MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

RS Ananda Group Serahkan Bantuan Kemanusiaan untuk Palestina Melalui MER-C

Bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-23, Rumah Sakit Ananda Group Pada hari Rabu, 29 Januari 2025 menyerahkan bantuan kemanusiaan yang akan disalurkan kepada pengungsi Palestina melalui Medical Emergency Rescue Committee (MER-C).  Bantuan yang tekumpul dari donasi karyawan RS Ananda Bekasi ini diserahkan oleh Komisaris PT. Rajut Ananda Hidup Mandiri Ibu Hj. Lidesma, M.Si kepada perwakilan MER-C yang hadir dalam acara tersebut yaitu Presidium MER-C dr. Zecky Eko Triwahyudi, Sp.OT., Kepala Divisi Humas Diana Caroline dan Sri Baeti, relawan MER-C yang bertugas di Jalur Gaza pada awal tahun 2023.  Dalam kesempatan itu, dr. Zecky memaparkan sejumlah program yang saat ini dilakukan oleh MER-C di Palestina, di antaranya rekonstruksi Rumah Sakit Indonesia di Gaza, peningkatan peralatan medis, pembangunan menara baru yang akan digunakan sebagai klinik spesialis, serta peluncuran berbagai program kesehatan penting seperti pengobatan darurat dan program WASH (Air, Sanitasi, dan Higiene). Ia mengatakan MER-C akan terus berkomitmen untuk memberikan bantuan kemanusiaan dan mendukung pembangunan infrastruktur kesehatan di Palestina melalui berbagai program yang telah dijalankan. Acara ini juga sebagai wujud semakin eratnya kerja sama antara RS Ananda Group dan MER-C, serta menunjukkan semakin banyak pihak yang peduli terhadap nasib pengungsi Palestina dan kondisi kesehatan di daerah konflik.    

Bantuan Terus Berlanjut, MER-C Kembali Berangkatkan Tim Medis ke Jalur Gaza

Meski genjatan senjata antara penjajah Israel dan Hamas telah disepakati, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C tetap berkomitmen melanjutkan bantuan untuk warga Gaza, salah satunya dengan kembali mengirimkan tim medis ke Jalur Gaza. Pada Kamis (23/1), Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-7 yang tediri dari empat relawan yatu dua dokter spesalis penyakit dalam DR. dr. Hadiki Habib, Sp.P.D, Sp.Em., dan dr. Ni Nyoman Indirawati Kusuma, Sp.P.D., satu dokter spesialis bedah saraf dr. Eka Budhi Satyawardhana, Sp.BS., serta satu perawat Puren Prasetiyadi, Amd.Kep diberangkatkan dari Jakarta untuk bertugas di Jalur Gaza. Ketua Presidium MER-C yang juga menjadi Ketua Tim EMT ke-7 dr. Hadiki Habib mengatakan, rencananya, Tim EMT MER-C ke-7 ini akan bertugas selama satu setengah bulan di Jalur Gaza. “Tugas kita kali ini adalah melakukan pelayanan kesehatan di wiayah Gaza, khususnya di pelayanan medis perawatan pasca perang dan perawatan kasus trauma, serta kemudian menjajaki kemungkinan rencana rehabilitasi RS Indonesia di Gaza Utara,” ujarnya.   ia juga berharap, dengan situasi yang saat ini relatif dianggap lebih baik, mobilisasi bisa lebih mudah sehingga proses komunikasi dan koordinasi bisa lebih cepat.   “Kita sama-sama berdoa agar situsasi ini dapat terus bertahan dan semakin baik, sehingga masyarakat yang mengalami krisis kemanusiaan di Jalur Gaza bisa mendapatkan bantuan yang seharusnya,” kata dr. Hadiki.

MER-C Sampaikan Rencana Rekonstruksi RS Indonesia dalam Konferensi Internasional Gaza: Beat of the Heart di Yordania

Presidium Medical Emergency Rescue Committe (MER-C) DR. Ir. Ahyahudin Sodri, MSc menyampaikan rencana rekonstruksi Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara dalam Konferensi Internasional Gaza: Beat of the Heart di Amman, Yordania, yang digelar pada 23-24 Januari 2025. Dalam kesempatan tersebut, Ahyahudin memaparkan rencana rekonstruksi RS Indonesia serta pengadaan alat-alat kesehatan yang mengalami kerusakan, agar RS Indonesia secepatnya bisa beroperasi kembali, juga rencana pengembangan layanan poliklinik untuk menambah kapasitas pelayanan rawat jalan pasien yang berkunjung ke RS Indonesia. Dalam paparannya, Ahyahudin juga menjelaskan proses pembangunan RS Indonesia yang merupakan komitmen dan amanah dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina.  Selain itu, ia menyampaikan kerja kemanusiaan yang dilakukan oleh MER-C di Jalur Gaza, sejak tahun 2009 hingga 2024. Ia mengatakan, sejak awal agresi 7 Oktober 2023 MER-C telah pengiriman Emergency Medical Team (EMT) untuk merespon krisis kesehatan yang terjadi di Jalur Gaza. Sejauh ini, MER-C telah mengirimkan 7 tim yang terdiri dari dokter umum dan spesialis, bidan serta perawat.  Konferensi yang digelar oleh Jordanian Medical Association ini bertujuan untuk memberdayakan serta memulihkan layanan kesehatan penting di Gaza, melalui proyek-proyek khusus yang dipresentasikan selama Konferensi. Konferensi ini dihadiri berbagai organisasi internasional, regional, dan lokal. MER-C mengirimkan empat delegasi untuk mengikuti Konferensi ini yaitu Presidium MER-C DR. Ir. Ahyahudin Sodri, MSc, Ketua EMT MER-C Indonesia dr. Arief Rachman, SpRad, Liaison Officer EMT MER-C Indonesia Nanang Khoirino serta Ketua Divisi Relawan MER-C dr. Guntur Utama Putera, SpOT.

Jusuf Kalla Apresiasi Kerja Kemanusiaan MER-C

Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) M Jusuf Kalla mengapresiasi kerja kemanusiaan yang telah dilakukan oleh Medical Emergency Rescue Committee (MER-C). “Apresiasi dan terima kasih kepada MER-C yang mengabdi kerja kemanusiaan sampai ke Gaza, sejak dulu telah mendirikan rumah sakit di Gaza,” kata Jusuf Kalla saat menerima kunjungan MER-C pada Selasa (21/1), di Kantor Pusat PMI, di Jakarta. “Mudah-mudahan ini berlanjut terus, ini amal yang sangat tinggi di antara kita semua,” tuturnya. MER-C pada kunjungan ini diwakili oleh tiga anggota presidium yaitu DR. dr. Yogi Prabowo, SpOT, SubSp.Onk.Orth.R(K) Sp.Em, dr. T. Meaty Fransisca, dan dr. Zecky Eko Triwahyudi, Sp.OT. Dr. Yogi dalam kesempatan itu menyampaikan terkait perkembangan terkini misi MER-C di Jalur Gaza , Palestina dan untuk Rohingya. Sementara itu, dr. T. Meaty Fransisca, yang baru kembali dari bertugas di Afghanistan juga menyampaikan update misi dan program kemanusiaan MER-C di sana, khususnya di wilayah Herat pasca gempa. dr. Mea juga menyampaikan harapan Gubernur Herat agar Indonesia dapat membantu pelayanan kesehatan mental bagi warga mereka dan pembangunan klinik. Ia menegaskan pihak pemerintah Afghanistan telah menyatakan siap menyediakan lahan untuk klinik serta operasionalnya.

Bertemu Wamenlu, MER-C Minta Dukungan Pemerintah terkait Program Kemanusiaan Internasional

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) pada pada Senin, 20 Januari 2025, bertemu Wakil Menteri Luar Negeri RI Anis Matta, di Gedung Kostitusi Kementrian Luar Negeri RI di Jakarta.    Tim MER-C terdiri dari Presidium dr. T. Meaty Fransisca, dr. Zecky Eko Trywahyudi, Sp. OT, MARS dan Ketua Divisi Relawan MER-C dr. Guntur Utama Putera, SpOT.  Pada kesempatan ini, MER-C menyampaikan terkait misi kemanusiaan di Gaza Palestina, Afghanistan dan program MER-C di Rakhine State, Myanmar serta penanganan pengungsi Rohingya di Aceh. MER-C berharap dukungan Pemerintah Indonesia untuk kelancaran program-program kemanusiaan MER-C di berbagai belahan dunia, sebagai bagian dari diplomasi kemanusiaan yang juga membawa nama bangsa. Wamen Anis menyampaikan apresiasi atas kerja yang telah dilakukan MER-C dan akan mendukung kerja kemanusiaan sebagai track diplomasi baru Indonesia.  “Saya bersyukur sekali Alhamdulillah bisa bertemu dengan teman-teman dari MER-C. Saya sudah mengikuti aktivitas dan semua progres kerja-kerja dari para dokter di MER-C ini sejak konflik Ambon tahun 1998,” ujar Wamen Anis.  “Saya juga mengikuti aktivitas MER-C di Gaza melalui pembangunan RS Indonesia juga aktivitas MER-C di Afghanistan dan Myanmar. Jadi ini organisasi yang luar biasa,” tambahnya.  Menurutnya, Pendiri MER-C dr. Joserizal Jurnalias adalah seorang dokter yang mengabdikan hidupnya untuk kerja kemanusiaan di wilayah-wilayah konflik yang sangat berbahaya dan ini menginspirasi banyak orang terutama para dokter untuk ikut menjadi relawan kemanusiaan.  Ia juga mengatakan, menyusul genjatan senjata di Gaza, Kemenlu akan mengkoordinir NGO-NGO yang bekerja untuk membantu Palestina.  “Insyaallah dengan keterlibatan semua NGO dalam satu koordinasi akan membuat kerjaan kita lebih rapih, yang kedua kita bisa menggalang dana lebih besar supaya sesuai dengan Indonesia sebagai negara Muslim terbesar,” katanya.  “Dan bagi kami di Kemlu ini menjadi track baru bagi diplomasi kemanusiaan dan saya kira MER-C bisa menjadi ujung tombak bagi Indonesia, untuk melakukan diplomasi kemanusiaan,” tuturnya.  Lebih lanjut iya berharap para dokter yang menjadi relawan di MER-C untuk mempertahankan komitmen kemanusiaannya, karena ini adalah kerja luar biasa, tapi juga penuh bahaya, penuh ancaman.  “Hanya orang-orang yang ikhlas, jujur, berani yang bisa terus menerus menjaga komitmen nya untuk terus melakukan kerja kemanusiaan,” ujar Wamen Anis.  Ia juga berharap MER-C dapat mengajak lebih banyak dokter untuk terlibat menjadi relawan. “Karena kalau Indonesia ingin memperbesar perannya dan menggunakan diplomasi kemanusiaan sebagai instrumennya, akan banyak daerah konflik di dunia Islam atau daerah lain yang membutuhkan kita. Ada Afghanistan saya kira nanti Sudan, ada banyak lagi di Afrika, di Asia Tengah dan banyak daerah lain yang membutuhkan di samping ASEAN tentunya,” katanya.  “Dan karena itu kita dapat melakukan peran yang lebih besar dari yang telah kita lakukan sekarang,” pungkasnya.

Up Date Kondisi Gaza Pasca Genjatan Senjata

Hari Minggu, 19 Januari 2025 menjadi momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh warga Gaza karena pada hari tersebut genjatan senjata mulai berlaku. Meski sempat tertunda yang seharusnya diumumkan pukul 08.30 pagi waktu Gaza karena pihak Hamas belum menyerahkan list nama tawanan yang akan dibebaskan, namun  akhirnya sekitar pukul 10.00 pagi waktu Gaza, sayap militer Hamas, Al Qassam, mengumumkan daftar nama tawanan yang akan dibebaskan, yaitu Romi Jonen 24 tahun, Emily Damari 28 tahun, dan Doron Shatnabar Khir 31 tahun. Hamas menyampaikan bahwa mereka mengalami kendala teknis di lapangan, dan tetap berkomitmen untuk melaksanakan gencatan senjata. Liaison Officer Emergency Medical Team (EMT) MER-C Marissa Noriti yang saat ini berada di Jalur Gaza mengatakan, beberapa laporan mengatakan bahwa penundaan ini  terkendala karena drone penjajah Israel sejak Sabtu malam tetap aktif terbang di langit Gaza. “Saya sendiri hingga lewat tengah malam  masih mendengar bisingnya suara drone di sekitar Deir Al Balah. Bahkan Israel masih menembakkan artilerinya di saat menjelang genjatan senjata,” ujar Marissa. Marissa mengatakan, di Beit Lahiya, Gaza utara, penjajah Israel juga telah menarik pasukannya sejak sore menjelang malam, sekitar pukul 18.00. Namun sebelum penarikan pasukan, penjajah Israel sempat melakukan serangan artileri langsung ke Rumah Sakit Indonesia di Gaza utara, serta membakar sejumlah rumah di sekitarnya. Lebih lanjut Marissa mengatakan, serangan menjelang genjatan senjata juga terjadi di beberapa wilayah lainnya, yang mengakibatkan sedikitnya tiga orang syahid di Gaza City, tiga orang syahid di Gaza utara dan 25 orang luka-luka. Usai genjatan senjata disepakati, warga di Gaza City mulai bergerak menuju Beit Lahiya Gaza utara, dan warga di sekitar Gaza selatan  menuju Rafah. Akan tetapi saat ini mereka belum membongkar tenda-tenda pengungsian. “Para tenaga medis, dan jurnalis berkumpul di halaman rumah sakit mengekspresikan kebahagiaannya, terharu dan bahagia menyambut ceasefire ini, mereka berkumpul menyanyikan lagu kebangsaannya. Tentara pejuang Hamas, Al Qassam juga turun ke jalan merayakan genjatan senjata,” kata Marissa. Usai genjatan senjata ini, diharapkan 600 truk bantuan kemanusiaan akan memasuki Gaza, yang memang telah mengantre di Perbatasan Rafah, Mesir. —————————————— Updates on the Conditions of Gaza After the Ceasefire On Sunday, January 19th, 2025 was a highly anticipated moment for the people of Gaza due to the ceasefire that finally came into effect. The annoucement that should have been annouced at 08.30AM Gaza time was slightly delayed because Hamas had not yet handed over the list of names of the prisoners that need to be released at the time, but it was finally resolved at around 10.00AM Gaza time by Hamas’ military wing, Al Qassam, by announcing the list of prisoners that will be released, namely Romi Jonen 24 years old, Emily Damari 28 years old, and Doron Shatnabar Khir 31 years old. Hamas stated that they were experiencing technical problems in the field, and remained committed to implementing the ceasefire agreement. Liaison Officer Emergency Medical Team (EMT) MER-C Marissa Noriti, who is currently in the Gaza Strip, said that several reports alleged this delay was hampered because the Israeli occupation drones was still actively flying in the skies of Gaza Strip since the Saturday night. “Even until past midnight, I, myself still heard the noise of drones around Deir Al Balah area. The Israeli forces were still firing its artillery during the approach of the ceasefire time” said Marissa. Marissa said, in the Beit Lahiya area of Northern Gaza, the Israeli occupiers had also withdrawn their troops since the afternoon, approaching the night, around 06:00PM. However, before the withdrawal, the Israeli occupiers had carried out a direct artillery attack on the Indonesia Hospital in Northern Gaza, and burned down several houses around it. Marissa further said, the attacks carried out ahead of the ceasefire also occurred in several other areas, resulting in at least three martyrs in the Gaza City, and then three martyrs and 25 people injured in the Northern Gaza. After the agreement of ceasefire took place, the residents in Gaza City began moving towards to the Beit Lahiya of Northern Gaza, and the residents around Southern Gaza moving towards Rafah. However, they have not yet dismantled the refugee tents. “Medical personnels and journalists gathered in the hospital yard to express their happiness, moved and glad to welcome this ceasefire, they gathered to sing their national anthem. The soldiers of Hamas fighters, Al Qassam also took off to the streets to celebrate the ceasefire,” said Marissa. After this ceasefire, it is expected 600 trucks of humanitarian aid will enter Gaza, which are already queuing at the Rafah Border, Egypt. —————————————– وضع غزة بعد وقف إطلاق النار كان يوم الأحد، 19 يناير 2025، لحظة منتظرة بشدة من قبل سكان قطاع غزة، حيث بدأ سريان وقف إطلاق النار في ذلك اليوم. رغم تأخر الإعلان الذي كان من المفترض أن يتم في الساعة 8:30 صباحاً بتوقيت غزة، بسبب عدم تسليم حركة حماس قائمة أسماء الأسرى المقرر إطلاق سراحهم، إلا أنه في حوالي الساعة 10:00 صباحاً، أعلن الجناح العسكري لحماس (كتائب القسام)، عن أسماء الأسرى المفرج عنهم، وهم: رومي جونين، 24 عاماً؛ إميلي داماري، 28 عاماً؛ ودورون شاتنابر خير، 31 عاماً. أفادت حماس بأنها واجهت صعوبات فنية ميدانية، لكنها أكدت التزامها بتنفيذ وقف إطلاق النار. وقالت ماريسا نورتي، مسؤولة التنسيق لفريق الطوارئ الطبي (EMT) لمنظمة MER-C، الموجودة حالياً في قطاع غزة، إن التقارير تشير إلى أن التأخير كان بسبب استمرار نشاط الطائرات المسيرة التابعة للاحتلال الإسرائيلي منذ ليلة السبت. وأضافت ماريسا: “شخصياً، كنت أسمع حتى منتصف الليل صوت الطائرات المسيرة في محيط دير البلح. حتى أن إسرائيل واصلت قصفها المدفعي قبل وقت قصير من وقف إطلاق النار.” وأوضحت ماريسا أنه في بيت لاهيا، شمال غزة، بدأ الاحتلال الإسرائيلي بسحب قواته منذ ساعات المساء، حوالي الساعة 6:00 مساءً. ومع ذلك، قبل الانسحاب، نفذ الاحتلال هجمات مدفعية مباشرة على المستشفى الاندونيسي في شمال غزة وأحرق عدة منازل مجاورة. وأشارت ماريسا إلى أن هجمات أخرى وقعت في مناطق مختلفة قبيل وقف إطلاق النار، مما أسفر عن استشهاد ثلاثة أشخاص في مدينة غزة، وثلاثة آخرين في شمال القطاع، وإصابة 25 شخصاً بجروح. بعد التوصل إلى وقف إطلاق النار، بدأ سكان مدينة غزة بالتوجه نحو بيت لاهيا وبيت حانون في شمال القطاع، وسكان جنوب غزة نحو رفح. ولكن حتى

Tindak Lanjuti Bantuan untuk Palestina, MER-C Kirim Tim ke Yordania

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengirimkan dua orang delegasi ke Amman, Yordania, untuk menindaklanjuti pembelian bantuan alat kesehatan berupa alat-alat operasi, untuk memenuhi kebutuhan Kementerian Kesehatan (MOH) Palestina di Gaza. Dua delegasi yaitu Ketua EMT MER-C Indonesia dr. Arief Rachman, SpRad dan Liaison Officer EMT MER-C Indonesia Nanang Khoirino bertolak ke Amman pada Jumat, 17 Januari 2025. “Kami berdua akan menuju ke Yordania untuk mempersiapkan bantuan alat medis dan juga obat-obatan untuk mendukung fasilitas kesehatan yang saat ini tengan mengalali collaps laur biasa di Palestina,” ujar Liaison Officer Emergency Medical Team (EMT) MER-C Indonesia Nanang Khoirino. Nanang mengatakan ini merupakan bantuan alat kesehatan yang ketiga, dan penyaluran bantuan alat kesehatan ini adalah upaya lebih lanjut dari MER-C untuk membantu sistem kesehatan di Jalur Gaza.  “Tentunya kami memohon dukungan kepada seluruh masyarakat indonesai agar upaya untuk rekosntruksi dan rehabilitasi di Jalur Gaza dapat terwujud di tengah situasi genjatan senjata saat ini, meski kondisinya masih belum begitu sesuai harapan kita. Kami sangat mengapresiasi masyarakat Indonesia dalam mendukung program-program MER-C di Jalur Gaza, di antaranya pengiriman Tim EMT, bantuan obat-obatan serta fasilitas kesehatan yang saat ini di berada di Jalur Gaza,” ujarnya. Nanang mengatakan, selain menindaklanjuti pembelian alat-alat kesehatan, mereka juga akan menghadiri konferensi terkait bantuan untuk sektor kesehatan Gaza yang digelar oleh _Jordanian Medical Association_. Konferensi bertajuk “Gaza, Beat of the Heart” ini akan berlangsung pada 23-24 Januari 2025 di Amman. Konferensu ini digelar untuk memberdayakan dan memulihkan layanan kesehatan penting di Gaza, melalui proyek-proyek khusus yang akan dipresentasikan selama konferensi. Konferensi ini akan dihadiri berbagai organisasi internasional, regional, dan lokal.

Penjajah Israel Intensifkan Serangan di Sekitar RS Indonesia Jelang Kesepakatan Genjatan Senjata

Pasukan penjajah Israel mengintensifkan serangannya di sekitar Rumah Sakit Indonesia di Bait Lahia, Gaza Utara, beberapa jam sebelum kesepakatan genjatan senjata diumumkan.  Salah satu tenaga medis di RS Indonesia mengatakan, serangan terjadi pada Rabu, 15 Januari 2024, sejak pagi hingga dini hari waktu Gaza.  “Terjadi pengeboman hebat. Sepertinya mereka mengebom lagi lantai tiga Rumah Sakit,” ujarnya.  Pukul 4 pagi dini hari waktu Gaza, saat Liaisons Officer Emergency Medical Team (EMT) MER-C berkomunikasi sampai berita ini diturunkan, serangan masih terus berlangsung.  Intensitas pengeboman yang tinggi terhadap RS Indonesia sendiri sudah berlangsung sejak satu hari sebelum genjatan senjata diumumkan.  “Kami belum bisa tidur karena suara-suara yang mengerikan. Sayangnya, pengeboman terus berlanjut hingga saat ini. Pengeboman hebat terjadi di mana-mana, tank-tank masih ada di depan Rumah Sakit dari sisi barat,” ujar tenaga medis itu menggambarkan situasi saat RS Indonesia diserang.  Lebih lanjut tenaga medis tersebut mengatakan masih ada 16 orang di Rumah Sakit, dengan empat anak-anak, serta tujuh orang yang sakit dan terluka. Saat penyerangan terjadi mereka semua berada di lantai pertama.  Salah satu yang terluka seorang anak perempuan berusia empat tahun menderita patah kaki. Ia sempat koma saat di RS Kamal Adwan, dan sekarang sudah membaik “Seperti biasa tidak ada peringatan dan tentara tahu betul ada orang di dalam Rumah Sakit,” tuturnya.  Update terakhir yang disampaikan oleh tim medis yang masih bertahan di Rumah Sakit Indonesia saat ini, tentara penjajah telah mulai menarik diri dari area Rumah Sakit. Israel dan sejumlah gerakan perlawanan Palestina pada Rabu (15/1) telah menyetujui gencatan senjata yang dimediasi oleh Qatar dan Mesir.  Kesepakatan gencatan senjata ini diumumkan oleh Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al-Thani telah berlaku sejak mulai  19 Januari 2025.

MER-C Bersama TPM Bertemu Menteri Yusril Bahas Soal RS Indonesia di Gaza dan Pengungsi Rohingya

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) bersama Tim Pengacara Muslim (TPM) pada Kamis (16/1) bertemu dengan Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Republik Indonesia, Yusril Ihza Mahendra, untuk melakukan pembicaraan terkait Rumah Sakit Indonesia di Gaza dan pengungsi Rohingya. Presidium MER-C, dr. Zecky Eko Triwahyudi dalam pertemuan itu menyampaikan kondisi Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara yang beberapa kali menjadi sasaran serangan Israel, sehingga saat ini mengalami kerusakan cukup parah.   Untuk itu, MER-C meminta adanya peran pemerintah agar bisa memberikan perlindungan kepada Rumah Sakit yang dibangun dari donasi masyarakat Indonesia ini, agar ke depanya tidak lagi menjadi sasaran serangan Israel. Lebih lanjut ia juga menyampaikan terkait kendala MER-C saat membantu pengungsi Rohingya, khususnya Peraturan Presiden (PERPRES) 125 Tahun 2016 soal penanganan pengungsi luar negeri. Oleh karena itu dr. Zecky mengatakan, MER-C berharap adanya peraturan baru sehingga NGO dapat bekerja sama dengan pemerintah atau lembaga internasional untuk membantu para pengungsi. Menteri Yusril mengatakan, beberapa hal yang disampaikan dalam pertemuan ini akan menjadi catatan untuk kemudian ditindaklanjuti, termasuk concern MER-C soal pengungsi Rohingya. “Banyak hal yang dikemukakan yang harus saya pikirkan dan dicari jalan keluarnya, seperti masalah Rumah Sakit kita di Gaza yang memang tanahnya diwakafkan oleh pemerintah Palestina kepada MER-C yang menghimpun dana masyarakat Indonesia untuk Rumah Sakit itu kemudian dihibahkan kepada masyarakat Palestina, tapi mengalami kerusakan akibat serangan Israel,” kata Menteri Yusril. “Nanti kita akan koordinasikan dengan kedutaan kita untuk Palestina yang bekedudukan di Amman, Yordania, untuk menegaskan bahwa ini adalah Rumah Sakit milik Indonesia supaya tidak dirusak oleh Israel. Ini hal yang akan coba kita selesaikan termasuk beberapa hal yang menjadi concern dari MER-C terhadap pengungsi Rohingya di Aceh,” tambahnya. Menteri Yusril berharap MER-C dapat terus melakukan kegiatan untuk membantu rakyat Palestina khususnya di bidang kesehatan, berkoordinasi dengan pemerintah Indonesia dan Palestina juga dengan lembaga internasional termasuk PBB khususnya, sehingga Rumah Sakit yang sudah dibangun ini benar-benar dijaga dan tidak menjadi sasaran serangan Israel.  “Harus ada kepatuhan dari Israel untuk tidak menyerang sasaran-sasaran yang sebenarnya terkait dengan kamanusiaan,” tuturnya.

Israel dan Hamas Sepakati Gencatan Senjata di Gaza

Usai 15 bulan genosida yang menelan lebih dari 46.000 korban jiwa di Jalur Gaza, Israel dan sejumlah gerakan perlawanan Palestina pada Rabu (15/1) telah menyetujui gencatan senjata yang dimediasi oleh Qatar dan Mesir.  Kesepakatan gencatan senjata ini diumumkan oleh Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al-Thani dan berlaku efektif mulai  19 Januari 2025. Gencatan senjata akan dilaksanakan dalam tiga fase: 1. Fase Pertama, pada 19 Januari 2025, kedua belah pihak akan menghentikan semua aksi militer selama enam pekan.  2. Fase Kedua, pertukaran tahanan akan dilakukan, di mana Hamas akan membebaskan 50 sandera wanita dan anak-anak, sementara Israel akan melepaskan sejumlah tahanan Palestina.  3. Fase Ketiga: Pembukaan akses kemanusiaan dan rekonstruksi di Gaza, termasuk pembukaan penyeberangan perbatasan untuk bantuan kemanusiaan. Namun menjelang genjatan senjata diumumkan, Israel masih melancarkan serangan ke Jalur Gaza, dengan Badan pertahanan sipil Gaza melaporkan sedikitnya 80 orang tewas.  Serangan juga mengakibatkan dua jurnalis Gaza, Ahlam Al Nafed dan Ahmed Abu Al Russ syahid.

Silahkan bertanya?