MER-C: Spirit Pembebasan Kemerdekaan Palestina Dengan Jihad Profesional

Jakarta, 9 Rajab 1437/19 April 2016 (MINA) – Manajer Operasional Lembaga Kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), Rima Manzanaris mengatakan bahwa rasa persaudaraan dan spirit perjuangan kemerdekaan Palestina salah satunya dibentuk dengan jihad profesional. “Dengan spirit seperti yang dipaparkan dalam pembicaraan atas kemerdekaan Palestina, hal ini juga kami lakukan dalam membangun Rumah Sakit di Gaza dengan rasa spirit persaudaraan, spirit pembebasan, dan jihad profesional yang mendorong dan memberi semangat kami dan para relawan untuk membangun RS Indonesia di Gaza, Palestina,” kata Rima saat menjelaskan kiprah MER-C dalam mendukung kemerdekaan Palestina pada acara Peringatan 61 Tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) di Museum KAA Bandung, Selasa (19/4). Rima menyatakan dukungan dan kepedulian yang luar biasa dari rakyat Indonesia termasuk masyarakat Bandung, merupakan semangat MER-C untuk dapat mewujudkan aksi nyata membantu rakyat Palestina untuk meraih kemerdekaannya. “Alhamdulillah, MER-C bisa menjalankan amanah ini dalam bentuk pembangunan Rumah Sakit Indonesia dan dalam bentuk bantuan kemanusiaan lainnya sejak 2009 sampai sekarang,” ujarnya. Rima menyatakan, RS Indonesia di Gaza merupakan bukti cinta dari rakyat Indonesia terhadap Palestina, menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. “Kami berharap semoga dengan RS Indonesia di Gaza menjadi karya dan bukti cinta rakyat Indonesia bisa terus bermanfaat dan menjadi amal ibadah yang terus mengalir bagi rakyat Indonesia,” tegas Rima. Rumah sakit yang dibangun di atas tanah wakaf dari pemerintah Palestina seluas 16.261 m2 itu sendiri menjadi tempat untuk pemulihan trauma dan rehabilitasi bagi warga Palestina di Jalur Gaza yang menjadi korban konflik bersenjata Palestina-Israel. Pekerjaan pembangunan RS Indonesia yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina itu dilakukan oleh relawan Indonesia yang seluruhnya sukarelawan tidak dibayar (unpaid volunteers) dari Pondok Pesantren Al-Fatah. Dibangun di sebuah puncak bukit di luar Jabalya, kamp pengungsi terbesar di Gaza, Rumah Sakit Indonesia mulai beroperasi dan bisa melayani 300.000 penduduk yang tinggal di kawasan yang sering dilanda konflik itu sejak resmi beroperasi 27 Desember 2015. Pada Januari 2016 disaksikan oleh jajaran pemerintah Republik Indonesia, MER-C mewakili rakyat Indonesia menyerahkan secara simbolis RS Indonesia kepada pemerintah Palestina yang diwakili oleh Menteri Kesehatan Palestina dan Dubes Palestina untuk Indonesia di Jakarta. Konferensi Asia Afrika atau dikenal pula Konferensi Bandung menjadi momen penting bagi sebagian negara-negara di dunia, terutama negara Asia-Afrika. Tiap tahunnya konferensi yang menjadi titik tolak penghapusan kolonialisme itu selalu diperingati. Pada Peringatan 61 Tahun KAA kali ini, berbagai acara digelar di Museum KAA Bandung sejak 17 April-1 Mei 2016. Sumber : http://www.mirajnews.com/id/mer-c-spirit-pembebasan-kemerdekaan-palestina-dengan-jihad-profesional/111165
RS Indonesia, Salah Satu Tema yang Diangkat pada Peringatan 61 Tahun KAA

Dalam rangka Peringatan 61 Tahun Konferensi Asia Afrika, Museum Konferensi Asia Afrika (KAA), Kementerian Luar Negeri RI dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat serta Bandung menyelenggarakan serangkaian kegiatan yang berlangsung mulai tanggal 17 April 2016 hingga 1 Mei 2016, bertempat di Museum KAA, Bandung – Jawa Barat. Salah satu rangkaian kegiatan dari peringatan ini adalah “Bandung Spirit for Palestine” yang dikemas dalam bentuk Pameran Foto dan Talkshow. Selasa, 19 April 2016 kemarin, kegiatan pameran foto mulai dibuka dengan salah satu tema yang diangkat adalah mengenai program pembangunan Rumah Sakit Indonesia, di Jalur Gaza, Palestina. Selain foto, dokumentasi kegiatan dalam bentuk video juga ditayangkan dihadapan undangan yang hadir yang berasal dari berbagai kalangan mulai dari pejabat pemerintahan, akademisi, mahasiswa dan masyarakat umum. Kegiatan pameran foto berbagai dukungan Indonesia untuk Palestina akan berlangsung hingga tanggal 1 Mei 2016. Perwakilan MER-C juga turut menghadiri acara ini dan berkesempatan memberikan sedikit penjelasan mengenai program pembangunan Rumah Sakit Indonesia sebagai sebuah karya anak bangsa dan salah satu bentuk dukungan nyata dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina. Pada pernyataannya, perwakilan MER-C menyampaikan harapannya bahwa RS Indonesia bukan hanya sekedar rumah sakit tapi bisa menjadi bukti persaudaraan dan dukungan jangka panjang rakyat Indonesia untuk Palestina hingga Palestina meraih kemerdekaannya.
Usai Bertugas Lebih dari 1,5 Tahun di Gaza, Tiga Relawan RS Indonesia Tiba di Tanah Air

Siaran Pers Selasa (16/2), setelah menempuh belasan jam penerbangan dari Kairo (Mesir), sekitar pkl 22.00 wib tadi malam, tiga relawan MER-C yang telah menyelesaikan tugas pembangunan RS Indonesia di Gaza (Palestina) mendarat di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Kedatangan Ir. Edy Wahyudi, Karidi dan Miyanto langsung disambut dengan penuh haru dan sukacita oleh para relawan dan tentunya keluarga tercinta. Turut menyambut di Bandara para Presidium MER-C, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT, Ir. Faried Thalib dan dr. Arief Rachman, juga para pimpinan dari Pondok Pesantren Al Fatah, mitra yang selama ini mendukung sejak awal proses pembangunan RS Indonesia. Ketiga relawan sangat bersyukur karena setelah bertugas selama lebih dari 1,5 tahun, perjuangan panjang yang penuh liku akhirnya selesai dan mereka bisa kembali ke tanah air berkumpul kembali dengan keluarga. Hal terpenting lainnya adalah amanah dari rakyat Indonesia telah tertunaikan. Pada 24 Desember 2015, RS Indonesia telah resmi dibuka dan memberikan pelayanan medis bagi rakyat Gaza yang membutuhkan. Sejak dibuka, setiap harinya khususnya pada hari kerja Minggu hingga Kamis, RS Indonesia selalu ramai dikunjungi oleh warga Gaza yang membutuhkan pengobatan. Tercatat sekitar 400 orang pasien yang berobat ke RS Indonesia setiap harinya. Meskipun tugas telah selesai, namun kepulangan para relawan ke tanah air sempat tertunda beberapa lama karena pintu perbatasan Rafah yang tidak kunjung dibuka. Baru pada hari Minggu (14/2) kemarin, pada hari ke-2 atau hari terakhir pembukaan perbatasan Rafah, para relawan bisa keluar dari Gaza bersama sedikit orang yang berhasil keluar dari Gaza selama pembukaan Rafah yang hanya berlangsung selama 2 hari tersebut. MER-C Lanjutkan Program di Gaza Kepulangan tiga relawan ke tanah air bukan berarti selesainya program MER-C di Gaza, Palestina. Meskipun RS Indonesia telah diserahterimakan dan dikelola oleh Kementerian Kesehatan Palestina, namun MER-C berkomitmen untuk tetap membantu untuk biaya operasional RS Indonesia. Hal ini dalam rangka menjamin keberlangsungan RS Indonesia karena kondisi perekonomian yang tidak menentu di Jalur Gaza, terlebih ketika adanya serangan. Saat ini masih ada dua relawan yang menetap di Gaza, yaitu Reza Aldilla dan Muhamad Husein. Selain sebagai relawan, mereka juga tengah menyelesaikan pendidikan di Universitas Islam Gaza. Berkomitmen menjadikan Palestina sebagai wilayah misi jangka panjang, MER-C telah membangun sebuah bangunan yang bernama “Wisma Rakyat Indonesia” yang terletak di dalam area kompleks RS Indonesia. Wisma Rakyat Indonesia akan menjadi kantor perwakilan MER-C Cabang Gaza sekaligus tempat tinggal para relawan. Ke depan, MER-C akan mengirimkan kembali relawan-relawan yang akan bertugas di wilayah terblokade ini selanjutnya. Relawan yang akan dikirimkan diantaranya adalah para dokter yang keahliannya dibutuhkan di Gaza untuk mengobati dan mentransfer keahliannya kepada tenaga medis di Gaza. Profil Tiga Relawan RS Indonesia 1. Nama : Ir. Edy Wahyudi Darta Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta/15 Nov 1969 Asal : Cileungsi, Jawa Barat Jabatan/Bidang Pekerjaan : Site Manager RS Indonesia Masa Tugas di Gaza : Januari 2011 – April 2012 Februari 2013 – Maret 2014 Juni 2014 – Februari 2016 2. Nama : Karidi bin Martono Parjo Tempat/Tanggal Lahir : Wonogiri/14 Januari 1982 Asal : Wonogiri, Jawa Tengah Jabatan/Bidang Pekerjaan : Korlap 2 Mekanikal Elektrikal Masa Tugas di Gaza : Oktober 2012 – Maret 2014 Juni 2014 – Februari 2016 3. Nama : Miyanto Modo Sodimejo Tempat/Tanggal Lahir : Wonogiri/4 September 1985 Asal : Wonogiri, Jawa Tengah Jabatan/Bidang Pekerjaan : Pekerjaan Sipil Masa Tugas di Gaza : Juni 2014 – Februari 2016 Jakarta, 17 Februari 2016 MER-C Indonesia
Masuk Susah, Keluar pun Susah

Ini adalah hari ke-2 bagi tiga relawan RS Indonesia (Ir. Edy Wahyudi, Karidi dan Miyanto) menunggu di perbatasan Rafah. Sejak beberapa lama info pembukaan Rafah hanya “katanya dan katanya”, alhamdulillah kali ini benar pintu perbatasan Rafah akhirnya dibuka, meskipun hanya 2 hari, ya hanya 2 hari, Sabtu dan Ahad ini. Mendengar informasi tersebut, 3 relawan dari 5 relawan yg masih berada di Gaza segera bersiap. Tugas mereka telah selesai di Gaza krn RS Indonesia telah diserahterimakan & telah beroperasional. Kini waktunya mereka pulang utk di rolling dg relawan lainnya. Sejak Sabtu pagi (13/2), 3 relawan telah bergegas menuju perbatasan Rafah untuk mencoba keluar dari Gaza dan berharap bisa kembali ke tanah air. Di perbatasan Rafah, ternyata banyak orang yang mengantri utk keluar dr Gaza g berbagai keperluan. Info dr relawan ada sekitar 5.000 orang. Mengantri di kerumunan orang hingga malam hari ternyata kesabaran para relawan kembali diuji. Mereka blm bisa keluar dr Gaza pd hari Sabtu kemarin. Kesempatan utk mencoba keluar tinggal hari Ahad ini. Klo tdk berhasil, para relawan hrs bersabar lg menunggu info pembukaan Rafah berikutnya yang entah kapan dan berapa lama lagi. Masuk susah, keluar pun susah. Hari ini, hari kedua atau hari terakhir pembukaan Rafah, tiga relawan RS Indonesia tengah berikhtiar kembali di Perbatasan Rafah. Mohon doa dari Bapak/Ibu/Sahabat semoga urusan para relawan diberi kemudahan dan kelancaran. Smg mereka bisa segera kembali ke tanah air dg selamat & berkumpul lagi dg keluarga tercinta yg sdh sekian lama mengikhlaskan kepergian suami mereka utk melaksanakan jihad profesi membangun RS Indonesia di Gaza, Palestina.
Bantu Warga Palestina, Ayah Vidi Aldiano Dapat Penghargaan MER-C

Harry Kiss, ayah dari Vidi Aldiano, memperlihatkan penghargaan yang diberikan oleh MER-C REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Harry Kiss, ayah dari Vidi Aldiano, merasa tergugah mendapat penghargaan dari lembaga non pemerintah Medical Emergency Rescue Committee (MER-C). Ia berjanji akan terus memberikan perhatiannya kepada warga muslim yang ada di Palestina. ”Saya sangat berterimakasih kepada MER-C karena diberi kesempatan untuk membantu tugas mulia ini,” kata Harry Kiss kepada wartawan di Jakarta, Selasa (9/2). MER-C memberikan penghargaan kepada Harry karena telah turut berkontribusi dalam pembangunan RS Indonesia di Gaza Palestina. Ia merasa sangat bahagia bisa turut memberikan peran nyata dalam mendukung dan melaksanakan kegiatan-kegiatan kemanusiaan di bidang kesehatan dan siaga bencana. “Bisa dipercaya membantu MER-C, menjadi hal yang luar biasa buat saya,” ujarnya. “Selama ini, banyak orang di luar sana, yang memiliki banyak uang tetapi tidak dikasih kesempatan untuk membantu. Kami walau pas-pasan, tapi bersyukur bisa dikasih kesempatan untuk turut serta membantu warga Palestina,” sambungnya kembali. Sumber : http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/02/09/o2a71x336-bantu-warga-palestina-ayah-vidi-aldiano-dapat-penghargaan-merc
MER-C TERIMA PENGHARGAAN ‘PESAN INDONESIA KEPADA DUNIA’ DARI KEM. KOMINFO DAN ISKI

ketua Presidium MER-C, Henry Hidayatullah, saat di wawancarai MINA Wawancara Eksklusif MINA dengan dr. Henry Hidayatullah, Ketua Presidium Lembaga Kemanusiaan MER-C (Medical Emergency Rescue – Committee). Ketua Presidium Lembaga Kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), dr. Henry Hidayatullah menyatakan rasa terimakasih kepada pemerintah dan masyarakat, atas kesetiaan dan kepercayaan yang telah diberikan kepada MER-C dalam menangani tugas kemanusiaan di daerah konflik maupun bantuan non konflik kepada masyarakat, di dalam maupun di luar negeri. MER-C telah menerima penghargaan ‘Pesan Indonesia kepada Dunia’ dalam ajang Anugerah Komunikasi Inodnesia (AKI) yang digelar Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), awal pekan ini. Sebanyak tujuh insan dan lembaga yang dinilai telah berkomunikasi positif di ruang publik, menerima AKI, MER-C adalah salah satu penerima penghargaan itu. Dr. Henry menyatakan penghargaan yang diperoleh MER-C adalah hasil kerja bersama dan relawan-relawan yang selalu setia bersama dan masyarakat yang selalu memberikan kepercayaan kepada MER-C atas bantuan yang disalurkan untuk masyarakat di daerah-daerah konflik dan di daerah-daerah bencana. MER-C sebagai lembaga kemanusiaan tetap semangat untuk berkarya memberikan manfaat bagi semua orang tanpa memandang ras, agama dan sikap politik. Apa saja harapan MER-C ke depan untuk mengemban amanah ini ? Berikut wawancara wartawan Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Septia Eka Putri dan Ketua Presidium MER-C dr. Henry Hidayatullah, yang berlamgsung Kamis petang di Rumahsakit Pusat Pertamina di Jakarta Selatan. MINA: Apa makna penghargaan ‘Pesan Indonesia kepada Dunia’ ini bagi MER-C ? Henry Hidayatullah (MER-C): Ya, Anugerah Komunikasi Indonesia (AKI) itu ada beberapa kategori di antaranya ‘Pesan Indonesia kepada Dunia’. Sebenarnya siapa saja yang menjadi nominator kami tidak tahu, kami coba menerka-nerka saja. Yang disampaikan Ketua AKI adalah bahwa aktifitas-aktifitas MER-C, yang menunjukkan Peran Indonesia di Mata Dunia, meskipun masyarakat Indonesia sendiri masih dalam kondisi susah. Tapi apa yang kita lakukan ternyata memberikan pesan bahwa Indonesia masih peduli, nah, segi itu yang mereka nilai. Sementara dari kami sendiri, itu memang sudah menjadi ranah kita kerja, ranah kita melakukan kegiatan kemanusiaan, tapi kemudian ternyata ada apresiasi sendiri. Menteri Kominfo Rudyantara yang menyampaikan bahwa, kami mendapatkan penghargaan itu. Sebenarnya ini di luar dugaan. Penghargaan ini pertama kali diadakan. MINA: Berbicara prestasi MER-C, seperti apa MER-C di mata masyarakat sehingga mendapatkan penghargaan ini? Henry Hidayatullah : Sekali lagi, bahwa yang kita cari bukan itu, itu hanya bentuk apresiasi orang ketika melihat seseorang atau lembaga yang melakukan kegiatan yang menyentuh, misalnya atau ternyata memberikan dampak dengan indikator tertentu. Bahwa eksistensi masyarakat Indonesia di mata dunia masih tampak jelas dan itu mereka lihat ada di MER-C. Itu yang kemudian membuat kita sangat hargai. Kita sangat bersyukur terhadap apresiasi pada apa yang kita lakukan, dan itu bentuk apresiasi masyarakat. Lalu apa benyuk apresiasi lainnya dari masyarakat? Adalah masyarakat masih mempercayakan dana-nya kepada MER-C untuk disalurkan. Jadi bentuk apresiasi mereka, berbentuk kepedulian, dan kepercayaan pada MER-C untuk menyalurkan bantuan merekan. Kan sekarang banyak lembaga yang menerima bantuan, tapi tentunya masyarakat memilih lembaga yang bisa menyalurkan bantuan mereka sesuai harapan mereka. Nah mungkin mereka melihat MER-C. Kenapa bisa saya sampaikan seperti itu? Salah satu contoh adalah pengumpulan donasi untuk membangun RS Indonesia di Gaza. Besar dana terkumpul total akhir mencapai Rp. 120 miliar dan itu dari masyarakat. Jadi respon dan kepercayaan itulah yang masyarakat berikan kepada MER-C. Artinya bukan tiba-tiba masyarakat memberikan dananya kepada MER-C, tapi proses perjalanan panjang. Kita tidak ada pemberitan hoax, ini penting, tranparansi bekerja, dana, ini yang kita tekankan di organisasi ini. Tidak hanya darmawisata kemanusiaan, foto-foto kemudian pulang, tidak, ini adalah kerja nyata untuk memberikan manfaat kepada masyarakat. Apa yang kita lihat, apa yang kita dengar itulah yang kita informasikan. Tidak mengabarkan melakukan operasi seratus, sementara yang kita lakukan dua real nya, gakk, kalau dua yang kita lakukan, ya kita informasikan dua. Kita mencoba berjalan di atas track itu, harus clear dalam masalah itu, atas sebab itu masyarakat bisa percaya pada MER-C. MINA: Bagaimana MER-C mendapat kepercayaan masyarakat dan pemerintah ? Henry Hidayatullah : Begini, kita melakuikan sebuah kegiatan berdasarkan penilaian pada suatu hal, bukan berdasarkan kepada projek. Jadi bagi kita, apa sih program yang pas buat masyarakat? Sekali lagi, azaz manfaat bagi masyarakat itu yang kita lakukan. Yang kedua adalah politik kemanusiaan, kita melakukan politik untuk menyelamatkan kemanusiaan. Nah, ini penting, karena peranan itu harus dimainkan, sehingga ada nilai nilai kemanusiaan, ada kepedulian. Kemudian misalnya begini, menginisiasi orang untuk ikut peduli, menginisiasi pejabat atau pemerintah untuk ikut berperan. Mungkin saja mulanya mereka tidak sadar, ini peranan politik kemanusiaan, jadi intinya mengajak orang lain untuk peduli. MINA: Apa program ke depan serta harapan? Henry Hidayatullah : Yang jelas, pasti semua orang targetnya menjadi lebih baik, tentunya kita akan memperbaik internal kita dan eksternal. Internal otomatis yang berkaitan dengan kerelawaan untuk terjun kelapangan, bagaimana kemudian kita menyiapkan masyarakat lebih percaya kepada donasi yang kita sampaikan. Ini kan perlu pembenahan, Sumber Daya Alam (SDM), pendanaan, harus kita perbaiki. Saya tidak menafikan ada relawan yang belum mencapai kerelawaan yang sebenarnya, serta misi dan visi belum dapat, nah, ini tentunya koreksian untuk kita. Kemudian eksternal, tentunya terkait dengan dunia kemanusiaan pada umumnya. Memang kesulitannya adalah ketika kita mengambil ranah-ranah kemanusiaan dan itu berbaur politik, maka peran kita adalah menyadarkan bagaimana tidak terus terjadi tragedi kemanusiaan, Lagi-lagi politik kemanusiaan. Contohnya begini. Ada pengungsian akibat peperangan, pengungsian ini, ditanganin gak? Ditangani, tapi kalau perangnya terus terjadi ? Sebenarnya pengungsian ditangani, tapi lebih bijak lagi, kalau kita memberikan saran, perang dihentikan. Intinya itu. MINA: Perluasan peran MER-C seperti di Sorong ? Henry Hidayatullah : Kita tidak terlepas dari visi dan misi, kita dasarnya adalah organisai kemanusiaan yang bergerak di bidang medis, kemudian, cord nya memang medis, walaupun kemudian bisa juga merambah ke dunia lain untuk kepentingan kemanusiaan. Sementara itu untuk program-program yang berjalan, kalau untuk di daerah Indonesia Timur, hanya melanjutkan program yang sudah ada sebelumnya. Yaitu kerjasama yang namanya klalin di daerah Sorong, pengobatan, kemudian di klining mobile klinik plus pendidikan. Kerjasama dengan teman teman yang ada di NU, mereka sangat membutuhkan itu, tidak hanya kesehatan tapi juga pendidikan, belum lagi berbicara tentang lingkungan. MINA: Program MER-C di Myanmar ? Henry Hidayatullah : Problem di Myanmar adalah kaum
MER-C TEGASKAN BANGUN RUMAH SAKIT DI RAKHINE MYANMAR

Jakarta, 28 Dzulhijjah 1436/12 Oktober 2015 (MINA) – Lembaga Kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menyambut baik kedatangan Menteri Sosial Rakhine State, Myanmar Aung Kyaw Min beserta rombongan di kantor pusat MER-C, Jakarta Pusat. Dalam kunjungannnya, Aung Kyaw Min membahas komitmen MER-C untuk membangun rumah sakit di wilayah tersebut. Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murrad mengatakan, rumah sakit yang akan di bangun merupakan sumbangan dari seluruh rakyat Indonesia untuk rakyat Myanmar. ” Selama ini, hubungan antara pemerintah Indonesia-Myanmar sudah terjalin dengan baik. Kali ini masyarakatnya harus melakukan sesuatu yang lebih baik pula,” kata Sarbini. Sementara itu, Sekretaris daerah Rakhine State, U Tin Maung Swe yang turut serta dalam rombongan menyatakan, saat ini yang dibutuhkan warga Rakhine adalah pendidikan dan kesehatan. Dalam bidang kesehatan, MER-C siap membantu membangun rumah sakit dengan biaya dari seluruh masyarakat Indonesia. Rencananya, MER-C akan memulai pembangunan rumahsakit di mulai pada bulan Desember 2015 mendatang. Letak rumah sakit sangat strategis karena berada di tengah-tengah komunitas Muslim Rohingya dan Budha. Dalam kunjungannya, hadir para relawan yang telah beberapa kali memberikan bantuan medis ke Myanmar, diantaranya; Ichsan Thalib dan dr. Tonggo Meaty Fransisca. Dalam misi terakhir, Agustus 2015 lalu, MER-C menyumbang ambulance kepada warga Rakhine. MER-C adalah organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis dan mempunyai sifat amanah, profesional, netral, mandiri, sukarela, dan mobilitas tinggi. MER-C bertujuan memberikan pelayanan medis untuk korban perang, kekerasan akibat konflik, kerusuhan, kejadian luar biasa, dan bencana alam di dalam maupun di luar negeri. Organisasi ini dibentuk pada Agustus 1999. (L/Wdo/R03) Sumber : http://mirajnews.com/id/internasional/asia/merc-terima-kunjungan-mensos-rakhine-state-myanmar/
MER-C KEMBALI MENYELENGGARAKAN PROGRAM QURBAN DI GAZA

Jakarta, 25 Dzulqa’dah 1436/9 September 2015 (MINA) – Lembaga Kemanusiaan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) Cabang Gaza kembali menyelenggarakan program Qurban untuk warga di Jalur Gaza Palestina, setelah tahun lalu melakukan hal serupa. Program Qurban ini akan dilakukan langsung oleh empat orang relawan RS Indonesia di Gaza, mulai dari memilih, membeli, menyembelih hingga membagikan hewan qurban langsung kepada yang berhak menerimanya. “Kita percaya dengan kapasitas dan kinerja para relawan di sana dalam melaksanakan program qurban tersebut dari pembelian, pemotongan, sampai mengantarkan ke rakyat Gaza,” kata Rima Manzanaris, Manajer Operasional MER-C, kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Jakarta, Rabu (9/9). Menurut informasi dari tim relawan MER-C di Gaza, Ir. Edi Wahyudi, hewan qurban berupa kambing dengan berat 40 kg, di Gaza jika dirupiahkan mencapai harga Rp6 juta/ekor, sedangkan sapi dengan berat 400 kg mencapai Rp34,5 juta (sudah termasuk biaya operasional). “Kita akan buka pendaftaran Qurban bagi para donatur yang ingin menyalurkan bantuan mulai hari ini,” ujar Rima MER-C memberi batas pentransferan dana dari para donatur program tersebut hingga tanggal 18 September 2015. Hal itu untuk mempermudah kepengurusan qurban di Gaza. Bagi yang berminat berqurban untuk dibagikan kepada warga di Jalur Gaza dapat menghubungi Kantor MER-C Pusat Jakarta melalui nomor telepon 021-3159235 atau di telepon genggam 0811990176, . Dana juga dapat ditransfer melalui Rekening Program Qurban MER-C: BSM, Cabang Kramat No. Rek. 701.565.8902 a.n. Medical Emergency Rescue Committee, Bukti transfer dikirimkan ke MER-C mll fax 021-3159256 atau email ke merc@indosat.net.id, website www.mer-c.org, beserta nama lengkap, alamat, no tlp/hp, alamat email. (L/P007/P4) Sumber : http://mirajnews.com/id/indonesia/nasional/merc-kembali-selenggarakan-program-qurban-untuk-gaza-2/
Rute Menantang Jurang Menembus Tolikara

Ahad malam, 26 Juli 2015, lembaga medis kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) memberangkatkan Tim Konstruksi ke Tolikara, Papua. Tim terdiri dari tiga orang relawan yang diketua oleh Ir. Nur Ikhwan Abadi, relawan yang pernah memimpin dan terlibat aktif dalam proses pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina. Pengiriman tim ini adalah langkah awal dari program “Satu untuk Papua” yang dicanangkan oleh MER-C, pasca insiden kerusuhan yang terjadi di Tolikara, Papua. Dengan pengalaman membangun sarana kesehatan di Aceh, Yogyakarta, Galela (Maluku Utara), dan Jalur Gaza, serta membangun sarana pendidikan di Padang Pariaman (Sumatera Barat), maka melalui program “Satu untuk Papua”, MER-C menetapkan program rehabilitasi jangka panjang untuk wilayah ini. “Apa yang akan kita bangun di Tolikara menunggu hasil assessment Tim ini,” ujar dr. Henry Hidayatullah, Ketua Presidium MER-C saat mengantar Tim di Bandara Soekarno Hatta Ahad malam (26/7). Kiprah MER-C di Papua sendiri sudah dimulai sejak Februari 2006 melalui Program Klinik Sosial di Timika dan Sorong. Perjalanan menantang jurang Nur Ikhwan memaparkan kisah perjalanannya pada Senin 27 Juli 2015 untuk mencapai Tolikara, sebagaimana yang diterima Mi’raj Islamic News Agency (MINA) sebagai berikut: Pukul 12.20 WIT, kami bergerak dari Wamena menuju Tolikara menggunakan mobil Mitsubishi Strada. Alhamdulillah, meskipun hari sudah siang, kami masih bisa mendapat tempat duduk di dalam (bukan di bak belakang mobil), berkat bantuan Sertu Prayogi, teman Pak Abdullah (relawan MER-C yang turut dalam Tim) di Wamena. Sertu Prayogi mengantar hanya sebatas di Wamena saja. Satu mobil mengangkut 16 orang, yaitu dua di depan, empat di tengah (termasuk kami), dan sepuluh di luar. Ongkos pun berbeda, untuk di dalam harganya Rp 250.000 per penumpang dan untuk di luar harganya Rp 150.000 per penumpang. Sebelum berangkat, sopir mencari solar terlebih dahulu untuk cadangan bahan bakar. Harga solar per liter Rp 22.000, sedangkan bensin Rp 20.000 per liter. Setelah bahan bakar penuh, kami mulai berangkat keluar dari Wamena, namun sebelumnya penumpang dihentikan di sebuah rumah makan membeli perbekalan untuk selama perjalanan. Adapun Tim tidak membeli perbekalan, karena seorang sedang shaum (puasa) dan bekal dari Jakarta masih ada. Kemudian kendaraan berpenumpang 16 orang ini mulai bergerak menyusuri jalan pegunungan yang track-nya menantang. Jalan berkelok dan menanjak, ditambah lagi tidak sepenuhnya mulus atau banyak berlubang. Di kanan dan kiri adalah jurang, jika selip sedikit saja, jurang di kanan dan kiri siap menyambut. Diperkirakan, jika perjalanan lancar, akan memakan waktu 4-5 jam. Terjebak di tengah hutan tanpa sinyal Setelah tiga jam perjalanan, mobil yang kami tumpangi mengalami masalah. Awalnya sopir menduga solar yang dipakai dicampur air oleh penjualnya, sehingga kendaraan tidak ada tenaga untuk menanjak. Namun setelah beberapa kali dicoba, ternyata kampas kopling Mitsubishi Strada ini rusak, sehingga kendaraan tidak bisa bergerak, meskipun sudah coba diperbaiki. Kendaraan dihentikan di tengah hutan pegunungan, kami mulai waspada, terlebih tidak adanya sinyal sedikit pun ditengah hutan seperti itu. Khawatir dengan situasi ini, kami terus tingkatkan kewaspadaan, mengingat ada peringatan dari Sertu Prayogi bahwa sering terjadi para penumpang dibawa ke tengah hutan oleh orang-orang OPM (Organisasi Papua Merdeka). Kendaraan terpaksa balik arah untuk mencari tempat yang ada sinyalnya. Namun sebelum mendapat sinyal, kendaraan sudah tidak dapat bergerak dan berhenti total. Sopir pun meminta semua penumpang turun dan dia akan berjalan kaki menuju ke sebuah tempat untuk menghubungi rekannya agar mengirim kendaraan cadangan. Tidak lama kemudian, sebuah mobil Toyota Hilux Double Cabin dengan bak belakang kosong melintas. Sopir Mitsubishi Strada langsung hentikan kendaraan tersebut dan meminta agar memberikan tumpangan kepada kami untuk ke Tolikara yang jaraknya masih tiga jam lagi. Setelah negosiasi, akhirnya kami dizinkan naik Toyota Hilux tadi, tapi di bak belakang karena di dalam sudah penuh. Sopir Strada memberi uang Rp 400.000 kepada sopir Hilux sebagai kompensasi untuk empat orang yang ikut di mobilnya. Kemudian ketika akan berangkat, empat orang penumpang Strada ikut juga naik ke kendaraan bersama kami. Dengan sopir orang lokal, kami pun mulai bergerak lagi, track yang kami lalui ternyata jauh lebih menantang dari sebelumnya. Jalan yang kami lalui sebelumnya ternyata belum apa-apa dari jalan yang kami lalui setelahnya. Mobil terus lanjutkan perjalanan yang terus menanjak, mobil berkali-kali berhenti untuk ambil ancang-ancang ketika akan menanjak. Jalan menanjak, berkelok, bebatuan campur tanah, jika hujan licin dan rawan longsor, kemiringan 45 derajat bahkan lebih. Ketika mobil akan menanjak ke puncak, si sopir berhenti dan meminta empat orang yang tadi naik tanpa persetujuan pemilik kendaraan untuk turun. Alasannya karena daerah tanjakan membuat mobil tidak kuat, dan juga karena mereka tidak bayar seperti kami berempat. Alhamdulillah, dengan izin Allah, kami akhirnya tiba di Tolikara. Setelah melapor ke Koramil setempat, kami diarahkan untuk menginap di penginapan di belakang kantor Koramil, dekat pasar dan masjid yang dibakar. Keesokannya kami di minta melapor ke posko kemanusiaan yang dipusatkan di kantor bupati lama. (L/P001/P2) Sumber : http://mirajnews.com/id/artikel/feature/rute-menantang-jurang-menembus-tolikara/
Selamat Datang Kembali di Tanah Air Para Mujahid Kami, Relawan RS Indonesia dari Jalur Gaza, Palestina

Rumah Sakit Indonesia adalah sebuah Karya Anak Bangsa. Selain dana pembangunan yang murni berasal dari rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, yang sebagian besar adalah kalangan menengah ke bawah, Rumah Sakit ini juga dirancang, didisain, diawasi dan dikerjakan pembangunannya oleh putra-putra bangsa Indonesia. Mereka, para relawan (unpaid volunteers), rela meninggalkan keluarga tercinta, pekerjaan di tanah air, mendedikasikan waktu dan keahlian dalam rangka melakukan Jihad Profesional menunaikan amanah rakyat Indonesia dalam program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Dimulai pada 14 Mei 2011, pembangunan fisik Rumah Sakit Indonesia saat ini telah selesai dan proses pengadaan Alat Kesehatan untuk seluruh ruangan di rumah sakit ini sebagai Rumah Sakit Traumatologi dan Rehabilitasi juga telah mencapai tahap akhir. Kamis/25 Juni 2015, pukul 14.40 sebanyak 14 orang relawan yang telah bertugas selama minimal 1 (satu) tahun di Gaza, Palestina, mendarat di Bandara Soekarno Hatta setelah menempuh belasan jam penerbangan dengan menggunakan maskapai Etihad Airways. Beberapa hari sebelumnya, pada hari Kamis/18 Juni 2015, satu relawan bersama istri tercinta seorang gadis asal Gaza telah tiba lebih dulu di Jakarta, sehingga total relawan RS Indonesia yang telah kembali ke tanah air sampai saat ini berjumlah 15 orang relawan. Sebanyak 4 (empat) orang relawan masih diberikan amanah untuk melanjutkan tugas di Jalur Gaza, Palestina guna mempersiapkan segala sesuatunya untuk “Grand Opening RS Indonesia” dan menunggu relawan pengganti dari Indonesia yang akan datang untuk bertugas selanjutnya di Jalur Gaza, Palestina. Kelima belas relawan yang telah kembali ke tanah air adalah sbb : No Nama Masa Tugas Asal 1 Abdul Aziz Hisyam 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Jambi 2 Abdul Hadi Bujang 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Kalimantan Barat 3 Moqorrobin Alfikri 15 Februari 2013 – 25 Juni 2015 Cileungsi, Jawa Barat 4 Hidayatullah Hissam Damiri 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Jambi 5 Luthfi Paimin Mualim 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Kalimantan Barat 6 Nasrullah Saukani Johdi 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Kalimantan Barat 7 Ngatiyat Wiryadiharjo Wongso 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Jogjakarta 8 Ir. Nur Ikhwan Abadi 17 Februari 2014 – 25 Juni 2015 Lampung 9 Osamah Dakam Mansur 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Kalimantan Barat 10 Muhamad Gulam Romdony 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Tj Priok, Jakarta 11 Suryadi Sarto Soirejo 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Wonogiri, Jawa Tengah 12 Tata Lukita Sudrajat 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Bandung, Jawa Barat 13 Teguh Bin Samino Rejo 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Wonogiri, Jawa Tengah 14 Najmudin Kubro Maschun 28 Juni 2014 – 25 Juni 2015 Cilacap, Jawa Tengah 15 Muhammad Husein 2 Desember 2010 – 18 Juni 2015 Cileungsi, Jawa Barat Empat relawan yang masih bertugas di Jalur Gaza, Palestina adalah sbb : No Nama Masa Tugas Asal 1 Ir. Edy Wahyudi 15 Februari 2013 – sekarang Cileungsi, Jawa Barat 2 Karidi bin Martono Parjo 28 Juni 2014 – sekarang Wonogiri, Jawa Tengah 3 Miyanto Modo Sodimejo 28 Juni 2014 – sekarang Wonogiri, Jawa Tengah 4 Reza Aldilla Kurniawan 15 Februari 2013 – sekarang Kalimantan Barat Para relawan dimungkinkan keluar dari Gaza setelah adanya perpanjangan pembukaan Perbatasan Rafah pada hari Selasa, Rabu, Kamis (23 – 25 Juni 2015) ini. Padahal selama satu tahun belakangan, ini blockade adalah yang paling sulit karena Perbatasan Rafah hanya dibuka 3 – 4 kali. Kesempatan pembukaan Perbatasan Rafah pada Minggu ini segera dimanfaatkan relawan untuk mencoba keluar dari Gaza setelah mendapat persetujuan dari MER-C Pusat Jakarta dan tugas-tugas yang diamanahkan juga telah rampung, yaitu selesainya pembangunan Wisma Rakyat Indonesia (Indonesia Guest House), selesainya perbaikan masjid yang berada di Kompleks RSI dan hampir selesainya proses pengadaan Alat Kesehatan RSI. Setelah berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri Palestina dan Kedutaan Besar RI di Kairo, Selasa/23 Juni 2015, 14 relawan menuju Perbatasan Rafah Gaza untuk mencoba keluar dari Gaza. Pagi itu, para relawan bersiap-siap dan berpamitan kepada relawan Indonesia yang masih harus menetap di Gaza, relawan lokal dan rakyat Gaza yang tinggal di sekitar RSI. Suasana haru meliputi pagi hari itu. Menunggu proses di Imigrasi Rafah Gaza dan Imigrasi Rafah Mesir selama beberapa jam, akhirnya sekitar pukul 2 siang waktu Gaza, 14 relawan berhasil keluar dari Gaza untuk pulang ke tanah air bertemu dan berkumpul kembali dengan keluarga tercinta. Jakarta, 25 Juni 2015 Medical Emergency Rescue Committee