MER-C Salurkan Bantuan Makanan Tahap Dua untuk Warga Gaza

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menyalurkan bantuan makanan tahap dua untuk warga Gaza yang tinggal di sejumlah pengungsian. Program bantuan makanan tahap dua ini dilakukan oleh Emergency Medical Tema (EMT) MER-C ke-6 pada 27-29 Desember 2024 di Kamp penampungan Yaffa, Syekh Ridwan, dan Syati’ di Gaza City. Ketua Tim EMT MER-C ke-6 dr. Reghinta Yasmeen mengatakan, makanan yang dibagikan adalah bubur adas kuning yang dibagikan untuk 12.800 orang. Program bantuan makanan yang disalurkan langsung oleh Tim EMT MER-C ke-6 ini dilakukan dalam tiga tahap di lokasi kamp pengungsian yang sama. Sebelumnya pada 21-22 Desember 2024 MER-C juga telah membagikan bantuan makanan untuk 12.800 pengungsi. Agresi serta blokade penjajah Israel mengakibatkan warga Gaza mengalami krisis yang cukup parah, kekurangan makanan, obat-obatan, air bersih dan akses pada kebutuhan dasar lainya. Situasi saat ini juga semakin memburuk di tengah musim dingin yang sedang berlangsung di wilayah tersebut.
Up Date dari Liaison Officer EMT MER-C terkait Situasi di Jalur Gaza

Liaison Officer Emergency Medical Team (EMT) MER-C Marissa Noriti mengabarkan informasi terkini situasi di Jalur Gaza di mana korban syahid dan luka terus bertambah. Marissa mengatakan, pada 7 Januari total ada 49 korban syahid akibat serangan Israel di beberapa wilayah di Gaza, di antaranya Al Mawasi Khan Younis, Bureij Refugee Camp, Zeutoon neighbourhood, Deir Al ballah, Sheikh Radwan. Salah satu korban dari penyerangan Israel adalah Bayi yang baru berumur 15 hari. Rabu, 8 Januari, korban serangan Israel mencapai 18 orang syahid di Gaza City dan utara, 21 di Gaza selatan, dan ini belum termasuk korban penyerangan yang belum tercatat. Awal tahun ini tentara penjajah Israel telah membunuh setidaknya 383 penduduk Gaza, 74 diantaranya anak-anak, serta ratusan lainnya luka-luka. Hari Selasa 7 Januari, Israel juga menyebarkan leaflet melalui drone yang berisikan propaganda agar warga Gaza berkolaborasi dengan Israel dan mengkhianati perjuangan perlawanan. Propaganda ini bukan hal baru, dan telah berulang kali dilakukan oleh Israel. Jumlah bantuan yang masuk belum memadai Terkait logistik atau suplai, Marissa mengatakan pada 7 Januari total truk yang masuk melalui perbatasan Karem Shalom sejumlah 65 truk yang membawa bantuan kasur, tenda, makanan, ayam beku, sayur, dan buah. Jumlah ini masih sangat tidak memadai, dari yang dibutuhkan oleh penduduk gaza yaitu 500- 600 truk perharinya. Marissa mengatakan krisis bahan bakar juga makin memburuk di Gaza. Peralatan medis tidak dapat dioperasikan hingga menyebabkan satu pasien kanker meninggal dunia karena tidak bisa mendapatkan treatment yang seharusnya. Dalam pers statementnya Kementerian Kesehatan Palestina (MoH) meminta dukungan internasional untuk segera mengirimkan bahan bakar yang dibutuhkan oleh fasilitas kesehatan. Penjajah Israel Terus Melancarkan Serangan ke Sejumlah Rumah Sakit di Gaza Utara Update dari Gaza Utara, Saat ini hanya satu rumah sakit yang berfungsi menerima pasien yaitu Al Awda Hospital. Dokter senior dari RS Al Awda menyampaikan bahwa penyerangan sekitar area Rumah Sakit telah berlangsung sejak pagi hari, tank-tank Israel mendekati area belakang RS Al Awda, dan satu rumah di dekat dibakar oleh Israel. Saat ini RS Al Awda hanya memiliki sedikit makanan dan medical supply yang hanya cukup untuk beberapa hari saja. Dikabarkan juga banyak korban luka yang tidak bisa mencapai rumah sakit untuk mendapatkan bantuan, sebagian berhasil tapi dengan terseok seok, merangkak menuju rumah sakit, untuk mendapatkan pertolongan. Tidak sedikit yang syahid tergeletak di jalan karena kehabisan darah. Kondisi dr. Hussam Abu Safiya Memburuk akibat Penyiksaan Penjajah Israel Euromed Human Right Monitor mengkonfirmasi bahwa saat ini kondisi kesehatan Direktur RS Kamal Adwan dr. Husyam Abu Syafia terus memburuk karena mengalami penyiksaan, kekerasan fisik yang dilakukan oleh Israel, diantaranya adalah dipaksa melepaskan pakaian dan disiksa dengan dicambuk dengan kabel listrik yg cukup besar yang biasa kita temukan di tiang-tiang listrik di jalan. Hal ini telah dilakukan Israel sebelum ia dibawa ke Jabaliya Refugee camp untuk diinterogasi. Dan akhirnya berdasarkan informasi dari tahanan yang baru saja dibebaskan oleh Israel, mereka melihat dr. Hussam ditahan di penjara Sde Teyman. Di tengah penangkapanya, berita duka kembali datang dari ibu dr. Hussam yang meninggal dunia karena serangan jantung. Pasien dan Staf Rumah Sakit Indonesia Masih Bertahan Sampai saat ini, pasien dan tenaga medis terus bertahan dengan kondisi yang sangat terbatas, dan mereka sangat berharap intervensi dari komunitas internasional untuk pengiriman bantuan kemanusiaan dan tim medis agar Rumah Sakit bisa berfungsi kembali melayani untuk warga Gaza utara yang tidak henti-hentinya dibombardir oleh Israel. Pembicaraan Genjatan Senjata Masih Terkendala Marissa lebih lanjut mengungkapkan, pembicaraan genjatan senjata saat ini terkendala karena pihak Israel terus mengubah hal-hal yang sebelumnya telah disetujui ketika diskusi berlagsung di Qatar, di antaranya terkait list tawanan yang akan dibebaskan, dan kesepakatan tahapan penarikan pasukan Israel dari Netzarim, dan Koridor Philadelphia. Pihak perlawanan Palestina yakin genjatan senjata akan segera dapat diwujudkan jika Amerika, Presiden terpilih Donald Trump bisa memberikan tekanan kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk tidak mengubah apa yang telah disepakati sebelumnya.
MER-C Salurkan Bantuan Musim Dingin untuk Warga Gaza

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) pada 8 Januari 2025 menyalurkan bantuan musim dingin untuk warga Gaza yang tinggal di Kamp pengungsian Al Aqsa. Bantuan ini disalurkan langsung oleh Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-6 bersama relawan lokal MER-C ke tenda pengungsian. Ketua Tim EMT MER-C ke-6 dr. Regintha Yasmeen, SpOG mengatakan bantuan yang dibagikan sebanyak 52 paket untuk keluarga yang terdiri dari dua selimut ukuran 200×240 cm, satu jaket balita, dengan total penerima manfaat 250 orang. Selain bantuan musim dingin, MER-C juga telah menyalurkan bantuan makanan di sejumlah kamp pengungsian di Gaza City, serta roti untuk pasien dan keluarganya di Public Aid Hospital, tempat Tim bertugas. Musim dingin di Gaza biasanya berlangsung selama tiga bulan, yakni dari Desember hingga akhir Februari atau awal Maret, dengan suhu terendah bisa mencapai 0°C. Musim dingin saat ini berlangsung di tengah krisis kemanusiaan Gaza yang semakin memburuk. Sistem medis tidak berfungsi, tidak ada makanan dan penghangat, serta agresi dan blokade yang masih terus terjadi.
MER-C Kembali Bagikan Makanan untuk Ribuan Warga Gaza

Medical Emergency Rescue Committee kembali membagikan bantuan berupa makanan untuk ribuan warga Gaza yang saat ini tinggal dipengungsian akibat agresi penjajah Israel yang masih terus berlangsung. Sejak 20 Desember, MER-C telah menyalurkan bantuan makanan sebanyak tiga tahap, dengan total penerima sekitar 12.800 orang di sejumlah kamp pengungsian di Gaza City. Bantuan ini disalurkan langsung oleh Relawan MER-C yang saat ini berada di Jalur Gaza, dengan dibantu relawan lokal. Pada 20 Desember 2024, MER-C membagikan bantuan makanan tahap satu berupa bubur adas kuning, di Kamp Pengungsian Yaffa, untuk 1800 orang. Tanggal 21 Desember 2024 Relawan MER-C juga membagikan bubur adas kuning di Kamp pengungsian Syekh Ridwan Gaza dengan penerima manfaat berjumlah 8000 orang. Kemudian pada 22 Desember 2024 dengan menu makanan yang sama, MER-C kembali membagikan makanan di Kamp Pengungsian Syati’ Gaza untuk 3000 orang. MER-C terus berusaha menyalurkan bantuan untuk warga Gaza di tengah situasi yang terus memburuk akibat blokade dan agresi penjajah Israel yang masih terus berlangsung. MER-C juga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Indonesia yang telah menyalurkan bantuannya untuk warga Gaza yang saat ini memang sangat membutuhkan bantuan.
Liaison Officer EMT MER-C: Pembicaraan Genjatan Senjata Berlangsung, Namun Kekejaman Israel Tidak Berkurang

Liason Officer Emergency Medical Team (EMT) MER-C Marissa Noriti mengatakan, meski saat ini pembicaraan genjatan senjata sedang berlangsung, namun kekejaman Israel di Jalur Gaza tidak berkurang. “Di tengah pembicaraan genjatan senjata yang sedang berlangsung, kekejaman Israel terhadap warga gaza tidak berkurang sedikit pun,” ujar Marissa yang saat ini masih bertahan di Jalur Gaza. Ia mengatakan, Kementrian kesehatan Palestina pada hari Ahad (5/1) melaporkan serangan Israel kembali menyebabkan korban dengan 48 syahid, 75 terluka. Hari senin serangan Israel di beberapa lokasi antara lain Kamp Pengungsian Bureji, Sheikh Ridwan Rafah, yang mengakibatkan 28 orang syahid. Dan hari Rabu, Wakil Menteri Kesehatan Palestina melaporkan terdapat 17 syuhada, 13 diantaranya anak dan wanita, di kamar mayat Nasser Hospital. Sejak awal tahun lebih dari 250 warga Gaza syahid dan sejak agresi 7 Oktober 2023, ada 1058 pekerja medis yang telah dibunuh penjajah Israel dan 450 lainya ditahan. “Terbaru, kabar menyedihkan Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan dr. Hussam Abu Safiya saat ini ditahan di Sde Teyman, penjara yang dikenal dengan penyiksaan yang sangat kejam, yang telah mengakibatkan salah satu tenaga kesehatan, dr. Adnan Albursh, tewas dan bahkan hingga saat ini jenazahnya belum diserahkan pihak Israel ke pemerintah Gaza,” ujarnya. Marissa mengatakan, krisis bahan bakar semakin memburuk karena penjajah Israel mempersulit izin bantuan kemanusiaan masuk Gaza termasuk suplai bahan bakar, yang sering terjadi ketika akhirnya bantuan diizinkan masuk maka pihak Israel akan menginstruksikan sekelompok orang untuk melakukan pencurian dan perampokan terhadap bantuan kemanusiaan tersebut di bawah perlindungan militer Israel, hal ini diungkap oleh Kementrian kesehatan Palestina.“Bahkan mereka melakukan penembakan terhadap konvoi Program Pangan Dunia PBB (WFP) yang terdiri dari delapan staf dengan 3 kendaraan anti peluru, padahal telah mendapatkan clearance. Kurang lebih 16 peluru ditembakkan ke kendaran AV, beruntung tidak ada korban,” ujarnya. Lebih lanjut ia mengatakan, serangan di area Rumah Sakit Indonesia juga mengakibatkan salah satu perawat Nour Al Moqayyad terluka cukup parah di kepala. Menurut informasi terbaru, RS Indonesia telah menerima pasokan air, makanan, sejumlah obat-obatan dari Kementrian Kesehatan Palestina. Namun suplai yang ada sekarang hanya bertahan beberapa hari saja. Saat ini ada delapan pasien, sembilan pekerja medis dan 4 anak-anak masih yang masih bertahan di RS Indonesia. Oleh karena itu Marissa menegaskan dibutuhkan akses bantuan kemanusiaan yang berkelanjutan untuk mendukung eksistensi rumah sakit di Gaza Utara yang sangat diperlukan oleh ribuan penduduk yang masih bertahan saat ini.
Momen Bersejarah Serah Terima Simbolis RS INDONESIA Di Gaza 9.01.2016 – 9.01.2025

Hari ini 9 tahun yang silam, tepatnya 9 Januari 2016, adalah momen bersejarah perjalanan Panjang RS Indonesia di Gaza. Saat itu, bertempat di Taman Ismail Marzuki Jakarta, RUMAH SAKIT INDONESIA diserahterimakan secara simbolis sebagai persembahan dari rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina. Acara serah terima simbolis dihadiri oleh sejumlah pejabat pemerintahan RI, diantaranya Wakil Presiden RI (M. Jusuf Kalla), Menteri Luar Negeri RI (Retno LP. Marsudi) dan Menteri Pendidikan RI (Anies Baswedan), serta sejumlah Duta Besar negara sahabat, donatur dan relawan pembangunan RS Indonesia. RS Indonesia diserahkan secara simbolis oleh MER-C mewakili rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina yang diwakili oleh Menteri Kesehatan Palestina (dr. Jawad Muhammad Awwad) dan Duta Besar Palestina untuk Indonesia (M. Fariz Mehdawi). RS Indonesia adalah persembahan rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, simbol dukungan jangka panjang rakyat Indonesia bagi perjuangan rakyat Palestina yang masih hidup dalam blockade dan penjajahan. Kini di tengah agresi berkepanjangan, pengepungan, kerusakan yang cukup parah, RS Indonesia tetap berdiri bersama tim medis dan pasien yang masih tersisa. Sebagaimana dulu kita bersama-sama bisa mewujudkan RS Indonesia, kini saatnya kita bersama-sama mempertahankan RS Indonesia agar ia dapat tetap menjalankan fungsinya memberikan pelayanan medis kepada yang membutuhkan. #SaveIndonesiaHospital#SafeGaza#FreePalestine
Ketua BKSAP DPR RI Mardani Ali Sera: Saya Bangga dengan MER-C

Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI, Mardani Ali Sera menyampaikan apresiasi kepada Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) karena telah menjadi salah satu yang terdepan memperjuangankan Palestina. “Untuk MER-C terus berjuang karena salah satu yang terdepan memperjuangkan Palestina, dan saya bangga dengan MER-C,” ujar Mardani dalam Acara “Support dan Solidarity for Palestine” dari Kedutaan Besar Palestina di Jakarta, Rabu (8/1). “Kami dari parlemen Indonesia sangat bersyukur kawan-kawan tenaga kesehatan dari dokter dan lain lain benar-benar berjuang, berkorban. Kami dukung dan keinginan tetap di sana adalah pilihan, kita akan tetap dukung apapun keputusan teman-teman,” katannya. Ia menegaskan pihaknya akan menyerukan kepada Kementerian Luar Negeri RI dan seluruh lembaga pemerintahan agar terus membantu semua pejuang Indonesia yang ada di Gaza. “Untuk semua masyarakat Indonesia, pastikan Palestina selalu ada di hati, ada di tangan dan ada di pikiran kita sehingga kita penuh mendukung kemerdekaan Palestina,” tuturnya. Kedutaan Besar Palestina menggelar Acara “Support dan Solidarity for Palestine” untuk mengingat penderitaan rakyat Palestina, khususnya di Gaza, yang selama lebih dari 15 bulan sampai hari ini masih menghadapi agresi penjajah Israel. Acara ini dihadiri oleh sejumlah NGO, kelompok mahasiswa Palestina di Indonesia hingga perwakilan dari Kementerian Luar Negeri RI dan DPR RI.
Tim EMT MER-C ke-6 Tiba di Tanah Air

Emergency Medical Team (EMT) Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) ke-6 tiba di tanah air setelah dua bulan lebih bertugas di Jalur Gaza, Palestina. Tim EMT MER-C ke-6 yang terdiri dari lima orang relawan pulang dalam dua tahap. Pertama yaitu Dokter Bedah dr. Taufiq Nugroho, SpB., FINACS. FICS, dan Perawat Kamal Putra Pratama, AMK., yang tiba di Indonesia pada 1 Januari 2025. Kemudian Dokter Bedah dr. Faradina Sulistiyani, Sp.B, Dokter Kandungan dr. Regintha Yasmeen, Sp. OG dan satu perawat Nadia Rosi, Amd.Kep., bersama satu relawan logistik Ir. Edy Wahyudi yang telah bertugas selama hampir 10 bulan di Gaza, tiba pada Selasa, 7 Januari 2025. Semua relawan yang baru tiba mengaku senang bisa kembali ke tanah air, namun juga sedih karena harus meninggalkan warga Gaza di tengah situasi yang terus memburuk, terutama sistem kesehatan yang saat ini menjadi target serangan. Tim EMT MER-C ke-6 berhasil masuk ke Jalur Gaza pada akhir Oktober tahun lalu, dan bertugas di sejumlah rumah sakit di antaranya Public Aid Hospital di Gaza City dan RS Kamal Adwan, sebelum akhirnya melakukan evakuasi karena serangan penjajah ke Rumah Sakit tersebut. Dengan penuh haru, para relawan juga menyerukan dukungan untuk warga Gaza yang saat ini dalam kondisi yang terus memburuk akibat agresi penjajah Israel, dengan lebih banyak korban sipil dari perempuan dan anak-anak. Sejak agresi Israel ke Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023, MER-C terus mengirimkan bantuan berupa makanan, air bersih, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya melalui relawan yang berada di Jalur Gaza. MER-C mulai mengirimkan tim medis ke Gaza sejak 18 Maret 2024. MER-C berupaya untuk terus mengirimkan relawan medisnya ke Jalur Gaza, salah satu bantuan yang saat ini sangat dibutuhkan warga Gaza.
Staf RS Indonesia Memilih Bertahan di Tengah Pengepungan dan Perintah Evakuasi Israel

Staf Rumah Sakit Indonesai di Gaza Utara memilih untuk bertahan meski penjajah Israel melakukan pengepungan dan mengeluarkan perintah evakuasi segera. Pasukan penjajah Israel kembali menyerang area sekitar Rumah Sakit Indonesia di Gaza utara pada hari Jumat (3/1), mengancam staf medis dan pasiennya, serta memerintahkan evakuasi segera. “Tentara Penjajahan Israel mengirimkan seorang laki-laki, untuk memberi tahu kami yang sedang di RS Indonesia agar evakuasi. Kami menolak, karena kami punya pasien di sini, kami harus merawat mereka. Hari ini saya pergi ke RS Indonesia. Dan saya sekarang terjebak di RS Indonesia, saya tidak bisa pulang, karena ada serangan bom quadcopter,” kata salah satu staf medis RS Indonesia melalui pesan suara. “Kemudian kami berbicara dengan WHO dan Kementerian Kesehatan (MoH) bahwa kami menolak untuk evakuasi karena kami punya pasien. Dan jika mereka memaksa kami untuk evakuasi, kami membutuhkan ambulans untuk memindahkan pasien-pasien kami,” tambahnya, sambil mengungkap saat menyampaikan pesan ini, penjajah datang dengan sekitar 10 tank, mengelilingi area seputar rumah sakit kemudian mereka pergi. Ia mengatakan, saat ini ada sembilan staf medis dan delapan pasien di RS Indonesia, satu di antaranya membutuhkan operasi plastik untuk cangkok kulit, ada juga yang membutuhkan operasi ortopedi dan lainya dalam kondisi stabil. “Saya baik-baik saja. Kami memiliki delapan pasien, mereka stabil, ada satu yang membutuhkan operasi plastik untuk cangkok kulit, yang lain membutuhkan operasi ortopedi untuk fiksasi eksternal, dan yang lainnya stabil. Kami memiliki sembilan staf medis di dalam rumah sakit, dan ada empat anak dan putra-putra rekan kami,” ujarnya. Ia mengatakan, di media penjajah membantah perintah evakuasi ini. Tapi kenyataan di lapangan mereka mengirim orang untuk memberi tahu kami agar evakuasi. “Tapi di media sosial dan media mereka tetap membantahnya,” tutur staf medis tersebut.
MER-C Bagikan Ratusan Paket Roti di Public Aid Hospital Gaza City

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) membagikan bantuan berupa ratusan paket roti untuk pasien di Public Aid Hospital di Gaza City, pada 25 Desember 2024. Bantuan berupa 177 paket roti yang masing-masing paket berisi tiga roti ini dibagikan langsung oleh Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-6. “Ini program yang berbeda karena dibagikan khusus pasien rumah sakit, dengan packaging yang bagus. Selain mencukupi kebutuhan makan, ini juga seperti hadiah menghibur pasien, dan kita ketahui masyarakat Palestina makanan utama sebenarnya roti,” ujar dr. Regintha Yasmeen. Ia mengatakan, pembagian bantuan ini tidak ada kendala, namun perlu mencari perusahaan roti yang bisa melakukan pembayaran dengan transfer karena persediaan cash terbatas. Lebih lanjut dr. Reghinta mengatakan, saat ini warga Gaza masih sangat membutuhkan bantuan makanan, air bersih untuk minum dan pakaian keperluan musim dingin. Sebelumnya, MER-C juga telah menyalurkan bantuan makanan berupa bubur adas kuning sebanyak tiga tahap, pada tanggal 20, 21 dan 22 Desember 2024 dengan total penerima sekitar 12.800 orang di sejumlah kamp pengungsian di Gaza City.