, Jumat (1/6/2018). Ia ditembak di dadanya hingga peluru menembus punggung. Awalnya Razan diduga tak menyadari terkena tembakan, tapi ia mulai menangis dan berkata ‘punggungku, punggungku’ sebelum jatuh ke tanah. Proses pemakaman Razan pada Sabtu (2/6/2018) waktu setempat dihadiri ribuan warga Palestina. Para petugas media mengenakan seragam putih, berbaris dalam prosesi pemakaman. Razan Najjar menjadi perempuan kedua yang tewas di perbatasan Gaza dan Israel sejak protes massal yang dimulai pada awal Maret lalu. Perempuan pertama yang tewas adalah seorang pengunjuk rasa yang masih remaja. Ia juga menjadi warga Palestina ke-119 yang tewas sejak gelombang protes di Gaza dimulai pada Maret 2018. Data yang dikompilasi oleh Medical Aid for Palestinians (MAP) pada Oktober 2017 menunjukkan, sejak 2008 ada 145 petugas medis di Jalur Gaza yang terluka atau terbunuh oleh serangan militer Israel. Kebanyakan di antaranya berstatus sebagai sopir mobil ambulans. Pengamat Internasional dari Universitas Indonesia Yon Machmudi berpendapat, jatuhnya korban jiwa dari kalangan pekerja kemanusiaan di Gaza selama ini terjadi karena kesalahan Israel. Menurutnya, Israel tak bisa membedakan siapa saja orang yang berperan sebagai pekerja kemanusiaan dan lawannya saat di Gaza. “Ini saya kira persoalan ada di pihak Israel yang dalam beberapa hal tidak mengindahkan aturan-aturan internasional berkaitan dengan konflik dan perang,” ujar Yon. Ketua Program Studi Pascasarjana Kajian Timur Tengah UI itu menyarankan Indonesia terus menyerukan dunia internasional untuk menekan Israel. Menurutnya, harus ada sanksi dan peradilan yang digelar karena kebiasaan Israel menembak pegiat kemanusiaan atau wartawan di daerah konflik. “Karena kalau tidak ada tekanan, dan didukung dunia internasional, maka peristiwa ini akan berulang terus. Karena itu Indonesia melalui PBB atau OKI [Organisasi Konferensi Islam] harus terus mempersoalkan pelanggaran yang dilakukan Israel,” ujarnya. Yon juga menyerukan agar Indonesia berani memutus hubungan bisnis dan perdagangan dengan Israel. Menurutnya, hal itu paling mungkin dilakukan karena tak ada hubungan diplomasi resmi Indonesia dengan Israel hingga kini. Pendapat senada disampaikan pengamat internasional dari LIPI Dewi Fortuna Anwar. Eks Deputi Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK) LIPI menyebut, seharusnya Indonesia tidak melakukan
Sandi Uno Luncurkan Kaus Donasi untuk Bantu RSI di Gaza

Hari ini Senin 4 Juni 2016 di Balaikota DKI Jakarta, Sandiaga Salahuddin Uno meluncurkan kaus bermotif sorban merah yang dinamai RED SANDI. Sandi Uno menyampaikan, “Saya dengar penjelasan dari MER-C bahwa kondisi Palestina makin memprihatinkan, dan peran Rumah Sakit Indonesia di Gaza buah ikhtiar warga Indonesia lewat MER-C makin penting, maka teman-teman coba luncurkan ide kreatif hari ini. RS Indonesia Gaza selalu ramai, dan akan dikembangkan terus.” Kaus yang didisain oleh ArMuf, Duo Designer A. Mufti dan Agus Hendrawan ini semula sudah merambah pasar ekspor ke Timur Tengah, mulai hari ini di jual di Bukalapak, “Sempat kita ekspor ke Doha dan Dubai, karena motif Sorban Ghutrah ini kan dari sananya terinspirasi garis, dan ornamen Padang Pasir, kebetulan MER-C butuh donasi sekalian diluncurkan Bang Sandi, Jadi deh namanya RED SANDI !” demikian Mufti menjelaskan. Mufti yang juga berprofesi sebagai konsultan, dan periset ini mengabarkan bahwa mulai pagi ini RED SANDI sudah bisa di pesan di Bukalapak dan click through lewat web MER-C. “Harganya didiskon jadi 126 ribu rupiah, harga termasuk donasi ke MER-C” tukas Mufti. Dr. Henry Hidayatullah, dan Tim yang hadir mewakili MER-C menjelaskan bahwa selain memberikan bantuan medis pada fase awal bencana atau tanggap darurat, di beberapa wilayah perang, konflik dan bencana skala besar, MER-C juga melakukan program bantuan yang bersifat jangka panjang. Salah satunya berupa pembangunan fasilitas kesehatan seperti Klinik Rawat Inap di wilayah pasca tsunami Aceh, Klinik Sosial di wilayah pasca gempa Bokoharjo Sleman Yogyakarta, RS Galela di wilayah histori konflik Maluku Utara, juga RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina dan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar. “Kita ingin warga Jakarta berperan lebih aktif untuk membangun RS Indonesia di Gaza bahkan Myanmar, Alhamdulillah Pak Sandi setuju kalau donasi lewat kaus ini Kick Off untuk kerja besar ke depan” tukas Dr. Henry. Bukalapak sebagai online marketplace terbesar di Indonesia turut memberikan dukungannya untuk pengembangan Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Bukalapak memfasilitasi penjualan kaus Red Sandi mulai hari ini. “Kami di Bukalapak turut peduli dengan kondisi saudara-saudara kita di Gaza. Penjualan kaus Red Sandi di Bukalapak diharapkan dapat membantu pembangunan fasilitas kesehatan di sana. Masyarakat dapat membeli kaus ini hanya di Bukalapak dan tentunya dengan membeli kaus ini, masyarakat secara tidak langsung sudah ikut berpartisipasi dalam membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Kaus dengan desain yang keren ini juga dapat menjadi pilihan buah tangan untuk sanak saudara ketika mudik ke kampung halaman”, ujar Fajrin Rasyid, Co-Founder dan CFO Bukalapak. Pak Wagub Sandi Salahuddin Uno juga sampaikan bahwa kedepan dukungan buat Pembangunan RS Indonesia di Gaza dan Myanmar akan bermitra dengan BAZIS DKI Jakarta, “Hari ini kita kick-off kerjasama partisipatif kolaboratif, kedepan lebih luas lagi kolaborasinya dengan BAZIS. Mimpi saya ada Ruang Fatahillah atau Jayakarta di RSI Gaza dan Myanmar, Insya Allah bisa”. Tentang MER-C MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) adalah organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis dan mempunyai sifat amanah, profesional, netral, mandiri, sukarela, dan mobilitas tinggi. MER-C bertujuan memberikan pelayanan medis untuk korban perang, kekerasan akibat konflik, kerusuhan, kejadian luar biasa, dan bencana alam di dalam maupun di luar negeri. Resmi berdiri pada Agustus 1999, hingga kini MER-C sudah melakukan lebih dari 300 misi kemanusiaan yang dilakukan oleh para relawan MER-C yang bersifat unpaid volunteers. Untuk informasi lebih lanjut silahkan kunjungi: www.mer-c.org. Tentang ArMuf Duo Designer Industri Kreatif, fokus pada pasar ekspor . Digawangi Agus Hendrawan, dan A. Mufti. Tentang Bukalapak Bukalapak merupakan pasar online terbesar di Indonesia. Bukalapak adalah sarana jual beli online dari konsumen ke konsumen (C2C) untuk transaksi satuan maupun dalam jumlah banyak melalui aplikasi mobile dan website. Di 2016 lalu, Bukalapak menerima Tanda Kehormatan Satyalancana Wira Karya, yang diserahkan langsung oleh Presiden Joko Widodo sebagai bentuk penghargaan negara atas jasa dan darma bakti kepada bangsa dan Negara sehingga bisa dijadikan teladan bagi orang lain. Saat ini Bukalapak memiliki lebih dari tiga juta pelapak di seluruh Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi: http://bukalapak.com/
Relawan Medis Jadi Target Sniper Israel

Gaza, Palestina – Relawan medis muda Palestina, Razan Al Najjar, 21 tahun, syahid akibat tembakan sniper Israel. Razan terkena tembakan di dada ketika sedang bertugas merawat warga Gaza yang terluka pada rangkaian aksi damai “Great Return March” di perbatasan Gaza, Jum’at/1 Juni 2018. Menargetkan tenaga medis adalah sebuah kejahatan perang dan pelanggaran langsung terhadap Konverensi Jenewa1949. MER-C sebagai sebuah lembaga kegawatdaruratan medis yang kerap mengirimkan relawan untuk bertugas di berbagai wilayah perang dan konflik mengecam keras tindakan brutal tentara Israel. Tenaga medis seharusnya mendapatkan perlindungan khusus ketika berusaha menyelamatkan mereka yang terluka dalam perang atau konflik. Dan dunia diam dengan kejadian ini…. Turut berduka cita sedalam-dalamnya untuk sejawat kami, Razan Al Najjar. Selamat jalan saudariku, Insya Allah Syurga menantimu. #WeStandForPalestine #FreePalestine
Meriahnya Acara Sunatan Massal di RPTRA Taman Sawo

WARTA KOTA, KEBAYORAN BARU—Puluhan anak mengikuti kegiatan sunatan massal yang digelar di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Taman Sawo, Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (6/5/2018). Acara tersebut adalah hasil kerja sama antara siswa SMA Lab School Kebayoran Baru dan PKK setempat. Mohammad Yohan, Lurah Cipete Utara, mengatakan, setidaknya ada 20 anak yang mendapatkan layanan sunat gratis ini. “Selain menggelar sunat massal, SMA Lab School bersama PKK dan MER-C juga menggelar bazar dan pengobatan gratis. Kami selaku tuan rumah menyampaikan terimakasih,” kata Yohan kepada Warta Kota. Sekitar 40 siswa dan siswi sekolah itu terlibat langsung dalam kegiatan bakti sosial itu. Yohan mengatakan, rangkaian acara itu berlangsung meriah dengan masyarakat yang hadir mencapai 500 orang. “Harapan saya semoga tahun depan adik-adik Labschool lanjut berkegiatan di RPTRA Taman Sawo dan idenya berkembang lagi,” katanya. Sumber : http://wartakota.tribunnews.com/2018/05/07/meriahnya-acara-sunatan-massal-di-rptra-taman-sawo-cipete
Dubes Palestina Dukung Pengembangan Bangunan RS Indonesia di Gaza

Jakarta, MINA – Duta Besar Palestina untuk Indonesia Zuhair Al-Shoun menyatakan dukungannya pada program lembaga kemanusiaan kegawatdaruratan Indonesia Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) untuk Palestina, perihal rencana pengembangan dan penambahan dua lantai Rumah Sakit (RS) Indonesia di Jalur Gaza dan rencana baru pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Tepi Barat, Palestina. “Saya sangat mengapresiasi rencana ini, rakyat Indonesia memiliki kepedulian besar pada rakyat Palestina, masalah kesehatan merupakan hal terpenting yang saat ini menjadi fokus pemerintah Palestina,” ujar Zuhair saat menerima audiensi Tim MER-C di Kedutaan Besar Palestina, Selasa (13/2). Zuhair menegaskan, dirinya siap membantu untuk berkomuniasi dengan Menteri Kesehatan Palestina Dr. Jawad Awwad untuk membicarakan rencana pengembangan rumah sakit tersebut. Kepada Dubes, Presidium Mer-C, dr. Arief Rachman Sp.Rad. mengatakan, disain pengembangan RSI untuk lantai 3 dan 4 sedang difinalisasi oleh tim arsitek MER-C. Luas bangunan tiap lantai sekitar 3.000 meter persegi sehingga untuk dua lantai luas keseluruhan akan mencapai 6.000 meter persegi. Seperti pembangunan sebelumnya yang dilakukan oleh relawan konstruksi dari Indonesia di tahun 2015, kali ini MER-C juga berharap dapat melakukan hal serupa. Dukungan dan donasi untuk Amanah Pengembangan RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina dapat disalurkan melalui: BCA, 686.0153678; Bank Mandiri, 124.000.8111.925; BSM, 700.1352.061; BNI Syariah, 081.119.2973; BMI, 358.000.1720; dan BRI, 033.501.0007.60308 a/n Medical Emergency Rescue Committee.(RA-1/B05/RS1) Sumber : http://www.mirajnews.com/2018/02/dubes-palestina-dukung-pengembangan-bangunan-rs-indonesia-di-gaza.html
Uang dari Mana? Semuanya Lillahi Taala’

REPUBLIKA.CO.ID, Dalam kegiatan Reuni 212, jutaan masyarakat berkumpul di Lapangan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat untuk mempererat tali persaudaraan dan persatuan umat agar terjaganya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Masyarakat dari berbagai daerah seluruh Indonesia merelakan waktu juga materinya dalam rangka membela agamanya. Terbukti dengan penuh sesaknya seluruh sudut Monas pada acara Aksi Bela Islam 212, Reuni 212, 411, ataupun acara serupa. Persatuan umat dalan kesempatan tersebut memang sangat mengagumkan. Tapi, ternyata bukan hanya itu saja yang membuat kagum. Di balik jutaan umat yang memenuhi Monas, ada juga yang selalu siap siaga menolong umat. Yang tentu membuat kita bertanya-tanya siapa yang menggerakkan mereka. Selintas yang terpikir pasti adalah polisi ataupun Satpol PP, namun bukan, adalah mereka para tim kesehatan. Jarang ada yang sadar akan pentingnya sosok mereka, jika kita membutuhkan pertolongan medis, merekalah yang pasti akan membantu secara sigap. Ketua Tim Kesehatan Reuni 212 Dr Soleh Assegaf, mengatakan, acara yang diselenggarakan pada Sabtu (2/12) ini juga melibatkan ratusan tim kesehatan dari berbagaimacam lembaga kemanusiaan yang ada di Indonesia. Jumlahnya tidak sedikit, menurut dia, pada acara kegiatan tersebut, setidaknya ada 400 orang tim kesehatan yang terdaftar, mengawal jalannya aksi damai tersebut. Mereka tersebar di setiap sudut Monas, dan di luar area Monas. Di area yang terdapat masaa, di situ terdapat posko kesehatan yang ditugaskan, jumlah posko itu sendiri sedikitnya ada 30 titik. Para tim kesehatan sama sekali tidak diberi gaji, semua dengan ikhlas dan sukarela untuk membantu dan mengawal jalannya aksi-aksi kesatuan umat. “Ini tenaga yang tidak dibayar, tim kesehatan tidak ada honornya,” kata Soleh. Tim kesehatan “tanpa tanda jasa” ini berpegang pada ketetapan syariat. Tidak menunggu sesuatu kejadian yang tidak diinginkan terjadi, kendati begitu, mereka tetap siap siaga mengawal umat dari sisi medis. Seluruh penyakit, instrumennya memang Allah SWT yang mendatangkan, tapi Allah juga yang memberi izin untuk menyembuhkan, tim kesehatan yang bertugas membagi ilmunya dengan ikhlas, apa yang mereka tahu kemudian diterapkan dengan membantu umat. Kurang lebih begitu yang menjadi pegangan tim kesehatan. Penyakit ringan yang biasanya ditangani oleh tim kesehatan dalam acara serupa, adalah mulai dari peserta yang keletihan, pusing, masuk angin, dan sebagainya. Tak jarang penyakit skala berat juga ditangani, seperti penyakit jantung yang terkadang dalam beberapa acara ada masyarakat yang kambuh. Penangannnya pertolongan pertama yang dilakukan, jika terjadi suatu hal yang parah, maka mobil-mobil ambulan yang juga siap siaga akan membawa pasien menerobos ramainya kawasan Monas untuk menuju rumah sakit terdekat. Para herbalis dari tim kesehatan Reuni 212 juga ikut berpartisipasi dengan membuka posko kesehatan dan membuka pelayanan bekam, refleksi, akupuntur, totok, dan pijat. Posko yang dibuka oleh para herbalis tim kesehatan dari Relawan Bekam Indonesia (RBI) sebanyak tiga unit. Peserta Reuni 212 tak dikenakan biaya sedikitpun untuk menikmati fasilitas ini, alias gratis. Sebanyak tiga posko dibuka, yang terletak di posko kehatan VIP dekat panggung utama, di lapangan IRTI dan di dekat patung kuda. Relawan yang diturunkan sebanyak 30 orang dari setiap perwakilan daerah seluruh Indonesia diantaranya, Bandung, Depok, Makassar. Salah satu tim kesehatan dari lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) juga turut serta dalam acara Reuni 212. Lembaga kesehatan ini merupakan salah satu tim kesehatan yang selalu ikut dalam setiap kegiatan serupa. MER-C menyediakan obat-obatan dan kebutuhan lain yang diperlukan, dua ambulan juga dipersiapkan jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Pada kegiatan Reuni 212 kemarin MER-C menerjunkan 23 relawan, yang terdiri dari tujuh dokter dan lainnya perawat. Dengan posko dipusatkan di patung kuda Lapangan Monas. Presidium MER-C, dr Arief Rachman yang juga menjabat sebagai Sekjen Komite Medis GNPF-Ulama menjelaskan, banyak orang yang memiliki penilaian tentang para peserta aksi-aksi yang disebut oleh mereka sebagai “pasukan nasi bungkus”. Menurut Arief, hal itu tidaklah demikian. Para peserta aksi bersatu memperjuangkan satu tujuan yakni keadilan. Selain itu juga persatuan umat yang tentu bisa membuat kesatuan Indonesia akan terus terjaga. Berangkat dari hal itu, para tim kesehatan juga tergerak hatinya untuk ikut mengawal dengan keahliannya, tanpa memikirkan honor semua dijalankan dengan ikhlas. Tidak hanya menolong para peserta aksi, tim kesehatan juga menolong setiap masyarakat yang membutuhkan pertolongan atas dasar kemanusiaan. Hal tersebut terbukti dari kejadian di salah satu aksi. Ketika itu aksi damai dilakukan di depan Polda Metro Jaya, seorang warga tertabrak Bus Transjakarta. Dengan sigap, tim kesehatan langsung memberikan pertolongan pertama kemudian membawanya dengan ambulan menuju Rumah Sakit Pusat Pertamina. Penanganan dan biaya si pasien di rumah sakit tersebut dibantu oleh tim kesehatan. Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata ia mengalami pendarahan di dalam kepalanya. Si pasien kemudian dibawa lagi ke Rumah Sakit PON tempat BPJS-nya terdaftar. Tetapi terdapat masalah, nama di KTP dan BPJS-nya tidak sesuai. Kemudian dari tim kesehatan, juga Laskar FPI bergerak mengurusnya, ada yang pergi ke BPJS, Transjakarta, dan Jasa Raharja. Pada akhirnya urusan selesai sehingga pasien bisa menjalankan prosedurnya dengan semestinya yang kemudian dilakukan perawatan. Di Reuni 212 lalu, Arief menjelaskan, banyak peserta yang mengalami masalah karena kepanasan, kurang minum, sehingga membuatnya pingsan. Tentu tim medis sudah siap dengan obat-obatan serta peralatan yang tentu dipersiapkan juga untuk penyakit atau masalah yang lain. Banyak juga peserta yang mengalami keletihan, dan pegal-pegal, dalam hal ini yang berperan adalah herbalis juga terapis dari tim kesehatan yang melayaninya dengan pijat secara gratis. Arief membenarkan, bahwa seluruh tim medis tidak diberi honor ataupun gaji. Semua bekerja dengan ikhlas, dari tim internal sendiri yang ada hanya patungan untuk sekedar membeli obat-obatan, dan kebutuhan lain. “Uang dari mana? Walaupun internal dari tim medis yang bertugas ada sumbangan kecil-kecilan untuk membeli obat-obatan diperlukan, dokter, herbalis, terapis tak digaji, semuanya lillahi taala,” kata Arief. Link : http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/12/05/p0hwl3396-uang-dari-mana-semuanya-lillahi-taala
MER-C Akan Kirim Tim Advance ke Yaman

Jakarta, MINA – Di tengah situasi kesehatan yang memburuk akibat perang di Yaman, Medical Emergency Rescue Committe (MER-C) merencanakan akan mengirim tim advance ke Yaman. Rencana tersebut, follow up dari pertemuan khusus tim MER-C dengan mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Yaman Saad Ad-Deen bin Talib pada Rabu (22/11), di Jakarta. “Perang yang terjadi selama tiga tahun menyebabkan banyak kerusakan bangunan seperti instansi pemerintahan, pendidikan, dan kesehatan,” kata Saad. Anggota Presidium Medical Emergency Rescue – Committe (MER-C) Dr. Sarbini Abdul Murad yang mengatakan akan mengirimkan tim advance ke Yaman. “Kita akan kirim tim advance dalam waktu dekat untuk memantau apa kebutuhan yang mendesak yang diperlukan dan apa yang bisa kita lakukan di sana,” kata dr. Ben, panggilan akrabnya. Dalam pertemuan terbatas tesebut, Saad menggambarkan kondisi terkini Yaman yang saat ini tengah dikuasai oleh beberapa kelompok-kelompok tertentu yang mengakibatkan sulitnya mencapai akses penyaluran bantuan. Meski demikian, tim MER-C menegaskan akan tetap mengirim tim advance untuk ke depannya menyalurkan bantuan yang dibutuhkan oleh warga Yaman. “Tahap pertama kita kirim tim advance, setelah itu kita akan mengetahui kebutuhan mendesak mereka, kemudian kita susun rencana yang matang untuk membantu meringakan beban saudara kita,” kata Ben. Yaman bersama Suriah, Sudan Selatan, Nigeria, dan Irak dinyatakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai salah satu kedaruratan kemanusiaan terburuk di dunia. Link : http://www.mirajnews.com/2017/11/mer-c-akan-kirim-tim-advance-ke-yaman.html
Abu Kuta Krueng Dukung Pembangunan Rumah Sakit MER-C di Rakhine

MEUREUDU – Presidium MER-C Indonesia dr. Sarbini Murat bersama tim, mengunjungi Abu Kuta Krueng di kediamannya di Ulee Glee, pada Selasa, 3 Oktober 2017. Dalam kunjungan tersebut dr. Sarbini memperkenalkan MER-C Indonesia sebagai salah satu LSM lokal yang bergerak di bidang kegawatdaruratan medis. Ia juga menceritakan peran MER-C Indonesia dalam menangani bencana tsunami di Aceh pada 2004 silam, termasuk beberapa daerah bencana dan daerah konflik lainnya baik di dalam dan luar negeri. “Saat ini MER-C juga sedang membangun sebuah rumah sakit di Rakhine, Myanmar,” kata dr. Sarbini yang didampingi Koordinator Relawan Aceh Ira Hadiati. Sementara Abu Kuta Krueng mengatakan, ia mendukung penuh program pembangunan rumah sakit di Rakhine. “Iya saya sangat mendukung apa yang dilakukan MER-C Indonesia, kalian para dokter yang membantu mengobati orang-orang sakit, apa lagi kalian membantu orang-orang muslim di Palestina dan Myanmar. Semoga Allah selalu melindungi MER-C Indonesia, semoga Allah meridai niat baik MER-C, dan dijauhkan dari marabahaya, serta untuk para tim jangan pernah berhenti menolong sesama muslim, saya sangat mendukung apa yg MER-C Indonesia lakukan,” kata Abu. Mendengar petuah dari Abu Kuta Krueng, dr. Ben –sapaan akrab dr. Sarbini– sempat meneteskan air mata. Ia terharu dan bersyukur atas dukungan yang diberikan oleh ulama kharismatik Aceh tersebut.[] Sumber :http://portalsatu.com/read/news/tim-mer-c-kunjungi-abu-kuta-krueng-35658