MER-C Segera Selesaikan Pembangunan RS Galela

Jakarta, 15 Ramadhan 1434/23 Juli 2013 (MINA) – Tim Medical Emergency Committee (MER-C), segera selesaikan pembangunan rumah sakit di Galela, Maluku Utara. Rumah sakit tersebut ditargetkan bisa selesai tahun depan dengan harapan menjadi rumah sakit yang bisa memudahkan masyarakat sehingga tidak perlu menempuh jarak yang jauh untuk berobat. “Rumah sakit Galela merupakan bukti komitmen kita terhadap Galela, di mana kita sempat bertugas pada tahun 2000 ketika terjadi konflik horizontal di sana,” ungkap Joserizal Jurnalis, Presidium MER-C kepada Mi’raj News Agency (MINA). Setelah sempat terhenti beberapa saat, atas donasi dari masyarakat, RS MER-C di Galela di atas luas bangunan 2.800 m2 memasuki tahap arsitektur. Pengerjaan Rumah Sakit Galela juga dipercayakan kepada relawan dari pesantren Al-Fatah, Cileungsi seperti yang terjadi dalam pembangunan RS Indonesia di Gaza. Seperti RSI Gaza, dalam pengerjaannya RS Galela ini mengutamakan masyarakat. “Kita membangkitkan semangat dan potensi masyarakat dalam pembangunan tersebut,” tambah Joserizal. Menurut laporan MER-C, fokus pekerjaan RS Galela adalah pemasangan rangkap atap baja ringan dan atap RS berwarna biru. Material pembangunan dikirim menggunakan ekspedisi laut dari Jakarta, yang perjalanannya bisa memakan waktu satu bulan. Material terakhir dilaporkan tiba di Pelabuhan Galela akhir Juni lalu. Sehingga pekerjaan pemasangan atap dimulai Juli saat ini. Semua dapat terwujud semata-mata atas pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, juga didukung oleh doa dan shadaqah dari warga lokal, Pemda dan rakyat Indonesia, dari Sabang hingga Merauke. Sementara itu, Tim MER-C Pusat dengan ketua tim, Faried Thalib sedang berkunjung ke Galela untuk melakukan supervisi pekerjaan atap bangunan. Faried Thalib, Kepala Divisi Konstruksi MER-C itu mengatakan, meski sebagian besar energi MER-C sedang fokus pada proses pembangunan RSI di Gaza, namun MER-C terus akan berusaha sekuat tenaga menyelesaikan proses pembangunan RS Galela ini. (L/P01/P015/P02). Sumber : http://www.mirajnews.com/indonesia/7240-mer-c-segera-selesaikan-pembangunan-rs-galela.html
Ramadhan MER-C Tetap Jalankan Tugas Kemanusiaan

Jakarta, 11 Ramadhan 1434/19 Juli 2013 (MINA) – Selama bulan puasa Ramadhan Medical Emergency Committee (MER-C) tetap bertugas menjalankan amanahnya di bidang kemanusiaan di sejumlah lokasi di Indonesia maupun di Jalur Gaza, Palestina. Di antaranya, pengiriman sejumlah 11 relawan membantu korban gempa di Aceh Tengah, NAD. Mereka terdiri dari : 3 dokter, 4 perawat, 1 psikolog, 1 logistik, 2 driver. Sejumlah 33 relawan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza selama Ramadhan juga tetap melanjutkan pembangunan, walaupun lebih banyak dilaksanakan malam hari, rilis Presidium MER-C dr. Joserizal Jurnalis,Sp.OT, yang diterima redaksi Mi’raj News Agency (MINA), Kamis (18/7). Kegiatan lainnya, penempatan siaga dokter dan perawat di Klinik Sosial MER-C di daerah Timika (Papua), Sorong dan Raja Ampat (Papua Barat). Menurutnya, MER-C juga menempatkan tenaga medis dokter dan perawat yang bertugas melayani kesehatan dalam program Klinik BNI Berbagi MER-C di 25 wilayah seluruh Indonesia. Ada juga penempatan seorang relawan teknis yang bertugas mengawasi pembangunan atap Rumah Sakit Galela, Halmahera Utara, Maluku Utara. “Semoga semua itu menjadi amal shalih bersama, khususnya pada bulan Ramadhan ini,” ujar Joserizal. Pemasangan Atap RS Galela Sementara itu di wilayah Timur Indonesia, MER-C tengah melanjutkan pembangunan Rumah Sakit di Galela, Maluku Utara. Setelah sempat terhenti beberapa saat, atas shadaqah donasi dari masyarakat, RS MER-C di Galela di atas luas bangunan 2.800 m2 memasuki tahap arsitektur. “Kali ini fokus pekerjaan adalah pemasangan rangkap atap baja ringan dan atap RS berwarna biru. Material rangka baja ringan dan atap semua dipesan dan dibuat di Jakarta,” ujar Jose, sapaan akrabnya. Catatan laporan MER-C menyebutkan, material pembangunan dikirim menggunakan ekspedisi laut dari Jakarta, yang perjalanannya bisa memakan waktu satu bulan. Material terakhir dilaporkan tiba di Pelabuhan Galela akhir Juni lalu. Sehingga pekerjaan pemasangan atap dimulai Juli saat ini. Menurutnya, hal ini semua dapat terwujud semata-mata atas pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, juga didukung oleh doa dan shadaqah dari warga lokal, Pemda dan rakyat Indonesia, dari Sabang hingga Merauke. Ketua Divisi Konstruksi MER-C, Ir. Farid Thalib mengatakan, Tim MER-C Pusat direncanakan pekan depan berkunjung ke Galela untuk melakukan supervisi pekerjaan atap bangunan. Setelah itu, dalam bulan ini juga berharap izin visa via Mesir bisa keluar, sehingga Tim dapat melakukan supervisi pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza. Khusus RS Galela, bagi masyarakat yang ingin menitipkan shadaqah donasinya dapat melalaui BNI Cab. Kramat, No. Rek. 0140600983, a/n. Medical Emergency Rescue Committee. (L/P06/R1). Sumber : http://www.mirajnews.com/indonesia/7000-ramadhan-mer-c-tetap-jalankan-tugas-kemanusiaan.html
Safari Ramadhan Relawan RS Indonesia di Gaza

Gaza, 7 Ramadhan 1434/ 15 Juli 2013 (MINA) – Relawan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Ir. Edy Wahyudi, melaporkan kegiatan para relawan RS Indonesia (RSI) di Gaza dalam bulan Ramadhan ini. “Kegiatan para relawan RSI di Gaza pada bulan Ramadhan yaitu, sholat Tarawih berjamaah, sebagian dengan safari Ramadhan, yaiut shalat Tarawih dengan berpindah-pindah masjid setiap harinya”, kata Edy Wahyudi melalui rilis yang diterima Mi’raj News Agency (MINA), Senin (15/7). Gambar Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza terbaru. (dokumen MER-C) Menurut Edy Wahyudi, site manager pembangunan RSI Gaza, sebagian relawan RSI di Gaza sholat Tarawih berjamaah di lantai dasar RSI, dimulai sekitar pukul dua dini hari waktu Gaza, dengan bacaan murotal Al Qur’an satu juz setiap malamnya yang diimami oleh Reza Adilla Kurniawan, salah seorang Relawan yang hafal 30 juz Al Qur’an. Kemudian kata Edy, dalam shalat witir, para Relawan melakukan doa qunut untuk memohon pertolongan Allah bagi kembalinya Masjid Al-Aqsha kepangkuan muslimin, dan berharap Allah memenangkan muslimin dari penindasan kaum kafir di seluruh negeri muslim. Sebelumnya, dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) cabang Gaza mengadakan acara silaturahmi ke warga sekitar lokasi RSI, pada Ahad, (7/7). Acara itu diadakan usai sholat maghrib di masjid Zawiyah yang terletak di sebelah utara RSI. Masjid Zawiyah adalah masjid di mana relawan RSI biasa menunaikan kewajiban shalat lima waktu. Imam Besar masjid Zawiyah, Akram Nashar Abu Al-Amin, menyampaikan keutamaan Ramadhan dan menjaga Al-Qur’an dengan menghafalnya. Mewakili MER-C merupakan inisiator RSI dan relawan RSI, Muhammad Husein menyampaikan pesan dan kesan dari MER-C. Pada kesempatan tersebut, para relawan juga memberikan bantuan bagi guru tahfidz dan kegiatan operasional masjid, pembagian bingkisan berupa tas, mushaf Al-Qur’an, alat tulis dan bantuan dana bagi anak-anak penghafal Qur’an di masjid tersebut. Edy juga melaporkan, selama menunaikan puasa pada Ramadhan, para relawan RSI masih terus melakukan proses pembangunan tahap kedua, berupa pekerjaan arsitektur dan ME (mechanical electrical). “Alhamdulillah, para relawan tetap bersemangat walau setelah sholat Subuh melanjutkan pekerjaan amal sholih pembangunan RS Indonesia di mulai pukul 05.00 pagi hingga pukul 12.30 siang,” tambah Edy. RSI di Gaza menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina dimana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Dalam pembangunan RSI ini, MER-C bekerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Fatah Indonesia yang telah mengirim 33 relawan ke Gaza. Pembangunan sekarang memasuki tahap kedua, berupa pekerjaan arsitektur dan mechanical electrical (ME). Pekerjaan tahap ini dilakukan oleh relawan Indonesia yang seluruhnya sukarelawan yang tidak dibayar (unpaid volunteers). Pembangunan RSI dijadwalkan selesai akhir tahun 2013. (T/P015/P02) Sumber : http://www.mirajnews.com/indonesia/6843-ramadhan-laporan-relawan-rs-indonesia-di-gaza.html
Selama Ramadan, MER-C Indonesia Tetap Bekerja

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Selama Ramadan, organisasi masyarakat, MER-C Indonesia dipastikan tetap bekerja seperti biasa untuk melayani masyarakat Aceh yang baru saja tertimpa bencana gempa bumi. Dalam siaran pers yang diterima Tribunnews.com, Selasa (9/7/2013), MER-C yang telah mengirimkan tim medisnya ke Aceh, tetap akan bertugas selama Ramadan. “11 relawan (3 dokter, 4 perawat, 1 psikolog, 1 logistik dan 2 sopir) untuk membantu korban gempa di Aceh Tengah, NAD,” bunyi rilis tersebut. Selain itu, sejumlah program kerja yang sudah berjalan, akan tetap digarap pada bulan ini. “33 relawan pada Program Pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Selama Ramadan pekerjaan pembangunan biasanya akan dilakukan pada malam hari bada sholat tarawih sampai dengan jam 9 pagi esok harinya. Sementara, satu relawan teknis yang saat ini bertugas mengawasi pembangunan atap RS MER-C di Galela, Halmahera Utara, Maluku Utara. SDM Dokter dan Perawat yang bertugas di Klinik Sosial MER-C di wilayah Timika (Papua), Sorong dan Raja Ampat (Papua Barat). SDM dokter dan perawat yang bertugas pada program klinik BNI BERBAGI -MER-C di 25 wilayah Indonesia. Sumber : http://www.tribunnews.com/regional/2013/07/09/selama-ramadan-mer-c-indonesia-tetap-bekerja
MER-C Buka Klinik Keliling Ke Lokasi Terisolir Gempa Aceh

Jakarta, 29 Sya’ban 1434/8 Juli 2013 (MINA) – Tim Medis MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) Pusat Jakarta bersama MER-C Cabang Medan sudah mulai membuka posko sejak Sabtu (6/7) di Kampung Ratawali, Kecamatan Kute Panang, Kabupaten Aceh Tengah. Saat ini, Tim Medis MER-C melakukan klinik keliling (mobile clinic) dengan menggunakan ambulans untuk mencari lokasi terisolir yang belum terjangkau bantuan medis. Tim MER-C dipandu Satuan Koordinator Pelaksana (Satkorlak) pemerintah setempat menuju lokasi terisolir, yaitu di Kampung Jaluk, Kecamatan Ketol. Di kecamatan ini tercatat, sebanyak 31 kampung terkena dampak gempa. “Selain memberikan bantuan pengobatan, Tim MER-C juga melakukan pendataan korban gempa yang memerlukan penanganan lebih lanjut, seperti operasi bedah tulang,” kata Manajer Operasional MER-C, Rima, kepada Mi’raj News Agency (MINA). Tim dokter MER-C saat ini berfokus memberikan bantuan medis bagi korban gempa di Kabupaten Aceh Tengah. Hal ini dikarenakan Kabupaten ini mengalami dampak yang luas akibat gempa, katanya. Berdasarkan informasi resmi Bupati Aceh Tengah, gempa melanda 12 kecamatan dari 14 kecamatan di wilayah ini atau sekitar 85,71 %. Jumlah kampung yang mengalami dampak kerusakan akibat gempa mencapai 232 kampung dari 352 kampung yang ada atau sekitar 65,50 %. Sedangkan jumlah warga yang mengungsi diperkirakan 5.000 jiwa. Belum termasuk warga yang mengungsi di depan atau halaman rumah mereka dengan membuat tenda sederhana. Rima menambahkan, masyarakat yang ingin berpartsiipasi memberikan donasi bantuan bagi korban gempa Aceh melalui Rekening MER-C amanah Aceh BSM 701.5658.937 atas nama Medical Emergency Rescue Committee, atau datang langsung ke Kantor MER-C Pusat Jalan Kramat Lontar J-157 Senen, Jakarta Pusat, telepon dan faksimili (021) 3159235 atau pesan singkat 0811990176. Siap Relawan Sementara itu, warga Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Niyabah Sukabumi, Jawa Barat dalam Ta’lim Niyabah dan Dialog dengan Redaktur Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj News Agency) Ahad (7/7), mengatakan kesiapan warga setempat jika diperlukan beramal sholeh sebagai relawan membantu korban gempa Aceh. Warga Sukabumi mengetahui perjalanan Tim Medis MER-C dan informasi perkembangan dunia Islam pada umumnya melalui Radio Silaturahim (Rasil), yang kini telah memiliki pemancar di Sukabumi. “Suaranya terdengar jelas dengan adanya pemancar di sini,” ujar Ahmad Hudaya, tokoh masyarakat setempat. Menurutnya, umat Islam di wilayah Sukabumi merasa tercerahkan dengan kehadiran Radio Silaturahim membawa misi untuk Islam yang satu. Banyak pejabat dan tokoh ulama mendengarkan Rasil melalui radio mobil dalam perjalanannya. (L/R1). Sumber : http://www.mirajnews.com/indonesia/6588-mer-c-buka-klinik-keliling-ke-lokasi-terisolir-gempa-aceh.html
Ulama Palestina Kunjungi Keluarga Relawan rumah Sakit Indonesia Di Gaza

Wonogiri, Jawa Tengah, 28 Sya’ban 1434/7 Juli 2013 (MINA) – Ketua Rabithah Ulama Palestina, Syeikh Prof. Dr. Muhammad Mahmud Shiyam kunjungi keluarga relawan Rumah Sakit Indonesia di Gaza. “Darah yang mengalir dan nafas yang dihembuskan suami dan anak-anak mereka di Gaza akan mengalir pula pahala yang sama kepada mereka di kampung halaman bila mereka ikhlas dan bershabar merelakan mereka berjihad,” kata Syeikh Shiyam dalam bahasa Arab yang diterjemahkan oleh Ustadz Yakhsyallah Mansur, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Fatah, rabu, (3/7). “Saya kagum kepada mereka, meskipun di daerah, tetapi semangat membebaskan Masjid Al-Aqsha tetap tinggi.” Ujarnya. Imam dan Khatib Masjid Al Aqsha periode 1984-1988 itu berkunjung ke Indonesia dan Malaysia dalam rangka safari dakwah dan mensosialisasikan perjuangan pembebasan Al-Aqsha dan Palestina pada khususnya serta perjuangan dunia Islam umumnya. Beberapa kota yang dijadwalkan untuk dikunjungi dalam safarinya selama Ramadhan, antara lain; Jakarta, Bogor, Bandar Lampung, Balikpapan, Kupang, Batam, dan Kuala Lumpur. Rumah Sakit Indonesia di Gaza Rumah Sakit Indonesia di Gazamenjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina dimana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Dalam pembangunan RSI ini, MER-C bekerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Fatah Indonesia yang telah mengirim 33 relawan ke Gaza. Pembangunan sekarang memasuki tahap kedua, berupa pekerjaan arsitektur dan mechanical electrical (ME). Pekerjaan tahap ini dilakukan oleh relawan Indonesia yang seluruhnya sukarelawan yang tidak dibayar (unpaid volunteers). Pembangunan RSI dijadwalkan selesai akhir tahun 2013. (L/P06/P015/R2). Sumber : http://www.mirajnews.com/indonesia/6558-ulama-palestina-kunjungi-keluarga-relawan-rumah-sakit-indonesia-di-gaza.html
MER-C Kirim Tim Medis Ke Lokasi Gempa Aceh

Jakarta, 27 Sya’ban 1434/6 Juli 2013 (MINA) – Lembaga kegawatdaruratan medis MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) Pusat Jakarta hari ini mengirimkan tim medis untuk membantu pengobatan korban gempa Aceh. Tim Medis yang dikirim terdiri dari tiga dokter, satu perawat bedah dan satu tenaga logistik bertolak ke Banda Aceh melalui jalur udara, Sabtu pagi (6/7). Tim MER-C Pusat akan melanjutkan perjalanan melalui jalur darat ke lokasi bencana gempa bumi di Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Aceh Tengah, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Tim Medis Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Medan melakukan mobile clinic (pengobatan medis keliling) di desa Kelumpang Payung, Kab. Bener Meriah, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), 5 Juli 2013. (Doc. MER-C) “Tim MER-C Pusat akan bergabung dengan Tim MER-C Medan yang sudah tiba lebih dulu di lokasi dan melakukan mobile clinic (pengobatan medis keliling) ke wilayah-wilayah gempa yang masih minim dari jangkauan bantuan medis,” kata Manajer Operasional MER-C, Rima dalam rilis yang diterima Mi’raj News Agency (MINA). Sebelumnya, Kamis (4/7), MER-C Cabang Medan mengirimkan tim awal yang terdiri dari tiga perawat dan satu nonmedis ke lokasi bencana gempa di Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Aceh Tengah. Kedatangan Tim Dokter dari MER-C Pusat Jakarta, selain untuk melengkapi susunan Tim Medis, juga akan melakukan pendataan korban gempa yang memerlukan penanganan lebih lanjut seperti operasi bedah tulang. Hal itu dikarenakan pada bencana gempa bumi korban-korban yang biasa ditemui adalah korban-korban yang mengalami patah tulang akibat terkena atau tertimbun reruntuhan bangunan. “Untuk itu, apabila diperlukan, MER-C akan mengirimkan Tim lanjutan berupa Tim Bedah,” kata Rima. 36 Meninggal, 16.000 Mengungsi Menurut Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), memasuki hari kelima pasca gempa 6,2 SR di Aceh, hingga Sabtu (6/7) tercatat jumlah korban meninggal 36 orang, yaitu 9 orang di Bener Meriah dan 27 orang di Aceh Tengah. Gempa 6.2 SR di Aceh dinyatakan sebagai bencana tingkat provinsi oleh Gubernur Aceh karena menyangkut dua kabupaten yang terdampak parah yaitu Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Aceh Tengah. Masa tanggap darurat ditetapkan selama dua pekan yaitu 3-17 Juli 2013. “Pencarian dan penyelamatan korban oleh tim SAR gabungan masih terus dilakukan karena dilaporkan masih ada delapan orang hilang di Aceh Tengah,” kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB melalui rilis resmi BNPB yang diterima Mi’raj News Agency (MINA). Sementara jumlah pengungsi dilaporkan mencapai 16.000 jiwa, terdiri dari 12.500 jiwa di Kabupaten Bener Meriah dan 3.500 jiwa di Kab. Aceh Tengah. “Pengungsi ada yang tersebar di titik-titik pengungsian tetapi juga ada yang di halaman rumahnya. Masyarakat sebagian masih trauma tinggal di rumah,” ungkap Sutopo. Sementara itu, gempa susulan masih terjadi, tercatat 23 kali gempa susulan pasca gempa 6,2 SR pada 2 Juli 2013 lalu. (T/P02/R1) Sumber : http://www.mirajnews.com/indonesia/6543-mer-c-turunkan-tim-medis-ke-wilayah-gempa-aceh.html
Perkembangan Mujahid di Jalur Gaza Kini

Jakarta, 22 Syaban 1434/2 Juli 2013 (MINA) Relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dalam pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) Nur Ikhwan Abadi menyampaikan beberapa perkembangan para relawan lainnya yang berada di Jalur Gaza Palestina. Sejak dikumandangkan Ghazwah Fathul Aqhsa oleh Imamul Muslimin pada tahun 2006, berbagai usaha dilakukan untuk mengembalikan Masjid Al-Aqsha yang dikuasai Zionis Yahudi. Usaha-usaha tersebut dilakukan meliputi seminar-seminar, konferensi, tabligh akbar, long march cinta Al-Aqsha, bedah buku, kajian-kajian tentang Aqsha yang dilakukan hampir di seluruh Indonesia, kata Nur Ikhwan pada Tabligh Akbar yang diselenggarakan Pondok Pesantren Al-Fatah pada 20-21 Syaban 1434/29-30 Juni 2013 di Masjid At-Taqwa, Pasirangin, Cileungsi-Bogor. Tahun 2009 sejumlah 25 orang dikirim ke Yaman untuk belajar tentang Al-Aqsha dan Palestina, baik dari sejarah atau topograpi. Pada tahun yang sama sejumlah 68 orang diberangkatkn ke Jantung Palestina, guna melihat secara langsung kondisi al-Aqsha. Dengan izin Allah semua pasukan tersebut dapat masuk ke Al-Quds dan melihat kondisi secara langsung, kata pembicara pertama pada Tabligh Akbar yang bertema Dengan Ramadhan Kita Tingkatkan Ukhuwah Khairu Ummah Menuju Pembebasan Masjid Al-Aqsha di Tengah Hegemoni Barat itu. Kondisi yang sangat mengenaskan, masjid suci ketiga kaum muslimin dijaga ketat oleh zionis Yahudi, untuk memasukinya saja dibatasi umur dan waktu. Waktu hanya dari jam 4 pagi hingga 10 malam. Selebihnya ditutup dan tidak ada yang boleh masuk. Pembatasan umur juga dilakukan hanya orang tua sepuh yang boleh masuk, sedangkan yang masih muda berusia dibawah 50 tahun dilarang masuk dan beribadah di sana, kata pemuda yang sempat mengkibarkan bendera hitam liwa rasulullah bertuliskan الله اكبر di Halaman Masjid Al-Aqsha itu. Tahun 2010 dengan izin Allah, Jama’ah Mulimin (Hizbullah) diberikan kenikmatan untuk lebih dekat dengan Al-Aqsha. Bekerja sama dengan MER-C membangun Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Bait Lahiya, Gaza, kata relawan binaan Jamaah Muslimin (Hizbullah) yang sudah 3 tahun lebih di Gaza, Palestina itu. Jama’ah Muslimin (Hizbullah) mengirimkan Nur Ikhwan Abadi dengan melakukan pelayaran bersama para relawan dari seluruh dunia menggunakan kapal Mavi Marmara, Freedom Flotilla atau armada kebebasan bergabung dengan para aktivis kemanusiaan yg dimotori IHH Turki menembus jalur Gaza yang diblokade Zionis Israel secara ilegal. Di tengah laut internasional, Laut Mediterania, kapal penumpang lebih dari 600 org tersebut dibajak dan dirampok oleh Zionis Yahudi, kata Relawan MER-C asal Lampung itu. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengerahkan pasukan komando elitnya untuk mengepung para aktivis. Setelah barang-barang dirampok, para aktivis dijebloskan ke penjara dan diinterogasi, kemudian diberi makan yang mengandung racun arsenik yang sangat berbahaya. 9 orang dari Turki tewas, serta puluhan lainnya luka-luka, ucap ayah dari dua anak itu. Enam bulan berselang kembali diutus 5 relawan untuk memperkuat shaf, di antaranya Ir. Edy Wahyudi, Ir. Ahmad Fauzi, Ust Abdurrahman Parmo, Darusman dan Muhammad Husain. Setelah berjalan 1 tahun lebih keenam relawan membantu proses pembangunan tahap awal. Setelah selesainya tahap pertama yang berupa struktur pada bulan Mei 2012, kata Ikhwan. Tahap awal pembangunan RSI dikirim 4 relawan berasal dr Wonogiri, Jawa Tengah Selatan untuk mempersiapkan tempat tinggal relawan di basement RSI, kemudian setelah selesai 4 bulan berselang kembali dikirim 23 relawan untuk membantu menyelesaikan bangunan RSI tersebut, kata Ikhwan. Selain membantu RSI, para relawan juga mengikuti beberapa kegiatan seperti 3 orang yang diterima kuliah dengan bea siswa di Universitas Islam Gaza. Mereka adalah Muhammad Husain, Reza Adilla Kurniawan, dan Muqarrabin al-Fikri. Dan Ustadz Sholeh Iskandar yang ikut magang di kantor pusat Darul Quranul Karim was Sunnah. Lantas setiap hari selepas shalat Shubuh para relawan belajar bahasa Arab dan selepas Maghrib menghafal al-Qur’an, kata Ikhwan. November 2012, Gaza kembali dilanda perang besar. Namun atas pertolongan Allah para relawan diberikan rasa tenang tanpa merasa takut atas serangan tersebut. Hampir ratusan bom meledak di sekitar lokasi RSI. Perang tersebut tercatat sejumlah korban, 200 gugur, puluhan di antaranya adalah wanita dan anak-anak, 1400an luka-luka, baik luka berat atau luka ringan kata Ikhwan. Dalam perang yang dinamakan Hijaratus Sijjil itu Israel terus-terusan menyerang Gaza dengan intensitas tinggi selama delapan hari. Berbagai dukungan datang agar para relawan menyelamatkan diri dari serangan Israel, Sebenarnya kami sudah diminta pindah dari RSI mengingat lokasi tersebut sangat rawan. Permintaan tersebut datang dari berbagai pihak mulai dari MER-C sendiri, teman-teman di Gaza, pemerintah Gaza juga para pejuang yang ada di front terdepan meminta semua ikhwan untuk pindah dari lokasi RS, karena jarak antara RS Indonesia dan perbatasan lebih kurang 3 km, dikhawatirkan jika terjadi perang darat maka yang terlebih dahulu menjadi sasaran adalah RS tersebut. Namun kami tetapi istiqomah memohon pertolongan Allah setelah melakukan istikhoroh dan mempertimbangkan bahwa RS ini adalah amanah dari rakyat Indonesia yang harus dipertahankan dan dijaga, katanya. Menurut Ikhwan, lokasi RSI berada dekat dengan perbatasan. Di sisi bagian depan sekitar 20 meter adalah tempat latihan para pejuang Gaza. Di sisi sebelah kiri atas merupakan sebuah bukit yang juga tempat latihan para pejuang. Sehingga pada saat perang berlangsung kedua tempat tersebut menjadi sasaran Israel dan dibombardir sedemikian rupa. Tujuh tahun berselang, sejak amanah Ghazwah Fath Al-Aqsha dikumandangkan, saat ini dengan takdir dan pertolongan Allah jejak Khilafah ‘ala min hajin nubuwwah sudah berada di Gaza, yang berjarak 80 km dari Masjid Al-Aqsha. Semoga ini menjadi sebuah sinyal dari Allah, dengan demikian dekatnya ke Masjid Al-Aqsha akan lebih memotivasi kita, bahwa sesuatu yang tidak mungkin, sesuatu yang tadinya hanya sebuah hayalan semata, bahkan tidak sedikit orang yang mencibir dan meremehkan, saat ini perlahan mulai menjadi kenyataan, mulai Allah tampakkan kemudahan-kemudahan dan pertolongannya. Kuncinya, bersungguh-sungguh di jalan Allah dalam memperjuangkan Al-Aqsha untuk kembali ke pangkuan muslimin. ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, Al Aqsha Haqquna, tegas Nur Ikhwan. (L/P06/P013/R2). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/6372-perkembangan-mujahid-di-jalur-gaza.html
Tim Pembela Muslim Tegur Keras Media Penyebar Fitnah

Jakarta, 17 Syaban 1434/26 Juni 2013 (MINA) Ketua Dewan Pembina Tim Pembela Muslim (TPM) Muhammad Mahendradatta,M.H. menegur keras media online dan jejaring sosial yang dengan mudah menyebarkan berita-berita yang berpotensi memunculkan fitnah sesama umat Islam. Mahendradatta menanggapi fitnahan yang menimpa rekannya dr. Joserizal Jurnalis, Presidium MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) yang diberitakan sebagai syiah atau simpatisan syiah, padahal media yang bersangkutan belum mengadakan wawancara langsung dengan yang bersangkutan. Media online atau siapapun, terlebih media Islam, jangan mudah membuat dan menyebarkan berita yang memunculkan fitnah, apalagi terhadap sesama muslim, katanya dalam acara diskusi bertema Kenapa Suriah di Universitas Yarsi Jakarta, Rabu (26/6). Lebih lanjut Mahendradatta mengatakan agar semua elemen umat Islam merapatkan barisan dan menghindari saling serang satu sama lain. Justru media Islam itu harus menjadi pemersatu demi terciptanya persatuan dan kesatuan antara sesama umat Islam. Bukan malah menjadi ajang fitnah dan perpecahan, tambahnya. Mahendradatta mengingatkan adanya undang-undang pencemaran nama baik melalui media online yang perlu diperhatikan. Jika itu dilanggar, sanksinya sudah pasti berat dan itu akan merugikan semua pihak. Yang terbaik tentu tetap mengedepankan prinsip ukhuwah Islamiyah agar tidak terjebak ke dalam perpecahan sesama umat Islam, tegasnya. Namun demikian, TPM siap memberikan bantuan hukum apabila ada media yang mencemarkan nama baik dr. Joserizal Jurnalis dan Lembaga Kemanusiaan MER-C, yang hingga kini sedang menyelesaikan pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. RS Indonesia di bumi Palestina merupakan persembahan persaudaraan umat Islam Indonesia kepada warga Palestina yang sangat membutuhkan layanan kesehatan sehari-hari. TPM selama ini dikenal karena menangani berbagai kasus kontroversial, mulai dari pembelaan hukum terhadap Ustadz Jafar Umar Thalib, Panglima Laskar Jihad Ahlus’sunnah Wal Jamaah (Aswaja), Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, juga beberapa terdakwa seperti Amrozi, Imam samudera dan Ali Ghufron Sementara itu, salah seoran relawan kemanusiaan dan salah satu pendiri MER-C dr Henry Hidayatullah merasa sedih dan prihatin atas fitnah yang menyebut dr. Joserizal dan Lembaga Kemanusiaan MER-C terkait isu syiah di dalamnya. Menurutnya, sepanjang dirinya mengikuti perjalanan jihad bersama Joserizal ke berbagai medan konflik mulai dari Ambon, Tual, Saparua, Sudan, Afghanistan sampai Gaza, hingga sekarang. Dirinya menyaksikan bahwa dr Joserizal dan Lembaga Kemanusiaan MER-C bukan syiah. (L/P04/P06/P10/P015/R1). Sumber http://mirajnews.com/indonesia/6232-tim-pembela-muslim-tegur-keras-media-penyebar-fitnah.html
Joserizal Jurnalis: Hentikan Perang Suriah

Jakarta, 17 Syaban 1434/26 Juni 2013 (MINA) Aktivis Lembaga Kemanusiaan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dr. Joserizal Jurnalis,Sp.OT. menyerukan hentikan perang di Suriah. Mereka harus duduk bersama untuk berunding, sehingga tidak menambah jumlah korban dari warga, ujar Joserizal, pada Diskusi Terbuka Kenapa Suriah di Universitas Yarsi Jakarta, Rabu (26/6). Menurutnya, salah satu upayanya adalah dengan mengijinkan lembaga kemanusiaan internasional untuk masuk ke Suriah membantu kedua belah pihak. Lembaga kemanusiaan termasuk MER-C harus diizinkan masuk membantu kedua belah pihak yang bertikai dengan membawa prinsip netralitas dan independen, ujar Presidium MER-C yang bersama groupnya sedang membangun Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza tersebut. Rancangan Zionis Dalam presentasinya, Joserizal mengungkapkan bahwa konflik berdarah yang terjadi di Suriah sudah dirancang oleh Zionis melalui program yang dikenal dengan istilah Novus Ordo Seclorum atau era zaman baru yang sekuler. Melalui program ini, Zionis membuat rancangan rahasia ditujukan kepada negara-negara yang menentang Israel agar menjadi negara kecil dan lemah, sehingga tak berdaya menghadapi kekuatan Zionis. Zionis mengetahui, bahwa Suriah secara fakta dan data membuktikan memang selama ini dikenal sebagai negara yang sering menentang kebijakan Israel, katanya. Suriah juga dikenal sebagai negara yang kuat dalam bidang militer dan intelejen. Hal ini terbukti ketika mereka berperang melawan Israel pada 1967 dan 1973, ungkap aktivis kemanusiaan yang juga pernah terjun langsung di Mindanau Selatan, Kashmir, Pattani, Lebanon dan Darfur. Untuk itu, sebagai bagian dari upaya kemanusiaan meredam konfik Suriah, hendaknya sesama kaum muslimin di belahan dunia lainnya yang mengiktui perkembangan Suriah, dituntut saling menghormati, menghargai dan menjaga ukhuwah Islamiyah. Kalau kita pernah terjun ke medan perang, kita pasti tidak galak sesama umat Islam. Sebab musuh kaum muslimin satu, Zionis. Jangan kita jadi alat permainan mereka, tegas dokter yang aktif dalam dunia kegawatdaruratan sejak 1999 itu. Tampil sebagai pembicara lain, Drs. M.Hamdan Basyar,M.Si (Peneliti LIPI), Jerry D. Gray (Penulis dan Pengamat Politik Internasional), sambutan dr. Sarbini Abdul Murad, serta dipandu Moderator Zulfatan Faizin (Metro TV). (L/P04/P06/P10/P015/R1). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/6230-joserizal-jurnalis-hentikan-perang-konflik-suriah.html